Dekonstruksi Wacana Kekuasaan dalam Orientalism Edward Said: Analisis Komprehensif Isi dan Kritik Postkolonial

Table of Contents

Buku Orientalism Edward Said
I. Pendahuluan: Konteks Intelektual dan Tesis Sentral Said

A. Edward Said: Biografi, Latar Belakang, dan Impetus Penulisan

Edward Wadie Said (1935–2003) adalah seorang akademisi, kritikus sastra, dan aktivis politik Palestina-Amerika yang menjadi figur sentral dalam teori kritis abad ke-20. Latar belakangnya—terlahir di Yerusalem, dibesarkan di Mesir, dan beremigrasi ke Amerika Serikat—memberinya identitas hibrida (tercermin dari namanya: Edward dari Inggris, Wadie dari Kairo, dan Said dari Arab) yang sangat memengaruhi sudut pandang kritisnya. Said merasa terasing (alienated) dan terusir dari tanah kelahirannya, sebuah pengalaman yang ia katakan tidak terpisahkan dari sejarah masa lalunya dan isu memori kolektif.

Pengalaman pribadi ini memberikan dorongan utama bagi penulisan karyanya yang paling berpengaruh, Orientalism, yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1978. Buku ini muncul sebagai respons terhadap konteks sejarah dan politik yang lebih luas pada abad ke-20, terutama seiring dengan munculnya aspirasi kemerdekaan di negara-negara yang sebelumnya terjajah. Said menggabungkan berbagai disiplin ilmu, termasuk teori sastra, sejarah ide, sosiologi intelektual, dan analisis politik, untuk menghasilkan sebuah monografi yang mengubah studi Oriental secara radikal dan meletakkan fondasi bagi studi pascakolonial. Meskipun Said sendiri tidak menganggap dirinya sebagai "ahli pascakolonial," para akademisi selanjutnya memberinya label tersebut karena dampak transformasional bukunya dalam mengkaji warisan kolonialisme dan imperialisme.

B. Tesis Sentral: Orientalisme sebagai Mekanisme Kritis Barat dalam Mendominasi Timur

Tesis sentral dalam Orientalism adalah bahwa Orientalisme bukan sekadar bidang studi akademik atau kumpulan stereotip yang tidak berbahaya, melainkan konsep kritis yang berfungsi untuk mendeskripsikan penggambaran Timur oleh dunia Barat yang cenderung meremehkan (contemptuous depiction). Said berargumen bahwa Orientalisme adalah sebuah sistem intelektual sadar dan sistematis yang dibangun oleh Barat untuk memahami, menggambarkan, dan mengendalikan Timur.

Orientalisme, dalam pandangan Said, adalah manifestasi dari hubungan kekuasaan, dominasi, dan hegemoni antara Occident (Barat) dan Orient (Timur). Tujuannya adalah membangun supremasi budaya dan politik atas Orient. Lebih dari sekadar kesalahpahaman budaya, Orientalisme adalah strategi politik yang terstruktur, dirancang untuk melegitimasi dominasi kolonial dan supremasi Eropa.

Kedalaman penetrasi wacana ini terlihat dari dampak internalnya. Said mencatat bahwa praktik sosial, ekonomi, dan budaya dari elit Arab yang berkuasa di Timur Tengah menunjukkan bahwa mereka telah menginternalisasi versi romantis budaya Arab yang awalnya diciptakan oleh orientalis Prancis, Inggris, dan belakangan, Amerika. Fenomena ini menegaskan bahwa wacana Orientalisme tidak hanya mempengaruhi pandangan Barat, tetapi juga realitas dan identitas di Timur itu sendiri.

II. Anatomi Orientalisme: Definisi, Ontologi, dan Epistemologi

Edward Said memulai analisisnya dengan membedah istilah "Orientalisme" menjadi tiga definisi yang saling tumpang tindih, sebuah struktur yang menunjukkan evolusi konsep ini dari disiplin ilmu menjadi alat kontrol geopolitik.

A. Tiga Definisi Utama Orientalisme (Akademik, Ontologis, Dominasi)

Said menawarkan tiga definisi utama mengenai Orientalisme, yang saling memperkuat argumennya tentang keterkaitan antara pengetahuan dan kekuasaan:

1. Studi Akademik

Orientalisme adalah disiplin akademis yang berfokus pada studi tentang Orient, mencakup bahasa, peradaban, sastra, sejarah, dan sosiologi negara-negara Timur. Sebelum abad ke-20, istilah ini dikenal luas sebagai studi ilmiah di Eropa yang mencakup bahasa-bahasa Semit, teks-teks klasik Timur Tengah, India, dan dunia Islam. Definisi ini adalah yang paling literal, tetapi Said menunjukkan bahwa definisi ini menjadi tempat pertama di mana kesadaran geopolitik disalurkan ke dalam teks-teks ilmiah.

2. Gaya Berpikir Ontologis dan Epistemologis

Orientalisme adalah gaya berpikir yang didasarkan pada pembedaan mendasar, baik secara ontologis (perbedaan mendasar dalam keberadaan) maupun epistemologis (perbedaan dalam cara pengetahuan diperoleh), antara 'Orient' dan 'Occident'. Pembedaan ini menghasilkan oposisi biner yang ketat, di mana Barat didefinisikan sebagai "rasional, maju, dan superior," sementara Timur digambarkan sebagai "irasional, primitif, dan inferior".

Perumusan ontologis ini memiliki sifat preskriptif, bukan hanya deskriptif. Dengan mendefinisikan Timur sebagai ‘primitif’ atau ‘menyimpang,’ Barat secara inheren telah menuliskan respons yang diperlukan, yaitu dominasi atau intervensi. Mekanisme ini mengubah klasifikasi akademis (epistemologi) menjadi kebutuhan politik (dominasi), membuktikan keterpisahan pengetahuan dan kekuasaan. Orient diciptakan oleh Eropa dan Barat sebagai "Liyan" (The Other).

3. Wacana Kekuasaan/Gaya Dominasi

Orientalisme adalah gaya Barat untuk mendominasi, merestrukturisasi, dan memiliki otoritas atas Orient. Ini adalah mekanisme kritis yang memungkinkan budaya Eropa mengelola—bahkan memproduksi—Orient secara politik, sosiologis, militer, ideologis, dan ilmiah selama periode pasca-Pencerahan.

Definisi ini adalah yang paling penting bagi Said, karena ia berpendapat bahwa yang krusial bukanlah kebenaran representasi Orientalis, melainkan apa yang dilakukan oleh representasi dan pengetahuan tersebut, serta apa dampaknya dalam membentuk realitas geopolitik. Orientalisme dengan demikian adalah alat wacana untuk memperkuat dominasi Barat atas Timur.

B. Orientalisme Laten vs. Orientalisme Manifes

Untuk memahami bagaimana wacana Orientalis bertahan dan beradaptasi, Said membedakan antara Orientalisme Laten dan Orientalisme Manifes. Distingsi ini menjelaskan kesinambungan dan perubahan dalam pola pikir Barat:

Distingsi ini menjelaskan kesinambungan dan perubahan dalam pola pikir Barat
Orientalisme Laten adalah elemen yang memastikan kelangsungan diskursus dominasi. Meskipun Orientalisme Manifes (teks-teks spesifik yang dihasilkan) mungkin berubah, inti asumsi Laten (bahwa Timur secara fundamental berbeda dan lebih rendah) tetap konstan. Said berpendapat bahwa dominasi imperialistik atas Timur hanya mungkin dilakukan jika oposisi biner yang saling bertubrukan ini dipertahankan di tingkat Laten. Inilah mengapa Said memfokuskan sebagian besar analisisnya pada Manifest Orientalism, sambil mengakui bahwa Laten Orientalism adalah fondasi yang sulit digoyahkan.

III. Orientalisme sebagai Wacana Kekuasaan dan Hegemoni (Kerangka Teoretis)

Orientalisme bekerja sebagai sebuah sistem yang terintegrasi, yang akarnya terletak dalam teori kritis wacana dan hegemoni. Said secara eksplisit mengaitkan Orientalisme dengan kerangka teoretis Michel Foucault dan Antonio Gramsci.

A. Kerangka Foucauldian: Pengetahuan adalah Kekuasaan (Power/Knowledge)

Said secara tegas mengidentifikasi Orientalisme sebagai sebuah wacana. Wacana ini secara inheren terdiri dari sejumlah wacana yang tersusun secara koheren, yang motifnya adalah menggunakan pengetahuan dan kekuasaan untuk menghasilkan objek studinya sendiri. Dalam tradisi Foucauldian, pengetahuan tidak pernah netral.

Orientalis adalah penjajah dalam pikiran; mereka berupaya menggunakan kekuasaan secara intelektual, budaya, dan moral atas Orient. Wacana Orientalis adalah korpus teks yang luas—sastra, sosiologis, ilmiah, sejarah, filologis, dan politik—yang telah terakumulasi sejak Renaisans. Tanpa analisis ini, mustahil untuk memahami kedalaman disiplin sistematis yang digunakan budaya Eropa untuk mengelola dan memproduksi Orient secara ideologis.

Wacana ini bukan hanya kumpulan kesalahpahaman; ia menciptakan sekumpulan pengetahuan yang digunakan oleh imperialis Barat yang lebih pragmatis dan utilitarian sebagai sarana untuk mendapatkan kekuasaan. Orientalisme, dengan demikian, bukan sekadar imajinasi Eropa; ia memiliki "investasi material yang cukup besar" (melalui beasiswa akademik, seni, sastra, dan tulisan politik) yang memastikan kelangsungan hidup dan inersianya. Biaya politik dan finansial bagi Barat untuk mengakui bahwa seluruh sistem pengetahuannya didasarkan pada distorsi adalah terlalu besar, yang menjelaskan mengapa wacana ini begitu tangguh.

B. Hegemoni Budaya Gramscian dan Legitimasi

Konsep hegemoni budaya Antonio Gramsci menjelaskan bagaimana dominasi terjadi bukan hanya melalui paksaan militer, tetapi juga melalui persetujuan budaya dan intelektual. Orientalisme berfungsi secara hegemonik, dengan tujuan membangun supremasi budaya dan politik Barat atas Timur.

Studi Said secara cermat memeriksa hubungan antara Orientalisme, budaya, dan imperialisme, dengan fokus pada keutamaan kolonial Inggris dan Prancis abad ke-19. Dalam konteks ini, budaya dan seni menjadi fondasi kekaisaran untuk melegitimasi dominasi kolonial. Institusi akademik, seperti masyarakat Oriental, memainkan peran kunci dalam distribusi kesadaran geopolitik.

Orientalisme berfungsi sebagai alat legitimasi bagi dominasi, ekspansi, dan kontrol Barat atas Timur. Penelitian yang dilakukan oleh para orientalis seringkali, menurut kritik Said dan cendekiawan lain seperti A.L. Tibawi dan Anoar Abdel-Malek, merupakan "kegiatan pesanan kaum kolonialis" untuk memuluskan proses kolonialisasi. Orientalisme berkembang sebagai bagian dari strategi politik kolonial. Pengetahuan linguistik tentang Orient, misalnya, menjadi sangat penting untuk administrasi dan pemerintahan yang efektif di negara-negara tersebut.

IV. Orientalisme dalam Struktur dan Restrukturisasi (Analisis Historis dan Institusional)

Buku Orientalism diorganisir dalam struktur tiga bab yang berfokus pada fase historis dan institusional yang berbeda dari wacana tersebut.

A. Perkembangan Historis dan Institusionalisasi (Bab 1 dan 2)

Bab 1 dan 2 melacak perkembangan Orientalisme dari ide-ide awal hingga menjadi struktur yang mengakar kuat:

  • Dari Rasa Ingin Tahu ke Struktur (Bab 1): Orientalisme muncul dari kombinasi rasa ingin tahu ilmiah, interaksi budaya, serta kepentingan politik dan ekonomi. Said mencatat bahwa ide-ide Orientalis mulai beredar dan mengakar kuat dalam masyarakat Prancis dan Inggris pada abad ke-19. Said membandingkan sikap Inggris terhadap Mesir dan India pada pergantian abad ke-20 dengan pandangan Henry Kissinger tentang gejolak politik di Timur Dekat/Asia pada paruh kedua abad ke-20, menunjukkan konsistensi geopolitik dalam memandang Orient sebagai ‘masalah’ yang harus dikelola.
  • Struktur Orientalis dan Restrukturisasi (Bab 2): Bab ini, berjudul Orientalist Structures and Restructures, mengilustrasikan berbagai cara Barat menafsirkan Timur untuk kepentingannya sendiri. Pada abad ke-19, Barat berinvestasi dalam pengetahuan tentang Orient bukan hanya untuk studi, tetapi juga untuk mengembangkan rasa kemajuan Barat itu sendiri. Orient mulai dilihat sebagai bentuk keberadaan manusia yang "belum terjamah" (unspoiled) dan "polos," yang berfungsi sebagai kontras terhadap dunia Barat yang dianggap terlalu beradab, rumit, dan bahkan "tidak wajar".

Wacana ini memastikan bahwa Orient berfungsi sebagai cermin dan mekanisme validasi. Dengan mendefinisikan Timur sebagai ‘primitif,’ Barat mengukuhkan identitasnya sendiri sebagai ‘beradab’ dan ‘maju.’ Orientalisme, oleh karena itu, secara fundamental merupakan proyek definisi diri Occident yang difasilitasi oleh produksi Liyan yang terkontrol.

B. Orientalisme Angkatan Kedua (Modern Anglo-French): Konsolidasi Wacana (Bab 3)

Bab 3, Orientalism Now, membahas fase modern, terutama konsolidasi Orientalisme Anglo-Prancis dan manifestasinya yang terbaru.

  • Fokus Bab 3: Said membahas kembali Orientalisme Laten dan Manifes dalam konteks praktik kontemporer. Ia menunjukkan bahwa meskipun terjadi perubahan gaya dalam Orientalisme modern Inggris dan Prancis, elemen intinya tetap sama: generalisasi tentang Orientals, pemeliharaan perbedaan tegas Occident/Orient, dan keinginan dominasi Occidental.
  • Kelangsungan Hidup Akademik: Said berpendapat bahwa Orientalisme terus hidup secara akademis melalui doktrin dan tesisnya tentang Orient dan Oriental, meskipun bentuk praktisnya mungkin berubah. Ini mencakup transfer pengaruh dari hegemoni Anglo-Prancis ke hegemoni Amerika, terutama melalui para sarjana yang memiliki hubungan erat dengan kebijakan luar negeri AS.

V. Bukti Faktual dalam Sastra dan Politik (Representasi dan Pengendalian)

Said memperkuat tesisnya dengan menganalisis bagaimana Orientalisme beroperasi melalui teks-teks budaya dan politik, membuktikan bahwa batas antara fiksi dan pengetahuan akademis seringkali kabur dalam produksi wacana ini.

A. Analisis Sastra: Timur sebagai Spektakel Estetika

Orientalisme sangat efektif dalam membentuk citra Barat melalui karya-karya sastra besar, yang memberikan Orient gambaran romantis dan eksotis.

1. Gustave Flaubert: Detasemen dan Objek Eksotis

Said menganalisis tulisan-tulisan pengembara dan penulis Prancis, termasuk Gustave Flaubert, yang Orientalismenya sering digambarkan sebagai "revivalis," yang harus menghidupkan dan menyajikan Orient kepada pembaca Barat.

  • Kekuasaan Naratif: Said menggunakan deskripsi Flaubert tentang Kuchuk Hanem, seorang wanita di Kairo, sebagai contoh pola kekuatan antara Timur dan Barat. Flaubert memiliki kekuasaan untuk "berbicara atas namanya" dan mendefinisikannya sebagai 'khas Oriental'. Flaubert, sebagai orang Eropa, diposisikan sebagai "penonton" yang tidak terlibat (always detached), selalu siap untuk contoh baru dari apa yang ia sebut 'bizarre jouissance' (kenikmatan aneh atau fantastis).
  • Kekerasan Epistemik: Kekuatan Flaubert untuk 'berbicara atas nama' Kuchuk Hanem adalah inti fungsi politik Orientalisme: wacana tersebut tidak hanya salah merepresentasikan subjek Oriental tetapi secara aktif menggantikan kemampuan subjek Oriental untuk mengartikulasikan pengalaman mereka sendiri. Orientalisme beroperasi melalui kekerasan epistemik, memastikan Orient tetap pasif, didefinisikan sepenuhnya oleh pandangan Barat.

2. Rudyard Kipling: Tanggung Jawab Moral dan Rasisme

Said mengkaji karya Kipling (seperti Kim) dalam konteks tradisi Orientalis Inggris.

  • Persona White Man: Kipling mempersonifikasikan ide tentang 'White Man' sebagai "ide, persona, gaya hidup," yang melayani banyak orang Inggris saat berada di luar negeri. Said mencatat bahwa warna kulit orang Inggris menjadi pembeda yang dramatis dan meyakinkan, disertai dengan "pengetahuan pasti bahwa ia termasuk dalam, dan dapat menarik cadangan empiris dan spiritual dari, tradisi panjang tanggung jawab eksekutif terhadap ras-ras berwarna".
  • Justifikasi Dominasi: Kipling merayakan tradisi ini, termasuk "jalan yang ditempuh oleh White Men... untuk membersihkan tanah". Justifikasi ini, yang mencakup kesediaan eksplisit untuk berperang, membenarkan dominasi kolonial atas dasar superioritas rasial dan moral.

B. Orientalisme dalam Administrasi Politik dan Kebijakan Luar Negeri

Orientalisme secara langsung diterjemahkan menjadi kebijakan geopolitik, terutama di era modern.

1. Pidato Arthur James Balfour (1910)

Said menganalisis pidato Arthur James Balfour di House of Commons mengenai "masalah yang harus kita hadapi di Mesir". Pidato tersebut didominasi oleh dua tema Baconian: pengetahuan dan kekuasaan. Balfour berargumen bahwa Inggris harus memerintah Mesir karena orang Inggris telah memperoleh pengetahuan yang melampaui keterbatasan, yang bahkan tidak dimiliki oleh orang Mesir tentang diri mereka sendiri. Pengetahuan ini adalah alasan yang sah untuk administrasi dan kekuasaan. Contoh faktual ini menunjukkan bagaimana pengetahuan akademis dikonversi secara langsung menjadi justifikasi politik yang utilitarian.

2. Bernard Lewis dan Fase Terbaru Orientalisme Amerika

Said menunjukkan bahwa Orientalisme terus berlanjut di era pasca-kolonial, dengan fokus beralih ke Amerika Serikat. Bernard Lewis, seorang sejarawan yang sering disebut Said sebagai 'arch-antagonist' dan 'sejarawan favorit Gedung Putih,' mewakili fase terbaru ini.

Lewis dikritik karena menyediakan representasi Arab dan Islam yang simplistik dan reduktif, yang mendukung agenda kebijakan luar negeri AS di Timur Tengah. Misalnya, Said mengkritik analisis Lewis terhadap kata Arab thawra (revolusi), yang menurut Said, mereduksi orang Arab menjadi karikatur, seperti "makhluk seksual neurotik". Keterlibatan Lewis dalam kebijakan luar negeri menunjukkan bagaimana Orientalisme kini tertanam dalam aparatus negara, berfungsi sebagai panduan untuk intervensi politik dan militer.

VI. Dampak dan Kritik terhadap Orientalisme Said

A. Warisan Intelektual dan Resonansi

Orientalism tidak hanya menciptakan perdebatan sengit tetapi juga memberikan kontribusi monumental terhadap studi humaniora. Karyanya menjadi teks kanonik studi budaya, secara radikal mengubah cara studi Oriental dipahami dan dipraktikkan, serta meletakkan fondasi bagi studi pascakolonial. Said menawarkan kritik terhadap seluruh praktik representasi dan berargumen bahwa komunitas global harus bergerak menuju kehidupan yang harmonis tanpa memandang ras atau diri sendiri sebagai superior.

B. Kritik Metodologis dan Substantif

Meskipun pengaruhnya luas, Orientalism juga menarik kritik substantif yang signifikan dari berbagai cendekiawan, termasuk Aijaz Ahmad, Bernard Lewis, dan Sadik al-`Azm.

1. Masalah Essentialisme

Salah satu kritik fundamental, khususnya dari kritikus seperti Aijaz Ahmad, adalah bahwa Said cenderung mengesensialkan kategori Timur dan Barat. Untuk mendemonstrasikan kekuatan wacana Barat, Said perlu melacak perkembangan historis terpadu dari pandangan Barat. Namun, upaya ini berisiko memperlakukan 'Barat' sebagai subjek yang seragam dan monolitik, sementara 'Timur' digambarkan sebagai subjek pasif yang hanya bereaksi. Paradoks kritis ini menyoroti kesulitan sentral dalam kritik pascakolonial: bagaimana membongkar sistem yang menindas (yang sering kali didasarkan pada narasi terpadu) tanpa menciptakan subjek korban yang sama-sama terpadu dan pasif.

2. Keterbatasan Teoretis dan Pengabaian Variasi

Said dikritik karena dugaan kegagalannya memanfaatkan sepenuhnya kekayaan teori Foucault dan Gramsci. Hal ini dituduh menyebabkan penyederhanaan produksi budaya Barat dan Timur, mengabaikan variasi internal yang ada dalam kedua kategori tersebut. Contohnya, Said dituduh mengabaikan peran perempuan Barat (sebagai sub-kelompok yang mungkin menawarkan kritik diri yang lebih kaya terhadap superioritas budaya) dalam konstruksi hegemoni, sehingga membuat asumsi yang tidak kritis tentang fitur inti budaya Barat.

3. Kritik Bernard Lewis

Bernard Lewis, antagonis utama Said, merespons buku tersebut dengan melihat Orientalism sebagai bagian dari "serangan terhadap Orientalis" yang lebih luas yang konon berasal dari "dunia Muslim". Kritik Lewis, meskipun sering dianggap meremehkan, berfungsi sebagai enkapsulasi pandangan Orientalis lama yang mencoba menangkis kritik Said dengan menegaskan kembali keutamaan disiplin akademik tradisional.

C. Orientalisme Balik (Orientalism in Reverse)

Sadik al-`Azm mengemukakan kritik penting tentang Orientalism in Reverse. Fenomena ini terjadi ketika subjek dan korban Orientalisme menginternalisasi struktur, gaya, dan bias ontologis yang diciptakan oleh Barat dan menerapkannya pada diri mereka sendiri atau orang lain.

Peringatan Said tentang Orientalism in Reverse telah terwujud: praktik elit Arab yang berkuasa di Timur Tengah menunjukkan bahwa mereka telah menginternalisasi versi romantis Orientalis tentang budaya mereka sendiri. Keberadaan Orientalism in Reverse memvalidasi argumen Said bahwa struktur dominasi sangat kuat dan mampu diserap bahkan oleh mereka yang seharusnya dilawan, menegaskan betapa berbahayanya mengadopsi kerangka berpikir yang diciptakan untuk mendominasi.

VII. Kesimpulan: Implikasi Epistemologis dan Relevansi Kontemporer

Orientalism karya Edward Said merupakan penyelidikan cemerlang tentang sikap Eropa terhadap Timur—terutama dunia Arab dan Asia—yang menunjukkan bahwa representasi ini adalah konstruksi imajinatif yang sengaja diciptakan demi tujuan kekuasaan dan dominasi.

A. Kontribusi Said: Penghubung Pengetahuan dan Duniawi (Worldliness)

Kontribusi terbesar Said adalah menegaskan bahwa pengetahuan tentang 'yang lain' tidak pernah netral, melainkan selalu politis. Karyanya mengungkapkan 'duniawi' (worldliness) teks, yaitu bagaimana teks akademik dan sastra beroperasi di dunia nyata (di luar kelas) untuk menghasilkan dan mengelola realitas geopolitik. Orientalisme adalah demonstrasi utama dari cara kerja kekaisaran—sebagai hubungan kekuasaan yang dilegitimasi secara budaya dan diadministrasikan melalui pengetahuan.

B. Relevansi Orientalisme Kontemporer

Meskipun Said fokus pada kekaisaran Anglo-Prancis dan kritik terhadap Lewis terkait kebijakan AS abad ke-20, analisisnya tetap relevan hingga hari ini. Ia menunjukkan bagaimana Orientalisme bertransisi menjadi hegemoni Amerika, seringkali dipandu oleh sarjana yang memiliki koneksi politik. Dalam konteks kontemporer (misalnya, pasca-9/11), representasi Timur Tengah didominasi oleh stereotip lama (irasional, ekstrem, primitif), menunjukkan ketahanan Orientalisme Laten, di mana esensi kekuasaan tidak berubah meskipun manifestasi luarnya mungkin diperbarui.

C. Seruan untuk Skeptisisme Intelektual

Pada akhirnya, Orientalism adalah seruan untuk skeptisisme intelektual dan kesadaran etik. Tujuan etis Said adalah untuk membongkar pandangan sepihak Eropa dan mendorong komunitas global untuk menolak kerangka pemikiran superioritas, khususnya bagi bangsa-bangsa di Timur agar tidak mengadopsi kerangka pemikiran yang diciptakan untuk mendominasi mereka. Orientalisme, dengan demikian, merupakan sebuah teks yang berfungsi sebagai kritik terhadap kekuasaan dan sebagai fondasi bagi kesadaran diri subjek pascakolonial.

Referensi:

Arthuur Jeverson Maya. (n.d.). Orientalisme Edward Said. arthuur-jmaya-research.com.
https://arthuur-jmaya-research.com

Blogs LSE. (n.d.). Orientalism: In review. blogs.lse.ac.uk.
https://blogs.lse.ac.uk

Books Google. (n.d.). Orientalism – Edward W. Said. books.google.com.
https://books.google.com

Cultural Reader. (n.d.). Summary: Orientalism / Chapter 2: Orientalist Structures and Restructures. culturalstudiesnow.blogspot.com.
https://culturalstudiesnow.blogspot.com

Digilib UINSA. (n.d.). BAB II Orientalisme: Sebuah potret gerakan pemikiran. digilib.uinsa.ac.id.
https://digilib.uinsa.ac.id

EAFORD. (n.d.). Said, Edward (1977) Orientalism. London. eaford.org.
https://eaford.org

Edward Said’s Orientalism from an iconographic perspective. (n.d.). archiv.ub.uni-marburg.de.
https://archiv.ub.uni-marburg.de

Hidayatullah.com. (n.d.). Peran orientalisme dalam mencegah kebangkitan Islam. hidayatullah.com.
https://hidayatullah.com

JETIR. (n.d.). Edward W. Said’s Orientalism: A thematic interpretation. jetir.org.
https://jetir.org

Litcharts. (n.d.). Orientalism by Edward W. Said: Plot summary. litcharts.com.
https://litcharts.com

MEIS GMU. (n.d.). Essential readings: Said’s Orientalism, its interlocutors, and its influence (A. Alessandrini). meis.gmu.edu.
https://meis.gmu.edu

Metode Tafsir Ichwani. (n.d.). Orientalisme: Sejarah, kritik, dan dampaknya bagi dunia timur. metode-tafsir-ichwani.rasailmedia.com.
https://metode-tafsir-ichwani.rasailmedia.com

Monoskop. (n.d.). Edward Said’s “Orientalism” (PDF). monoskop.org.
https://monoskop.org

Penguin Books. (n.d.). Orientalism. penguin.co.uk.
https://penguin.co.uk

Pchukumsosial. (n.d.). Meninjau kembali pemikiran Edward Said tentang studi …. pchukumsosial.org.
https://pchukumsosial.org

ResearchGate. (n.d.). Edward Said and Orientalism: A critical analysis of Western scholars and writers. researchgate.net.
https://researchgate.net

ResearchGate. (n.d.). (PDF) Orientalisme, Oksidentalisme, Islam: Mempertimbangkan sumbangan Edward Said. researchgate.net.
https://researchgate.net

Said, E. W. (2021). Orientalism. Penguin Classics. (Asli terbit 1978)

Scribd. (n.d.). Edward Said. id.scribd.com.
https://id.scribd.com

Some Reading Blogspot. (n.d.). Edward Said, Orientalism – Summaries of my readings. somereading.blogspot.com.
https://somereading.blogspot.com

SuperSummary. (n.d.). Orientalism: Chapter 2 summary & analysis. supersummary.com.
https://supersummary.com

Wikipedia. (n.d.). Orientalism (book). en.wikipedia.org.
https://en.wikipedia.org

Aletheia Rabbani
Aletheia Rabbani “Barang siapa yang tidak mampu menahan lelahnya belajar, maka ia harus mampu menahan perihnya kebodohan” _ Imam As-Syafi’i

Post a Comment