Analisis Komprehensif Buku Folkways (1906) Karya William Graham Sumner: Tesis, Konsep, dan Kontribusi bagi Ilmu Sosiologi

Table of Contents

Abstraksi

Buku "Folkways: A Study of the Sociological Importance of Usages, Manners, Customs, Mores, and Morals" yang diterbitkan pada tahun 1906 oleh William Graham Sumner, seorang profesor sosiologi dan politik berpengaruh di Yale College, merupakan salah satu teks klasik sosiologi awal abad ke-20. Karya ini berfungsi sebagai landasan bagi banyak konsep fundamental dalam ilmu sosial modern. Tesis utamanya adalah bahwa folkways—kebiasaan dan adat istiadat yang muncul secara tidak sadar dalam komunitas—adalah dasar yang esensial dan tidak dapat diubah dari perilaku sosial. Sumner berargumen bahwa kebiasaan-kebiasaan ini, yang terbentuk dari pengalaman historis dan perjuangan untuk bertahan hidup, secara inheren resisten terhadap perubahan yang disengaja atau revolusioner. Kontribusi paling signifikan dari buku ini adalah perkenalan terminologi kunci seperti folkways, mores, dan ethnocentrism, yang terus menjadi bagian integral dari studi sosiologi dan antropologi.

Bagian I: Konteks Intelektual dan Biografi Penulis

1.1 Biografi dan Posisi Intelektual

William Graham Sumner (1840-1910) adalah sosok sentral dalam pembentukan sosiologi di Amerika Serikat. Ia memegang jabatan profesor sosiologi pertama di Universitas Yale dan merupakan salah satu pengajar paling berpengaruh pada masanya. Meskipun awalnya ia dilatih sebagai pendeta Episkopal dan mengajar matematika, karirnya bergeser ke ilmu sosial, di mana ia menulis secara luas tentang etika, sejarah Amerika, sejarah ekonomi, teori politik, sosiologi, dan antropologi.

Sumner adalah seorang pendukung vokal liberalisme klasik, pasar bebas, dan standar emas, serta seorang penentang kuat sosialisme dan imperialisme. Pemikirannya sangat dipengaruhi oleh etos Puritan yang ia khotbahkan: kerja keras, kemandirian, penghematan, kehati-hatian, dan ketekunan. Dalam karyanya yang lain, What Social Classes Owe to Each Other (1883), ia mengkritik apa yang ia sebut sebagai "prasangka gerejawi yang menyukai orang miskin dan menentang orang kaya," berpendapat bahwa hal itu akan mengembalikan peradaban ke masa barbarisme. Ia juga menciptakan istilah "the forgotten man" untuk merujuk pada kelas menengah, yang ia yakini menjadi tulang punggung masyarakat.

1.2 Konteks Penerbitan "Folkways" (1906)

Buku "Folkways" diterbitkan pada tahun 1906, di tengah-tengah gelombang agitasi sosial dan politik yang mendorong reformasi di Amerika. Sumner, melalui karyanya ini, berupaya untuk melembutkan dampak dan menjustifikasi implikasi filosofi laissez-faire ala Darwin, yang pada dasarnya bersifat konservatif dan melawan arus reformasi yang sedang berkembang.

Meskipun ia dikenal sebagai ahli teori ekonomi dan politik yang kontroversial, "Folkways" adalah karya sosiologis yang berbeda. Ia menawarkan kerangka kerja dan terminologi yang tetap sangat berharga hingga kini. Buku ini merupakan hasil dari materi yang Sumner kumpulkan selama bertahun-tahun mengajar, yang memberinya kekayaan ilustrasi dan narasi.

Pandangan filosofis dan politik Sumner memiliki hubungan kausal yang mendalam dengan teori sosiologis yang ia kembangkan dalam "Folkways." Penolakannya terhadap "hak-hak alami" dan gagasannya bahwa masyarakat tidak bertanggung jawab atas kesejahteraan individu merupakan cerminan langsung dari advokasi laissez-faire-nya. Untuk memvalidasi sistem ini, ia harus menolak gagasan "hak" atau tanggung jawab sosial yang melampaui aturan yang ada. 

Sumner menggunakan teorinya tentang folkways untuk berargumen bahwa "hak" dan "kebenaran" adalah produk dari kebiasaan sosial yang telah terbukti efektif, bukan dari prinsip-prinsip universal yang diberikan oleh Tuhan. Dengan demikian, teorinya menyediakan justifikasi sosiologis untuk filosofi politiknya.

Bagian II: Definisi dan Analisis Konseptual Fundamental

2.1 Asal-usul dan Sifat Folkways

Sumner mendefinisikan folkways sebagai "kebiasaan individu dan adat istiadat masyarakat yang muncul dari upaya untuk memenuhi kebutuhan". Mereka adalah kekuatan sosial yang terbentuk secara tidak sadar (unconsciously) dan spontan. Asal-usulnya sering kali hilang dalam misteri.

Folkways tidak diciptakan secara sengaja atau terencana, melainkan tumbuh seolah-olah oleh energi internal kehidupan. Mereka adalah fenomena massa yang dipelajari oleh generasi muda melalui tradisi, imitasi, dan otoritas.

Pembentukan folkways juga dipengaruhi oleh unsur yang disebut Sumner sebagai "aleatory interest," yaitu elemen keberuntungan dan nasib. Ketika seseorang menggunakan cara terbaik tetapi gagal, atau sebaliknya, mencapai hasil besar dengan sedikit usaha, hasil tersebut dikaitkan dengan kekuatan superior. Elemen keberuntungan ini menjadi penghubung antara perjuangan untuk bertahan hidup dan agama primitif. Proses pembentukan folkways juga melibatkan "goblinism" dan "demonism" serta gagasan primitif tentang keberuntungan, yang memberikannya otoritas tradisional.

2.2 Mores: Folkways dengan Signifikansi Moral

Mores didefinisikan sebagai folkways yang "dinaikkan ke tingkat lain," mencakup generalisasi filosofis dan etis tentang kesejahteraan sosial yang disarankan olehnya. Mores memiliki bobot moral yang jauh lebih signifikan daripada folkways. Pelanggaran folkways hanya dianggap sebagai perilaku "kasar" atau "tidak sopan" dan biasanya hanya menuai sanksi ringan, seperti teguran atau tatapan mata yang mencela. Sebaliknya, pelanggaran mores dianggap "salah" secara moral dan dapat mengakibatkan sanksi yang parah, seperti kecaman keras, pengucilan sosial, atau hukuman berat lainnya. Mores sering dianggap sebagai taboo, yang merupakan mores negatif, melarang perilaku tertentu.

2.3 Konsep-konsep Terkait dan Hierarki Norma

Sumner juga menciptakan konsep-konsep kunci lain yang menjadi dasar ilmu sosiologi dan psikologi sosial. Salah satunya adalah ethnocentrism, yang ia definisikan sebagai kecenderungan untuk menjadi "berpusat secara etnis" atau menilai budaya lain berdasarkan standar budaya sendiri. Konsep ini terkait erat dengan dinamika in-group (kelompok kita) dan out-group (kelompok lain), di mana sentimen loyalitas terhadap in-group dan permusuhan terhadap out-group sangat kuat.

"Folkways" menetapkan sebuah hierarki norma sosial yang masih relevan hingga kini. Hierarki ini terdiri dari empat tingkatan norma dengan tingkat signifikansi dan sanksi yang berbeda:
1. Folkways: Norma untuk interaksi sehari-hari yang santai, seperti cara berpakaian atau menunggu dalam antrean.
2. Mores: Norma yang menentukan perilaku moral dan etis, membedakan antara yang benar dan yang salah.
3. Taboos: Norma yang sangat ketat; pelanggarannya dianggap menjijikkan dan dapat berakibat pengucilan dari masyarakat.
4. Laws: Aturan tertulis yang ditegakkan oleh otoritas pemerintah, dengan sanksi formal seperti denda atau penjara.

Perbedaan antara folkways dan mores adalah inti dari argumen Sumner. Tabel berikut merangkum perbedaan-perbedaan ini untuk memberikan gambaran yang lebih jelas.

Buku Folkways Karya William Graham Sumner
Sumner berpendapat bahwa mores suatu masyarakat adalah "benar" dan "kebenaran" karena mereka telah berhasil memfasilitasi kelangsungan hidup kelompok. Ini bukan hanya argumen moral, tetapi juga epistemologis tentang bagaimana masyarakat menentukan "kebenaran." Kebiasaan individu, yang muncul dari perjuangan untuk bertahan hidup, secara bertahap menjadi standar. Ketika kebiasaan-kebiasaan ini menjadi terjalin dengan kepercayaan mistis atau utilitarian dan dianggap "benar" dan "konsisten" dengan pandangan dunia kelompok, mereka naik ke tingkat mores. Dengan demikian, kebenaran dan kebenaran suatu norma tidak berasal dari otoritas eksternal seperti Tuhan atau filsafat abstrak, melainkan dari efektivitas internal dan koherensi sosial yang telah teruji secara historis.

Bagian III: Tesis Sentral dan Filsafat Buku

3.1 Penyangkalan Hak-hak Alami (Natural Rights)

Tesis sentral buku "Folkways" adalah bahwa "hak" dan "kebenaran" tidak bersifat absolut, universal, atau "diberikan oleh Tuhan". Sebaliknya, apa yang dianggap "benar" adalah refleksi dari folkways yang telah terbukti efektif dalam mempromosikan kelangsungan hidup dan kesejahteraan kelompok. Dengan demikian, Sumner menolak konsep "hak-hak alami" yang merupakan pilar penting dalam pemikiran politik Amerika, berargumen bahwa "hak individu" hanyalah aturan yang diberlakukan pada anggota in-group untuk menjaga agar masyarakat tetap layak dan damai.

3.2 Filsafat Konservatif dan Immutabilitas Folkways

Sumner memandang folkways dan mores sebagai kekuatan yang sangat konservatif. Mereka secara mendasar resisten terhadap perubahan yang disengaja dan radikal. Ia menyatakan bahwa revolusi dapat mengubah bentuk pemerintahan, dari monarki menjadi republik misalnya, tetapi tidak akan dapat mengubah "folk mind" atau praktik-praktik yang mengakar; massa pada akhirnya akan kembali ke cara-cara tradisional mereka.

Pandangan ini juga menyoroti hierarki sosial. Sumner berpendapat bahwa masyarakat sipil memiliki setidaknya tiga tingkatan: massa di lapisan bawah, yang merupakan "pembawa" atau penjaga folkways yang kaku; "middle section" yang berinteraksi dengan institusi politik; dan kelas atas atau elit, yang merupakan sumber variasi dan inovasi yang mendorong kemajuan sosial. Ini adalah filosofi yang menyangkal gagasan kebijaksanaan yang melekat pada massa hanya karena mereka adalah mayoritas.

Implikasi utama dari tesis Sumner adalah bahwa upaya reformasi sosial yang bertujuan untuk mengubah masyarakat secara cepat dan radikal adalah sia-sia. Dengan berargumen bahwa folkways pada dasarnya tidak bisa diubah dan bahwa "apa yang ada, itu benar", Sumner menyediakan dasar teoretis untuk menolak intervensi pemerintah dan program-program kesejahteraan sosial. Ia meyakini bahwa perubahan sosial adalah proses yang lambat, "seperti gletser," yang tidak dapat dipaksakan. Akibatnya, ia menyimpulkan bahwa upaya untuk memaksakan perubahan dari "atas"—seperti melalui undang-undang atau program sosial—akan gagal atau menimbulkan konsekuensi yang tidak diinginkan. Hal ini secara langsung membenarkan sikapnya yang menolak reformasi dan intervensi negara.

Bagian IV: Metodologi dan Contoh Historis

4.1 Metodologi Komparatif Sumner

Metodologi Sumner dalam "Folkways" ditandai dengan penggunaan data perbandingan antropologi dan sejarah yang sangat kaya. Ia menekankan pentingnya studi yang mendalam (in detail) untuk menunjukkan bagaimana mores beroperasi dalam kasus-kasus spesifik. Struktur buku ini, yang berasal dari materi pengajaran kelas, membuatnya "jauh lebih kaya" dalam ilustrasi, meskipun terkadang kurang rapi dalam penyajiannya.

4.2 Ilustrasi Historis dan Etnografis

Sebagian besar, sekitar empat perlima dari buku, didedikasikan untuk ilustrasi terperinci tentang kekuatan mores. Contoh-contoh ini dirancang untuk mendukung tesis bahwa "mores dapat membuat apa pun menjadi benar dan mencegah kecaman terhadap apa pun". Sumner membahas berbagai praktik dari berbagai budaya untuk menunjukkan bagaimana moralitas adalah produk dari evolusi sosial, bukan dari prinsip-prinsip absolut.

Berikut adalah beberapa contoh tematik yang digunakan dalam buku:

Buku Folkways Karya William Graham Sumner
Contoh-contoh ini, seperti kanibalisme dan pengorbanan anak, secara paradoks menunjukkan bahwa apa yang dianggap mengerikan dalam satu budaya dapat dibenarkan oleh mores di budaya lain. Ini adalah inti dari argumen Sumner tentang relativitas moral dan penolakannya terhadap hak-hak universal. Ia menggunakan contoh-contoh ekstrem ini bukan untuk mengecam praktik-praktik primitif, tetapi untuk memperkuat argumennya bahwa moralitas adalah produk dari evolusi sosial, bukan dari prinsip-prinsip mutlak.

Bagian V: Kontribusi dan Evaluasi Kritis terhadap "Folkways"

5.1 Kontribusi Signifikan

"Folkways" adalah karya monumental yang tetap menjadi teks kunci dalam sosiologi dan antropologi. Sumbangan terbesarnya adalah perkenalan terminologi sosiologis yang sangat berguna dan masih digunakan secara luas hingga saat ini. Konsep-konsep seperti folkways, mores, dan ethnocentrism telah menjadi bagian integral dari studi ilmu sosial.

Selain itu, Sumner diakui sebagai prekursor penting bagi teori interaksionisme simbolik, karena penekanannya pada studi detail kecil, ritual, norma, dan simbol yang membentuk kehidupan kelompok. Ia menunjukkan bagaimana dunia sosial, meskipun dipengaruhi oleh institusi-institusi besar, dibentuk oleh praktik-praktik sehari-hari yang biasa, sebuah gagasan yang juga dieksplorasi oleh sosiolog seperti Georg Simmel.

5.2 Kritik dan Keterbatasan

Meskipun kontribusinya signifikan, "Folkways" juga tidak luput dari kritik. Kritik utama menyatakan bahwa buku ini merupakan upaya tersembunyi untuk membenarkan filosofi konservatif dan teori laissez-faire Sumner. Gagasan bahwa "apa yang ada, itu benar" (what is, is right) dianggap membenarkan ketidaksetaraan dan resistensi terhadap reformasi sosial.

Para pengulas juga mencatat adanya kontradiksi dan ambiguitas dalam argumen Sumner. Misalnya, ketidakjelasan tentang asal-usul konsep "hak" yang berayun antara kebiasaan, tradisi leluhur, dan ketakutan akan hantu. Selain itu, sikap Sumner terhadap kritik etis tampak ambivalen; di satu sisi ia mengkritik "prinsip-prinsip agung," tetapi di sisi lain, ia menawarkan kritiknya sendiri terhadap mores yang ada. Metodologinya, meskipun kaya akan data, dikritik karena menggunakan fakta-fakta sebagai "titik loncat menuju kesimpulan yang terburu-buru dan tidak logis".

Sumner adalah sosok yang paradoks; ia adalah penganut setia sosial Darwinisme dan ideologi konservatif yang mungkin terasa kuno, tetapi pada saat yang sama, ia adalah seorang perintis yang memperkenalkan konsep-konsep sosiologis yang sangat modern dan masih relevan. Ia menggunakan kerangka teoretis evolusioner yang populer pada masanya untuk menjelaskan fenomena sosial yang kompleks. Dari pendekatan ini, ia menyimpulkan bahwa perubahan sosial adalah proses yang lambat, "seperti gletser," yang tidak bisa dipaksakan. Namun, dalam proses ini, ia juga menemukan dan menamakan fenomena-fenomena sosial yang sangat spesifik dan fundamental—folkways, mores, ethnocentrism—yang melampaui kerangka evolusioner yang ia gunakan. Inilah sebabnya, meskipun filosofinya banyak dikritik, terminologinya tetap menjadi bagian integral dari studi sosiologi dan antropologi.

Kesimpulan: Warisan dan Relevansi Abadi

"Folkways" adalah karya yang monumental tidak hanya karena isinya yang luas, tetapi juga karena memperkenalkan kosakata dasar sosiologi. Buku ini memberikan kontribusi yang abadi pada studi norma sosial, dinamika budaya, dan pembentukan institusi. Sumner mendefinisikan lembaga sosial sebagai "suatu jenis tindakan, cita-cita, sikap, serta berbagai peralatan budaya yang bersifat abadi". Ia menunjukkan bahwa lembaga-lembaga ini terbentuk dari folkways yang mengelompok di sekitar kepentingan-kepentingan utama manusia dan secara bertahap berevolusi menjadi mores.

Meskipun pandangan konservatif dan justifikasi filosofisnya telah banyak dikritik, "Folkways" tetap menjadi referensi penting bagi para akademisi yang ingin memahami bagaimana kebiasaan tak disadari dan adat istiadat sehari-hari membentuk fondasi masyarakat. Buku ini berfungsi sebagai pengingat akan kekuatan luar biasa dari tradisi dalam mengendalikan kehidupan individu dan kolektif. Laporan ini menyimpulkan bahwa relevansi abadi "Folkways" terletak pada kerangka konseptualnya, yang menyediakan cara untuk menganalisis dan memahami dinamika budaya, bukan pada pandangan filosofis yang mendasarinya.

Karya yang dikutip

Aletheia Rabbani
Aletheia Rabbani “Barang siapa yang tidak mampu menahan lelahnya belajar, maka ia harus mampu menahan perihnya kebodohan” _ Imam As-Syafi’i

Post a Comment