Analisis Mendalam Buku The Globalization of Nothing Karya George Ritzer: Konsep, Isi, dan Pemikiran
I. Pengantar: Proyek Intelektual George Ritzer dan Narasi Agung tentang "Ketiadaan"
1.1. Penempatan Buku dalam Proyek Intelektual Ritzer
Dalam lanskap pemikiran sosiologi kontemporer, George Ritzer adalah figur terkemuka yang paling dikenal melalui tesis "McDonaldization" yang ia ajukan dalam bukunya, The McDonaldization of Society. Tesis ini merupakan perpanjangan dari analisis klasik Max Weber tentang proses rasionalisasi dalam masyarakat modern. Ritzer menggunakan kesuksesan dan model bisnis McDonald's sebagai metafora yang kuat untuk menggambarkan bagaimana prinsip-prinsip rasionalisasi—seperti efisiensi, prediktabilitas, kalkulabilitas, dan kontrol—telah menyebar dan mendominasi berbagai sektor masyarakat, mulai dari pendidikan hingga layanan kesehatan dan hiburan.
The Globalization of Nothing tidak sekadar mengulangi atau meluaskan tesis McDonaldization, melainkan merupakan evolusi teoretis yang mengidentifikasi produk akhir dari proses tersebut ketika diterapkan secara global. Ritzer bergerak dari kritik terhadap proses rasionalisasi itu sendiri, yang pada intinya menciptakan "sangkar besi" birokrasi dan dehumanisasi, ke kritik terhadap hasil dari proses tersebut, yaitu "ketiadaan" (nothing).
Baca Juga: Analisis Komprehensif Buku The McDonaldization of Society oleh George Ritzer: Konsep, Isi, dan Uraian Mendalam
Rasionalisasi yang ekstrem, ketika diekspor ke seluruh dunia, secara inheren cenderung menghasilkan bentuk-bentuk sosial yang seragam, impersonal, dan kekurangan konten substantif yang unik. Dengan demikian, buku ini menawarkan sebuah narasi agung (grand narrative) yang berani tentang pergerakan historis yang tidak hanya menjelaskan bagaimana dunia kita beroperasi, tetapi juga mengapa rasanya semakin kosong dan seragam.
1.2. Tesis Sentral: Pergerakan dari "Sesuatu" ke "Ketiadaan"
Tesis sentral Ritzer adalah bahwa narasi sosial utama pada periode ini adalah pergeseran yang kuat dari "sesuatu" (something) ke "ketiadaan" (nothing). Menurut Ritzer, "sesuatu" adalah "bentuk sosial yang umumnya dikonsepkan dan dikendalikan secara indigenus dan secara komparatif kaya akan konten substantif yang khas," sedangkan "ketiadaan" didefinisikan secara berlawanan sebagai "bentuk sosial yang umumnya dikonsepkan dan dikendalikan secara terpusat dan secara komparatif minim konten substantif yang khas". Perbedaan ini menjadi kunci untuk memahami argumennya.
Penting untuk dicatat bahwa "ketiadaan" tidak sama dengan nihilisme atau ketiadaan mutlak. Sebaliknya, ia adalah sebuah bentuk sosial yang 'kosong' namun sangat mudah disebarluaskan, direplikasi secara masal, dan diisi ulang dengan konten minimalis yang disesuaikan. Proses globalisasi, menurut Ritzer, adalah mekanisme utama yang mendorong proliferasi bentuk-bentuk "ketiadaan" ini, yang pada gilirannya mengikis "sesuatu" yang lebih otentik, lokal, dan penuh makna.
II. Landasan Konseptual: Kontinuum Sesuatu-Ketiadaan
2.1. Definisi dan Karakteristik Sesuatu dan Ketiadaan
Ritzer tidak menyajikan "sesuatu" dan "ketiadaan" sebagai dikotomi biner yang mutlak, melainkan sebagai dua kutub dari sebuah kontinuum. Sebagian besar fenomena sosial di dunia nyata terletak di suatu tempat di antara kedua kutub ini, dan posisinya dapat bergeser seiring waktu.
Ketiadaan (Nothing): Konsep ini mengacu pada bentuk-bentuk sosial yang dirancang dan dikelola secara terpusat—misalnya, dari kantor pusat sebuah korporasi multinasional atau pemerintah nasional—sehingga mereka memiliki konten yang seragam dan kekurangan ciri-ciri unik. Contoh klasik yang sering digunakan adalah mal perbelanjaan, McDonald's Big Mac, atau celana jeans Gap yang diproduksi massal. Bentuk-bentuk ini mudah direplikasi dan disebarluaskan karena sifatnya yang minimalis dan terstandardisasi.
Sesuatu (Something): Sebaliknya, "sesuatu" adalah bentuk sosial yang dikonsepkan dan dikendalikan secara indigenus atau lokal, dan kaya akan konten substantif yang khas. Ini adalah fenomena yang unik, otentik, dan terikat pada tempat serta waktu tertentu. Contohnya adalah pasar petani lokal, masakan rumahan yang dibuat dari awal, atau karya seni kerajinan tangan yang dibuat secara unik. Bentuk-bentuk ini tidak mudah direplikasi secara masal karena kontennya yang spesifik dan seringkali tidak efisien.
2.2. Lima Sub-Kontinuum yang Membedakan
Untuk memperjelas perbedaan konseptual ini, Ritzer memperkenalkan lima sub-kontinuum yang membedakan "sesuatu" dari "ketiadaan":
1. Unik—Generik: Sesuatu, seperti masakan gourmet, adalah unik, sementara ketiadaan bersifat generik, seperti makanan beku yang dapat dihangatkan di microwave.
2. Terikat pada Lokasi—Tidak Terikat pada Lokasi: Sesuatu memiliki ikatan geografis yang kuat, seperti kerajinan tangan Oaxacan, sementara ketiadaan tidak memiliki ikatan tersebut, seperti sebuah toko franchise yang dapat ditemukan di mana saja.
3. Spesifik Waktu—Tanpa Batas Waktu: Sesuatu terikat pada waktu atau periode tertentu (misalnya, desa kolonial), sedangkan ketiadaan bersifat abadi atau tidak terikat pada waktu (misalnya, Disney World).
4. Hubungan Manusia—Dehumanisasi: Sesuatu kaya akan interaksi manusia yang otentik (misalnya, pinjaman pribadi yang dinegosiasikan dengan bankir lokal), sementara ketiadaan bersifat impersonal dan terstandardisasi (misalnya, pinjaman kartu kredit yang telah disetujui sebelumnya oleh program komputer).
5. Penuh Pesona—Kehilangan Pesona: Sesuatu memiliki kualitas "ajaib" atau "pesona" yang membuatnya menarik, sementara ketiadaan kehilangan pesona ini karena proses produksi dan konsumsi yang sangat rasional (misalnya, makanan massal seperti Domino's Pizza).
2.3. Mengapa "Ketiadaan" Begitu Mudah Diglobalisasi?
Ritzer berpendapat bahwa ada "afinitas elektif" (elective affinity) antara globalisasi dan "ketiadaan". Ini bukan hubungan sebab-akibat yang langsung, melainkan sebuah kecenderungan di mana kedua fenomena ini cenderung bervariasi bersama. Hubungan ini memiliki beberapa dasar yang logis. Pertama, bentuk-bentuk yang minimalis dan kosong (nothing) jauh lebih mudah direplikasi dan disebarkan secara luas karena memiliki biaya produksi dan replikasi yang rendah. Sifat ini menjadikannya kandidat ideal untuk ekspansi global yang didorong oleh keuntungan, di mana efisiensi dan prediktabilitas menjadi prioritas utama.
Kedua, karena "ketiadaan" minim konten substantif yang khas, ia cenderung tidak menimbulkan konflik dengan norma atau nilai budaya lokal saat diekspor. Sebuah Big Mac atau celana jeans Gap yang kosong dapat "diisi" dengan makna baru oleh konsumen lokal tanpa bentrokan budaya yang signifikan, berbeda dengan "sesuatu" seperti masakan lokal yang kaya makna, yang mungkin lebih sulit diekspor karena kontennya yang spesifik dan berpotensi ofensif di budaya lain. Dengan kata lain, sifat-sifat rasionalistik yang digarisbawahi dalam tesis McDonaldization adalah properti yang melekat pada "ketiadaan," yang membuatnya sangat cocok untuk globalisasi yang didorong oleh kapitalisme.
Tabel di bawah ini merangkum perbandingan kunci antara "sesuatu" dan "ketiadaan" dalam kerangka Ritzer:
III. Mekanisme Globalisasi: Pertentangan antara Grobalization dan Glocalization
3.1. Memahami Dua Proses Kontradiktif
Ritzer memperluas analisis globalisasinya dengan memperkenalkan dua sub-proses yang kontradiktif: "grobalization," sebuah istilah yang ia ciptakan, dan "glocalization," sebuah konsep yang diadaptasi dari sosiolog Roland Robertson. Ritzer berpendapat bahwa konflik antara kedua proses ini adalah isu sentral dalam dunia kontemporer, terutama dalam ranah budaya dan konsumsi.
3.2. Grobalization: Ekspansi Kekuatan dan Keuntungan
Grobalization adalah proses yang digerakkan oleh "ambisi imperialistik" korporasi, negara, dan organisasi untuk memperluas kekuatan, pengaruh, dan keuntungan mereka ke seluruh dunia. Proses ini memiliki "afinitas elektif" yang kuat dengan "ketiadaan". Sifat "ketiadaan" yang mudah direplikasi, seragam, dan minim konflik budaya menjadikannya alat yang sempurna untuk ekspansi grobal ke berbagai pasar global. Sebagai contoh, ekspansi global McDonald's dan Starbucks menawarkan pengalaman yang sama di mana pun di dunia, menciptakan homogenisasi budaya yang dijanjikan oleh grobalisasi.
3.3. Glocalization: Harapan untuk Heterogenitas Budaya
Sebaliknya, glocalization adalah "interpenetrasi" antara global dan lokal, yang menghasilkan "bentuk hibrida" yang unik dan tidak terduga. Ritzer menyelaraskan glocalization dengan "sesuatu". Proses ini dapat memunculkan "bentuk glokal" yang baru dan unik, yang menyesuaikan elemen global agar sesuai dengan konteks lokal. Contohnya adalah McDonald's di India yang menyajikan menu vegetarian atau McDonald's di Israel yang bersertifikat halal, di mana elemen global (McDonald's) disesuaikan dengan norma lokal. Glocalization, bagi Ritzer, menawarkan "setidaknya beberapa harapan untuk heterogenitas budaya di dunia di mana yang benar-benar lokal hampir sepenuhnya menghilang".
3.4. Dialektika yang Tidak Seimbang
Meskipun Ritzer menyajikan grobalization dan glocalization sebagai kekuatan yang berlawanan, analisisnya secara implisit menunjukkan bahwa grobalization adalah kekuatan yang dominan dan lebih kuat. Pandangan ini memicu kritik bahwa teori Ritzer terlalu fatalistik, yang menggambarkan globalisasi sebagai "raksasa yang tak terhentikan". Hal ini menciptakan ketegangan dalam argumennya: apakah glocalization adalah harapan nyata atau hanya respons kecil terhadap gelombang besar homogenisasi? Dalam banyak kasus, Ritzer menyimpulkan bahwa glocalization sering kali berakhir dengan subordinasi glokal terhadap imperatif grobal.
Tabel berikut menyajikan perbandingan dua kekuatan pendorong globalisasi dalam kerangka Ritzer:
IV. Kerangka Empiris: Empat Pasang Konsep dan Contoh Kehidupan Sehari-hari
4.1. Menerapkan Teori pada Kehidupan Sehari-hari
Untuk membingkai argumennya dan membuatnya relevan dengan pengalaman sehari-hari, Ritzer mengorganisasi teorinya di sekitar empat pasang konsep, masing-masing dengan kutub "sesuatu" dan "ketiadaan".
- Tempat dan Non-Tempat: Konsep ini diilhami oleh pemikiran Marc Augé. Non-tempat (non-places) adalah ruang yang dirancang untuk transaksi, impersonal, dan seragam, seperti mal perbelanjaan, terminal bandara, atau jalan raya yang penuh dengan papan reklame. Sebaliknya, tempat (places) adalah ruang yang kaya akan makna lokal, sejarah, dan interaksi sosial, seperti pasar petani lokal atau warung kopi di sudut jalan.
- Benda dan Non-Benda: Non-benda (non-things) adalah objek yang diproduksi massal, generik, dan tidak memiliki makna unik yang melekat. Contohnya adalah celana jeans Gap yang sama persis yang dijual di seluruh dunia atau Big Mac. Sebaliknya, benda (things) adalah objek yang unik dan memiliki konten substantif yang kaya, seperti lukisan satu-satunya atau kerajinan tangan lokal yang diukir.
- Manusia dan Non-Manusia: Non-manusia (non-people) adalah individu yang perannya dalam sistem "ketiadaan" bersifat impersonal, terstandardisasi, dan dibatasi oleh naskah atau prosedur yang ketat. Contohnya termasuk petugas kasir McDonald's yang mengikuti skrip atau telemarketer. Berbeda dengan itu, manusia (people) adalah individu yang perannya kaya akan interaksi pribadi dan kreativitas, seperti tukang daging lokal yang mengenal pelanggan tetapnya.
- Layanan dan Non-Layanan: Non-layanan (non-services) adalah interaksi yang sangat terstandardisasi dan otomatis, kekurangan elemen personal. Contohnya adalah pinjaman kartu kredit pra-disetujui atau layanan pelanggan terkomputerisasi. Sebaliknya, layanan (services) yang otentik adalah interaksi yang unik dan dipersonalisasi, seperti pinjaman pribadi yang dinegosiasikan dengan bankir lokal.
4.2. Sintesis dengan Arus Global Appadurai
Dalam analisisnya, Ritzer secara cerdas mengintegrasikan teorinya dengan kerangka kerja Arjun Appadurai tentang lima "scapes" atau aliran global—etnoscapes, mediascapes, technoscapes, financescapes, dan ideoscapes. Ritzer berpendapat bahwa "scapes" ini tidak hanya menggambarkan dunia yang mengalir, tetapi juga berfungsi sebagai "saluran" atau "faktor pendorong" untuk "grobalisasi ketiadaan".
Dengan mengaitkan teorinya dengan kerangka Appadurai, Ritzer menaikkan argumennya dari sekadar kritik terhadap konsumerisme menjadi analisis yang lebih luas tentang struktur dan mekanisme globalisasi itu sendiri. Ini menunjukkan bahwa "ketiadaan" tidak hanya tentang produk fisik, tetapi juga tentang cara ide, modal, dan informasi bergerak di seluruh dunia. Contoh mata uang Euro, yang oleh Ritzer dianggap sebagai "nothing" karena sifatnya yang terpusat dan kurang nilai budaya unik, adalah contoh sempurna bagaimana teorinya berlaku untuk fenomena non-konsumen. Hal ini menyoroti bahwa Ritzer melihat globalisasi sebagai sistem yang secara sistemik mempromosikan "ketiadaan."
Tabel berikut menyajikan contoh empiris yang digunakan Ritzer untuk mengilustrasikan teorinya:
V. Perspektif Kritis dan Perdebatan Akademik
5.1. Kritik terhadap Tautologi Definisional
Salah satu kritik utama terhadap kerangka Ritzer adalah bahwa argumennya mendekati kebenaran definisional atau tautologi. Karena "ketiadaan" didefinisikan sebagai sesuatu yang "dikendalikan secara terpusat dan minim konten substantif," maka secara inheren, setiap fenomena global yang sukses—yang secara logis dikonsepkan dan dikendalikan secara terpusat untuk disebarluaskan—akan menjadi "ketiadaan" berdasarkan definisi. Kritik ini berpendapat bahwa Ritzer mengaburkan batas antara argumen teoretis dan definisi semantik, membuat tesisnya sulit dibantah secara empiris.
5.2. Pengabaian Dialektika Produksi-Konsumsi
Douglas Kellner, dalam ulasannya, berpendapat bahwa Ritzer terlalu fokus pada aspek konsumsi dan mengabaikan sisi produksi serta hubungan perburuhan yang penting dalam proses globalisasi. Kellner menyoroti "afeksi ganda" (double affliction) yang dialami oleh para pekerja di negara berkembang yang memproduksi "ketiadaan" (misalnya, jeans massal) tetapi tidak mampu membelinya. Kritik ini menyoroti bahwa kerangka Ritzer, meskipun kuat dalam menganalisis konsumsi, gagal sepenuhnya mengeksplorasi ketidaksetaraan sistemik yang mendorong proliferasi "ketiadaan."
5.3. Kritik terhadap Fatalisme dan Pessimisme
Beberapa kritikus berpendapat bahwa Ritzer menyajikan globalisasi sebagai "raksasa yang tidak bisa dihentikan" (unstoppable behemoth) yang mengarah pada homogenisasi yang tak terhindarkan. Pandangan fatalistik ini dapat "melumpuhkan" orang dengan membuat mereka merasa tidak berdaya. Namun, perlu dicatat bahwa Ritzer sendiri tidak sepenuhnya mengabaikan agensi atau tindakan manusia. Ia mengakui bahwa "ketiadaan" dapat diisi dengan makna oleh konsumen dan berpotensi berubah menjadi "sesuatu". Contohnya termasuk remaja Jepang yang mengubah restoran cepat saji menjadi pusat komunitas atau mobil VW Beetle yang mendapatkan makna budaya yang kaya dari konsumennya. Meskipun Ritzer melihat ini sebagai pengecualian, kritik ini menunjukkan bahwa agensi konsumen mungkin jauh lebih besar daripada yang ia akui, menantang pandangan fatalistiknya tanpa meniadakan masalah inti yang ia angkat.
VI. Warisan dan Relevansi Kontemporer: Menavigasi Dunia yang Didominasi Ketiadaan
6.1. Pengaruh Akademik dan Bidang Studi
The Globalization of Nothing telah menjadi teks utama atau tambahan dalam berbagai mata kuliah sosiologi, antropologi, dan komunikasi. Kontribusi utamanya adalah memperkenalkan istilah baru seperti "grobalization" dan "the globalization of nothing", yang memperluas dan merumuskan ulang perdebatan tentang homogenitas versus heterogenitas dalam studi globalisasi. Ritzer berhasil memberikan kerangka analitis yang koheren dan mudah dipahami untuk menganalisis efek globalisasi di tingkat mikro.
6.2. Ekonomi Digital sebagai Kelanjutan Globalisasi Ketiadaan
Tesis Ritzer tetap sangat relevan di era ekonomi digital dan gig economy. Banyak platform digital dan layanan berbagi-tumpangan (ride-sharing) atau pengiriman makanan dapat dilihat sebagai bentuk "ketiadaan" yang baru. Mereka dikonsepkan dan dikendalikan secara terpusat (oleh kantor pusat perusahaan teknologi) dan kekurangan konten substantif yang khas (interaksi impersonal, layanan yang distandardisasi). Para pekerja dalam sistem ini sering kali menjadi "non-manusia" karena pekerjaan mereka sangat terkontrol, tidak unik, dan dehumanisasi. Hal ini membuktikan bahwa kerangka Ritzer tidak hanya berlaku untuk konsumsi, tetapi juga untuk mode produksi dan organisasi kerja modern.
6.3. Kebangkitan "Sesuatu": Gerakan "Makers" dan Kerajinan Tangan
Meskipun analisisnya pesimistis, Ritzer sendiri telah menunjukkan bagaimana teorinya terhubung dengan fenomena kontemporer yang lebih menjanjikan. Kebangkitan gerakan "makers" dan platform seperti Etsy dapat dilihat sebagai manifestasi dari harapan akan "sesuatu". Gerakan ini mempromosikan produk yang dikonsepkan dan dikendalikan secara lokal, kaya akan konten unik, dan secara langsung menantang dominasi "ketiadaan".
Gerakan ini menunjukkan bahwa ketika grobalisasi menciptakan pasar massal untuk "ketiadaan" yang homogen, hal itu secara bersamaan membuka pasar global untuk "sesuatu" yang spesifik. Ritzer berargumen bahwa gerakan ini melayani "pasar massal untuk produk niche", menciptakan ekonomi di mana banyak individu memproduksi "sesuatu" dalam jumlah kecil. Ini adalah glokalisasi yang bekerja, di mana yang lokal dan unik (buatan tangan) menemukan pasar global melalui teknologi (internet), membalikkan aliran dominan. Hal ini menawarkan jalan keluar yang tidak fatalistik, di mana teknologi yang sama yang memungkinkan "nothing" juga dapat memfasilitasi kebangkitan "something."
VII. Kesimpulan: Pertanyaan-pertanyaan yang Tak Terjawab dan Jalan Ke Depan
Melalui The Globalization of Nothing, George Ritzer berhasil menyajikan kritik yang kuat dan provokatif terhadap globalisasi kontemporer. Ia berargumen bahwa kita menyaksikan pergerakan yang dominan dari "sesuatu" yang otentik, unik, dan lokal menuju "ketiadaan" yang homogen, generik, dan dikendalikan secara terpusat, sebuah proses yang didorong oleh kekuatan "grobalisasi." Meskipun teori ini digambarkan sebagai sangat pesimistis, ia memberikan kerangka diagnostik yang sangat kuat untuk menganalisis dunia kontemporer dan fenomena konsumsi yang terus berubah.
Teori Ritzer juga meninggalkan pertanyaan-pertanyaan penting yang terus diperdebatkan di kalangan akademisi: Apakah glokalisasi benar-benar memiliki kekuatan untuk menahan gelombang "ketiadaan," atau apakah ia hanya berfungsi sebagai hibrida yang pada akhirnya memperkuat kekuatan grobal yang mendominasi? Bisakah agensi manusia dan kreativitas individu terus menemukan cara untuk mengisi ruang kosong yang diciptakan oleh rasionalisasi dan globalisasi? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini akan membentuk studi masa depan tentang masyarakat yang didominasi oleh "ketiadaan," dan peran "sesuatu" di dalamnya.
Karya yang dikutip
Dialectics of something and nothing: Critical reflections on Ritzer’s … (2001). Critical Perspectives on International Business, 1(4), 263–268. Emerald. https://www.emerald.com/cpoib/article/1/4/263/15753/Dialectics-of-something-and-nothing-critical
Gender Studies. (2025, September 11). Key theories of globalization: How ideas shape global connections. https://gender.study/english-communication-skills/key-theories-globalization-ideas-shape-connections/
George Ritzer. (2025, September 11). In Wikipedia. https://en.wikipedia.org/wiki/George_Ritzer
Goodreads. (2025, September 11). The globalization of nothing by George Ritzer. https://www.goodreads.com/book/show/2161640.The_Globalization_of_Nothing
National Library of Australia. (2025, September 11). The globalization of nothing / George Ritzer. https://nla.gov.au/nla.cat-vn2577474
Ors, J. (2012). The globalization of nothing [Prezi]. https://prezi.com/yomiblezq97y/the-globalization-of-nothing/
ResearchGate. (2005). Book review: The globalization of nothing. https://www.researchgate.net/publication/240705435_Book_Review_The_Globalization_of_Nothing
ResearchGate. (2025, September 11). Glocal-grobal and something-nothing continua with representative examples [Diagram]. https://www.researchgate.net/figure/Glocal-Grobal-and-Something-Nothing-continua-with-representative-examples_fig1_29445575
Ritzer, G. (1993). The McDonaldization of society [PDF]. http://users.uoa.gr/~cdokou/RitzerMcDonaldization.pdf
Ritzer, G. (2004). Rethinking globalization: Glocalization/grobalization and something/nothing [PDF]. ResearchGate. https://www.researchgate.net/publication/229777978_Rethinking_Globalization_GlocalizationGrobalization_and_SomethingNothing
Ritzer, G. (2004). The globalization of nothing [PDF]. ResearchGate. https://www.researchgate.net/publication/274418272_The_Globalization_of_Nothing
Ritzer, G. (2004). The globalization of nothing [PDF]. University of Oslo. https://www.hf.uio.no/ikos/english/research/news-and-events/events/phd/2021/ritzer---the_globalization_of_nothing.pdf
Ritzer, G. (2004). The globalization of nothing [PDF]. CORE. https://core.ac.uk/download/pdf/213388936.pdf
Ritzer, G. (2004). The globalization of nothing [CORE version]. CORE. https://core.ac.uk/outputs/213388936/?utm_source=pdf&utm_medium=banner&utm_campaign=pdf-decoration-v1
Ritzer, G. (2004). The globalization of nothing. Critical Perspectives on International Business, 1(4), 419–432. Emerald Insight. https://www.emerald.com/insight/content/doi/10.1108/17422040510580803
Ritzer, G. (2004). The globalization of nothing [Review]. Project MUSE. Johns Hopkins University. https://muse.jhu.edu/article/45521/summary
Ritzer, G. (2007). Credit cards and the globalization of nothing. St. Louis University Public Law Review, 26(1), 129–152. Scholarship Commons. https://scholarship.law.slu.edu/cgi/viewcontent.cgi?article=1294&context=plr
Ritzer, G. (2007). The globalization of nothing 2. SAGE Publications.
Ritzer, G. (2012, December 10). Makers: The promise of “something” rather than “nothing”. WordPress. https://georgeritzer.wordpress.com/2012/12/10/makers-the-promise-of-something-rather-than-nothing/
Scribd. (2025, September 11). McDonaldization: An analysis of George Ritzer’s theories and assertions. https://www.scribd.com/document/120140546/McDonaldization-An-Analysis-of-George-Ritzer-s-Theories-and-Assertions
Stanford University Libraries. (2025, September 11). George Ritzer theorizes… SearchWorks. https://searchworks.stanford.edu/view/5491786#:~:text=George%20Ritzer%20theorizes%20in%20his
Testbook. (2025, September 11). Explaining the effects of globalization, George Ritzer wrote. https://testbook.com/question-answer/explaining-the-effects-of-globalization-george-ri--64d3cb49db79e4ba0f367017
The McDonaldization of society. (2025, September 11). In Wikipedia. https://en.wikipedia.org/wiki/The_McDonaldization_of_Society
University of Leeds. (2025, September 11). George Ritzer | Rethinking global society. Conferences at the University of Leeds. https://conferences.leeds.ac.uk/rethinking-global-society/profiles/george-ritzer/
Wooster University. (2005). Global flows and the globalization of nothing [PDF]. Open Works. https://openworks.wooster.edu/cgi/viewcontent.cgi?article=1005&context=blackandgold




Post a Comment