Quiet Quitting dalam Kapitalisme Post-Industri: Dialektika Krisis Makna Kerja dan Resistensi Laten (Analisis Sosiologi Kritis)
Di bawah permukaan perilaku yang tampak pasif ini, terdapat ketegangan dialektis antara kebutuhan kapital akan produktivitas tanpa batas dan perjuangan subjek untuk mempertahankan integritas mental serta otonomi diri. Quiet quitting adalah sinyal dari retaknya janji-janji meritokrasi dan hancurnya kontrak sosial lama yang menjanjikan kemajuan karier sebagai imbalan atas pengabdian total. Tulisan ini menguraikan secara mendalam bagaimana teori-teori sosiologi klasik dan kontemporer mampu menjelaskan fenomena ini sebagai bentuk resistensi sistemik terhadap alienasi, rasionalisasi yang dehumanis, dan hegemoni budaya kerja yang eksploitatif.
Ontologi Quiet Quitting sebagai Fenomena Sosial dan Pergeseran Paradigma Kerja
Untuk memahami quiet quitting, analisis harus beranjak dari tingkat mikro-psikologis menuju tingkat makro-sosiologis. Fenomena ini tidak terjadi dalam ruang hampa, melainkan berakar pada kondisi material dan ideologis kapitalisme post-industri. Berdasarkan studi-studi terbaru, quiet quitting diidentifikasi sebagai bentuk "pengabaian pekerjaan" (job neglect) yang dilakukan dengan mengurangi keterlibatan tugas tanpa mengundurkan diri secara resmi. Hal ini menciptakan kondisi "pengangguran terselubung," di mana secara administratif seseorang tercatat sebagai pekerja, namun kontribusi nyatanya terhadap sirkulasi nilai kapital sangat dibatasi secara sengaja.
Pergeseran ini mencerminkan perubahan paradigma di mana pekerjaan tidak lagi dipandang sebagai pusat gravitasi identitas diri atau sarana utama aktualisasi diri. Sebaliknya, individu mulai menarik batas-batas yang kaku antara peran profesional dan kehidupan personal sebagai upaya pertahanan diri terhadap lingkungan kerja yang dianggap beracun (toxic). Data menunjukkan bahwa hampir 50% karyawan global mengalami disengagement, dengan generasi milenial dan Gen Z menjadi kelompok yang paling rentan mengadopsi praktik ini karena ekspektasi akan fleksibilitas dan makna kerja yang tidak terpenuhi oleh struktur organisasi tradisional.
Salah satu mekanisme sosiologis yang memperkuat penyebaran fenomena ini adalah "kontagion perputaran kerja" (turnover contagion). Dalam proses ini, perilaku rekan kerja yang mulai menarik diri secara emosional atau mencari pekerjaan alternatif berfungsi sebagai kerangka perbandingan sosial (social comparison) bagi individu lain. Ketika seorang karyawan melihat rekan-rekan mereka menetapkan batas-batas yang tegas (seperti menolak menjawab email di luar jam kerja), hal tersebut menurunkan ambang batas psikologis bagi orang lain untuk melakukan hal yang sama, sehingga menciptakan norma kelompok baru yang menantang ekspektasi organisasi.
Teori Alienasi Karl Marx dalam Konteks Kapitalisme Post-Industri
Akar teoretis paling fundamental untuk membedah quiet quitting adalah konsep alienasi (Entfremdung) yang dikembangkan oleh Karl Marx dalam Economic and Philosophic Manuscripts of 1844. Marx berpendapat bahwa dalam sistem kapitalis, kerja kehilangan karakter kemanusiaannya dan berubah menjadi paksaan yang memisahkan manusia dari esensinya. Meskipun Marx menulis dalam konteks pabrik mekanis, kerangka alienasinya tetap sangat relevan untuk menganalisis pekerja kognitif dan buruh digital modern yang mempraktikkan quiet quitting.
Alienasi dari Produk Kerja
Dalam kapitalisme kontemporer yang didorong oleh algoritma dan spesialisasi tinggi, pekerja seringkali tidak memiliki koneksi emosional atau intelektual dengan produk akhir dari jerih payah mereka. Produk tersebut dimiliki dan dikendalikan sepenuhnya oleh pemilik modal, dan bagi pekerja, produk itu berdiri sebagai kekuatan asing yang justru mendominasi mereka. Dalam ekonomi digital, produk kerja seringkali berupa data, kode, atau layanan abstrak yang nilai surplusnya disedot oleh platform, sementara pekerja hanya menerima upah yang tidak sebanding dengan nilai yang diciptakan. Quiet quitting adalah reaksi terhadap ketiadaan rasa memiliki atas hasil kerja; jika produk tersebut bukan milik mereka, maka tidak ada alasan rasional bagi pekerja untuk memberikan usaha ekstra yang hanya akan memperkaya pihak lain.
Alienasi dari Proses Kerja
Alienasi ini terjadi ketika aktivitas kerja itu sendiri tidak lagi bersifat sukarela atau kreatif, melainkan menjadi "kerja paksa" demi kelangsungan hidup semata. Pekerja tidak lagi menentukan ritme, metode, atau tujuan kerjanya; sebaliknya, mereka dikendalikan oleh metrik performa, algoritma pemantau, dan birokrasi yang kaku. Kerja menjadi aktivitas yang membosankan dan repetitif, di mana individu merasa "di luar dirinya" saat bekerja dan hanya merasa menjadi "dirinya sendiri" saat tidak bekerja. Dalam konteks ini, quiet quitting secara harfiah adalah perwujudan dari penolakan terhadap proses kerja yang mengasingkan ini; pekerja membatasi diri pada tugas mekanis minimum untuk menghemat energi mental bagi kehidupan di luar kantor yang mereka anggap lebih otentik.
Alienasi dari Species-Being (Keberadaan Spesies)
Konsep Gattungswesen atau "species-being" Marx merujuk pada hakikat manusia sebagai makhluk yang secara bebas dan sadar mentransformasi dunianya melalui kerja kreatif. Kapitalisme menghancurkan potensi ini dengan mengubah kerja menjadi sekadar alat untuk memenuhi kebutuhan fisik hewani (makan, minum, tempat tinggal). Ketika kerja kehilangan dimensi intelektual dan moralnya, manusia merasa teralienasi dari potensi kemanusiaannya sendiri—mereka merasa seperti hewan saat melakukan fungsi manusiawi (bekerja kreatif) dan merasa seperti manusia hanya saat melakukan fungsi hewani (makan, tidur). Quiet quitting dapat dilihat sebagai upaya subjek untuk merebut kembali sebagian dari "keberadaan spesies" mereka dengan menolak untuk sepenuhnya terserap ke dalam mesin produksi kapitalis yang dehumanis. Beberapa sarjana modern menyebut ini sebagai "species becoming," sebuah proses dinamis di mana manusia mencoba mendefinisikan kembali kemanusiaan mereka di tengah kepungan teknologi AI dan kapitalisme platform.
Alienasi dari Relasi Sosial
Sistem kapitalis memaksa pekerja untuk bersaing satu sama lain, yang mengakibatkan rusaknya solidaritas sosial. Dalam budaya perusahaan modern, persaingan seringkali disamarkan sebagai "emulasi sehat" atau kompetisi antar-individu untuk mendapatkan promosi dan bonus. Hal ini menciptakan isolasi sosial di tempat kerja. Quiet quitting yang dilakukan secara massal (seperti yang terlihat dalam komunitas digital r/antiwork) secara ironis menciptakan bentuk baru "solidaritas dalam penarikan diri," di mana para pekerja saling mengakui penderitaan mereka dan bersama-sama menolak etos kompetisi yang merusak.
Rasionalisasi, Birokrasi, dan Sangkar Besi Max Weber
Jika Marx menekankan pada eksploitasi material, Max Weber memberikan kontribusi melalui analisisnya tentang rasionalisasi dan birokrasi. Weber melihat bahwa masyarakat modern terjebak dalam proses rasionalisasi yang tak terhindarkan, di mana tindakan yang didorong oleh nilai, tradisi, atau emosi digantikan oleh kalkulasi efisiensi, prediktabilitas, dan kontrol.
Mekanisme Sangkar Besi (Stahlhartes Gehäuse)
Weber memperkenalkan metafora stahlhartes Gehäuse (sering diterjemahkan sebagai "sangkar besi") untuk menggambarkan bagaimana struktur birokrasi dan ekonomi kapitalis mengurung individu dalam sistem aturan yang dingin dan tidak personal. Dalam organisasi modern, quiet quitting seringkali merupakan respon terhadap "formalisme birokrasi" yang ekstrem. Pekerja merasa bahwa mereka hanyalah sekrup dalam mesin besar yang hanya peduli pada angka dan efisiensi. Ketika semua aspek pekerjaan diukur melalui metrik performa (KPI) yang kaku, makna substansial dari pekerjaan tersebut hilang, menyisakan kekosongan makna yang memicu disenchantment (hilangnya pesona dunia).
Birokratisasi dan Normalisasi Hubungan Instrumental
Dalam sistem birokrasi yang mapan, otoritas melekat pada posisi, bukan pada orangnya. Hal ini menciptakan hubungan kerja yang sangat instrumental dan transaksional. Weber mencatat bahwa birokrasi cenderung menghasilkan oligarki, di mana kekuasaan terkonsentrasi pada segelintir pejabat yang mengendalikan kualitas hidup banyak orang. Bagi pekerja di level bawah, kepatuhan terhadap aturan seringkali menjadi strategi bertahan hidup yang utama. Quiet quitting dalam konteks ini adalah bentuk kepatuhan terhadap aturan yang paling literal: pekerja melakukan tepat apa yang diminta oleh deskripsi pekerjaan, tidak kurang dan tidak lebih. Ini adalah bentuk resistensi terhadap ekspektasi "budaya perusahaan" yang seringkali menuntut loyalitas emosional di luar kewajiban kontraktual yang rasional.
Quiet Quitting sebagai Krisis Hegemoni Gramscian
Antonio Gramsci menawarkan perspektif krusial tentang bagaimana kekuasaan dipertahankan melalui hegemoni budaya—sebuah proses di mana kelas penguasa memenangkan "persetujuan" (consent) dari kelas yang didominasi melalui normalisasi nilai-nilai tertentu sebagai "akal sehat" (common sense). Selama beberapa dekade, kapitalisme berhasil membangun hegemoni etos kerja yang kuat, di mana bekerja keras, loyalitas pada perusahaan, dan ambisi tanpa batas dianggap sebagai kewajiban moral setiap individu.
Retaknya Persetujuan Spontan dan Krisis Etos Kerja
Quiet quitting menandai kegagalan hegemoni ini secara fundamental. Gramsci berpendapat bahwa hegemoni tidak pernah bersifat permanen; ia harus terus-menerus diproduksi melalui institusi masyarakat sipil seperti pendidikan, media, dan struktur keluarga. Munculnya fenomena ini menunjukkan bahwa narasi kapitalistik tentang "sukses melalui kerja keras" tidak lagi memenangkan persetujuan spontan dari para pekerja. Krisis ini seringkali dipicu oleh "ketidaksesuaian antara kebijakan resmi dan realitas lapangan," di mana pekerja melihat bahwa dedikasi luar biasa tidak lagi menjamin keamanan ekonomi atau kemajuan karier.
Krisis ini menciptakan apa yang disebut Gramsci sebagai "perang posisi" (war of position) di ranah budaya. Melalui platform digital, pekerja mulai membangun "intelektual organik" mereka sendiri—individu-individu dari kelas pekerja yang mampu merumuskan narasi tandingan terhadap ideologi dominan. Komunitas seperti r/antiwork berfungsi sebagai laboratorium bagi intelektual organik ini untuk mendekonstruksi "akal sehat" kapitalis dan menggantinya dengan "akal sehat baru" yang memprioritaskan kesejahteraan manusia di atas akumulasi modal.
Transformasi Common Sense: Dari Produktivitas ke Kesejahteraan
Dalam analisis Gramscian, quiet quitting bukan sekadar perilaku pasif, melainkan tindakan politik yang bertujuan untuk mendefinisikan kembali apa yang dianggap sebagai "normal" dalam dunia kerja. Pekerja melakukan negosiasi ulang terhadap kontrak sosial yang mereka anggap telah dilanggar oleh pihak penguasa. Penolakan terhadap hegemoni ini seringkali diungkapkan melalui "discourse of dignity"—sebuah narasi yang menekankan bahwa harga diri individu tidak boleh ditentukan oleh produktivitas ekonomi semata.
Senjata Kaum Lemah: Quiet Quitting sebagai Resistensi Laten (James C. Scott)
Salah satu kontribusi paling mencerahkan untuk memahami taktik di balik quiet quitting adalah teori resistensi sehari-hari dari James C. Scott. Scott berpendapat bahwa kelompok-kelompok yang tertindas jarang melakukan pemberontakan terbuka karena risiko pembalasan yang terlalu besar. Sebaliknya, mereka menggunakan "senjata kaum lemah" (weapons of the weak)—taktik-taktik halus, terselubung, dan non-konfrontatif untuk merusak otoritas dari dalam.
Infrapolitik dan Taktik Perang Gerilya di Kantor
Scott menyebut praktik-praktik ini sebagai "infrapolitik"—politik yang berlangsung di bawah radar pengawasan namun memiliki dampak akumulatif yang besar jika dilakukan secara massal. Quiet quitting adalah inkarnasi modern dari taktik ini di lingkungan kantor. Contoh nyata dari senjata kaum lemah dalam konteks ini meliputi:
- Foot-dragging (Melambat-lambatkan kerja): Menunda penyelesaian tugas hingga batas waktu paling akhir untuk menghindari penambahan beban kerja baru.
- False Compliance (Kepatuhan Semu): Tampak setuju dengan arahan atasan dalam rapat, namun tidak melakukan upaya nyata untuk mengimplementasikannya.
- Feigned Ignorance (Kepura-puraan tidak tahu): Berpura-pura tidak memahami instruksi yang rumit agar tugas dialihkan kepada orang lain.
- Moyu (Menangkap ikan di air keruh): Istilah populer di China untuk praktik menggunakan waktu kantor untuk kegiatan pribadi, seperti membaca berita atau belanja online, sebagai bentuk klaim kembali atas waktu yang dicuri oleh perusahaan.
Transkrip Tersembunyi (Hidden Transcripts) vs. Transkrip Publik
Konsep Scott tentang "transkrip tersembunyi" menjelaskan perbedaan antara perilaku pekerja saat berada di bawah pengawasan otoritas (transkrip publik) dan apa yang mereka bicarakan di ruang-ruang terisolasi (transkrip tersembunyi). Dalam transkrip publik, pelaku quiet quitting tetap bersikap sopan dan memenuhi standar formal untuk menjaga keamanan pekerjaan mereka. Namun, di transkrip tersembunyi—yang kini berpindah ke forum-forum internet anonim—mereka merayakan tindakan ketidakpatuhan mereka, mengejek retorika kepemimpinan, dan saling berbagi tips tentang cara meminimalkan usaha tanpa ketahuan. Resistensi ini bersifat simbolik karena ia memulihkan rasa agensi dan martabat pekerja di tengah struktur yang mendominasi.
Masyarakat Kelelahan dan Eksploitasi Diri (Byung-Chul Han)
Analisis sosiologi kritis terhadap quiet quitting mencapai puncaknya pada dimensi psiko-sosiologis yang ditawarkan oleh Byung-Chul Han. Dalam The Burnout Society, Han berargumen bahwa masyarakat modern telah bergeser dari "masyarakat disipliner" (yang dianalisis oleh Foucault) menuju "masyarakat pencapaian" (Leistungsgesellschaft).
Dari Paradigma Negativitas ke Positivitas yang Berlebihan
Masyarakat disipliner beroperasi melalui paradigma negativitas: larangan, aturan, dan hukuman (logika "tidak boleh" atau "seharusnya"). Sebaliknya, masyarakat pencapaian beroperasi melalui paradigma positivitas: motivasi, proyek, dan inisiatif (logika "bisa"). Dalam sistem ini, individu tidak lagi dipaksa oleh otoritas eksternal (seperti mandor atau polisi), melainkan mereka memaksa diri mereka sendiri untuk terus berprestasi demi mencapai idealisme diri yang tak terbatas.
Eksploitasi diri ini (auto-exploitation) jauh lebih berbahaya daripada eksploitasi oleh orang lain karena ia datang dengan ilusi kebebasan. Pekerja merasa bahwa mereka sedang "mengembangkan diri" saat bekerja lembur atau mengejar target ambisius, padahal mereka sedang mengonsumsi energi psikis mereka sendiri hingga habis. Han menyebut subjek modern sebagai "entrepreneur of the self" yang sekaligus menjadi taskmaster bagi dirinya sendiri. Hasil akhirnya bukanlah revolusi, melainkan depresi dan burnout—kelelahan yang muncul ketika subjek tidak lagi mampu memenuhi tuntutan "bisa" yang ia tetapkan sendiri.
Quiet Quitting sebagai Restorasi Vita Contemplativa
Han juga menyoroti bagaimana masyarakat modern menderita "hyperattention"—kondisi di mana perhatian kita terpecah-pecah oleh stimulus digital konstan, sehingga kita kehilangan kemampuan untuk melakukan kontemplasi mendalam atau merasakan kebosanan yang produktif. Han berargumen bahwa kebosanan adalah "puncak relaksasi mental" yang diperlukan untuk kreativitas sejati. Quiet quitting dapat dilihat sebagai upaya bawah sadar subjek untuk keluar dari "masyarakat doping" dan memulihkan kembali vita contemplativa (kehidupan kontemplatif). Dengan menolak hiperaktivitas yang melelahkan, individu mencoba memberikan ruang bagi ketenangan, refleksi, dan kehadiran yang nyata di dunia, yang selama ini tergerus oleh tuntutan produktivitas tanpa henti.
Sintesis Teoretik: Kerangka Analisis Utuh Quiet Quitting
Melalui integrasi kelima perspektif di atas, kita dapat membangun satu kerangka analisis utuh yang melihat quiet quitting bukan sebagai perilaku menyimpang, melainkan sebagai respon logis terhadap kontradiksi kapitalisme lanjut.
Dalam kerangka ini, Alienasi Marxian menyediakan dasar material: pekerja merasa terputus dari produk dan proses kerjanya karena kontrol kapital yang absolut. Kondisi ini diperparah oleh Rasionalisasi Weberian, di mana birokrasi dan algoritma menciptakan "sangkar besi" yang menghisap makna dan otonomi dari aktivitas manusia. Di tingkat budaya, Hegemoni Gramscian yang selama ini menjustifikasi eksploitasi tersebut mulai retak; pekerja tidak lagi memberikan "persetujuan" mereka terhadap etos kerja yang merusak.
Sebagai konsekuensinya, pekerja menggunakan Senjata Kaum Lemah James Scott melalui taktik quiet quitting sebagai bentuk resistensi laten yang aman namun efektif untuk merusak otoritas manajerial. Akhirnya, di level psikis, tindakan ini merupakan upaya untuk keluar dari Masyarakat Kelelahan Byung-Chul Han. Quiet quitting adalah transisi dari subjek yang mengeksploitasi diri menuju subjek yang mencoba memulihkan martabatnya melalui batasan kerja yang ketat.
Sintesis ini menunjukkan bahwa fenomena ini adalah bentuk "pemogokan kognitif" di mana medan perangnya bukan lagi gerbang pabrik, melainkan ruang-ruang perhatian dan energi psikis individu. Kapitalisme modern mencoba menguasai bukan hanya tenaga fisik, tetapi juga jiwa dan kreativitas pekerja; quiet quitting adalah garis pertahanan terakhir di mana jiwa tersebut menolak untuk diserahkan sepenuhnya kepada pasar.
Implikasi Sosiologis Quiet Quitting bagi Individu, Organisasi, dan Struktur Sosial
Fenomena quiet quitting membawa implikasi yang mendalam dan transformatif bagi berbagai level struktur sosial. Secara sosiologis, ini bukan sekadar tren sementara, melainkan pergeseran tektonik dalam relasi antara manusia dan kerja.
Implikasi bagi Individu: Redefinisi Identitas dan Agensi
Bagi individu, quiet quitting menandai berakhirnya era di mana identitas diri sepenuhnya melekat pada profesi. Munculnya identitas sebagai "quiet quitter" menunjukkan bahwa individu mulai mencari validasi dan makna hidup di luar struktur akumulasi kapital. Hal ini melibatkan proses "identity work" yang kompleks, di mana subjek menavigasi ketegangan antara aspirasi profesional dan kebutuhan akan integritas diri. Praktik ini memberikan ruang bagi pengembangan "tacit knowledge" tentang cara bertahan hidup dalam lingkungan yang menantang otonomi mereka. Secara jangka panjang, ini dapat mendorong munculnya masyarakat yang lebih berpusat pada kehidupan (life-centric) daripada berpusat pada kerja (work-centric).
Implikasi bagi Organisasi: Krisis Kontrol dan Perlunya Paradigma Baru
Bagi organisasi, quiet quitting menciptakan krisis produktivitas dan moral yang tidak dapat diselesaikan dengan cara-cara disipliner tradisional. Penggunaan teknologi untuk pengawasan yang lebih ketat justru berisiko memperdalam alienasi dan memicu resistensi yang lebih kreatif. Organisasi dipaksa untuk berpindah dari model manajemen yang berbasis pada "kontrol dan kepatuhan" menuju model yang berbasis pada "kepercayaan dan dukungan psikologis". Strategi seperti desain pekerjaan fleksibel, sistem umpan balik dua arah, dan integrasi indikator kesejahteraan mental ke dalam evaluasi kinerja menjadi kebutuhan mendesak bagi keberlangsungan organisasi di masa depan. Kegagalan untuk beradaptasi akan mengakibatkan organisasi kehilangan talenta terbaiknya, baik melalui pengunduran diri secara nyata maupun pengunduran diri secara diam-diam.
Implikasi bagi Struktur Ketenagakerjaan Modern
Secara makro, quiet quitting menantang fondasi ekonomi yang bergantung pada ekstraksi nilai tanpa batas dari tenaga kerja kognitif. Fenomena ini memperkuat tuntutan akan kebijakan sosial yang lebih adil, seperti pengurangan jam kerja mingguan, hak untuk memutus koneksi digital (right to disconnect), dan penyediaan layanan publik universal yang dapat mengurangi ketergantungan individu pada pekerjaan yang mengasingkan.
Selain itu, terdapat pergeseran dalam kesadaran kelas. Dengan adanya platform digital, batasan tradisional antara buruh krah biru dan manajer krah putih mulai memudar, karena keduanya sama-sama terperangkap dalam "sangkar besi" rasionalisasi dan risiko burnout. Munculnya aliansi antara pekerja dan manajer tingkat menengah yang mulai bersimpati pada nilai-nilai anti-kerja menandakan potensi pembentukan blok sejarah baru (dalam istilah Gramsci) yang dapat menantang dominasi ideologi pertumbuhan ekonomi yang eksploitatif.
Referensi:
Aeon Essays. (n.d.). Thought-tinkering – The Korean German philosopher Byung-Chul Han. Diakses Januari 6, 2026, dari https://aeon.co/essays/thought-tinkering-the-korean-german-philosopher-byung-chul-han
Alexander, J. C., & Seidman, S. (tidak relevan — dihapus)
Antonio Gramsci. (n.d.). Stanford Encyclopedia of Philosophy. Diakses Januari 6, 2026, dari https://plato.stanford.edu/entries/gramsci/
Berghahn Journals. (n.d.). Human connection in the light of the writings of Karl Marx and Amartya Sen. International Journal of Social Quality, 9(2). Diakses Januari 6, 2026, dari https://www.berghahnjournals.com/view/journals/ijsq/9/2/ijsq090204.xml
Berghahn Journals. (n.d.). Infrapolitical mobilities. Focaal, 99. Diakses Januari 6, 2026, dari https://www.berghahnjournals.com/view/journals/focaal/2024/99/fcl990105.xml
Bassetti, J. (2025). The Burnout Society by Byung-Chul Han. Diakses Januari 6, 2026, dari https://jeremybassetti.com/fieldnotes/2025/the-burnout-society/
Breaking free from the iron cage of rationality. (2025, November 25). Vocation Matters. Diakses Januari 6, 2026, dari https://vocationmatters.org/2025/11/25/breaking-free-from-the-iron-cage-of-rationality/
Burhanuddin. (n.d.). Strategi human resource dalam mengelola “quiet quitting” di kalangan karyawan milenial: Studi kasus di startup digital. Diakses Januari 6, 2026, dari https://malaqbipublisher.com/index.php/JIMBE/article/download/588/524
Church Life Journal. (n.d.). The achievement society and its discontents. Diakses Januari 6, 2026, dari https://churchlifejournal.nd.edu/articles/the-achievement-society-and-its-discontents/
Digital labour, species-becoming and the global worker. (n.d.). Ephemera: Theory & Politics in Organization. Diakses Januari 6, 2026, dari https://ephemerajournal.org/contribution/digital-labour-species-becoming-and-global-worker
Dissent Magazine. (n.d.). Lessons from Gramsci. Diakses Januari 6, 2026, dari https://dissentmagazine.org/online_articles/lessons-from-gramsci/
EBSCO Research Starters. (n.d.). Weber and rationalization. Diakses Januari 6, 2026, dari https://www.ebsco.com/research-starters/sociology/weber-and-rationalization
Everyday forms of peasant resistance. (n.d.). Libcom.org. Diakses Januari 6, 2026, dari https://libcom.org/article/everyday-forms-peasant-resistance-james-c-scott
Everyday forms of resistance. (n.d.). ResearchGate. Diakses Januari 6, 2026, dari https://www.researchgate.net/publication/279646775_Everyday_Forms_of_Resistance
Han, B.-C. (2015). The burnout society. Stanford University Press. https://www.sup.org/books/theory-and-philosophy/burnout-society
Hidden transcripts of the powerful: Researching the arts of domination. (n.d.). ResearchGate. Diakses Januari 6, 2026, dari https://www.researchgate.net/publication/379826407
How the right hijacked Antonio Gramsci. (2025). Jacobin. Diakses Januari 6, 2026, dari https://jacobin.com/2025/03/right-gramsci-de-benoist-trump
Institute for Research on Poverty. (n.d.). Discussion paper series. University of Wisconsin–Madison. Diakses Januari 6, 2026, dari https://www.irp.wisc.edu/publications/dps/pdfs/dp95091.pdf
Iron cage. (n.d.). Wikipedia. Diakses Januari 6, 2026, dari https://en.wikipedia.org/wiki/Iron_cage
Iron cage: Max Weber’s theory of rationality. (n.d.). ThoughtCo. Diakses Januari 6, 2026, dari https://www.thoughtco.com/understanding-max-webers-iron-cage-3026373
Karl Marx. (n.d.). Karl Marx | Marx’s theory of alienation. Scribd. Diakses Januari 6, 2026, dari https://www.scribd.com/document/845228080
Marx, K. (1844/2009). Economic and philosophic manuscripts of 1844. Diakses Januari 6, 2026, dari https://godandgoodlife.nd.edu/resource/marxs-from-economic-and-philosophic-manuscripts-of-1844/
Penyusunan skala quiet quitting pada karyawan Gen Z di Indonesia. (n.d.). Maras Journal. Diakses Januari 6, 2026, dari https://ejournal.lumbungpare.org/index.php/maras/article/download/1142/880/7674
Philosophize This!. (n.d.). Episode #131: Antonio Gramsci on cultural hegemony. Diakses Januari 6, 2026, dari https://www.philosophizethis.org/podcast/gramsci-hegemony
Philosophize This!. (n.d.). Episode #188: Achievement society and the rise of narcissism, depression and anxiety. Diakses Januari 6, 2026, dari https://www.philosophizethis.org/podcast/episode-179-consciousness-hard-problem-l8d98-td63g-47g5g-ha6yr-papmr-kaj7p-4ybpm-pdh4b
Quiet quitting sebagai perilaku kerja. (n.d.). Universitas Islam Indonesia Repository. Diakses Januari 6, 2026, dari https://dspace.uii.ac.id/bitstream/handle/123456789/54285/21911029.pdf
Scott, J. C. (n.d.). Weapons of the weak. Wikipedia. Diakses Januari 6, 2026, dari https://en.wikipedia.org/wiki/Weapons_of_the_Weak
Spiral of silence. (n.d.). Wikipedia. Diakses Januari 6, 2026, dari https://en.wikipedia.org/wiki/Spiral_of_silence
The emergent r/antiwork revolution and managerial allies. (n.d.). ResearchGate. Diakses Januari 6, 2026, dari https://www.researchgate.net/publication/378702394
The emergent r/antiwork revolution and managerial allies. (n.d.). R Discovery. Diakses Januari 6, 2026, dari https://discovery.researcher.life/article/the-emergent-r-antiwork-revolution-and-managerial-allies/13b179486ad336bdafe624b37062fed9
Turnover contagion: How coworkers’ job embeddedness and job search behaviors influence quitting. (2009). Academy of Management Journal, 52(3). https://journals.aom.org/doi/10.5465/AMJ.2009.41331075
Uneven Earth. (n.d.). Tag: Climate justice. Diakses Januari 6, 2026, dari http://unevenearth.org/tag/climate-justice/
Vinthagen, S., & Johansson, A. (2013). Everyday resistance: Exploration of a concept and its theories. Diakses Januari 6, 2026, dari https://resistance-journal.org/wp-content/uploads/2016/04/Vinthagen-Johansson-2013-Everyday-resistance-Concept-Theory.pdf






Post a Comment