Materi Sosiologi SMA Kelas X Bab 5: Gejala Sosial dalam Masyarakat Multikultural (Kurikulum Merdeka)

Gejala Sosial dalam Masyarakat Multikultural
Tujuan Pembelajaran
1. Peserta didik diharapkan mampu mengidentifikasi beragam gejala sosial di masyarakat;
2. Peserta didik diharapkan mampu menganalisis gejala-gejala sosial dalam masyarakat multikultural; dan
3. Peserta didik diharapkan mampu menjelaskan multikulturalisme serta masyarakat multikultural.

A. Gejala Sosial
1. Hakikat Gejala Sosial
Gejala sosial adalah peristiwa-peristiwa yang terjadi di antara dan oleh manusia, baik secara individu maupun secara kelompok (Gulo, 2010). Suatu peristiwa atau proses disebut gejala sosial karena perilaku oleh individu yang terlibat di dalamnya saling terkait. Menurut Émile Durkheim, gejala sosial harus dipahami sebagai fakta objektif di luar subjek atau di luar diri individu.

Gejala sosial antara lain mencakup gejala ekonomi, politik, budaya, dan moral. Gejala ini berbeda dengan gejala alam. Gejala-gejala alam adalah peristiwa-peristiwa yang berlangsung di alam dan bukan karena perbuatan manusia secara langsung.

Sebaliknya, gejala sosial muncul akibat aktivitas manusia atau masyarakat. Aktivitas masyarakat mempunyai pengaruh yang lebih kuat dalam menentukan kegiatan individu daripada lingkungan geografis atau lingkungan teknis. Masyarakat melalui kegiatannya menentukan keyakinan, keinginan, dan motif perilaku dari anggota mereka.

Contoh gejala sosial antara lain kemiskinan, kejahatan, perang, kewirausahaan, dan persamaan gender. Setiap gejala sosial menjadi dampak sekaligus penyebab dari gejala sosial yang lain. Misalnya, keyakinan agama memengaruhi praktik ekonomi dan kepentingan ekonomi menentukan teori politik.

2. Karakteristik Gejala Sosial
Ada beberapa karakteristik gejala sosial di antaranya,
(a) sangat kompleks,
(b) beranekaragam,
(c) tidak bersifat universal,
(d) bersifat dinamis,
(e) tidak mudah dimengerti,
(f) kurang objektif,
(g) bersifat kualitatif, dan
(h) sulit diprediksi.

3. Bentuk, Jenis, dan Tingkatan Gejala Sosial
a. Bentuk dan Jenis Gejala Sosial
Ada berbagai gejala sosial yang dapat ditemukan dalam masyarakat. Berbagai gejala sosial tersebut, menurut Guglielmo Carchedi, dapat dikelompokkan dalam bentuk gejala sosial yang menentukan (the determinant social phenomenon) dan bentuk gejala sosial yang ditentukan (the determined social phenomenon).
Bentuk Gejala Sosial

Gejala sosial yang menentukan merupakan bentuk gejala sosial yang mengondisikan keberadaan gejala sosial yang ditentukan. Sementara itu, gejala sosial yang ditentukan merupakan gejala sosial yang menjadi kondisi reproduksi atau kondisi yang menggantikan gejala sosial yang menentukan.

Selain bentuknya, gejala sosial dapat dibedakan berdasarkan jenisnya. Gejala-gejala sosial menurut Pitirim A. Sorokin, dapat dikelompokkan dalam beberapa jenis, yaitu gejala sosial religius, gejala sosial ekonomi, gejala sosial politik, dan gejala sosial hukum.

b. Tingkatan Gejala Sosial
Menurut Norman Blaikie, ada tiga tingkatan gejala sosial. Tingkatan ini bervariasi dalam skala dari individu dan kelompok sosial kecil, organisasi dan masyarakat, sampai lembaga sosial berskala besar, seperti kota, negara, dan badan-badan multinasional. Ketiga tingkat gejala sosial itu adalah gejala sosial mikro, gejala sosial meso, dan gejala sosial makro.

B. Perbedaan Sosial dalam Masyarakat
Dalam kehidupan masyarakat tentunya banyak memiliki perbedaan sosial. Dalam suatu masyarakat perbedaan tersebut dapat dikategorikan ke dalam perbedaan sosial secara horizontal (diferensiasi sosial) dan secara vertikal (pelapisan sosial atau stratifikasi sosial).
1. Struktur Sosial
Berikut beberapa pandangan beberapa ahli tentang struktur sosial.
a. George C. Homans mengaitkan struktur sosial dengan perilaku sosial elementer dalam kehidupan sehari-hari.
b. Talcott Parsons berpendapat bahwa struktur sosial adalah keterkaitan antarmanusia.
c. James Samuel Coleman melihat struktur sosial sebagai sebuah pola hubungan antarmanusia dan antarkelompok manusia.
d. William Kornblum menekankan konsep struktur sosial pada pola perilaku individu dan kelompok, yaitu pola perilaku berulang-ulang yang menciptakan hubungan antarindividu dan antarkelompok dalam masyarakat.
e. Soerjono Soekanto melihat struktur sosial sebagai sebuah hubungan timbal balik antara posisi-posisi sosial dan antara peranan-peranan sosial.
f. Abdul Syani melihat struktur sosial sebagai sebuah tatanan sosial dalam kehidupan masyarakat. Di dalam tatanan sosial tersebut, terkandung hubungan timbal balik antara status dan peranan (dengan batas-batas perangkat unsur-unsur sosial tertentu).

Status dan peranan itu menunjuk pada suatu keteraturan perilaku sehingga dapat membentuk suatu masyarakat. Tatanan-tatanan sosial dalam kehidupan masyarakat merupakan jaringan dari unsur-unsur sosial yang pokok seperti kelompok sosial, kebudayaan, lembaga sosial, stratifikasi sosial, kekuasaan, dan wewenang.

Dengan demikian, secara sederhana dapat dikatakan bahwa struktur sosial adalah keseluruhan jalinan antara unsur-unsur sosial yang pokok, yaitu kaidah-kaidah sosial, lembaga-lembaga sosial, kelompok-kelompok sosial, dan lapisan-lapisan sosial. 

Baca Juga: Pengertian Struktur Sosial, Unsur, Fungsi, Proses, dan Jenisnya

Dalam sebuah struktur sosial, umumnya terdapat perilaku-perilaku sosial yang cenderung tetap dan teratur. Perilaku tersebut dapat menjadi pembatas perilaku Individu dan kelompok. Dalam sebuah struktur sosial, individu atau kelompok akan cenderung menyesuaikan perilakunya dengan kelompok atau masyarakatnya.

Menurut J. Nasikun, dalam konteks Indonesia, struktur sosial dapat dilihat secara horizontal dan vertikal. Secara horizontal, struktur sosial ditandai dengan adanya kesatuan sosial berdasarkan perbedaan suku bangsa, agama, dan adat.

Secara vertikal, struktur sosial ditandai dengan adanya kesatuan sosial berdasarkan perbedaan lapisan sosial. Dalam banyak literatur, struktur sosial secara vertikal disebut stratifikasi sosial, sementara struktur sosial secara horizontal disebut diferensiasi sosial.

2. Stratifikasi Sosial
Menurut Pitirim A. Sorokin, stratifikasi sosial adalah pembedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas yang tersusun secara bertingkat. Perwujudannya dalam masyarakat dikenal sebagai kelas atas, kelas menengah, dan kelas bawah.

Baca Juga: Pengertian Stratifikasi Sosial, Unsur, Dasar, Sifat, Kriteria, Pendekatan, dan Bentuknya

Dalam masyarakat yang masih homogen dan tradisional, pembedaan kedudukan dan peran masih sedikit, sehingga stratifikasi sosialnya pun sedikit. Namun, pada masyarakat perkotaan yang heterogen, stratifikasi lebih banyak karena didasarkan pada kriteria pendidikan. Atas dasar ini, timbullah berbagai macam keahlian atau profesi (pembagian kerja).

Dasar stratifikasi dalam masyarakat disebabkan oleh adanya sesuatu yang dihargai lebih, misalnya kekayaan, ilmu pengetahuan, atau kekuasaan. Ukuran yang dipakai untuk menggolongkan seseorang pada lapisan tertentu adalah ukuran kumulatif dan bukan ukuran tunggal. Contohnya, orang kaya biasanya mudah memiliki kekuasaan, pendidikan, bahkan kehormatan.

Berkaitan dengan lapisan sosial tersebut, menurut Soerjono Soekanto, terdapat tiga sistem lapisan sosial di suatu masyarakat, yaitu pelapisan sosial terbuka, pelapisan sosial tertutup, dan pelapisan sosial campuran.

Dari ketiga pelapisan sosial tersebut, stratifikasi sosial terwujud dalam bentuk kelas-kelas sosial. Kelas-kelas sosial ini dapat kita lihat dari segi ekonomi, sosial, dan politik.

Stratifikasi sosial yang ada di masyarakat dapat mengakibatkan berbagai dampak atau konsekuensi. Konsekuensi-konsekuensi tersebut, antara lain berkaitan dengan bahasa dan gaya bahasa, makanan, gelar/pangkat/ jabatan, hobi dan kegemaran, pakaian, dan rumah dengan perabotan.

3. Difererensiasi Sosial
Istilah diferensiasi secara sosiologis menunjuk pada klasifikasi atau penggolongan terhadap perbedaan-perbedaan tertentu yang biasanya sama atau sejenis. Kata sejenis dalam hal ini berarti klasifikasi masyarakat secara mendatar, sejajar, atau horizontal. Pengelompokan secara horizontal ini didasarkan pada hal-hal berikut.
1) Diferensiasi berdasarkan ras.
Menunjuk pada banyaknya ras yang ada di dunia ini. Menurut Ralph Linton, manusia dibagi menjadi tiga kelompok ras, yaitu ras Mongoloid, Kaukasoid, dan Negroid. 

Baca Juga: Pengertian Ras, Faktor, Klasifikasi, dan Jenisnya

Ras yang banyak mendiami daratan Asia adalah ras Mongoloid dengan ciri, kulit warna kuning sampai sawo matang, rambut lurus, bulu badan sedikit, dan mata sipit. Adapun ras Negroid umumnya berkulit hitam dan berambut keriting, sedangkan ras Kaukasoid umumnya berkulit putih dan berambut pirang atau terang.

2) Diferensiasi berdasarkan suku bangsa
Jumlah suku bangsa yang tersebar di seluruh dunia sangat banyak. Di Indonesia, menurut C. van Vollen Houven, terdapat 316 suku bangsa. Adapun menurut Prof. Dr. Koentjaraningrat, Indonesia memiliki 119 suku bangsa.

3) Diferensiasi klan
Klan merupakan kesatuan keturunan, kepercayaan, dan tradisi atau adat. Di Indonesia terdapat dua klan utama, yaitu klan atas dasar ibu atau matrilineal dan atas dasar garis keturunan ayah atau patrilineal. Contohnya, klan pada masyarakat Batak, Minangkabau, dan Minahasa.

4) Diferensiasi agama
Di Indonesia memiliki enam agama yang dianut masyarakatnya, yaitu Islam, Kristen Protestan, Kristen Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu.

Diferensiasi Sosial

4. Heterogenitas dalam Kehidupan Masyarakat
Dalam masyarakat modern, keanekaragaman masyarakat atau heterogenitas merupakan suatu keniscayaan. Hal ini terbentuk karena adanya perbedaan fungsi dan ciri dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam kehidupan masyarakat, terdapat dua macam heterogenitas, yaitu berdasarkan profesi dan jenis kelamin. 

Baca Juga: Pengertian Heterogenitas Sosial dan Jenisnya

Dalam masyarakat yang heterogen, kerap kali ditemukan prasangka dan stereotipe. Prasangka (prejudice) dalam kaitannya dengan hubungan antarkelompok merupakan sikap bermusuhan yang ditujukan pada suatu kelompok tertentu atas dasar dugaan bahwa kelompok tersebut mempunyai ciri yang tidak menyenangkan.

Sikap tersebut disebut prasangka karena tidak didasari oleh pengetahuan, pengalaman, ataupun bukti yang memadai. Menurut Michael Banton, istilah prasangka memiliki makna yang hampir serupa dengan istilah antagonisme dan antipati.

Namun, perbedaannya, antagonisme atau antipati dapat dikurangi atau diberantas melalui pendidikan. Sebaliknya, sikap yang bermusuhan pada orang yang berprasangka cenderung tidak rasional dan berada di alam bawah sadar sehingga sulit diubah.

Stereotipe merupakan konsep yang berkaitan erat dengan prasangka. Stereotipe adalah sebuah asumsi atau gambaran yang terlalu menyederhanakan dan dipegang atau diyakini mengenai suatu hal atau kelompok tertentu. Stereotipe akan memunculkan prasangka.

Orang yang memegang stereotipe tertentu terhadap kelompok lain cenderung berprasangka terhadap kelompok bersangkutan. William Kornblum menyebut stereotipe sebagai citra yang kaku mengenai kelompok ras atau budaya yang dianut tanpa memperhatikan kebenaran citra tersebut.

Orang cenderung menyederhanakan dan tidak peka terhadap fakta objektif. Stereotipe dapat bersifat negatif ataupun positif. Perempuan memiliki sifat keibuan, penyayang, dan lembut adalah contoh stereotipe positif. Sementara itu, orang yang miskin itu bodoh, kotor, dan tidak berbudaya adalah contoh stereotipe negatif.

C. Masyarakat Multikultural

Masyarakat Multikultural

Masyarakat Indonesia terdiri atas beragam suku bangsa, budaya, dan agama. Keberagaman tersebut menjadikan bangsa Indonesia disebut sebagai bangsa yang multikultural.
1. Hakikat Masyarakat Multikultural
Masyarakat multikultural merupakan bentuk dari masyarakat modern yang anggotanya terdiri atas berbagai golongan, etnis (suku bangsa), ras, agama, dan budaya. Masyarakat ini hidup bersama di suatu wilayah lokal maupun nasional. Masyarakat ini bahkan berhubungan dengan masyarakat internasional, baik secara langsung maupun tidak langsung.
a. Pengertian Masyarakat Multikultural
Secara sederhana, masyarakat multikultural dapat dipahami sebagai masyarakat yang terdiri atas beragam kelompok sosial dengan sistem nilai, norma, dan kebudayaan yang berbeda-beda. Istilah lain dari masyarakat multikultural adalah masyarakat majemuk, meskipun pengertiannya tidak seutuhnya sama.

Hal tersebut karena konsep masyarakat majemuk lebih menitikberatkan pada keanekaragaman suku bangsa dan kebudayaan, sedangkan masyarakat multikultural merujuk pada kesetaraan atau kesederajatan kebudayaan yang ada dalam sebuah masyarakat.

Paham yang mengakui adanya perbedaan dalam kesederajatan individu maupun kelompok dalam suatu kebudayaan disebut multikulturalisme. Multikulturalisme tidak hanya bermakna keanekaragaman (kemajemukan), tetapi juga kesederajatan antarperbedaan.

Kesederajatan dalam perbedaan merupakan jantung dari multikulturalisme. Dengan demikian, secara konsep, masyarakat multikultural tidak sama dengan masyarakat majemuk. Masyarakat multikultural tidak mengenal perbedaan hak dan kewajiban antara kelompok minoritas dan mayoritas, baik secara hukum maupun sosial.

b. Karakteristik Masyarakat Multikultural
Menurut Pierre L. van den Berghe, karakteristik masyarakat multikultural adalah sebagai berikut.
1) Adanya segmentasi atau pembagian ke dalam kelompok- kelompok yang sering kali memiliki subkebudayaan yang berbeda satu sama lain.
2) Memiliki struktur sosial yang terbagi dalam lembaga-lembaga yang bersifat nonkomplementer (tidak saling melengkapi).
3) Kurang mengembangkan konsensus (kesepakatan) di antara anggotanya tentang nilai-nilai yang bersifat dasar
4) Secara relatif, sering terjadi konflik antara kelompok yang satu dan yang lain.
5) Secara relatif, integrasi sosial tumbuh di atas paksaan dan saling tergantung dalam bidang ekonomi.
6) Adanya dominasi politik oleh suatu kelompok atas kelompok lain.

c. Nilai-Nilai Multikultural
Nilai-nilai multikultural yang dapat dikembangkan di masyarakat adalah sebagai berikut.
1) Demokratis, yaitu cara berpikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.
2) Pluralisme, yaitu pandangan yang menerima keberagaman sebagai nilai positif dan sebagai kenyataan yang tidak dapat ditolak.
3) Humanisme, yaitu pandangan dan gerakan yang menghargai harkat dan martabat manusia dan menjunjung tinggi rasa kemanusian

Terkait hal ini, ada tiga dasar yang dapat dijadikan acuan untuk pendidikan multikultural, yaitu sebagai berikut.
1) Pengakuan terhadap identitas budaya lain sehingga akan muncul sikap jujur untuk mengakui keberadaan budaya lain dengan segala unsurnya.
2) Adat kebiasaan dan tradisi yang hidup dalam suatu masyarakat merupakan tali pengikat kesatuan perilaku di dalam masyarakat.
3) Kemajuan-kemajuan yang diperoleh kelompok-kelompok tertentu dilihat sebagai sumbangan yang besar bagi kelompok yang lebih luas, seperti negara.

d. Faktor-faktor yang Memengaruhi Perlunya Masyarakat Multikultural
Menurut H. A. R. Tilaar, setidaknya ada tiga hal yang mendorong berkembang pesatnya pemikiran multikulturalisme.
Pertama, hak asas manusia (HAM), yaitu penghargaan terhadap hak-hak dasar manusia.
Kedua, globalisme, yaitu paham mengenai kesetaraan antarkeragaman budaya yang terdapat di dunia.
Ketiga, demokratisasi, yaitu proses-proses yang mengandung pengakuan dan penghargaan yang besar terhadap keragaman dan perbedaan.

Ketiga hal tersebut dapat diumpamakan sebagai segitiga sama sisi yang tidak dapat dipisahkan dalam penerapan konsep multikultural. 

Baca Juga: Pengertian Multikulturalisme, Sejarah, Unsur, Ciri, Sebab, dan Jenisnya

e. Manfaat Masyarakat Multikultural
Pengaruh yang paling dominan dalam terbentuknya sebuah masyarakat multikultural adalah sikap mental masyarakat itu sendiri. Sikap masyarakat yang cenderung primordial dan tidak adil akan menjadi faktor penghambat terciptanya masyarakat multikultural. Kondisi itu dapat diminimalisasi atau bahkan dihilangkan apabila manfaat dari terciptanya masyarakat multikultural disadari oleh semua pihak.

Dengan adanya manfaat tersebut, sudah selayaknya masyarakat multikultural tidak hanya diterima sebagai realitas sosial budaya, tetapi bahwa masyarakat multikultural merupakan konsep yang menjadi acuan berpikir dan bertindak dalam menapaki hidup di masa sekarang dan masa yang akan datang.

2. Masyarakat Multikultural Indonesia
Indonesia dikenal sebagai masyarakat multikultural. Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan multikulturalisme masyarakat Indonesia, antara lain sebagai berikut.
a. Letak geografis
Indonesia berada pada posisi yang strategis, yaitu diapit oleh Samudra Hindia dan Samudra Pasifik serta berada di antara Benua Asia dan Benua Australia. Hal tersebut menyebabkan Indonesia berada di pusat jalur perdagangan dunia sehingga memungkinkan masuknya berbagai pengaruh kebudayaan asing ke Indonesia melalui proses akulturasi dan asimilasi.

b. Kondisi geografis
Kondisi geografis Indonesia yang meliputi kurang lebih 13.000 pulau memungkinkan nenek moyang bangsa Indonesia bermukim di berbagai wilayah-wilayah yang kaya akan sumber daya alam.

Kondisi geografis yang berbeda dan terpisah-pisah mengakibatkan penduduk tiap pulau berkembang menjadi kesatuan-kesatuan suku bangsa yang terisolasi antara satu sama lain. Hal tersebut menyebabkan munculnya keragaman sistem budaya, adat istiadat, bahasa, dan kepercayaan pada masyarakat Indonesia.

c. Kondisi iklim dan struktur tanah
Perbedaan curah hujan dan kesuburan tanah turut menjadi faktor pembentukan masyarakat multikultural. Masing-masing kelompok masyarakat mengembangkan kebudayaan yang sesuai dengan kondisi iklim dan struktur tanah tempat mereka tinggal.

Masyarakat multikultural seperti Indonesia cenderung menghadapi masalah-masalah tertentu, yaitu perasaan etnisitas yang kuat, primordialisme, etnosentrisme, dan stereotipe.

Masyarakat multikultural sangat penting bagi bangsa Indonesia, karena di dalam multikulturalisme, kita mengakui dan menghormati perbedaan budaya sebagai suatu rahmat, suatu anugerah, suatu kekayaan, suatu hadiah dari Tuhan Yang Maha Esa. Kita tidak melihat atribut identitas perbedaan sebagai suatu ancaman tetapi sebagai potensi yang dapat memperkaya khasanah budaya bangsa.

Pendidikan multikultural menjadi sangat penting diterapkan karena dapat meminimalisasi dan mencegah konflik dalam kehidupan masyarakat secara luas. Jika pendidikan ini diterapkan sejak dini, sikap dan mindset seseorang akan lebih terbuka untuk memahami dan menghargai keberagaman.

Sumber:
Maryati, Kun, Juju Suryawati, Nina R. Suminar. 2022. IPS: Sosiologi untuk SMA/MA Kelas X. Erlangga. Jakarta 

Download

Lihat Juga:

Program Tahunan (Prota) Sosiologi SMA Fase E (Kurikulum Merdeka) 

Program Semester (Prosem) Sosiologi SMA Fase E (Kurikulum Merdeka)

Capaian Pembelajaran Sosiologi (Fase E)

Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) Sosiologi SMA Fase E

Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran (KKTP) Sosiologi SMA Fase E (Kurikulum Merdeka)

Modul Ajar Sosiologi SMA Fase E - Bab 5

PPT Materi Sosiologi SMA Kelas X Bab 5 Gejala Sosial dalam Masyarakat Multikultural (Kurikulum Merdeka)

Video Materi Sosiologi SMA Kelas X Bab 5 Gejala Sosial dalam Masyarakat Multikultural (Kurikulum Merdeka)

PPT Penerbit: PPT SMA SOSIOLOGI KELAS 10 KM - BAB 5

Infografis Materi Gejala Sosial dalam Masyarakat Multikultural  

Lembar Kerja 5. 1 Materi Gejala Sosial dalam Masyarakat Multikultural  (Kurikulum Merdeka)

Lembar Kerja 5. 2 Materi Gejala Sosial dalam Masyarakat Multikultural (Kurikulum Merdeka)

Lembar Kerja 5. 3 Materi Gejala Sosial dalam Masyarakat Multikultural  (Kurikulum Merdeka)  

Lembar Kerja 5. 4 Materi Gejala Sosial dalam Masyarakat Multikultural (Kurikulum Merdeka)

Soal Uji Pemahaman Materi Bab 5:

Soal Pilihan Gandanya Klik di SINI

Soal Esainya Klik di SINI

Soal Uji Capaian Pembelajaran 2:

Soal Pilihan Gandanya Klik di SINI

Soal Esainya Klik di SINI

Baca Juga:

Materi P5 : Bullying (Perundungan): Pengertian, Kategori, Karakteristik, Faktor Penyebab, Jenis, Teori, dan Peran Orang Tua

Video Materi P5 tentang Perundungan (Bullying)

PPT Materi P5 tentang Perundungan (Bullying) untuk Kurikulum Merdeka

Aletheia Rabbani
Aletheia Rabbani “Barang siapa yang tidak mampu menahan lelahnya belajar, maka ia harus mampu menahan perihnya kebodohan” _ Imam As-Syafi’i

Post a Comment for "Materi Sosiologi SMA Kelas X Bab 5: Gejala Sosial dalam Masyarakat Multikultural (Kurikulum Merdeka)"