Materi Sosiologi SMA Kelas XI Bab 1: Kelompok Sosial (Kurikulum Merdeka)

Kelompok Sosial

Tujuan Pembelajaran
1. Peserta didik diharapkan mampu menjelaskan konsep kelompok sosial dan pengelompokan sosial.
2. Peserta didik diharapkan mampu menjelaskan dasar dan proses pembentukan kelompok sosial.
3. Peserta didik diharapkan mampu menjelaskan perkembangan kelompok sosial dalam masyarakat.
4. Peserta didik diharapkan mampu mengidentifikasi ragam kelompok sosial 

5. Peserta didik diharapkan mampu menganalisis dinamika kelompok sosial.

A. Hakikat Kelompok Sosial
Kelompok sosial merupakan suatu gejala yang sangat penting dalam kehidupan kita karena sebagian besar kegiatan kita berlangsung di dalamnya.
1. Pengertian Kelompok Sosial
Sejak dilahirkan manusia diperkirakan sudah mempunyai dua hasrat atau kebutuhan pokok bagi kehidupannya, yaitu:
a. Keinginan untuk menjadi satu dengan manusia lain di sekelilingnya; dan
b. Keinginan untuk menjadi satu dengan lingkungan alamnya.

Keterikatan dan ketergantungan antara manusia satu dengan yang lain mendorong manusia untuk membentuk kelompok masyarakat yang disebut kelompok sosial atau social group. Berikut pandangan para ahli tentang pengertian kelompok sosial.
a. Roland L. Warren berpendapat bahwa kelompok sosial merupakan kelompok yang terdiri atas dua atau lebih manusia dan di antara mereka terdapat beberapa pola interaksi yang dapat dipahami oleh anggota atau orang lain secara keseluruhan.
b. Mayor Polak berpendapat bahwa kelompok sosial adalah sejumlah orang yang saling berhubungan dalam sebuah struktur.
c. Wila Huky berpendapat bahwa kelompok merupakan suatu unit yang terdiri atas dua orang atau lebih yang saling berinteraksi atau saling berkomunikasi.
d. Robert K. Merton (dalam Sunarto, 2004) mendefinisikan kelompok sebagai sekelompok orang yang saling berinteraksi sesuai dengan pola yang telah mapan.
e. R. M. Maclver dan Charles H. Cooley (dalam Soekanto, 2015) berpendapat bahwa kelompok sosial merupakan himpunan atau kesatuan manusia yang hidup bersama karena ada hubungan timbal balik yang saling memengaruhi dan juga kesadaran untuk saling menolong.

Dapat kita simpulkan bahwa kelompok sosial adalah kumpulan individu yang memiliki hubungan dan saling berinteraksi.

2. Syarat dan Ciri Kelompok Sosial
Robert K. Merton (dalam Sunarto, 2004) menyebutkan tiga kriteria suatu kelompok, yaitu:
a. Memiliki pola interaksi;
b. Pihak yang berinteraksi mendefinisikan dirinya sebagai anggota kelompok; dan
c. Pihak yang berinteraksi didefinisikan oleh orang lain sebagai anggota kelompok.

Menurut Merton, kelompok berbeda dengan kolektiva (collectivities) dan kategori sosial. Kolektiva adalah sejumlah orang yang mempunyai solidaritas berdasarkan nilai bersama serta memiliki kewajiban moral untuk menjalankan peran yang diharapkan. Di dalam kolektiva tidak ada unsur interaksi yang menjadi kriteria utama bagi kelompok. 

Baca Juga: Pengertian Kolektif, Kesadaran Kolektif, Kolektivisme, dan Istilah Kolektif lainnya

Kelompok juga berbeda dengan kategori sosial. Kategori sosial merupakan suatu himpunan peran yang mempunyai ciri sama, seperti jenis kelamin atau usia. Di antara himpunan orang-orang yang berperan itu, belum tentu ada interaksi.

Adapun ciri-ciri kelompok sosial adalah sebagai berikut.
a. Kelompok sosial adalah satu kesatuan yang nyata, dapat dikenal, dan dapat dibedakan kelompok sosialnya.
b. Tiap anggota kelompok sosial merasa memiliki kepentingan yang sama dan mempertahankan nilai-nilai hidup yang sama.
c. Tiap kelompok sosial memiliki struktur sosial karena terdiri dari individu yang saling terkait satu sama lain berdasar status dan perannya.
d. Tiap anggota kelompok sosial memiliki peran-peran yang berbeda.
e. Tiap kelompok sosial memiliki norma-norma kelakuan yang mengatur peran anggota.

Menurut Soerjono Soekanto (2015), himpunan manusia baru dapat dikatakan sebagai kelompok sosial apabila memiliki beberapa persyaratan berikut.
a. Adanya kesadaran sebagai bagian dari kelompok yang bersangkutan.
b. Ada hubungan timbal balik antara anggota yang satu dengan yang lain dalam kelompok itu.
c. Ada suatu faktor pengikat yang dimiliki bersama oleh anggota-anggota kelompok sehingga hubungan di antara mereka bertambah erat. Faktor tadi dapat berupa kepentingan yang sama, tujuan yang sama, ideologi politik yang sama, dan lain-lain.
d. Memiliki struktur, kaidah, dan pola perilaku yang sama.
e. Memiliki sistem dan proses.

Kelompok sosial cenderung tidak bersifat statis, tetapi selalu berkembang dan mengalami perubahan, baik dalam aktivitas maupun bentuknya.

3. Proses Pembentuk Kelompok Sosial
Manusia adalah makhluk sosial yang secara kodrati tidak dapat hidup tanpa orang lain. Dengan kata lain, manusia tidak mampu hidup apabila tidak bersama-sama dengan orang lain.

Oleh karena itu, untuk mencapai kodrat kemanusiaannya, manusia harus membentuk dan mengembangkan hubungan sosial dengan manusia lain. Setelah melakukan suatu hubungan atau interaksi, mereka harus membentuk kelompok agar dapat bertahan (survive).

Lebih lanjut lagi, setelah manusia saling berinteraksi, tercipta pranata sosial yang dalam hal ini menawarkan serangkaian aturan untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Bruce Tuckman (2001) menyebutkan terdapat lima tahap dalam proses pembentukan dan perkembangan kelompok yaitu forming, storming, norming, performing, dan adjourning.
a. Pada tahap forming, para anggota kelompok masih saling mempelajari perilaku satu sama lain dan tugas-tugas yang harus dilakukan. Pada tahap ini, banyak ketidakpastian sehingga para anggota mencari tokoh atau sosok yang dianggap memiliki jiwa kepemimpinan atau pengetahuanyang lebih banyak.
b. Pada tahap storming, terjadi persaingan dan konflik antaranggota yang saling mempertahankan pendapatnya, Pada tahap ini juga terjadi penolakan-penolakan dari anggota kelompok terhadap batasan, tugas, dan tujuan yang ditetapkan oleh kelompok. Anggota kelompok harus menerima adanya perbedaan antaranggota dan saling bekerja sama untuk mengatasi masalah-masalah yang terjadi agar dapat melalui tahap ini.
c. Pada tahap norming, terjadi konsensus atau kesepakatan dalam kelompok. Hubungan antaranggota mulai dekat dan komunikasi mulai membaik sehingga tercapai kesepakatan tentang tujuan dan peraturan-peraturan kelompok.
d. Pada tahap performing, sudah terjalin rasa kebersamaan dan kepercayaan. Seluruh anggota kelompok sudah melakukan tugas dan fungsinya secara penuh sehingga kelompok dapat berjalan dengan baik.
e. Tahap adjourning khusus berlaku pada kelompok yang dibentuk untuk tujuan jangka pendek atau bersifat sementara. Pada saat tujuan sudah tercapai, kelompok tersebut dibubarkan.

Suatu kelompok sosial dapat terbentuk apabila terdapat sedikitnya dua orang anggota yang saling berinteraksi dan memengaruhi. Georg Simmel menyebut kelompok kecil yang terdiri atas dua orang ini sebagai dyad (Henslin, 2007).

Anggota dyad saling berinteraksi secara intens dan intim. Oleh karena sifatnya yang intens dan intim, interaksi yang terjalin pun hanya terfokus pada mereka. Selain dyad, terdapat pula kelompok kecil yang disebut triad. Triad terdiri dari tiga orang yang saling berinteraksi. Triad juga memiliki hubungan internal yang erat walau tidak seerat hubungan dalam dyad. 

Baca Juga: George Simmel. Geometri Sosial

Ketika jumlah anggota kelompok meningkat, jumlah kemungkinan hubungan juga meningkat. Pada sebuah kelompok yang terdiri dari tiga orang, terdapat tiga kemungkinan hubungan, tetapi pada kelompok yang terdiri dari empat orang, terdapat enam kemungkinan hubungan, dan seterusnya.

Makin besar jumlah anggota suatu kelompok, keeratan atau keintiman antaranggota makin berkurang. Kelompok yang makin besar membuat hubungan antaranggota cenderung formal dan memungkinkan munculnya suatu hierarki status pada anggota.

4. Faktor Pembentuk Kelompok Sosial
Dalam kaitannya dengan proses pembentukan kelompok sosial, ada beberapa faktor yang dapat menjadi penyebab pembentukan kelompok sosial, di antaranya sebagai berikut.
a. Kepentingan yang Sama
Orang-orang membentuk kelompok sosial karena mempunyai kepentingan yang sama. Kelompok ini disebut kelompok kepentingan. Kelompok kepentingan ini kadang- kadang disebut asosiasi, seperti asosiasi seniman, asosiasi kaum buruh, asosiasi pengusaha kayu, asosiasi para advokat, dan sebagainya.

b. Pertalian Darah atau Keturunan yang Sama
Sejak dahulu, faktor keturunan merupakan dasar yang kuat bagi persatuan dan tali persaudaraan. Oleh karena itu, tidak jarang orang membentuk kelompok sosial pertama kali berdasarkan keturunan atau pertalian darah.

c. Daerah atau Wilayah yang Sama
Kesamaan daerah atau wilayah terkadang digunakan sebagai dasar bagi pembentukan sebuah kelompok. Pembentukan kelompok berdasarkan daerah yang sama terjadi karena orang-orang dari daerah yang sama memilik kebudayaan, bahasa, cara berpikir, dan dapat pula memiliki pola kerja yang sama sehingga dengan mudah dapat memahami satu sama lain.

Hal ini disebabkan oleh adanya perasaan senasib dan sepenanggungan karena lingkungan tempat tinggal yang sama. Selain itu, orang-orang dengan kesamaan asal-usul juga lebih memiliki keinginan untuk berasosiasi saat tinggal di daerah perantauan yang sama.

5. Pengelompokan Sosial
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pengelompokan adalah proses, cara, dan perbuatan mengelompokkan. Adapun sosial diartikan sebagai berkenaan dengan masyarakat. Berdasarkan kedua pengertian tersebut, pengelompokan sosial dapat diartikan sebagai proses, cara dan perbuatan mengelompokkan masyarakat.

Pengelompokan tersebut umumnya didasarkan pada karakteristik atau kriteria tertentu. Pengelompokan sosial menghasilkan kelompok- kelompok dalam masyarakat.

B. Ragam Kelompok Sosial
1. Klasifikasi Menurut Émile Durkheim
Émile Durkheim (dalam Sunarto, 2004) membagi kelompok sosial menjadi dua, yaitu kelompok sosial yang didasarkan pada solidaritas mekanik dan yang didasarkan pada solidaritas organik.
a. Solidaritas Mekanik
Solidaritas mekanik merupakan ciri dari masyarakat yang masih sederhana dan belum mengenal pembagian kerja. Tiap- tiap kelompok dapat memenuhi keperluan mereka masing- masing tanpa memerlukan bantuan atau kerja sama dengan kelompok dari luar.

Solidaritas Mekanik
Masyarakat yang menganut solidaritas mekanik lebih mengutamakan persamaan perilaku dan sikap. Seluruh warga masyarakat diikat oleh kesadaran kolektif.

b. Solidaritas Organik
Solidaritas organik merupakan bentuk solidaritas yang telah mengenal pembagian kerja. Bentuk solidaritas ini bersifat mengikat sehingga unsur-unsur di dalam masyarakat tersebut saling bergantung. Dengan adanya saling ketergantungan tersebut, ketiadaan salah satu unsur akan mengakibatkan gangguan pada kelangsungan hidup bermasyarakat.

Pada masyarakat dengan solidaritas organik, ikatan utama yang mempersatukan masyarakat bukan lagi kesadaran kolektif, melainkan kesepakatan yang terjalin di antara berbagai profesi. Hukum yang menonjol bukan hukum pidana, melainkan ikatan hukum perdata. Sanksi terhadap pelanggaran kesepakatan bersama bersifat restitutif

Baca Juga: Kelompok Sosial dengan Solidaritas Mekanik dan Organik

2. Klasifikasi Menurut Ferdinand Tönnies
Ferdinand Tönnies (dalam Sunarto, 2004) membedakan kelompok di dalam masyarakat menjadi dua yaitu gemeinschaft dan gesellschaft
a. Gemeinschaft
Gemeinschaft atau paguyuban merupakan bentuk kehidupan bersama di mana anggota-anggotanya memiliki hubungan batin yang kuat bersifat alamiah dan kekal. Contohnya, hubungan yang terdapat dalam keluarga, kelompok kekerabatan, dan hubungan dengan tetangga pada masyarakat tradisional atau pada masyarakat perdesaan.

Menurut Tönnies, gemeinschaft memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
1) Intim, pribadi, dan eksklusif.
2) Suatu keterikatan yang dibawa sejak lahir.

Gemeinschaft dapat dibedakan sebagai berikut.
1) Gemeinschaft by blood, yaitu mengacu pada ikatan- ikatan kekerabatan. Contohnya, keluarga dan kelompok kekerabatan.
2) Gemeinschaft of place, yaitu suatu ikatan yang terdiri atas orang-orang yang berdekatan tempat tinggal atau tempat bekerjanya sehingga mendorong orang untuk berhubungan secara intim satu sama lain dan mengacu pada kehidupan bersama di perdesaan. Contohnya, rukun tetangga dan rukun warga.
3) Gemeinschaft of mind, yaitu hubungan persahabatan yang disebabkan anggotanya memiliki keahlian, pekerjaan, atau pandangan yang sama sehingga mendorong orang untuk saling berhubungan secara teratur. Contohnya, hubungan persahabatan

b. Gesellschaft
Gesellschaft atau patembayan merupakan kehidupan publik sebagai sekumpulan orang yang secara kebetulan hadir bersama, tetapi setiap orang tetap mandiri. Gesellschaft bersifat sementara dan semu.

Di dalam gemeinschaft, individu tetap bersatu meskipun tinggal secara terpisah. Sebaliknya, di dalam gesellschaft, individu pada dasarnya terpisah meskipun ada faktor pemersatu. Struktur gesellschaft bersifat mekanis seperti mesin yang setiap komponennya memiliki fungsi atau kegunaan.

Hal ini terjadi karena dalam masyarakat patembayan diutamakan berlangsungnya suatu hubungan perjanjian atau kontrak yang memiliki tujuan tertentu dan bersifat rasional berdasarkan ikatan timbal balik. Masyarakat patembayan bersifat sementara.

Contoh gesellschaft atau patembayan adalah hubungan antara pedagang atau organisasi dalam suatu industri (Soekanto, 2015).

Baca Juga: Paguyuban (Gemeinschaft) dan Patembayan (Gesellschaft)

3. Klasifikasi Menurut Charles H. Cooley dan Ellsworth Faris
Charles H. Cooley (dalam Sunarto, 2004) menyatakan bahwa di dalam masyarakat terdapat kelompok primer. Kelompok ini ditandai dengan pergaulan, kerja sama, dan tatap muka yang intim.

Ruang lingkup terpenting kelompok primer adalah keluarga, teman bermain pada masa kecil, rukun warga, dan komunitas orang dewasa. Pergaulan yang intim ini menghasilkan keterpaduan individu dalam satu kesatuan, membuat seseorang hidup dan memiliki tujuan kelompok bersama.

Pendapat Cooley tersebut dikritik oleh Ellsworth Faris. Menurut Faris, di dalam masyarakat juga terdapat kelompok sekunder yang formal, tidak pribadi, dan berciri kelembagaan. Contoh kelompok sekunder adalah koperasi dan partai politik.

Baca Juga: Kelompok Primer (Primary Group) dan Kelompok Sekunder (Secondary Group)

4. Klasifikasi Menurut William G. Sumner
William G. Sumner (dalam Sunarto, 2004) membagi kelompok menjadi dua, yaitu in-group (kelompok dalam) dan out-group (kelompok luar). Istilah in-group mengacu pada kelompok-kelompok sosial yang dengannya individu mengidentifikasi dirinya, sedangkan out-group diartikan oleh individu sebagai kelompok yang menjadi lawan in-group.

Menurut Sumner, dalam masyarakat primitif yang terdiri atas kelompok-kelompok kecil dan tersebar di suatu wilayah, terdapat pembagian jenis kelompok, yaitu kelompok dalam dan kelompok luar.

Sumner menyatakan bahwa di kalangan kelompok dalam dijumpai persahabatan, kerja sama, keteraturan, dan kedamaian. Apabila kelompok dalam berhubungan dengan kelompok luar, cenderung muncul rasa kebencian, permusuhan, perang, atau perampokan.

Rasa kebencian itu diwariskan dari satu generasi ke generasi yang lain dan menimbulkan perasaan solidaritas dalam kelompok (in-group feeling). Anggota kelompok menganggap kelompok mereka sendiri sebagai pusat segala-galanya dan sebagai acuan bagi kelompok luar (etnosentrisme).

5. Klasifikasi Menurut Robert K. Merton
Robert K. Merton (dalam Sunarto, 2004) membagi kelompok menjadi membership group dan reference group.

Menurut Merton, membership group adalah kelompok di mana setiap orang secara fisik menjadi anggota dari kelompok tersebut. Namun, batas-batas keanggotaan tidak dapat dilakukan secara mutlak karena situasi yang tidak tetap akan memengaruhi derajat interaksi dalam kelompok. Ukuran utama keanggotaan seseorang pada kelompok adalah tingkat interaksinya dengan kelompok tersebut.

Adapun reference group adalah kelompok sosial yang menjadi acuan bagi seseorang secara psikologis sehingga dapat membentuk pribadi dan perilakunya. Seseorang tidak perlu menjadi anggota dari suatu kelompok untuk menjadikan kelompok tersebut sebagai acuan pribadi dan perilakunya.

Nilai-nilai, standar, dan keyakinan kelompok yang menjadi acuan (reference) seseorang membimbing dirinya dalam bersikap dan menilai tindakannya.

Baca Juga: Membership Group dan Reference Group

Merton mengemukakan dua tipe umum reference group. yaitu sebagai berikut.
a. Tipe Normatif (Normative Type)
Tipe ini menentukan dasar-dasar bagi kepribadian seseorang. Tipe ini merupakan sumber nilai bagi individu, baik anggota maupun bukan anggota kelompok. Contohnya, seorang anggota militer yang memegang teguh tradisi yang sudah dipelihara oleh anggota-anggota sebelumnya.

b. Tipe Perbandingan (Comparison Type)
Tipe ini merupakan pegangan bagi individu dalam menilai kepribadiannya. Tipe ini lebih kepada perbandingan untuk menentukan kedudukan seseorang. Contohnya, status ekonomi seseorang dibandingkan orang-orang lain dalam lingkungannya.

6. Kelompok Formal dan Kelompok Informal
Kelompok formal adalah kelompok yang memiliki aturan tegas dan kelompok ini sengaja diciptakan untuk mengatur hubungan antarsesama anggota. Kelompok formal ini memiliki struktur dan administrasi yang pasti. Contohnya adalah organisasi.

Kelompok informal adalah kelompok yang tidak memiliki organisasi dan struktur yang pasti. Kelompok informal ini umumnya terbentuk atas dasar seringnya pertemuan di antara anggota kelompok yang memiliki pengalaman dan kepentingan yang sama. Contohnya adalah klik (kelompok kecil di antara kelompok besar).

Baca Juga: Kelompok Formal (Formal Group) dan Kelompok Informal (Informal Group)

7. Kelompok Okupasional dan Kelompok Volunter
Kelompok okupasional adalah kelompok yang tercipta karena makin memudarnya fungsi kekerabatan dan beranggotakan orang-orang dengan pekerjaan atau profesi yang sejenis. Anggota kelompok ini biasanya memiliki aturan atau pedoman dalam bertingkah laku, yaitu berupa kode etik.

Ketika anggota kelompok melanggar kode etik tersebut, anggota kelompok lain bertugas untuk menilai. Kelompok okupasional memiliki peran yang sangat besar dalam mengarahkan kepribadian seseorang terutama pada anggota yang bergabung di dalamnya.

Contoh kelompok ini adalah Ikatan Dokter Indonesia, Asosiasi Pekerja Tambang dan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI)

Kelompok volunter adalah kelompok yang terdiri atas berbagai anggota yang memiliki kepentingan dan kepedulian yang sama. Perbedaan kelompok ini dengan kelompok okupasional adalah keberadaan kelompok volunter tidak mendapatkan perhatian dari masyarakat.

Umumnya, pembentukan kelompok ini dilandasi oleh kepentingan primer dan sekunder yang harus terpenuhi. Dengan adanya kelompok volunter, kepentingan individu diharapkan dapat terpenuhi tanpa harus mengganggu kepentingan umum. Contohnya adalah tim sukarelawan yang membantu korban bencana alam.

Baca Juga: Kelompok Okupasional dan Volunter

8. Kelompok Sosial Tidak Teratur
Kerumunan dan publik termasuk dalam kelompok sosial tidak teratur. Soerjono Soekanto (2015) menyebutkan bahwa kerumunan merupakan kumpulan orang yang hadir secara fisik di suatu tempat yang sama pada suatu waktu dan bersifat sementara.

Umumnya interaksi yang terjadi di dalamnya bersifat spontan dan tidak terduga serta tidak terorganisasi. Contoh kerumunan adalah antrean pembeli karcis di bioskop.

Publik juga merupakan kumpulan manusia yang memilik perhatian pada hal yang sama. Namun, publik tidak berkumpul pada satu tempat. Interaksi pada publik umumnya bersifat tidak langsung, yaitu melalui saluran komunikasi (surat kabar radio, TV, dan film). Contoh publik adalah seluruh pemirsa televisi yang menyaksikan kampanye presiden melalui televisi

9. Perilaku Kolektif
Paul B. Horton dan Chester L. Hunt (2010) menyatakan bahwa perilaku kolektif merupakan hasil mobilisasi berlandaskan pandangan yang didefinisikan.

Adapun Milgran dan Touch menyebutkan bahwa perilaku kolektif adalah perilaku yang lahir secara spontan, relatif tidak terorganisasi dan hampir tidak dapat diduga sebelumnya, serta proses kelanjutannya tidak terencana dan hanya tergantung pada stimulasi timbal balik yang muncul di kalangan para pelakunya. Perilaku kolektif dipicu oleh rangsangan yang sama.

Menurut Donald Light, Suzanne Keller, dan Craig Calhoun (1989), rangsangan ini dapat terdiri atas suatu peristiwa, benda, dan ide.

Ciri-ciri perilaku kolektif antara lain sebagai berikut.
a. Perilaku yang dilakukan bersama oleh sejumlah orang.
b. Perilaku yang bersifat spontanitas dan tidak terstruktur.
c. Perilaku yang merupakan tanggapan terhadap rangsangan tertentu.
d. Bersifat insidental atau tidak bersifat rutin.

Perilaku kolektif bisa terjadi pada kerumunan orang yang tanpa kesadaran penuh ikut melakukan tindakan yang dilakukan orang lain dalam kerumunan tersebut. Contohnya, tindakan main hakim sendiri oleh sekelompok orang terhadap tersangka pencopetan.

Menurut Gustave Le Bon, perilaku kolektif dapat terjadi pada masyarakat yang kompleks maupun pada masyarakat sederhana. Menurutnya, ada lima faktor yang memengaruhi perilaku ini, yaitu sebagai berikut.
a. Situasi sosial, yaitu situasi yang berkaitan dengan ada atau tidaknya peraturan dalam instansi tertentu.
b. Ketegangan struktural, yaitu adanya perbedaan atau kesenjangan di suatu wilayah akan menimbulkan ketegangan yang dapat menyebabkan timbulnya bentrok ketidakpahaman.
c. Berkembang dan menyebarnya suatu kepercayaan umum. Misalnya, isu tentang adanya tindakan pelecehan agama atau penindasan terhadap kaum marginal.
d. Faktor yang mendahului serta faktor-faktor penunjang kecemasan dan kecurigaan di masyarakat. Misalnya, isu kelangkaan bahan bakar minyak dan sembako.
e. Mobilisasi perilaku oleh pemimpin untuk bertindak. Misalnya, komando atau perintah yang dikeluarkan oleh pemimpin formal atau informal yang mempunyai pengaruh menggerakkan massa.

C. Dinamika Kelompok Sosial

Dinamika Kelompok Sosial

Dinamika kelompok berasal dari kata 'dinamika' dan 'kelompok'. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, dinamika kelompok adalah gerak atau kekuatan yang dimiliki sekumpulan orang dalam masyarakat yang dapat menimbulkan perubahan dalam tata hidup masyarakat yang bersangkutan.

Dengan demikian, dinamika kelompok adalah gerak sekumpulan orang yang saling berhubungan dan memiliki tujuan bersama yang dapat menimbulkan perubahan dalam masyarakat.

Baca Juga: Dinamika Kelompok Sosial

Proses perkembangan suatu kelompok dapat dipengaruhi oleh faktor yang datang dari dalam dan faktor yang datang dari luar (Soekanto, 2015). Faktor dari dalam (intern), di antaranya sebagai berikut.
a. Konflik antarindividu atau sebagai akibat adanya ketidakseimbangan kekuatan dalam kelompok tersebut.
b. Adanya perbedaan kepentingan sehingga menimbulkan ketidakadilan atau ketidakseimbangan pada anggota kelompok
c. Adanya perbedaan paham dari tiap anggota kelompok dalam upaya memenuhi berbagai tujuan kelompok.

Adapun faktor dari luar (ekstern), di antaranya sebagai berikut.
a. Perubahan situasi atau keadaan di mana kelompok tersebut hidup. Situasi ini dapat berupa ancaman yang datang dari luar sehingga dapat menimbulkan perubahan. Perubahan ini dapat berupa rasa persatuan dalam diri anggota kelompok.
b. Pergantian anggota kelompok akan memengaruhi perubahan kelompok. Dalam hal ini, beberapa anggota akan mengalami keguncangan (shock) ketika ditinggal oleh salah satu anggota kelompok.
c. Perubahan situasi sosial ekonomi kelompok. Kondisi anggota kelompok yang memiliki perbedaan pandangan ataupun kondisi emosional yang berbeda akan tetap bersatu dalam menghadapi berbagai masalah yang ada.

1. Kepemimpinan
Dalam buku Sosiologi dengan Pendekatan Membumi (2007), James M. Henslin menyatakan bahwa pemimpin (leader) adalah orang yang memengaruhi perilaku, pendapat, dan sikap orang lain. Orang yang menjadi pemimpin umumnya dipersepsikan oleh anggota kelompok sebagai orang yang mewakili nilai mereka dengan kuat atau mampu memimpin kelompok mereka keluar dari suatu krisis (Trice dan Beyer dalam Henslin, 2007). 

Baca Juga: Pengertian Leadership, Unsur, Tujuan, Fungsi, Sifat, Syarat, dan Gayanya

Seseorang bisa jadi pemimpin apabila memiliki tiga hal penting, yaitu kemauan, kemampuan, dan kesempatan. Ada dua tipe pemimpin (Henslin, 2007), yaitu sebagai berikut.
a. Pemimpin instrumental, yaitu pemimpin yang berorientasi pada tugas. Pemimpin ini berupaya mencegah anggota agar tidak teralihkan dan tetap bergerak ke arah tujuannya.
b. Pemimpin ekspresif (pemimpin sosioemosional), yaitu seseorang pemimpin tanpa mendapat pengakuan formal sebagai pemimpin.

Pemimpin dalam sebuah organisasi memiliki peran penting dalam mengarahkan dan memengaruhi bawahannya. Oleh karena itu, diperlukan figur seorang pemimpin yang dapat mengelola dan mengatur organisasi untuk mencapai tujuan- tujuannya.

Tugas seorang pemimpin adalah merencanakan, menggerakkan, dan mengawasi setiap aktivitas dalam sebuah organisasi sehingga pada akhirnya dapat mencapai tujuan dan sasaran dari organisasi yang dipimpinnya. Seorang pemimpin yang efektif harus dapat menyusun strategi dengan baik dalam rangka mencapai visi dan misi organisasinya.

Pemimpin adalah orang (person), sedangkan kepemimpinan adalah semangat atau spirit. Kepemimpinan merupakan suatu keterampilan praktis yang mencakup kemampuan seseorang atau sebuah organisasi untuk memimpin atau membimbing orang lain atau suatu tim dalam rangka mencapai suatu tujuan.

Kepemimpinan juga tidak dapat terlepas dari sifat alami manusia yang memiliki motivasi, seperti pemimpin di bidang militer, bidang pendidikan, bidang ekonomi, bidang kesehatan, bidang politik, dan lain sebagainya.

Kepemimpinan akan menjadi faktor penentu keberhasilan dalam suatu organisasi karena kepemimpinan menjadi titik pusat adanya perubahan yang signifikan dalam organisasi. Ada tiga gaya dasar kepemimpinan (Henslin, 2007), yaitu sebagai berikut.
a Pemimpin otoriter, yaitu seseorang yang memberikan perintah
b. Pemimpin demokratis, yaitu seseorang yang berupaya mencapai konsensus.
c. Pemimpin laissez-faire, yaitu seseorang yang permisif

Ragam tipe kepemimpinan juga dapat dibedakan sebagai berikut.
a. Kepemimpinan transformasional
Yaitu kepemimpinan yang bertujuan untuk perubahan. Secara alamiah kepemimpinan adalah adanya pergerakan untuk mencapai tujuan dan tujuan yang dimaksud adalah perubahan. Perubahan tersebut diasumsikan sebagai perubahan ke arah yang lebih baik, menentang status quo, dan aktif. 

Baca Juga: Pengertian Kepemimpinan Transformasional, Prinsip, Ciri, dan Metodenya

Salah satu ciri kepemimpinan ini adalah memperhatikan perkembangan dan perubahan prestasi dari para pengikutnya, apakah menjadi makin baik menurut kriteria organisasi atau tidak. Pemimpin membangun kepercayaan serta mendukung pengikutnya untuk mengekspresikan segenap potensi yang ada di dalam dirinya.

Tujuan yang hendak dicapai oleh pemimpin dan pengikutnya sama atau mirip serta berjalan dengan selaras. Terdapat empat faktor pada kepemimpinan ini, yaitu sebagai berikut:
1) Karisma dan idealisme (idealized influence) yang dimiliki pemimpin, seperti percaya diri, menarik, berani mengambil risiko, dan visioner. Pemimpin yang karismatik mampu menunjukkan bahwa mereka yakin mampu mencapai tujuan sesuai yang dicita-citakan (visi).
2) Motivasi inspirasional (inspirational motivation) dari pemimpin ke pengikutnya, yaitu mendorong, memotivasi, dan menumbuhkan kekompakan.
3) Stimulasi intelektual (intellectual stimulation) oleh pemimpin kepada pengikut. Seorang pemimpin harus mampu meningkatkan kesadaran tim akan sebuah masalah yang dihadapi serta mampu memaksimalkan keyakinan tentang nilai-nilai positif yang mereka anut.
4) Perhatian pada individu (individualized consideration) dari pemimpin agar pengikutnya bertumbuh atau selalu mengalami kemajuan

Keberhasilan dalam tipe kepemimpinan ini ditentukan dari kemampuan pemimpin untuk mentransfer kemampuannya kepada para pengikutnya sehingga mereka akan memiliki kemampuan yang lebih baik.

b. Kepemimpinan transaksional
Adalah kepemimpinan yang sifatnya kontraktual. Pemimpin menawarkan sesuatu untuk mendapatkan loyalitas dari pengikutnya. Pengikut mau bekerja sama karena ada imbalan (reward) yang akan diterima dari pemimpin.

Unsur-unsur dalam kepemimpinan transaksional antara lain sebagai berikut.
1) Unsur kerja sama antara pengikut dan pemimpin yang bersifat kontraktual.
2) Unsur-unsur prestasi yang terukur.
3) Unsur imbalan (reward) yang ditukarkan dengan loyalitas.

Kepemimpinan dengan pola seperti ini akan berjalan dengan baik jika ketiga unsur tersebut terpenuhi dan memenuhi harapan kedua belah pihak. Meskipun demikian, terkadang ditemukan kenyataan bahwa pengikut tidak memiliki pilihan yang lebih baik daripada yang ditawarkan oleh pemimpin.

Pada kepemimpinan ini, seorang pemimpin tidak perlu memiliki figur yang sempurna dan tidak perlu memiliki keunggulan dalam bidang tertentu seperti pada kepemimpinan transformasional.

2. Organisasi
Menurut Sondang P. Siagian, organisasi adalah suatu bentuk persekutuan antara dua orang atau lebih yang bekerja bersama serta secara formal terikat dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditentukan dan dalam Ikatan itu terdapat seseorang atau sekelompok orang yang disebut bawahan.

Aldrich dan Marsden (dalam Giddens, 2009) menyatakan bahwa organisasi adalah sebuah kelompok dengan anggota- anggota yang dapat didentifikasi dan saling bekerja sama dalam kegiatan yang terkoordinasi untuk mencapai tujuan bersama.

Organisasi dapat berupa kelompok kecil dengan anggota-anggota yang saling mengenal dan berinteraksi secara langsung. Namun, umumnya organisasi berupa kelompok besar dengan hubungan yang impersonal, seperti sekolah, universitas rumah sakit, perusahaan besar, atau organisasi internasional.

Menurut Anthony Giddens (2009), pada masyarakat modern industrial dan post-industri, organisasi cenderung sangat formal dan dirancang secara rasional untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu melalui seperangkat peraturan dan prosedur yang jelas.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa organisasi memiliki fungsi regulatif karena dapat memengaruhi dan membentuk perilaku masyarakat serta beberapa di antaranya merupakan perwakilan nila-nilai dalam masyarakat.

Istilah organisasi memiliki dua arti umum, yaitu:
a. Mengacu pada suatu lembaga dan
b. Mengacu pada proses pengorganisasian sebagai salah satu di antara fungsi manajemen.

Ada beberapa unsur organisasi, antara lain sebagai berikut:
a. Anggota organisasi, terdiri atas pemimpin yang mengatur organisasi secara umum dan orang-orang yang bekerja di bawahnya
b. Kerja sama sebagai cara untuk mewujudkan tujuan organisasi
c. Lingkungan kondisi sosial, budaya, ekonomi, dan teknologi sebagai pendukung dalam mencapai tujuan organisasi
d. Peralatan sebagai sarana untuk mencapai tujuan, seperti materi anggaran, dan barang modal lainnya.
e. Komunikasi yaitu unsur yang memengaruhi bagaimana setiap anggota organisasi dapat saling bekerja sama dengan baik

Fungsi organisasi adalah memberikan pengetahuan dan pengalaman kepada anggota organisasi agar tujuan organisasi tercapai dan meningkatkan kemampuan individu agar berkembang serta memberi tanggung jawab yang sinergis antara masing-masing bagian dalam organisasi.

Adapun ciri-ciri organisasi antara lain sebagai berikut.
a. Mempunyai tujuan dan sasaran.
b. Mempunyai keterikatan formal dan tata tertib yang harus ditaati
c. Adanya kerja sama dari anggota organisasi.
d. Mempunyai koordinasi tugas dan wewenang.

3. Jejaring Sosial
Dalam sosiologi, jejaring sosial dijelaskan sebagai seluruh hubungan, baik langsung maupun tidak langsung, antara satu orang atau kelompok dengan orang atau kelompok lain. Jejaring sosial dapat diilustrasikan sebagai garis-garis yang menjulur keluar dari diri kita dan secara bertahap mencakup makin banyak orang Mersin, 2007)

Jejaring sosial merupakan suatu struktur sosial yang bentuk dari simpul-simpul antarindividu atau organisasi yang diikat dengan satu atau lebih tipe relasi spesifik, seperti nilai, ide, teman, keturunan, dan lain sebagainya. Jejaring sosial menghubungkan kita dengan masyarakat yang lebih luas, seperti anggota keluarga, teman, rekan kerja, teman sekolah, dan sebagainya.

Melalui jejaring sosial, seseorang dapat memperluas pergaulannya serta memudahkan penerimaan dan penyebaran Informasi. Berikut adalah beberapa fungsi jejaring sosial.
a. Berguna bagi individu maupun kelompok yang menginginkan suatu kemajuan.
b. Mengembangkan efektivitas dalam gagasan baru.
c. Membentuk jalinan kerja sama antarindividu maupun kelompok.

4. Konformitas
Menurut Jon M. Shepard (dalam Sunarto, 2004), konformitas merupakan bentuk interaksi ketika seseorang berperilaku terhadap orang lain sesuai dengan harapan kelompok atau masyarakat tempat tinggalnya.

Konformitas berarti proses penyesuaian diri dengan masyarakat dengan cara menaati norma dan nilai yang dianut masyarakat. Sementara itu, perilaku yang menyimpang atau tidak sesuai dengan norma dan nilai dalam masyarakat disebut sebagai perilaku nonkonformis atau perilaku menyimpang (deviant behavior)

Pada dasarnya, kita semua cenderung bersifat konformis. Konformitas pada masyarakat tradisional berbeda dengan masyarakat modern. Konformitas masyarakat tradisional terhadap norma dan nilai sosial yang berlaku sangat kuat.

Pada masyarakat tradisional dengan tradisi yang masih sangat kuat, norma dan nilai sosial berlaku secara turun-temurun. Isi norma dan nilai tersebut tidak banyak berubah dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Norma dan nilai sosial pada masyarakat tradisional cenderung homogen sebab pengaruh dari luar masih kurang. Penyimpangan dalam masyarakat tradisional tidak dibenarkan karena dianggap mengganggu tradisi.

Sementara pada masyarakat modern seperti di kota, anggota-anggotanya selalu berusaha menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan karena kota merupakan jalan masuk bagi pengaruh-pengaruh luar.

Oleh karena itu, konformitas di daerah perkotaan sangat kecil dibandingkan dengan daerah perdesaan. Bahkan konformitas pada masyarakat perkotaan kadang dianggap sebagai penghambat kemajuan.

Sumber:
Maryati, Kun, Juju Suryawati, Nina R. Suminar. 2023. Kelompok Mata Pelajaran Pilihan: Sosiologi untuk SMA/MA Kelas XI. Erlangga. Jakarta 

Download

Lihat Juga

Program Tahunan (Prota) Sosiologi SMA Fase F (Kurikulum Merdeka)

Program Semester (Prosem) Sosiologi SMA Fase F (Kurikulum Merdeka)

Capaian Pembelajaran Sosiologi Fase F 

Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran (KKTP) Sosiologi SMA Fase F (Kurikulum Merdeka)

Modul Ajar Sosiologi SMA Fase F - BAB 1 Kelompok Sosial (Kurikulum Merdeka) 

PPT Materi Sosiologi SMA Kelas XI Bab 1 Kelompok Sosial (Kurikulum Merdeka)

Video Materi Sosiologi SMA Kelas XI Bab 1 Kelompok Sosial (Kurikulum Merdeka)

PPT Penerbit: PPT Media Pembelajaran Sosiologi XI KM - Bab 1

Infografis Materi Kelompok Sosial  

Lembar Kerja 1. 1 Kelompok Sosial (Kurikulum Merdeka)

Lembar Kerja 1. 2 Kelompok Sosial (Kurikulum Merdeka)

Lembar Kerja 1. 3 Kelompok Sosial (Kurikulum Merdeka)  

Lembar Kerja 1. 4 Kelompok Sosial (Kurikulum Merdeka)

Soal Model AKM Sosiologi Kelas XI Bab 1. 1 Kelompok Sosial (Kurikulum Merdeka)

Soal Model AKM Sosiologi Kelas XI Bab 1. 2 Kelompok Sosial (Kurikulum Merdeka)  

Soal Model AKM Sosiologi Kelas XI Bab 1. 3 Kelompok Sosial (Kurikulum Merdeka)

Soal Model AKM Sosiologi Kelas XI Bab 1. 4 Kelompok Sosial (Kurikulum Merdeka)

Soal Uji Pemahaman Materi Kelas XI Bab 1:

Soal Pilihan Ganda Klik di SINI

Soal Esai Klik di SINI

Soal Uji Capaian Pembelajaran 1 Fase F (Kelas XI):

Soal Pilihan Ganda Klik di SINI

Soal Esai Klik di SINI

Baca Juga:

Buku untuk Siswa Sosiologi SMA Kelas XI (Fase F) Bab 1 Kurikulum Merdeka

Buku Guru Sosiologi Kelas XI (Fase F) Kurikulum Merdeka

Buku Siswa Sosiologi Kelas XI (Fase F) Kurikulum Merdeka

Materi P5 : Bullying (Perundungan): Pengertian, Kategori, Karakteristik, Faktor Penyebab, Jenis, Teori, dan Peran Orang Tua

Video Materi P5 tentang Perundungan (Bullying)

PPT Materi P5 tentang Perundungan (Bullying) untuk Kurikulum Merdeka
Aletheia Rabbani
Aletheia Rabbani “Barang siapa yang tidak mampu menahan lelahnya belajar, maka ia harus mampu menahan perihnya kebodohan” _ Imam As-Syafi’i

Post a Comment for "Materi Sosiologi SMA Kelas XI Bab 1: Kelompok Sosial (Kurikulum Merdeka)"