Thales dari Miletus: Air sebagai Asal Segala Sesuatu dan Lahirnya Rasionalitas Barat

Table of Contents

Thales dari Miletus
Penyelidikan mendalam terhadap sejarah pemikiran manusia selalu bermuara pada satu titik koordinat yang krusial di pesisir Ionia, tepatnya di kota pelabuhan Miletus pada awal abad ke-6 SM. Di sinilah Thales, seorang intelektual yang diakui sebagai figur pertama dalam kanon filsafat Barat, menginisiasi sebuah revolusi intelektual yang menggeser paradigma manusia dari penjelasan mitopoetik menuju inkuiri rasional yang sistematis. Sebagai pelopor filsafat Pra-Sokratik, Thales tidak hanya menawarkan jawaban atas pertanyaan tentang substansi dasar alam semesta, tetapi yang lebih fundamental, ia merumuskan pertanyaan itu sendiri dalam kerangka yang sepenuhnya naturalistik. Tulisan ini akan membedah secara komprehensif kontribusi filosofis Thales, mulai dari konteks sosiokultural yang memungkinkan kemunculan pemikirannya, hingga relevansi gagasan ontologisnya dalam diskursus sains dan lingkungan modern.

Latar Belakang Historis dan Dinamika Sosial Miletus Abad ke-6 SM

Munculnya filsafat di Ionia bukanlah sebuah kebetulan sejarah yang terisolasi, melainkan produk dari konvergensi berbagai faktor ekonomi, geografis, dan budaya yang unik. Miletus pada masa hidup Thales (sekitar 624–546 SM) adalah metropolis perdagangan yang paling makmur di dunia Yunani. Lokasinya yang strategis di muara Sungai Maeander menjadikannya gerbang utama yang menghubungkan dunia Mediterania dengan kekaisaran-kekaisaran besar di Timur, seperti Lydia, Babilonia, dan Persia.

Kosmopolitanisme Ionia dan Pertukaran Intelektual

Kekayaan Miletus yang bersumber dari perdagangan maritim menciptakan kelas menengah dan aristokrat yang memiliki waktu luang (schole), sebuah prasyarat penting bagi aktivitas spekulatif. Sebagai pusat perdagangan, Miletus berfungsi sebagai kawah candradimuka bagi pertukaran gagasan. Para pedagang Milesian tidak hanya membawa komoditas fisik, tetapi juga pengetahuan teknis dari Mesir dan Babilonia. Thales sendiri dilaporkan telah melakukan perjalanan ekstensif ke Mesir, di mana ia bersentuhan langsung dengan teknik pengukuran tanah (geometri) yang dikembangkan oleh para pendeta Mesir untuk mengatasi masalah banjir Sungai Nil.

Interaksi dengan peradaban luar ini memberikan perspektif komparatif yang meruntuhkan absolutisme mitos lokal. Ketika orang-orang Yunani menyadari bahwa bangsa lain memiliki penjelasan yang berbeda—namun sama-sama meyakinkan—tentang asal-usul dunia, muncul kebutuhan akan sebuah standar kebenaran yang lebih universal dan dapat diuji secara objektif. Thales berdiri di puncak transformasi ini, memanfaatkan kemajuan praktis dari Timur untuk membangun sistem spekulatif yang mandiri.

Pergeseran Paradigma dari Mythos ke Logos

Sebelum masa Thales, realitas dipahami melalui narasi mitologis yang bersifat antropomorfik. Gempa bumi, badai, dan gerhana dianggap sebagai manifestasi dari kehendak dewa-dewa yang sering kali berubah-ubah dan tidak dapat diprediksi. Tradisi ini, yang dikristalisasikan dalam karya-karya Homer dan Hesiod, menempatkan manusia dalam posisi pasif di hadapan kekuatan supernatural.

Thales memperkenalkan konsep logos, yaitu penjelasan yang didasarkan pada penalaran diskursif dan bukti empiris. Ia tidak lagi mencari "siapa" yang menyebabkan suatu fenomena, melainkan "apa" prinsip dasar yang mengaturnya secara internal. Peralihan ini menandai kelahiran physiologoi—penyelidik alam yang memandang kosmos sebagai keteraturan yang harmonis dan dapat dipahami oleh rasio manusia.

Konsep Utama Thales: Air sebagai Arche

Kontribusi filosofis Thales yang paling terkenal dan sering kali disederhanakan adalah pernyataannya bahwa "air adalah arche (prinsip dasar) dari segala sesuatu". Meskipun Thales sendiri kemungkinan besar tidak menggunakan istilah arche secara teknis, Aristoteles mengatribusikan konsep ini kepadanya untuk menjelaskan pencarian terhadap substansi asal yang tetap ada di balik segala perubahan fenomena.

Argumentasi Filosofis dan Pengamatan Empiris

Pemilihan air sebagai arche bukanlah dogma religius, melainkan kesimpulan yang ditarik dari pengamatan terhadap proses-proses alamiah. Aristoteles memberikan beberapa spekulasi mengenai alasan di balik pilihan Thales ini, yang mencerminkan pendekatan proto-ilmiah:
1. Esensi Kehidupan (Argumentasi Biologis): Thales mengamati bahwa nutrisi bagi semua makhluk hidup bersifat lembap dan panas itu sendiri dihasilkan dari kelembapan. Ia mencatat bahwa benih dari segala sesuatu memiliki sifat basah, dan kematian sering kali diikuti oleh pengeringan jaringan tubuh.
2. Transformasi Materi (Argumentasi Fisik): Air adalah satu-satunya elemen yang dapat diamati secara langsung berubah wujud menjadi tiga fase: padat (es), cair (air), dan gas (uap). Fleksibilitas ini memberikan model visual bagi Thales bahwa satu substansi tunggal dapat menjadi fondasi bagi keberagaman materi di dunia.
3. Kestabilan Kosmis: Thales berhipotesis bahwa bumi adalah sebuah cakram datar yang mengapung di atas air yang tak terbatas. Hipotesis ini digunakan untuk menjelaskan fenomena gempa bumi secara naturalistik: bumi berguncang bukan karena kemarahan Poseidon, melainkan karena gejolak pada air yang menopangnya, mirip dengan kapal yang diguncang ombak.

Interpretasi Ilmiah dan Ontologi Monistik

Secara ontologis, Thales adalah seorang monis material pertama. Ia berupaya mereduksi kompleksitas dunia yang tampak menjadi satu prinsip tunggal yang sederhana. Hal ini merupakan langkah metodologis yang sangat maju, karena menyiratkan adanya kesatuan dan keteraturan di balik kekacauan indrawi. Air dalam pandangan Thales bukanlah sekadar benda cair yang kita minum (H2O), melainkan sebuah prinsip ontologis yang dinamis dan berjiwa (hylozoisme).

Thales dari Miletus

Sumber-Sumber Primer dan Sekunder: Historiografi yang Menantang

Mempelajari Thales menuntut ketelitian kritis karena ketiadaan naskah asli yang selamat dari tangannya. Sejarah filsafat bergantung pada tradisi doxografi, di mana para penulis kemudian merekam dan sering kali menafsirkan ulang gagasan-gagasan Thales sesuai dengan agenda intelektual mereka sendiri.

Analisis Kritis terhadap Kesaksian Aristoteles

Aristoteles, dalam buku pertama Metaphysics, adalah sumber utama yang menetapkan Thales sebagai pendiri filsafat alam. Namun, para peneliti modern seperti Harold Cherniss telah memperingatkan bahwa Aristoteles menggunakan para pendahulunya sebagai instrumen dialektis untuk membuktikan teorinya tentang empat penyebab (four causes).

Ketika Aristoteles menyatakan bahwa Thales menganggap air sebagai penyebab material, ia mungkin sedang memaksakan terminologi teknisnya sendiri pada seorang pemikir yang hidup dua abad sebelumnya. Meskipun demikian, tanpa laporan Aristoteles, kita tidak akan memiliki kerangka kerja sistematis untuk memahami transisi pemikiran di Ionia. Aristoteles sering menggunakan frasa "dikatakan bahwa" (legetai) saat merujuk pada Thales, menunjukkan bahwa ia sendiri bekerja dari tradisi lisan atau sumber-sumber tertulis yang sudah sangat langka pada masanya.

Diogenes Laertius dan Konstruksi Biografis

Diogenes Laertius, melalui karyanya Lives and Opinions of Eminent Philosophers (abad ke-3 M), memberikan narasi yang lebih berwarna namun kurang kritis. Ia mencampuradukkan fakta sejarah dengan legenda urban untuk menciptakan potret "Orang Bijak" yang ideal. Diogenes adalah sumber bagi banyak anekdot terkenal tentang Thales, termasuk klaim bahwa ia adalah orang pertama yang mempelajari astronomi dan memprediksi gerhana matahari.

Kelemahan utama Diogenes adalah kurangnya skeptisisme terhadap sumber-sumbernya yang sering kali saling bertentangan. Misalnya, ia menyajikan berbagai versi tentang asal-usul keluarga Thales—apakah ia penduduk asli Miletus atau keturunan Fenisia—serta laporan yang kontradiktif mengenai apakah Thales pernah menikah atau tidak. Namun, nilai penting Diogenes terletak pada pelestarian tradisi tentang Thales sebagai ilmuwan praktis dan negarawan, bukan hanya metafisikawan.

Analisis Epistemologis dan Ontologis: Realitas dan Pengetahuan

Pemikiran Thales bukan hanya tentang "apa itu air," melainkan tentang "bagaimana kita tahu apa yang nyata." Ini adalah benih dari epistemologi dan ontologi Barat.

Penemuan Alam dan Hukum Alam

Secara epistemologis, Thales melakukan penemuan terhadap "alam" (physis). Sebelum Thales, tidak ada konsep tentang alam sebagai entitas yang otonom dan berfungsi menurut hukum-hukumnya sendiri. Dengan mengusulkan penyebab internal (seperti air yang bergoyang), Thales menetapkan bahwa dunia ini dapat diprediksi dan dianalisis melalui logika manusia.

Metode epistemologisnya didasarkan pada analogi dan generalisasi. Ia mengambil apa yang diketahui (sifat-sifat air di Bumi) dan mengekstrapolasinya ke skala kosmik. Inilah awal dari penalaran deduktif yang kemudian disempurnakan oleh Aristoteles dan Euclid.

Masalah Perubahan dan Permanensi

Secara ontologis, Thales bergulat dengan masalah yang akan mendominasi filsafat Yunani selama berabad-abad: bagaimana sesuatu bisa berubah namun tetap sama?. Dengan menyatakan air sebagai substansi dasar yang tetap ada sementara propertinya berubah (menjadi es, uap, atau lumpur), Thales memberikan jawaban monistik pertama terhadap masalah pluralitas.

Ia juga memperkenalkan gagasan tentang jiwa sebagai agen penggerak. Pernyataannya bahwa magnet memiliki jiwa karena ia menggerakkan besi menunjukkan bahwa ia tidak membedakan secara tajam antara materi organik dan anorganik. Dalam ontologi Thales, kehidupan adalah sifat fundamental dari realitas itu sendiri, sebuah pandangan yang menentang dualitas antara jiwa dan raga yang muncul belakangan dalam pemikiran Platonis.

Kontribusi Thales terhadap Filsafat dan Ilmu Pengetahuan

Thales bukan hanya seorang filsuf; ia adalah seorang polimatik yang memberikan kontribusi nyata pada matematika, astronomi, dan teknik.

Revolusi Matematika: Geometri Deduktif

Thales dianggap sebagai orang pertama yang melakukan generalisasi dalam matematika. Jika orang Mesir menggunakan geometri untuk tujuan praktis seperti survei tanah, Thales mengekstraksi prinsip-prinsip abstrak dari praktik tersebut. Ia dikreditkan dengan beberapa teorema fundamental, termasuk pembuktian bahwa diameter lingkaran membagi lingkaran tersebut menjadi dua bagian yang sama besar.

Salah satu demonstrasi paling terkenal dari kejeniusannya adalah pengukuran tinggi Piramida Giza. Thales menggunakan konsep segitiga serupa: ia menunggu sampai bayangan tubuhnya sama panjang dengan tinggi tubuhnya, lalu mengukur bayangan piramida. Meskipun sederhana, ini adalah penerapan rasio dan proporsi yang sangat penting bagi perkembangan sains kuantitatif.

Astronomi dan Prediksi Alam

Prediksi gerhana matahari tahun 585 SM tetap menjadi momen ikonik dalam sejarah sains. Meskipun kemungkinan besar ia menggunakan data observasi Babilonia, keberhasilannya dalam meramalkan peristiwa langit yang dahsyat menunjukkan bahwa langit tidak lagi dianggap sebagai ranah yang hanya dikuasai oleh kehendak ilahi. Thales juga menetapkan durasi tahun sebanyak 365 hari dan membagi musim, sebuah langkah krusial menuju sinkronisasi kehidupan manusia dengan ritme alam yang terukur.

Etika dan Kebijaksanaan Politik

Sebagai salah satu dari Tujuh Orang Bijak, Thales dikenal karena nasihat praktisnya. Ia menganjurkan federasi kota-kota Ionia untuk menghadapi ancaman Persia, menunjukkan bahwa pemikiran filosofisnya tidak terputus dari realitas sosial. Aforisme "Kenali Dirimu Sendiri" (Gnothi Seauton) sering dikaitkan dengannya, mencerminkan awal dari penyelidikan etis yang menempatkan kesadaran manusia sebagai titik sentral pengetahuan.

Perbandingan dengan Filsuf Milesian: Anaximander dan Anaximenes

Thales tidak bekerja sendirian; ia mendirikan apa yang sekarang dikenal sebagai Mazhab Milesian. Para penerusnya, Anaximander dan Anaximenes, membangun di atas fondasi Thales sambil memberikan kritik yang tajam.

Anaximander: Kritik terhadap Materialisme Spesifik

Anaximander (sekitar 610–546 SM), yang kemungkinan besar adalah murid Thales, menolak air sebagai prinsip dasar. Ia berargumen secara logis bahwa jika salah satu elemen primer (seperti air) adalah tidak terbatas, maka ia akan menghancurkan elemen-elemen lainnya yang berlawanan (seperti api). Oleh karena itu, arche tidak boleh berupa substansi yang kita kenal di dunia fisik, melainkan sesuatu yang ia sebut Apeiron—yang tak terbatas, tak terdefinisi, dan kekal.

Anaximander juga melampaui Thales dalam hal kosmologi dengan mengusulkan bahwa bumi tetap berada di tengah ruang tanpa penopang karena posisinya yang setimbang terhadap segala sesuatu. Ini adalah lompatan besar dari analogi fisik Thales (bumi mengapung di air) menuju pemikiran geometris dan abstrak tentang ruang.

Anaximenes: Kembali ke yang Konkret dengan Mekanisme Baru

Anaximenes (sekitar 585–528 SM) mencoba mendamaikan pandangan Thales dan Anaximander. Ia memilih udara (aer) sebagai arche. Udara memiliki sifat tak terbatas seperti Apeiron, namun tetap merupakan substansi fisik yang teramati seperti air.

Inovasi terbesar Anaximenes adalah penjelasan tentang bagaimana transformasi terjadi. Ia memperkenalkan konsep kondensasi dan rarefaksi: udara ketika menipis menjadi api, dan ketika memadat menjadi angin, awan, air, tanah, dan akhirnya batu. Dengan memberikan mekanisme fisik bagi perubahan, Anaximenes memberikan landasan yang lebih kuat bagi penjelasan naturalistik yang dimulai oleh Thales.

Thales dari Miletus

Relevansi Pemikiran Thales dalam Konteks Modern

Meskipun teori air Thales secara harfiah telah digantikan oleh kimia modern, esensi dari pemikirannya tetap menjadi jantung dari inkuiri manusia saat ini.

Sains Modern dan Pencarian Kesatuan

Upaya Thales untuk menemukan satu prinsip yang menyatukan seluruh fenomena alam adalah cikal bakal dari pencarian "Teori Segala Sesuatu" (Theory of Everything) dalam fisika modern. Prinsip monisme materialnya—bahwa seluruh alam semesta terbuat dari jenis "bahan" yang sama—adalah asumsi dasar yang mendasari fisika partikel dan kosmologi.

Dalam biologi dan astrobiologi, prinsip Thales "follow the water" tetap menjadi strategi utama dalam mencari kehidupan di luar bumi. Kesadaran bahwa air adalah medium esensial bagi kimia kehidupan adalah validasi modern atas intuisi biologis Thales. Eksperimen Miller-Urey yang mensimulasikan asal-usul kehidupan dalam "sup purba" cair secara tidak langsung merupakan penghormatan terhadap visi Thales tentang air sebagai matrix eksistensi.

Etika Lingkungan dan Krisis Air Global

Di era krisis iklim dan kelangkaan sumber daya, pandangan Thales tentang air memberikan dimensi filosofis bagi keberlanjutan. Dengan melihat air bukan sekadar komoditas kimia (H2O), melainkan prinsip hidup yang mendasari seluruh tatanan kosmik, manusia didorong untuk memperlakukan alam dengan rasa hormat yang hampir religius.

Filsafat lingkungan modern sering kali merujuk kembali pada hylozoisme Milesian untuk menentang pandangan mekanistik yang memandang alam sebagai mesin mati yang bisa dieksploitasi tanpa batas. Jika "segala sesuatu penuh dengan dewa-dewa" (yang diartikan sebagai prinsip keteraturan internal dan vitalitas), maka perusakan lingkungan adalah pelanggaran terhadap integritas kosmos itu sendiri.

Kesimpulan

Thales dari Miletus berdiri sebagai raksasa intelektual yang menandai fajar pemikiran Barat. Keberaniannya untuk membuang penjelasan mitologis yang nyaman demi pencarian kebenaran melalui rasio adalah momen paling menentukan dalam sejarah peradaban. Melalui konsep air sebagai arche, ia tidak hanya menawarkan sebuah teori tentang materi, tetapi juga menetapkan metodologi ilmiah yang mengedepankan observasi dan generalisasi logis.

Warisan Thales tidak terletak pada kebenaran faktual dari teorinya—kita tahu sekarang bahwa bumi tidak mengapung di air dan air bukanlah satu-satunya unsur—tetapi pada pergeseran cara berpikir yang ia inisiasi. Ia mengajarkan kita bahwa dunia ini adalah tempat yang masuk akal, bahwa alam memiliki bahasa yang dapat kita baca, dan bahwa kesatuan mendasari segala keberagaman yang kita lihat. Dari matematika deduktif hingga astrobiologi modern, dari kritik filosofis hingga etika lingkungan, bayang-bayang pemikiran Thales terus memandu upaya manusia untuk memahami tempatnya di tengah kosmos yang luas dan misterius ini. Di dalam tetesan air yang ia muliakan, tersimpan seluruh benih rasionalitas yang telah membangun dunia modern.

Sitasi:

Anaximenes of Miletus. (n.d.). Dalam Wikipedia. Diakses April 5, 2026, dari https://en.wikipedia.org/wiki/Anaximenes_of_Miletus

Anaximenes. (n.d.). Dalam Internet Encyclopedia of Philosophy. Diakses April 5, 2026, dari https://iep.utm.edu/anaximenes/

Anaximander. (n.d.). Dalam Encyclopaedia Britannica. Diakses April 5, 2026, dari https://www.britannica.com/biography/Anaximander

Ancient Greek philosophy. (n.d.). Dalam Internet Encyclopedia of Philosophy. Diakses April 5, 2026, dari https://iep.utm.edu/ancient-greek-philosophy/

Beyond naturalism: Demythologizing Thales. (n.d.). Diakses April 5, 2026, dari https://premieretat.com/beyond-naturalism-demythologizing-thales/

Diogenes Laertius. (n.d.). The lives and opinions of eminent philosophers. Project Gutenberg. Diakses April 5, 2026, dari http://www.gutenberg.org/ebooks/57342

Diogenes Laërtius. (n.d.). The lives and opinions of eminent philosophers: Complete and unabridged. Google Books. Diakses April 5, 2026, dari https://books.google.com/books/about/The_Lives_and_Opinions_of_Eminent_Philos.html?id=LpPT0AEACAAJ

Early Greek science: Thales to Plato. (n.d.). Diakses April 5, 2026, dari https://galileoandeinstein.phys.virginia.edu/lectures/thales.html

Gerlach, E. (n.d.). Greek philosophy – The Milesians: Thales, Anaximander & Anaximenes. Diakses April 5, 2026, dari https://ericgerlach.com/the-milesians/

History of logic. (n.d.). Dalam Wikipedia. Diakses April 5, 2026, dari https://en.wikipedia.org/wiki/History_of_logic

IONIAN thinkers. (n.d.). Diakses April 5, 2026, dari https://faculty.washington.edu/smcohen/320/ReeveIonians.htm

Konsep air sebagai asal usul kehidupan: Relevansi …. (n.d.). Diakses April 5, 2026, dari https://urj.uin-malang.ac.id/index.php/mij/article/download/17193/4905

Musacchio, F. (2025). Pre-Socratic natural philosophy and Thales: The shift from myth to logos. Diakses April 5, 2026, dari https://www.fabriziomusacchio.com/weekend_stories/told/2025/2025-01-03-pre_socratic_philosophy_and_thales/

Pre-Socratic philosophy. (n.d.). Dalam Wikipedia. Diakses April 5, 2026, dari https://en.wikipedia.org/wiki/Pre-Socratic_philosophy

Presocratics. (n.d.). Dalam Internet Encyclopedia of Philosophy. Diakses April 5, 2026, dari https://iep.utm.edu/presocra/

Study.com. (n.d.). Thales the philosopher: Theory & contributions. Diakses April 5, 2026, dari https://study.com/academy/lesson/thales-the-philosopher-theory-contributions-to-philosophy.html

Tashko, G. (n.d.). The significance of Thales of Miletus on Western thinking. Diakses April 5, 2026, dari https://gertitashkomd.com/history-in-brief-the-significance-of-thales-of-miletus-on-western-thinking/

Thales. (n.d.). Stanford University. Diakses April 5, 2026, dari https://web.stanford.edu/~jsabol/sophia/Presocratics.pdf

Thales lecture. (n.d.). Diakses April 5, 2026, dari https://faculty.washington.edu/smcohen/320/thales.htm

Thales of Miletus. (n.d.). Dalam Encyclopaedia Britannica. Diakses April 5, 2026, dari https://www.britannica.com/biography/Thales-of-Miletus

Thales of Miletus. (n.d.). Dalam EBSCO Research Starters. Diakses April 5, 2026, dari https://www.ebsco.com/research-starters/history/thales-miletus

Thales of Miletus. (n.d.). Dalam Internet Encyclopedia of Philosophy. Diakses April 5, 2026, dari https://iep.utm.edu/thales/

Thales of Miletus. (n.d.). Dalam Wikipedia. Diakses April 5, 2026, dari https://en.wikipedia.org/wiki/Thales_of_Miletus

Thales of Miletus (624 BC–547 BC). (n.d.). MacTutor History of Mathematics. Diakses April 5, 2026, dari https://mathshistory.st-andrews.ac.uk/Biographies/Thales/

Thales of Miletus. (n.d.). ResearchGate. Diakses April 5, 2026, dari https://www.researchgate.net/publication/366753039_Thales_of_Miletus

Thales of Miletos. (n.d.). ResearchGate. Diakses April 5, 2026, dari https://www.researchgate.net/publication/316366972_Thales_of_Miletos

Thales of Miletus: Sources and interpretations. (n.d.). Diakses April 5, 2026, dari http://mat.msgsu.edu.tr/~dpierce/Talks/2016-Miletus/thales.pdf

Thales of Miletus: The beginnings of Western science and philosophy. (n.d.). ResearchGate. Diakses April 5, 2026, dari https://www.researchgate.net/publication/236769674_Thales_of_Miletus_The_Beginnings_of_Western_Science_and_Philosophy_review

Thales of Miletus: The beginnings of Greek thought. (n.d.). History Today. Diakses April 5, 2026, dari https://www.historytoday.com/archive/thales-miletus-beginnings-greek-thought

Thales on water. (n.d.). Peitho. Examina Antiqua. Diakses April 5, 2026, dari https://pressto.amu.edu.pl/index.php/peitho/article/view/12213

Thales: The water principle of the universe. (n.d.). Philosophy Institute. Diakses April 5, 2026, dari https://philosophy.institute/ancient-medieval/thales-water-principle-universe/

Thales: The ‘first philosopher’? (n.d.). Diakses April 5, 2026, dari https://www.tandfonline.com/doi/full/10.1080/09608788.2022.2029347

Water as archē: Thales and the beginning of philosophy. (n.d.). Medium. Diakses April 5, 2026, dari https://medium.com/@YoshimasaF/water-as-arch%C4%93-thales-and-the-beginning-of-philosophy-af6580a056f3

Water and the philosophy of Thales of Miletus. (2025). Diakses April 5, 2026, dari https://matphilosophy.wordpress.com/2025/02/03/water-and-the-philosophy-of-thales-of-miletus/

WHY the water? The vision of the world by Thales of Miletus. (n.d.). Diakses April 5, 2026, dari https://dergipark.org.tr/en/download/article-file/184212

Aletheia Rabbani
Aletheia Rabbani “Barang siapa yang tidak mampu menahan lelahnya belajar, maka ia harus mampu menahan perihnya kebodohan” _ Imam As-Syafi’i

Post a Comment