Epistemologi dan Geopolitik dalam Post-Orientalism: Analisis Pemikiran Hamid Dabashi tentang Knowledge dan Power

Table of Contents

Post-Orientalism: Knowledge and Power in Time of Terror karya Hamid Dabashi
Karya Hamid Dabashi yang berjudul Post-Orientalism: Knowledge and Power in Time of Terror merupakan sebuah interupsi intelektual yang mendalam terhadap diskursus hubungan antara pengetahuan dan kekuasaan di awal abad ke-21. Sebagai seorang profesor Studi Iran dan Sastra Perbandingan di Columbia University, Dabashi memosisikan teks ini bukan sekadar sebagai kritik terhadap representasi kolonial, melainkan sebagai upaya untuk memetakan mutasi mode produksi pengetahuan tentang Islam dan Timur Tengah di era yang ia sebut sebagai "Waktu Teror". Tesis utama Dabashi berakar pada pengamatan bahwa tesis klasik Edward Said tentang Orientalisme telah mengalami kelelahan historis dan kini digantikan oleh mekanisme baru yang lebih transien, namun tidak kalah destruktifnya dalam melayani agenda imperial kontemporer.

Evolusi Epistemik: Dari Orientalisme Said ke Post-Orientalisme Dabashi

Pondasi pemikiran Dabashi bermula dari evaluasi ulang terhadap karya monumental Edward Said, Orientalism (1978). Said berhasil melacak asal-usul kekuatan representasi dan agensi normatif dalam hubris kolonial yang dibawa oleh para pedagang, perwira militer, misionaris, dan orientalis Eropa pada abad ke-18 dan ke-19. Namun, Dabashi berpendapat bahwa kondisi dominasi dan representasi yang dijelaskan oleh Said perlu diperbarui untuk memetakan peristiwa-peristiwa yang menyebabkan sindrom pasca-9/11. Jika Orientalisme klasik beroperasi sebagai instrumen dominasi politik yang terlembaga secara akademis dan filologis, Post-Orientalisme muncul dalam konteks di mana Amerika Serikat bertindak sebagai "kekaisaran tanpa hegemoni," sebuah kekuatan militer yang luar biasa namun kehilangan otoritas moral untuk memimpin dunia melalui persetujuan budaya.

Perbedaan mendasar antara kedua fase ini terletak pada sifat pengetahuan yang dihasilkan. Orientalisme klasik menghasilkan korpus pengetahuan yang mendalam, meskipun bias, yang dibangun di universitas-universitas besar Eropa. Sebaliknya, Post-Orientalisme menghasilkan apa yang disebut Dabashi sebagai "pengetahuan sekali pakai" (disposable knowledge), yang sering kali dirancang di dalam think-tank daripada di institusi akademik tradisional. Pengetahuan ini memiliki masa pakai yang pendek, dirancang untuk memberikan justifikasi bagi petualangan militeristik tertentu, dan kemudian dibuang begitu tujuannya tercapai.

Post-Orientalism: Knowledge and Power in Time of Terror karya Hamid Dabashi

Kekaisaran Tanpa Hegemoni dan Krisis Agensi Normatif

Dabashi mengembangkan kritik tajam terhadap sifat imperialisme simbolis yang dijalankan oleh Amerika Serikat di era kontemporer. Ia menggambarkan Amerika Serikat sebagai mesin militer paling kuat dalam sejarah manusia yang terlibat secara mendalam di Afghanistan dan Irak. Namun, agensi normatif dan moral yang mereka klaim sering kali tidak berakar pada pemahaman budaya yang mendalam, melainkan pada serangkaian representasi militan yang bertujuan untuk menggalang konsensus nasional melalui ketakutan.

Krisis agensi ini terlihat dari bagaimana pengetahuan tentang "Timur" tidak lagi bertujuan untuk memahami, melainkan untuk mengelola ancaman. Dabashi menyoroti peran ideolog seperti Samuel Huntington, Francis Fukuyama, dan Bernard Lewis dalam membangun kerangka berpikir yang menjustifikasi dominasi AS melalui narasi "benturan peradaban" atau "berakhirnya sejarah". Dalam pandangan Dabashi, pengetahuan ini tidak memiliki "subjektivitas agensial" karena ia sepenuhnya bergantung pada kebutuhan kekuasaan militer yang sedang berlangsung.

Munculnya "pengetahuan sekali pakai" ini mencerminkan transisi dari kekuasaan yang tersentralisasi dan diautentikasi secara akademis ke kekuasaan yang tersebar dan amorf. Pengetahuan ini bekerja melalui proses "endosmosis epistemik," di mana ide-ide yang dibuat di think-tank dengan kepentingan tertentu merembes ke dalam domain publik melalui media massa, menciptakan persepsi palsu tentang realitas tanpa adanya kemungkinan sanggahan bagi mereka yang direpresentasikan.

Kritik Terhadap Intelektual Komprador dan Native Informants

Salah satu kontribusi paling kontroversial dan tajam dari Dabashi dalam Post-Orientalism adalah kritiknya terhadap figur yang ia sebut sebagai native informer atau informan pribumi. Dabashi membedakan antara informant (dalam arti antropologis sebagai narasumber) dengan informer (dalam arti politis sebagai pembocor rahasia atau pengkhianat). Ia berpendapat bahwa setelah 9/11, muncul gelombang intelektual asal Timur Tengah yang bermigrasi ke Barat dan menggunakan identitas "otentik" mereka untuk memperkuat stereotip Orientalis demi melayani agenda imperial AS.

Para intelektual komprador ini dianggap melakukan pekerjaan kasar untuk kekaisaran dengan menyediakan narasi totaliter tentang penindasan di tanah air mereka, yang kemudian digunakan untuk membenarkan intervensi militer sebagai "pembebasan". Dabashi menuduh mereka menggunakan otoritas nativitas—fakta bahwa mereka berasal dari "sana"—untuk memalsukan keaslian pengetahuan sementara sebenarnya mereka hanya mengatakan apa yang ingin didengar oleh penakluk mereka.

Kasus Azar Nafisi dan Reading Lolita in Tehran

Dabashi memberikan analisis mendalam terhadap memoar Azar Nafisi, Reading Lolita in Tehran, sebagai prototipe dari fenomena ini. Ia menuduh Nafisi merendahkan sejarah perlawanan revolusioner di Iran dengan menawarkan kecaman yang tidak dikontekstualisasikan terhadap Revolusi Islam. Lebih jauh lagi, Dabashi berpendapat bahwa Nafisi memprovokasi "fantasi Oriental" para pembaca Barat dengan menonjolkan kekuatan "klasik Barat" sebagai instrumen pembebasan bagi perempuan Iran yang digambarkan pasif dan tertindas.

Kritik Dabashi menekankan bahwa narasi semacam ini menghapus agensi lokal dan sejarah perlawanan nyata, menggantikannya dengan cerita tentang massa yang menunggu untuk diselamatkan oleh kekuatan eksternal yang murah hati. Ini adalah bagian dari strategi representasi yang lebih luas di mana perempuan Irak dan Afghanistan dikonstruksi dalam kesadaran Amerika sebagai objek yang membutuhkan penyelamatan paternalistik, sebuah retorika yang menurut Dabashi sangat berkaitan dengan pembenaran invasi.

Khaled Hosseini dan Fouad Ajami

Selain Nafisi, Dabashi juga menyinggung peran penulis seperti Khaled Hosseini. Meskipun karyanya populer, Dabashi (dan para pengkritik serupa) melihat otoritas naratif Hosseini sebagai sesuatu yang sengaja dibuat untuk memperkenalkan cita-cita Barat ke dalam konteks Afghanistan, yang pada akhirnya melegitimasi kehadiran militer AS. Figur lain yang sering dikritik adalah Fouad Ajami, yang dianggap telah bergerak begitu jauh ke dalam imajinasi imperial sehingga ia mengklaim dapat menjelaskan "bagaimana pikiran orang Arab bekerja" kepada publik Amerika.

Post-Orientalism: Knowledge and Power in Time of Terror karya Hamid Dabashi

Semiotika Pemusnahan dan dehumanisasi dalam Waktu Teror

Dabashi mengeksplorasi bagaimana pengetahuan dalam "Waktu Teror" tidak hanya bersifat informatif tetapi juga performatif dalam menciptakan "semiotika pemusnahan" (semiotics of extermination). Ia mengambil contoh kartun editorial di Columbus Post-Dispatch yang menggambarkan orang Iran sebagai kecoa yang keluar dari selokan. Analisis Dabashi melampaui sekadar keluhan tentang rasisme; ia berpendapat bahwa representasi visual semacam ini berfungsi untuk menurunkan martabat kemanusiaan sebuah bangsa secara kolektif sehingga mereka dapat diterima sebagai target pemusnahan.

Logika ini bekerja dengan cara:
1. Transformasi Menjadi Hama: Dengan melabeli manusia sebagai kecoa atau kutu, representasi tersebut menghilangkan hambatan moral untuk membunuh. Kecoa tidak diperangi; mereka dibasmi (exterminated).
2. Membangun Konsensus Negatif: Melalui pengulangan gambar dan narasi yang merendahkan, konsensus negatif dibangun sehingga tindakan militer tidak lagi dilihat sebagai agresi, melainkan sebagai tindakan sanitasi atau keamanan yang diperlukan.
3. Amnesia Kolektif: Mesin propaganda berfungsi untuk membuang sejarah dan memaksa publik masuk ke dalam keadaan amnesia, di mana kekerasan imperial yang sedang berlangsung tidak pernah dikaitkan dengan sejarah panjang kolonialisme.

Dabashi menekankan bahwa kartun dan sentimen rasis ini tidak bersifat sporadis atau tidak sengaja. Mereka adalah bagian dari mekanisme otoritas yang memungkinkan sebuah surat kabar dan audiens pembacanya untuk menerima penggambaran manusia sebagai hama yang menunggu untuk diinjak. Hubungan timbal balik antara pengetahuan (persepsi publik) dan kekuatan militer menjadi kunci dalam memahami bagaimana "Waktu Teror" dikelola secara epistemik.

Krisis Studi Kawasan (Area Studies) dan Dominasi Think-Tank

Dalam Post-Orientalism, Dabashi juga menyoroti krisis institusional dalam akademisi Amerika, khususnya transisi dari Studi Kawasan (Area Studies) ke arah yang ia sebut sebagai "hackademia." Pada masa Perang Dingin, Studi Kawasan didanai untuk memahami musuh dalam kerangka stabilitas geopolitik. Namun, setelah Perang Dingin dan puncaknya setelah 9/11, universitas-universitas kehilangan otonomi mereka karena pengetahuan tentang Timur Tengah mulai didikte oleh kebutuhan operasional militer dan intelijen.

Beberapa poin kunci dalam analisis ini meliputi:

  • Pergeseran Pendanaan: Penggunaan dana dari Departemen Pertahanan (seperti melalui National Security Education Act) untuk mendukug studi bahasa dan budaya di area strategis telah membuat beasiswa menjadi kontroversial dan sering kali diboikot oleh organisasi profesi seperti African Studies Association dan Middle East Studies Association (MESA).
  • Serangan terhadap Akademisi Kritis: Dabashi mencatat adanya upaya sistematis untuk melecehkan akademisi yang dianggap "tidak patriotik" karena mengkritik kebijakan pemerintah. Laporan seperti "Defending Civilization" oleh ACTA mendokumentasikan contoh-contoh "anti-Amerikanisme" di kampus, yang menjadi dasar kampanye intimidasi terhadap intelektual kritis.
  • Munculnya Propagandis Think-Tank: Pengetahuan kini lebih banyak diproduksi di institusi seperti American Enterprise Institute, Heritage Foundation, dan Hoover Institution. Dabashi menuduh lembaga-lembaga ini bertindak dalam "pelayanan keamanan nasional" daripada pencarian kebenaran akademik.

Dabashi menggunakan istilah "endosmosis" untuk menggambarkan bagaimana pengetahuan yang dibuat dengan kepentingan tertentu di think-tank menyebar ke masyarakat tanpa melalui filter kritis akademis. Pengetahuan ini sering kali bersifat "sekali pakai" karena ia hanya relevan selama misi militer tertentu berlangsung, seperti narasi tentang senjata pemusnah massal di Irak yang segera ditinggalkan begitu invasi selesai.

Signifikansi Walter Benjamin dan Konsep Waktu dalam Post-Orientalisme

Untuk memahami posisi teoretisnya, Dabashi merujuk secara mendalam pada pemikiran Walter Benjamin tentang sejarah dan waktu. Ia menggunakan gagasan Benjamin tentang "waktu yang berhenti" untuk mendefinisikan momen "Post" dalam Post-Orientalisme. Bagi Dabashi, sejarah bukan sekadar aliran kronologis peristiwa, melainkan serangkaian konfigurasi yang penuh dengan ketegangan yang bisa "meledak" menjadi monad sejarah.

9/11, invasi Afghanistan tahun 2001, dan invasi Irak tahun 2003 adalah momen-momen monadik tersebut. Dabashi berpendapat bahwa seorang pemikir harus menempatkan diri "di dalam dan di luar sejarah" secara bersamaan untuk bisa menangkap SNAPSHOT dari realitas ini. Penggunaan terminologi "Post" menandai penghentian mesianik—sebuah titik di mana mode produksi pengetahuan lama (Orientalisme) dianggap sudah berakhir, habis fungsinya, dan kita dipaksa untuk melihat melampaui paradigma tersebut ke arah yang belum bernama.

Perspektif materialis historis ini memungkinkan Dabashi untuk membongkar klaim universalisme provinsi Eropa yang selama ini dijual sebagai "Modernitas." Dengan meledakkan kontinum sejarah, Dabashi ingin memberikan ruang bagi mereka yang tertindas di masa lalu untuk memiliki agensi di masa sekarang.

Geografi Pembebasan: Melampaui Dikotomi Timur dan Barat

Puncak dari refleksi Dabashi dalam Post-Orientalism adalah seruannya untuk menciptakan "Geografi Pembebasan" (Liberation Geography). Ia berargumen bahwa dunia tidak lagi dibagi secara kaku antara Timur dan Barat, sebuah dikotomi yang menurutnya sudah runtuh tidak hanya di "Barat" itu sendiri tetapi juga di konteks lain yang selama ini menyertainya. Revolusi yang terjadi di wilayah Asia Barat dan Afrika Utara (WANA), yang sering disebut sebagai Arab Spring, dilihat oleh Dabashi sebagai bukti berakhirnya binari "Islam dan Barat".

Geografi Pembebasan mencakup beberapa elemen penting:
1. Mengakhiri Post-kolonialisme: Dabashi berpendapat bahwa era pasca-kolonial telah berakhir karena agendanya telah habis dikonsumsi. Revolusi WANA menandai peralihan dari "politik mereplikasi Barat" ke arah penciptaan identitas baru yang tidak lagi didasarkan pada perlawanan ideologis lama seperti nasionalisme anti-kolonial atau Islamisme militan.
2. Kosmopolitanisme Dunia: Geografi ini memulihkan kosmopolitanisme yang melekat pada wilayah tersebut, yang merupakan lawan dari "Westernisme." Kosmopolitanisme ini adalah bentuk "keragaman tandingan" yang menolak pusat imperial tunggal.
3. Berbagi Pusat: Alih-alih melihat dunia sebagai pusat (Barat) dan pinggiran (Rest), Geografi Pembebasan mengusulkan "pemerataan lapangan permainan" di mana orang-orang dapat menentukan nasib mereka sendiri tanpa harus berkonsultasi dengan "lawan bicara kulit putih fiktif".

Dabashi menekankan bahwa Geografi Pembebasan bukan sekadar konsep spasial, melainkan sebuah tindakan kolektif untuk mengatasi kategori paksaan seperti "Religius" vs "Sekuler" atau "Tradisional" vs "Modern". Ini adalah upaya untuk menumbuhkan agensi normatif dan moral melalui kehadiran yang "duniawi" (worldly presence).

Intelektual Eksilik dan Organisitas Baru

Dalam menanggapi "Waktu Teror," Dabashi menaruh harapan besar pada figur "intelektual eksilik" (exilic intellectual). Figur ini didefinisikan bukan berdasarkan kewarganegaraan, melainkan berdasarkan komitmen untuk "merasa di rumah dalam keadaan tidak merasa di rumah". Intelektual eksilik adalah situs utama bagi kultivasi agensi normatif karena mereka berada di luar struktur kekuasaan negara-bangsa yang sering kali bersifat koersif.

Dabashi menyerukan apa yang ia sebut sebagai "Organisitas Baru" (New Organicity). Hal ini melibatkan:

  • Perlawanan terhadap Konsensus: Intelektual harus berani menentang konsensus negatif yang dibangun oleh media dan think-tank.
  • Percakapan dengan Lawan Bicara yang Berubah: Alih-alih terus-menerus mencoba meyakinkan Barat tentang kemanusiaan Timur, intelektual harus mulai berbicara satu sama lain melampaui batas-batas nasional dan budaya.
  • Intelektual Amfibi: Gil Anidjar mendeskripsikan Dabashi sebagai intelektual "amfibi" dan universalis yang mampu bernapas di dua dunia sekaligus namun tidak sepenuhnya menjadi milik salah satunya. Ini adalah posisi yang memungkinkan kritik radikal terhadap kekaisaran tanpa terjebak dalam esensialisme budaya.

Tujuan akhir dari proyek Post-Orientalisme ini adalah mencapai mode produksi pengetahuan yang melampaui pertanyaan tentang subjek yang berdaulat, namun tetap secara politik tajam dan kuat. Bagi Dabashi, perlawanan terhadap kehendak untuk mendominasi harus dimulai dengan perlawanan terhadap kehendak untuk mewakili orang lain secara otoriter.

Dampak dan Kritik terhadap Post-Orientalism

Meskipun buku ini diakui sebagai karya yang erudit dan berani, ia tidak lepas dari kritik. Beberapa akademisi menuduh Dabashi menggunakan jargon akademik yang terlalu kompleks dan esoteric, sehingga sulit dipahami oleh mereka yang berada di luar disiplin sastra perbandingan dan teori kritis. Selain itu, ada juga kritik yang datang dari spektrum politik lain yang menuduh Dabashi memiliki "fiksasi paranoid" terhadap kekaisaran Amerika dan Israel sambil mengabaikan kekejaman rezim lokal di Timur Tengah.

Misalnya, kritikus seperti Martin Kramer menuduh Dabashi dan rekan-rekannya di Studi Timur Tengah telah gagal dalam tugas akademis mereka karena lebih mementingkan aktivisme politik daripada studi objektif. Di sisi lain, beberapa aktivis Iran mengkritik Dabashi karena dianggap bersikap naif atau hipokrit dalam menanggapi krisis seperti di Suriah atau gerakan protes di Iran, dengan menuduhnya bertransformasi menjadi versi lain dari "informan" yang ia kritik sendiri.

Namun, bagi para pendukungnya, Post-Orientalism tetap menjadi panduan penting bagi sosiologi budaya dan teori postkolonial. Penekanan Dabashi pada perlunya dekolonisasi peralatan analitis kita dan perhatian terhadap geografi lokal dipandang sebagai langkah penting menuju percakapan lintas budaya yang lebih adil.

Kesimpulan: Pengetahuan sebagai Alat Pembebasan

Post-Orientalism: Knowledge and Power in Time of Terror adalah sebuah karya yang memaksa kita untuk memeriksa kembali hubungan antara apa yang kita ketahui dan bagaimana pengetahuan itu digunakan untuk membenarkan kekerasan. Melalui analisisnya yang luas—dari filsafat Walter Benjamin hingga kartun editorial, dari memoar Azar Nafisi hingga krisis di think-tank—Hamid Dabashi menunjukkan bahwa representasi bukanlah hal yang netral.

Di tengah "Waktu Teror," pengetahuan sering kali menjadi senjata sekali pakai yang dirancang untuk membasmi agensi rakyat demi kepentingan imperial. Namun, dengan mengenali mekanisme ini, Dabashi berpendapat bahwa kita dapat mulai membangun "Geografi Pembebasan" yang menghargai keberagaman manusia tanpa terjebak dalam binari yang merusak. Figur intelektual eksilik tetap menjadi mercusuar dalam upaya ini, menentang otoritas represif dan mencari cara baru untuk berbicara tentang kebenaran dalam dunia yang didominasi oleh ketakutan dan representasi militan.

Karya ini pada akhirnya adalah sebuah seruan untuk mengganti lawan bicara kita, berhenti berdialog dengan hantu kolonialisme masa lalu, dan mulai membangun solidaritas global yang benar-benar universal dan membebaskan.

Sitasi:

Dabashi, H. (2009). Post-Orientalism: Knowledge and power in time of terror. New Brunswick, NJ: Transaction Publishers.

Dabashi, H. (n.d.). Post-Orientalism: Knowledge and power in time of terror. Retrieved April 1, 2026, from https://hamiddabashi.com/post-orientalism-knowledge-and-power-in-time-of-terror/

Dabashi, H. (n.d.). Post-Orientalism: Knowledge and power in time of terror. Retrieved April 1, 2026, from https://hamiddabashi.com/post-orientalism-knowledge-and-power-in-time-of-terror-2/

Dabashi, H. (n.d.). Post-Orientalism: Knowledge and power in a time of terror. Routledge. Retrieved April 1, 2026, from https://www.routledge.com/Post-Orientalism-Knowledge-and-Power-in-a-Time-of-Terror/Dabashi/p/book/9781412855808

Dabashi, H. (n.d.). Post-orientalism: Knowledge and power in time of terror. ResearchGate. Retrieved April 1, 2026, from https://www.researchgate.net/publication/282004085_Post-orientalism_knowledge_and_power_in_time_of_terror

Dabashi, H. (n.d.). Post-Orientalism: Knowledge and power in a time of terror. Goodreads. Retrieved April 1, 2026, from https://www.goodreads.com/book/show/6596936-post-orientalism

Dabashi, H. (n.d.). Post-Orientalism knowledge & power (Preview PDF). Retrieved April 1, 2026, from https://api.pageplace.de/preview/DT0400.9781351295871_A30546151/preview-9781351295871_A30546151.pdf

Dabashi, H. (n.d.). Post-Orientalism knowledge & power (Preview PDF). Retrieved April 1, 2026, from https://s3-euw1-ap-pe-df-pch-content-store-p.s3.eu-west-1.amazonaws.com/9781315127088/8068d5de-896c-4429-8a65-050669e67726/preview.pdf

Dabashi, H. (n.d.). Post Orientalism (PDF). Scribd. Retrieved April 1, 2026, from https://www.scribd.com/document/132169881/51366162-Post-Orientalism

Dabashi, H. (n.d.). Post-Orientalism: Knowledge and power in a time of terror. Dokumen.pub. Retrieved April 1, 2026, from https://dokumen.pub/post-orientalism-knowledge-and-power-in-a-time-of-terror-2015000026-9781412855808-9781412808729-9781315127088.html

Dabashi, H. (n.d.). Post-Orientalism knowledge and power in time of terror. SCIRP. Retrieved April 1, 2026, from https://www.scirp.org/reference/referencespapers?referenceid=3430500

Puri, A. (n.d.). ISSN 2249-4529 - Lapis Lazuli: An international literary journal. Retrieved April 1, 2026, from https://pintersociety.com/wp-content/uploads/2019/08/Gen-2-Aneesha-Puri.pdf

ResearchGate. (n.d.). Construction of unauthentic. Retrieved April 1, 2026, from https://www.researchgate.net/publication/379375993_Construction_of_Unauthentic

ResearchGate. (n.d.). The politics of appropriation: Writing, responsibility, and the specter of the native informant. Retrieved April 1, 2026, from https://www.researchgate.net/publication/265957238_The_Politics_of_Appropriation_Writing_Responsibility_and_the_Specter_of_the_Native_Informant

Wikipedia contributors. (n.d.). Orientalism (book). Retrieved April 1, 2026, from https://en.wikipedia.org/wiki/Orientalism_(book)

Boise State University. (n.d.). Orientalism and media representations of Iran in the USA. Retrieved April 1, 2026, from https://scholarworks.boisestate.edu/cgi/viewcontent.cgi?article=1309&context=td

CounterPunch. (2015). From academia to hackademia: Hamid Dabashi as native informer. Retrieved April 1, 2026, from https://www.counterpunch.org/2015/09/15/from-academia-to-hackademia-hamid-dabashi-as-native-informer/

DergiPark. (n.d.). Challenging neo-orientalism: Muslim identity and the Israel-Palestine conflict in Teju Cole’s Open City. Retrieved April 1, 2026, from https://dergipark.org.tr/tr/download/article-file/4886648

Jadaliyya. (n.d.). New texts out now: Hamid Dabashi, The Arab Spring: The end of postcolonialism. Retrieved April 1, 2026, from https://www.jadaliyya.com/Details/26164

Middle East Forum. (n.d.). The muddled mess of Middle East studies. Retrieved April 1, 2026, from https://www.meforum.org/campus-watch/the-muddled-mess-of-middle-east-studies-incl

Al-Azhar University. (n.d.). Contesting Campus Watch: Middle East studies under fire. Retrieved April 1, 2026, from https://www.alazhar.edu.ps/journal/attachedFile.asp?seqq1=563

Resistance Journal. (2020). Classical book review: Hamid Dabashi: The Arab Spring. Retrieved April 1, 2026, from https://resistance-journal.org/wp-content/uploads/2020/11/JRS-2-2020-Classical-Book-Review.pdf

Counter Cartographies. (n.d.). Beyond the European Union’s neighbourhood: Liberation geographies in the Mediterranean. Retrieved April 1, 2026, from https://www.countercartographies.org/wp-content/files/Beyond_the_European_Union_s_Neighbourhood_Liberation_Geographies_in_the_Mediterranean.pdf

Aletheia Rabbani
Aletheia Rabbani “Barang siapa yang tidak mampu menahan lelahnya belajar, maka ia harus mampu menahan perihnya kebodohan” _ Imam As-Syafi’i

Post a Comment