Analisis Komprehensif Buku The McDonaldization of Society oleh George Ritzer: Konsep, Isi, dan Uraian Mendalam

Table of Contents

Pengantar

Dalam lanskap sosiologi kontemporer, sedikit karya yang memiliki dampak sebesar George Ritzer dalam bukunya tahun 1993, The McDonaldization of Society. Buku ini tidak hanya berfungsi sebagai kritik terhadap industri makanan cepat saji, tetapi juga memperkenalkan sebuah konsep sosiologis yang kuat, "McDonaldization," yang berfungsi sebagai kerangka analitis untuk memahami proses rasionalisasi yang meluas dalam masyarakat modern. Ritzer berargumen bahwa prinsip-prinsip yang membuat McDonald's begitu sukses—efisiensi, kalkulabilitas, prediktabilitas, dan kontrol—telah meresap ke dalam hampir setiap aspek kehidupan sosial di Amerika dan di seluruh dunia, dari pendidikan hingga hiburan.

Tulisan ini akan menguraikan secara lengkap dan mendalam isi buku Ritzer, melampaui ringkasan sederhana untuk menyajikan analisis mendalam yang kaya wawasan. Tulisan akan dimulai dengan menempatkan teori Ritzer dalam konteks intelektualnya, yang berakar pada teori sosiologi klasik. Kemudian, menguraikan secara rinci empat pilar utama McDonaldization. Selanjutnya, mengeksplorasi konsekuensi negatif yang disorot oleh Ritzer, terutama paradoks "rasionalitas yang tidak rasional." Terakhir, akan mengevaluasi relevansi teori ini di era digital dan membahas perdebatan akademis yang muncul sebagai tanggapannya. Analisis ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang menyeluruh dan bernuansa tentang kontribusi abadi Ritzer terhadap pemahaman kita tentang masyarakat modern.

Bab I: Landasan Teoretis dan Biografi Intelektual George Ritzer

Pemahaman terhadap teori McDonaldization tidak bisa lepas dari latar belakang pribadi George Ritzer dan fondasi teoretis yang ia ambil dari para pendahulunya, terutama Max Weber.

1.1 Biografi Intelektual George Ritzer: Fondasi dari Pengalaman Pribadi

George Ritzer, lahir pada tahun 1940 di New York, memiliki latar belakang yang unik yang secara langsung membentuk perspektif sosiologisnya. Ia dibesarkan dalam keluarga "upper lower class" di mana ayahnya bekerja sebagai sopir taksi dan ibunya sebagai sekretaris, sebuah pengalaman yang memberinya pemahaman tentang kehidupan di pinggir ekonomi.

Pengalaman yang paling formatif bagi Ritzer, dan yang secara langsung menginspirasi karya-karya utamanya, adalah masa kerjanya di Ford Motor Company setelah lulus dari universitas. Di sana, ia merasa "terdehumanisasi" oleh sistem manajemen dan struktur yang impersonal. Meskipun ia dan dua orang lainnya dipekerjakan untuk satu pekerjaan, ia merasa "tidak dapat melakukan sesuatu yang kreatif" dan dipaksa untuk "terus-menerus berkeliaran di sekitar pabrik selama berjam-jam mengamati orang-orang yang bekerja," menciptakan pengalaman yang terasa sangat terkekang. Pengalaman ini memberikan dimensi nyata dan personal pada abstraksi sosiologis yang ia kembangkan kemudian. Alih-alih hanya menjadi latihan intelektual abstrak, teori-teorinya berakar pada realitas sosial yang ia rasakan secara langsung, yang membuat kritiknya terhadap dehumanisasi dalam masyarakat modern menjadi lebih kuat dan lebih mudah dipahami oleh pembaca.

Meskipun Ritzer tidak memiliki gelar formal dalam sosiologi, ia secara efektif "melatih dirinya sendiri sebagai seorang teoretikus sosial". Pendekatan ini, yang mungkin terlihat seperti tantangan, justru memberinya keuntungan unik. Ia mampu mengembangkan penalaran yang "tidak dibatasi oleh perspektif teoretis tertentu", yang memungkinkannya untuk menyintesis ide-ide dari berbagai sekolah pemikiran dan menerapkannya pada fenomena baru dengan cara yang inovatif.

1.2 Rasionalisasi Weber dan Kaitannya dengan McDonaldization

Ritzer secara eksplisit mengakui bahwa teorinya adalah "rekonseptualisasi" dari konsep sentral Max Weber tentang rasionalisasi. Weber berpendapat bahwa masyarakat modern dicirikan oleh proses rasionalisasi, di mana pemikiran tradisional digantikan oleh analisis "means-ends" (tujuan-sarana) yang berfokus pada efisiensi dan kontrol formal.

Bagi Weber, birokrasi adalah perwujudan utama dari proses ini. Birokrasi adalah organisasi formal besar yang dicirikan oleh hierarki, pembagian kerja yang ketat, aturan dan regulasi tertulis, serta impersonalitas. Weber berpendapat bahwa dominasi birokrasi akan menjebak individu dalam "kurungan besi rasionalitas" (iron cage of rationality), sebuah kondisi di mana sistem yang efisien menjadi sangat impersonal dan tidak manusiawi sehingga mengekang kreativitas dan otonomi individu.

Ritzer menganggap analisis Weber valid tetapi berpendapat bahwa birokrasi, sebagai model utama rasionalisasi, adalah paradigma abad ke-20 yang sudah usang. Ia mengusulkan bahwa di paruh akhir abad ke-20, restoran cepat saji telah menjadi kekuatan organisasi yang lebih representatif dan meluas. Pergeseran paradigma ini adalah kontribusi utama Ritzer. Ia menggeser fokus dari lembaga formal seperti birokrasi ke ranah interaksi sehari-hari dan konsumsi. Hal ini menunjukkan bahwa kekuatan rasionalisasi tidak lagi terbatas pada kantor atau pabrik, tetapi telah menjadi logika budaya dan ekonomi yang meresap dan membentuk cara kita hidup, berinteraksi, dan bahkan memandang diri kita sendiri.

1.3 Prekursor Rasionalisasi: Taylorisme dan Fordisme

Ritzer juga menelusuri akar McDonaldization pada prinsip-prinsip manajemen ilmiah Frederick Taylor (Taylorisme) dan produksi massal Henry Ford (Fordisme). Taylorisme adalah sebuah sistem di mana pekerjaan dianalisis secara ilmiah dan dipecah menjadi tugas-tugas kecil yang disederhanakan untuk mencapai efisiensi maksimum. Fordisme mengaplikasikan prinsip ini pada perakitan, menciptakan standardisasi produk dan menghilangkan kebutuhan akan tenaga kerja terampil.

Wawasan Ritzer yang brilian adalah ia melihat McDonaldization sebagai sintesis dari Taylorisme dan Fordisme yang diterapkan pada ranah konsumsi. Sementara Taylor dan Ford berfokus pada rasionalisasi proses produksi, Ritzer menunjukkan bagaimana restoran cepat saji adalah model yang merasionalisasi baik produksi (melalui persiapan makanan ala perakitan) maupun konsumsi (melalui pengalaman pelanggan yang terstruktur dan skrip). Restoran itu sendiri menjadi tempat di mana dua proses yang dirasionalisasi ini bertemu dan menyatu, menciptakan sebuah sistem yang efisien dari awal hingga akhir. Ini menandai fase baru dalam kapitalisme, di mana prinsip-prinsip manajemen ilmiah telah merambah seluruh rantai ekonomi, dari produsen hingga konsumen.

Berikut adalah tabel yang mengkomparasikan konsep Rasionalisasi Weber dan McDonaldization Ritzer untuk memberikan gambaran yang lebih jelas.

Komparasi konsep Rasionalisasi Weber dan McDonaldization Ritzer

Bab II: Empat Pilar Utama McDonaldization

Teori McDonaldization Ritzer didasarkan pada empat dimensi inti yang ia identifikasi sebagai karakteristik utama dari restoran cepat saji dan, secara lebih luas, dari sistem yang "McDonaldized". Keempat prinsip tersebut adalah efisiensi, kalkulabilitas, prediktabilitas, dan kontrol.

2.1 Efisiensi (Efficiency)

Efisiensi adalah prinsip utama dalam McDonaldization, yang merujuk pada upaya untuk menemukan metode "optimal" untuk mencapai suatu tugas. Dalam konteks restoran cepat saji, ini berarti cara tercepat bagi pelanggan untuk beralih dari keadaan "lapar menjadi kenyang". Di McDonald's, efisiensi diwujudkan melalui model drive-thru yang memungkinkan pelanggan memesan dan mengambil pesanan tanpa keluar dari mobil mereka, dan melalui sistem operasional di mana makanan sering kali sudah siap dan hanya perlu dipanaskan.

Di luar industri makanan, prinsip ini meluas ke berbagai sektor kehidupan. Contohnya termasuk penggunaan mesin self-checkout dan ATM yang mengurangi waktu antrean, serta aplikasi pemesanan yang memungkinkan pelanggan memesan dan membayar di muka untuk pengambilan yang cepat. Dalam pendidikan, efisiensi diwujudkan melalui kursus online yang memprioritaskan penyelesaian gelar yang cepat, dengan konten yang sudah dikemas sebelumnya dan dapat diakses dengan mudah.

2.2 Kalkulabilitas (Calculability)

Kalkulabilitas menekankan aspek kuantitatif suatu produk atau layanan daripada kualitasnya. Inti dari prinsip ini adalah gagasan bahwa "kuantitas sama dengan kualitas". Alih-alih berfokus pada rasa atau pengalaman, sistem McDonaldized menonjolkan ukuran produk, harga murah, dan kecepatan penyajian. Di restoran cepat saji, hal ini terlihat dari penekanan pada opsi seperti "Super Size" atau menu "Dollar Menu" yang menarik pelanggan dengan janji kuantitas yang besar dengan harga yang rendah. Pekerja di sistem ini sering kali dinilai berdasarkan seberapa cepat mereka menyelesaikan tugas, bukan seberapa baik mereka melakukannya.

Penerapan prinsip ini di sektor lain sangat luas. Di bidang pendidikan, kesuksesan seorang siswa sering kali diukur dengan metrik kuantitatif seperti Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) dan nilai ujian standar, yang terkadang mengabaikan aspek kualitatif dan pemahaman mendalam tentang materi. Di media, kualitas berita sering kali digantikan oleh "jumlah klik" atau "tayangan," mengubah jurnalisme menjadi "junk-journalism" yang dangkal dan mudah dikonsumsi.

2.3 Prediktabilitas (Predictability)

Prediktabilitas adalah jaminan bahwa produk atau layanan akan sama persis di mana pun dan kapan pun seorang pelanggan berinteraksi dengannya. Konsumen merasa nyaman dengan kepastian ini, karena menghilangkan kejutan dan ketidakpastian. Di McDonald's, prediktabilitas terwujud dalam menu, dekorasi, dan seragam yang seragam di seluruh dunia. Bahkan pekerja dilatih untuk berperilaku dan mengucapkan "skrip" yang telah ditentukan, memastikan interaksi yang konsisten bagi pelanggan.

Prinsip ini telah meresap ke berbagai aspek masyarakat. Mall dan pusat perbelanjaan sering kali menampilkan toko-toko waralaba yang sama. Dalam industri hiburan, banyak film yang merupakan reboot atau sekuel dari cerita yang sudah dikenal, menjamin pengalaman yang dapat diprediksi bagi penonton dan pendapatan yang dapat diperkirakan bagi studio. Di perguruan tinggi, kurikulum sering kali distandarisasi di berbagai institusi, mengarah pada apa yang disebut sebagai "McUniversities".

2.4 Kontrol (Control)

Prinsip terakhir, kontrol, berfokus pada penggunaan teknologi non-manusia untuk mengontrol baik pekerja maupun pelanggan. Tujuannya adalah untuk menghilangkan elemen manusia yang tidak dapat diprediksi dari proses bisnis, memastikan hasil yang seragam dan efisien. Di McDonald's, kontrol terwujud dalam penggunaan peralatan memasak otomatis dan micromanagement terhadap karyawan. Kontrol juga diterapkan pada pelanggan melalui desain interior yang tidak nyaman, menu yang terbatas, dan sistem drive-thru yang mendorong mereka untuk makan dan pergi dengan cepat.

Di sektor lain, kontrol ini semakin canggih. Di Amazon, sistem melacak produktivitas karyawan gudang dan dapat secara otomatis memecat mereka jika tidak memenuhi standar yang ditetapkan. Dalam pendidikan, sistem penilaian otomatis dan struktur kursus yang kaku memberikan kontrol atas proses pembelajaran. Layanan mandiri yang semakin umum, seperti di SPBU atau kasir swalayan, mentransfer pekerjaan dari pekerja ke konsumen, memperkuat kontrol sistem sambil menyamarkannya sebagai kenyamanan.

Tabel berikut mengilustrasikan bagaimana keempat prinsip McDonaldization ini diterapkan di berbagai sektor modern.

keempat prinsip McDonaldization ini diterapkan di berbagai sektor modern.

Bab III: Konsekuensi dan Kritik Ritzer

Meskipun prinsip-prinsip McDonaldization menjanjikan manfaat seperti efisiensi, ketersediaan, dan kenyamanan, Ritzer berpendapat bahwa sistem ini pada akhirnya menghasilkan konsekuensi yang merugikan. Ia menyebutnya sebagai paradoks sentral dari "rasionalitas yang tidak rasional" (the irrationality of rationality).

3.1 Inti dari Paradoks: Rasionalitas yang Tidak Rasional

Argumen inti Ritzer adalah bahwa sistem yang dirancang secara rasional, dengan tujuan untuk menjadi efisien dan terkontrol, pada akhirnya menciptakan hasil yang tidak masuk akal atau merusak. Dalam sistem rasional, kemanusiaan dasar dari orang-orang yang bekerja atau dilayani olehnya sering kali ditolak. Paradoks ini dapat menghasilkan ketidak-konsistenan, seperti janji efisiensi yang justru menciptakan ketidak-efisienan, misalnya antrean yang panjang di restoran cepat saji yang seharusnya cepat.

Ritzer menggunakan perumpamaan yang mengerikan untuk mengilustrasikan puncak dari "rasionalitas yang tidak rasional," yaitu Holocaust. Ia berargumen bahwa Holocaust, yang menggunakan mekanisme birokrasi yang sangat rasional (sistem kereta api, manajemen kamp, dsb.) untuk tujuan yang paling irasional—penghancuran manusia secara massal—adalah prekursor yang mengerikan dari pola pikir yang mendasari McDonaldization.

3.2 Dehumanisasi: Hilangnya Kemampuan Manusia

Salah satu konsekuensi paling signifikan dari McDonaldization adalah dehumanisasi, yang memengaruhi pekerja maupun konsumen.

Dehumanisasi Pekerja:

Pekerja dalam sistem ini dilatih untuk melakukan tugas-tugas "sangat berulang, sangat rutin, dan dapat diprediksi". Hal ini mengarah pada apa yang disebut Ritzer sebagai "deskilling" (hilangnya keterampilan), di mana pekerjaan dipecah menjadi langkah-langkah yang begitu sederhana sehingga keterampilan dan kreativitas tidak lagi diperlukan. Sebagai konsekuensi, pekerja menjadi lebih mudah diganti, yang pada gilirannya mengurangi hak dan upah mereka. Dalam lingkungan seperti ini, pekerja kehilangan otonomi dan dapat tunduk pada kontrol yang blak-blakan melalui pengawasan dan micromanagement.

Dehumanisasi Konsumen:

Konsumen juga tunduk pada dehumanisasi. Sistem ini mereduksi mereka menjadi "robot" yang buru-buru menyantap makanan dengan sedikit kepuasan dari makanan itu sendiri. Konsumen dipaksa untuk berpartisipasi dalam "pekerjaan gratis" yang sebelumnya dilakukan oleh pekerja, seperti membersihkan meja mereka atau merakit furnitur yang mereka beli. Poin Ritzer yang paling relevan untuk era kontemporer adalah bagaimana kontrol non-manusia yang semakin canggih telah menjadi bentuk dehumanisasi yang paling mutakhir. Alih-alih hierarki birokrasi tradisional, sistem kontrol saat ini dimediasi oleh teknologi dan algoritma yang impersonal, seperti yang terlihat pada pelacakan produktivitas karyawan di Amazon. Kontrol ini membuat dehumanisasi menjadi lebih halus dan meresap, menciptakan "kurungan besi" baru yang tidak terlihat.

3.3 Homogenisasi: Hilangnya Keunikan dan Keragaman

McDonaldization menghasilkan "keseragaman yang membuat mati rasa" (mind-numbing sameness) yang menyebar di seluruh dunia. Ritzer melihat globalisasi, yang didorong oleh McDonaldization, sebagai "grobalization of nothing," di mana sesuatu yang kosong—seperti rantai restoran yang seragam—menyebar ke seluruh dunia, mengikis keunikan budaya dan menciptakan hibridisasi budaya yang meratakan perbedaan lokal.

Baca Juga: Analisis Mendalam Buku The Globalization of Nothing Karya George Ritzer: Konsep, Isi, dan Pemikiran

Bab IV: Relevansi Teori di Era Kontemporer dan Perdebatan Akademis

Teori Ritzer, yang berakar pada fenomena akhir abad ke-20, tetap sangat relevan, dan bahkan semakin kuat, di era digital dan ekonomi gig. Meskipun demikian, teorinya juga memicu perdebatan akademis yang kritis.

4.1 McDonaldization di Era Digital dan Ekonomi Gig

Teori Ritzer telah menemukan aplikasi baru yang kuat dalam menganalisis berbagai sektor modern.
Pendidikan Online (McUniversities):
Pendidikan tinggi telah menjadi salah satu bidang yang paling terkena dampak McDonaldization. Sekolah dan universitas beroperasi seperti "McUniversities," dengan prinsip-prinsip yang terwujud dalam:

  • Efisiensi: Kursus online dengan konten pra-kemasan untuk mempercepat proses pembelajaran.
  • Kalkulabilitas: Penilaian berbasis komputer dan penggunaan IPK dan nilai ujian standar sebagai metrik utama.
  • Prediktabilitas: Kurikulum yang distandarisasi dan seragam di berbagai institusi.
  • Kontrol: Penggunaan sistem penilaian otomatis dan struktur kursus yang kaku.

E-commerce (Amazon) dan Media:
Perusahaan seperti Amazon secara sempurna mengilustrasikan prinsip-prinsip McDonaldization. Amazon mengutamakan efisiensi dengan jaringan gudang yang strategis untuk pengiriman cepat. Mereka menekankan kalkulabilitas dengan memiliki database produk yang masif dan menilai kinerja karyawan berdasarkan metrik yang dilacak secara otomatis. Media dan industri hiburan juga terkena dampak, di mana berita yang dangkal (junk-journalism) dan film waralaba yang berulang menjadi norma, mengutamakan kuantitas dan prediktabilitas daripada kualitas dan orisinalitas.

Ekonomi Gig: Perwujudan Penuh McDonaldization
Ekonomi gig, seperti yang diwakili oleh Gojek dan Grab, dapat dipandang sebagai manifestasi paling canggih dari McDonaldization.

  • Efisiensi: Aplikasi digital menghilangkan perantara dan menghubungkan penyedia layanan dan pelanggan secara instan, meminimalkan waktu dan gesekan.
  • Kalkulabilitas: Tarif dihitung secara otomatis oleh algoritma, bukan melalui negosiasi. Kinerja pengemudi diukur secara kuantitatif melalui rating bintang dan kecepatan.
  • Prediktabilitas: Pelanggan mengharapkan layanan yang terstandarisasi dan dapat diprediksi, terlepas dari pengemudi individu.
  • Kontrol: Algoritma memberikan kontrol total atas pekerja, mulai dari penugasan pekerjaan hingga perhitungan upah. Karena pekerja diklasifikasikan sebagai "kontraktor independen," mereka tidak memiliki hak dasar seperti cuti sakit atau pensiun, memperkuat sifat dehumanisasi dari sistem.

Sistem ini mengambil deskilling dari Fordisme dan kontrol birokrasi dari Weber, lalu menyembunyikannya dalam platform digital yang tampak nyaman. Ekonomi gig, oleh karena itu, bukan hanya sebuah contoh dari McDonaldization, tetapi kesimpulan logisnya, di mana rasionalisasi telah bergerak dari ruang fisik ke digital, menciptakan "kurungan besi" baru yang lebih halus dan lebih kuat dari kontrol algoritmik.

4.2 Teori Tandingan dan Kritik Terhadap Ritzer

Meskipun teori McDonaldization diterima secara luas dalam diskursus akademis, ia tidak luput dari kritik.

  • Kritik terhadap Pesimisme: Para kritikus, seperti Titus Alexander, berpendapat bahwa analisis Ritzer terlalu pesimis dan dapat "melumpuhkan" orang, membuat mereka merasa tidak berdaya melawan kekuatan yang tak terhentikan. Kritik ini menuduh Ritzer mengabaikan kapasitas individu untuk menolak dan menemukan makna dalam sistem yang terasionalisasi.
  • Kritik terhadap Pengabaian Dimensi Budaya: Kritikus lain berpendapat bahwa Ritzer terlalu fokus pada aspek sosiologis dan ekonomi, mengabaikan dimensi budaya dari fenomena McDonald's, seperti kekuatan ideologi dan pemasaran yang menciptakan "karisma Lengkungan Emas".

Gerakan "De-McDonaldization" dan Teori Tandingan:
Sebagai tanggapan, beberapa sosiolog telah mengidentifikasi tren yang berlawanan. Gerakan "De-McDonaldization" mencakup bisnis atau inisiatif yang menolak prinsip-prinsip McDonaldization, berfokus pada kualitas, keragaman, dan layanan yang lebih personal.

Secara teoretis, sosiolog Aaron Ahuvia dan Elif Izberk-Bilgin mengajukan "eBayization" sebagai tren tandingan yang sedang naik daun di masyarakat pasca-industri. Mereka berargumen bahwa sementara McDonaldization menghasilkan homogenitas dan prediktabilitas, eBayization justru menekankan keragaman, petualangan, dan kejutan.

Perbedaan antara kedua model ini sangat signifikan: McDonaldization mewakili "pasar yang terkoordinasi secara terpusat," di mana keputusan dibuat secara hierarkis. Sebaliknya, eBayization didasarkan pada "kontrol yang dimediasi oleh pasar yang terdesentralisasi," di mana variasi dan ketersediaan produk sangat tidak dapat diprediksi. Kehadiran kedua logika ini secara bersamaan menunjukkan bahwa rasionalisasi Ritzer bukanlah satu-satunya kekuatan yang bekerja di masyarakat modern. Era digital, meskipun memperkuat McDonaldization di beberapa sektor, juga memungkinkan model-model alternatif dan terdesentralisasi yang menantang premis standarisasi, yang menambahkan lapisan nuansa penting pada diskusi teoretis.

Tabel berikut menyajikan perbandingan antara McDonaldization dan eBayization sebagai dua model yang berlawanan.

perbandingan antara McDonaldization dan eBayization

Kesimpulan

Buku George Ritzer, The McDonaldization of Society, adalah salah satu karya sosiologi terpenting dari abad ke-20 yang terus beresonansi dengan kekuatan yang tak terduga di abad ke-21. Teorinya bukan sekadar kritik terhadap makanan cepat saji, tetapi sebuah lensa sosiologis yang sangat kuat yang dapat menganalisis bagaimana rasionalisasi, yang dimulai dalam birokrasi dan pabrik, telah meresap ke dalam setiap aspek kehidupan kita, terutama dalam interaksi sehari-hari dan konsumsi. Keempat pilar utama—efisiensi, kalkulabilitas, prediktabilitas, dan kontrol—memberikan kerangka kerja yang presisi untuk mengidentifikasi dan mengkritik sistem-sistem yang mengorbankan kualitas dan kemanusiaan demi kecepatan dan standarisasi.

Meskipun ada kritik dan teori-teori tandingan yang menantang pesimisme Ritzer, relevansi McDonaldization tidak berkurang. Sebaliknya, evolusi teknologi dan munculnya ekonomi gig menunjukkan bahwa prinsip-prinsip yang ia uraikan kini telah menemukan ekspresi yang paling mutakhir dan meresap. Ekonomi gig adalah perwujudan penuh dari teori Ritzer, di mana kontrol yang impersonal dan dehumanisasi kini tertanam dalam algoritma dan platform digital.

Pada akhirnya, teori Ritzer tetap menjadi alat yang esensial untuk memahami masyarakat modern dan konsekuensi dari pengejaran efisiensi yang tanpa henti. Buku ini menantang pembaca untuk secara kritis mempertanyakan kenyamanan dan kemudahan yang ditawarkan oleh dunia yang semakin ter-McDonaldized, dan untuk mempertimbangkan biaya manusia yang tersembunyi dari sistem yang tampaknya rasional. Kontribusi Ritzer yang abadi adalah kemampuannya untuk memperbarui pemikiran sosiologi klasik dengan cara yang sangat relevan dan menarik bagi konteks kontemporer.

Karya yang dikutip

Birokrat Menulis. (n.d.). McDonaldisasi birokrasi dan (i)rasionalitas Weberian. Birokrat Menulis. Retrieved September 12, 2025, from https://birokratmenulis.org/mcdonaldisasi-birokrasi-dan-irasionalitas-weberian/

De Cive Journal. (n.d.). Voting behavior and McDonalization society dalam perspektif sosiologi politik. Actual Insight. Retrieved September 12, 2025, from https://journal.actual-insight.com/index.php/decive/article/download/2090/2478/6143

EBSCO. (n.d.). McDonaldization | Research starters. EBSCO. Retrieved September 12, 2025, from https://www.ebsco.com/research-starters/social-sciences-and-humanities/mcdonaldization

Gonzalez, B. N. (2022). Employment classification and human dignity in the gig economy. St. Thomas University Scholarly Works, 34(1). Retrieved September 12, 2025, from https://scholarship.stu.edu/stlr/vol34/iss1/4/

Kellner, D. (n.d.). Theorizing/resisting McDonaldization: A multiperspectivist approach. UCLA. Retrieved September 12, 2025, from https://pages.gseis.ucla.edu/faculty/kellner/essays/theorizingresistingmcdonaldization.pdf

LibreTexts. (n.d.). 6.4C: The “McDonaldization” of society. In Social Sci LibreTexts. Retrieved September 12, 2025, from https://socialsci.libretexts.org/Bookshelves/Sociology/Introduction_to_Sociology/Sociology_(Boundless)/06%3A_Social_Groups_and_Organization/6.04%3A_Bureaucracy/6.4C%3A_The_McDonaldization_of_Society

Oxford Reference. (n.d.). George Ritzer. In Oxford Reference. Retrieved September 12, 2025, from https://www.oxfordreference.com/display/10.1093/oi/authority.20110803100422905

ResearchGate. (2025). An examination of the gig economy: A case study of Uber. ResearchGate. Retrieved September 12, 2025, from https://www.researchgate.net/publication/390312193_An_Examination_of_the_GIG_Economy_A_Case_Study_of_Uber

Ritzer, G. (2001). Limits of the McDonaldization thesis: EBayization and ascendant trends in post-industrial consumer culture. ResearchGate. Retrieved September 12, 2025, from https://www.researchgate.net/publication/233173730_Limits_of_the_McDonaldization_thesis_EBayization_and_ascendant_trends_in_post-industrial_consumer_culture

Ritzer, G. (2018). The McDonaldization of society (8th ed.). Thousand Oaks, CA: SAGE Publications.

Scribd. (n.d.). Keuntungan McDonaldisasi [PDF]. Scribd. Retrieved September 12, 2025, from https://id.scribd.com/presentation/599742687/keuntungan-McDonaldisasi

Scribd. (n.d.). McDonaldisasi 1 [PDF]. Scribd. Retrieved September 12, 2025, from https://id.scribd.com/document/538066004/McDonaldisasi-1

Seeking the Kingdom. (2009, December 20). The McDonaldization of society. WordPress.com. Retrieved September 12, 2025, from https://kingdom1st.wordpress.com/2009/12/20/the-mcdonaldization-of-society/

Simply Psychology. (n.d.). McDonaldization of society: Definition and examples. Simply Psychology. Retrieved September 12, 2025, from https://www.simplypsychology.org/mcdonaldization-of-society.html

SlideShare. (n.d.). McDonaldization of society (final) | PPT | Food industry. SlideShare. Retrieved September 12, 2025, from https://www.slideshare.net/slideshow/mc-donaldization-of-societyfinal/27133864

Study.com. (n.d.). The McDonaldization of society | Overview & examples - Lesson. Study.com. Retrieved September 12, 2025, from https://study.com/learn/lesson/george-ritzer-mcdonaldization-society-principles-examples.html

ThoughtCo. (n.d.). McDonaldization: Definition and overview of the concept. ThoughtCo. Retrieved September 12, 2025, from https://www.thoughtco.com/mcdonaldization-of-society-3026751

Welcome Home Vets of NJ. (n.d.). Examples of McDonaldization in society. Retrieved September 12, 2025, from https://www.welcomehomevetsofnj.org/textbook-ga-24-2-08/examples-of-mcdonaldization-in-society.pdf

Welcome Home Vets of NJ. (n.d.). George Ritzer: The McDonaldization of society. Retrieved September 12, 2025, from https://www.welcomehomevetsofnj.org/textbook-ga-24-1-11/george-ritzer-the-mcdonaldization-of-society.pdf

Wikipedia contributors. (n.d.). George Ritzer. In Wikipedia. Retrieved September 12, 2025, from https://en.wikipedia.org/wiki/George_Ritzer

Wikipedia contributors. (n.d.). McDonaldization. In Wikipedia. Retrieved September 12, 2025, from https://en.wikipedia.org/wiki/McDonaldization

Wikipedia contributors. (n.d.). The McDonaldization of society. In Wikipedia. Retrieved September 12, 2025, from https://en.wikipedia.org/wiki/The_McDonaldization_of_Society

YouTube. (2022, May 12). McDonaldization [Video]. YouTube. https://www.youtube.com/watch?v=gCj_VhLgcmY

Aletheia Rabbani
Aletheia Rabbani “Barang siapa yang tidak mampu menahan lelahnya belajar, maka ia harus mampu menahan perihnya kebodohan” _ Imam As-Syafi’i

Post a Comment