Eksplorasi Komprehensif Filsafat Sunda: Ontologi, Epistemologi, Etika, Sejarah, Bukti Material, dan Relevansi Global di Era Modern

Table of Contents

Filsafat Sunda
Filsafat Sunda bukanlah sekadar kumpulan mitos atau folklor yang diwariskan secara lisan, melainkan sebuah sistem pemikiran yang koheren, mendalam, dan memiliki struktur logis yang mencakup berbagai dimensi eksistensi manusia. Dalam diskursus akademik modern, terdapat pergeseran signifikan dari sekadar memandang nilai-nilai lokal sebagai "kearifan" (local wisdom) menjadi sebuah disiplin filsafat formal yang memiliki landasan ontologis, epistemologis, dan aksiologis yang kokoh. 

Secara etimologis dan filosofis, istilah "Sunda" melampaui batas geografis atau etnis; ia merujuk pada "cahaya" atau "api abadi yang agung," yang mengimplikasikan bahwa "Manusia Sunda" adalah entitas yang telah mencapai pencerahan dan memiliki pengetahuan mendalam tentang hakikat hidup. Pengetahuan ini tidak bersifat statis, melainkan sebuah metode keterhubungan antara pikiran (buddhi) dan perbuatan (prakerti), yang bertujuan untuk memanusiakan manusia dalam jaringan kesemestaan yang saling terhubung.

Fondasi Ontologis: Pikukuh Sunda dan Hukum Kausalitas Semesta

Landasan ontologis filsafat Sunda berpusat pada konsep "Pikukuh Sunda," yang mendefinisikan realitas sebagai sebuah sistem kesemestaan hidup di mana setiap elemen memiliki keterkaitan yang tidak terpisahkan. Pikukuh Sunda menjelaskan keberadaan sebagai sebuah jejaring yang diatur oleh hukum sebab-akibat yang tegak secara mandiri oleh alam semesta. Dalam pandangan ini, hidup bukanlah peristiwa acak, melainkan sebuah proses yang mengikuti pola ketetapan posisi dan potensi yang telah digariskan oleh hukum alam.

Konsep Ketuhanan dan Eksistensi Transendental

Dalam ontologi Sunda, realitas tertinggi berada pada Hyang Tunggal, Sang Hyang Kersa, atau Guriang Tunggal. Tuhan dipandang sebagai sumber dari segala sumber, pencipta yang mengetahui setiap detail perbuatan makhluk-Nya, sehingga manusia memiliki kewajiban ontologis untuk berbakti dan mengabdi. Menariknya, konsepsi Tuhan ini tidak bersifat antropomorfik yang jauh, melainkan hadir melalui manifestasi alam semesta. Alam dianggap sebagai titipan Tuhan yang suci, dan diri manusia sendiri pun bukanlah milik pribadi, melainkan milik Sang Pencipta yang akan kembali kepada-Nya. Pandangan ini melahirkan sikap tumarima (penerimaan yang sadar) dan rendah hati, di mana manusia menyadari posisi kecilnya di tengah keagungan jagat raya.

Tri Tangtu: Struktur Tritunggal Realitas

Salah satu pilar terpenting dalam struktur berpikir Sunda adalah "Tri Tangtu" atau "Tiga Ketentuan." Konsep ini merepresentasikan pola hubungan tritunggal yang diterapkan dalam berbagai skala, mulai dari tata kelola negara hingga struktur kepribadian individu. Tri Tangtu bukan merupakan sintesis yang meleburkan perbedaan, melainkan sebuah harmoni yang membiarkan elemen-elemen yang berbeda tetap berada dalam keunikannya masing-masing.

Eksplorasi Komprehensif Filsafat Sunda
Dalam naskah Sanghyang Siksa Kandang Karesian (SSKK), Tri Tangtu di bumi dijelaskan sebagai peneguh dunia. Ratu bertugas mengelola kota dan negara (ngaheuyeuk dayeuh, ngolah nagara), Rama bertugas menjaga ketertiban masyarakat, dan Resi bertugas sebagai pemegang otoritas moral dan spiritual. Ketiganya harus bekerja secara sinergis; jika salah satu goyah, maka tatanan dunia akan mengalami degradasi. Dalam ranah personal, sinergi ini termanifestasi dalam Tekad, Ucap, dan Lampah—sebuah kesatuan antara niat yang lurus, perkataan yang jujur, dan perbuatan yang nyata sebagai bukti integritas moral.

Kosmologi Sunda: Struktur Ruang dan Jagat Raya

Kosmologi Sunda membagi jagat raya menjadi tiga tingkatan dunia yang dikenal sebagai triumvirat kosmik. Pembagian ini bukan sekadar pemisahan ruang fisik, melainkan mencerminkan tingkatan kesadaran dan spiritualitas.

Tiga Buana dan Makna Metafisiknya

Ketiga buana tersebut adalah Buana Nyungcung, Buana Panca Tengah, dan Buana Larang.
1. Buana Nyungcung: Merupakan dunia atas atau dunia roh, tempat bersemayam Sang Hyang Kersa. Dunia ini bersifat sakral dan merupakan asal serta tujuan akhir dari segala roh. Dalam simbolisme arsitektur dan alat musik, dunia ini sering kali direpresentasikan oleh bagian paling atas atau hiasan.
2. Buana Panca Tengah: Adalah dunia tempat manusia dan makhluk hidup lainnya berinteraksi. Dunia ini dipandang sebagai ruang netral atau antara, di mana ujian-ujian hidup berlangsung. Bentuk rumah panggung masyarakat Sunda, seperti di Kampung Baduy, secara simbolis menempatkan manusia di posisi tengah yang netral antara dunia bawah dan atas.
3. Buana Larang: Sering kali diasosiasikan dengan dunia bawah atau neraka (saptapatala). Namun, dalam beberapa tafsir, Buana Larang juga bisa merujuk pada kedalaman bumi yang bersifat materialistis atau tempat bagi jiwa-jiwa yang belum tercerahkan.

Kosmologi ini tidak hanya berhenti pada konsep ruang, tetapi juga menyentuh aspek waktu dan keberlanjutan. Orang Sunda primordial menganggap bumi sebagai "Ibu" (Ibu Pertiwi atau Nyai Pohaci) yang memberikan nutrisi dan kehidupan, sehingga hubungan manusia dengan bumi bersifat sakral dan timbal balik.

Tata Ruang dan Ekologi Spiritual

Penerapan kosmologi dalam kehidupan nyata terlihat sangat jelas pada pola pemukiman adat, seperti di Kampung Cireundeu. Masyarakat di sana menerapkan pembagian wilayah hutan yang sangat ketat berdasarkan fungsi filosofisnya:

  • Leuweung Larangan (Hutan Terlarang): Wilayah konservasi murni yang tidak boleh dimasuki oleh siapa pun kecuali untuk kepentingan spiritual tertentu. Hutan ini berfungsi sebagai paru-paru alam dan menjaga ketersediaan mata air.
  • Leuweung Tutupan (Hutan Reboisasi): Wilayah yang dijaga kelestariannya namun bisa digunakan untuk aktivitas tertentu yang bersifat konservasi.
  • Leuweung Baladahan (Hutan Pertanian): Wilayah yang dialokasikan bagi masyarakat untuk bertani guna memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri.

Filosofi ini menunjukkan adanya "kesadaran metakosmos," di mana alam dipandang memiliki entitas gaib yang harus dihormati. Eksploitasi alam yang berlebihan dipandang sebagai pelanggaran terhadap ketetapan hukum semesta.

Epistemologi: "Rasa" dan Alam sebagai Sumber Pengetahuan

Bagaimana manusia Sunda memperoleh pengetahuan? Epistemologi Sunda menekankan pada observasi alam, introspeksi batin, dan belajar dari keahlian nyata. Pengetahuan bukan sekadar akumulasi informasi, melainkan proses pencerahan batin yang menghubungkan manusia dengan sumber cahaya abadi.

Metodologi Berguru dan Belajar dari Keahlian

Naskah Sanghyang Siksa Kandang Karesian memberikan panduan yang sangat modern mengenai cara memperoleh pengetahuan. Dikatakan bahwa seseorang dapat berguru kepada siapa saja, namun sangat ditekankan untuk bertanya kepada mereka yang benar-benar ahli dalam bidangnya. Pengetahuan tidak bersifat teoritis belaka, melainkan harus dipraktikkan.

Dalam sastra Sunda kuno, seperti naskah Bujangga Manik, proses pencarian pengetahuan sering kali digambarkan melalui perjalanan fisik mengelilingi tanah air. Perjalanan ini merupakan bentuk "literary anthropology," di mana tokoh utama melakukan pengamatan mendalam terhadap topografi, toponimi, dan budaya masyarakat di berbagai daerah. Pengetahuan diperoleh melalui pengalaman langsung (lampah) dan interaksi dengan realitas dunia.

Rasa, Rumasa, dan Tumarima

Puncak dari epistemologi Sunda adalah pencapaian kondisi Rasa dan Rumasa. Pengetahuan yang sejati harus meresap ke dalam rasa, yang melahirkan kesadaran akan posisi diri (rumasa) di hadapan Tuhan dan alam semesta.

  • Rasa: Kepekaan intuitif yang memungkinkan manusia memahami yang "tersirat" di balik yang "tersurat".
  • Rumasa: Kesadaran diri yang mendalam akan keterbatasan manusia dan tanggung jawab moralnya.
  • Tumarima: Sikap penerimaan yang bijaksana terhadap realitas, bukan sebagai bentuk keputusasaan, melainkan sebagai bentuk sinkronisasi antara kehendak diri dengan kehendak semesta.

Pengetahuan ini juga termanifestasi dalam organologi instrumen musik seperti Rebab. Setiap bagian Rebab—mulai dari pucuk, pureut, hingga senar—memiliki simbolisme kosmologis. Senar, misalnya, melambangkan etika dan kesopanan yang melindungi sekaligus memperindah jiwa manusia.

Etika dan Moralitas Sunda: Menuju Manusia Paripurna

Tujuan akhir dari filsafat Sunda adalah pembentukan karakter manusia yang unggul, yang dalam tradisi kontemporer dikenal melalui nilai-nilai Pancawaluya. Etika ini bukan sekadar aturan perilaku, melainkan sebuah cara hidup untuk mencapai harmoni sosial dan spiritual.

Lima Pilar Karakter: Cageur, Bageur, Bener, Pinter, Singer

Pendidikan karakter berbasis filsafat Sunda mengusung lima nilai utama yang saling melengkapi:

Lima Pilar Karakter
Nilai-nilai ini dirancang untuk menjawab tantangan zaman, termasuk mengatasi krisis moral di kalangan generasi muda. Sifat-sifat lain yang dianggap baik dalam filsafat Sunda meliputi kesederhanaan, keberanian dalam kebenaran, waspada, dan kemampuan mengendalikan diri dari nafsu yang berlebihan.

Etika Sosial: Undak Usuk Basa dan Kesantunan

Dalam interaksi sosial, masyarakat Sunda menjunjung tinggi undak usuk basa atau tingkatan bahasa. Hal ini sering kali disalahpahami sebagai sistem kasta, padahal secara filosofis, ini adalah manifestasi dari penghormatan terhadap martabat orang lain dan pengakuan terhadap posisi sosial yang harmonis. Etika Sunda juga mengajarkan prinsip siger tengah, yaitu sikap moderat yang tidak berlebihan dalam segala hal, baik dalam konsumsi maupun dalam ekspresi emosi.

Ajaran utama dalam moralitas Sunda juga mencakup pencegahan terhadap hal-hal yang membahayakan diri sendiri dan orang lain. "Apa yang tersurat dapat dibaca, tapi apa yang tersiratlah yang menjadi penuntun hidup". Kalimat ini menekankan pentingnya kebijaksanaan batin di atas sekadar ketaatan formal pada aturan.

Sejarah dan Bukti Material: Jejak Peradaban di Tatar Sunda

Mengkaji filsafat Sunda memerlukan pendekatan multidisipliner yang melibatkan sejarah, arkeologi, dan filologi. Sejarah bukan hanya catatan peristiwa, melainkan peta identitas yang membangkitkan rasa memiliki dan tanggung jawab kolektif.

Arkeologi Megalitik: Gunung Padang dan Karangkamulyan

Situs Gunung Padang di Cianjur menjadi bukti material yang sangat penting bagi sejarah peradaban Sunda. Temuan di situs ini menunjukkan adanya kemampuan teknologi dan pengorganisasian sosial yang jauh melampaui catatan sejarah konvensional. Secara kosmologis, pembangunan situs-situs megalitik ini merefleksikan penghormatan terhadap gunung sebagai tempat yang suci dan dekat dengan dunia atas (Buana Nyungcung).

Situs Karangkamulyan di Ciamis juga memberikan bukti sejarah mengenai tata kota dan pusat kekuasaan pada masa lampau yang terintegrasi dengan alam. Keberadaan peninggalan Hindu-Buddha, seperti arca Nandi di Pangandaran dan sejumlah arca di Majalengka, menunjukkan bahwa Tatar Sunda telah lama menjadi titik temu budaya internasional yang dikelola dengan nilai-nilai lokal yang inklusif.

Sejarah Kekuasaan: Tarumanagara hingga Pajajaran

Kerajaan Tarumanagara dipandang sebagai salah satu akar sejarah politik di wilayah ini, dengan prasasti-prasasti berbahasa Sansekerta yang menunjukkan kontak awal dengan kebudayaan India. Transformasi politik terjadi ketika Tarusbawa mendirikan Kerajaan Sunda pada tahun 669 M, menggantikan nama Tarumanagara.

Puncak kejayaan identitas Sunda sering kali dikaitkan dengan masa pemerintahan Sri Baduga Maharaja (Prabu Siliwangi) di Pakuan Pajajaran. Kepemimpinannya dipandang sebagai pengejawantahan ideal dari filosofi Ratu dalam Tri Tangtu—seorang pemimpin yang ngagurat batu (berwatak teguh) dan mampu ngretakeun bumi lamba (menyejahterakan semesta kehidupan).

Kekayaan Filologi: Naskah-Naskah Kuno

Naskah kuno merupakan "wadah" bagi pemikiran filosofis Sunda. Analisis terhadap naskah seperti Sanghyang Siksa Kandang Karesian (1518 M) mengungkap betapa teraturnya sistem pendidikan dan etika profesionalitas pada masa itu. Sementara itu, naskah Bujangga Manik yang kini tersimpan di Bodleian Library, Oxford, memberikan gambaran mengenai kedaulatan wilayah dan kesadaran geografis masyarakat Sunda abad ke-15.

Kekayaan Filologi

Perbandingan Global: Dialog dengan Filsafat Barat dan Timur

Filsafat Sunda memiliki dimensi universal yang memungkinkannya bersanding dengan tradisi-tradisi besar dunia. Perbandingan ini bukan untuk menyamakan, melainkan untuk melihat bagaimana manusia di berbagai belahan dunia merespons isu-isu fundamental yang sama.

Sunda dan Filsafat Yunani: Dinamisme vs. Ketetapan

Perdebatan abadi antara Heraclitus—yang menganggap perubahan sebagai hakikat realitas (panta rhei)—dan Parmenides—yang meyakini adanya ketetapan yang abadi—tercermin dalam dialektika Sunda. Filsafat Sunda menawarkan jalan tengah: dunia lahiriah terus berubah mengikuti zaman (Ngindung ka Waktu, Mibapa ka Jaman), namun ada prinsip-prinsip batiniah atau pikukuh yang tetap abadi dan tidak boleh berubah. Ini adalah sintesis yang memungkinkan masyarakat Sunda untuk modern tanpa kehilangan jati dirinya.

Sunda dan Tradisi Timur: Harmoni dan Kemanusiaan

Persamaan dengan Taoisme terlihat pada penghormatan terhadap alam dan keseimbangan elemen (Tri Tangtu mirip dengan dinamisme Yin-Yang). Dalam konteks Konfusianisme, penekanan pada Ren (perikemanusiaan) dan Zhong (kesetiaan pada Tuhan) sangat selaras dengan konsep Welas Asih dan pengabdian kepada Hyang Tunggal dalam filsafat Sunda. Keduanya sama-sama menekankan bahwa keteraturan kosmik harus dimulai dari keteraturan moral individu dalam keluarga dan masyarakat.

Relevansi terhadap Tantangan Global Modern (SDGs)

Kajian kontemporer menunjukkan bahwa naskah seperti Bujangga Manik dan praktik masyarakat adat memiliki relevansi langsung terhadap Sustainable Development Goals (SDGs) yang dicanangkan PBB:

  • SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim): Konsep hutan larangan dan kearifan ekologi masyarakat Sunda primordial memberikan model nyata bagi pelestarian lingkungan di tengah krisis iklim.
  • SDG 11 (Kota dan Pemukiman Berkelanjutan): Filosofi tata ruang yang harmonis dengan alam dan mitigasi bencana berbasis kearifan lokal (seperti rumah panggung yang tahan gempa) menjadi inspirasi bagi arsitektur modern yang berkelanjutan.
  • SDG 16 (Perdamaian dan Keadilan): Prinsip Tri Tangtu sebagai sistem checks and balances (Prabu-Rama-Resi) menawarkan perspektif unik mengenai tata kelola kekuasaan yang adil dan stabil.

Revitalisasi Budaya dan Identitas di Era Digital

Filsafat Sunda menghadapi tantangan besar berupa globalisasi dan pergeseran nilai. Tokoh-tokoh seperti Ajip Rosidi dan Edi S. Ekadjati telah melakukan upaya signifikan dalam merevitalisasi budaya Sunda agar tetap relevan.

Reformulasi Budaya dan Tantangan Identitas

Edi S. Ekadjati menekankan bahwa revitalisasi budaya tidak boleh hanya berhenti pada aspek bahasa dan seni, tetapi harus menyentuh sistem pengetahuan dan teknologi. Identitas Sunda didefinisikan secara dinamis: seseorang adalah orang Sunda jika ia menghayati dan menggunakan norma-norma budaya Sunda dalam hidupnya, terlepas dari faktor keturunan semata.

Dalam era digital, revitalisasi ini termanifestasi dalam standarisasi Aksara Sunda Baku yang kini digunakan di papan nama jalan, dokumen resmi, hingga dunia digital. Aksara bukan lagi sekadar benda mati dari masa lalu, melainkan simbol bahwa identitas budaya dapat beradaptasi dan terus hidup di tengah arus globalisasi.

Pendidikan Karakter dan Masa Depan

Transformasi nilai dari masa Sunda Wiwitan ke masa Islam hingga era modern menunjukkan daya lentur (resilience) filsafat Sunda. Di lembaga pendidikan tinggi seperti UIN Bandung, filsafat Sunda kini diintegrasikan dalam kurikulum formal untuk melahirkan intelektual yang memiliki akar budaya kuat namun mampu bersaing di tingkat global. Hal ini penting untuk membekali generasi muda dengan "filter" yang kokoh terhadap pengaruh luar yang destruktif.

Filsafat Sunda memberikan penegasan bahwa kemajuan teknologi harus diimbangi dengan kemajuan spiritual dan moral. Manusia harus tetap menjadi "cahaya" bagi lingkungannya, menjaga harmoni dengan alam, dan tetap sadar akan hukum kausalitas semesta yang mengatur segala sesuatu. Dengan demikian, filsafat Sunda bukan hanya warisan untuk dikenang, melainkan kompas strategis untuk membangun peradaban manusia yang lebih berkelanjutan dan tercerahkan di masa depan.

Sitasi:

Anonim. (n.d.). Agama dan kepercayaan Nusantara. Diakses April 8, 2026, dari https://www.nusantarainstitute.com/wp-content/uploads/2020/02/E-Book-Agama-dan-Kepercayaan-Nusantara.pdf

Anonim. (n.d.). Filsafat dan pandangan hidup Sunda. Diakses April 8, 2026, dari https://id.scribd.com/document/622482035/Filsafat-Sunda

Anonim. (n.d.). Imah panggung arsitektur Sunda sebagai model desain rumah ramah banjir di Jawa Barat. Diakses April 8, 2026, dari https://pdfs.semanticscholar.org/7236/5312c0748cb8adb8d97eccf6babeef6a82c7.pdf

Anonim. (n.d.). Islamisasi Kerajaan Sukapura di Sunda. Diakses April 8, 2026, dari https://id.scribd.com/document/546156184/Sukapura-Romawi-Dan-Isi

Anonim. (n.d.). Khashaa'ish suku Sunda dan Bugis. Diakses April 8, 2026, dari https://id.scribd.com/document/875929718/Kel-1-Suku-Sunda-Dan-Bugis

Anonim. (n.d.). Makna simbolik bentuk fisik (rupa) rebab Sunda. Diakses April 8, 2026, dari https://pdfs.semanticscholar.org/f738/b37694f930f3eb7470f7d6022053ecbb861a.pdf

Anonim. (n.d.). Mandala Kembang: Trie Utami. Diakses April 8, 2026, dari https://id.scribd.com/document/489458100/MK

Anonim. (n.d.). Pendekatan multidimensional. Diakses April 8, 2026, dari https://www.slideshare.net/slideshow/pendekatan-multidimensional1pptx/254004026

Anonim. (n.d.). Pendidikan karakter Gapura Pancawaluya. Diakses April 8, 2026, dari https://id.scribd.com/document/888879567/Final-Revision-buku-Grand-Design-Pendidikan-Karakter-Gapura-Pancawaluya-Jawa-Barat-Istimewa-1-3

Anonim. (n.d.). Pemikiran filsuf Heraclitus dan Parmenides. Diakses April 8, 2026, dari https://id.scribd.com/document/671426016/Filsuf

Anonim. (n.d.). Pertentangan pemikiran Heraclitus dan Parmenides. Diakses April 8, 2026, dari https://id.scribd.com/document/523878757/Pengantar-Filsafat-Pemikiran-Heraklitos-Dan-Parmenides

Anonim. (n.d.). TITLE OF THE PAPER. Diakses April 8, 2026, dari https://journals.telkomuniversity.ac.id/idealog/article/download/1176/761

Anonim. (n.d.). Untitled: Budaya politik urang Sunda. Diakses April 8, 2026, dari https://repository.unpas.ac.id/42276/1/Budaya%20Politik%20Urang%20Sunda.pdf

Dienaputra, R. (2017). Sunda: Sejarah, budaya, dan politik. Diakses April 8, 2026, dari https://kalamkopi.wordpress.com/wp-content/uploads/2017/04/reiza-dienaputra-sunda-sejarah-budaya-dan-politik.pdf

Maryana, R. (n.d.). Menggali makna “Tri Tangtu”: Pilar kearifan lokal Sunda Wiwitan di Kampung Adat Cireundeu. Diakses April 8, 2026, dari https://medium.com/@ririantimaryana/menggali-makna-tri-tangtu-pilar-kearifan-lokal-sunda-wiwitan-di-kampung-adat-cireundeu-699248ab668e

Neliti. (n.d.). Keutamaan kritik teks atas naskah Sewaka Darma. Diakses April 8, 2026, dari https://media.neliti.com/media/publications/12704-ID-keutamaan-kritik-teks-atas-naskah-sewaka-darma.pdf

ResearchGate. (n.d.). Orientasi local wisdom dalam kajian filsafat Islam di perguruan tinggi keagamaan Islam. Diakses April 8, 2026, dari https://www.researchgate.net/publication/328658372_Orientasi_Local_Wisdom_dalam_Kajian_Filsafat_Islam_di_Perguruan_Tinggi_Keagamaan_Islam

ResearchGate. (n.d.). Relevance of ancient Sundanese manuscript "Bujangga Manik" to aspects of sustainable development goals (SDGs). Diakses April 8, 2026, dari https://www.researchgate.net/publication/386322776_Relevance_of_Ancient_Sundanese_Manuscript_Bujangga_Manik_to_Aspects_of_Sustainable_Development_Goals_Sdg's_Through_Literary_Anthropology_Study

ResearchGate. (n.d.). The meaning of Dewi Sri in the perspective of spiritual ecologism in the indigenous peoples of Kampung Naga and Kampung Cireundeu. Diakses April 8, 2026, dari https://www.researchgate.net/publication/387291102_The_Meaning_of_Dewi_Sri_in_the_Perspective_of_Spiritual_Ecologism_in_the_Indigenous_Peoples_of_Kampung_Naga_and_Kampung_Cireundeu

UNDIP E-Journal. (n.d.). Pengetahuan lokal Sunda di Kampung Bareto Garut. Diakses April 8, 2026, dari https://ejournal2.undip.ac.id/index.php/anuva/article/download/30531/13519

Wikipedia. (n.d.). Sunda Wiwitan. Diakses April 8, 2026, dari https://id.wikipedia.org/wiki/Sunda_Wiwitan

Wisata Viva. (n.d.). Heraclitus vs. Parmenides: Pertarungan abadi tentang perubahan dan ketetapan. Diakses April 8, 2026, dari https://wisata.viva.co.id/pendidikan/16696-heraclitus-vs-parmenides-pertarungan-abadi-tentang-perubahan-dan-ketetapan

Aletheia Rabbani
Aletheia Rabbani “Barang siapa yang tidak mampu menahan lelahnya belajar, maka ia harus mampu menahan perihnya kebodohan” _ Imam As-Syafi’i

Post a Comment