Ringkasan Materi TKA Sosiologi 2025: Konflik dan Integrasi Sosial (Faktor, Jenis, Teori, Penyelesaian)

Table of Contents

📘 Kisi-Kisi TKA Sosiologi SMA 2025 (Resmi – Perka BSKAP No. 045)

Pembahasan Kompetensi 5:

Kompetensi Utama: 

Konflik & Integrasi Sosial

Indikator / Cakupan Materi

- Faktor penyebab konflik
- Jenis konflik (vertikal, horizontal, antarindividu, antarkelompok)
- Upaya penyelesaian konflik & integrasi sosial
- Teori konflik (Karl Marx, Ralf Dahrendorf, Lewis A. Coser)

Konflik dan Integrasi Sosial

Konflik sosial adalah situasi ketika individu atau kelompok berusaha mencapai tujuan dengan menghadapi pihak lain. Menurut Soerjono Soekanto, konflik muncul sebagai proses sosial di mana seseorang atau sekelompok orang menentang pihak lawan, sering disertai ancaman atau kekerasan, demi mencapai tujuannya[1]. Konflik dianggap lumrah dalam masyarakat; yang terpenting adalah bagaimana penyebabnya diidentifikasi dan diselesaikan agar tidak menimbulkan kerusakan berkepanjangan. 

Faktor penyebab konflik biasanya meliputi perbedaan nilai/keyakinan, perbedaan budaya, pertentangan kepentingan, kesenjangan sosial-ekonomi, dan ketidaksiapan menghadapi perubahan[2]. Misalnya, persaingan sumber daya atau ketimpangan kesejahteraan sering kali memicu ketegangan antar pihak yang berbeda kepentingan.

Jenis-jenis konflik sosial dibedakan berdasarkan siapa pihak yang terlibat. Berdasarkan status sosial, konflik dapat bersifat vertikal maupun horizontal[3]. Konflik vertikal terjadi antara pihak berstatus tidak setara, misalnya antara golongan kelas sosial tinggi dan rendah atau antara atasan dan bawahan[4]. Contohnya adalah perselisihan antara buruh (kelas bawah) dengan pengusaha (kelas atas)[4]. Sebaliknya, konflik horizontal terjadi antara pihak yang sederajat (setara), misalnya sengketa lahan antarwarga di desa tetangga atau persaingan antarorganisasi setingkat[3]

Selain itu, konflik dapat terjadi antarindividu (dua orang berhadap-hadapan, mis. perselisihan keluarga atau antar teman) maupun antarkelompok (mis. permusuhan antarperusahaan, antar etnis, atau antar kelompok kepentingan). Semua jenis konflik ini, jika dikelola dengan baik, dapat dijadikan pemicu perubahan positif melalui penyelesaian yang adil.

Teori Konflik

Beberapa sosiolog klasik menawarkan kerangka teori untuk memahami konflik:
1. Karl Marx
Marx memandang konflik sebagai pertentangan kelas. Ia berpendapat bahwa masyarakat kapitalis terdiri dari kelas borjuis (pemilik modal) dan proletar (buruh) yang saling berlawanan kepentingan ekonomi. Eksploitasi buruh oleh pemilik modal memicu ketegangan; perubahan sosial hanya terjadi melalui perjuangan kelas tersebut[5]

Dengan kata lain, konflik kelas menjadi motor perubahan: saat kaum proletar menyadari ketidakadilan eksploitasi, mereka terdorong melakukan perlawanan atau revolusi. Dalam teori Marx, konflik bukan sekadar gangguan; melainkan akibat alamiah struktur kelas yang timpang[5].

2. Ralf Dahrendorf
Dahrendorf mengembangkan teori konflik dengan memadukan dan merevisi gagasan Marx. Baginya, konflik muncul dari perbedaan kekuasaan dan peran otoritas, bukan hanya kepemilikan sarana produksi. Konflik terjadi antara kelompok yang berkuasa dengan yang tak berkuasa dalam struktur sosial modern[6]. Misalnya, ketegangan antara atasan dan bawahan dalam organisasi kerja. 

Dahrendorf menekankan bahwa konflik dan kerjasama berjalan beriringan: kerja sama diperlukan untuk stabilitas sosial, namun konflik timbul ketika kepentingan atau legitimasi kekuasaan saling bertentangan[6]. Kelompok dominan cenderung membentuk ideologi untuk mempertahankan kekuasaannya, sementara kelompok subordinat kadang menantang tatanan tersebut (misalnya gerakan kesetaraan hak)[7].

3. Lewis A. Coser
Coser melihat konflik secara lebih fungsional. Ia berargumen bahwa konflik dapat memperkuat solidaritas kelompok. Menurut Coser, ketika sebuah kelompok menghadapi musuh atau konflik eksternal, hal itu dapat memantapkan batas kelompok dan meningkatkan integrasi internal[8]. Konflik internal yang sehat pun menurut Coser memberikan kesempatan ekspresi ketidakpuasan sehingga memelihara dinamika sosial. 

Secara umum, Coser memandang konflik sebagai perjuangan atas nilai, status, atau sumber daya langka yang penting untuk menggerakkan perubahan dan menjaga keseimbangan sosial dalam kelompok[9][8]. Dengan kata lain, konflik bukan semata negatif; bisa berfungsi positif jika disalurkan dengan konstruktif.

Penyelesaian Konflik dan Integrasi Sosial

Upaya meredam konflik dan membangun kesatuan disebut akomodasi dan integrasi sosial. Akomodasi adalah proses penyesuaian antara pihak-pihak berkonflik sehingga timbul koordinasi atau kesepakatan. Dalam praktiknya, bentuk akomodasi meliputi mediasi, konsiliasi, arbitrasi, musyawarah, negosiasi, atau toleransi. Misalnya, mediasi melibatkan pihak netral yang membantu kedua pihak mencapai solusi yang adil[10]

Jika akomodasi berhasil, konflik diredam dan akhirnya dapat muncul asimilasi – yaitu penyatuan pihak-pihak yang berkoordinasi sehingga perbedaan dapat dibaurkan[11]. Sebagai ilustrasi, siswa dapat membayangkan proses di mana dua kelompok bersengketa kemudian bekerjasama, saling menyesuaikan, hingga mencapai kesepakatan bersama (asimilasi).

Integrasi sosial adalah hasil atau proses perkumpulan masyarakat menjadi harmonis. Integrasi terjadi ketika berbagai unsur masyarakat – individu, kelompok, dan lembaga – saling berhubungan secara intensif di beragam bidang kehidupan. Akibatnya, unsur-unsur berbeda tersebut membaur dan bekerja sama[12]

Integrasi dapat bersifat normatif (berdasarkan nilai dan norma bersama), fungsional (melalui saling ketergantungan tugas dan peran), atau koersif (melalui kontrol formal)[12]. Selain itu, dalam konteks multikultural, integrasi meliputi asimilasi budaya, konsensus, konsolidasi, dan mutual akulturasi sebagai upaya menyatukan keragaman (misalnya konsep “Bhinneka Tunggal Ika” yang menekankan persatuan dalam keberagaman[13]). 

Faktor-faktor yang mendorong integrasi antara lain keinginan bersama untuk memiliki kehidupan harmonis, partisipasi dalam kegiatan bersama, komunikasi efektif, dan pendidikan yang inklusif. Sebaliknya, ketiadaan toleransi, ketidakadilan, atau isolasi sosial dapat menghambat proses integrasi.

Contoh Aktual: Konflik Agraria di Pati

Sebagai contoh aktual, konflik agraria di Desa Pundenrejo, Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati (Jawa Tengah) pada 2024–2025 menggambarkan dinamika konflik vertikal dan upaya penyelesaian. Berdasarkan laporan Mongabay, ratusan petani kehilangan akses lahan pertanian turun-temurun karena sengketa dengan PT Laju Perdana Indah (perusahaan perkebunan tebu)[14]. Ini merupakan konflik vertikal, sebab melibatkan petani (kelompok rakyat kecil) berhadapan dengan perusahaan besar (kelompok penguasa modal)[4][14]

Dampaknya petani terancam kehilangan mata pencaharian dan rumah mereka. Sebagai respons, petani membawa masalah ini ke Komnas HAM dan pemerintah (Kementerian ATR/BPN), meminta lahan dikembalikan[15]. Pendekatan ini melibatkan mediasi/pengadilan dan kebijakan redistribusi lahan sebagai bentuk akomodasi; pihak berwenang disarankan memfasilitasi dialog dan mengambil keputusan yang adil. Pada akhirnya, proses dialog dan intervensi negara diharapkan menghasilkan integrasi sosial: misalnya dengan pemulihan hak petani atau asimilasi kepentingan kedua belah pihak agar ketegangan reda[11][15].

Contoh tersebut menegaskan bahwa konflik agraria sering membutuhkan penyelesaian holistik – tidak hanya melalui penegakan hukum, tetapi juga lewat musyawarah dan kompromi. Upaya integrasi dapat berupa rekonsiliasi sosial (menyatukan kembali petani dan perusahaan), redistribusi sumber daya, serta pembentukan kebijakan perlindungan petani. Dengan demikian, siswa diharapkan bisa mengidentifikasi jenis konflik (dalam kasus ini vertikal) dan strategi penyelesaiannya (mediasi, kebijakan redistribusi, dialog) dalam kerangka pemahaman sosiologi yang komprehensif[4][15].

Sumber:
Materi ini sesuai dengan kerangka TKA Sosiologi SMA 2025 berdasarkan Peraturan Kepala BSKAP No. 045/H/AN/2025.

[1] [2] [11] [12] [13] cdn-gbelajar.simpkb.id
https://cdn-gbelajar.simpkb.id/s3/p3k/IPS/Sosiologi/Per%20Pembelajaran/PEMBELAJARAN%204.%20Konflik%20Sosial%20dan%20Integrasi%20Sosial.pdf

[3] [4] Pengertian dan Ciri-Ciri Konflik Vertikal di Masyarakat (Modal Deteksi Dini Konflik Umat Beragama) part 3 - Kanwil Kementerian Agama Provinsi Nusa Tenggara Timur
https://ntt.kemenag.go.id/opini/726/pengertian-dan-ciriciri-konflik-vertikal-di-masyarakat-modal-deteksi-dini-konflik-umat-beragama-part-3

[5] Penyebab Konflik dan Teori Konflik Menurut Karl Marx
https://tirto.id/penyebab-konflik-dan-teori-konflik-menurut-karl-marx-gbo2

[6] [7] Mengenal Teori Konflik Menurut Ralf Dahrendorf | kumparan.com
https://kumparan.com/sejarah-dan-sosial/mengenal-teori-konflik-menurut-ralf-dahrendorf-20xokXLgwWG

[8] [9] Mengenal Teori Konflik Menurut Lewis A. Coser, Jenis, & Fungsinya
https://tirto.id/teori-konflik-lewis-a-coser-pengertian-jenis-fungsi-positif-giLB

[10] Upaya Penyelesaian Konflik | Sosiologi Kelas XI - Pijar Article
https://www.pijarbelajar.id/blog/upaya-penyelesaian-konflik-sosiologi-kelas-xi

[14] [15] Berkonflik dengan Perusahaan, Petani Pati Kehilangan Lahan Tani
https://mongabay.co.id/2024/06/04/berkonflik-dengan-perusahaan-petani-pati-kehilangan-lahan-tani/

Lihat Juga:

Paket 100 Soal Latihan TKA Sosiologi SMA 2025 Lengkap Sesuai Kisi-Kisi Resmi  

Ringkasan Materi 8 Kompetensi & 100 Latihan Soal TKA Sosiologi SMA 2025 (Resmi Perka BSKAP No. 045) 

Aletheia Rabbani
Aletheia Rabbani “Barang siapa yang tidak mampu menahan lelahnya belajar, maka ia harus mampu menahan perihnya kebodohan” _ Imam As-Syafi’i

Post a Comment