Analisis Mendalam Buku Risk Society: Towards a New Modernity Karya Ulrich Beck

Table of Contents

Buku Risk Society: Towards a New Modernity Karya Ulrich Beck
Abstrak 

Tulisan ini menyajikan analisis mendalam terhadap tesis sentral Ulrich Beck dalam bukunya yang revolusioner, Risk Society: Towards a New Modernity. Diterbitkan pada tahun 1986, buku ini mengemukakan argumen bahwa masyarakat modern telah mengalami pergeseran fundamental dari fase "masyarakat industri" yang berfokus pada produksi dan distribusi kekayaan, menuju "masyarakat risiko" yang dicirikan oleh produksi, distribusi, dan manajemen bahaya atau konsekuensi negatif. Analisis ini mengeksplorasi bagaimana pergeseran paradigma ini membentuk ulang tatanan sosial, mengikis otoritas sains, dan menuntut transformasi politik. 

Dengan menempatkan teori Beck dalam konteks historis—khususnya bencana Chernobyl—dan meninjau relevansinya dalam fenomena kontemporer seperti pandemi COVID-19, krisis iklim, dan krisis keuangan global, tulisan ini menegaskan kembali warisan intelektualnya. Tulisan ini juga menguraikan kontribusi signifikan Beck, termasuk konsep modernitas refleksif dan "efek bumerang," sambil secara kritis membandingkannya dengan pemikiran sosiolog lain seperti Anthony Giddens, Zygmunt Bauman, dan Niklas Luhmann. Terlepas dari kritik-kritik yang ada, temuan menunjukkan bahwa kerangka Beck tetap menjadi alat analisis yang sangat relevan untuk memahami tantangan dan ketidakpastian yang tak terhindarkan dalam dunia modern.

Baca Juga: Analisis Mendalam Buku Runaway World Karya Anthony Giddens: Globalisasi dan Dampaknya terhadap Kehidupan Kita

1. Pendahuluan: Modernitas, Risiko, dan Pergeseran Paradigma

Buku Ulrich Beck, Risikogesellschaft, yang diterbitkan di Jerman pada tahun 1986, dengan cepat menjadi karya seminal dalam ilmu sosial. Terjemahan bahasa Inggrisnya, Risk Society: Towards a New Modernity, yang dirilis pada tahun 1992, mengukuhkan posisinya sebagai teks inti sosiologi kontemporer yang relevan di berbagai disiplin ilmu. Waktu penerbitannya sangat penting; buku ini muncul tak lama setelah bencana nuklir Chernobyl pada April 1986, sebuah peristiwa yang oleh Beck sendiri disebut sebagai "contoh yang jelas dari modernitas baru". Tragedi ini secara dramatis menggambarkan bagaimana dampak sampingan dari kemajuan teknologi dan industri dapat berubah menjadi ancaman global yang tidak dapat dikompensasi, yang melintasi batas-batas ruang dan waktu.

Tesis sentral buku ini adalah bahwa masyarakat telah beralih dari fase modernitas sederhana atau "masyarakat industri" ke modernitas refleksif atau "masyarakat risiko". Di bawah logika masyarakat industri, prinsip poros utama adalah produksi dan distribusi barang (goods) atau kekayaan material. Namun, sebagai konsekuensi dari keberhasilannya sendiri, masyarakat modern kini menghadapi ancaman yang tak terduga. Beck berpendapat bahwa prinsip poros yang baru adalah produksi dan penghindaran bahaya (bads) atau risiko yang diciptakan oleh modernisasi itu sendiri. Dengan demikian, masyarakat kontemporer menjadi semakin disibukkan dengan "perdebatan, pencegahan, dan pengelolaan risiko yang diproduksinya sendiri". Buku ini bukan hanya analisis sosiologis; ia juga berfungsi sebagai "manifesto yang kuat" yang menawarkan cara berpikir dan berpolitik baru untuk realitas yang kompleks saat ini.

2. Inti Teori: Konsep-konsep Kunci Masyarakat Risiko

2.1. Perbandingan Masyarakat Industri dan Masyarakat Risiko

Ulrich Beck mengidentifikasi tiga tahap evolusi sosial: pra-modernitas, modernitas sederhana (masyarakat industri), dan modernitas refleksif (masyarakat risiko). Teori ini menolak gagasan postmodernisme yang relativistis dan sebaliknya berpendapat bahwa masyarakat modern sedang memodernisasi fondasinya sendiri secara refleksif.

Masyarakat industri dicirikan oleh logika distribusi kekayaan yang membentuk struktur kelas sosial yang kaku. Sebaliknya, masyarakat risiko dicirikan oleh logika distribusi bahaya yang bersifat individual, di mana ketakutan dan ketidakpastian menjadi masalah sentral dalam kehidupan sehari-hari. Beck berpendapat bahwa masyarakat risiko adalah "kondisi struktural yang tak terhindarkan dari industrialisasi maju" di mana "seluruh dunia adalah tempat pengujian". Pergeseran dari satu fase ke fase lainnya dapat diringkas dalam tabel analitis berikut, yang menyoroti transformasi dalam cara masyarakat mengorganisir dirinya sendiri dan menghadapi tantangan:

transformasi dalam cara masyarakat mengorganisir dirinya sendiri dan menghadapi tantangan

2.2. Modernitas Refleksif (Reflexive Modernity)

Modernitas refleksif adalah konsep kunci yang menjelaskan proses transisi ini. Beck mendefinisikannya sebagai "tahap kedua" di mana masyarakat, "melalui operasi otomatis dari proses modernisasi otonom," melakukan "konfrontasi diri" terhadap konsekuensi yang tidak disengaja dan tidak terduga dari kemajuannya sendiri.

Sebuah pemahaman yang lebih dalam membedakan antara "refleksi" (reflection) dan "refleks" (reflex). Refleksi menyiratkan tindakan sadar dan disengaja—seperti merenungkan suatu masalah. Sebaliknya, refleks menyiratkan respons otomatis atau tidak disengaja terhadap suatu kondisi. Beck berpendapat bahwa modernitas refleksif sebagian besar adalah proses yang "buta dan tuli terhadap konsekuensi dan bahaya". Risiko manufaktur tidak dihasilkan dari niat jahat, tetapi dari logika internal sistem yang beroperasi secara otomatis dan tanpa pengawasan penuh. Ini menjelaskan mengapa risiko begitu sulit diatur; mereka bukanlah hasil dari konspirasi, melainkan produk sampingan dari kemajuan yang dianggap rasional. Logika yang mendasarinya adalah bahwa tindakan yang tampaknya rasional dalam modernitas dapat menghasilkan konsekuensi yang sama sekali tidak disengaja, menciptakan lingkaran ketidakpastian yang terus-menerus.

2.3. Risiko Manufaktur (Manufactured Risks)

Beck dan Anthony Giddens membedakan dua jenis risiko yang menentukan masyarakat modern.

  • Risiko Eksternal/Alamiah: Ini adalah ancaman historis yang selalu dihadapi manusia, seperti gempa bumi, tsunami, atau bencana alam lainnya, yang umumnya dianggap berasal dari kekuatan non-manusia.
  • Risiko Manufaktur: Ini adalah risiko yang diciptakan oleh aktivitas manusia dan proses modernisasi itu sendiri, seperti polusi, penyakit baru akibat rekayasa biologis, atau kecelakaan teknologi.

Risiko manufaktur mengambil berbagai bentuk, termasuk:

  • Risiko fisik-ekologis: Kerusakan fisik pada manusia dan lingkungan yang dihasilkan dari intervensi buatan manusia, seperti penyakit kanker yang disebabkan oleh proses artifisial-kimiawi dalam produksi makanan.
  • Risiko sosial: Kehancuran sosial akibat faktor eksternal seperti kecelakaan lalu lintas atau bencana alam yang diperparah oleh manusia (misalnya, banjir dan tanah longsor), yang juga menciptakan "penyakit sosial" seperti ketidakpedulian dan fatalisme.
  • Risiko mental: Runtuhnya struktur psikis individu, yang mengarah pada penyimpangan dan kerusakan mental sebagai akibat dari tekanan eksternal maupun internal.

3. Dinamika Distribusi dan Ketidaksetaraan dalam Masyarakat Risiko

3.1. Logika Distribusi Risiko

Beck berargumen bahwa distribusi risiko adalah kebalikan dari distribusi kekayaan. Dalam masyarakat industri, kekayaan terakumulasi di puncak hierarki sosial, sementara risiko di masyarakat risiko cenderung terakumulasi di dasar, di mana kelompok yang paling rentan secara sosial, ekonomi, dan geografis menanggung beban terbesar. Namun, ini tidak berarti bahwa kelompok kaya benar-benar terisolasi dari bahaya.

3.2. Konsep "Efek Bumerang" (Boomerang Effect)

Sebagai respons terhadap anggapan bahwa risiko hanya memengaruhi kelompok yang kurang beruntung, Beck memperkenalkan konsep "efek bumerang." Ini adalah argumen bahwa risiko yang dihasilkan akan menyerang kembali para pencipta dan penikmat modernisasi, melintasi batas-batas kelas sosial dan negara. Contoh klasiknya adalah bagaimana individu kaya yang modalnya bertanggung jawab atas polusi industri pada akhirnya akan menderita ketika polutan mencemari pasokan air atau udara yang mereka hirup.

Meskipun konsep ini menyiratkan bahwa risiko bersifat "demokratis" dan dapat memengaruhi siapa pun, analisis yang lebih mendalam mengungkapkan ketegangan mendasar. Individu yang lebih makmur sering kali memiliki sumber daya untuk memitigasi risiko—mereka dapat membeli air kemasan, pindah ke daerah yang kurang tercemar, atau memiliki akses ke layanan kesehatan yang lebih baik. Oleh karena itu, meskipun risiko dapat menjangkau semua orang, dampaknya dan kemampuan untuk mengatasinya sangat tidak egaliter. Hal ini menunjukkan bahwa distribusi risiko tidak sepenuhnya egaliter dan bahwa meskipun "efek bumerang" ada, ia tidak menghilangkan ketidaksetaraan yang mendalam dalam kemampuan individu untuk menghadapi dan mengelola bahaya.

4. Peran Sains, Politik, dan "Ketidaktahuan" dalam Masyarakat Risiko

4.1. Hilangnya Monopoli Sains

Salah satu tesis utama Beck adalah bahwa sains, yang dulunya merupakan sumber kemajuan dan kebenaran yang tak terbantahkan, telah kehilangan kredibilitas dan otoritasnya dalam mendefinisikan risiko. Dalam masyarakat risiko, "tidak ada ahli tentang risiko," karena pengetahuan tentang bahaya bukan lagi kebenaran absolut, tetapi "campuran" dan "amalgam" yang diperdebatkan dan disampaikan oleh berbagai agen pengetahuan. 

Kritik Beck terhadap sains bukanlah sikap anti-sains, melainkan sebuah upaya untuk mendemokratisasi sains dengan menantang superioritas para ilmuwan yang gagal mengantisipasi dampak negatif dari modernisasi. Menurut Beck, para ahli dan institusi, dalam praktik "ketidakbertanggungjawaban yang terorganisir" mereka, justru menciptakan ketidakpastian yang seharusnya mereka kelola.

4.2. Konsep "Ketidaktahuan" (Non-knowledge)

Masyarakat risiko menghadapi fenomena baru: risiko manufaktur yang tidak dapat dilihat atau dirasakan secara langsung, yang hanya dapat diakses melalui "teori, eksperimen, dan instrumen ilmiah". Hal ini melahirkan apa yang disebut Beck sebagai "ketidaktahuan manufaktur". Sebuah pemeriksaan mendalam atas konsep ini menunjukkan hubungan kausal langsung dengan logika modernitas refleksif. Proses modernisasi yang terus-menerus menghasilkan pengetahuan baru secara paradoks juga menciptakan dampak sampingan yang tidak diketahui. 

Dengan kata lain, semakin banyak pengetahuan yang kita kumpulkan (misalnya, dalam rekayasa genetik), semakin banyak ketidaktahuan yang secara sistematis kita hasilkan tentang konsekuensi jangka panjangnya. Ketidaktahuan, dalam kerangka ini, bukanlah sekadar kurangnya informasi, tetapi merupakan produk yang aktif dan logis dari sistem yang ada. Masyarakat modern, oleh karena itu, harus belajar untuk hidup dengan "ketidaktahuan yang tidak dapat dihilangkan" ini.

4.3. Politik Risiko (Politics of Risk)

Di bawah kondisi masyarakat risiko, isu-isu politik beralih dari masalah distribusi kekayaan (misalnya, konflik buruh-modal) ke manajemen bahaya dan akuntabilitas. Beck berpendapat bahwa masyarakat menuntut "akuntabilitas demokratis" sebagai respons terhadap "ketidakbertanggungjawaban yang terorganisir" dari institusi yang menciptakan risiko. Beck melihat "ketakutan akan keruntuhan" sebagai peluang untuk kerja sama internasional dan "giliran kosmopolitan" dalam ilmu sosial, yang bergerak melampaui batas-batas negara-bangsa yang tradisional.

5. Aplikasi Teori Masyarakat Risiko pada Kasus-kasus Empiris

5.1. Bencana Chernobyl (1986): Sebuah Studi Kasus Paradigmatik

Bencana nuklir Chernobyl pada tahun 1986 berfungsi sebagai studi kasus ideal untuk teori Beck. Kecelakaan ini merupakan contoh sempurna dari risiko manufaktur yang tidak dapat dikompensasi, tidak terikat oleh batas ruang dan waktu, dan tidak dapat diperkirakan. Bencana ini mengungkapkan kegagalan "ketidakbertanggungjawaban yang terorganisir" di mana para ahli dan negara-negara gagal mengelola risiko yang mereka ciptakan.

Kecelakaan itu bukanlah bencana alam; itu adalah hasil dari desain reaktor yang cacat dan kesalahan operator. Konsekuensi jangka panjang dari bencana ini, seperti kontaminasi radioaktif yang meluas dan dampak kesehatan yang tidak dapat diprediksi, sangat sesuai dengan argumen Beck tentang risiko yang tidak dapat diasuransikan. Analisis mendalam menunjukkan bahwa orang-orang yang terkena dampak menghadapi ketidakpastian yang mendalam tentang kesehatan mereka, makanan mereka, dan masa depan mereka—sebuah kondisi yang menggarisbawahi bagaimana risiko dapat menciptakan "rasa cemas, ketidakstabilan, ketidakberdayaan, dan ketakutan yang menggeneralisasi tentang masa depan".

5.2. Kaitan dengan Krisis Lingkungan dan Iklim Global

Perubahan iklim adalah contoh paradigmatik dari risiko manufaktur. Beck berpendapat bahwa risiko ini adalah produk dari "kesuksesan" masyarakat modern—khususnya kapitalisme konsumen dan kemajuan teknologi yang memiliki konsekuensi tidak disengaja dalam bentuk emisi gas rumah kaca. Krisis ini secara global menggarisbawahi logika "efek bumerang". Meskipun negara-negara yang paling miskin dan rentan akan menanggung beban terbesar, negara-negara maju yang bertanggung jawab atas sebagian besar emisi juga akan mengalami dampaknya melalui pola cuaca yang tidak stabil dan bencana alam yang terkait. Namun, seperti yang dicatat dalam laporan ini sebelumnya, dampak ini tidak dirasakan secara merata. Negara-negara kaya memiliki sumber daya dan kapasitas yang jauh lebih besar untuk beradaptasi, menunjukkan bahwa meskipun risiko melintasi batas-batas geografis, kapasitas untuk menghadapinya sangatlah tidak setara.

5.3. Relevansi dengan Pandemi Global (COVID-19)

Pandemi COVID-19 berfungsi sebagai studi kasus modern yang ideal untuk teori masyarakat risiko. Sebagai risiko manufaktur, ia memiliki "efek bumerang" yang melintasi batas kelas sosial dan negara, menunjukkan bahwa siapa pun dapat terinfeksi. Namun, pandemi ini juga memperlihatkan kembali ketidaksetaraan yang ada; individu dari strata sosial-ekonomi yang lebih rendah lebih rentan karena mereka lebih mungkin untuk tidak dapat bekerja dari rumah dan memiliki akses yang terbatas ke layanan kesehatan dan kebersihan.

Selain itu, pandemi ini menggarisbawahi tesis Beck tentang hilangnya kepercayaan publik terhadap otoritas negara dan sains dalam mengelola risiko. Penyebaran berita palsu dan disinformasi selama pandemi adalah contoh nyata dari politisasi pengetahuan di mana "kebenaran" menjadi sesuatu yang diperdebatkan dan diperebutkan di ruang publik. Hal ini menunjukkan pergeseran dari tata kelola publik tradisional ke tata kelola risiko yang lebih kompleks dan menuntut "kecepatan dan akurasi" dalam komunikasi publik untuk membangun kembali kepercayaan.

5.4. Perspektif Terhadap Krisis Keuangan 2008

Meskipun Beck tidak secara eksplisit menganalisis krisis keuangan tahun 2008 dalam buku ini, kerangkanya sangat relevan. Krisis ini bukanlah bencana alam, melainkan risiko sistemik yang dihasilkan oleh "ketidakbertanggungjawaban yang terorganisir" dari institusi keuangan. Deregulasi pasar keuangan menginsentifkan pengambilan risiko yang berlebihan, mengubah asuransi sosial terhadap risiko sistemik menjadi sumber daya bersama yang dieksploitasi secara berlebihan.

Penerapan teori Beck pada krisis ini menunjukkan bagaimana risiko finansial sistemik menciptakan bentuk ketidaksetaraan baru yang tidak dapat sepenuhnya dijelaskan oleh model kelas tradisional. Analisis yang dilakukan oleh para ahli menunjukkan bahwa krisis tersebut berkontribusi pada intensifikasi "kelas-berbasis kontemporer" dan menciptakan "kelas-risiko diferensial" yang membedakan mereka yang menanggung beban krisis dari mereka yang memetik keuntungannya. Dengan demikian, alih-alih menghapus kelas, distribusi risiko justru merekonstruksi dan memperkuat ketidaksetaraan dalam bentuk-bentuk yang baru dan tak terduga.

6. Perdebatan Kritis dan Kontribusi Intelektual

6.1. Perbandingan dengan Teoretikus Lain

Meskipun Beck diakui sebagai salah satu pemikir paling berpengaruh di zamannya, karyanya memicu perdebatan yang signifikan dalam ilmu sosial.

  • Anthony Giddens: Giddens, yang juga mempromosikan teori modernitas refleksif, memiliki pandangan yang lebih positif terhadap masyarakat risiko. Ia berpendapat bahwa pengambilan risiko aktif adalah "elemen inti dari ekonomi yang dinamis dan masyarakat yang inovatif" dan bahwa struktur kelas tradisional tetap memainkan peran yang kuat, kini sebagian didefinisikan oleh "akses diferensial ke bentuk-bentuk aktualisasi diri dan pemberdayaan".
  • Zygmunt Bauman: Teori "masyarakat risiko" Beck sering dibandingkan dengan konsep "modernitas likuid" Bauman. Bauman berfokus pada sifat hubungan, identitas, dan institusi sosial yang cair, tidak stabil, dan terus berubah, sementara Beck secara spesifik berfokus pada ketidakpastian dan bahaya yang diproduksi secara institusional sebagai hasil dari kemajuan modern.
  • Niklas Luhmann: Luhmann memberikan kritik yang lebih mendasar, berpendapat bahwa risiko bukanlah monopoli masyarakat industri, melainkan konsekuensi yang melekat dari "pengambilan keputusan yang dapat menghasilkan konsekuensi negatif". Menurutnya, "masyarakat risiko" mungkin lebih baik dipahami sebagai "semantik krisis" atau "pemahaman diri budaya yang berubah" daripada fakta ontologis yang keras.

6.2. Kritik Utama terhadap Teori Beck

Terlepas dari pengaruhnya yang luar biasa, teori Beck tidak luput dari kritik.

  • Posisi Kelas dan Stratifikasi: Salah satu kritik paling umum adalah bahwa Beck terlalu menyederhanakan hubungan antara risiko dan kelas sosial. Klaimnya yang bombastis tentang "egalitarianisme risiko" (yaitu, risiko menyerang siapa pun tanpa pandang bulu) dianggap terlalu optimis dan mengabaikan bagaimana kekayaan, kekuasaan, dan pengetahuan memungkinkan individu dan negara untuk memitigasi atau menghindari sebagian besar risiko.
  • Konseptualisasi Risiko: Kritikus mempertanyakan status konseptual risiko dalam teori Beck, mengusulkan bahwa ia tidak sepenuhnya menjelaskan apakah risiko adalah fakta "realis" yang objektif atau konstruksi sosial. Ambiguisitas ini dianggap sebagai kelemahan mendasar dalam kerangka teoritisnya.
  • Peran Agensi: Kritik juga ditujukan pada konsep agensi yang dianggap tidak lengkap dalam kerangka Beck. Beberapa ahli berpendapat bahwa teori ini gagal memberikan ruang konseptual yang memadai bagi agensi individu, mengabaikan "kemampuan diferensial agen" dalam menghadapi risiko.

7. Kesimpulan: Warisan Intelektual "Risk Society"

Ulrich Beck, melalui Risk Society, secara fundamental mengubah cara ilmuwan sosial berpikir tentang modernitas. Kontribusi terbesarnya adalah mengalihkan fokus analisis sosial dari distribusi kekayaan—yang menjadi poros teori-teori sosiologi klasik—ke distribusi bahaya dan konsekuensi negatif. Dengan memperkenalkan konsep-konsep seperti modernitas refleksif, risiko manufaktur, dan "efek bumerang," Beck menyediakan lensa analitis yang kuat untuk memahami serangkaian masalah global yang kompleks dan tak terduga yang telah menjadi ciri khas abad ke-21.

Meskipun menghadapi kritik yang signifikan, terutama mengenai hubungannya yang ambigu dengan kelas sosial dan konseptualisasi risiko, kerangka Beck tetap menjadi alat yang sangat relevan dan penting. Ide-idenya tentang hilangnya otoritas sains, politisasi pengetahuan, dan "ketidakbertanggungjawaban yang terorganisir" terus membentuk debat akademis dan publik, dari tata kelola iklim hingga respons terhadap pandemi. Oleh karena itu, Risk Society bukan hanya catatan sejarah tentang transisi sosial pasca-Chernobyl, tetapi juga panduan yang abadi dan sangat diperlukan untuk menavigasi ketidakpastian yang tak terhindarkan dalam dunia modern yang terus-menerus berisiko.

Karya yang dikutip

Aakvaag, G. C. (2018). Ulrich Beck: Exploring and contesting risk. Aarhus University. Retrieved September 14, 2025, from https://pure.au.dk/ws/files/163178648/Ulrich_Beck_exploring_and_contesting_risk_Accepted_manuscript_2018.pdf

Alexander, J. (2016). Ulrich Beck’s legacy. Journal of Risk Research, 19(1), 1–4. ResearchGate. Retrieved September 14, 2025, from https://www.researchgate.net/publication/301344856

Argyo, D. (2013, March 14). Teori masyarakat risiko dari Ulrich Beck. Universitas Sebelas Maret. Retrieved September 14, 2025, from https://argyo.staff.uns.ac.id/2013/03/14/teori-masyarakat-risiko-dari-ulrich-beck/

Balawadayu. (2023, May 2). Ulrich Beck: Kajian literatur risiko masyarakat. Kompasiana. Retrieved September 14, 2025, from https://www.kompasiana.com/balawadayu/64511059a7e0fa67490aae32

Beck, U. (1992). Risk society: Towards a new modernity. Sage Publications.

Beck, U. (1992). Risk society: Towards a new modernity. SAGE. Retrieved September 14, 2025, from https://www.goodreads.com/book/show/134443.Risk_Society

Beck, U. (1992). Risk society: Towards a new modernity (Introduction). SAGE. Retrieved September 14, 2025, from https://us.sagepub.com/sites/default/files/upm-binaries/66827_Beck___Risk_Society_Introduction.pdf

Beck, U. (2011). Revisiting risk society: A conversation with Ulrich Beck. Environment & Society Portal. Retrieved September 14, 2025, from https://www.environmentandsociety.org/sites/default/files/2011_6_risk_society.pdf

Beck, U. (2015). Masyarakat risiko: Menuju modernitas baru (Penerj. M. Rizal). Kreasi Wacana.

Beck, U., Giddens, A., & Lash, S. (1994). Reflexive modernization: Politics, tradition and aesthetics in the modern social order. Stanford University Press. Retrieved September 14, 2025, from https://www.researchgate.net/publication/321904947

Bulkeley, H. (2001). Governing climate change: The politics of risk society? Center for Science and Technology Policy Research, University of Colorado. Retrieved September 14, 2025, from https://sciencepolicy.colorado.edu/students/envs_4800/bulkeley_2001.pdf

Burgess, A. (2016). Risk as zombie category: Ulrich Beck’s unfinished project of the ‘non-knowledge society.’ Critical Policy Studies, 10(2), 219–235. ResearchGate. Retrieved September 14, 2025, from https://www.researchgate.net/publication/306089855

Cottle, S. (2000). Beyond the ‘risk society’? A critical discussion of Ulrich Beck’s sociology of risk. Roskilde University. Retrieved September 14, 2025, from https://forskning.ruc.dk/en/publications/beyond-the-risk-society-a-critical-discussion-of-ulrich-becks-soc

Delanty, G. (2000). Bauman, Beck, Giddens and our understanding of politics in late modernity. ResearchGate. Retrieved September 14, 2025, from https://www.researchgate.net/publication/233033950

Economic Sociology. (2015, January 4). Ulrich Beck has died. His powerful concept of ‘risk society’ is relevant as never before. Economic Sociology. Retrieved September 14, 2025, from https://economicsociology.org/2015/01/04/ulrich-beck-has-died-his-powerful-concept-of-risk-society-is-relevant-as-never-was-before/

Ferguson, J. (1999). Expectations of modernity. University of California Press. Retrieved September 14, 2025, from https://www.researchgate.net/post/Expectations-of-Modernity

Fuchs, C. (2022). A social change theorist recalled by the COVID-19 pandemic: Ulrich Beck and the risk society. In Communicating COVID-19 (pp. 33–52). World Scientific. https://doi.org/10.1142/9781800611450_0003

Giddens, A., & Lash, S. (2015). Ulrich Beck’s legacy. Ambiente & Sociedade, 18(4), 225–236. SciELO. Retrieved September 14, 2025, from https://www.scielo.br/j/asoc/a/VMkgyWKytMgnvbF8dchY9sQ/

Hogenboom, B. (2015). Risk illusion and organized irresponsibility in contemporary finance: Rethinking class and risk society. Critical Perspectives on International Business, 11(2), 236–253. ResearchGate. Retrieved September 14, 2025, from https://www.researchgate.net/publication/282399791

Investopedia. (n.d.). Deregulation: Definition, history, effects, and purpose. Investopedia. Retrieved September 14, 2025, from https://www.investopedia.com/terms/d/deregulate.asp

Kurasawa, F. (2022). World risk society and constructing cosmopolitan realities: A Bourdieusian critique of risk society. Frontiers in Sociology, 7, 9099254. PubMed Central. Retrieved September 14, 2025, from https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC9099254/

Mythen, G. (2018). The critical theory of world risk society: A retrospective analysis. Current Sociology, 66(6), 923–936. PubMed. Retrieved September 14, 2025, from https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/30170338/

Nair, G. (2024). Conceptualising the world risk society thesis of Ulrich Beck in the context of the discipline of marketing. Retail and Marketing Review, 20(1), 127–147. Retrieved September 14, 2025, from https://retailandmarketingreview.co.za/wp-content/uploads/2024/07/RMR20_1_127-147.pdf

Neliti. (2018). Konsekuensi kecelakaan reaktor Chernobyl terhadap kesehatan dan lingkungan. Neliti. Retrieved September 14, 2025, from https://media.neliti.com/media/publications/241655

Neliti. (2021). Komunikasi risiko Covid-19 dan persiapan menghadapi new normal pada masyarakat Kelurahan Air Putih Kota Pekanbaru. Neliti. Retrieved September 14, 2025, from https://media.neliti.com/media/publications/515234

O’Brien, M. (2017). Beck’s creative challenge to class analysis: From the rejection of class to the discovery of risk-class. Journal of Risk Research, 20(7), 933–949. https://doi.org/10.1080/13669877.2017.1351464

Queen Mary University of London. (n.d.). Knowledge, risk and Beck. Queen Mary University of London. Retrieved September 14, 2025, from https://www.qmul.ac.uk/sbm/media/sbm/postgraduate/staff/papers-downloadable-/Knowledge,-risk-and-Beck.pdf

Renn, O. (1990). Chernobyl: Living with risk and uncertainty. ResearchGate. Retrieved September 14, 2025, from https://www.researchgate.net/publication/254435794

ReviseSociology. (2024, November 28). Ulrich Beck: Global risk society. ReviseSociology. Retrieved September 14, 2025, from https://revisesociology.com/2024/11/28/ulrich-beck-global-risk-society/

Scribd. (n.d.). Ulrich Beck. Scribd. Retrieved September 14, 2025, from https://id.scribd.com/document/783130522/Ulrich-Beck

Semenza, J. (2015). Socio-catastrophism in the risk society. Semantic Scholar. Retrieved September 14, 2025, from https://pdfs.semanticscholar.org/3d64/2a148d5049d4e19f4edfbb50df1519cc45ad.pdf

STIS Nurul Qarnain. (2023). Fenomena permasalahan masyarakat modern. Jurnal Nurul Qarnain. Retrieved September 14, 2025, from https://ejurnalqarnain.stisnq.ac.id/index.php/AY/article/download/269/283/1195

Universitas Gadjah Mada. (n.d.). Perspektif saintisme broad-weak atas kritik Ulrich Beck. ETD Repository UGM. Retrieved September 14, 2025, from https://etd.repository.ugm.ac.id/home/detail_pencarian_downloadfiles/988384

University of Utah. (2019). Intrinsic moral hazard. Department of Economics. Retrieved September 14, 2025, from https://www.econ.utah.edu/research/publications/2019-03.pdf

Walisongo University. (2021). Pandemik dalam masyarakat risiko. Wahana Akademika: Jurnal Ilmu Sosial. Retrieved September 14, 2025, from https://journal.walisongo.ac.id/index.php/wahana/article/view/6581

Wikipedia contributors. (n.d.). Risk society. In Wikipedia. Retrieved September 14, 2025, from https://en.wikipedia.org/wiki/Risk_society

World Nuclear Association. (n.d.). Chernobyl accident 1986. World Nuclear Association. Retrieved September 14, 2025, from https://world-nuclear.org/information-library/safety-and-security/safety-of-plants/chernobyl-accident

Zhang, Y. (2023). Analysis of COVID-19 based on the theory of risk society. Journal of Social Sciences. ResearchGate. Retrieved September 14, 2025, from https://www.researchgate.net/publication/370219551

Aletheia Rabbani
Aletheia Rabbani “Barang siapa yang tidak mampu menahan lelahnya belajar, maka ia harus mampu menahan perihnya kebodohan” _ Imam As-Syafi’i

Post a Comment