Analisis Mendalam Buku Jalan Ketiga karya Anthony Giddens: Pembaruan Sosial Demokrasi
1. Konteks Intelektual dan Historis Penulisan Jalan Ketiga
Buku The Third Way: The Renewal of Social Democracy (1998) karya Anthony Giddens tidak muncul dari ruang hampa. Sebaliknya, karya ini merupakan respons terhadap lanskap politik dan ideologi yang sangat spesifik dan penuh gejolak pada akhir abad ke-20. Untuk memahami sepenuhnya isi buku ini, penting untuk menempatkannya dalam konteks pribadi Giddens dan krisis ideologis yang melanda politik sentris-kiri.
Anthony Giddens, seorang sosiolog terkemuka asal Inggris, telah membangun reputasinya melalui karya-karya teoretisnya, termasuk teori strukturasi dan analisisnya tentang modernitas akhir. Ia dikenal sebagai salah satu dari sedikit sosiolog yang karyanya memiliki dampak langsung pada kebijakan publik. Kredibilitasnya sebagai pemikir yang mampu menjembatani teori sosial dengan praktik politik diperkuat oleh hubungannya yang sangat dekat dengan Perdana Menteri Inggris, Tony Blair. Giddens sering disebut sebagai "intelektual favorit" atau "guru" Blair, dan ia secara luas diakui sebagai "arsitek utama" di balik konsep Jalan Ketiga yang menjadi landasan ideologis bagi Partai Buruh Baru (New Labour). Keterlibatan langsung Giddens dalam pemerintahan Blair menunjukkan bahwa Jalan Ketiga bukanlah sekadar gagasan akademis, melainkan sebuah proyek politik yang dirancang untuk memecahkan masalah-masalah nyata yang dihadapi oleh partai-partai sentris-kiri.
Pada tahun 1980-an, sosial-demokrasi tradisional menghadapi tantangan yang eksistensial. Model negara kesejahteraan yang telah lama menjadi pilar ideologisnya dianggap mengalami kebangkrutan. Kritik terhadapnya—baik dari internal maupun eksternal—menuduh bahwa sistem ini menciptakan inefisiensi ekonomi, merusak mekanisme pasar, serta menumbuhkan budaya ketergantungan dan kemalasan. Di sisi lain, era ini didominasi oleh kebangkitan dan kemenangan ideologi neoliberalisme atau "Kanan Baru," yang diusung oleh para pemimpin seperti Margaret Thatcher dan Ronald Reagan. Neoliberalisme mengadvokasi pengurangan peran negara hingga tingkat minimal (minimal state) dan mengembalikan pasar sebagai penggerak utama dinamisme ekonomi. Giddens melihat perdebatan antara "negara minimalis" dan "negara maksimalis" (yang diusung oleh sosial-demokrasi klasik) sebagai oposisi biner yang sudah tidak relevan. Ia berpendapat bahwa pemerintah reformis tidak lagi bisa mengandalkan program-program statis tradisional dalam menghadapi kekuatan finansial global yang semakin masif.
Berdasarkan konteks ini, tujuan utama Giddens dalam menulis The Third Way adalah untuk menawarkan sebuah "jalan ketiga" yang berbeda, sebuah "alternatif radikal-sentris" setelah kapitalisme dan sosialisme. Buku ini secara eksplisit disajikan sebagai sebuah "pembaruan sosial-demokrasi" yang bertujuan untuk menemukan kompromi antara sistem ekonomi non-intervensionis neoliberal dan kebijakan pengeluaran sosial-demokrat Keynesian. Tesis utamanya adalah bahwa Jalan Ketiga memungkinkan sebuah demokrasi untuk memanfaatkan kekuatan pasar demi kesejahteraan umum, sambil tetap peduli terhadap mereka yang tertinggal. Ia menyadari bahwa kapitalisme "sudah terlalu mapan untuk disingkirkan", dan bahwa pasar bebas adalah "metodologi" yang paling efektif untuk menghasilkan kekayaan. Oleh karena itu, Jalan Ketiga berupaya "menghumanisasi kapitalisme" dan menciptakan "ekonomi campuran" yang mengintegrasikan elemen terbaik dari kedua spektrum politik.
2. Pilar Teoretis dan Prinsip Utama Jalan Ketiga
Inti dari pemikiran Anthony Giddens dalam The Third Way adalah sebuah kerangka ideologis yang bertujuan untuk merekonstruksi ulang politik sentris-kiri agar relevan di era modernitas akhir. Giddens berpendapat bahwa pembagian kelas tradisional antara kiri dan kanan sudah tidak lagi relevan, dan bahwa politik progresif harus beroperasi dari "pusat" untuk membangun dukungan konsensual yang luas. Prinsip-prinsip ini, yang sering kali disebut sebagai "Jalan Tengah Radikal," mengadvokasi sebuah sintesis yang berani. Ia berpandangan bahwa partai-partai politik dapat mengambil semangat radikal dari kedua spektrum untuk mencapai tujuan mereka.
Salah satu konsep yang paling mudah dipahami dari Jalan Ketiga adalah Hak dengan Tanggung Jawab (Rights with Responsibilities). Konsep ini merupakan ringkasan filosofis dari ideologi tersebut dan menandai pergeseran fundamental dari sosial-demokrasi tradisional. Giddens berargumen bahwa hak-hak warga negara tidak boleh datang tanpa kewajiban atau tanggung jawab yang menyertainya. Sebuah contoh sederhana dari prinsip ini adalah hak untuk mendapatkan pendidikan yang dipasangkan dengan tanggung jawab siswa untuk berusaha dan mendapatkan nilai yang baik. Prinsip ini melandasi visi Giddens tentang reformasi kesejahteraan yang bertransisi dari model "negara pemberi sumbangan" (hand-out state) menjadi "negara pemberi dukungan" (hand-up state). Giddens berpendapat bahwa model sebelumnya menumbuhkan ketergantungan dan pasivitas, sedangkan model yang ia tawarkan bertujuan untuk memberdayakan individu agar lebih mandiri dan aktif dalam masyarakat.
Pergeseran filosofis ini diterjemahkan ke dalam visi Giddens tentang Negara Investasi Sosial (Social Investment State). Giddens mengusulkan agar negara tidak lagi hanya berfungsi sebagai jaring pengaman pasif yang memberikan bantuan, melainkan sebagai agen investasi yang proaktif. Hal ini melibatkan investasi publik yang signifikan untuk membangun modal manusia (human capital) nasional, seperti melalui program pendidikan, pelatihan kerja, dan reformasi kesejahteraan yang berorientasi pada pekerjaan (workfare). Tujuan dari pendekatan ini adalah untuk meningkatkan daya saing dan kinerja ekonomi di era globalisasi. Giddens percaya bahwa strategi investasi sosial ini adalah jembatan yang diperlukan untuk membuktikan bahwa keadilan sosial dan efisiensi ekonomi bukanlah dua hal yang saling bertentangan.
Dalam karyanya yang lebih awal, Beyond Left and Right (1994), Giddens telah meletakkan fondasi teoretis untuk proyek politiknya. Di dalamnya, ia mengkritik sosialisme pasar dan menguraikan kerangka enam poin untuk politik radikal yang direkonstitusi: (1) Memperbaiki solidaritas yang rusak, (2) Mengakui sentralitas politik kehidupan, (3) Menerima bahwa kepercayaan aktif mengimplikasikan politik generatif, (4) Merangkul demokrasi dialogis, (5) Memikirkan ulang negara kesejahteraan, dan (6) Menghadapi kekerasan. Poin-poin ini menunjukkan bahwa visi Giddens melampaui reformasi ekonomi semata; ia juga menyentuh isu-isu sosial, budaya, dan demokrasi yang lebih luas yang ia analisis dalam karya sosiologisnya tentang modernitas akhir. Giddens berargumen bahwa masalah-masalah seperti alienasi dan disintegrasi sosial tidak dapat diselesaikan hanya dengan kebijakan ekonomi, sehingga ia mengintegrasikan dimensi sosial dan budaya ke dalam kerangka politiknya.
Tabel di bawah ini memberikan gambaran komparatif yang jelas tentang posisi ideologis Jalan Ketiga relatif terhadap dua ideologi dominan lainnya yang ada pada masanya.
3. Dinamika Hubungan Negara, Pasar, dan Masyarakat Sipil dalam Visi Giddens
Salah satu aspek yang paling bernuansa dari pemikiran Giddens adalah pandangannya mengenai hubungan triadik antara negara, pasar, dan masyarakat sipil. Giddens secara tegas menolak perdebatan biner yang usang antara mereka yang ingin menghapus peran negara (neoliberalisme) dan mereka yang ingin memperluasnya (sosial-demokrasi klasik). Baginya, yang terpenting bukanlah ukuran peran negara, melainkan bagaimana negara dapat beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan tantangan-tantangan baru yang diciptakan oleh abad globalisasi.
Dalam visinya, peran negara berubah dari pengendali langsung menjadi fasilitator dan mitra strategis. Giddens mengadvokasi konsep "negara cerdas" (intelligent state) yang tidak hanya berinteraksi secara kreatif dengan pasar, tetapi juga dengan masyarakat sipil. Negara, menurut Giddens, harus bertindak sebagai mitra strategis dengan bisnis dan menyediakan kerangka regulasi yang memungkinkan pasar untuk beroperasi secara efisien, sambil tetap melindungi kepentingan publik. Pendekatan ini secara sadar menolak intervensi langsung ala Keynesianisme lama, yang dianggap Giddens sebagai pendekatan yang usang. Dengan memposisikan negara sebagai fasilitator, Giddens berupaya menunjukkan bahwa pemerintah dapat mendukung pertumbuhan ekonomi dan inovasi tanpa harus terlibat dalam "birokratisme sentralistis".
Pasar, dalam kerangka Jalan Ketiga, dianggap sebagai mesin yang sangat penting untuk mencapai pertumbuhan ekonomi. Giddens berargumen bahwa pertumbuhan adalah "cara terbaik untuk menaikkan pendapatan pajak". Pertumbuhan ini dicapai melalui kombinasi ekonomi pasar bebas, disiplin fiskal, dan investasi dalam modal manusia. Giddens tidak berusaha menyingkirkan pasar, melainkan mengusulkan untuk "menghumanisasi kapitalisme" dan menggunakan efisiensi pasar untuk mencapai tujuan sosial. Namun, di sinilah letak ketegangan ideologis yang paling signifikan. Pandangan Giddens menempatkan pertumbuhan ekonomi sebagai "imperatif tak terbantahkan" dan memandang keadilan sosial sebagai "kemewahan" yang hanya dapat dikejar setelah tujuan ekonomi tercapai. Ini menciptakan kritik bahwa dalam praktiknya, tujuan ekonomi seringkali mendahului pertimbangan etis.
Bagian yang sering kali disederhanakan oleh para kritikus adalah peran penting yang diberikan Giddens kepada masyarakat sipil. Ia menekankan bahwa masyarakat sipil harus menjadi "kekuatan lain di luar pasar dan negara". Dalam pandangannya, masyarakat sipil berfungsi sebagai penyeimbang kekuatan negara dan pasar, menyuarakan aspirasi publik, dan mengawasi kinerja keduanya. Giddens memvisualisasikan hubungan triadik ini sebagai sebuah "dialektika" yang saling memengaruhi, di mana masing-masing pilar memiliki peran yang berbeda namun saling melengkapi. Konsep ini adalah cara Giddens untuk mengatasi keterbatasan baik negara maupun pasar dalam menghadapi masalah sosial yang kompleks, dengan menempatkan tanggung jawab yang lebih besar pada komunitas dan organisasi non-pemerintah.
4. Penerapan dan Manifestasi Jalan Ketiga: Kasus New Labour di Inggris
Ide-ide Jalan Ketiga tidak hanya terbatas pada dunia akademis; mereka menemukan manifestasi nyata dalam kebijakan pemerintahan New Labour di Inggris di bawah kepemimpinan Tony Blair. Giddens sendiri adalah "arsitek kepala" dari ideologi ini, dan New Labour secara sadar memposisikan diri sebagai "keberangkatan dari Old Labour"—partai yang dituduh terlalu dekat dengan serikat pekerja dan ketergantungan pada negara kesejahteraan.
Kebijakan kesejahteraan adalah salah satu area di mana ide-ide Giddens diterapkan secara paling jelas. New Labour menggeser fokus dari sistem kesejahteraan pasif (welfare) ke sistem yang mensyaratkan kerja (workfare). Reformasi ini, seperti Working Families Tax Credit, National Childcare Strategy, dan National Minimum Wage, bertujuan untuk memberikan "bantuan" (hand-up) daripada "sumbangan" (hand-out). Tujuannya adalah untuk meningkatkan kelayakan kerja (employability) alih-alih hanya menjamin pekerjaan, yang merupakan aplikasi langsung dari prinsip Hak dengan Tanggung Jawab.
Dalam bidang ekonomi, New Labour merangkul efisiensi pasar. Pemerintahan Blair dan Gordon Brown bergantung pada kemitraan publik-swasta (public-private partnerships) dan inisiatif pembiayaan swasta (private finance initiatives atau PFI) untuk mendanai proyek-proyek publik. Pendekatan ini dirancang untuk mengatasi ketakutan terhadap kebijakan "pajak dan belanja" yang sering dituduhkan kepada Old Labour. Brown, sebagai Menteri Keuangan, mempertahankan komitmen terhadap disiplin fiskal dengan "aturan emas" dan penanganan anggaran yang konservatif, menunjukkan bahwa Jalan Ketiga berupaya membangun kredibilitas ekonomi dengan meniru kebijakan-kebijakan yang biasanya diasosiasikan dengan sayap kanan.
Pergeseran filosofis lain adalah penekanan pada keadilan sosial (social justice) daripada kesetaraan hasil (equality of outcome). New Labour mempromosikan standar minimum dan kesetaraan kesempatan dan menolak pandangan bahwa keadilan sosial dan efisiensi ekonomi adalah dua hal yang saling eksklusif. Pergeseran ini merupakan inti dari upaya untuk menyesuaikan ideologi sentris-kiri dengan realitas ekonomi global yang kompetitif.
Tabel di bawah ini memberikan rincian lebih lanjut tentang bagaimana prinsip-prinsip teoretis Giddens diterjemahkan ke dalam kebijakan praktis oleh pemerintahan New Labour.
5. Kritik dan Kontroversi terhadap Jalan Ketiga
Meskipun disambut dengan antusiasme oleh para pendukungnya, ideologi Jalan Ketiga tidak lepas dari kritik tajam dari berbagai pihak. Kritik ini menyoroti ambiguitas dan kelemahan konseptual yang melekat pada gagasan tersebut.
Dari sayap kiri, Jalan Ketiga dicap sebagai "pengkhianatan terhadap nilai-nilai sayap kiri". Para kritikus, termasuk sosialis demokrat, anarkis, dan komunis, berpendapat bahwa ideologi ini secara efektif adalah gerakan "neoliberal" yang memakai wajah humanis. Kritik ini berakar pada pandangan bahwa Jalan Ketiga secara fundamental meninggalkan agenda redistribusi kekayaan dan menerima kapitalisme sebagai status quo yang tak terhindarkan. Dengan berfokus pada "kesetaraan kesempatan" alih-alih "kesetaraan hasil," para penentang dari kiri menuduh New Labour meninggalkan konstituen tradisionalnya, yaitu kelas pekerja, dan bahkan ada yang menjuluki Tony Blair sebagai "anak Margaret Thatcher" yang mengkonsolidasikan, bukan melawan, agenda neoliberal.
Dari sayap kanan, meskipun tidak banyak, kritik tetap muncul. Kaum neoliberal, yang berpandangan bahwa welfare state menciptakan inefisiensi, melihat setiap upaya untuk mempertahankan intervensi negara, sekecil apa pun, sebagai kemunduran. Mereka menuduh Jalan Ketiga sebagai "fatamorgana pemasaran" atau "Kuda Troya bagi sosialis" yang tidak benar-benar meninggalkan ideologi kiri tradisional. Bagi mereka, Jalan Ketiga adalah konsep yang "tidak jelas", sebuah kompromi yang tidak sepenuhnya memuaskan prinsip-prinsip pasar bebas.
Kritik intelektual yang paling tajam terhadap Jalan Ketiga adalah bahwa ideologi ini "menuntut analisis ekonomi yang tidak disediakannya". Giddens, sebagai seorang sosiolog, tidak menyediakan fondasi ekonomi yang kuat untuk tesisnya. Meskipun ia menolak Keynesianisme dan kebijakan industri yang aktif, Jalan Ketiga tidak secara jelas menawarkan teori ekonomi alternatif yang substansial. Hal ini menciptakan fondasi yang goyah di mana tujuan ekonomi seringkali dianggap lebih penting daripada pertimbangan etis. Ambiguitas ini, yang dianggap Giddens sebagai sebuah keunggulan pragmatis, justru dipandang oleh para kritikus sebagai kelemahan ideologis yang mendasar.
6. Warisan Intelektual dan Relevansi Kontemporer
Meskipun masa kejayaan politiknya relatif singkat, warisan intelektual Jalan Ketiga memiliki dampak yang signifikan dan bertahan lama. Buku Giddens diterjemahkan ke dalam 25 bahasa dan memengaruhi para pemimpin di seluruh dunia, termasuk Presiden AS Bill Clinton, Kanselir Jerman Gerhard Schröder, dan Perdana Menteri Italia Massimo D'Alema. Jalan Ketiga menjadi "nama merek di seluruh dunia" untuk politik progresif di era informasi, menyediakan sebuah narasi yang kohesif bagi partai-partai sentris-kiri yang berupaya merebut kembali kekuasaan setelah kekalahan beruntun.
Namun, prospek Jalan Ketiga mulai tampak suram pada awal abad ke-21, dan ideologi ini secara definitif kehilangan relevansinya setelah krisis finansial global 2008. Krisis tersebut secara telanjang mengekspos kelemahan fundamentalisme pasar dan kebijakan fiskal yang membatasi kemampuan pemerintah untuk merespons secara memadai. Premis Jalan Ketiga yang dibangun di atas pasar yang efisien dan pertumbuhan yang stabil terbukti rapuh ketika dihadapkan pada kegagalan pasar yang masif. Hal ini memicu kegagalan politik bagi banyak partai sosial-demokrat yang telah mengadopsi ideologi ini di seluruh Eropa.
Warisan Jalan Ketiga bersifat ambivalen. Di satu sisi, ia berhasil memodernisasi sayap kiri dan membuktikan bahwa partai-partai kiri dapat berkuasa dan mengelola ekonomi dengan kredibel di era globalisasi. Jalan Ketiga berhasil meminggirkan Partai Konservatif dan mencapai keberhasilan dalam reformasi kesejahteraan. Namun, di sisi lain, ia dituduh mengorbankan nilai-nilai inti sosial-demokrat dan berkontribusi pada peningkatan ketidaksetaraan ekonomi. Giddens sendiri mengakui beberapa kegagalan New Labour, seperti penanganan bisnis yang tidak bertanggung jawab, meskipun ia juga membela keberhasilannya.
7. Kesimpulan: Sebuah Refleksi atas Jalan Ketiga
Buku The Third Way karya Anthony Giddens adalah sebuah dokumen penting yang mencerminkan gejolak ideologis pada akhir abad ke-20. Giddens mengusulkan Jalan Ketiga sebagai sebuah respons pragmatis yang diperlukan di tengah ketidakpastian, sebuah upaya untuk menghadapi realitas keras globalisasi dan krisis sosial-demokrasi tradisional. Ia berhasil memindahkan perdebatan politik dari oposisi biner yang statis antara "negara maksimalis" dan "negara minimalis," memaksa partai-partai kiri untuk berhadapan langsung dengan realitas ekonomi baru dan menyoroti peran penting masyarakat sipil sebagai pilar ketiga.
Meskipun demikian, Jalan Ketiga gagal memecahkan dilema mendasar yang diusungnya. Ketegangan antara pertumbuhan ekonomi dan keadilan sosial tetap tidak terselesaikan, dan kritikus berpendapat bahwa dalam praktiknya, tujuan ekonomi seringkali mendominasi. Ideologi ini terbukti tidak memiliki fondasi ekonomi yang cukup kuat, membuat argumennya goyah ketika dihadapkan pada guncangan ekonomi pasca-2008.
Pada akhirnya, Jalan Ketiga mungkin tidak lagi menjadi ideologi yang dominan, tetapi warisannya adalah pelajaran berharga bagi politik kontemporer. Ia menunjukkan keberhasilan elektoral yang dapat diperoleh dengan mereformasi dan memodernisasi sebuah ideologi. Namun, ia juga menunjukkan bahaya filosofis yang timbul dari kompromi yang berlebihan dan risiko mengorbankan nilai-nilai inti demi kepentingan pragmatis. Ide-ide dasarnya tentang "hak dengan tanggung jawab" dan "investasi sosial" mungkin bertahan dan terus membentuk politik sentris-kiri, meskipun dalam bentuk yang berbeda, seiring partai-partai kiri terus mencari model yang lebih tangguh dan berkelanjutan untuk abad ke-21.
Baca Juga: Analisis Komprehensif Buku The Constitution of Society: Teori Strukturasi Anthony Giddens secara Mendalam
Karya yang dikutip
Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia. (n.d.). Diskusi publik seri 4: Merumuskan posisi dan peran negara, pasar, dan masyarakat sipil. AIPI. Retrieved September 26, 2025, from https://aipi.or.id
Astrid Online. (n.d.). The rise and fall of New Labour. Astrid Online. Retrieved September 26, 2025, from https://www.astrid-online.it
Britannica. (n.d.). Third way – Globalization, economics, politics. In Encyclopedia Britannica. Retrieved September 26, 2025, from https://www.britannica.com
Britannica. (n.d.). Third way | History & features. In Encyclopedia Britannica. Retrieved September 26, 2025, from https://www.britannica.com/topic/third-way
Chartist. (1998). Tony Blair: The third way. Chartist. Retrieved September 26, 2025, from https://www.chartist.org.uk
CNBC Indonesia. (2022, October 15). Ini bom waktu krisis warisan eks PM Truss untuk Inggris. CNBC Indonesia. Retrieved September 26, 2025, from https://www.cnbcindonesia.com
Dissent Magazine. (2001). The road (not?) taken: Anthony Giddens, the third way, and the future of social democracy. Dissent. Retrieved September 26, 2025, from https://www.dissentmagazine.org
Ditchley Foundation. (n.d.). “Third way” concepts in contemporary politics. Ditchley. Retrieved September 26, 2025, from https://www.ditchley.com
Fiveable. (n.d.). Third way (US history – 1945 to present): Vocab, definition. Fiveable Library. Retrieved September 26, 2025, from https://library.fiveable.me
Fraser Institute. (n.d.). The “third way”: Marketing mirage or Trojan horse? Fraser Institute. Retrieved September 26, 2025, from https://www.fraserinstitute.org
Friedrich Ebert Stiftung. (n.d.). The term third way in its most recent use was. FES Library. Retrieved September 26, 2025, from https://library.fes.de
Giddens, A. (1998). The third way: The renewal of social democracy. Cambridge, UK: Polity Press.
Giddens, A. (1999). Jalan ketiga: Pembaruan demokrasi sosial (Terj.). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Jacobin. (2017). The third way international. Jacobin. Retrieved September 26, 2025, from https://jacobin.com
Jacobin. (2020, February 27). Why the center left struggles to escape its neoliberal past. Jacobin. Retrieved September 26, 2025, from https://jacobin.com
Mtusociology. (n.d.). Neo-liberalism, state power and global governance. Github.io. Retrieved September 26, 2025, from https://mtusociology.github.io
New Socialist. (2005). Was there a third way in New Labour’s social exclusion policy? New Socialist. Retrieved September 26, 2025, from https://newsocialist.org.uk
Polity Books. (n.d.). The third way and its critics. Polity. Retrieved September 26, 2025, from https://www.politybooks.com
Polity Books. (n.d.). The third way: The renewal of social democracy. Polity. Retrieved September 26, 2025, from https://www.politybooks.com
Scribd. (n.d.). Kelompok 8 - Hubungan 3 pilar kekuasaan. Scribd. Retrieved September 26, 2025, from https://id.scribd.com
Study.com. (n.d.). Third way politics | History, usage & criticism. Study.com. Retrieved September 26, 2025, from https://study.com
The Guardian. (2003, February 27). A brief history of the third way. The Guardian. Retrieved September 26, 2025, from https://www.theguardian.com
The Labour Party. (n.d.). Kickstart economic growth. Labour.org.uk. Retrieved September 26, 2025, from https://labour.org.uk
Tutor2u. (n.d.). Anthony Giddens (1938− ) | Reference library | Politics. Tutor2u. Retrieved September 26, 2025, from https://www.tutor2u.net
Universitas Gadjah Mada. (n.d.). Dialektika pasar, negara, dan masyarakat madani. UGM Repository. Retrieved September 26, 2025, from https://etd.repository.ugm.ac.id
Wikipedia contributors. (n.d.). New Labour. In Wikipedia. Retrieved September 26, 2025, from https://en.wikipedia.org/wiki/New_Labour
Wikipedia contributors. (n.d.). Third way. In Wikipedia. Retrieved September 26, 2025, from https://en.wikipedia.org/wiki/Third_Way
YouTube. (2013, March 5). Done in 60 seconds: Anthony Giddens [Video]. YouTube. https://www.youtube.com



Post a Comment