Delinquency and Opportunity: Analisis Lengkap Teori Geng Remaja Karya Cloward & Ohlin
1. Pendahuluan: Richard Cloward, Lloyd Ohlin, dan Konteks Sosiologisnya
Richard Cloward dan Lloyd Ohlin adalah dua kriminolog akademis terkemuka yang karyanya pada tahun 1960-an memberikan kontribusi monumental bagi studi kejahatan dan kenakalan remaja. Mereka menerbitkan buku yang menjadi landasan teori, "Delinquency and Opportunity: A Theory of Delinquent Gangs," pada tahun 1960, di tengah meningkatnya kekhawatiran publik terhadap kenakalan remaja pasca-Perang Dunia II. Karya ini bukan sekadar sebuah publikasi, melainkan sebuah respons ilmiah yang cermat terhadap fenomena sosial yang mendesak pada masanya. Kontribusi mereka sangat penting karena berhasil mensintesis dua aliran pemikiran sosiologis yang dominan—teori ketegangan (strain theory) dan teori subkultur—menjadi kerangka kerja yang lebih komprehensif dan prediktif.
Baca Juga: Analisis Teori Sosial dan Struktur Sosial Robert K. Merton: Kajian Komprehensif Pemikiran Sosiologi
Buku ini menempatkan Cloward dan Ohlin sebagai pemikir kunci yang berupaya menjelaskan mengapa kaum muda dari kelas sosial tertentu cenderung melakukan kenakalan dan bagaimana perilaku tersebut termanifestasi dalam berbagai bentuk. Berfokus pada bagaimana akses terhadap kesempatan membentuk pilihan hidup dan memengaruhi kecenderungan kaum muda untuk terlibat dalam kejahatan, karya mereka menggeser perspektif dari fokus sempit pada kegagalan individu menjadi analisis yang lebih luas tentang struktur sosial yang menciptakan kondisi bagi kenakalan. Mereka tidak hanya bertanya mengapa sebagian orang melakukan kejahatan dan yang lain tidak, tetapi juga mengapa berbagai jenis kejahatan muncul di lingkungan yang berbeda. Buku ini tidak hanya berfungsi sebagai teori akademis tetapi juga menjadi cetak biru untuk program reformasi sosial yang signifikan di Amerika Serikat.
2. Landasan Teoretis: Inovasi dari Teori Strain Robert Merton
Mengapa Teori Strain Merton Belum Cukup
Teori Cloward dan Ohlin dibangun di atas fondasi yang diletakkan oleh sosiolog terkemuka Robert K. Merton. Merton berpendapat bahwa kejahatan dan penyimpangan adalah hasil dari ketegangan (strain) yang dirasakan oleh individu ketika mereka tidak dapat mencapai tujuan budaya yang disepakati secara universal (misalnya, kekayaan, status sosial) melalui sarana yang sah. Teori anomi Merton ini menjelaskan bahwa dalam masyarakat Amerika yang menjunjung tinggi aspirasi universal terhadap kesuksesan finansial, orang-orang dari kelas sosial bawah mengalami tekanan ekstrem karena mereka tidak memiliki kesempatan yang sama—seperti akses ke pendidikan yang berkualitas atau pekerjaan yang layak—untuk mewujudkan aspirasi tersebut. Akibatnya, mereka mungkin beradaptasi dengan cara yang menyimpang, seperti inovasi, yang melibatkan penggunaan cara-cara ilegal untuk mencapai tujuan yang sah.
Meskipun Merton memberikan kerangka kerja yang kuat untuk memahami motivasi di balik penyimpangan, teorinya memiliki satu kelemahan signifikan. Teori Merton tidak mampu menjelaskan mengapa individu yang mengalami ketegangan serupa dapat memilih jalur penyimpangan yang berbeda. Teori ini tidak menjelaskan mengapa satu individu memilih untuk menjadi pencuri profesional, sementara yang lain menjadi petarung geng, dan yang lainnya lagi melarikan diri ke dalam penggunaan narkoba. Cloward dan Ohlin mengenali celah ini dan mengajukan bahwa kurangnya kesempatan sah hanyalah sebagian dari persamaan. Mereka berpendapat bahwa respons individu terhadap ketegangan tidak hanya bergantung pada tidak adanya kesempatan legal, tetapi juga pada ketersediaan dan sifat dari kesempatan ilegal yang ada di lingkungan mereka.
Konsep Kunci: Struktur Kesempatan Diferensial (Differential Opportunity Structure)
Untuk mengatasi keterbatasan teori Merton, Cloward dan Ohlin memperkenalkan gagasan sentral mereka: Teori Struktur Kesempatan Diferensial (Differential Opportunity Theory). Teori ini berpendapat bahwa akses orang terhadap sarana yang sah (legitimate) dan tidak sah (illegitimate) untuk mencapai tujuan mereka secara sosial terstruktur. Dengan kata lain, lingkungan sosial dan komunitas tempat seorang individu tinggal menentukan jenis kesempatan yang tersedia, baik itu untuk mencapai kesuksesan melalui cara yang legal maupun ilegal.
Sebuah lingkungan yang kekurangan pekerjaan yang layak, sekolah yang memadai, dan jalur karir yang terstruktur secara legal dapat menawarkan "jaringan kejahatan atau geng yang memberikan cara-cara ilegal untuk mendapatkan sesuatu". Teori ini menunjukkan bahwa seorang individu tidak dapat begitu saja memutuskan untuk menjadi pencuri atau pengedar narkoba; mereka harus memiliki akses ke struktur pembelajaran (learning structures) yang mengajarkan nilai-nilai dan keterampilan yang diperlukan, serta struktur kinerja (performance structures) yang memberikan penghargaan atas perilaku menyimpang. Akses ke jaringan kriminal, model peran dewasa, dan pengetahuan yang relevan adalah prasyarat untuk memasuki "karir" kriminal yang sukses.
Integrasi Teori
Cloward dan Ohlin secara eksplisit mencoba menggabungkan konsep ketegangan (strain) dari Merton dengan teori asosiasi diferensial (differential association) dari Edwin Sutherland. Ketegangan, yang berasal dari kesenjangan antara aspirasi dan kesempatan sah, menjelaskan motivasi atau dorongan mengapa kenakalan terjadi. Namun, jenis kenakalan yang spesifik—apakah itu kejahatan properti yang terorganisir, kekerasan geng, atau penyalahgunaan narkoba—ditentukan oleh struktur kesempatan tidak sah yang tersedia di lingkungan sosial individu tersebut.
Baca Juga: Analisis Komprehensif Buku Principles of Criminology Karya Edwin H. Sutherland, Donald R. Cressey, dan David F. Luckenbill
Dengan demikian, teori mereka memberikan model sebab-akibat yang lebih terperinci. Ketidaksetaraan sosial dan ekonomi menyebabkan hilangnya kesempatan sah, yang memicu ketegangan. Ketegangan ini mendorong individu untuk mencari jalur alternatif untuk mencapai tujuan mereka. Namun, jalur yang mereka ambil (dan jenis kejahatan yang mereka lakukan) sepenuhnya bergantung pada ketersediaan kesempatan tidak sah yang terstruktur secara sosial di komunitas mereka. Ini merupakan pergeseran yang substansial dari teori Merton, yang lebih berfokus pada etiologi umum kenakalan, menuju model yang lebih prediktif yang menjelaskan jenis respons menyimpang yang akan dipilih oleh individu, suatu wawasan yang memperkaya pemahaman kriminologis.
Tabel di bawah ini merangkum perbandingan antara teori Cloward dan Ohlin dengan teori Merton, menyoroti kontribusi unik yang diperkenalkan oleh Cloward dan Ohlin.
3. Tesis Sentral: Delinquency and Opportunity
Inti dari tesis Cloward dan Ohlin adalah bahwa kaum muda dari kelas pekerja, yang "dikeluarkan" (boxed out) dari kesempatan sah untuk mencapai status dan kekayaan, merasakan ketegangan sosial yang hebat. Meskipun budaya Amerika mempromosikan gagasan bahwa kerja keras dan kemampuan akan membawa kesuksesan, Cloward dan Ohlin mencatat bahwa realitas struktural sering kali berbanding terbalik. Lingkungan mereka mungkin tidak menyediakan cukup lapangan kerja, sekolah tidak mempersiapkan siswa secara merata, dan kesempatan untuk mencapai status kelas menengah hampir tidak ada. Ketidakmampuan untuk memenuhi peran yang diharapkan, seperti memiliki pekerjaan yang jujur, menciptakan "ketegangan" yang mendorong mereka untuk mencari cara lain.
Ketegangan ini menumbuhkan "paksaan untuk mencapai kekayaan atau mendapatkan rasa hormat dengan cara-cara kriminal". Cloward dan Ohlin berpendapat bahwa kaum muda yang merasa tertekan ini cenderung beralih ke subkultur. Berbeda dengan teori-teori sebelumnya yang melihat subkultur sebagai respons yang seragam terhadap ketegangan, Cloward dan Ohlin mengidentifikasi tiga jenis subkultur yang muncul sebagai adaptasi yang berbeda terhadap ketidaktersediaan kesempatan. Setiap subkultur ini memiliki nilai, norma, dan harapan yang berbeda dari budaya arus utama dan menawarkan jalur alternatif untuk mencapai tujuan, apakah itu kekayaan, status, atau pelarian dari realitas.
4. Tiga Jenis Subkultur Kenakalan
Cloward dan Ohlin memperluas teori subkultural Albert Cohen dengan membedakan tiga jenis respons berbeda terhadap ketegangan, yang masing-masing ditentukan oleh struktur kesempatan tidak sah yang tersedia.
Subkultur Kriminal (Criminal Subculture)
Subkultur kriminal adalah bentuk kejahatan yang terorganisir dan berorientasi pada tujuan ekonomi, seperti pencurian dan perampokan. Subkultur ini berkembang di lingkungan yang stabil di mana sudah ada jaringan kejahatan dewasa yang mapan. Dalam lingkungan seperti itu, kaum muda memiliki model peran dan "guru" yang dapat mengajari mereka cara-cara kejahatan yang efektif. Kejahatan dilihat sebagai jalur karir yang rasional, di mana kaum muda dapat di-magangkan ke dalam jaringan kriminal dan "naik peringkat" saat mereka menjadi lebih terampil. Kejahatan ini bersifat utilitarian, bertujuan untuk menghasilkan keuntungan finansial, bukan kekerasan yang tidak berarti. Jaringan kriminal dewasa ini bahkan melakukan kontrol sosial terhadap kaum muda untuk mencegah mereka melakukan tindakan kenakalan yang tidak menguntungkan, seperti vandalisme, yang hanya akan menarik perhatian polisi yang tidak diinginkan.
Subkultur Konflik (Conflict Subculture)
Subkultur konflik muncul di lingkungan yang tidak terorganisir secara sosial, sering kali dicirikan oleh perputaran populasi yang tinggi dan kurangnya kohesi komunitas yang stabil. Karena tidak adanya jaringan kriminal dewasa yang mapan, kaum muda di lingkungan ini tidak memiliki panutan untuk mempelajari kejahatan yang terorganisir. Akibatnya, mereka tidak memiliki akses ke jalur kriminal yang menguntungkan secara finansial. Frustrasi atas kurangnya kesempatan legal dan ilegal ini diekspresikan melalui perilaku non-ekonomi yang berfokus pada kekerasan.
Kejahatan dalam subkultur konflik sering kali ditandai oleh perkelahian geng, perang antar-geng, dan perampokan yang bersifat kekerasan. Tujuannya bukanlah untuk mendapatkan keuntungan finansial, melainkan untuk memperoleh status dan rasa hormat di antara rekan-rekan mereka melalui reputasi "tangguh" dan "berani". Kekerasan adalah alat untuk mengklaim wilayah dan status dalam tatanan sosial yang tidak stabil.
Subkultur Retret (Retreatist Subculture)
Subkultur retret adalah bentuk adaptasi bagi kaum muda yang dianggap sebagai "kegagalan ganda" (double failures)—mereka yang tidak berhasil mendapatkan status atau kekayaan melalui jalur sah maupun jalur kriminal atau konflik. Mereka mungkin terlalu lemah, tidak termotivasi, atau tidak memiliki keterampilan untuk berhasil dalam kejahatan terorganisir atau perkelahian jalanan. Karena merasa ditolak oleh budaya arus utama dan subkultur menyimpang lainnya, mereka "melarikan diri" dari masyarakat.
Bentuk penyimpangan utama dalam subkultur ini adalah penarikan diri ke dalam penggunaan narkoba dan alkohol. Kejahatan yang dilakukan, seperti pencurian kecil-kecilan, mengutil, atau prostitusi, tidak bertujuan untuk mendapatkan kekayaan atau status, melainkan hanya untuk membiayai kebiasaan adiktif mereka. Penarikan diri ini menciptakan subkultur tersendiri di mana kaum muda ini dapat saling menerima dan menerima ketidakmampuan mereka untuk memiliki masa depan.
Tabel di bawah ini memberikan ringkasan yang jelas dan terstruktur dari karakteristik kunci ketiga subkultur yang diidentifikasi oleh Cloward dan Ohlin.
5. Dampak dan Implikasi Kebijakan Sosial
Teori Cloward dan Ohlin tidak hanya memberikan kontribusi teoritis, tetapi juga memiliki dampak praktis yang signifikan pada kebijakan sosial. Teori ini memberikan dasar intelektual bagi program-program sosial liberal yang diluncurkan di Amerika Serikat pada tahun 1960-an di bawah pemerintahan Presiden Kennedy dan Johnson.
Pengaruh terhadap "War on Poverty" dan "Great Society"
Filosofi utama dari teori ini—bahwa kejahatan adalah patologi sosial yang berakar pada kurangnya kesempatan struktural, bukan sekadar kegagalan moral individu—selaras dengan semangat reformasi sosial pada masa itu. Akibatnya, teori ini menjadi salah satu pendorong utama di balik program-program ambisius seperti War on Poverty dan Great Society, yang bertujuan untuk mengurangi kemiskinan dan ketidaksetaraan. Tujuannya adalah untuk mengatasi akar penyebab kejahatan dengan meningkatkan kesempatan sah bagi kaum muda, daripada hanya menghukum perilaku menyimpang. Pergeseran ini menunjukkan pemahaman yang lebih dalam, bahwa mengontrol kenakalan tidak hanya memerlukan penegakan hukum yang lebih ketat, tetapi juga investasi sosial yang besar.
Studi Kasus: Program Mobilization for Youth
Salah satu contoh paling konkret dari penerapan teori ini adalah program Mobilization for Youth (MFY). Program ini dirancang untuk memperluas kesempatan sah bagi kaum muda di New York City dengan menyediakan pelatihan kerja, pendidikan, dan layanan sosial lainnya. Program ini didasarkan pada keyakinan bahwa dengan meningkatkan akses ke jalur yang sah untuk mencapai kesuksesan, kaum muda akan memiliki motivasi yang lebih kecil untuk beralih ke jalur ilegal. Perluasan kesempatan ini dipandang sebagai cara yang paling efektif untuk mengurangi tingkat kenakalan.
Relevansi Teori dalam Pencegahan Kejahatan Modern
Meskipun kritik telah muncul seiring waktu, prinsip-prinsip utama dari teori kesempatan diferensial tetap relevan hingga saat ini. Teori ini menegaskan bahwa strategi pencegahan kejahatan yang paling efektif adalah yang berfokus pada perbaikan sosial-ekonomi. Ini berarti berinvestasi dalam program-program seperti peningkatan pendidikan, pelatihan kerja, dan dukungan komunitas untuk memperkuat ikatan sosial dan mengurangi pengaruh jaringan kriminal. Alih-alih hanya berfokus pada hukuman, kebijakan yang terinspirasi dari teori ini bertujuan untuk "memperbaiki penyebab akar, bukan hanya tanda masalahnya".
6. Kritik dan Keterbatasan Akademis
Meskipun pengaruhnya luas, teori Cloward dan Ohlin juga menghadapi berbagai kritik akademis. Salah satu kritik utama adalah penyederhanaan yang berlebihan dalam klasifikasi subkultur. Beberapa penilai berpendapat bahwa dalam realitasnya, batas-batas antara subkultur kriminal, konflik, dan retret sering kali kabur dan tumpang tindih. Seorang individu atau geng mungkin terlibat dalam kejahatan terorganisir untuk mendapatkan keuntungan finansial (kriminal) sambil juga terlibat dalam kekerasan untuk mempertahankan wilayah (konflik).
Kritik signifikan lainnya datang dari David Matza, yang berpendapat bahwa teori subkultural seperti yang diajukan oleh Cloward dan Ohlin mengasumsikan kenakalan adalah sebuah "karir dalam penyimpangan" yang memerlukan komitmen penuh terhadap subkultur tertentu. Matza, sebaliknya, mengajukan konsep "drift," di mana kaum muda hanya terlibat dalam kenakalan secara sporadis dan sesaat, "melayang-layang" di dalam dan di luar perilaku menyimpang tanpa ikatan yang kuat pada subkultur tertentu. Ini menunjukkan bahwa bagi banyak remaja, kenakalan mungkin merupakan fase sementara, bukan sebuah identitas permanen.
Selain itu, terdapat celah dalam bukti empiris yang mendukung semua klaim teori. Meskipun ada penelitian yang menunjukkan korelasi antara kemiskinan dan tingkat kejahatan yang lebih tinggi, tantangan dalam mengoperasionalkan konsep-konsep seperti "struktur kesempatan tidak sah" membuatnya sulit untuk diuji secara konkret. Akibatnya, aplikasi teori ini pada situasi nyata masih memerlukan banyak pekerjaan untuk menghubungkan konsep-konsep abstraknya dengan data yang dapat diamati. Kritik lain juga menyoroti fokus teori yang terbatas pada kaum muda kelas bawah dan gagal mempertimbangkan peran kekayaan; individu yang lebih kaya mungkin memiliki sumber daya dan kesempatan yang berbeda untuk terlibat dalam kejahatan kerah putih atau jenis kejahatan lainnya.
7. Kesimpulan: Warisan dan Relevansi Kontemporer
Meskipun menghadapi kritik, "Delinquency and Opportunity" tetap menjadi salah satu buku paling berpengaruh dalam kriminologi modern. Kontribusi utamanya adalah memperkenalkan konsep kritis tentang "struktur kesempatan diferensial," yang secara fundamental mengubah cara kita memahami hubungan antara stratifikasi sosial dan kenakalan. Cloward dan Ohlin memperluas pemahaman kita melampaui teori Merton, dengan menunjukkan bahwa pilihan menyimpang seorang individu tidak hanya ditentukan oleh kurangnya kesempatan sah, tetapi juga oleh ketersediaan dan sifat dari kesempatan ilegal di lingkungan mereka. Mereka juga memberikan kerangka kerja yang kuat dengan mengidentifikasi tiga jenis adaptasi subkultural yang berbeda—kriminal, konflik, dan retret—masing-masing terbentuk oleh kondisi sosial yang unik.
Warisan buku ini tidak terbatas pada dunia akademis. Teori ini memberikan dasar bagi pergeseran signifikan dalam kebijakan sosial di Amerika Serikat, menginspirasi program-program yang bertujuan untuk memperbaiki akar penyebab kejahatan dengan memperluas kesempatan bagi kaum muda. Fokus pada reformasi sosial daripada hanya hukuman tetap menjadi landasan bagi banyak strategi pencegahan kejahatan kontemporer. Meskipun klasifikasi subkultur mungkin terlalu menyederhanakan kompleksitas perilaku manusia dan ada tantangan dalam pembuktian empiris, tesis sentral bahwa lingkungan dan kesempatan adalah penentu penting dari perilaku menyimpang tetap menjadi landasan pemikiran yang tak terbantahkan. Dengan demikian, karya Cloward dan Ohlin terus membentuk cara kita berpikir tentang kejahatan, melihatnya sebagai masalah struktural yang kompleks yang membutuhkan solusi sosial, bukan hanya masalah moral individu.
Karya yang dikutip:
Cloward, R. A., & Ohlin, L. E. (1960). Delinquency and opportunity: A theory of delinquent gangs. Free Press. https://www.ojp.gov
Cloward, R. A., & Ohlin, L. E. (2013). Delinquency and opportunity: A theory of delinquent gangs (Reprint ed.). Abingdon, UK: Routledge. (Original work published 1960)
EBSCO. (n.d.). Subcultural theories of deviance | Research starters. https://www.ebsco.com
National Academic Digital Library of Ethiopia. (n.d.). Opportunity theory and delinquent subcultures. https://ndl.ethernet.edu.et
Office of Justice Programs. (n.d.-a). Cloward and Ohlin's theory of delinquent subcultures: Revisited. https://www.ojp.gov
Office of Justice Programs. (n.d.-b). Social policy and the future of criminal justice. https://www.ojp.gov
OoCities. (n.d.). Richard Cloward & Lloyd Ohlin. https://www.oocities.org
Open Oregon Pressbooks. (n.d.). Opportunity theories – Introduction to criminology. https://openoregon.pressbooks.pub
Oxford Academic. (n.d.). [Untitled article on subcultural theory]. https://academic.oup.com
Qualitative Criminology. (n.d.). Differential opportunity theory – About residential burglary. https://www.qualitativecriminology.com
Quizlet. (n.d.). Criticisms of Cloward and Ohlin's theory study guide. https://www.quizlet.com
ResearchGate. (n.d.). Sosiologi masalah sosial. https://www.researchgate.net
Simply Psychology. (n.d.). Subcultural theories of deviance. https://www.simplypsychology.org
Study.com. (n.d.). Cloward & Ohlin's theory of opportunity & deviant subcultures - Lesson. https://www.study.com
The Sociology Guy. (n.d.). Cloward and Ohlin. https://www.thesociologyguy.com
Tutor2u. (n.d.-a). Cloward and Ohlin: Illegitimate opportunity structures (1960) | Reference library. https://www.tutor2u.net
Tutor2u. (n.d.-b). Illegitimate opportunity structures | Topics | Sociology. https://www.tutor2u.net
.png)


Post a Comment