Filosofi Ngeureut Neundeun: Makna, Nilai, dan Relevansi dalam Kehidupan Modern

Table of Contents

Filosofi Ngeureut Neundeun
Executive Summary

Analisis ini mengeksplorasi secara mendalam pepatah Sunda “lamun boga rejeki kudu bisa ngeureut neundeun” sebagai sebuah konstruk pemikiran yang melampaui sekadar anjuran praktis ekonomi. Melalui pendekatan multidisipliner yang mengintegrasikan filsafat budaya, sosiologi, antropologi, dan psikologi, analisis ini mengungkap bahwa falsafah tersebut merupakan representasi dari kosmologi Sunda yang menekankan pada harmoni, keseimbangan, dan keberlanjutan hidup. 

Analisis semantik menunjukkan bahwa istilah “ngeureut” (memotong/menyisihkan) dan “neundeun” (menyimpan/menitipkan) adalah metafora dari kontrol diri dan visi futuristik dalam menghadapi ketidakpastian realitas. Secara historis, kearifan ini terlembaga melalui institusi leuit (lumbung padi) yang berfungsi sebagai mekanisme ketahanan pangan kolektif dan simbol kemakmuran.

Dalam dimensi etika, falsafah ini melahirkan prinsip "saeutik mahi loba nyésa" yang menantang paradigma kapitalisme konsumtif dengan menawarkan model kesejahteraan yang berbasis pada rasa cukup. Secara psikologis, pepatah ini selaras dengan konsep delayed gratification dan regulasi emosi, di mana kemampuan menunda kepuasan sesaat dipandang sebagai tanda kematangan jiwa. 

Dalam konteks modern, “ngeureut neundeun” bertransformasi menjadi landasan literasi keuangan dan pendidikan karakter yang adaptif terhadap arus globalisasi, sekaligus menjadi benteng resistensi terhadap distorsi makna materi di era digital. Analisis ini menyimpulkan bahwa falsafah ini adalah model konseptual yang kokoh untuk membangun kedaulatan ekonomi individu dan sosial yang selaras dengan alam dan nilai-nilai transendental.

Philosophical Core Analysis: Struktur Makna dan Fondasi Ontologis

Falsafah Sunda “lamun boga rejeki kudu bisa ngeureut neundeun” berdiri di atas fondasi ontologis yang memandang realitas sebagai sesuatu yang dinamis, penuh ketidakpastian, namun tetap dapat dikelola melalui kebijaksanaan manusia. Untuk memahami kedalamannya, diperlukan analisis bertahap terhadap setiap komponen istilah yang membentuk pepatah tersebut.

Analisis Semantik dan Etimologis: Anatomi Disiplin dan Harapan

Ungkapan ini secara linguistik terdiri dari kata-kata yang memiliki beban makna kultural yang spesifik. "Lamun" (jika) mengisyaratkan adanya kondisi prasyarat; "boga" (memiliki) menunjukkan status kepemilikan; sementara "rejeki" dalam pandangan Sunda tidak hanya dipahami sebagai pendapatan finansial, melainkan anugerah yang bersifat transendental. Penggunaan kata "kudu" (harus) memberikan penekanan imperatif moral, menunjukkan bahwa tindakan yang disarankan bukan sekadar pilihan, melainkan kewajiban etis.

Filosofi Ngeureut Neundeun
Tindakan "ngeureut" secara simbolis mengandaikan adanya sebuah keseluruhan yang kemudian dibagi. Dalam konteks ekonomi, ini berarti sebelum rejeki tersebut dihabiskan untuk kebutuhan saat ini, individu harus melakukan "pemotongan" secara sengaja. Hal ini mencerminkan prinsip prioritas dan ketelitian. Sementara itu, "neundeun" mengandung makna yang lebih dari sekadar menabung secara pasif. Dalam kebudayaan Sunda, "neundeun" sering dikaitkan dengan tindakan menitipkan sesuatu untuk diambil kembali pada saat yang tepat, seperti menyimpan padi di leuit untuk masa paceklik.

Kosmologi Sunda: Antara Gagaduhan dan Sasampéuran

Secara ontologis, masyarakat Sunda memandang harta benda dengan prinsip "umur gagaduhan, banda sasampéuran". Keyakinan ini menyatakan bahwa usia dan harta bukanlah milik mutlak manusia, melainkan titipan Tuhan yang harus dikelola dengan tanggung jawab moral. Pandangan hidup ini mencegah manusia menjadi budak materi. Jika rejeki dipandang sebagai titipan, maka perilaku "ngeureut neundeun" adalah bentuk amanah dalam menjaga titipan tersebut agar tidak terbuang percuma.

Filosofi ini juga berakar pada doktrin "Pancer Pangawinan" yang menekankan pada penyatuan antara manusia dan kemanusiaannya melalui proses ngaji diri atau mawas diri. Dengan mawas diri, seseorang memahami bahwa kebutuhan hidup tidak hanya berhenti pada hari ini. Ada konsep "isuk jaganing géto" (esok lusa nanti) yang mengharuskan manusia untuk bersiap menghadapi siklus kehidupan yang tidak selalu menguntungkan. Ketidakpastian masa depan (kontingensi) inilah yang direspon dengan tindakan preventif "neundeun".

Dalam cakrawala pemikiran Sunda, harmoni dicapai melalui keseimbangan antara tekad, ucap, jeung lampah (niat, ucapan, dan tindakan). Tindakan "ngeureut neundeun" adalah manifestasi fisik dari tekad untuk hidup seimbang. Orang yang tidak mampu melakukan ini dianggap kehilangan kendali atas dirinya sendiri, atau dalam istilah Sunda disebut napsu nu matak kaduhung badan nu katempuhan (nafsu yang membawa penyesalan bagi tubuh). Oleh karena itu, falsafah ini bukan hanya soal uang, tetapi soal integritas diri dalam mengelola keinginan di hadapan realitas yang terbatas.

Cultural & Social Function: Arsitektur Ketahanan dalam Masyarakat Agraris

Dalam sejarah masyarakat Sunda agraris, pepatah "ngeureut neundeun" bukan sekadar teori moral, melainkan sebuah sistem yang terinstitusionalisasi secara sosial dan fisik. Manifestasi yang paling nyata dari kearifan ini adalah keberadaan leuit atau lumbung padi.

Leuit sebagai Bank Tradisional dan Simbol Identitas

Leuit bukan hanya bangunan fungsional untuk menyimpan padi, tetapi merupakan pusat peradaban ekonomi masyarakat Sunda. Sejak masa sebelum sawah basah diperkenalkan, masyarakat Sunda sudah menggunakan leuit sebagai benteng pertahanan pangan. Bentuk bangunannya yang unik—berbentuk rumah panggung dengan bagian atas yang melebar—memiliki makna simbolis dan teknis yang dalam.

Filosofi Ngeureut Neundeun
Secara antropologis, leuit mencerminkan status sosial dan tingkat kemandirian sebuah keluarga. Semakin banyak leuit yang dimiliki, semakin tinggi tingkat ketahanan ekonomi keluarga tersebut di mata masyarakat. Namun, kekayaan ini tidak bersifat individualistik secara ekstrem. Terdapat norma adat yang mengatur bahwa padi di dalam leuit tidak boleh diperjualbelikan, melainkan hanya untuk dikonsumsi sendiri atau digunakan dalam keperluan sosial-ritual. Hal ini menunjukkan bahwa "neundeun" dalam konteks ini adalah upaya menjaga kedaulatan pangan, bukan akumulasi kapital untuk keuntungan moneter semata.

Mekanisme Solidaritas: Leuit Adat dan Jaring Pengaman Sosial

Salah satu keunikan paling menonjol dari penerapan "ngeureut neundeun" adalah pembagian antara penyimpanan pribadi dan komunal. Di wilayah Kasepuhan seperti Citorek dan Ciptagelar, dikenal adanya leuit adat atau leuit kasepuhan. Leuit ini berfungsi sebagai cadangan bagi anggota masyarakat yang mengalami gagal panen, sakit, atau kemalangan lainnya.

Sistem ini menciptakan rasa aman secara kolektif. Masyarakat tidak merasa ragu untuk menyisihkan sebagian hasilnya karena mereka tahu bahwa sistem sosial akan melindungi mereka di saat sulit. Keberadaan leuit adat merupakan bukti empiris dari nilai gotong royong dan runtut raut sauyunan (hidup rukun berbarengan) yang menjadi ciri khas Sunda. Tindakan menyimpan bukan didorong oleh ketakutan akan kemiskinan (scarcity mindset), melainkan oleh kesadaran akan tanggung jawab bersama untuk menjaga kehidupan. Ritual seperti Seren Taun berfungsi sebagai momen evaluasi tahunan untuk memastikan bahwa stok di lumbung mencukupi untuk tahun-tahun mendatang, sebuah praktik perencanaan strategis yang berakar pada kearifan lokal.

Multidisciplinary Interpretation: Psikologi, Sosiologi, dan Etika Ekonomi

Analisis multidisipliner memungkinkan kita untuk melihat bagaimana "ngeureut neundeun" beresonansi dengan berbagai teori ilmiah modern, memperkuat posisinya sebagai kearifan universal.

Perspektif Psikologi: Pengendalian Diri dan Kemandirian

Dalam psikologi, kemampuan untuk melakukan "ngeureut neundeun" berkaitan erat dengan self-regulation (regulasi diri) dan delayed gratification (penundaan kepuasan). Falsafah ini menuntut individu untuk melawan impuls konsumtif sesaat demi kesejahteraan jangka panjang.
1. Kendali Atas Napsu: Masyarakat Sunda menekankan pentingnya akal untuk mengendalikan nafsu. Peribahasa napsu nu matak kaduhung menunjukkan kesadaran psikologis akan bahaya keputusan impulsif. Tindakan "ngeureut" adalah latihan mental harian dalam mendisiplinkan keinginan.
2. Keamanan dan Ketenangan Hati: Secara psikologis, kepemilikan cadangan (hasil dari "neundeun") menciptakan kondisi tiis ceuli herang mata (hidup tentram tanpa masalah). Rasa aman finansial dan pangan mengurangi stres kronis dan kecemasan, yang pada gilirannya meningkatkan kualitas kesehatan mental masyarakat.
3. Self-Efficacy (Kemandirian): Pepatah ini mendorong nilai mandiri, yaitu kemampuan mengelola rejeki sendiri tanpa bergantung pada orang lain. Keberhasilan dalam "ngeureut neundeun" meningkatkan harga diri (self-esteem) individu karena merasa mampu berdaulat atas hidupnya sendiri.

Sosiologi Ekonomi: Habitus dan Modal Budaya

Secara sosiologis, "ngeureut neundeun" dapat dianalisis sebagai sebuah habitus—sistem disposisi yang bertahan lama yang diperoleh melalui sosialisasi dalam keluarga dan masyarakat Sunda. Nilai ini ditularkan secara turun-temurun, membentuk pola perilaku ekonomi yang konsisten.

Praktik ini juga berfungsi sebagai modal budaya (cultural capital). Dalam lingkungan masyarakat adat, kemampuan mengelola lumbung dan ketaatan pada tatali paranti karuhun (aturan leluhur) memberikan legitimasi sosial kepada individu atau keluarga. Kepercayaan masyarakat terhadap seseorang sering kali diukur dari sejauh mana ia bisa memegang janjinya dan mengelola sumber daya yang dipercayakan kepadanya, sesuai dengan ungkapan jalma dicekel omongna (manusia dipegang ucapannya).

Etika Ekonomi: Saeutik Mahi Loba Nyésa

Inti dari etika ekonomi Sunda adalah prinsip "saeutik mahi loba nyésa" (sedikit cukup, banyak tersisa). Konsep ini merupakan kritik tajam terhadap model ekonomi linear yang hanya berfokus pada pertumbuhan tanpa batas.

  • Kecukupan (Sufficiency): "Mahi" atau cukup adalah batas etis konsumsi. Ini berarti individu didorong untuk memahami batas kebutuhannya agar tidak mengambil hak orang lain atau hak masa depan.
  • Efisiensi dan Penghematan: Kebalikan dari perilaku boros, etika ini menjunjung tinggi efisiensi dalam menggunakan sumber daya, sejalan dengan nilai kudu bisa ngeureut miceun (harus bisa memotong pemborosan).
  • Filantropi dan Kedermawanan: Meskipun menekankan pada penyimpanan, etika Sunda tidak melupakan aspek berbagi. Orang yang mampu "ngeureut neundeun" justru berada dalam posisi yang lebih kuat untuk menjadi murah congcot atau dermawan kepada orang lain yang membutuhkan.

Comparative Analysis: Dialektika dengan Filosofi Global

Membandingkan "ngeureut neundeun" dengan aliran pemikiran global memberikan perspektif mengenai keunikan kearifan Sunda ini.

Filosofi Ngeureut Neundeun
Meskipun memiliki kemiripan dengan Stoicisme dalam hal pengendalian diri dan dikotomi kontrol atas keinginan, "ngeureut neundeun" memiliki dimensi komunal yang jauh lebih kental. Jika Stoicisme cenderung bersifat individualistik-internal, falsafah Sunda selalu mengaitkan disiplin pribadi dengan keberlangsungan kolektif. Berbeda pula dengan Etika Protestan yang menjadi basis kapitalisme, "ngeureut neundeun" tidak bertujuan untuk akumulasi modal yang ekspansif, melainkan untuk menjaga stabilitas dan kecukupan hidup yang berkelanjutan dalam kerangka harmoni alam.

Modern Context & Critique: Transformasi di Era Digital

Di tengah arus modernitas yang membawa gaya hidup konsumtif dan sistem ekonomi kapitalistik, falsafah "ngeureut neundeun" menghadapi tantangan sekaligus peluang untuk bertransformasi.

Tantangan Konsumerisme dan Distorsi Makna

Masyarakat modern saat ini hidup dalam ekosistem digital yang didesain untuk memicu konsumsi instan. Fenomena "pinjaman online" (pinjol) dan budaya pamer (flexing) adalah antitesis langsung dari "ngeureut neundeun".

  • Erosi Kedisiplinan: Kemudahan akses kredit membuat orang cenderung menghabiskan rejeki yang bahkan belum mereka miliki, mengabaikan prinsip "ngeureut" di awal. Akibatnya, banyak individu terjebak dalam kondisi katalangsara (sengsara) finansial.
  • Hilangnya Simbol Fisik: Hilangnya leuit dari keseharian masyarakat perkotaan membuat pengingat visual akan pentingnya cadangan menjadi pudar. Penyimpanan yang bersifat digital sering kali tidak memberikan dampak psikologis yang sekuat melihat lumbung yang penuh.
  • Komersialisasi Nilai: Ada risiko di mana kearifan lokal seperti leuit hanya dipandang sebagai komoditas pariwisata tanpa dipahami kedalaman filosofis pengelolaannya.

Relevansi dalam Perencanaan Keuangan dan UMKM

Meskipun demikian, falsafah ini menemukan bentuk barunya dalam praktik manajemen keuangan modern. Di Jawa Barat, banyak pelaku UMKM yang secara sadar atau tidak menerapkan "ngeureut neundeun" dalam mengelola usahanya.
1. Investasi dan Dana Darurat: Konsep "neundeun" sangat relevan dengan anjuran memiliki dana darurat dan melakukan investasi masa depan. Para pengusaha UMKM yang sukses biasanya adalah mereka yang mampu hidup hemat (gemi, nastiti) dan menginvestasikan kembali keuntungan usahanya daripada menghabiskannya untuk konsumsi pribadi.
2. Akuntansi Berbasis Kasih Sayang: Menariknya, implementasi nilai silih asih, silih asah, silih asuh dalam bisnis seringkali dibarengi dengan praktik "ngeureut" untuk membantu karyawan atau masyarakat sekitar, menciptakan ekosistem bisnis yang lebih manusiawi dan berkelanjutan.
3. Kemandirian Ekonomi Daerah: Di tingkat makro, prinsip "ngeureut neundeun" dapat menjadi landasan bagi kedaulatan pangan dan energi daerah, dengan mengadopsi model lumbung pangan modern yang terinspirasi dari sistem leuit.

Pendidikan Karakter: Implementasi di Lingkungan Sekolah

Transformasi yang paling krusial terjadi di sektor pendidikan. Melalui kebijakan berbasis kearifan lokal, seperti program "Tujuh Hari Purwakarta Istimewa", nilai-nilai "ngeureut neundeun" diajarkan kembali kepada generasi muda.

  • Membawa Bekal (Papahare): Siswa diajarkan untuk membawa makanan dari rumah dan tidak jajan di sekolah. Ini adalah latihan praktis "ngeureut" konsumsi dan menghargai masakan rumah sebagai bentuk penghematan.
  • Budaya Menabung: Program tabungan sekolah kembali ditekankan sebagai bentuk "neundeun" untuk keperluan pendidikan di masa depan, membangun kesadaran akan pentingnya persiapan jangka panjang.
  • Kedisiplinan dan Tanggung Jawab: Melalui kegiatan lingkungan (seperti komunitas APEL) dan tugas-tugas mandiri, siswa dibentuk menjadi pribadi yang singer (mawas diri) dan bertanggung jawab terhadap sumber daya di sekitarnya.

Synthesis & Conceptual Model: Arsitektur Hidup Sejahtera

Berdasarkan analisis di atas, kita dapat merumuskan sebuah model konseptual "Ngeureut Neundeun" sebagai sebuah sistem keseimbangan hidup yang terdiri dari empat pilar utama:

1. Pilar Transendental (Rejeki sebagai Amanah)

Keyakinan bahwa segala sumber daya adalah titipan Tuhan (gagaduhan). Hal ini melahirkan rasa syukur dan mencegah ketamakan. Manusia bertindak sebagai pengelola (manager), bukan pemilik mutlak (owner).

2. Pilar Personal (Ngeureut sebagai Disiplin)

Kemampuan individu untuk melakukan regulasi diri terhadap keinginan impulsif. Ini melibatkan penggunaan akal untuk membatasi konsumsi sesuai batas kecukupan (mahi).

3. Pilar Temporal (Neundeun sebagai Visi)

Kesadaran akan dimensi waktu (masa lalu, sekarang, dan masa depan). Penyimpanan dilakukan untuk menjaga keberlanjutan hidup di masa "isuk jaganing geto" (masa depan yang tidak pasti).

4. Pilar Sosial (Solidaritas Kolektif)

Keyakinan bahwa ketahanan individu harus berkontribusi pada ketahanan sosial. Melalui mekanisme seperti leuit adat, penyimpanan pribadi menjadi jaring pengaman bagi komunitas.

Konvergensi dari keempat pilar ini menciptakan kondisi kesejahteraan yang holistik, di mana keamanan material berjalan seiring dengan ketenangan jiwa dan keharmonisan sosial. 

Practical Implications: Langkah Strategis Masa Depan

Aplikasi praktis dari falsafah "ngeureut neundeun" di masa depan dapat diarahkan pada beberapa bidang kunci:

Penguatan Kedaulatan Pangan dan Ekonomi Kerakyatan

  • Revitalisasi konsep lumbung pangan di tingkat desa sebagai institusi "neundeun" pangan kolektif yang tahan terhadap fluktuasi harga global.
  • Pengembangan koperasi simpan pinjam yang berbasis pada nilai gotong royong, menjauhkan masyarakat dari jeratan sistem bunga yang eksploitatif.

Literasi Keuangan Berbasis Budaya

  • Menggunakan narasi pepatah Sunda dalam kampanye literasi keuangan nasional agar pesan mengenai penghematan dan investasi lebih mudah meresap ke dalam kesadaran masyarakat lokal.
  • Mendorong keluarga untuk mempraktikkan manajemen keuangan rumah tangga yang disiplin dengan prinsip "saeutik mahi loba nyésa".

Pendidikan Karakter dan Kelestarian Lingkungan

  • Memperluas kurikulum pendidikan karakter yang mengajarkan nilai-nilai kesederhanaan dan kepedulian lingkungan, seperti yang dipraktikkan dalam komunitas adat Kasepuhan.
  • Menanamkan kesadaran bahwa "ngeureut" juga berarti mengurangi jejak karbon dan konsumsi sumber daya alam yang berlebihan demi kelestarian bumi untuk generasi mendatang.

Limitations & Further Research

Analisis ini mengakui adanya keterbatasan dalam hal jangkauan data empiris di luar wilayah Kasepuhan yang masih memegang teguh tradisi leuit. Di wilayah perkotaan Jawa Barat, praktik "ngeureut neundeun" mungkin telah mengalami hibridisasi dengan nilai-nilai modern yang perlu diteliti lebih lanjut.

Rekomendasi penelitian selanjutnya meliputi:
1. Studi kuantitatif mengenai korelasi antara pemahaman falsafah lokal dengan perilaku menabung dan investasi pada generasi milenial dan Gen Z di Jawa Barat.
2. Analisis kritis terhadap potensi penyalahgunaan nilai "neundeun" oleh institusi keuangan modern yang mungkin melakukan komodifikasi terhadap kearifan lokal.
3. Eksplorasi lebih dalam mengenai peran teknologi blockchain atau sistem penyimpanan digital terdesentralisasi dalam mereplikasi fungsi solidaritas dari leuit adat di era digital.

Falsafah “lamun boga rejeki kudu bisa ngeureut neundeun” tetap berdiri sebagai kompas moral dan ekonomi yang relevan. Di tengah dunia yang sering kali kehilangan arah karena keserakahan, kearifan Sunda ini menawarkan jalan pulang menuju kesederhanaan yang bermartabat, harmoni yang berkeadilan, dan masa depan yang penuh dengan kepastian melalui persiapan yang bijaksana. Kebahagiaan sejati bukanlah tentang seberapa banyak yang kita habiskan, melainkan tentang seberapa bijak kita mengelola apa yang kita miliki demi kehidupan yang berkelanjutan.

Sitasi:

Arti dan contoh idiom Sunda. (n.d.). Scribd. Diakses April 13, 2026, dari https://id.scribd.com/document/632819455/IDIOM-doc

Filosofi hidup sebagai basis kearifan lokal (Studi pada kesatuan masyarakat adat Kasepuhan Banten Kidul). (n.d.). E-Journal UPI. Diakses April 13, 2026, dari https://ejournal.upi.edu/index.php/gea/article/download/2593/1724

Implementasi “Akuntansi Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh” dan pemaknaan laba dalam perspektif budaya Sunda pada UMKM kota. (n.d.). Semantic Scholar. Diakses April 13, 2026, dari https://pdfs.semanticscholar.org/b9ff/aad4dbc59bc11cef0a41b42c83c28c0de8de.pdf

Implementasi “Akuntansi Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh” dan .... (n.d.). Jurnal Aktiva Nusa Putra. Diakses April 13, 2026, dari https://aktiva.nusaputra.ac.id/article/download/247/205

Implementasi kearifan lokal Sunda untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam berdemokrasi. (n.d.). Media Informasi Penelitian Kabupaten Semarang. Diakses April 13, 2026, dari https://sinov.semarangkab.go.id/index.php/sinov/article/download/699/645

Implementasi nilai-nilai kearifan lokal Sunda dalam .... (n.d.). Jurnal UPI. Diakses April 13, 2026, dari https://ejournal.upi.edu/index.php/jpis/article/download/6928/pdf

Jurnal Ar Ro'is Mandalika (ARMADA): Revitalization of maritime local wisdom in improving financial literacy of the Pulopanjang VI. (n.d.). Cahaya Mandalika. Diakses April 13, 2026, dari https://ojs.cahayamandalika.com/index.php/armada/article/download/5448/4394/

Kumpulan peribahasa bahasa Sunda yang penuh makna. (n.d.). Gramedia Literasi. Diakses April 13, 2026, dari https://www.gramedia.com/literasi/peribahasa-bahasa-sunda/

Leuit sebagai simbol kearifan lokal. (n.d.). Semantic Scholar. Diakses April 13, 2026, dari https://pdfs.semanticscholar.org/08fc/18398afffc144b303e242f5a8295a8ee18f6.pdf

Pengaruh leuit pada budaya Cipta Rasa. (n.d.). Scribd. Diakses April 13, 2026, dari https://id.scribd.com/document/642469933/Pengaruh-Leuit-terhadap-Kehidupan-Masyarakat-Kampung-Adat-Ciptarasa

Pola bangunan leuit, saung lisung, dan goah masyarakat Sunda Kasepuhan Ciptagelar dalam pengelolaan pangan. (n.d.). ResearchGate. Diakses April 13, 2026, dari https://www.researchgate.net/publication/350454604_POLA_BANGUNAN_LEUIT_SAUNG_LISUNG_DAN_GOAH_MASYARAKAT_SUNDA_KASEPUHAN_CIPTAGELAR_DALAM_PENGELOLAAN_PANGAN

Promoting peace values in Sundanese idioms: An effort for conflict resolution. (n.d.). ResearchGate. Diakses April 13, 2026, dari https://www.researchgate.net/publication/332102933_Promoting_Peace_Values_in_Sundanese_Idioms_An_effort_for_conflict_resolution

Sejarah dan filosofi leuit, tempat menyimpan padi khas Sunda dan Baduy. (n.d.). Girimu. Diakses April 13, 2026, dari https://girimu.com/sejarah-dan-filosofi-leuit-tempat-menyimpan-padi-khas-sunda-dan-baduy/

(n.d.). Garuda: Garba Rujukan Digital. Diakses April 13, 2026, dari https://garuda.kemdiktisaintek.go.id/journal/view/22020?page=5

Penguatan budaya lokal sebagai peneguh multikulturalisme melalui toleransi budaya prosiding. (n.d.). IKADBUDI UNY. Diakses April 13, 2026, dari https://ikadbudi.uny.ac.id/sites/ikadbudi.uny.ac.id/files/Prosiding%20Volume%201.pdf

Aletheia Rabbani
Aletheia Rabbani “Barang siapa yang tidak mampu menahan lelahnya belajar, maka ia harus mampu menahan perihnya kebodohan” _ Imam As-Syafi’i

Post a Comment