Quiet Firing dalam Kapitalisme Kontemporer: Analisis Sosiologis Kritis tentang Hegemoni Senyap di Dunia Kerja
Fenomena quiet firing atau pemecatan senyap telah muncul sebagai salah satu dinamika kekuasaan yang paling merusak dalam dunia kerja kontemporer, beroperasi dalam bayang-bayang struktur organisasi modern yang sering kali diklaim sebagai inklusif dan demokratis. Secara konseptual, quiet firing merujuk pada strategi pasif-agresif yang dilakukan oleh pemberi kerja atau manajemen untuk membuat lingkungan kerja menjadi begitu tidak nyaman, tidak dihargai, atau tidak mendukung sehingga karyawan merasa tidak memiliki pilihan lain selain mengundurkan diri secara sukarela. Praktik ini merupakan bentuk disfungsi manajerial yang disengaja, di mana otoritas tidak lagi digunakan untuk memutus hubungan kerja secara formal, melainkan untuk menginduksi pengungsian subjek pekerja dari arena profesionalnya sendiri guna menghindari konsekuensi finansial, legal, dan reputasi yang menyertai pemutusan hubungan kerja (PHK) tradisional.
Dalam lanskap ketenagakerjaan yang semakin terfragmentasi oleh pengaruh neoliberalisme, quiet firing menjadi mekanisme krusial bagi organisasi untuk membuang "modal manusia" yang dianggap tidak lagi memberikan surplus nilai tanpa harus menghadapi hambatan birokrasi atau tuntutan hukum yang mahal. Perbedaan mendasar antara quiet firing dengan praktik ketenagakerjaan lainnya terletak pada agensi dan arah tekanannya. Sementara PHK adalah tindakan administratif eksplisit dan quiet quitting adalah bentuk resistensi pasif dari sisi pekerja, quiet firing adalah penggunaan kekuasaan organisasi secara implisit untuk menghancurkan posisi subjektif pekerja.
Taksonomi dan Demarkasi Fenomena Kerja Kontemporer
Untuk membedah quiet firing secara mendalam, perlu dilakukan pemetaan yang jelas terhadap berbagai fenomena yang sering kali dikacaukan dalam wacana publik. Tabel berikut menyajikan perbandingan struktural antara quiet firing, quiet quitting, constructive dismissal, dan PHK konvensional berdasarkan indikator relasi kuasa dan implikasi hukumnya.
Konteks Sosio-Ekonomi: Neoliberalisme dan Prekaritas Post-Pandemi
Munculnya quiet firing sebagai tren yang dominan tidak dapat dipisahkan dari transformasi ekonomi global yang dicirikan oleh fleksibilitas tenaga kerja yang ekstrem dan erosi jaring pengaman sosial. Neoliberalisme telah menggantikan model hubungan kerja jangka panjang yang stabil dengan model yang transaksional dan prekar (rentan). Dalam konteks ini, pekerja tidak lagi dipandang sebagai bagian integral dari komunitas organisasi, melainkan sebagai aset yang dapat dibuang (disposable) segera setelah rasio biaya-manfaatnya dianggap merugikan perusahaan.
Pasca-pandemi COVID-19, dinamika ini semakin intensif. Fenomena "Great Resignation" yang ditandai dengan pengunduran diri massal pekerja untuk mencari keseimbangan hidup, sering kali direspons oleh kelas penguasa (kapitalis) dengan ketakutan akan hilangnya kontrol atas disiplin tubuh pekerja. Sebagai reaksi balik, organisasi menggunakan quiet firing sebagai instrumen untuk menegaskan kembali dominasi manajerial. Laporan menunjukkan bahwa ketika pasar tenaga kerja mendingin, pemberi kerja menggunakan taktik pengabaian untuk memaksa pekerja yang "vokal" atau "mahal" keluar tanpa harus memberikan kompensasi yang layak.
Budaya organisasi yang memuja "hustle culture" dan produktivitas toksik juga memberikan legitimasi moral bagi quiet firing. Pekerja yang tidak mampu atau tidak mau mengikuti ritme kerja yang tidak manusiawi sering kali diberi label sebagai "tidak cocok secara budaya" (culture misfit). Label ini kemudian menjadi pembenaran bagi manajer untuk menarik dukungan, menghentikan bimbingan, dan mengisolasi pekerja tersebut dari proyek-proyek penting, sebuah proses yang sering kali disebut sebagai upaya "membersihkan" organisasi dari elemen-elemen yang dianggap menghambat pertumbuhan.
Analisis Kekuasaan Disipliner dan Biopower (Michel Foucault)
Dalam kerangka berpikir Michel Foucault, quiet firing adalah manifestasi canggih dari kekuasaan disipliner yang telah bergeser dari kekuasaan berdaulat yang bersifat menghukum menjadi kekuasaan yang bersifat menormalkan. Jika PHK formal adalah tindakan kedaulatan di mana organisasi "memenggal" hubungan kerja secara eksplisit, maka quiet firing bekerja melalui mekanisme "mikro-fisika kekuasaan" yang halus namun omnipresen.
Panoptisisme dan Pengawasan dalam Senyap
Kekuasaan disipliner dalam quiet firing beroperasi melalui prinsip Panopticon, di mana pekerja ditempatkan dalam kondisi visibilitas permanen namun tanpa interaksi yang mengakui. Dalam kantor modern, ini terwujud dalam penggunaan alat manajemen kinerja digital yang melacak setiap detik aktivitas pekerja, namun manajemen secara sengaja menahan umpan balik yang konstruktif. Pekerja merasa diawasi oleh "tatapan" (gaze) organisasi yang dingin, yang mengukur kegagalan mereka tanpa memberikan sarana untuk perbaikan.
Ketidakhadiran komunikasi manajerial adalah bentuk pengawasan terbalik. Dengan tidak diundang ke rapat atau tidak diberi instruksi yang jelas, pekerja dipaksa untuk terus-menerus menafsirkan keheningan tersebut sebagai ancaman. Ketidakpastian ini menciptakan subjek yang "jinak" (docile bodies) yang mencoba mendisiplinkan diri mereka sendiri lebih keras lagi, bekerja lebih lama, dan menjadi lebih patuh dengan harapan mendapatkan kembali pengakuan yang sebenarnya telah secara sistematis ditarik.
Normalisasi Judgement dan Pemeriksaan sebagai Aparatus Penyingkiran
Foucault mengidentifikasi tiga instrumen utama kekuasaan disipliner: pengawasan hierarkis, normalisasi penilaian, dan pemeriksaan. Dalam praktik quiet firing, instrumen-instrumen ini digunakan untuk mengonstruksi pekerja sebagai "kasus" yang abnormal.
1. Normalisasi Penilaian: Organisasi menetapkan standar perilaku "pekerja ideal" yang sering kali tidak realistis. Pekerja yang memiliki tanggung jawab keluarga atau masalah kesehatan mental segera dikategorikan sebagai menyimpang dari norma produktivitas.
2. Pemeriksaan (Examination): Sistem penilaian kinerja tahunan atau bulanan diubah menjadi ritual yang mempermalukan. Bukannya menjadi alat pengembangan, pemeriksaan ini digunakan untuk mendokumentasikan "kegagalan" pekerja secara formal untuk membangun dasar bagi peminggiran mereka.
3. Homogenisasi: Proses pendisiplinan bertujuan untuk membuat tenaga kerja menjadi homogen. Mereka yang mempertahankan individualitas atau integritas profesional yang bertentangan dengan kemauan manajemen akan "diukur" dan kemudian "dibuang" melalui proses normalisasi yang kejam.
Biopower: Mengelola Kematian Profesional
Konsep biopower atau biokekuasaan menjelaskan bagaimana kekuasaan modern mengelola populasi dengan cara "membuat hidup atau membiarkan mati". Quiet firing adalah praktik biopolitik yang secara harfiah "membiarkan mati" karier seorang pekerja. Manajemen tidak membunuh kontrak kerja secara instan, melainkan menarik "nutrisi" profesional—seperti akses informasi, modal sosial, dan kesempatan pengembangan—sehingga eksistensi profesional pekerja tersebut layu dengan sendirinya. Ini adalah teknologi kekuasaan yang bertujuan untuk mengelola populasi tenaga kerja agar tetap "bersih" dari elemen yang dianggap tidak produktif tanpa memicu gejolak sosial yang menyertai tindakan kekerasan kedaulatan langsung.
Kekerasan Simbolik dan Arena Kapital (Pierre Bourdieu)
Pendekatan Pierre Bourdieu memberikan wawasan tentang bagaimana dominasi dalam quiet firing dilegitimasi sehingga sering kali diterima oleh korbannya sebagai konsekuensi logis dari kegagalan pribadi mereka sendiri. Hal ini dicapai melalui apa yang disebut sebagai kekerasan simbolik.
Kekerasan Simbolik dan Komplisitas Korban
Kekerasan simbolik adalah bentuk kekuasaan yang dilakukan terhadap agen sosial dengan komplisitas mereka. Dalam quiet firing, kekerasan ini terjadi ketika pekerja mulai menginternalisasi kategori persepsi manajemen. Ketika mereka dikucilkan, mereka tidak melihatnya sebagai strategi kekuasaan, melainkan sebagai bukti bahwa mereka memang "kurang kompeten" atau "tidak cocok". Dominasi ini menjadi efektif karena ia disamarkan sebagai tatanan hal yang alami atau "kebutuhan bisnis".
Struktur organisasi modern berfungsi sebagai arena (field) di mana berbagai modal diperebutkan. Quiet firing sering kali menargetkan individu yang memiliki ketidaksesuaian habitus—disposisi mental dan sosial—dengan budaya dominan organisasi. Misalnya, seorang pekerja dari latar belakang kelas pekerja atau kelompok minoritas mungkin memiliki modal budaya yang berbeda dari elit manajerial, yang menyebabkan mereka lebih rentan terhadap pengucilan simbolik.
Devaluasi Modal dan Histeresis Habitus
Dalam proses quiet firing, organisasi melakukan devaluasi sistematis terhadap modal yang dimiliki pekerja:
- Modal Sosial: Akses pekerja terhadap jaringan informasi dan mentor diputus, membuat mereka terisolasi secara sosial di dalam organisasi.
- Modal Budaya: Keahlian dan cara kerja pekerja dianggap tidak lagi relevan atau ketinggalan zaman melalui narasi "inovasi" yang dipaksakan.
- Modal Simbolik: Reputasi pekerja dihancurkan melalui rumor atau komentar merendahkan dari atasan, yang sering kali dilakukan di "panggung belakang" organisasi.
Fenomena ini menciptakan kondisi yang disebut Bourdieu sebagai hysteresis—di mana habitus pekerja tidak lagi selaras dengan tuntutan arena yang telah berubah secara sengaja oleh manajemen untuk menyingkirkan mereka. Akibatnya, pekerja merasa asing di tempat yang dulunya akrab, sebuah penderitaan sosial yang mendalam yang sering kali berujung pada pengunduran diri sebagai cara untuk menyelamatkan sisa-sisa harga diri.
Teori Konflik, Eksploitasi, dan Alienasi (Karl Marx & Neo-Marxis)
Dari perspektif Marxis, quiet firing bukanlah sekadar masalah gaya kepemimpinan, melainkan alat strategis dalam perjuangan kelas di tempat kerja. Di bawah struktur kapitalisme kontemporer, tenaga kerja sepenuhnya dikomodifikasi dan surplus nilai diperas melalui efisiensi yang sering kali kejam.
Efisiensi sebagai Kedok Eksploitasi
Dalam logika kapitalis, memecat pekerja secara formal adalah pengeluaran yang tidak produktif (biaya pesangon, biaya hukum, risiko reputasi). Quiet firing adalah solusi "efisien" yang mentransfer seluruh beban biaya pemutusan hubungan kerja kepada pekerja. Dengan membuat pekerja mengundurkan diri, perusahaan mempertahankan modal ekonominya sambil menghancurkan kehidupan pekerja tersebut. Ini adalah bentuk eksploitasi di mana kesehatan mental dan masa depan ekonomi pekerja dikorbankan demi menjaga akumulasi modal.
Kedalaman Alienasi dalam Pengucilan
Quiet firing memperparah empat dimensi alienasi yang diidentifikasi Marx, menciptakan pengalaman subjektif yang sangat destruktif bagi pekerja:
1. Alienasi dari Hasil Kerja: Target quiet firing sering kali diberi tugas-tugas sepele atau "pekerjaan sampah" yang tidak memiliki makna atau dampak. Hasil kerja mereka menjadi asing bagi identitas profesional mereka.
2. Alienasi dari Proses Kerja: Kerja tidak lagi menjadi sarana realisasi diri, melainkan beban yang menindas. Pekerja kehilangan kontrol atas waktu dan ritme kerja mereka karena instruksi yang sengaja dibuat tidak jelas atau beban kerja yang mustahil.
3. Alienasi dari Sesama Pekerja: Struktur kapitalis mendorong persaingan, namun quiet firing menciptakan isolasi total. Rekan kerja sering kali menjauhkan diri dari korban untuk menghindari "noda" kegagalan, menghancurkan solidaritas kelas di tingkat mikro.
4. Alienasi dari Esensi Kemanusiaan: Pekerja diperlakukan bukan sebagai subjek manusia yang memiliki aspirasi, melainkan sebagai "sekrup" yang aus dalam mesin produksi yang bisa dibuang tanpa perasaan.
Narasi neoliberal tentang "tanggung jawab individu" digunakan untuk menutupi alienasi ini. Kegagalan pekerja untuk bertahan dalam lingkungan yang toksik dibingkai sebagai kegagalan pribadi dalam "beradaptasi," sebuah kebohongan ideologis yang memperkuat kekuatan kelas pemberi kerja.
Interaksionisme Simbolik dan Dramaturgi Pengucilan (Erving Goffman)
Analisis tingkat mikro melalui lensa Erving Goffman memungkinkan kita melihat bagaimana quiet firing dipentaskan melalui interaksi sehari-hari yang merusak identitas sosial pekerja.
Manajemen Wajah dan Mikro-agresi
Goffman berpendapat bahwa interaksi sosial adalah panggung di mana kita terus-menerus melakukan "manajemen wajah" untuk mempertahankan citra diri yang positif. Quiet firing adalah serangan sistematis terhadap "wajah" profesional pekerja. Hal ini dilakukan melalui bahasa implisit dan tindakan non-verbal: tidak membalas sapaan, memutar mata saat pekerja berbicara di rapat, atau memberikan instruksi melalui pihak ketiga untuk merendahkan otoritas pekerja tersebut.
Pekerja yang menjadi target dipaksa untuk terus "tampil" di panggung depan organisasi sementara mereka tahu bahwa di "panggung belakang," manajer telah memutuskan untuk menyingkirkan mereka. Ketegangan dramaturgis ini menyebabkan kelelahan emosional yang luar biasa, karena pekerja harus menutupi rasa malu dan ketidakpastian mereka di depan rekan kerja yang mungkin sudah mengetahui nasib mereka.
Stigma dan Kematian Sosial
Konsep "stigma" Goffman menjelaskan bagaimana atribut tertentu digunakan untuk mendiskreditkan individu secara total. Dalam quiet firing, label "berkinerja buruk" atau "tidak kooperatif" menjadi stigma yang melekat pada identitas pekerja. Stigma ini berfungsi sebagai alat pengatur sosial yang mempertahankan hierarki kekuasaan dengan menjauhkan mereka yang dianggap tidak layak dari pusat interaksi organisasi.
Temuan Riset Empiris: Skala dan Manifestasi Global
Data empiris dari berbagai lembaga riset organisasi mengonfirmasi bahwa quiet firing bukanlah fenomena marjinal, melainkan praktik yang meluas dengan dampak ekonomi yang signifikan.
Statistik Keterlibatan dan Dampak Ekonomi
Laporan Gallup dan McKinsey (2024-2025) menunjukkan tingkat disengagemen karyawan yang mencapai rekor tertinggi, yang sebagian besar didorong oleh persepsi ketidakadilan manajerial dan kurangnya dukungan.
Studi Kasus Sektoral: IT, Penerbangan, dan Pendidikan
Penelitian di sektor-sektor spesifik mengungkap dinamika quiet firing yang lebih mendetail:
- Sektor IT: Di organisasi yang intensif pengetahuan, ostrasisme tempat kerja digunakan untuk menekan pekerja agar melakukan "penyembunyian pengetahuan" (knowledge hiding), yang kemudian digunakan sebagai alasan untuk meminggirkan mereka secara teknis.
- Sektor Penerbangan: Studi tentang keadilan organisasi menunjukkan bahwa persepsi ketidakadilan menyebabkan hilangnya rasa "kepemilikan psikologis" pekerja, yang membuat mereka lebih mudah menjadi sasaran quiet firing oleh manajemen yang mencari efisiensi biaya operasional.
- Sektor Pendidikan Tinggi: Penggunaan sistem manajemen kinerja (PMS) yang terinspirasi neoliberal di universitas telah mengubah akademisi menjadi "kasus" yang harus diawasi. Mereka yang tidak memenuhi metrik publikasi yang agresif sering kali mengalami quiet firing melalui penambahan beban administratif yang luar biasa sehingga mereka tidak punya waktu untuk riset, memaksa mereka keluar dari jalur karier akademik.
Dampak Psikologis, Sosial, dan Struktural terhadap Pekerja
Dampak dari quiet firing bersifat korosif dan multidimensional, menyerang integritas individu serta kohesi sosial masyarakat luas.
Erosi Kesehatan Mental dan Harga Diri
Pekerja yang mengalami quiet firing sering kali menderita gangguan stres pascatrauma (PTSD) kompleks yang terkait dengan pekerjaan. Sifat serangan yang tidak terlihat membuat korban meragukan realitas mereka sendiri (gaslighting), yang berujung pada kecemasan kronis, depresi, dan hilangnya kepercayaan pada otoritas profesional. Internalisasi stigma "gagal" dapat menghancurkan kemampuan individu untuk memasarkan diri mereka di masa depan, menciptakan luka karier yang permanen.
Dampak Sosial: Ostrasisme dan Penghancuran Solidaritas
Secara sosial, quiet firing menciptakan lingkungan kerja yang paranoid. Ketika satu orang dikucilkan, orang lain belajar bahwa keamanan mereka bergantung pada jarak sosial mereka dari sang "pesakitan". Hal ini menghancurkan modal sosial kolektif pekerja dan melemahkan kemampuan mereka untuk berorganisasi atau menuntut hak-hak mereka secara bersama-sama. Ostrasisme ini juga meluas ke luar kantor, di mana stres kerja merusak hubungan keluarga dan partisipasi komunitas.
Dampak Struktural: Normalisasi Prekaritas
Secara struktural, prevalensi quiet firing menormalkan gagasan bahwa pekerja adalah komponen yang sepenuhnya bisa dibuang tanpa tanggung jawab moral dari pemberi kerja. Hal ini menurunkan standar etika kerja di seluruh industri dan menciptakan perlombaan menuju dasar (race to the bottom) dalam hal hak-hak tenaga kerja. Ketika organisasi dibiarkan melakukan pemecatan tanpa konsekuensi melalui pengabaian, prinsip kepastian hukum dalam hubungan kerja menjadi tidak berarti.
Kritik Akademik dan Teoretis terhadap Praktik Quiet Firing
Kritik terhadap quiet firing dalam literatur akademik berfokus pada beberapa poin utama:
1. Ketidakjujuran Intelektual Manajemen: Para sarjana manajemen kritis berpendapat bahwa quiet firing adalah bentuk kegagalan kepemimpinan yang pengecut. Bukannya melakukan manajemen kinerja yang jujur, manajer menggunakan manipulasi emosional untuk mencapai tujuan organisasi.
2. Pelanggaran Etika Kepedulian: Praktik ini bertentangan dengan prinsip etika kepedulian (ethics of care) dalam organisasi, yang seharusnya memandang kesejahteraan pekerja sebagai tujuan itu sendiri, bukan sekadar alat produktivitas.
3. Inefisiensi Sistemik Kapitalisme: Meskipun tampak menguntungkan bagi satu perusahaan, secara sistemik quiet firing merusak kualitas tenaga kerja global dengan menciptakan populasi pekerja yang trauma dan kurang terampil karena kurangnya pengembangan berkelanjutan.
Implikasi bagi Etika Kerja, Kebijakan, dan Perlindungan Tenaga Kerja
Untuk memerangi fenomena ini, diperlukan intervensi yang melampaui perubahan perilaku individu manajer, menuju transformasi struktural dalam kebijakan tenaga kerja.
Rekomendasi Kebijakan Organisasi
Organisasi harus mengadopsi transparansi radikal dalam komunikasi manajerial. Kebijakan "tanpa kejutan" dalam penilaian kinerja harus ditegakkan, di mana setiap penurunan tanggung jawab atau perubahan peran harus didasarkan pada dialog terbuka dan terdokumentasi. Selain itu, peran Departemen Sumber Daya Manusia (HR) harus diubah dari penjaga kepentingan korporasi menjadi mediator independen yang melindungi hak subjektif pekerja dari penyalahgunaan kekuasaan manajerial.
Perlindungan Hukum dan Peran Negara
Negara harus memperluas cakupan perlindungan terhadap constructive dismissal. Beban pembuktian dalam kasus pengucilan tempat kerja harus disesuaikan agar lebih berpihak pada pekerja, dengan mengakui bahwa isolasi sosial dan penarikan sumber daya adalah bentuk pemutusan hubungan kerja de facto. Regulasi baru diperlukan untuk mewajibkan "audit kesehatan sosial" organisasi guna mendeteksi pola pengucilan sistematis terhadap kelompok minoritas atau mereka yang vokal dalam menuntut hak.
Kesimpulan: Rekonstruksi Martabat Manusia dalam Kerja
Analisis sosiologis kritis terhadap quiet firing menyingkapkan bahwa fenomena ini bukanlah sekadar masalah komunikasi yang buruk, melainkan teknologi kekuasaan yang berfungsi di jantung kapitalisme kontemporer untuk mendisiplinkan, menstigmatisasi, dan akhirnya membuang subjek manusia demi efisiensi modal. Dengan menggunakan kerangka Foucault, Bourdieu, Marx, dan Goffman, kita dapat melihat bagaimana kekuatan struktural dan interaksi mikro bekerja sama untuk menghancurkan martabat pekerja dalam senyap.
Melawan quiet firing berarti melawan logika komodifikasi manusia secara total. Hal ini menuntut kembalinya etika kerja yang mengakui martabat subjektif pekerja sebagai nilai yang tak tertawar. Hanya melalui transparansi yang dipaksakan secara hukum, solidaritas pekerja yang kuat, dan komitmen organisasi terhadap keadilan sosial, kita dapat mengakhiri hegemoni senyap ini dan membangun dunia kerja yang benar-benar manusiawi. Masa depan kerja tidak boleh ditentukan oleh siapa yang paling mampu bertahan dalam keheningan yang menindas, melainkan oleh siapa yang mampu berkolaborasi dalam lingkungan yang menghargai keberadaan setiap individu.
Sitasi:
Academy of Management Review. (2008). Disclosure disconnects: Antecedents and consequences of disclosing invisible stigmas across life domains. https://journals.aom.org/doi/10.5465/amr.2008.27752724
Alaska Mental Health Consumer Web. (n.d.). Stigma is social death. Diakses Januari 29, 2026, dari https://www.theweb.ngo/history/Articles/StigmaisSocialDeath.htm
Asher Horowitz. (n.d.). Marx’s theory of alienation. York University. Diakses Januari 29, 2026, dari https://www.yorku.ca/horowitz/courses/lectures/35_marx_alienation.html
Barrett & Farahany. (n.d.). What is quiet firing? Is it illegal or discrimination? Diakses Januari 29, 2026, dari https://www.justiceatwork.com/what-is-quiet-firing/
Bourdieu, P. (n.d.). Pierre Bourdieu on social transformation, with particular reference to political and symbolic revolutions. ResearchGate. Diakses Januari 29, 2026, dari https://www.researchgate.net/publication/339099815
Cambridge University Press. (n.d.). Discipline. Dalam The Cambridge Foucault Lexicon. Diakses Januari 29, 2026, dari https://www.cambridge.org/core/books/cambridge-foucault-lexicon/discipline/838A447B67D2EC147B9466EEE0396803
Cambridge University Press. (n.d.). Normalization. Dalam The Cambridge Foucault Lexicon. Diakses Januari 29, 2026, dari https://www.cambridge.org/core/books/cambridge-foucault-lexicon/normalization/70C71BDAC52F379E80471A0F34F41624
Capen, T. E. (n.d.). Explaining death. Natural Hazards Center. Diakses Januari 29, 2026, dari https://hazards.colorado.edu/uploads/freeform/TheresaEdwardsCapen.pdf
CareerLink® Schuylkill County. (2023). How to prevent quiet firing. Diakses Januari 29, 2026, dari https://careerlinkpottsville.org/2023/02/28/how-to-prevent-quiet-firing/
Case Western Reserve University. (2012). The new stigma of relocated public housing residents: Challenges to social identity in mixed-income developments. https://case.edu/socialwork/nimc/sites/default/files/2018-09/McCormick_et_al-2012-City__Community.pdf
CounterPunch. (2023). On the great resignation: Interrogating the neoliberal narrative. Diakses Januari 29, 2026, dari https://www.counterpunch.org/2023/02/24/on-the-great-resignation-interrogating-the-neoliberal-narrative/
Critical Legal Thinking. (2019). Michel Foucault: Discipline. https://criticallegalthinking.com/2019/02/26/michel-foucault-discipline/
Digital Commons @ Kennesaw State University. (n.d.). Social contact theory: A framework for understanding AIDS-related stigma. Diakses Januari 29, 2026, dari https://digitalcommons.kennesaw.edu/cgi/viewcontent.cgi?article=1024&context=jpps
Emerald Publishing. (2025). The ethical dilemma of quiet quitting at work. https://www.emerald.com/ijoes/article/doi/10.1108/IJOES-03-2025-0153
ERIC. (n.d.). Foucault, governmentality and the performance. Diakses Januari 29, 2026, dari https://files.eric.ed.gov/fulltext/EJ1431177.pdf
Erving Goffman Database. (2015). Articles highlighting Erving Goffman’s symbolic interaction. https://cdclv.unlv.edu/ega/articles/si_eg_database_1977-2015.pdf
eSkill. (n.d.). Skill gap, or will gap? Inside today’s burnout economy. Diakses Januari 29, 2026, dari https://www.eskill.com/resources/blog/skill-gap-or-a-will-gap
First Monday. (n.d.). Missing women: Using a Bourdieusian approach to explore the lack of female representation in the technology industry. https://firstmonday.org/ojs/index.php/fm/article/view/13891/11746
Foucault News. (n.d.). Key concepts. Diakses Januari 29, 2026, dari https://michel-foucault.com/key-concepts/
Kahane Law Office. (n.d.). Is it quiet firing or constructive dismissal? Diakses Januari 29, 2026, dari https://kahanelaw.com/is-it-quiet-firing-or-constructive-dismissal/
MacroEdgo. (n.d.). About. Diakses Januari 29, 2026, dari https://macroedgo.com/blog-feed/about/
Matern Law Group, PC. (n.d.). What is quiet firing and is it legal? Diakses Januari 29, 2026, dari https://www.maternlawgroup.com/blog/what-is-quiet-firing-and-is-it-legal-2/
Maxill. (n.d.). Has this ever happened to you? Quiet firing explained. Diakses Januari 29, 2026, dari https://www.maxill.com/us/blog/post/quiet-firing-explained
Paychex. (n.d.). Quiet firing: Signs it’s happening and how to avoid it. Diakses Januari 29, 2026, dari https://www.paychex.com/articles/human-resources/quiet-firing
Powercube. (n.d.). Foucault: Power is everywhere. Diakses Januari 29, 2026, dari https://www.powercube.net/other-forms-of-power/foucault-power-is-everywhere/
ResearchGate. (n.d.). Sovereign power, disciplinary power and biopower. https://www.researchgate.net/publication/271936096
Samnani, A.-K., & Robertson, B. W. (2025). Motivation and workplace dynamics. Scribd. https://www.scribd.com/document/950223779
Simply Psychology. (n.d.). Marx’s theory of alienation in sociology. https://www.simplypsychology.org/marx-alienation.html
SparkNotes. (n.d.). Discipline and punish: The means of correct training. https://www.sparknotes.com/philosophy/disciplinepunish/section6/
Taggd. (2025). Quiet quitting is back in 2025: Here’s how to spot it and stop it. https://taggd.in/blogs/how-to-spot-and-stop-quiet-quitting/
Wikipedia. (n.d.). Marx’s theory of alienation. https://en.wikipedia.org/wiki/Marx%27s_theory_of_alienation
Wikipedia. (n.d.). Symbolic violence. https://en.wikipedia.org/wiki/Symbolic_violence




Post a Comment