Analisis Mendalam Buku The Modern World-System Karya Immanuel Wallerstein: Ringkasan, Isi, dan Pemikiran

Table of Contents

Buku The Modern World-System Karya Immanuel Wallerstein

Bab I: Pendahuluan dan Latar Belakang Intelektual

1.1. Pengenalan Immanuel Wallerstein dan Teori Sistem Dunia

Immanuel Wallerstein (1930-2019) adalah seorang sosiolog dan ekonom Amerika yang diakui secara luas atas kontribusinya yang monumental dalam ilmu sosial, terutama melalui pengembangan Teori Sistem Dunia (World-Systems Theory). Kontribusi terbesarnya tertuang dalam karya multi-jilidnya, The Modern World-System, yang menjadi salah satu mahakarya ilmu sosial terpenting pada abad ke-20. Jilid pertama dari seri ini, yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1974, secara spesifik berjudul The Modern World-System I: Capitalist Agriculture and the Origins of the European World-Economy in the Sixteenth Century.

Dalam karya ini, Wallerstein mengusulkan sebuah kerangka kerja analitis baru untuk memahami sejarah dan perubahan sosial global. Alih-alih menjadikan negara-bangsa sebagai unit analisis utama, ia berpendapat bahwa fokus analisis haruslah pada "sistem dunia" sebagai unit dasar untuk memahami dinamika sosial dan ekonomi global. Ia mengklaim bahwa tidak ada satu pun negara yang dapat melepaskan diri dari sistem ekonomi kapitalis yang mendunia, sehingga analisis yang terpusat pada unit individu atau negara saja akan menjadi tidak memadai. Bagi Wallerstein, realitas ekonomi dan politik global hanya bisa dipahami melalui kerangka sistematis yang lebih besar.

1.2. Genealogi Intelektual Teori Sistem Dunia

Teori Sistem Dunia yang dikembangkan oleh Wallerstein bukanlah gagasan yang muncul dari ruang hampa. Teori ini memiliki akar intelektual yang kuat, terutama berlandaskan pada dua tradisi pemikiran utama. Pertama, ia sangat dipengaruhi oleh tradisi Neo-Marxisme, yang menganggap konflik sosial sebagai realitas fundamental dan menempatkan akumulasi modal sebagai motor penggerak utama dalam sejarah. Wallerstein juga sepakat dengan perspektif bahwa sistem kapitalis akan digantikan oleh sistem lain di masa depan, meskipun ia tidak menentukan seperti apa bentuk sistem pengganti tersebut.

Kedua, karyanya juga sangat dipengaruhi oleh Sekolah Sejarah Annales, terutama dari pendekatan longue durée (durasi panjang) yang dipopulerkan oleh sejarawan Fernand Braudel. Pendekatan ini menganalisis sejarah bukan sekadar sebagai rangkaian peristiwa tunggal, melainkan sebagai proses struktural yang lambat dan berdurasi lama, di mana faktor-faktor geo-ekologis, seperti iklim dan geografi, turut memainkan peran penting. Dengan memadukan kedua tradisi ini, Wallerstein menciptakan sebuah sintesis yang unik: sebuah analisis historis-struktural yang melihat perkembangan kapitalisme global melalui lensa konflik kelas dan proses jangka panjang.

Kemunculan teori ini pada tahun 1970-an dapat dipahami sebagai sebuah respons intelektual langsung terhadap kegagalan model pembangunan yang populer pada era pasca-kolonial. Latar belakang Wallerstein, yang mencakup penelitian mendalam tentang Afrika dan tesis doktoralnya mengenai Ghana dan Pantai Gading, memungkinkannya untuk mengamati secara langsung keterbatasan dan kegagalan teori-teori modernisasi. Teori modernisasi berpendapat bahwa negara-negara "terbelakang" hanya perlu mengikuti jalur pembangunan yang ditempuh oleh negara-negara Barat yang terindustrialisasi. Namun, Wallerstein menyaksikan bahwa kemiskinan dan keterbelakangan justru menjadi ciri struktural yang persisten. Oleh karena itu, karyanya muncul sebagai sebuah protes intelektual, yang berupaya memberikan penjelasan historis yang lebih kuat mengapa ketidaksetaraan global terus berlanjut. Menurutnya, keterbelakangan bukanlah tahap yang harus diatasi, melainkan sebuah fitur struktural yang diperlukan dalam sistem kapitalis global itu sendiri.

Wallerstein juga menyempurnakan Teori Dependensi yang ada sebelumnya dengan memperkenalkan konsep semi-periferi. Ia mengkritik model dikotomis pusat-pinggiran yang diusung oleh Teori Dependensi karena dianggap terlalu sederhana untuk menjelaskan kompleksitas hubungan global dan mobilitas sosial. Penambahan kategori semi-periferi ini memberikan fleksibilitas teoretis yang lebih besar dan memungkinkan analisis yang lebih bernuansa terhadap dinamika dalam sistem dunia.

Bab II: Fondasi Teoretis: Konsep-konsep Utama dalam The Modern World-System

2.1. Sistem Dunia sebagai Unit Analisis

Wallerstein berpendapat bahwa analisis sosial harus berfokus pada sistem dunia karena negara-negara, bahkan yang paling kuat sekalipun, tidak dapat dipahami sebagai entitas yang tertutup. Sebaliknya, mereka berakar dalam sebuah sistem yang lebih besar yang menentukan prospek dan kondisi pembangunan mereka. Wallerstein membedakan tiga jenis sistem sosial historis: mini-sistem yang bersifat swasembada; kerajaan dunia (world-empires) yang disatukan oleh satu struktur politik tunggal dan terpusat; dan ekonomi dunia (world-economies) yang terintegrasi secara ekonomi melalui pasar tetapi tidak memiliki struktur politik tunggal. Menurutnya, sistem ekonomi dunia kapitalis modern adalah sebuah world-economy yang unik karena kekuasaannya didasarkan pada mekanisme pasar, bukan hanya kekuatan militer, meskipun tetap melakukan ekstraksi barang dan jasa dari wilayah pinggiran.

2.2. Pembagian Kerja Global Trikutub

Inti dari Teori Sistem Dunia adalah konsep pembagian dunia menjadi tiga zona utama berdasarkan peran mereka dalam pembagian kerja global. Pembagian ini tidak statis, dan negara-negara dapat mengalami mobilitas, baik naik maupun turun.

  • Negara Inti (Core): Negara-negara ini berfokus pada produksi yang padat modal dan teknologi tinggi. Mereka mendominasi perdagangan, keuangan, dan industri global, serta memiliki pemerintahan pusat, birokrasi, dan militer yang kuat. Negara-negara inti mendapatkan keuntungan terbesar dari sistem ekonomi kapitalis dunia dengan mengeksploitasi negara-negara periferi dan semiperiferi. Contohnya termasuk Amerika Serikat, Jepang, Inggris, dan Prancis.
  • Negara Periferi (Periphery): Negara-negara ini berfokus pada produksi padat karya dan menyediakan bahan mentah, tenaga kerja murah, serta komoditas pertanian untuk industri di negara inti. Ciri-ciri mereka termasuk industri yang terbelakang, ketergantungan struktural pada negara inti, dan sering kali hidup dalam situasi kemiskinan. Surplus modal yang dihasilkan di wilayah ini sebagian besar ditransfer ke negara inti melalui hubungan perdagangan yang tidak setara.
  • Negara Semiperiferi (Semi-Periphery): Negara-negara ini menempati posisi intermediet yang bertindak sebagai zona penyangga antara inti dan periferi. Mereka memiliki campuran karakteristik inti dan periferi, di mana mereka dieksploitasi oleh negara inti tetapi pada saat yang sama juga berpartisipasi dalam mengeksploitasi negara periferi. Posisi ini adalah yang paling dinamis dan sering mengalami pergerakan naik atau turun dalam hierarki sistem dunia. Contoh kontemporer termasuk Indonesia, Brasil, Spanyol, dan Portugal.

Konsep semi-periferi tidak hanya sekadar pelengkap pada Teori Dependensi, melainkan sebuah mekanisme vital yang menjelaskan stabilitas dan dinamika sistem secara keseluruhan. Keberadaan kelompok negara "kelas menengah" ini memiliki dua fungsi krusial: pertama, ia meredam konflik. Dengan memiliki kelompok negara yang berada di tengah-tengah, yang baik mengeksploitasi maupun dieksploitasi, hal ini mengurai ketegangan politik yang seharusnya terjadi antara kelompok inti dan pinggiran. Kedua, ia memfasilitasi mobilitas. Posisi semi-periferi menawarkan kemungkinan (meski terbatas) untuk naik kelas, yang berfungsi sebagai alat ideologis yang kuat untuk menunjukkan bahwa sistem ini tidak sepenuhnya kaku dan menawarkan harapan untuk pembangunan nasional. Peran ganda ini—sebagai penstabil politik dan wadah perubahan yang terbatasi—adalah ciri khas utama yang membedakan karya Wallerstein.

Tabel berikut menyajikan perbandingan yang lebih jelas antara karakteristik ketiga zona tersebut:

Tabel 1: Perbandingan Karakteristik Negara Inti, Semiperiferi, dan Periferi

Perbandingan Karakteristik Negara Inti, Semiperiferi, dan Periferi

2.3. Mekanisme Eksploitasi: Transfer Surplus Ekonomi

Motor penggerak utama dari sistem dunia kapitalis adalah akumulasi modal yang terus-menerus dan transfer surplus dari wilayah periferi ke inti. Wallerstein tidak mendefinisikan surplus dalam pengertian ekonomi konvensional, melainkan sebagai nilai lebih yang diekstrak dari tenaga kerja dan sumber daya di periferi. Eksploitasi ini tidak terjadi melalui penguasaan teritorial secara langsung seperti pada masa kekaisaran, tetapi melalui hubungan perdagangan yang tidak setara. Wallerstein menyoroti bagaimana praktik kerja paksa, seperti perbudakan penduduk asli dan impor budak Afrika, memungkinkan ekspor bahan baku dengan harga murah ke negara-negara inti, sehingga menciptakan aliran surplus yang menguntungkan inti dan memperkuat hierarki global.

Bab III: Formasi Historis: Asal-Usul Ekonomi Dunia-Kapitalis Abad ke-16

3.1. Prasyarat Abad Pertengahan

Wallerstein mengidentifikasi bahwa asal-usul ekonomi dunia-kapitalis modern tidak dapat dipisahkan dari kondisi Eropa pada abad ke-15. Periode ini ditandai dengan krisis sistem feodal yang mendorong negara-negara Eropa untuk mencari sumber daya, bahan baku, dan pasar baru di luar batas-batas geografisnya. Krisis ini menjadi dorongan utama bagi penjelajahan dan ekspansi Eropa yang dimulai pada abad ke-16.

3.2. Transformasi Agraria dan Pembagian Kerja Baru (c. 1450-1640)

Inti dari Jilid I buku ini adalah analisis Wallerstein tentang proses historis yang membentuk ekonomi dunia-kapitalis antara tahun 1450 dan 1640. Proses-proses ini mencakup komersialisasi pertanian, ekspansi geografis yang masif, dan pembentukan sistem kerja paksa di wilayah periferi, seperti perbudakan di Amerika dan kerja paksa di Eropa Timur. Melalui ekspansi ini, tercipta sebuah pembagian kerja teritorial global yang permanen. Wilayah-wilayah seperti Eropa Barat (Inggris, Belanda, Prancis) menjadi inti yang berfokus pada industri dan perdagangan, sementara wilayah lain, seperti sebagian besar Amerika dan Eropa Timur, didorong untuk menjadi periferi yang hanya menyediakan bahan mentah dan tenaga kerja murah.

Sebagian besar narasi historis tentang "Kebangkitan Barat" berpusat pada pertanyaan "mengapa" dan mengaitkannya dengan karakteristik inheren orang Eropa, seperti budaya, agama, atau inovasi. Namun, Wallerstein secara sengaja menghindari pertanyaan ini karena ia menganggapnya rawan prasangka. Sebaliknya, ia berfokus pada pertanyaan "kapan": momen historis yang tepat (abad ke-16) ketika serangkaian keadaan yang spesifik—krisis feodalisme, ekspansi geografis, dan perkembangan hubungan perdagangan yang tidak setara—menyebabkan terbentuknya sistem dunia-kapitalis. Pergeseran dari "mengapa" ke "kapan" ini adalah kontribusi metodologis yang fundamental, yang membingkai ulang Kebangkitan Barat bukan sebagai hasil alami dari superioritas, tetapi sebagai hasil kontingen dari proses historis tertentu yang menciptakan sistem hubungan hierarkis dan eksploitatif.

3.3. Peran Negara-Bangsa dan Monarki Absolut

Wallerstein juga menganalisis peran krusial institusi politik, khususnya negara-bangsa dan monarki absolut, dalam menopang dan memperkuat sistem ekonomi dunia-kapitalis yang baru terbentuk. Ia menjelaskan bagaimana negara-negara di wilayah inti mengembangkan birokrasi dan militer yang kuat untuk melindungi kepentingan ekonomi, mengendalikan tenaga kerja, dan mendominasi persaingan antar-negara di dalam sistem tersebut. Institusi politik ini berfungsi untuk mengamankan dan mengukuhkan struktur pembagian kerja yang tidak setara.

Bab IV: Kritik dan Debat Akademik terhadap Teori Wallerstein

4.1. Kritik Eurosentrisme

Salah satu kritik utama terhadap teori Wallerstein adalah bahwa, meskipun berupaya menyoroti ketidaksetaraan global, narasi historisnya masih berpusat pada pengalaman Eropa. Penulisannya diklaim berlandaskan pada asumsi sejarah Eropa yang kemudian digeneralisasi ke seluruh dunia. Wallerstein sendiri menanggapi kritik ini dengan pengakuan yang bernuansa. Ia menyatakan bahwa ilmu sosial, sebagai produk dari sistem dunia modern itu sendiri, secara institusional memang "Eurosentris". Ia melihat ini sebagai dilema yang tak terhindarkan dari disiplin ilmu tersebut, bukan sebagai kelemahan unik dari teorinya. Hingga tahun 1945, sebagian besar ilmuwan sosial bahkan terkonsentrasi di lima negara: Prancis, Inggris, Jerman, Italia, dan Amerika Serikat, sehingga wajar jika teorinya mencerminkan asal-usulnya.

4.2. Kritik Determinisme Ekonomi dan Peran Agen Lokal

Teori Sistem Dunia juga dikritik sebagai teori yang terlalu "ekonomistik" karena mereduksi realitas sosial yang kompleks menjadi satu konsep tunggal, yaitu sistem ekonomi. Kritik ini berpendapat bahwa pendekatan Wallerstein mengabaikan inisiatif masyarakat lokal, tradisi, nilai-nilai, dan faktor-faktor non-ekonomi lainnya yang dapat memengaruhi perkembangan suatu negara. Argumen ini menunjukkan bahwa model sistem tunggal yang komprehensif mungkin tidak sepenuhnya efektif dalam menganalisis dinamika lokal. Hal ini menyiratkan bahwa kekuatan dan keputusan di tingkat lokal bukan hanya ditentukan oleh struktur global, tetapi juga mampu menantang atau bahkan mengubahnya. Dengan mengakui bahwa teorinya terlalu luas dan tidak efektif dalam menganalisis dinamika lokal, Wallerstein menyiratkan adanya ketegangan antara pandangan makro-strukturalnya dan realitas agensi di tingkat mikro. Ketegangan ini menjadi poin penting dalam perdebatan akademis yang berlanjut.

4.3. Perbandingan dan Perbedaan dengan Teori Dependensi

Seperti yang telah diuraikan sebelumnya, Teori Sistem Dunia Wallerstein adalah kelanjutan dan penyempurnaan dari Teori Dependensi, bukan sekadar pengulangan. Teori Dependensi klasik sering kali menggunakan model dikotomis pusat-pinggiran, yang kurang mampu menjelaskan keragaman pengalaman pembangunan di negara-negara berkembang. Sebaliknya, model trikutub Wallerstein (inti-semiperiferi-periferi) memberikan fleksibilitas teoretis yang jauh lebih besar. Model ini secara eksplisit menjelaskan mengapa mobilitas naik dan turun itu mungkin terjadi, dan mengapa negara-negara tertentu dapat meningkatkan posisinya di dalam sistem tanpa harus mengubah hierarki strukturalnya secara fundamental.

Bab V: Relevansi Kontemporer dan Warisan Intelektual

5.1. Teori Sistem Dunia dalam Konteks Globalisasi

Teori Wallerstein menawarkan kerangka kerja yang sangat relevan untuk memahami fenomena kontemporer yang disebut "globalisasi". Alih-alih melihat globalisasi sebagai fenomena baru yang muncul secara tiba-tiba, teori ini menafsirkannya sebagai fase lanjutan dari evolusi sistem ekonomi dunia-kapitalis yang telah berlangsung sejak abad ke-16. Globalisasi, dalam pandangan ini, hanyalah manifestasi terbaru dari proses akumulasi modal dan integrasi pasar yang berlanjut di bawah hierarki struktural inti-periferi yang sama.

5.2. Mobilitas dan Strategi Negara

Wallerstein merumuskan beberapa strategi yang dapat ditempuh negara-negara untuk mencoba "naik kelas" dari posisi periferi ke semiperiferi. Strategi ini mencakup industrialisasi substitusi impor, menarik investasi langsung dari perusahaan multinasional (MNC), dan menasionalisasi perusahaan asing. Keberhasilan beberapa negara di Asia Timur, seperti Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan, dapat dilihat sebagai contoh dari dinamika ini.

Kenaikan kelas yang dialami oleh beberapa negara semi-periferi tidak dapat dianggap sebagai bukti yang membantah teori Wallerstein. Justru sebaliknya, hal ini memperkuatnya. Teori Wallerstein secara unik mencakup mobilitas naik dan turun. Keberhasilan negara-negara ini sering kali difasilitasi oleh kombinasi strategi yang diidentifikasi oleh Wallerstein, seperti industrialisasi substitusi impor dan daya tarik investasi asing. Selain itu, kebangkitan mereka terjadi di dalam konteks sistem kapitalis global yang stabil, dan hal ini tidak menghancurkan dominasi negara inti; negara inti hanya menggeser pola produksi dan investasinya. Dengan demikian, keberhasilan mereka berfungsi sebagai ilustrasi sempurna dari bagaimana sebuah negara dapat menavigasi batasan struktural dari sistem dunia, yang justru memperkuat kekuatan penjelasan teori itu sendiri.

5.3. Diskusi tentang Perjuangan Kelas Global

Dalam analisisnya, Wallerstein mengajukan tesis yang lebih radikal tentang perlunya perjuangan kelas berskala nasional digantikan dengan perjuangan berskala dunia. Ia berpendapat bahwa kebijakan pembangunan nasional, yang sering kali dilihat sebagai solusi, justru bisa "merusak" sistem dan tidak efektif dalam mencapai keadilan ekonomi dan politik yang sesungguhnya. Hal ini terjadi karena strategi pertahanan surplus ekonomi yang dilakukan oleh produsen di setiap negara sering kali berbeda dengan perjuangan kelas yang berskala nasional, yang pada akhirnya membatasi potensi perubahan fundamental.

Bab VI: Kesimpulan

The Modern World-System karya Immanuel Wallerstein merupakan salah satu karya paling berpengaruh dalam ilmu sosial. Kontribusinya yang monumental mencakup pergeseran unit analisis dari negara-bangsa ke sistem dunia, formulasi konsep trikutub (inti, semiperiferi, dan periferi), dan analisis historis yang mendalam tentang pembentukan sistem kapitalis global pada abad ke-16. Teorinya berhasil memberikan penjelasan yang kuat dan koheren mengenai asal-usul dan persistensi ketidaksetaraan global.

Meskipun menghadapi kritik yang signifikan, terutama terkait Eurosentrisme dan determinisme ekonomi, Wallerstein sendiri telah menanggapi batasan-batasan ini. Teori ini tetap relevan dan penting untuk memahami dinamika dunia kontemporer, termasuk fenomena globalisasi dan pergerakan negara-negara dalam hierarki ekonomi global. Warisannya terus menjadi landasan fundamental dalam studi sosiologi, ekonomi, sejarah, dan hubungan internasional, yang menyediakan kerangka kerja yang tak tergantikan untuk memahami kompleksitas dan ketidakadilan yang melekat dalam tatanan dunia modern.

Karya yang dikutip

Bengkel Narasi. (2025, Januari 29). Teori sistem dunia (World Systems Theory) karya Immanuel Wallerstein. https://bengkelnarasi.com/2025/01/29/teori-sistem-dunia-world-systems-theory-karya-immanuel-wallerstein/

Blog UNNES. (2015, November 19). Teori sistem dunia Immanuel Wallerstein. https://blog.unnes.ac.id/rimaayur/2015/11/19/teori-sistem-dunia-immanuel-wallerstein/

DergiPark. (n.d.). An appraisal of the chronology problem in the “Rise of the West” question. https://dergipark.org.tr/tr/download/article-file/73835

Falsafah Kita. (n.d.). Immanuel Wallerstein dan analisis sistem dunia. https://falsafahkita.wordpress.com/immanuel-wallerstein-dan-analisis-sistem-dunia/

Goodreads. (2025, September 12). The modern world-system I: Capitalist agriculture and the origins of European world-economy in the 16th century. https://www.goodreads.com/book/show/54922.The_Modern_World_System_I

Gramedia Literasi. (n.d.). Surplus adalah: Pengertian hingga jenis-jenisnya. https://www.gramedia.com/literasi/surplus/

Immanuel Wallerstein. (2025, September 12). In Wikipedia. https://en.wikipedia.org/wiki/Immanuel_Wallerstein

Jurnal Tekstil. (n.d.). Teori World System dan pemenuhan tenaga kerja kompeten [PDF]. https://jute.ak-tekstilsolo.ac.id/index.php/jurnal/article/download/13/9/31

Kompasiana.com. (n.d.). COP 28: Mandegnya transformasi sistem pangan, saatnya Indonesia rehat dari World System Theory (Hal. 4). https://www.kompasiana.com/repakustipia/658c5109c57afb4d9e724162/cop-28-mandegnya-transformasi-sistem-pangan-saatnya-indonesia-rehat-dari-world-system-theory?page=4&page_images=4

Kumparan.com. (n.d.). Pengertian teori sistem dunia sosiologi dan contohnya. https://kumparan.com/sejarah-dan-sosial/pengertian-teori-sistem-dunia-sosiologi-dan-contohnya-21MP45eA1aA

Pintu Blog. (n.d.). Apa itu surplus dalam ekonomi? https://pintu.co.id/blog/apa-itu-surplus-dalam-ekonomi

Ruangguru. (n.d.). Pengertian globalisasi, ciri, bentuk, teori, contoh & proses. https://www.ruangguru.com/blog/apa-itu-globalisasi-sosiologi-kelas-12

Scribd. (n.d.). Immanuel Wallerstein: Teori sistem dunia [PDF]. https://id.scribd.com/document/668834643/Immanuel-Wallerstein-Teori-Sistem-Dunia

SlideShare. (n.d.). Teori sistem dunia [PPTX]. https://www.slideshare.net/slideshow/teori-sistem-dunia/51546151

Teori sistem dunia. (2025, September 12). In Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas. https://id.wikipedia.org/wiki/Teori_sistem_dunia

Universitas Negeri Jakarta. (n.d.). Geografi, geopolitik, dan globalisasi: Suatu … [PDF]. https://journal.unj.ac.id/unj/index.php/spatial/article/download/2290/1773/3373

Wallerstein, I. (1974). The modern world-system I: Capitalist agriculture and the origins of the European world-economy in the sixteenth century. New York, NY: Academic Press.

Wallerstein, I. (1974). The modern world-system I [Book]. University of California Press. https://www.ucpress.edu/book/9780520267572/the-modern-world-system-i

Wallerstein, I. (1980). The modern world-system II: Mercantilism and the consolidation of the European world-economy, 1600–1750. New York, NY: Academic Press.

Wallerstein, I. (1989). The modern world-system III: The second era of great expansion of the capitalist world-economy, 1730s–1840s. San Diego, CA: Academic Press.

Wallerstein, I. (2011). The modern world-system IV: Centrist liberalism triumphant, 1789–1914. Berkeley, CA: University of California Press.

Wallerstein, I. (Ed.). (2016). The modern world-system in the longue durée. London, UK: Routledge.

Wallerstein, I. (n.d.). Eurocentrism and its avatars: The dilemmas of social science. https://iwallerstein.com/eurocentrism-and-its-avatars-the-dilemmas-of-social-science/

Aletheia Rabbani
Aletheia Rabbani “Barang siapa yang tidak mampu menahan lelahnya belajar, maka ia harus mampu menahan perihnya kebodohan” _ Imam As-Syafi’i

Post a Comment