Teori Sistem Sosial Niklas Luhmann: Analisis Epistemologis dan Operasionalitas Autopoiesis
Analisis mendalam terhadap karya ini menyingkap sebuah arsitektur teoretis yang menantang asumsi-asumsi dasar tentang subjek, objek, dan realitas sosial. Luhmann menegaskan bahwa teori sistem sosial yang ia bangun adalah sebuah bangunan buatan yang sepenuhnya bertujuan untuk mengatasi "krisis teori" dalam sosiologi. Dengan menolak antroposentrisme tradisional, ia menempatkan manusia di luar sistem sosial—tepatnya di dalam lingkungan sistem—dan mendefinisikan masyarakat sebagai sistem dari sistem-sistem yang basis elemennya adalah komunikasi, bukan aktor manusia. Artikel ini akan menguraikan secara rinci struktur pemikiran Luhmann, mekanisme operasional sistem autopoietik, peran makna dalam reduksi kompleksitas, serta bagaimana subsistem fungsional seperti hukum, ekonomi, dan politik berinteraksi melalui mekanisme gandengan struktural di tengah kondisi masyarakat dunia yang semakin kompleks.
Pergeseran Paradigma: Dari Ontologi Tradisional ke Perbedaan Sistem dan Lingkungan
Luhmann memulai penyelidikannya dengan mengidentifikasi adanya hambatan epistemologis (obstacles épistémologiques) yang telah menghambat kemajuan kognitif dalam teori sosial selama beberapa dekade. Hambatan pertama adalah prasangka humanistik atau antroposentrisme, yaitu asumsi bahwa masyarakat terdiri dari manusia dan hubungan antarmanusia. Bagi Luhmann, pandangan ini tidak kompatibel dengan ide sosiologis bahwa aspek sosial adalah sebuah realitas darurat (emergent order) yang memiliki otonomi operasional dari kesadaran individu. Hambatan kedua adalah prasangka geografis, yang mengasumsikan bahwa masyarakat dibatasi secara teritorial, sedangkan dalam realitas modern, sistem fungsional seperti ekonomi dan sains beroperasi secara lintas batas. Hambatan ketiga adalah prasangka subjek-objek yang memisahkan pengamat dari objek yang diamati, padahal teori sosial itu sendiri merupakan bagian dari sistem yang diamatinya.
Sebagai gantinya, Luhmann memperkenalkan pergeseran paradigma utama dari dialektika "keseluruhan dan bagian" (wholes and parts) menuju perbedaan antara "sistem dan lingkungan" (system and environment). Dalam model tradisional, bagian-bagian (seperti individu) dianggap membentuk keseluruhan (masyarakat). Namun, Luhmann berargumen bahwa sulit untuk mengonseptualisasikan bagaimana sebuah bagian mampu mengakomodasi kepentingan keseluruhan secara total. Dengan fokus pada perbedaan sistem dan lingkungan, penekanan beralih pada bagaimana sebuah sistem mendefinisikan identitasnya dengan membangun batas-batas terhadap lingkungannya yang memiliki tingkat kompleksitas yang jauh lebih tinggi.
Lingkungan sistem dalam perspektif ini bukanlah sebuah realitas ontis yang "nyata" secara independen, melainkan diproduksi dari dalam sistem sebagai hasil dari pengamatan dan reduksi kompleksitas terhadap sekelilingnya. Oleh karena itu, lingkungan suatu sistem tidak ada sebelum sistem itu sendiri terbentuk, melainkan bergantung pada kapasitas sistem tersebut untuk merasakan dan mengamati. Batas antara sistem dan lingkungan pada akhirnya diputuskan oleh sistem itu sendiri dan terbuka untuk perubahan pada setiap operasi. Pemisahan ini memungkinkan sistem untuk mempertahankan keteraturan internal di tengah kekacauan eksternal yang tak terhingga.
Kompleksitas dan Reduksi Melalui Makna (Sinn)
Dunia dipandang oleh Luhmann sebagai tempat dengan kompleksitas yang luar biasa dan cenderung kacau. Kompleksitas didefinisikan sebagai kondisi di mana elemen-elemen yang ada sangat banyak sehingga tidak mungkin lagi bagi setiap elemen untuk berhubungan dengan semua elemen lainnya pada saat yang sama. Kondisi ini memaksa adanya seleksi, yang berarti munculnya kontingensi dan risiko. Fungsi utama dari sistem sosial adalah untuk mengelola dan mengurangi kompleksitas dunia agar dapat diproses oleh manusia yang memiliki kapasitas kognitif terbatas.
Media yang digunakan oleh sistem sosial untuk melakukan seleksi ini adalah Makna (Sinn). Luhmann mendefinisikan makna sebagai "kelebihan referensi ke kemungkinan-kemungkinan lain dari pengalaman dan tindakan". Setiap kali sebuah sistem melakukan pilihan atau aktulisasi makna, ia secara bersamaan merujuk pada cakrawala kemungkinan lain yang tidak dipilih. Makna memberikan struktur yang memungkinkan sistem untuk mengorientasikan dirinya di tengah kompleksitas. Melalui komunikasi, sistem sosial secara selektif menyaring kompleksitas lingkungan, menciptakan bagian dalam yang terstruktur dan bermakna, sementara membiarkan bagian luar tetap sebagai kompleksitas yang tidak terstruktur.
Autopoiesis: Mekanisme Reproduksi Mandiri Sistem Sosial
Konsep autopoiesis (penciptaan diri) adalah neologisme yang dipinjam Luhmann dari ahli biologi seluler Chili, Humberto Maturana dan Francisco Varela. Dalam konteks biologis, autopoiesis mendeskripsikan kapasitas sel hidup untuk mereproduksi dan mengorganisir diri mereka sendiri melalui jaringan produksi komponen yang secara rekursif menghasilkan jaringan yang sama. Luhmann melakukan "perpalingan autopoietik" dengan menerapkan ide ini pada sistem sosial, dengan modifikasi mendasar bahwa elemen yang direproduksi bukan lagi molekul atau sel, melainkan komunikasi.
Sistem autopoietik bersifat "tertutup secara operasional" (operatively closed). Ini berarti bahwa proses yang mengarah pada pembentukan elemen baru dalam sistem sepenuhnya bergantung pada operasi sebelumnya di dalam sistem yang sama, dan operasi ini menjadi prasyarat bagi operasi masa depan. Tidak ada operasi yang diimpor dari atau diekspor ke lingkungan; sistem menghasilkan elemen-elemennya sendiri melalui operasi internalnya sendiri. Meskipun tertutup secara operasional, sistem bersifat "terbuka secara kognitif" terhadap gangguan (perturbations) atau iritasi dari lingkungan. Iritasi ini tidak menentukan hasil operasi sistem, melainkan hanya memicu sistem untuk menyesuaikan struktur internalnya sesuai dengan logikanya sendiri.
Luhmann membedakan tiga jenis utama sistem autopoietik berdasarkan elemen dasar produksinya:
1. Sistem Biologis: Beroperasi melalui metabolisme dan reproduksi seluler (kehidupan).
2. Sistem Psikis (Kesadaran): Beroperasi melalui pemrosesan pikiran dan persepsi.
3. Sistem Sosial: Beroperasi melalui jaringan komunikasi yang menghasilkan komunikasi lebih lanjut.
Ketiga jenis sistem ini saling bergantung namun tetap terpisah secara operasional. Pikiran individu tidak dapat masuk ke dalam komunikasi, dan komunikasi tidak dapat masuk ke dalam sel biologis. Manusia sebagai individu merupakan unit yang terdiri dari ketiga sistem ini secara simultan, namun secara teoretis, sosiologi hanya mempelajari sistem komunikasi.
Anatomi Komunikasi: Ucapan, Informasi, dan Pemahaman
Dalam Social Systems, Luhmann melakukan dekonstruksi radikal terhadap konsep komunikasi tradisional yang sering dianggap sebagai transmisi pesan dari pengirim ke penerima. Bagi Luhmann, komunikasi bukanlah tindakan individu, melainkan operasi sosial otonom yang terdiri dari sintesis tiga seleksi yang tidak dapat dipisahkan:
1. Informasi (Information): Seleksi tentang apa yang dikatakan, yang merupakan perbedaan dari kemungkinan ucapan lain yang bisa dipilih.
2. Ucapan (Utterance): Seleksi tentang bagaimana sesuatu dikatakan; tindakan fisik atau cara pesan tersebut disampaikan.
3. Pemahaman (Understanding): Seleksi tentang makna oleh sistem; pengenalan bahwa sebuah ucapan dimaksudkan sebagai komunikasi dengan informasi tertentu.
Komunikasi dalam pengertian sosiologis hanya terjadi ketika ketiga elemen ini menyatu. Penting untuk ditekankan bahwa pemahaman tidak berarti adanya kesepakatan (agreement) atau konsensus antara dua pikiran manusia. Pemahaman hanyalah kapasitas sistem untuk menggunakan komunikasi tersebut sebagai basis untuk menyambungkan dengan perilaku atau komunikasi selanjutnya.
Konsekuensi dari model ini adalah pandangan "pasca-manusia" di mana individu tidak lagi dipandang sebagai pencipta komunikasi. Komunikasi diproduksi oleh komunikasi sebelumnya dalam jaringan sistem. Kesadaran manusia hanyalah lingkungan yang menyediakan iritasi bagi komunikasi. Luhmann menegaskan bahwa "hanya komunikasi yang dapat berkomunikasi". Tanpa adanya kelanjutan konektivitas komunikasi, sistem sosial akan berhenti eksis secara instan.
Masalah Kontingensi Ganda dan Munculnya Tatanan Sosial
Bagaimana keteraturan sosial mungkin terjadi jika setiap individu adalah "kotak hitam" yang tidak transparan satu sama lain? Luhmann mengambil konsep "kontingensi ganda" (double contingency) dari Talcott Parsons untuk menjawab hal ini. Kontingensi ganda merujuk pada situasi di mana Ego tahu bahwa Alter bertindak berdasarkan ekspektasinya terhadap Ego, dan sebaliknya. Karena pernyataan setiap pihak selalu bisa berbeda dari apa yang diharapkan, komunikasi bersifat kontingen; ia menjadi kontingen ganda karena kedua pihak mengantisipasi hal ini saat berbicara satu sama lain.
Luhmann berargumen bahwa ketidakpastian ini tidak dipecahkan melalui konsensus nilai yang sudah ada sebelumnya, melainkan melalui munculnya sistem sosial itu sendiri sebagai solusi otomatis. Begitu komunikasi dimulai, ia menciptakan sejarahnya sendiri. Sistem mulai membangun struktur ekspektasi yang menstabilkan perilaku. Meskipun pikiran individu tetap tidak transparan, sistem sosial memungkinkan kelanjutan interaksi dengan menggunakan media komunikasi yang netral dan kode-kode yang dapat diprediksi. Dalam konteks ini, tatanan sosial bukan dipaksakan dari luar, melainkan muncul dari operasi internal sistem itu sendiri dalam mengelola ketidakpastian.
Tipologi Sistem Sosial: Interaksi, Organisasi, dan Masyarakat
Luhmann membagi sistem sosial menjadi tiga kategori utama, yang masing-masing menangani kompleksitas dengan cara yang berbeda:
1. Sistem Interaksi (Interaction Systems)
Sistem interaksi terjadi ketika individu hadir secara fisik satu sama lain (co-present). Batasan sistem ini ditentukan oleh perbedaan antara siapa yang hadir dan siapa yang absen dalam komunikasi. Sistem interaksi bersifat efemeril, sederhana, dan terbatas, serta sangat terbuka terhadap konflik karena sangat bergantung pada persepsi langsung individu. Contoh faktualnya adalah percakapan tatap muka atau antrean di toko.
2. Sistem Organisasi (Organization Systems)
Organisasi adalah sistem sosial yang mereproduksi diri melalui komunikasi keputusan. Ciri khas organisasi adalah adanya kriteria keanggotaan yang jelas; seseorang harus menjadi anggota untuk berpartisipasi dalam komunikasi organisasi. Organisasi menstabilkan perilaku manusia yang "artifisial" dari waktu ke waktu melalui program, peran, dan peraturan yang tidak bergantung pada kehadiran fisik individu tertentu. Keputusan dalam organisasi berfungsi sebagai premis bagi keputusan-keputusan selanjutnya. Contohnya termasuk perusahaan, universitas, atau lembaga pemerintah seperti kepolisian.
3. Sistem Masyarakat (Societal Systems)
Masyarakat adalah sistem sosial yang paling mencakup semuanya, yang terdiri dari seluruh komunikasi yang mungkin terjadi. Bagi Luhmann, masyarakat saat ini adalah "masyarakat dunia" karena sistem-sistem fungsionalnya beroperasi secara global tanpa dibatasi oleh batas teritorial negara. Masyarakat berfungsi sebagai sistem dari sistem-sistem, yang menaungi berbagai subsistem fungsional.
Diferensiasi Fungsional dan Kode Subsistem
Modernitas dicirikan oleh transisi dari masyarakat yang terbagi secara hierarkis (stratifikasi) menuju masyarakat yang terdiferensiasi secara fungsional. Dalam masyarakat fungsional, tidak ada pusat tunggal yang mengatur segalanya; sebaliknya, masyarakat terbagi menjadi subsistem-subsistem otonom yang masing-masing menjalankan fungsi spesifik untuk sistem sosial secara keseluruhan. Setiap subsistem beroperasi berdasarkan Kode Biner tertentu yang memungkinkannya untuk membedakan apa yang relevan bagi sistem tersebut dan apa yang tidak.
Beberapa subsistem utama dan kodenya meliputi:
- Sistem Ekonomi: Menggunakan kode Membayar / Tidak Membayar (atau Miliki / Tidak Miliki) dengan media komunikasi uang. Fungsinya adalah mengelola kelangkaan sumber daya.
- Sistem Hukum: Menggunakan kode Legal / Ilegal. Fungsinya adalah menstabilkan ekspektasi normatif di tengah ketidakpastian.
- Sistem Politik: Menggunakan kode Pemerintah / Oposisi (atau Kekuasaan / Tanpa Kekuasaan) dengan media kekuasaan. Fungsinya adalah menghasilkan keputusan yang mengikat secara kolektif.
- Sistem Sains: Menggunakan kode Benar / Salah dengan media kebenaran. Fungsinya adalah memproduksi pengetahuan baru.
- Sistem Media Massa: Menggunakan kode Informasi / Non-informasi. Fungsinya adalah menyediakan realitas bersama yang dapat dikomunikasikan oleh sistem lain.
Kode biner ini bersifat universal di dalam sistemnya namun buta terhadap sistem lain. Misalnya, bagi sistem hukum, kebenaran ilmiah tidak relevan kecuali jika kebenaran tersebut dapat dikonseptualisasikan dalam bentuk bukti yang legal atau ilegal. Demikian pula, sistem ekonomi tidak peduli dengan moralitas suatu produk, melainkan hanya apakah produk tersebut laku terjual atau tidak.
Gandengan Struktural: Mekanisme Interdependensi Sistem yang Tertutup
Meskipun setiap sistem bersifat tertutup secara operasional, mereka harus hidup berdampingan di lingkungan yang sama. Luhmann memperkenalkan konsep "gandengan struktural" (structural coupling) untuk menjelaskan bagaimana sistem-sistem otonom ini dapat saling memengaruhi tanpa melanggar penutupan operasional masing-masing. Gandengan struktural adalah saluran institusional yang memungkinkan iritasi dari satu sistem diterjemahkan ke dalam sistem lain dengan cara yang dapat dipahami oleh sistem penerima.
Contoh faktual dari gandengan struktural meliputi:
- Konstitusi: Berfungsi sebagai jembatan antara sistem hukum dan sistem politik. Konstitusi adalah dokumen hukum yang menetapkan legalitas tindakan politik, sekaligus merupakan alat politik yang menentukan bagaimana kekuasaan dijalankan.
- Kontrak dan Properti: Menggandeng sistem hukum dan sistem ekonomi. Properti adalah konsep ekonomi tentang kepemilikan, tetapi ia membutuhkan definisi hukum untuk melindunginya. Kontrak memungkinkan transaksi ekonomi memiliki kepastian hukum.
- Universitas: Menggandeng sistem pendidikan dengan sistem sains dan ekonomi. Universitas menyediakan ruang bagi produksi kebenaran ilmiah sekaligus melatih tenaga kerja bagi sistem ekonomi.
Gandengan struktural tidak berarti sistem tersebut "bergabung". Mereka tetap beroperasi berdasarkan logika masing-masing. Sebagai contoh, dalam kasus pembayaran kopi di kafe, tindakan tersebut dipahami oleh sistem ekonomi sebagai transaksi moneter, namun oleh sistem hukum ia dipahami sebagai pelaksanaan kontrak lisan, dan oleh sistem interaksi sebagai bagian dari percakapan sosial.
Kritik dan Debat Intelektual: Habermas vs. Luhmann
Teori Luhmann memicu perdebatan sengit dalam sosiologi, terutama melalui konfrontasi panjang dengan Jürgen Habermas. Perbedaan mendasar antara keduanya terletak pada fungsi komunikasi dan peran subjek dalam masyarakat.
Habermas, mewakili tradisi Teori Kritis, berpendapat bahwa komunikasi bertujuan untuk mencapai pemahaman timbal balik dan konsensus rasional yang menjadi basis legitimasi tatanan sosial. Ia menganggap pandangan Luhmann sebagai "konservatisme fungsionalis" karena menghilangkan kapasitas emansipatoris manusia dan menggantikannya dengan stabilitas sistemik. Habermas khawatir bahwa dalam teori Luhmann, "media kemudi" seperti uang dan kekuasaan akan mendominasi "dunia-kehidupan" (lifeworld) tanpa ada ruang untuk kritik moral.
Sebaliknya, Luhmann berargumen bahwa dalam masyarakat yang sangat kompleks, konsensus universal adalah mustahil dan justru bisa menghambat kelanjutan komunikasi. Baginya, kompleksitas adalah kondisi yang harus dikelola melalui diferensiasi, bukan melalui penyederhanaan moral. Luhmann menolak ide bahwa ada "titik tetap" atau posisi pengamat yang objektif di luar masyarakat. Setiap pengamatan adalah "pengamatan tingkat kedua" (second-order observation), yaitu pengamatan terhadap bagaimana pengamat lain mengamati dunia menggunakan perbedaan-perbedaan tertentu.
Signifikansi Karya: Menuju Sosiologi Tanpa Subjek
Karya Social Systems (1995) tetap menjadi salah satu teks paling provokatif dalam ilmu sosial karena keberaniannya untuk mendekonstruksi konsep-konsep paling sakral dalam sosiologi: tindakan, subjek, dan masyarakat sebagai kumpulan manusia. Luhmann menawarkan visi tentang masyarakat sebagai jaringan komunikasi yang dingin, mekanis, namun sangat efisien dalam mengelola kompleksitas yang mustahil dikelola oleh satu pikiran manusia pun.
Teori ini memiliki implikasi mendalam bagi berbagai bidang:
- Hukum: Membantu menjelaskan mengapa hukum seringkali gagal "mengatur" masyarakat secara langsung, karena setiap regulasi hanya akan efektif jika sistem lain (seperti ekonomi) memilih untuk menerjemahkannya ke dalam logikanya sendiri.
- Ekologi: Menjelaskan mengapa masalah lingkungan seperti perubahan iklim sulit diatasi; karena tidak ada satu sistem yang dapat "melihat" masalah lingkungan secara utuh. Ekonomi melihatnya sebagai biaya, sains sebagai data, dan politik sebagai isu pemilu.
- Organisasi: Memberikan wawasan tentang bagaimana keputusan-keputusan institusional seringkali didorong oleh kebutuhan untuk mereproduksi diri organisasi itu sendiri daripada mencapai tujuan-tujuan moral yang dinyatakan di luar.
Pada akhirnya, Luhmann tidak bermaksud menawarkan resep untuk masyarakat yang lebih baik, melainkan alat untuk memahami bagaimana masyarakat benar-benar beroperasi. Dengan memahami bahwa kita hidup di dalam dunia yang terdiri dari sistem-sistem yang tertutup secara operasional, kita dapat lebih realistis dalam menghadapi kegagalan koordinasi sosial dan tantangan-tantangan global di masa depan. Teori sistem Luhmann tetap menjadi mercusuar bagi sosiologi abad ke-21 dalam menavigasi kompleksitas yang semakin meningkat dalam masyarakat dunia yang terkoneksi namun terfragmentasi secara fungsional.
Referensi:
Baxter, H. (n.d.). Niklas Luhmann’s theory of autopoietic legal systems. Scholarly Commons at Boston University School of Law. https://scholarship.law.bu.edu/context/faculty_scholarship/article/1139/viewcontent/H_Baxter_Niklas_Luhmann_s_Theory_of_Autopoietic_Legal_Systems.pdf
Critical Legal Thinking. (2022, January 10). Niklas Luhmann: What is autopoiesis? https://criticallegalthinking.com/2022/01/10/niklas-luhmann-what-is-autopoiesis/
Eff, M. (n.d.). Niklas Luhmann and the autopoiesis of law: Understanding legal systems as self-referential social structures. Medium. https://medium.com/ai-and-law/niklas-luhmann-and-the-autopoiesis-of-law-understanding-legal-systems-as-self-referential-social-f520c79c2625
Emerald Publishing. (n.d.). Organization systems and their social environments: The role of functionally differentiated society and face-to-face interaction rituals. https://www.emerald.com/books/oa-edited-volume/17717/chapter/96701002/Organization-Systems-and-Their-Social-Environments
Frontiers in Political Science. (2025). Observing the political system: Designing a non-normative index based on Niklas Luhmann’s social systems theory. https://www.frontiersin.org/journals/political-science/articles/10.3389/fpos.2025.1668208/full
Habermas, J. (n.d.). Habermas, Jürgen. Internet Encyclopedia of Philosophy. https://iep.utm.edu/habermas/
Leydesdorff, L. (n.d.). Luhmann, Habermas, and the theory of communication. https://www.leydesdorff.net/montreal.htm
Luhmann, N. (1995). Social systems (J. Bednarz Jr. & D. Baecker, Trans.). Stanford University Press.
Luhmann, N. (n.d.). Law as a social system. Osgoode Digital Commons. https://digitalcommons.osgoode.yorku.ca/cgi/viewcontent.cgi?article=2216&context=scholarly_works
Luhmann, N. (n.d.). Society as self-referential ecological communication (J. Bednarz Jr., Trans.). University of Pennsylvania. https://repository.upenn.edu/bitstreams/f34bc94e-c393-4a5e-a2b3-d765d9be9f05/download
Medium. (n.d.). Niklas Luhmann’s sociology. https://medium.com/@s-blog/niklas-luhmanns-sociology-66b863ff583b
Medium. (n.d.). Niklas Luhmann’s social systems theory. https://medium.com/deterritorialization/social-systems-and-autopoiesis-a34f52fe9da1
Oñati Socio-Legal Series. (n.d.). A special issue on Niklas Luhmann’s systems theory and law. https://opo.iisj.net/index.php/osls/article/view/1855/2313
Oñati Socio-Legal Series. (n.d.). The legacy of Luhmann’s sociology of law. https://opo.iisj.net/index.php/osls/article/view/1923/2331
Orientation Philosophy. (n.d.). Double contingency of communication. https://www.orientation-philosophy.com/glossary/double-contingency-of-communication/
Parsons, T., & Luhmann, N. (n.d.). Parsons, Luhmann and the theorem of double contingency. ResearchGate. https://www.researchgate.net/publication/240691391_Parsons_Luhmann_and_the_Theorem_of_Double_Contingency
ResearchGate. (n.d.). Exploring Luhmann’s social systems perspective: Communication and exchange as the struggle for meanings. https://www.researchgate.net/publication/230555200_Exploring_Luhmann's_Social_Systems_Perspective_Communication_and_Exchange_as_the_Struggle_for_Meanings
Scambler, G. (n.d.). Sociological theorists: Niklas Luhmann. https://www.grahamscambler.com/sociological-theorists-niklas-luhmann/
SciELO Social Sciences. (2006). What is complex in the complex world? Niklas Luhmann and the theory of social systems. http://socialsciences.scielo.org/scielo.php?script=sci_arttext&pid=S1517-45222006000100004
SciSpace. (n.d.). A critical review of Luhmann’s social systems theory’s perspective on mass media and social media. https://scispace.com/pdf/a-critical-review-of-luhmann-s-social-systems-theory-s-2i2dg3ivys.pdf
SozTheo. (n.d.). Niklas Luhmann: Social systems (1984). https://soztheo.com/sociology/key-works-in-sociology/niklas-luhmann-social-systems-1984/
Stanford University Press. (n.d.). Social systems. https://www.sup.org/books/sociology/social-systems
Tandfonline. (2019). Autopoietic interaction systems: Micro-dynamics of participation and its limits. https://www.tandfonline.com/doi/full/10.1080/13563475.2019.1627185
Wikipedia. (n.d.). Niklas Luhmann. https://en.wikipedia.org/wiki/Niklas_Luhmann
%20Niklas%20Luhmann.png)



Post a Comment