Ontologi Kesadaran Rumasa dalam Falsafah Sunda: Dialektika Diri, Ruang, dan Ketuhanan
1. Definisi dan Etimologi
Secara linguistik, kata rumasa berakar dari kata dasar rasa, sebuah istilah yang memiliki silsilah panjang dalam sejarah intelektual Nusantara. Dalam bahasa Sunda, rasa tidak hanya merujuk pada persepsi sensorik (seperti rasa pada lidah) atau emosi sesaat, tetapi mencakup dimensi intuisi, kedalaman batin, dan kepekaan estetika-moral. Imbuhan um dalam bahasa Sunda sering kali memberikan makna aktivitas yang bersifat refleksif atau menunjukkan kondisi yang dirasakan secara mendalam oleh subjek. Dengan demikian, rumasa dapat diartikan sebagai "merasa diri" atau "memiliki kesadaran batin terhadap keadaan diri yang sebenarnya".
Makna filosofis rumasa melampaui sekadar aktivitas mental; ia adalah sebuah pengakuan jujur di hadapan diri sendiri. Seseorang yang memiliki sifat rumasa dianggap telah mencapai derajat kematangan mental tertentu karena ia mampu melihat bayang-bayang kekurangannya sendiri sebelum menilai orang lain. Sebaliknya, ketiadaan rumasa dalam diri seseorang sering kali dipandang sebagai akar dari berbagai patologi sosial, mulai dari kesombongan hingga konflik antar-pribadi.
Perbedaan Konseptual: Rumasa dan Ngarasa
Pembedaan antara rumasa dan ngarasa sangat krusial untuk dipahami guna menangkap esensi etika Sunda. Walaupun keduanya berakar pada kata yang sama, orientasi arah kesadarannya berlawanan secara diametral. Ngarasa cenderung bersifat ekstrospektif dan egoistik, di mana subjek menonjolkan diri atau menuntut haknya atas orang lain. Sementara itu, rumasa bersifat introspektif dan altruistik, di mana subjek menyadari kewajiban dan keterbatasannya.
Makna Filosofis dalam Konteks Budaya Sunda
Dalam pandangan dunia Sunda, rumasa adalah fondasi dari manusia yang "nyunda" atau manusia yang ideal. Hal ini berkaitan dengan konsep kesadaran akan ruang dan waktu. Manusia Sunda diajarkan untuk menyadari posisinya sebagai bagian dari alam semesta yang fana. Rumasa dalam konteks ini berarti menyadari bahwa segala sesuatu yang dimiliki adalah titipan (titipan Gusti) dan bukan milik permanen. Kesadaran akan kefanaan ini melahirkan sikap hidup yang tidak berlebihan (siger tengah), di mana seseorang mengukur keinginannya sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya.
Lebih jauh lagi, rumasa merupakan bentuk kejujuran eksistensial. Tanpa rumasa, nilai-nilai luhur seperti soméah (keramah-tamahan) hanya akan menjadi topeng sosial atau formalitas belaka. Soméah yang sejati lahir dari perasaan rumasa bahwa setiap orang yang ditemui adalah sesama makhluk Tuhan yang layak dihormati. Dengan demikian, rumasa berfungsi sebagai ruh yang menghidupkan setiap perilaku etis dalam kebudayaan Sunda.
2. Landasan Filosofis dan Nilai Dasar
Rumasa beroperasi sebagai bentuk kesadaran diri (self-awareness) yang bersifat multidimensional. Ia tidak hanya menyentuh aspek rasionalitas, tetapi juga masuk ke wilayah intuitif yang disebut rasa. Dalam kosmologi Sunda yang sering dijelaskan melalui pola tiga (tritangtu) oleh pakar seperti Jakob Sumardjo, manusia menempati posisi sentral sebagai penyeimbang antara alam atas (niskala) dan alam bawah. Rumasa dalam konteks ini adalah kesadaran manusia akan perannya sebagai mediator atau penyeimbang tersebut.
Analisis Rumasa sebagai Bentuk Kesadaran Diri (Self-Awareness)
Kesadaran diri dalam rumasa melibatkan proses "ngaca diri" atau bercermin pada diri sendiri. Proses ini menuntut individu untuk melepaskan segala bentuk kepalsuan sosial. Dalam kebudayaan Sunda, orang yang mampu mencapai tingkat rumasa yang tinggi disebut sebagai orang yang "teu adigung" (tidak sombong) karena ia selalu sadar akan asal-usul dan keterbatasannya. Kesadaran ini bukan berarti rendah diri (inferiority complex), melainkan sebuah kekuatan mental untuk menerima kenyataan tanpa harus merasa terancam oleh kelebihan orang lain.
Kaitan dengan Nilai Handap Asor, Tepa Salira, Isin, dan Someah
Nilai-nilai etis Sunda saling mengunci satu sama lain dengan rumasa sebagai porosnya.
1. Handap Asor (Rendah Hati): Ini adalah manifestasi lahiriah dari rumasa. Seseorang yang benar-benar rumasa akan secara otomatis menunjukkan sikap handap asor dalam berbicara dan bertindak karena ia tidak memiliki dorongan untuk meninggikan dirinya di atas orang lain.
2. Tepa Salira (Tenggang Rasa): Rumasa memungkinkan terjadinya empati. Karena seseorang rumasa memiliki kekurangan dan bisa merasa sakit hati, maka ia akan berhati-hati agar tidak menyakiti orang lain. Tepa salira adalah proyeksi dari rumasa diri ke diri orang lain.
3. Isin (Malu): Rasa malu dalam budaya Sunda sangat terkait dengan rumasa. Seseorang merasa isin jika ia tidak mampu bertindak sesuai dengan standar moral yang ia yakini atau jika ia merasa melanggar norma kelompok. Isin adalah alarm internal yang berbunyi ketika rumasa mulai tergerus oleh ego.
4. Someah (Ramah Tamah): Soméah merepresentasikan brand personality masyarakat Sunda yang terbuka dan sopan. Keterbukaan ini didasari oleh perasaan rumasa sebagai sesama anggota komunitas manusia yang saling membutuhkan.
Hubungan dengan Tumarima dan Silih (Asah, Asih, Asuh)
Konsep rumasa meluas ke dalam domain penerimaan hidup dan kolaborasi sosial.
- Tumarima: Merupakan sikap penerimaan yang tulus terhadap realitas hidup. Seseorang yang rumasa akan lebih mudah mencapai kondisi tumarima karena ia sadar bahwa manusia tidak memiliki kontrol penuh atas segala sesuatu. Tumarima bukan berarti pasrah buta, melainkan sebuah stabilitas emosional setelah melakukan usaha maksimal.
- Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh: Trias nilai ini membentuk fondasi masyarakat Sunda yang harmonis.
○ Silih Asah: Saling mencerdaskan. Hal ini hanya mungkin terjadi jika semua pihak rumasa bodo (merasa kurang ilmu) sehingga bersedia belajar satu sama lain.
○ Silih Asih: Saling mengasihi. Dasar dari silih asih adalah rumasa sebagai sesama makhluk yang memiliki perasaan dan membutuhkan kasih sayang.
○ Silih Asuh: Saling membimbing atau mengayomi. Hal ini menuntut rumasa akan tanggung jawab sosial terhadap mereka yang lebih lemah atau membutuhkan bimbingan.
Sinergi antara nilai-nilai ini menciptakan sebuah tatanan sosial yang stabil, di mana konflik diminimalisir melalui mekanisme introspeksi kolektif yang berakar pada rumasa.
3. Dimensi Sosial dan Budaya
Dalam struktur sosial masyarakat Sunda, rumasa berfungsi lebih dari sekadar nilai individu; ia adalah perekat sosial yang menjaga kohesi komunitas. Di masyarakat agraris tradisional seperti Kasepuhan Ciptagelar, rumasa diwujudkan dalam bentuk kesadaran kolektif untuk menjaga alam dan aturan leluhur demi keberlangsungan hidup bersama. Tanpa rumasa, solidaritas sosial akan hancur oleh keserakahan individu.
Fungsi Rumasa dalam Menjaga Harmoni Sosial
Masyarakat Sunda cenderung mengutamakan harmoni batiniah dan lahiriah. Rumasa memastikan bahwa setiap individu menjaga "spacing" atau jarak sosial yang sopan, yang diungkapkan melalui penggunaan bahasa yang halus (lemes) dan sikap tubuh yang santun. Dengan memiliki perasaan rumasa, individu tidak akan bertindak semena-mena yang dapat merusak tatanan sosial. Harmoni ini bukan berarti ketiadaan konflik, melainkan adanya mekanisme penyelesaian konflik yang berbasis pada rasa saling menghormati dan introspeksi diri.
Rumasa sebagai Mekanisme Kontrol Sosial Informal
Di pedesaan Sunda, kontrol sosial sering kali tidak dilakukan melalui hukuman fisik atau denda material, melainkan melalui tekanan psikologis berupa rasa isin (malu) yang berakar pada rumasa. Konsep pamali (tabu) adalah salah satu bentuk manifestasi kontrol ini. Seseorang yang melanggar pamali akan merasa rumasa bersalah karena telah melanggar keseimbangan kosmik atau sosial.
Penelitian etnografi di Tasikmalaya menunjukkan bahwa pola asuh berbasis rumasa sangat efektif dalam membentuk resiliensi remaja. Orang tua mengajarkan nilai ngajénan (menghormati) dan ngaragap rasa (mempertimbangkan perasaan orang lain) sebagai cara untuk mendisiplinkan anak tanpa kekerasan. Hal ini membuktikan bahwa rumasa bekerja sebagai penjaga moral yang efektif tanpa memerlukan pengawasan eksternal yang ketat dari lembaga hukum formal.
Contoh Praktik dalam Berbagai Bidang
Dalam kepemimpinan Sunda tradisional, figur seperti Resi, Ratu, dan Rama (Tri Tangtu di Bumi) harus memiliki kapasitas rumasa yang mumpuni. Seorang Ratu (pemimpin politik) harus rumasa bahwa ia melayani rakyat; seorang Resi (pemimpin spiritual) harus rumasa bahwa ia hanya penyampai kebenaran; dan seorang Rama (pemimpin masyarakat/keluarga) harus rumasa bahwa ia adalah pelindung.4. Dimensi Spiritual dan Religius
Dimensi spiritual adalah tempat di mana konsep rumasa mencapai kedalaman tertingginya. Dalam spiritualitas Sunda, rumasa adalah gerbang menuju kondisi eling (ingat/sadar). Eling bukan hanya sekadar ingat secara intelektual, tetapi kesadaran penuh akan kehadiran Tuhan dalam setiap aspek kehidupan. Hubungan antara manusia dan Tuhan dalam filosofi Sunda sering kali digambarkan sebagai hubungan hamba yang fakir dengan Pencipta yang Maha Kaya.
Hubungan Rumasa dengan Eling dan Tawadhu
Rumasa adalah prasyarat untuk mencapai sikap tawadhu (rendah hati secara religius). Tanpa rumasa, seseorang tidak mungkin bisa bersujud dengan tulus di hadapan Tuhan karena egonya masih merasa "memiliki" sesuatu.
1. Rumasa jauh tina hidayah: Kesadaran bahwa tanpa bimbingan Tuhan, manusia akan tersesat.
2. Rumasa loba dosa: Kesadaran akan keterbatasan moral yang memicu pertobatan terus-menerus.
3. Rumasa bodo: Pengakuan bahwa ilmu manusia tidak ada apa-apanya dibandingkan ilmu Allah.
Sikap-sikap ini selaras dengan ajaran Islam mengenai hakikat kemanusiaan. Penelitian terhadap penghafal Al-Qur'an (Hafiz) menunjukkan bahwa mereka yang memiliki sifat tawadhu cenderung menyembunyikan hafalan mereka agar tidak terjebak dalam rasa bangga diri (ujub), sebuah bentuk praktis dari rumasa spiritual.
Pengaruh Nilai-Nilai Islam dalam Pembentukan Konsep Rumasa
Masuknya Islam ke tanah Sunda tidak menghapuskan kearifan lokal, melainkan memperkuatnya melalui proses sinkretisme yang harmonis. Tokoh sufi Sunda kenamaan, Haji Hasan Mustapa, menggunakan istilah rumasa secara ekstensif dalam karya sastra dangding-nya untuk menjelaskan hubungan mistis antara "kuring" (aku) dan "Gusti" (Tuhan). Bagi Mustapa, rumasa adalah alat untuk menghancurkan ego manusia agar bisa bersatu kembali dengan kehendak Ilahi.
Dialog antara Islam dan Sunda juga terlihat dalam tradisi nadoman (puji-pujian di masjid atau pesantren) yang sering kali berisi lirik-lirik yang menggugah rasa rumasa umat akan kematian dan hari pembalasan. Dengan demikian, Islam memberikan kerangka teologis bagi nilai rumasa, sementara budaya Sunda memberikan wadah emosional dan puitis untuk mengekspresikannya.
5. Analisis Sosiologis dan Teoritis
Untuk memberikan bobot akademik yang lebih luas, konsep rumasa dapat dibedah menggunakan perangkat teori sosiologi Barat yang memiliki relevansi dengan mekanisme kerja kesadaran diri.
Perbandingan dengan Teori "Self" George Herbert Mead
George Herbert Mead dalam karyanya mengenai interaksionisme simbolik membagi diri (self) menjadi dua komponen: I dan Me.
- I: Subjek yang bertindak secara spontan dan impulsif.
- Me: Objek sosial atau diri yang dibentuk oleh persepsi orang lain dan norma masyarakat.
Dalam kacamata ini, rumasa dapat dipahami sebagai dominasi Me atas I yang dilakukan secara sadar oleh individu. Ketika seseorang merasa rumasa, ia sebenarnya sedang melihat dirinya melalui perspektif komunitas (Generalized Other). Ia menilai tindakannya berdasarkan ekspektasi moral Sunda. Rumasa adalah proses di mana individu menjadikan dirinya sebagai objek pengamatan bagi dirinya sendiri untuk memastikan bahwa perilakunya tetap berada dalam jalur harmoni sosial.
Kaitan dengan Konsep "Habitus" Pierre Bourdieu
Pierre Bourdieu mendefinisikan habitus sebagai disposisi batiniah yang diperoleh melalui sosialisasi dan menjadi semacam "insting" budaya. Rumasa dalam masyarakat Sunda telah menjadi bagian dari habitus kolektif. Orang Sunda tidak perlu diajarkan secara teknis setiap hari untuk bersikap sopan; sikap tersebut muncul secara otomatis karena nilai rumasa telah terpatri dalam struktur mental mereka sejak dini melalui pengasuhan dan interaksi harian.
Rumasa sebagai habitus menjelaskan mengapa perilaku soméah tetap bertahan meskipun masyarakat mengalami modernisasi. Nilai ini menjadi modal budaya (cultural capital) yang memberikan identitas khas bagi orang Sunda dalam pergaulan global.
Internalisasi melalui Interaksionisme Simbolik
Internalisasi nilai rumasa terjadi melalui pertukaran simbol-simbol dalam interaksi sosial harian. Kata-kata seperti "punten", "mangga", dan gestur membungkukkan badan (rengkuh) adalah simbol fisik dari keberadaan rumasa dalam diri seseorang. Melalui pengulangan simbol-simbol ini, individu belajar untuk memposisikan dirinya secara tepat (placement). Proses ini menciptakan sebuah tatanan yang oleh Mead disebut sebagai "percakapan batin" (inner conversation), di mana individu terus bertanya pada dirinya sendiri apakah tindakannya sudah sesuai dengan rasa rumasa yang ia miliki.
6. Dialektika dan Kritik
Meskipun rumasa dipandang sebagai nilai yang sangat positif, dalam praktiknya ia menghadapi tantangan dialektis, terutama ketika berhadapan dengan ego manusia dan struktur kekuasaan.
Pertentangan antara Rumasa dan Ego (Ngarasa)
Kehidupan manusia Sunda adalah panggung pertempuran antara rumasa dan ngarasa. Ego manusia (ngarasa) selalu ingin menonjol, ingin diakui, dan ingin berkuasa. Sementara itu, rumasa selalu menarik individu untuk kembali ke posisi rendah hati. Kegagalan mengelola dialektika ini sering kali menyebabkan apa yang disebut sebagai "krisis identitas kesundaan", di mana seseorang secara fisik Sunda tetapi perilakunya telah kehilangan ruh rumasa dan beralih sepenuhnya ke ngarasa yang destruktif.
Analisis Potensi Kelemahan: Penekanan Ekspresi dan Kritik?
Kritik terhadap konsep-konsep kearifan lokal seperti rumasa sering kali berpusat pada potensi dampaknya terhadap kemajuan individu dan keberanian sosial.
1. Kepasifan (Fatalisme): Jika rumasa dan tumarima disalahpahami, ia dapat menjebak masyarakat dalam kemiskinan atau ketidakadilan karena mereka merasa "rumasa sudah takdirnya begitu". Hal ini dapat menghambat mobilitas sosial dan semangat juang.
2. Penekanan Kritik Sosial: Rasa isin (malu) dan keinginan menjaga harmoni melalui rumasa kadang-kadang membuat orang Sunda enggan menyuarakan kebenaran jika hal itu berpotensi menimbulkan ketegangan (sikap asal bapak senang atau ewuh pakewuh).
3. Keterbatasan Ekspresi Diri: Dalam konteks profesional modern, sikap terlalu handap asor terkadang disalahtafsirkan sebagai kurangnya rasa percaya diri atau kompetensi oleh budaya luar yang lebih agresif.
Namun, budayawan Sunda menekankan bahwa rumasa yang sejati justru menuntut keberanian untuk jujur. Jika seseorang rumasa melihat ketidakadilan, maka kewajibannya adalah melakukan silih asah (saling mengingatkan) demi kebaikan bersama.
Relevansi dalam Masyarakat Modern yang Individualistik
Di era globalisasi yang mengagungkan pencapaian individu dan kompetisi, rumasa menawarkan antidot terhadap alienasi sosial. Masyarakat modern yang terlalu fokus pada branding diri (ngarasa hebat) sering kali kehilangan koneksi dengan sesama. Rumasa mengajak manusia untuk kembali ke fitrahnya sebagai makhluk sosial yang saling bergantung. Tantangannya adalah bagaimana menjaga nilai ini agar tetap hidup di tengah arus konsumerisme yang selalu memicu keinginan untuk "merasa lebih" dari orang lain.
7. Relevansi Kontemporer
Nilai rumasa memiliki potensi besar untuk diintegrasikan ke dalam berbagai aspek kehidupan modern guna memperbaiki kualitas interaksi manusia dan tata kelola organisasi.
Penerapan dalam Pendidikan Karakter
Di sekolah, rumasa dapat menjadi landasan bagi pencegahan perundungan (bullying). Dengan melatih siswa untuk ngaragap rasa (merasakan perasaan orang lain), sekolah dapat menciptakan lingkungan yang lebih empatik. Pendidikan berbasis kearifan lokal Sunda yang mengintegrasikan nilai-nilai seperti jujur, tanggung jawab, dan demokratis (seperti di Ciptagelar) terbukti mampu membentuk karakter siswa yang lebih stabil dan resilien.
Peran dalam Kepemimpinan dan Etika Digital
1. Kepemimpinan: Pemimpin modern yang menerapkan rumasa akan lebih mudah diterima oleh bawahan karena mereka menunjukkan sikap terbuka dan mau mendengar. Pemimpin yang rumasa tidak akan terjebak dalam perilaku koruptif karena mereka sadar akan tanggung jawab moralnya kepada masyarakat dan Tuhan.
2. Etika Digital: Di dunia maya yang penuh dengan hoaks dan ujaran kebencian, rumasa dapat berfungsi sebagai filter mental. Sebelum membagikan konten, individu yang memiliki rumasa akan bertanya: "Apakah saya punya hak untuk membicarakan ini? Apakah ini akan menyakiti orang lain?" Ini adalah bentuk literasi digital yang berakar pada kearifan lokal.
3. Kesadaran Ekologis: Melalui lagu-lagu seperti Kuring Leungiteun, seniman Sunda menggugah rasa rumasa manusia terhadap alam yang hancur akibat eksploitasi. Rumasa ekologis menuntut kita untuk menyadari bahwa kita hanyalah "penumpang" di bumi ini dan memiliki kewajiban untuk menjaga kelestariannya.
Strategi Revitalisasi di Era Globalisasi
Revitalisasi rumasa tidak boleh hanya sekadar romantisasi masa lalu. Ia harus dilakukan melalui langkah strategis:
- Kontekstualisasi: Menjelaskan nilai rumasa dalam bahasa yang dipahami oleh generasi milenial dan Gen Z, misalnya melalui media sosial dan budaya populer.
- Integrasi Kebijakan: Memasukkan unsur kearifan lokal dalam tata kelola birokrasi dan pelayanan publik untuk menciptakan sistem yang lebih humanis dan bersih.
- Pemberdayaan Berbasis Nilai: Menggunakan prinsip silih asih, asah, asuh dalam program-program pengentasan kemiskinan agar masyarakat tidak merasa sebagai objek bantuan, melainkan subjek yang saling memberdayakan.
8. Kesimpulan Filosofis
Rumasa adalah puncak dari kebijaksanaan batin masyarakat Sunda. Sebagai sebuah filosofi hidup, ia mengajarkan bahwa kehebatan manusia bukan ditentukan oleh seberapa besar ia mampu mendominasi dunia, melainkan seberapa dalam ia mampu mengenal dan mengendalikan dirinya sendiri. Rumasa memberikan keseimbangan antara kebutuhan untuk bertindak di dunia luar (ngarasa) dengan kebutuhan untuk tetap suci di dunia dalam (spiritual).
Secara universal, rumasa memberikan kontribusi penting bagi peradaban manusia dengan menawarkan model etika intersubjektif yang berbasis pada empati dan kerendahhatian. Di tengah krisis kemanusiaan dan ekologi yang melanda dunia saat ini, ajakan untuk kembali ke kesadaran rumasa menjadi sangat relevan. Manusia perlu "merasa" kembali keterbatasannya agar ia berhenti menghancurkan sesama dan alam demi kepuasan egonya yang tak terbatas. Dengan demikian, rumasa bukan hanya milik masyarakat Sunda, melainkan sebuah warisan nilai universal yang dapat menjadi panduan bagi siapa saja yang merindukan kehidupan yang lebih bermakna, harmonis, dan transenden.
Sitasi:
Brock University. (1913). George Herbert Mead: The social self. https://brocku.ca/MeadProject/Mead/pubs/Mead_1913.html
Erwina. (2019). Iber kasehatan in Sukamiskin. Naturalis Institutional Repository. https://repository.naturalis.nl/pub/800238/Erwina-2019-Iber-Kasehatan-in-Sukamiskin-A.pdf
Filosofi nilai-nilai budaya Sunda Grup Ma’soem. (n.d.). e-Journal Bina Sarana Informatika. https://ejournal.bsi.ac.id/ejurnal/index.php/sketsa/article/download/3395/2140
Filsafat dan pandangan hidup Sunda. (n.d.). Scribd. https://id.scribd.com/document/622482035/Filsafat-Sunda
International Journal of Multidisciplinary Research. (n.d.). The relevance of Pierre Bourdieu’s theory in the context of contemporary Indonesian society. https://ojssulthan.com/ijmr/article/view/883
Jurnal Artefak. (n.d.). Kearifan budaya Sunda dalam peralihan kepemimpinan Kerajaan Sunda di Kawali setelah Perang Bubat. https://jurnal.unigal.ac.id/artefak/article/view/1063
Jurnal P4I. (n.d.). Paedagogy: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi. https://jurnalp4i.com/index.php/paedagogy/article/download/6068/4524/48913
Jurnal Universitas Padjadjaran. (n.d.). Makna “Silas” menurut kearifan budaya Sunda perspektif filsafat nilai. https://jurnal.unpad.ac.id/sosiohumaniora/article/download/5745/3057
Jurnal Universitas Padjadjaran. (n.d.). Nadoman sebagai ruang negosiasi dalam pertemuan Islam dan budaya Sunda. https://jurnal.unpad.ac.id/lopian/article/download/33245/15345
KOSMOLOGI dan pola tiga Sunda. (n.d.). Neliti. https://media.neliti.com/media/publications/218259-kosmologi-dan-pola-tiga-sunda.pdf
Local wisdom of Kasepuhan Ciptagelar: The development of social solidarity in the era of globalization. (n.d.). ResearchGate. https://www.researchgate.net/publication/345128815
Nilai-nilai budaya soméah pada perilaku komunikasi masyarakat Suku Sunda. (n.d.). Jurnal Kajian Komunikasi. https://journals.unpad.ac.id/jkk/article/download/19595/10547
Pendidikan sebagai penjaga warisan: Kajian historis dan strategi pewarisan kebudayaan Sunda. (n.d.). Jurnal Unigal. https://jurnal.unigal.ac.id/artefak/article/download/19641/pdf
Peran pola asuh berbasis kearifan lokal “rumasa” dalam membentuk resiliensi pada remaja di komunitas pedesaan Sunda Banten. (n.d.). ResearchGate. https://www.researchgate.net/publication/394375722
Sifat tawâdhu’ hâfidz Al-Qur’an. (n.d.). https://jurnal.uin-antasari.ac.id/index.php/insania/article/download/2212/1785/7304
Sundanese Sufi literature and local Islamic identity: A contribution of Haji Hasan Mustapa’s dangding. (n.d.). ResearchGate. https://www.researchgate.net/publication/270492744
Sundanese values in the implementation of good governance. (n.d.). https://ejournal.seaninstitute.or.id/index.php/Ekonomi/article/download/1299/1045
Traditional Sundanese music as a medium for environmental advocacy: A case study of the song Kuring Leungiteun in the context of the global ecological crisis. (n.d.). ResearchGate. https://www.researchgate.net/publication/395110778
Traditional Sundanese music as a medium for environmental advocacy: A case study of the song Kuring Leungiteun. (n.d.). Jurnal Resital. https://journal.isi.ac.id/index.php/resital/article/download/15316/4411



Post a Comment