Analisis Komprehensif Teori Sosial dan Perspektif Kultural Globalisasi Roland Robertson (1992)
1. Pendahuluan: Memposisikan Sebuah Teks Klasik dalam Studi Globalisasi
Buku Globalisation: Social Theory and Global Culture, yang diterbitkan pada tahun 1992, merupakan sebuah teks perintis dan fondasional dalam studi globalisasi. Karya Roland Robertson ini secara luas diakui sebagai salah satu publikasi pertama yang secara sistematis menempatkan globalisasi sebagai sebuah subjek yang sah dan krusial untuk analisis sosiologi, melampaui interpretasi yang semata-mata bersifat ekonomi atau politik. Kemunculannya pada awal tahun 1990-an bertepatan dengan semakin populernya perdebatan mengenai globalisasi di kalangan akademisi dan publik. Robertson sendiri, seorang sosiolog yang dikenal karena pendekatan multidimensinya, telah memimpin jalan dalam diskursus ini, bahkan menjadi orang pertama yang menggunakan istilah "globalisasi" dalam judul artikel sosiologi pada tahun 1985.
Tulisan ini bertujuan untuk menguraikan dan menganalisis secara mendalam argumen-argumen sentral, konsep-konsep kunci, dan landasan teoretis yang dikembangkan Robertson dalam karya pentingnya. Analisis ini akan menempatkan teori Robertson dalam dialog dengan pemikir lain dan mengeksplorasi warisan intelektualnya. Metodologi yang digunakan Robertson sangat khas: pendekatannya berakar kuat dalam teori sosial, bersifat kompleks dan multidimensional, namun secara unik berpusat pada budaya, yang sering kali diabaikan oleh pendekatan lain. Berbeda dengan teori-teori materialis yang dominan yang menekankan struktur ekonomi, Robertson mengadopsi pandangan fenomenologis dan psiko-sosial. Pendekatan ini berfokus pada bagaimana individu dan masyarakat secara subjektif mengalami dan memaknai dunia yang semakin saling terhubung, sebuah perspektif yang membedakannya secara tajam dari para pemikir lain seperti Immanuel Wallerstein.
2. Argumen Utama dan Definisi Sentral: "Kompresi Dunia dan Intensifikasi Kesadaran"
Inti dari argumen Robertson terletak pada definisi ikonisnya tentang globalisasi. Ia mendefinisikan globalisasi sebagai "proses yang mencakup penyempitan dunia dan intensifikasi kesadaran dunia sebagai suatu keseluruhan". Definisi yang ringkas namun mendalam ini memiliki dua aspek yang saling terkait dan tidak dapat dipisahkan. Aspek pertama, "penyempitan dunia," mengacu pada dimensi fisik dan struktural yang didorong oleh kemajuan teknologi informasi dan transportasi yang membuat transaksi dan interaksi di seluruh dunia menjadi lebih mudah dan cepat.
Aspek kedua, "intensifikasi kesadaran," mengacu pada dimensi subjektif dan kognitif. Ini adalah pergeseran psikologis di mana manusia menjadi semakin sadar bahwa mereka adalah bagian dari "satu dunia" yang tunggal. Robertson berpendapat bahwa pergeseran kognitif ini adalah konsekuensi langsung dari perubahan material dan teknologis yang terjadi. Dengan menempatkan kesadaran sebagai elemen kunci, Robertson secara fundamental mengubah fokus analisis sosiologis. Daripada hanya melihat pada struktur-struktur ekonomi dan politik yang dingin dan impersonal, ia mengarahkan perhatian pada dinamika psiko-sosial yang lebih subjektif dan interaksional. Ini adalah langkah metodologis yang disengaja untuk mengukuhkan studi globalisasi sebagai inti dari sosiologi budaya, bukan hanya sebagai cabang dari ilmu ekonomi atau politik.
Pendekatan Robertson yang khas berpusat pada budaya. Ia berpendapat bahwa untuk memahami globalisasi secara utuh, kita harus melihatnya melalui lensa budaya, menolak pemisahan konvensional antara global dan lokal, serta universal dan partikular. Buku ini berargumen bahwa budaya telah menjadi isu yang diperebutkan secara global, dan konsepsi yang bersaing tentang "tatanan dunia" memiliki implikasi politik dan ekonomi yang signifikan. Untuk mengurai proses yang kompleks ini, Robertson mengusulkan model teoretis yang disebut "global field". Model ini terdiri dari interaksi dinamis antara empat komponen utama yang ia anggap otonom:
1. Negara-Bangsa (Nation-states): Keberadaan dan interaksi antar entitas politik berdaulat.
2. Diri Individu (Individual selves): Identitas dan pengalaman subjektif individu dalam konteks global.
3. Hubungan Internasional (International relations): Hubungan sistemik dan politik antar negara.
4. Kemanusiaan Universal (Common humanity): Gagasan tentang hak asasi manusia, martabat universal, dan kesadaran bahwa kita semua adalah satu spesies.
3. Konsep Sentral: Dinamika Glokalisasi dan Kesadaran Global
Kontribusi Robertson yang paling terkenal dan berpengaruh adalah popularisasi istilah "glokalisasi" (glocalization), yang ia sebut berasal dari para ekonom Jepang untuk menggambarkan strategi pemasaran global yang disesuaikan dengan kebutuhan lokal. Glocalization adalah konsep yang menantang tesis homogenisasi budaya—gagasan bahwa globalisasi akan mengarah pada satu budaya global yang seragam, yang sering kali didominasi oleh pengaruh Barat.
Sebaliknya, glokalisasi menunjukkan adanya koeksistensi dan interpenetrasi antara kecenderungan universalisasi (seperti standardisasi atau homogenisasi) dan kecenderungan partikularisasi (seperti lokalisasi atau heterogenisasi). Contoh yang sering dikutip adalah bagaimana perusahaan global seperti McDonald's mengadaptasi produknya untuk pasar lokal (misalnya, mengganti maskot Ronald McDonald dengan karakter populer Prancis Asterix), menciptakan bentuk "hibrida" budaya yang unik. Namun, glokalisasi lebih dari sekadar adaptasi sederhana. Konsep ini menunjukkan bahwa globalisasi itu sendiri tidak menghilangkan, melainkan justru merangsang dan membentuk kembali identitas lokal dan regional. Dengan menunjukkan bagaimana budaya lokal secara aktif menegosiasikan dan mentransformasi pengaruh global, Robertson berargumen bahwa budaya lokal memiliki kekuatan untuk melawan dan membentuk ulang kekuatan global. Hal ini menjelaskan mengapa isu-isu identitas, seperti kebangkitan nasionalisme etnis atau fundamentalisme agama, tidak lenyap di era global, melainkan menjadi lebih tajam karena globalisasi memaksa orang untuk menjadi lebih sadar akan identitas partikular mereka di tengah lautan universalisme.
Inti dari glokalisasi adalah dialektika antara universalisme dan partikularisme. Robertson berpendapat bahwa hubungan antara norma, nilai, dan gagasan yang berlaku secara global dan identitas, budaya, serta praktik yang unik di tingkat lokal bersifat saling membentuk dan dinamis. Dinamika ini menciptakan ketegangan yang menjadi ciri khas masyarakat kontemporer. Dalam konteks ini, Robertson juga mengusulkan kerangka kerja 'fase' yang menggambarkan evolusi kesadaran global sepanjang sejarah. Ia mengidentifikasi lima fase, yang berpuncak pada fase kelima: Ketidakpastian Global. Fase ini mencerminkan kondisi dunia saat ini, yang ditandai oleh ketidakstabilan dan ketidakpastian sebagai akibat dari interaksi kompleks antara kekuatan global dan lokal.
4. Konteks Teoretis dan Analisis Komparatif: Menempatkan Robertson di Antara Para Sosiolog
Dalam karyanya, Robertson secara eksplisit menghubungkan analisisnya dengan para sosiolog klasik untuk menunjukkan relevansi abadi dari teori-teori mereka. Ia merevitalisasi dan mengaplikasikan wawasan dari pemikir seperti Emile Durkheim dan Max Weber untuk memahami fenomena global kontemporer. Secara khusus, ia menggunakan kembali dikotomi Gemeinschaft (komunitas) dan Gesellschaft (masyarakat) untuk menganalisis tatanan global. Robertson mengidentifikasi empat tipe tatanan global berdasarkan dikotomi ini, menunjukkan bagaimana globalisasi mengubah cara masyarakat memandang diri mereka sendiri dan dunia. Selain itu, ia mengaplikasikan gagasan Durkheim tentang "kesadaran kolektif" untuk menjelaskan munculnya "kesadaran global" sebagai bentuk "perkampungan global" yang baru.
Robertson secara sengaja memposisikan pendekatannya yang berpusat pada budaya dan bersifat fenomenologis sebagai alternatif bagi teori-teori materialis yang dominan. Kontras ini paling jelas terlihat dalam perbandingannya dengan teori sistem dunia (world-systems theory) yang dikembangkan oleh Immanuel Wallerstein. Berikut adalah tabel yang merangkum perbedaan mendasar antara kedua paradigma ini:
5. Warisan Intelektual dan Relevansi Kontemporer
Kontribusi terbesar Robertson adalah membantu melembagakan studi globalisasi sebagai bidang studi yang serius dalam sosiologi, memberinya legitimasi yang kuat di tengah disiplin ilmu lain. Karyanya menyediakan kerangka kerja analitis yang berpusat pada budaya, yang telah menjadi elemen sentral dalam perdebatan globalisasi, dan merupakan aspek yang sering kali diabaikan oleh pendekatan lain yang lebih berfokus pada ekonomi.
Warisan intelektual Robertson meluas melampaui sosiologi. Konsep glokalisasi, khususnya, telah menjadi alat heuristik yang fundamental dalam berbagai bidang. Dalam studi media dan komunikasi, misalnya, konsep ini digunakan untuk menganalisis bagaimana konten televisi global diadaptasi untuk audiens lokal, menciptakan apa yang disebut sebagai konten "glokalisasi".
Meskipun demikian, teori Robertson juga tidak luput dari kritik. Salah satu kritik utama adalah bahwa pendekatannya kurang memberikan perhatian yang memadai pada dinamika kekuasaan dan ketidaksetaraan global. Pendekatannya dianggap tidak secara efektif menjelaskan bagaimana kekuatan global, terutama yang digerakkan oleh kapitalisme Barat, dapat mendominasi dan membentuk budaya lokal. Beberapa akademisi juga mengkritik sosiologi klasik yang menjadi landasannya, menuduhnya memiliki asumsi Eurosentrisme yang mungkin tidak sepenuhnya relevan untuk konteks non-Barat. Selain itu, karena buku ini diterbitkan sebelum diskusi intens mengenai globalisasi ekonomi, buku ini dikritik karena kurang membahas perdebatan tersebut.
Menariknya, kritik-kritik ini tidak meruntuhkan teori Robertson, tetapi justru menyoroti nilai dan relevansinya yang abadi. Kritik tersebut menegaskan bahwa kontribusi utamanya adalah pemetaan dimensi budaya yang sering terabaikan. Daripada dipahami sebagai "teori globalisasi yang lengkap," karya Robertson harus dilihat sebagai sebuah teori kultural tentang globalisasi. Kritik ini secara efektif menjadi agenda penelitian bagi generasi akademisi berikutnya, mendorong mereka untuk mengkaji lebih lanjut interaksi antara kerangka budaya Robertson dengan aspek-aspek materialistis dari kekuasaan dan ekonomi.
6. Kesimpulan: Sintesis Kontribusi Robertson dan Arah Penelitian Masa Depan
Buku Globalisation: Social Theory and Global Culture oleh Roland Robertson adalah sebuah tonggak sejarah dalam studi globalisasi. Kontribusi kuncinya terletak pada: (1) memperkenalkan definisi globalisasi yang berpusat pada "kompresi dunia dan intensifikasi kesadaran"; (2) menciptakan dan mempopulerkan konsep glokalisasi, yang secara meyakinkan menantang tesis homogenisasi budaya; (3) mengembalikan fokus budaya ke dalam studi globalisasi, menjadikannya bidang yang sah dan krusial; dan (4) menghubungkan teori sosiologi klasik dengan fenomena kontemporer.
Teori Robertson tetap sangat relevan untuk menganalisis tantangan kontemporer, seperti kebangkitan nasionalisme dan gerakan identitas, yang dapat dilihat sebagai manifestasi dari glokalisasi di tengah ketidakpastian global. Warisannya terletak pada keberaniannya untuk menempatkan fenomena yang sering kali dianggap terlalu besar dan kompleks, seperti globalisasi, ke dalam kerangka analisis sosiologi yang terperinci. Dengan demikian, ia tidak hanya memberikan jawaban, tetapi juga meninggalkan pertanyaan-pertanyaan produktif yang akan terus memandu arah penelitian di masa depan, termasuk bagaimana menganalisis dampak teknologi digital dan media sosial terhadap kesadaran global, serta interaksi antara glokalisasi dan ketidaksetaraan kekuasaan.
Karya yang dikutip
AILUN. (n.d.). Prof. Roland Robertson. AILUN Personal Page. Retrieved September 14, 2025, from https://www.ailun.it/so/st/docenti/robertson.shtml
Bola.com. (2023, July 10). Pengertian globalisasi menurut para ahli yang bisa menambah wawasan. Bola.com. Retrieved September 14, 2025, from https://www.bola.com/ragam/read/5657964
Book review. (1969). Robertson: The sociological interpretation of religion. ProQuest. Retrieved September 14, 2025, from https://search.proquest.com/openview/3965644e86922b0201c7151050fc158d
Britannica. (n.d.). Glocalization. In Encyclopedia Britannica. Retrieved September 14, 2025, from https://www.britannica.com/money/glocalization
Fiveable. (n.d.). Roland Robertson (Global studies): Vocab, definition, explanations. Fiveable. Retrieved September 14, 2025, from https://library.fiveable.me/key-terms/hs-global-studies/roland-robertson
IDN Times. (2023, August 2). 25 pengertian globalisasi menurut para ahli terlengkap. IDN Times. Retrieved September 14, 2025, from https://www.idntimes.com/business/economy/pengertian-globalisasi-menurut-para-ahli-terlengkap-00-qftxr-3621p6
Jariah, Y. A. (2022). McDonald’s dalam menggunakan glokalisasi sebagai strategi pemasaran. Universitas Bosowa Repository. Retrieved September 14, 2025, from https://repository.unibos.ac.id/xmlui/bitstream/handle/123456789/2829/2022%20YULI%20AINUN%20JARIAH%204517023008.pdf
Neliti. (2012). Eksistensi agama dalam era globalisasi. Neliti. Retrieved September 14, 2025, from https://media.neliti.com/media/publications/144943-ID-eksistensi-agama-dalam-era-globalisasi.pdf
Quizlet. (n.d.). Roland Robertson: Theorist of globalization study guide. Quizlet. Retrieved September 14, 2025, from https://quizlet.com/study-guides/roland-robertson-theorist-of-globalization
ResearchGate. (2019). Glocalised-television content: Interaction with local cultures and impact on audience perceptions. ResearchGate. Retrieved September 14, 2025, from https://www.researchgate.net/publication/332314287
Robertson, R. (1990). Mapping the global condition. BGSP. Retrieved September 14, 2025, from https://bgsp.edu/app/uploads/2014/12/Robertson-Mapping-the-Global-Condition.pdf
Robertson, R. (1992). Globalization: Social theory and global culture. London: Sage Publications.
Robertson, R. (1992). Globalization: Social theory and global culture. SAGE. Retrieved September 14, 2025, from https://books.google.com/books/about/Globalization.html?id=gmCJCwAAQBAJ
Robertson, R. (1992). Globalization: Social theory and global culture. SAGE. Retrieved September 14, 2025, from https://books.google.com/books/about/Globalization.html?id=eVMmonrrZDkC
Robertson, R. (1992). Globality, global culture, and images of world order. University of California Press. Retrieved September 14, 2025, from https://publishing.cdlib.org/ucpressebooks/view?docId=ft6000078s
Robertson, R. (1992). The elementary forms of globality: Durkheim and the emergence and nature of global life. ResearchGate. Retrieved September 14, 2025, from https://www.researchgate.net/publication/258144610
Robertson, R. (1995). Globalisation or glocalisation? ResearchGate. Retrieved September 14, 2025, from https://www.researchgate.net/publication/288479222_Globalisation_or_glocalisation
Robertson, R. (1995). Globalisation or glocalisation? Retrieved September 14, 2025, from https://avys.omu.edu.tr/storage/app/public/cagatay.cengiz/125319/Globalisation%20or%20glocalisation.pdf
Robertson, R. (2000). Globalization: Social theory and global culture. London: Sage Publications.
Roudometof, V. (2016). Glocalization: A critical introduction. ResearchGate. Retrieved September 14, 2025, from https://www.researchgate.net/publication/304895197_Glocalization_A_Critical_Introduction
SAGE Publishing. (n.d.). Globalization: Social theory and global culture. SAGE. Retrieved September 14, 2025, from https://us.sagepub.com/en-us/nam/globalization/book203483
Scribd. (n.d.). Roland Robertson. Scribd. Retrieved September 14, 2025, from https://www.scribd.com/document/213532046/Roland-Robertson
UGD Publishing. (2014). Robertson’s and Ritzer’s conceptions of globalization. Balkan Social Science Review. Retrieved September 14, 2025, from https://js.ugd.edu.mk/index.php/BSSR/article/view/2306
UNSW Law Journal. (2006). Volume 29, issues 2. UNSW. Retrieved September 14, 2025, from https://www.unsw.edu.au/content/dam/pdfs/law/unsw-law-journal/2000-2009/Vol-No-29-2-1.pdf
Universitas Diponegoro. (n.d.). Globatiksasi dan desakralisasi budaya: Tinjauan dampak globalisasi terhadap budaya. FISIP Undip. Retrieved September 14, 2025, from https://pemerintahan.fisip.undip.ac.id/v1/id/globatiksasi-dan-desakralisasi-budaya-tinjauan-dampak-globalisasi-terhadap-budaya
Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta. (2022). Glokalisasi dalam pembelajaran bahasa Indonesia bagi penutur asing (BIPA). Conferences UIN Said. Retrieved September 14, 2025, from https://conferences.uinsaid.ac.id/iccl/paper/view/163/116
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. (n.d.). Bab I pendahuluan: Latar belakang masalah globalisasi. UMY Repository. Retrieved September 14, 2025, from http://repository.umy.ac.id/bitstream/handle/123456789/17024/BAB%20I.pdf
Wikipedia contributors. (n.d.). Roland Robertson. In Wikipedia. Retrieved September 14, 2025, from https://en.wikipedia.org/wiki/Roland_Robertson


Post a Comment