Filsafat Empedocles dari Acragas: Dialektika Empat Unsur, Kekuatan Kosmik, dan Eskatologi Alam Semesta

Table of Contents

Empedocles dari Acragas
Empedocles dari Acragas menempati posisi unik dan krusial dalam sejarah pemikiran Yunani Pra-Sokratik. Berbeda dengan para pendahulunya yang sering kali terjebak dalam dikotomi antara kesatuan statis dan perubahan tanpa henti, Empedocles muncul sebagai sosok "mediator" yang berusaha menyelaraskan kebenaran logis dari tradisi Eleatik dengan realitas empiris yang ditangkap oleh indra. Sebagai seorang penyair, dokter, politikus, dan nabi, ia tidak hanya merumuskan teori materi yang mendominasi sains Barat hingga era modern, tetapi juga menyajikan visi eskatologis tentang kejatuhan dan pemurnian jiwa. Analisis ini akan mengeksplorasi bagaimana struktur pemikiran Empedocles berfungsi sebagai sintesis besar yang menggabungkan fisika materialistik dengan mistisisme religius, serta bagaimana penemuan-penemuan arkeologis terbaru melalui papirus telah mengubah cara kita memahami kesatuan doktrinal karyanya.

Konteks Historis dan Intelektual: Akragas dan Krisis Ontologi Yunani

Kehidupan Empedocles berlangsung di tengah kemakmuran dan gejolak politik Sisilia pada abad ke-5 SM. Lahir di Acragas (Agrigento modern) sekitar tahun 492 SM, ia tumbuh dalam keluarga aristokrat yang kaya dan terpandang; kakeknya tercatat sebagai pemenang balap kuda di Olimpiade. Namun, loyalitas politik Empedocles justru berpihak pada perjuangan demokrasi. Ia dikenal sebagai orator ulung yang menggunakan kemampuan retorikanya untuk membongkar oligarki dan memperjuangkan kesetaraan.

Lanskap Politik dan Sosial di Acragas

Acragas pada masa itu merupakan salah satu polis terkaya di dunia Yunani, yang memperoleh kemakmuran dari perdagangan komoditas seperti minyak zaitun dan anggur dengan Kartago. Kemakmuran ini menciptakan gaya hidup mewah yang sering dikritik oleh Empedocles sendiri melalui pernyataan terkenalnya bahwa warga Agrigento "hidup mewah seolah-olah mereka akan mati besok, tetapi membangun rumah seolah-olah mereka akan hidup selamanya". Di tengah konteks inilah Empedocles menjalankan peran politiknya, termasuk tindakan dramatis seperti membubarkan perhimpunan oligarki "Seribu" dan menolak tawaran sebagai raja untuk menjaga integritas sistem demokrasi di kotanya.

Pengaruh Intelektual: Parmenides dan Heraclitus

Secara intelektual, Empedocles menghadapi jalan buntu metafisika yang ditinggalkan oleh Parmenides dari Elea dan Heraclitus dari Ephesus. Parmenides telah berargumen secara logis bahwa "Ada" (Being) bersifat tunggal, tidak berubah, dan tidak dapat dimusnahkan, sehingga perubahan dan pluralitas yang kita lihat sehari-hari hanyalah ilusi indrawi. Sebaliknya, Heraclitus menegaskan bahwa segala sesuatu berada dalam aliran yang terus-menerus (panta rhei) dan bahwa konflik antar oposisi adalah dasar dari harmoni kosmik.

Empedocles menerima premis Parmenides bahwa tidak ada yang benar-benar muncul dari ketiadaan atau menghilang menjadi ketiadaan, namun ia menolak kesimpulan bahwa perubahan itu mustahil. Strategi briliannya adalah dengan mengusulkan pluralisme material: realitas tidak terdiri dari satu substansi tunggal, melainkan dari beberapa substansi kekal yang pencampuran dan pemisahannya menghasilkan penampakan perubahan. Dengan cara ini, ia menyelamatkan validitas persepsi indrawi tanpa mengorbankan ketatnya logika Eleatik.

Struktur dan Isi Karya Utama: On Nature dan Purifications

Pemikiran Empedocles secara tradisional dipahami melalui dua puisi epik besar yang ditulis dalam bentuk heksameter: On Nature (Peri Physeos) dan Purifications (Katharmoi). Hingga akhir abad ke-20, para sarjana cenderung memisahkan kedua karya ini sebagai representasi dari dua sisi kepribadian Empedocles yang berbeda: ilmuwan materialis dan mistikus religius.

On Nature (Peri Physeos)

Puisi ini merupakan landasan fisika dan kosmologi Empedocles. Di dalamnya, ia menguraikan pembentukan struktur fisik dunia, interaksi empat elemen, dan dinamika siklus kosmik. On Nature juga mencakup penjelasan mendalam tentang zoogoni (asal-usul hewan), embriologi, dan mekanisme persepsi indrawi melalui teori pori-pori dan aliran partikel (effluvia). Fokus utamanya adalah memberikan penjelasan naturalistik tentang bagaimana kosmos terbentuk tanpa keterlibatan kehendak dewa antropomorfik yang berubah-ubah.

Purifications (Katharmoi)

Berbeda dengan fokus fisik On Nature, Purifications menyajikan doktrin tentang nasib jiwa manusia (atau daimon). Puisi ini menceritakan tentang daimon yang jatuh dari kondisi kebahagiaan ilahi akibat dosa "kepercayaan pada perselisihan yang gila" dan pembunuhan hewan. Sebagai hukuman, jiwa tersebut harus mengembara melalui berbagai bentuk kehidupan selama 30.000 tahun. Karya ini berisi ajaran etis tentang pantang makan daging dan ritual penyucian diri untuk kembali ke status ketuhanan.

Revolusi Papirus Strasbourg dan Kairo

Pemahaman kita tentang hubungan antara kedua karya ini berubah drastis dengan diterbitkannya Papirus Strasbourg pada tahun 1999 dan penemuan baru Papirus Kairo (P. Fouad inv. 218). Papirus Strasbourg memberikan bukti tekstual bahwa tema-tema yang sebelumnya dianggap hanya milik Purifications—seperti narasi tentang pengasingan daimon—sebenarnya terintegrasi dalam pemaparan fisik On Nature.

Penemuan ini mendukung pandangan bahwa Empedocles memiliki "kesatuan doktrinal". Baginya, hukum-hukum fisik yang mengatur pergerakan elemen adalah hukum yang sama yang mengatur nasib moral jiwa. Pengetahuan tentang alam (fisika) bukan sekadar keingintahuan intelektual, melainkan prasyarat untuk pembersihan spiritual dan pelarian dari roda reinkarnasi. Papirus Kairo lebih lanjut memperkaya data ini dengan menyediakan ayat-ayat asli mengenai teori penglihatan dan partikel, memperkuat posisi Empedocles sebagai perintis pemikiran atomistik awal.

Empat Unsur (Rizomata) sebagai Prinsip Dasar Realitas

Kontribusi filosofis yang paling menetap dari Empedocles adalah doktrin empat "akar" (rizomata) dari segala sesuatu: tanah, air, udara, dan api. Berbeda dengan monisme Thales (air) atau Anaximenes (udara), Empedocles menyatakan bahwa tidak ada satu pun elemen yang memiliki prioritas ontologis atas yang lain.
Filsafat Empedocles dari Acragas
Empedocles sengaja menggunakan nama-nama dewa untuk merujuk pada elemen-elemen ini guna menekankan bahwa materi itu sendiri memiliki dimensi ilahi dan kekuatan inheren; mereka tidak pasif, melainkan agen yang aktif dalam pembentukan dunia. Keempat akar ini bersifat kekal, tidak dapat diciptakan, dan tidak dapat dihancurkan. Segala sesuatu di dunia fenomenal—manusia, pohon, gunung—hanyalah campuran dari elemen-elemen ini dalam proporsi yang berbeda-beda.

Analisis Pluralisme sebagai Kritik Monisme

Pluralisme Empedocles merupakan kritik langsung terhadap kegagalan logis monisme material. Jika hanya ada satu substansi dasar, maka perubahan yang melibatkan kualitas yang benar-benar baru (seperti air menjadi api) secara logis harus melibatkan kemunculan sesuatu dari ketiadaan, yang menurut kaum Eleatik adalah mustahil. Dengan menetapkan empat akar yang berbeda secara kualitatif, Empedocles dapat menjelaskan variasi tanpa batas sebagai reorganisasi partikel elemental. Ia menggunakan analogi seorang pelukis yang, dengan menggunakan beberapa warna primer, dapat menciptakan beragam pemandangan indah. Keanekaragaman kosmos bukanlah hasil dari perubahan substansi elemen, melainkan hasil dari konfigurasi spasial elemen-elemen yang tetap sama.

Kekuatan Kosmis: Love (Philia) dan Strife (Neikos)

Meskipun elemen-elemen itu kekal, mereka membutuhkan prinsip eksternal untuk menjelaskan mengapa mereka bergerak, bercampur, dan berpisah. Di sinilah Empedocles memperkenalkan dua kekuatan kosmis yang saling berlawanan: Cinta (Philia) dan Perselisihan atau Kebencian (Neikos). Pengenalan kekuatan ini menandai transisi penting dalam filsafat Yunani, di mana untuk pertama kalinya gaya atau energi dibedakan secara konseptual dari materi yang digerakkannya.

Peran Cinta dan Perselisihan

Cinta adalah gaya atraktif yang menyatukan unsur-unsur yang tidak serupa menjadi satu kesatuan yang harmonis. Di bawah pengaruh Cinta, unsur-unsur tertarik untuk bercampur, menciptakan bentuk-bentuk kehidupan dan struktur yang kohesif. Sebaliknya, Perselisihan adalah gaya repulsif yang mendorong elemen-elemen untuk menjauh satu sama lain dan berkumpul kembali hanya dengan jenisnya sendiri (api dengan api, air dengan air).

Penting untuk dicatat bahwa Perselisihan bukanlah kekuatan jahat dalam pengertian moral absolut; ia adalah agen diferensiasi yang diperlukan untuk menciptakan keberagaman. Tanpa Perselisihan, alam semesta akan tetap menjadi campuran homogen yang tidak terbedakan. Kehidupan, menurut Empedocles, hanya mungkin terjadi pada tahap-tahap perantara di mana kedua kekuatan ini berinteraksi dan berebut supremasi.

Dinamika Kosmos sebagai Siklus Abadi

Kosmologi Empedocles didasarkan pada visi tentang siklus waktu yang berulang secara kekal, di mana alam semesta bergerak melalui empat tahap dominasi kekuatan.
1. Dominasi Total Cinta (Sphairos): Pada tahap ini, Cinta menyatukan seluruh elemen menjadi sebuah bola sempurna yang ilahi. Di dalam Sphairos, tidak ada perbedaan antara unsur-unsur; semuanya tercampur secara merata dalam harmoni mutlak.
2. Masuknya Perselisihan: Perselisihan mulai menembus pusat Sphairos, menyebabkan unsur-unsur mulai memisahkan diri. Proses ini menciptakan pusaran kosmik yang mulai membentuk dunia kita saat ini, di mana elemen-elemen saling bercampur sekaligus berjuang untuk memisahkan diri.
3. Dominasi Total Perselisihan: Elemen-elemen terpisah sepenuhnya ke dalam empat massa murni. Pada titik ini, tidak ada kehidupan yang mungkin karena tidak ada pencampuran elemen. Dunia menjadi sangat teratur secara elemental namun mati secara biologis.
4. Kembalinya Cinta: Cinta mulai masuk kembali, menarik elemen-elemen yang terpisah untuk bercampur sekali lagi. Tahap ini juga menghasilkan dunia makhluk hidup sebelum siklus kembali ke kondisi Sphairos.

Dunia yang kita tempati sekarang dianggap berada dalam fase di mana Perselisihan sedang meningkat, menjelaskan adanya penderitaan dan ketidakteraturan di bumi. Keseimbangan unsur di dunia saat ini dipertahankan oleh pertempuran dinamis antara kedua kekuatan tersebut, yang memastikan bahwa tidak ada satu elemen pun yang mendominasi sepenuhnya secara permanen.

Zoogoni dan Teori Evolusi Awal

Empedocles menawarkan salah satu penjelasan biologis paling orisinal dalam sejarah kuno, yang sering disebut sebagai bentuk "proto-evolusi" melalui seleksi alam. Ia berpendapat bahwa kehidupan muncul bukan melalui desain ilahi yang terencana, melainkan melalui proses trial-and-error selama periode interaksi antara Cinta dan Perselisihan.
Filsafat Empedocles dari Acragas
Empedocles menjelaskan bahwa makhluk-makhluk fantastis pada Tahap II gagal bertahan hidup karena mereka tidak memiliki organ yang sinkron untuk pemeliharaan diri atau kelanjutan keturunan. Hanya kombinasi yang secara kebetulan memiliki efisiensi fungsional yang mampu menetap di lingkungan mereka. Meskipun Aristoteles mengkritik pandangan ini karena dianggap menghilangkan tujuan (telos) dari alam, para ilmuwan modern melihatnya sebagai wawasan cemerlang tentang bagaimana keteraturan organik dapat muncul dari mekanisme material tanpa membutuhkan perancang cerdas.

Pandangan tentang Kehidupan dan Jiwa: Eksilio dan Reinkarnasi

Dalam Purifications, Empedocles menyajikan antropologi yang dalam dan bersifat spiritual. Manusia, atau lebih tepatnya jiwa (daimon), bukanlah penduduk asli dunia material ini. Kita adalah makhluk ilahi yang dibuang ke "gua gelap" bumi karena dosa masa lalu.

Konsep Kejatuhan dan Transmigrasi

Penyebab kejatuhan jiwa adalah kepercayaan pada Perselisihan, yang memicu tindakan pembunuhan dan pemakan daging hewan. Bagi Empedocles, semua makhluk hidup—manusia, hewan, dan tumbuhan—memiliki kekerabatan spiritual karena mereka semua adalah wadah bagi daimon yang sedang menjalani hukuman. Oleh karena itu, ia menganjurkan vegetarianisme yang ketat dan mengecam pengorbanan hewan sebagai tindakan keji yang melibatkan pembunuhan terhadap sesama makhluk berjiwa.

Reinkarnasi berlangsung dalam siklus yang panjang, di mana jiwa dapat menempati tubuh semak, burung, atau ikan sebelum kembali ke bentuk manusia yang lebih tinggi (seperti nabi atau dokter) dan akhirnya kembali menjadi dewa. Pembebasan dari siklus ini dicapai melalui penyucian moral dan pemahaman yang benar tentang struktur kosmos.

Analisis Ontologis dan Epistemologis

Ontologi Empedocles adalah ontologi yang menolak kekosongan (vacuum). Ia membayangkan alam semesta sebagai sebuah plenum atau ruang yang terisi penuh oleh materi elemental. Penolakannya terhadap kekosongan didasarkan pada eksperimen empiris dengan clepsydra (jam air), di mana ia menunjukkan bahwa udara adalah substansi fisik yang mampu menahan air agar tidak masuk ke dalam bejana, membuktikan bahwa apa yang tampak kosong sebenarnya terisi oleh udara.

Epistemologi: "Yang Serupa Mengenal Yang Serupa"

Dalam hal pengetahuan manusia, Empedocles mengajukan teori kognisi materialis. Ia percaya bahwa "kita melihat bumi dengan tanah, air dengan air, udara ilahi dengan udara, dan api yang menghancurkan dengan api". Proses persepsi terjadi melalui mekanisme pori-pori dan aliran partikel (effluvia). Setiap objek terus-menerus memancarkan partikel halus yang masuk ke dalam pori-pori organ indra manusia. Jika partikel tersebut pas dengan ukuran dan bentuk pori-pori indra tertentu, maka terjadilah pengindraan.

Empedocles menempatkan pusat kognisi manusia bukan di otak, melainkan di dalam darah yang mengelilingi jantung. Alasan filosofisnya adalah karena darah dianggap mengandung campuran yang paling seimbang dari keempat elemen, menjadikannya medium yang paling mampu beresonansi dengan semua elemen di dunia luar secara proporsional. Kualitas pemikiran seseorang bergantung pada kejernihan dan keseimbangan campuran elemen dalam darah mereka.

Interpretasi Aristoteles dan Penulis Yunani Lainnya

Sebagian besar pengetahuan kita tentang Empedocles berasal dari kutipan para penulis kemudian, terutama Aristoteles dan Theophrastus. Aristoteles memberikan perhatian besar pada Empedocles dalam karyanya Metaphysics dan Physics, meskipun kritiknya sering kali tajam.

Kritik Aristotelian terhadap Penyebab

Aristoteles mengklasifikasikan kontribusi Empedocles dalam kerangka "Empat Penyebab"-nya sendiri. Ia mengakui Empedocles sebagai orang pertama yang secara eksplisit mengusulkan empat elemen sebagai penyebab material dan memperkenalkan Cinta serta Perselisihan sebagai penyebab efisien (sumber gerakan). Namun, Aristoteles mengkritik Empedocles karena tidak menggunakan kekuatan-kekuatan ini secara konsisten; ia menuduh Empedocles sering menggunakan Cinta untuk memisahkan dan Perselisihan untuk menyatukan elemen-elemen sejenis, yang dianggap membingungkan peran fungsional mereka.

Lebih jauh lagi, Aristoteles berargumen bahwa Empedocles gagal mengenali penyebab final atau tujuan (telos) dalam alam semesta. Bagi Aristoteles, penjelasan Empedocles tentang pembentukan organ tubuh melalui kebetulan dan seleksi adalah kegagalan untuk melihat rancangan inheren dalam biologi. Meskipun demikian, pengakuan Aristoteles terhadap Empedocles sebagai penemu teori empat elemen memastikan bahwa warisan pemikiran ini menjadi standar ilmu pengetahuan selama dua milenium berikutnya.

Analisis Komparatif dengan Tokoh Pra-Sokratik Lainnya

Pemikiran Empedocles dapat diposisikan sebagai puncak dari dialektika awal Yunani antara monisme dan pluralisme.
Filsafat Empedocles dari Acragas
Dibandingkan dengan para monis Milesian, Empedocles memecahkan masalah perubahan dengan memperkenalkan keragaman elemen sejak awal. Ia tidak perlu menjelaskan bagaimana air menjadi api; api sudah ada sebagai elemen mandiri yang hanya bercampur dengan air. Terhadap kaum Atomis, Empedocles tetap mempertahankan kualitas elemental (api itu panas, air itu basah), sedangkan Democritus mereduksi semua kualitas indrawi menjadi sekadar konvensi manusia, dengan menyatakan bahwa secara realitas hanya ada atom dan kekosongan. Empedocles juga menolak gagasan kekosongan, sebuah posisi yang membedakannya secara fundamental dari fisika atomistik murni.

Kontribusi terhadap Perkembangan Filsafat dan Sains

Warisan Empedocles melampaui sekadar spekulasi metafisik; ia memberikan fondasi bagi berbagai disiplin ilmu empiris.

Teori Unsur dan Gaya

Gagasannya tentang empat elemen menjadi paradigma dasar kimia dan fisika hingga abad ke-17. Pengaruhnya sangat terasa dalam pemikiran Alkimia abad pertengahan yang mencoba memanipulasi proporsi elemen ini untuk mentransformasikan materi. Selain itu, konsep gaya atraktif (Cinta) dan repulsif (Perselisihan) merupakan prekursor konseptual bagi hukum gravitasi Newton dan gaya elektromagnetik modern. Empedocles adalah orang pertama yang membayangkan bahwa alam semesta digerakkan oleh hukum-hukum gaya yang objektif dan dapat dipahami secara rasional.

Kedokteran dan Biologi

Dalam bidang medis, Empedocles diakui sebagai pendiri sekolah kedokteran Sisilia yang berpengaruh. Teorinya bahwa kesehatan adalah hasil dari keseimbangan elemen dalam tubuh menginspirasi teori humorisme Hippokrates. Pengamatannya tentang sirkulasi darah yang digerakkan oleh jantung dan pernapasan melalui pori-pori kulit menunjukkan tingkat pemahaman anatomis yang sangat maju. Ia bahkan diyakini pernah melakukan tindakan sanitasi publik dengan mengalihkan aliran sungai untuk membersihkan rawa yang menjadi sumber wabah di Selinounta.

Kritik Klasik dan Perspektif Modern

Secara historis, Empedocles sering dikritik karena gaya penulisannya yang puitis dan terkadang kontradiktif antara pernyataan fisik dan klaim teologisnya.
1. Kritik Aristoteles: Menilai Empedocles kurang konsisten dalam menggunakan Cinta dan Perselisihan sebagai penjelasan penyebab yang memadai.
2. Kritik Atomis: Menyerang penolakannya terhadap kekosongan sebagai hambatan logis bagi teori gerak.
3. Kritik Pencerahan: Melihat penggunaan metafora dewa untuk elemen fisik sebagai sisa-sisa pemikiran mitologis yang belum sepenuhnya "rasional".

Namun, perspektif modern cenderung lebih menghargai Empedocles sebagai pemikir holistik. Para filsuf sains masa kini melihat "Perselisihan" sebagai analogi yang tepat untuk entropi dan "Cinta" sebagai analogi untuk sintropi atau organisasi sistemik. Keberaniannya untuk menggabungkan data empiris dengan kerangka kerja etis dipandang sebagai model yang relevan untuk mengatasi krisis fragmentasi ilmu pengetahuan modern.

Relevansi Modern: Ekologi, Fisika, dan Pemikiran Holistik

Pemikiran Empedocles memiliki resonansi yang mengejutkan dengan isu-isu kontemporer, terutama dalam gerakan ekologi dan teori sistem.

Ekologi dan Hubungan Non-Antroposentris

Pandangan Empedocles bahwa "seluruh alam itu berkerabat" (whole nature is akin) menjadi landasan bagi etika lingkungan yang tidak menempatkan manusia di atas makhluk lain. Doktrinnya tentang transmigrasi jiwa antara manusia, hewan, dan tumbuhan mendorong penghormatan terhadap keanekaragaman hayati dan penolakan terhadap eksploitasi hewan yang berlebihan. Para ahli ekologi melihat visinya tentang keseimbangan antara Cinta dan Perselisihan sebagai representasi akurat dari dinamika ekosistem yang melibatkan persaingan sekaligus simbiosis.

Fisika Sains dan Teori Sistem

Dalam fisika modern, dualitas gaya tarik-menarik dan tolak-menolak tetap menjadi inti dari pemahaman kita tentang atom dan benda langit. Selain itu, kemiripan antara "siklus kosmik" Empedocles dengan model kosmologi Big Bang dan Big Crunch menunjukkan intuisi yang mendalam tentang sifat temporal alam semesta.

Karya-karya terbaru seperti "The Flowering of Environmental Roots" menghubungkan pemikiran Empedocles dengan filsafat pasca-strukturalis Deleuze dan Guattari melalui konsep "rizoma" (akar). Berbeda dengan model pemikiran pohon yang hierarkis, model rizoma Empedocles menawarkan cara berpikir yang horisontal, heterogen, dan saling terhubung, yang sangat cocok untuk memahami kompleksitas dunia global saat ini.

Kesimpulan

Empedocles dari Acragas bukan sekadar figur antik dalam sejarah filsafat; ia adalah perintis yang meletakkan dasar bagi sains materialis tanpa kehilangan pandangan terhadap dimensi spiritual keberadaan manusia. Dengan mendamaikan Parmenides dan Heraclitus melalui teori empat akar dan dua gaya, ia menciptakan kerangka kerja yang mampu menjelaskan stabilitas sekaligus perubahan. Visi biologisnya tentang adaptasi dan seleksi bentuk menunjukkan ketajaman observasi alam yang melampaui zamannya, sementara eskatologinya tentang pemurnian jiwa memberikan dimensi moral bagi penyelidikan fisik. Melalui sintesis antara logos dan mythos, Empedocles mengingatkan kita bahwa pemahaman sejati tentang dunia hanya dapat dicapai ketika kita menyadari bahwa hukum-hukum yang menggerakkan bintang-bintang di langit adalah hukum yang sama yang bergetar di dalam darah di sekitar jantung manusia. Analisis kritis ini menegaskan bahwa meskipun elemen-elemennya telah digantikan oleh tabel periodik modern, dialektika Cinta dan Perselisihan tetap menjadi metafora yang paling kuat untuk memahami drama abadi penciptaan dan kehancuran di alam semesta.

Sitasi:

Archaeology Magazine. (2026). Ancient papyrus reveals new lines of Greek philosophy. Diakses April 8, 2026, dari https://archaeology.org/news/2026/04/07/ancient-papyrus-reveals-new-lines-of-greek-philosophy/

Aristotle, Empedocles, and the reception of the four elements hypothesis. (n.d.). Research Repository UCD. Diakses April 8, 2026, dari https://researchrepository.ucd.ie/rest/bitstreams/52288/retrieve

Attraction and repulsion. (2012). Equivalent Exchange. Diakses April 8, 2026, dari https://equivalentexchange.blog/2012/05/11/attraction-and-repulsion/

Britannica. (n.d.). Pre-Socratics | Milesian school, Thales, Anaximander. Diakses April 8, 2026, dari https://www.britannica.com/topic/pre-Socratic-philosophy

Brill. (n.d.). Commentary on Shaw. Diakses April 8, 2026, dari https://brill.com/view/journals/bapj/38/1/article-p81_5.pdf

Brill. (n.d.). Empedocles on sensation, perception, and thought. Diakses April 8, 2026, dari https://brill.com/downloadpdf/display/book/edcoll/9783957438003/B9783957438003_s006.pdf

Buffalo University. (n.d.). The Presocratics – The pluralists. Diakses April 8, 2026, dari https://www.acsu.buffalo.edu/~degray/AP06/Pluralists.html

Cairn. (n.d.). Empedocles on divine nature. Diakses April 8, 2026, dari https://shs.cairn.info/article/RMM_123_0315/pdf?lang=en

Cambridge University Press. (n.d.). Empedocles (Chapter 3): Poetry and poetics in the Presocratic philosophers. Diakses April 8, 2026, dari https://www.cambridge.org/core/books/poetry-and-poetics-in-the-presocratic-philosophers/empedocles/F7663914BF5FA292C90A2D6332A6BFA3

Cambridge University Press. (n.d.). Introduction: Reconstructing Empedocles' thought. Diakses April 8, 2026, dari https://www.cambridge.org/core/books/reconstructing-empedocles-thought/introduction/9DF702FE1E8065D0B3F0C02B32A48F33

Cambridge University Press. (n.d.). Reconstructing Empedocles’ On Nature (Chapter 1). Diakses April 8, 2026, dari https://www.cambridge.org/core/books/reconstructing-empedocles-thought/reconstructing-empedocles-on-nature/D7AF5D96F74987DAD824A685FDD51394

Cambridge University Press. (n.d.). The origins of Aristotle's natural teleology in Physics II. Diakses April 8, 2026, dari https://www.cambridge.org/core/books/aristotles-physics/origins-of-aristotles-natural-teleology-inphysics-ii/48783A164E894C5407AED602FB5C413D

DIY.org. (n.d.). Empedocles facts for kids. Diakses April 8, 2026, dari https://www.diy.org/article/empedocles

Dokumen.pub. (n.d.). Reconstructing Empedocles' thought. Diakses April 8, 2026, dari https://dokumen.pub/reconstructing-empedocles-thought-1009392573-9781009392570.html

EBSCO. (n.d.). Empedocles. Diakses April 8, 2026, dari https://www.ebsco.com/research-starters/history/empedocles

EBSCO. (n.d.). Empedocles: Fragments. Diakses April 8, 2026, dari https://www.ebsco.com/research-starters/history/empedocles-fragments

eClass UoA. (n.d.). Empedocles on sensation, perception, and thought. Diakses April 8, 2026, dari https://eclass.uoa.gr/modules/document/file.php/PHS305/.../05.%20Empedocles.pdf

Elon University. (n.d.). Philosophy – The Presocratics. Diakses April 8, 2026, dari https://elon.io/learn-philosophy-1e/lesson/4.2.3-the-presocratics

eJournals. (n.d.). Empedocles on ensouled beings. Diakses April 8, 2026, dari https://ejournals.epublishing.ekt.gr/index.php/Conatus/article/view/31570

Equivalent Exchange. (2012). Attraction and repulsion. Diakses April 8, 2026, dari https://equivalentexchange.blog/2012/05/11/attraction-and-repulsion/

Fabrizio Musacchio. (2025). Empedocles: Pluralism, cosmic cycles, and the forces of love and strife. Diakses April 8, 2026, dari https://www.fabriziomusacchio.com/weekend_stories/told/2025/2025-01-03-empedocles/

GreekReporter. (2025). Empedocles: The enigmatic life of the ancient Greek philosopher. Diakses April 8, 2026, dari https://greekreporter.com/2025/05/20/empedocles-ancient-greek-philosopher/

History Blog. (n.d.). 30 previously unknown verses by Empedocles found on papyrus. Diakses April 8, 2026, dari http://www.thehistoryblog.com/archives/75792

Internet Encyclopedia of Philosophy. (n.d.). Empedocles. Diakses April 8, 2026, dari https://iep.utm.edu/empedocles/

Kaisthistory. (2016). How did Empedocles and atomists interpret change. Diakses April 8, 2026, dari https://kaisthistory.wordpress.com/2016/03/18/how-did-empedocles-and-atomists-each-interpret-the-changes-in-the-physical-world/

Lampmagician. (2019). The problem of change in Heraclitus, Parmenides and Empedocles. Diakses April 8, 2026, dari https://lampmagician.com/2019/08/31/the-problem-of-change-in-heraclitus-parmenides-and-empedocles/

Maher, P. (n.d.). Lecture 4: Empedocles, Leucippus, Democritus. Diakses April 8, 2026, dari https://patrick.maher1.net/317/lectures/empe.pdf

Philosophy Institute. (n.d.). Empedocles: The four elements and forces of love and strife. Diakses April 8, 2026, dari https://philosophy.institute/ancient-medieval/empedocles-four-elements-love-strife/

Philoparadoxia. (n.d.). Empedocles: Four elements, love & strife, pluralism explained. Diakses April 8, 2026, dari https://philoparadoxia.com/empedocles-philosophy-four-elements-love-and-strife/

ResearchGate. (n.d.). Empedocles’ On Nature. Diakses April 8, 2026, dari https://www.researchgate.net/publication/377889483_Reconstructing_Empedocles'_On_Nature

ResearchGate. (n.d.). Development of holistic health concepts in ancient Greek medicine. Diakses April 8, 2026, dari https://www.researchgate.net/publication/397390742_The_Development_of_Holistic_Health_Concepts_in_Ancient_Greek_Medicine_From_Empedocles_to_Hippocrates

ResearchGate. (n.d.). Empedocles in Hippocratic treatise. Diakses April 8, 2026, dari https://www.researchgate.net/publication/6645978_The_philosophical_influences_of_Empedocles_in_the_Hippocratic_medical_treatise_De_Natura_Hominis

RSIS International. (n.d.). Pioneers of scientific thought: Empedocles and Anaxagoras. Diakses April 8, 2026, dari https://rsisinternational.org/journals/ijriss/articles/pioneers-of-scientific-thought-empedocles-and-anaxagoras/

Smart Education UNESCO Sicilia. (n.d.). Empedocles, the political philosopher. Diakses April 8, 2026, dari https://www.smarteducationunescosicilia.it/en/agrigento/empedocles-the-political-philosopher/

SparkNotes. (n.d.). Aristotle Physics summary & analysis. Diakses April 8, 2026, dari https://www.sparknotes.com/philosophy/aristotle/section3/

Stanford Encyclopedia of Philosophy. (n.d.). Empedocles. Diakses April 8, 2026, dari https://plato.stanford.edu/entries/empedocles/

The History Blog. (n.d.). 30 previously unknown verses by Empedocles. Diakses April 8, 2026, dari http://www.thehistoryblog.com/archives/75792

Upworthy. (n.d.). 30 'lost' verses from philosopher Empedocles. Diakses April 8, 2026, dari https://www.upworthy.com/30-lost-verses-from-philosopher-empedocles-finally-come-to-light/

Wikipedia. (n.d.). Empedocles. Diakses April 8, 2026, dari https://en.wikipedia.org/wiki/Empedocles

Wikipedia. (n.d.). History of gravitational theory. Diakses April 8, 2026, dari https://en.wikipedia.org/wiki/History_of_gravitational_theory

Wikisource. (n.d.). Early Greek philosophy: Empedokles of Akragas. Diakses April 8, 2026, dari https://en.wikisource.org/wiki/Early_Greek_Philosophy/Empedokles_of_Akragas

Aletheia Rabbani
Aletheia Rabbani “Barang siapa yang tidak mampu menahan lelahnya belajar, maka ia harus mampu menahan perihnya kebodohan” _ Imam As-Syafi’i

Post a Comment