Modernity at Large (1996) Arjun Appadurai: Analisis Teoretis Globalisasi dan Dimensi Kulturalnya

Table of Contents

Buku Modernity at Large (1996) Arjun Appadurai

I. Pendahuluan: Intervensi Appadurai dalam Antropologi Global

A. Konteks Intelektual dan Posisi Arjun Appadurai

Arjun Appadurai, seorang antropolog sosiokultural yang lahir di India dan berpendidikan di Amerika Serikat, menawarkan salah satu kerangka kerja paling berpengaruh untuk memahami kompleksitas globalisasi pada akhir abad ke-20. Ia membawa perspektif yang unik, memadukan etnografi Asia Selatan dengan teori budaya dan pemikiran sistem global. Latar belakang akademisnya, yang mencakup studi di bawah tokoh-tokoh terkemuka seperti Clifford Geertz dan Marshall Sahlins di University of Chicago, awalnya berfokus pada ritual dan simbolisme. Namun, Appadurai kemudian mengalihkan perhatiannya pada pertanyaan yang lebih luas mengenai modernitas, migrasi, dan produksi budaya global, secara efektif membawa studi global dan budaya ke dalam kajian antropologi.

B. Struktur Buku dan Kondisi Modernitas

Buku Modernity at Large (1996) adalah kumpulan esai yang menghubungkan tema modernitas dan globalisasi dengan praktik sosial sehari-hari serta konstruksi dan ekspresi identitas kelompok dan individu kontemporer. Appadurai berusaha melampaui narasi imperialisme budaya yang sederhana yang cenderung melihat globalisasi sebagai proses homogenisasi (menuju model pusat-pinggiran).

Appadurai mendefinisikan modernitas berdasarkan empat kondisi utama: (1) sains sebagai ideologi dominan, (2) obsesi terhadap perkembangan teknologi, (3) relasi sosial kolonial, dan (4) keutamaan komunitas nasional. Ia merajut kondisi-kondisi modernitas ini dengan isu-isu globalisasi yang ia definisikan melalui fenomena kunci, yaitu telekomunikasi instan (telepon, faks, dan internet), peningkatan migrasi transnasional, cakupan dan dampak media massa yang meluas, dan lonjakan pariwisata global.

C. Thesis Utama: Modernitas At Large dan Disjuncture

Tesis sentral Appadurai adalah bahwa globalisasi bukanlah proses homogenisasi yang mulus; sebaliknya, globalisasi adalah tatanan yang dinamis, tidak merata, dan seringkali dicirikan oleh disjuncture (ketidakselarasan). Budaya, dalam pandangannya, diproduksi dan dikonfigurasi ulang secara konstan seiring orang dan ide bergerak melintasi batas-batas.

Penting untuk dipahami bahwa Appadurai tidak melihat modernitas dan globalisasi sebagai fenomena yang terpisah. Globalisasi, yang didorong oleh kecepatan telekomunikasi dan migrasi, merupakan perpanjangan atau krisis dari modernitas, di mana elemen-elemen yang sebelumnya terikat secara geografis, seperti teknologi dan konsep nasionalisme, dilepaskan dari kendali spasial tertentu. Pelepasan ini membuat modernitas menjadi at large (meluas dan tak terkendali), menciptakan realitas budaya yang secara bersamaan bersifat homogen dan heterogen. Dengan kata lain, elemen inti modernitas (seperti rasionalitas teknologis atau ideologi kebangsaan) dieksploitasi dan dipersulit oleh aliran global, menantang pandangan bahwa modernitas secara inheren hanya bersifat Barat.

II. Kerangka Analitik Inti: Teori Lima Scapes (Lanskap Global)

Untuk menganalisis tatanan global yang kompleks ini, Appadurai memperkenalkan neologisme dengan sufiks ‘-scape’ (lanskap). Kerangka scapes ini dirancang untuk menantang model spasial statis dan menawarkan cara untuk memeriksa ekonomi budaya global baru sebagai tatanan yang kompleks dan mengalir.

A. Definisi Konseptual Scapes

Appadurai berpendapat bahwa dunia tidak dapat lagi dilihat dalam biner sederhana (misalnya, Global Utara vs. Global Selatan). Sebaliknya, dunia harus dipahami sebagai interaksi dan tumpang tindih budaya yang konstan melalui lima dimensi aliran yang saling memengaruhi. Setiap 'scape' menyiratkan bahwa aliran tersebut harus dipahami sebagai lanskap yang tidak terstruktur, perspektif yang berubah-ubah, dan subjektif—mirip dengan cara individu melihat suatu pemandangan. Hal ini menekankan bagaimana budaya terus-menerus diproduksi ulang melalui mobilitas. Scapes adalah seperangkat aliran terpisah yang berinteraksi melintasi dunia yang terglobalisasi.

B. Penjelasan Detail dan Ilustrasi Setiap Scape

Lanskap-lanskap ini memberikan materi mentah yang dengannya individu dan kelompok menyusun narasi kehidupan dan identitas mereka, meskipun cara mereka mengalaminya bersifat parsial, terdistorsi, dan tidak lengkap.

Tabel 1: Lima Scapes Appadurai: Dimensi Utama Aliran Budaya Global

Modernity at Large (1996) Arjun Appadurai
Setiap lanskap memiliki karakteristiknya sendiri:
1. Ethnoscape: Menggambarkan lanskap pergeseran populasi di seluruh perbatasan dan budaya, seperti imigran, pengungsi, eksil, dan turis. Aliran orang ini menyebabkan destabilisasi komunitas dan memaksa rekonfigurasi identitas. Misalnya, Australia, sebagai negara multietnis, menunjukkan bagaimana imigran dan keturunan mereka menyumbang persentase besar populasi dan memberikan kontribusi ekonomi yang signifikan melalui industri pendidikan internasional.
2. Technoscape: Merujuk pada transmisi budaya melalui aliran teknologi dan kemampuan untuk mempercepat pergerakan lintas batas. Internet dan jaringan informasi yang terintegrasi secara global telah menjadi alat yang kuat dalam membentuk transmisi budaya dan komunikasi.
3. Financescape: Mengacu pada pergerakan modal secara global dan cepat, termasuk mata uang, saham, dan komoditas. Contohnya adalah perdagangan modal di bursa saham global yang terjadi dalam hitungan detik. Volatilitas finansial ini menciptakan persaingan intens dan tuntutan bisnis yang tidak stabil.
4. Mediascape: Meliputi kapasitas elektronik untuk produksi dan penyebaran informasi melalui media, termasuk film, berita, dan iklan. Mediascapes sangat penting karena menyediakan sumber daya imajinasi yang mendemokratisasi, menjangkau individu buta huruf sekalipun di seluruh dunia.
5. Ideoscape: Melibatkan aliran ideologi politik dan kontra-ideologi, seperti demokrasi, hak asasi manusia, atau kesejahteraan. Ideoscapes sering beroperasi erat dengan Mediascapes untuk menyebarluaskan ideologi; misalnya, seorang tokoh pop global menggunakan media untuk mempromosikan perdamaian dan kesetaraan.

III. Dinamika Global: Disjuncture, Non-Isomorphism, dan Deterritorialization

Ciri khas ekonomi budaya global kontemporer, menurut Appadurai, adalah bahwa scapes ini tidak bergerak secara terpadu atau harmonis.

A. Non-Isomorphism dan Disjuncture

Appadurai memperkenalkan konsep non-isomorphism untuk menjelaskan bahwa aliran orang (Ethnoscape), mesin (Technoscape), uang (Financescape), citra (Mediascape), dan ide (Ideoscape) mengikuti jalur yang semakin tidak isomorfik—yaitu, tidak setara, tidak konsisten, dan tidak saling mencerminkan. Meskipun disjuncture dalam aliran selalu ada, kecepatan, skala, dan volume aliran kontemporer sangat besar sehingga ketidaksesuaian ini telah menjadi sentral bagi politik budaya global.

Disjuncture adalah hasil dari non-isomorphism; ini berarti scapes berada dalam konflik, kurang harmonis, atau tidak selaras. Misalnya, laju modal (Financescape) jauh melampaui laju migrasi orang (Ethnoscape) atau asimilasi ideologi (Ideoscape). Appadurai memberikan contoh konflik internal, di mana Finanscape dari perusahaan multinasional merongrong Ideoscape lokal, menciptakan ketidakseimbangan kekuasaan, atau Ethnoscape Kashmir berada dalam ketidakselarasan dengan Ideoscape India. Hubungan yang tidak selaras ini adalah yang menciptakan budaya kontemporer.

Tabel 2: Konsep Kunci Dinamika Global Appadurai: Disjuncture dan Deterritorialization

Modernity at Large (1996) Arjun Appadurai

B. Deterritorialization dan Ketegangan Homogenisasi/Heterogenisasi

Deterritorialization adalah salah satu kekuatan sentral dunia modern. Ini adalah proses di mana budaya, uang, dan populasi dilepaskan dari basis geografis yang tetap. Proses ini membawa populasi pekerja (Ethnoscape) ke sektor kelas bawah di masyarakat kaya, sambil secara bersamaan menciptakan kritik atau keterikatan yang berlebihan pada politik di negara asal.

Masalah sentral interaksi global hari ini adalah ketegangan antara homogenisasi budaya (budaya global menjadi seragam, sering dikaitkan dengan Westernisasi) dan heterogenisasi budaya (fragmentasi dan keragaman yang dihasilkan dari disjuncture). Deterritorialization memicu heterogenisasi karena ia menciptakan ketidakpastian dan anomali di tingkat lokal. Ketika identitas budaya terlepas dari wilayah, orang mencari pegangan kolektif yang lebih pasti.

Secara signifikan, deterritorialization populasi, seperti Hindu, Sikh, Palestina, atau Ukraina, kini menjadi inti dari berbagai fundamentalisme global. Dalam kasus Hindu, pergerakan orang India di luar negeri dieksploitasi untuk menciptakan jaringan keuangan dan identifikasi religius yang rumit. Hal ini menunjukkan bahwa deterritorialization tidak menghilangkan politik identitas, tetapi mengintensifkannya di kancah transnasional. Reaksi balasan ini, yang sering berupa fundamentalisme militan, adalah respons modern dan transnasional terhadap ketidakselarasan antara janji ideologis (Ideoscape) dan realitas ekonomi (Financescape). Lebih lanjut, politik deteritorialisasi mengarah pada perjuangan antara negara dan bangsa, di mana hipen yang menghubungkan "negara-bangsa" kini menjadi indeks disjuncture, bukan konjungsi.

IV. Budaya dan Geografi Baru: Imajinasi dan Lokalitas

Dalam dunia yang disjungtif ini, Appadurai mengidentifikasi Imajinasi dan Lokalitas sebagai lokus sentral bagi agensi dan pembentukan identitas.

A. Imajinasi sebagai Praktik Sosial dan Locus Agensi

Appadurai berpendapat bahwa akses yang hampir universal terhadap citra media massa (Mediascape) telah mendemokratisasi dan memperluas imajinasi orang biasa, menjadikannya aktivitas sehari-hari, bukan lagi terbatas pada elit artistik. Media menyediakan sumber daya untuk penciptaan identitas baru dan memungkinkan orang memimpikan impian yang sebelumnya tidak tersedia.

Imajinasi, dalam pandangan Appadurai, diangkat statusnya dari sekadar fantasi atau pelarian menjadi praktik sosial yang sentral bagi semua bentuk agensi, dan merupakan komponen kunci dari tatanan global baru. Imajinasi menciptakan destabilisasi yang produktif dan positif karena ia mendorong aspirasi, migrasi, dan pembentukan komunitas transnasional baru.

Perumusan ini menantang model yang dominan dalam studi budaya sebelumnya, khususnya konsep habitus oleh Pierre Bourdieu. Sementara habitus merujuk pada struktur yang menstrukturkan dan memastikan reproduksi budaya melalui proses yang tidak disadari, Appadurai menyimpulkan bahwa globalisasi dan deteritorialisasi telah melarutkan budaya yang terikat secara spasial. Oleh karena itu, habitus ditolak sebagai model yang relevan. Kehidupan global dianggap sebagai arena untuk pilihan sadar, pembenaran, dan representasi kepada audiens yang beragam. Imajinasi, sebagai mesin agensi yang didorong oleh Mediascape, memungkinkan individu untuk melepaskan diri dari determinasi historis.

B. Konsep The Production of Locality (Produksi Lokalitas)

Dalam konteks deteritorialisasi, lokalitas tidak lagi dapat didefinisikan secara sederhana sebagai ruang fisik. Appadurai mendefinisikan Lokalitas sebagai "struktur perasaan" yang diciptakan oleh peristiwa historis (seperti kolonialisme/imperialisme) dan dipertahankan melalui pengetahuan lokal atau ide/keyakinan bersama dari subjek lokal. Lokalitas bersifat kontekstual.

Namun, di era transnasional dan diasporik, tugas memproduksi lokalitas kini semakin menjadi perjuangan. Produksi lingkungan atau lokalitas secara inheren melibatkan penegasan kekuasaan sosial yang terorganisir di atas tempat-tempat yang dipandang berpotensi kacau. Negara-bangsa modern meningkatkan upaya untuk mendefinisikan semua lingkungan di bawah bentuk kesetiaan dan afiliasi tertentu. Hal ini menimbulkan disjuncture yang signifikan antara wilayah geografis, subjektivitas, dan gerakan sosial kolektif.

V. Signifikansi Teoritis dan Evaluasi Kritis

Modernity at Large adalah intervensi penting yang secara definitif memaksa antropologi, sosiologi, dan studi budaya untuk mengadopsi model yang lebih cair dan non-linear untuk menganalisis globalisasi.

A. Kontribusi Utama Appadurai

Kontribusi utama Appadurai terletak pada pengenalan kerangka scapes, yang menyediakan bahasa dan metodologi baru yang orisinal untuk menyelidiki makna globalisasi yang sesungguhnya, jauh melampaui analisis pusat-pinggiran yang usang. Ia meletakkan dasar bagi studi kontemporer tentang media global, migrasi, dan imajinasi dalam pertanyaan antropologis. Dengan menekankan disjuncture, Appadurai memberikan otonomi yang lebih besar pada domain budaya (Media, Ideologi, Imajinasi) dari determinisme ekonomi (Financescape) yang mendominasi teori globalisasi yang lebih tua, memungkinkan narasi yang lebih bernuansa.

B. Kritik Akademis Terhadap Appadurai

Meskipun diakui sebagai karya seminal, kerangka Appadurai menghadapi beberapa kritik akademis yang signifikan:
1. Kritik terhadap Locus Agensi (Imajinasi): Kritik utama yang diajukan oleh Imre Szeman dan lainnya mempertanyakan apakah agensi yang bermakna dapat ditemukan dalam imajinasi, mengingat imajinasi telah hampir sepenuhnya terjajah oleh kapitalisme komoditas dan citra fantasi Hollywood. Kritikus kesulitan memahami bagaimana menggabungkan citra media global dapat menghasilkan "agensi" yang produktif. Appadurai dianggap kurang menjelaskan di mana batas antara 'fantasi' (pelarian) dan aspek imajinasi yang 'produktif' terjadi, sehingga individu mungkin lebih menjadi pemimpi dari fantasi kolektif kapitalisme akhir daripada agen yang sesungguhnya.
2. Kritik Metodologis (Bahasa Aliran dan Kekuatan Kapital): Meskipun kerangka scapes kreatif, kritikus skeptis terhadap utilitas praktis dari wacana flows dan teori kekacauan yang dipinjam Appadurai, mempertanyakan apakah bahasa ini terlalu longgar dan tidak tepat untuk menganalisis fenomena sosial dan politik. Selain itu, terdapat kekhawatiran bahwa dengan berfokus pada aliran budaya yang disjungtif, Appadurai mungkin meremehkan kekuatan relatif dari kapital yang terorganisir. Beberapa analisis menunjukkan bahwa Financescape dan Technoscape mungkin masih mempertahankan kekuatan struktural yang lebih besar, secara sistematis membatasi kemampuan Ideoscape dan Ethnoscape untuk bertindak secara mandiri, sehingga mereduksi otonomi budaya yang diusulkan Appadurai.
3. Peniadaan Habitus: Kritik lain menyatakan bahwa dengan mengklaim globalisasi telah melarutkan habitus Bourdieu, Appadurai mungkin gagal menjelaskan bagaimana struktur mendalam masih membentuk tindakan sosial dan reproduksi budaya, meskipun dalam konteks transnasional.

Baca Juga: Analisis Mendalam Buku Distinction: A Social Critique of the Judgement of Taste Karya Pierre Bourdieu

VI. Kesimpulan: Sintesis dan Relevansi Abadi

Modernity at Large adalah upaya orisinal dan penting untuk memahami globalisasi sebagai arena yang kompleks dan disjungtif di mana modernitas menjadi tak terkendali. Appadurai berhasil menciptakan bahasa baru, kerangka lima scapes yang tidak isomorfik, untuk mendeskripsikan ekonomi budaya global yang baru.

Inti dari argumen ini adalah bahwa deterritorialization yang didorong oleh migrasi dan telekomunikasi memaksa lokalitas untuk didefinisikan ulang sebagai "struktur perasaan" yang diideologikan dan menempatkan imajinasi sebagai praktik sosial sentral yang digunakan subjek global untuk membangun agensi dan identitas baru. Ketidakselarasan antara scapes inilah yang menjadi sumber ketegangan antara homogenisasi dan heterogenisasi, sekaligus memicu fundamentalisme global sebagai reaksi yang diperkuat terhadap ketidakpastian budaya.

Meskipun kritik mengenai optimisme Appadurai tentang otonomi imajinasi dan penekanan yang mungkin kurang pada determinisme ekonomi tetap relevan, kerangka scapes tetap menjadi model yang tak tergantikan. Karya ini meletakkan dasar bagi studi kontemporer tentang politik identitas di era digital, di mana Mediascape dan Technoscape telah bergabung secara fundamental (misalnya dalam bentuk platform media sosial dan digital ethnoscape), mempercepat laju disjuncture dan kompleksitas budaya global.

Karya yang dikutip:

Amherst College. (n.d.). Appadurai, disjuncture and difference [PDF]. Amherst.edu. Diakses 27 September 2025, dari https://www.amherst.edu/system/files/media/0440/Appadurai%2C%20Disjuncture%20and%20Difference.pdf

Anthroholic. (n.d.). Arjun Appadurai (Anthropologist). Anthroholic. Diakses 27 September 2025, dari https://anthroholic.com/arjun-appadurai

Appadurai, A. (2005). Modernity at large: Cultural dimensions of globalization (7th printing). Minneapolis, MN: University of Minnesota Press.

Appadurai, A. (n.d.). Disjuncture and difference in the global cultural economy [PDF]. Michigan Technological University. Diakses 27 September 2025, dari https://pages.mtu.edu/~jdslack/readings/CSReadings/Appadurai_Arjun_Disjuncture_and_Difference_in_the_Global_Cultural_Economy.pdf

Appadurai, A. (n.d.). Modernity at large. MTU Sociology. Diakses 27 September 2025, dari https://mtusociology.github.io/assets/files/%5BArjun_Appadurai%5D_Modernity_at_Large_Cultural_Dim(Bookos.org).pdf

Appadurai, A. (n.d.). The globalization of archaeology and heritage: A discussion with Arjun. ResearchGate. Diakses 27 September 2025, dari https://www.researchgate.net/publication/242750505_Appadurai_The_globalization_of_archaeology_and_heritage_A_Discussion_with_Arjun

BGSP. (2014, Desember). Appadurai—Disjunction and difference in global [PDF]. Boston Graduate School of Psychoanalysis. Diakses 27 September 2025, dari https://bgsp.edu/app/uploads/2014/12/Appadurai-Disjunction-and-Difference-in-Global.pdf

Double Operative. (2009, Desember). Appadurai, Arjun: The production of locality [PDF]. Doubleoperative.com. Diakses 27 September 2025, dari https://doubleoperative.com/wp-content/uploads/2009/12/appadurai-arjun_the-production-of-locality.pdf

Evrard, A. (2018). An analysis of Arjun Appadurai’s modernity at large: Cultural dimensions of globalisation. Routledge. Diakses 27 September 2025, dari https://www.routledge.com/An-Analysis-of-Arjun-Appadurais-Modernity-at-Large-Cultural-Dimensions-of-Globalisation/Evrard/p/book/9781912127313

Fountain Magazine. (2000). Modernity at large: Cultural dimensions of globalization. The Fountain Magazine, 32. Diakses 27 September 2025, dari https://fountainmagazine.com/all-issues/2000/issue-32-october-december-2000/modernity-at-largecultural-dimensions-of-globalization

Helpful Professor. (2025). Appadurai’s 5 scapes of globalization explained. Helpfulprofessor.com. Diakses 27 September 2025, dari https://helpfulprofessor.com/appadurai-scapes/

Nguyen, R. (2017, 9 Agustus). The 5 ‘scapes’ of global cultural flow. Ray Nguyen Wordpress. Diakses 27 September 2025, dari https://ray2401.wordpress.com/2017/08/09/the-5-scapes-of-global-cultural-flow/

Project MUSE. (n.d.). Modernity at large: Cultural dimensions of globalization (review). Project MUSE. Diakses 27 September 2025, dari https://muse.jhu.edu/article/18335/summary

Scholars Compass. (1996). [Review of the book Modernity at large: Cultural dimensions of globalization, by A. Appadurai]. Explorations in Ethnic Studies Review, 19(2). Diakses 27 September 2025, dari https://scholarscompass.vcu.edu/esr/vol19/iss2/11/

Szeman, I. (1998). Review of Appadurai. Cultural Logic, 1(1). UBC Library. Diakses 27 September 2025, dari https://ojs.library.ubc.ca/index.php/clogic/article/download/192751/189279/222640

Taylor & Francis. (n.d.). The production of locality. Dalam Sociology of globalization (pp. 10–25). Taylor & Francis eBooks. Diakses 27 September 2025, dari https://www.taylorfrancis.com/chapters/edit/10.4324/9780429493089-10/production-locality-arjun-appadurai

Vallath, K. (2019, 11 November). Appadurai’s disjuncture and scapes explained. Theoryclasses.blogspot.com. Diakses 27 September 2025, dari https://theoryclasses.blogspot.com/2019/11/appadurais-disjuncture-and-scapes.html

Wikipedia. (2025). Deterritorialization. Dalam Wikipedia. Diakses 27 September 2025, dari https://en.wikipedia.org/wiki/Deterritorialization

World Anthropology. (2005). The anthropology of global flows: A critical reading of Appadurai’s “Disjuncture and difference in the global cultural economy”. ResearchGate. Diakses 27 September 2025, dari https://www.researchgate.net/publication/249672231_The_anthropology_of_global_flows_A_critical_reading_of_Appadurai's_Disjuncture_and_Difference_in_the_Global_Cultural_Economy

Aletheia Rabbani
Aletheia Rabbani “Barang siapa yang tidak mampu menahan lelahnya belajar, maka ia harus mampu menahan perihnya kebodohan” _ Imam As-Syafi’i

Post a Comment