Rekonstruksi Metafisis dan Intelektual Islam: Analisis The Reconstruction of Religious Thought in Islam Karya Muhammad Iqbal
Konteks Historis dan Urgensi Intelektual Rekonstruksi
Latar belakang penulisan The Reconstruction berakar pada krisis eksistensial yang dihadapi dunia Muslim di bawah bayang-bayang kolonialisme Eropa dan dominasi intelektual Barat. Iqbal menulis pada masa ketika sebagian besar populasi Muslim dunia berada di bawah kekuasaan kolonial Inggris. Proyek ini muncul sebagai respons terhadap kebutuhan mendesak untuk mendefinisikan kembali Islam bukan hanya sebagai iman pribadi, tetapi sebagai tatanan pemikiran yang mampu berdialog dengan modernitas tanpa kehilangan esensi spiritualnya. Iqbal mengamati bahwa sejak jatuhnya Baghdad dan konsolidasi mazhab-mazhab hukum, pemikiran keagamaan dalam Islam cenderung statis dan defensif.
Iqbal berargumen bahwa Islam pada hakikatnya adalah sebuah gerakan budaya yang dinamis dan berorientasi pada masa depan. Namun, pengaruh filsafat Yunani, terutama pandangan dunia Aristotelian yang statis dan idealisme Platonis yang menjauhi dunia nyata, telah mengaburkan semangat empiris dan induktif dari Al-Qur'an. Oleh karena itu, tugas rekonstruksi adalah memulihkan "intelek induktif" yang menurut Iqbal merupakan kontribusi orisinal Islam terhadap sejarah pemikiran manusia. Ia menyerukan kepada generasi muda Muslim untuk mendekati pengetahuan modern dengan sikap yang hormat namun independen, serta mengevaluasi ajaran Islam di bawah cahaya pengetahuan tersebut.
Pengetahuan dan Pengalaman Religius: Fondasi Epistemologis
Dalam bab pertama, Iqbal meletakkan dasar epistemologis bagi seluruh proyeknya dengan mengevaluasi hakikat pengetahuan dan validitas pengalaman religius. Ia menolak dualisme tajam antara materi dan roh yang sering kali memisahkan sains dari agama. Bagi Iqbal, alam semesta adalah sebuah struktur peristiwa yang hidup dan dinamis, bukan sekadar massa materi mati yang menempati ruang kosong.
Sintesis Intelektual dan Intuisi
Iqbal menegaskan bahwa pengalaman religius atau intuisi bukan merupakan fenomena psikologis yang subjektif atau delusi, melainkan bentuk pengetahuan yang lebih tinggi yang mampu menangkap realitas secara holistik. Sementara intelek rasional menangkap realitas secara sepotong-sepotong melalui analisis dan kategori-kategori spasial, intuisi mencapai kontak langsung dengan arus kehidupan yang mendasarinya. Iqbal menggunakan pemikiran Henri Bergson untuk menjelaskan bahwa intuisi sebenarnya adalah kelanjutan dari intelek yang paling tajam; keduanya saling membutuhkan untuk memberikan gambaran yang lengkap tentang realitas.
Uji Filosofis terhadap Wahyu: Kritik atas Argumen Tradisional
Pada kuliah kedua, Iqbal melakukan tinjauan kritis terhadap argumen-argumen teologis klasik mengenai keberadaan Tuhan, yaitu argumen kosmologis, teleologis, dan ontologis. Ia menemukan bahwa argumen-argumen ini sering kali terjebak dalam jebakan logika formal yang tidak mampu menangkap kedinamisan Pencipta.
Kegagalan Logika Klasik dalam Teologi
Iqbal berpendapat bahwa argumen kosmologis mencoba mencapai yang tak terhingga dengan meniadakan yang terhingga, sebuah proses yang hanya menghasilkan "tak terhingga yang salah" karena memisahkan Tuhan dari ciptaan-Nya secara mekanis. Argumen teleologis, di sisi lain, cenderung memberikan gambaran tentang seorang "perancang" (contriver) yang bekerja pada materi yang sudah ada, bukan pencipta kreatif yang memberikan keberadaan dari ketiadaan. Mengenai argumen ontologis, Iqbal setuju dengan kritik Immanuel Kant bahwa kemungkinan logis dalam pikiran tidak secara otomatis membuktikan eksistensi objektif di luar pikiran.
Sebagai alternatif, Iqbal mengusulkan pendekatan yang menafsirkan pengalaman manusia sebagai simbol dari sebuah Realitas yang fundamentalnya bersifat relasional dan dinamis. Ia melihat alam semesta bukan sebagai mesin yang sudah selesai, melainkan sebagai proses kreatif yang terus berlangsung, di mana hukum-hukum alam merupakan "kebiasaan" Tuhan yang dapat diprediksi. Dalam pandangan ini, sains tidak bertentangan dengan agama; sebaliknya, pengamatan ilmiah terhadap alam adalah bentuk ibadah karena ia merupakan upaya untuk memahami cara kerja Ego Mutlak.
Konsepsi tentang Tuhan dan Metafisika Waktu
Bab ketiga menguraikan sifat-sifat Tuhan sebagai Ego Mutlak yang memiliki kreativitas, pengetahuan, dan keabadian. Iqbal menolak keras konsep Aristotelian tentang Tuhan sebagai "Penggerak yang Tidak Tergerak" (Unmoved Mover), karena konsep tersebut meniadakan perubahan dan pertumbuhan dalam esensi ilahi.
Tuhan sebagai Ego Mutlak dan Durasi Murni
Iqbal mendefinisikan Tuhan sebagai individu yang unik dan tak terbagi, namun keindividualan-Nya bersifat tak terbatas. Alam semesta bukanlah sesuatu yang berada "di luar" Tuhan, melainkan merupakan manifestasi eksternal dari kehidupan kreatif Tuhan. Salah satu sumbangan pemikiran Iqbal yang paling kompleks adalah pemisahannya antara "waktu serial" (serial time) dan "durasi murni" (pure duration). Waktu serial adalah waktu yang dialami manusia sebagai rangkaian "sekarang" yang terpisah, seperti butiran mutiara dalam benang. Sebaliknya, durasi murni adalah waktu ilahi di mana masa lalu, sekarang, dan masa depan hadir secara simultan sebagai satu kesatuan organik.
Kritik terhadap Relativitas Einstein
Meskipun Iqbal mengagumi Albert Einstein karena telah meruntuhkan pandangan Newtonian tentang ruang dan waktu absolut, ia mengkritik teori relativitas karena dianggap cenderung melakukan "spasialisasi" terhadap waktu. Bagi Iqbal, jika waktu hanya dianggap sebagai dimensi keempat dari ruang, maka masa depan seolah-olah sudah ada di sana untuk "ditemui", bukan untuk "diciptakan". Iqbal menegaskan bahwa waktu adalah gerakan kreatif yang bebas, dan mengutip ayat Al-Qur'an bahwa "setiap hari Dia (Tuhan) berada dalam keadaan (penciptaan) yang baru" untuk mendukung pandangan dinamis ini.
Ego Manusia: Khudi, Kebebasan, dan Keabadian
Dalam bab keempat, Iqbal mengeksplorasi hakikat diri manusia atau Khudi. Teori ini merupakan pusat dari filsafat Iqbal yang bertujuan untuk membangkitkan semangat umat Muslim dari kepasifan dan fatalisme.
Penegasan Diri vs. Penghancuran Diri
Iqbal melakukan kritik tajam terhadap tradisi sufisme tertentu yang menekankan penghancuran diri (fana') sebagai jalan menuju Tuhan. Baginya, tujuan hidup bukanlah untuk tenggelam dalam samudera ketuhanan seperti tetesan air yang kehilangan identitasnya, melainkan untuk memperkuat ego agar mampu berdiri tegak di hadapan Ego Mutlak. Manusia adalah mitra pencipta bagi Tuhan (Khalifatullah) yang memiliki tanggung jawab untuk mengelola dan mentransformasi alam semesta.
Kebebasan ego manusia adalah kenyataan yang tak terbantahkan dari kesadaran batin. Iqbal berargumen bahwa tanpa kebebasan untuk memilih—bahkan pilihan untuk berbuat salah—tindakan manusia tidak akan memiliki nilai moral. Ia menolak pandangan fatalistik yang menganggap segala sesuatu telah ditentukan sebelumnya, dan menegaskan bahwa manusia adalah pembuat nasibnya sendiri melalui tindakan nyata.
Keabadian sebagai Pencapaian Moral
Salah satu pemikiran Iqbal yang paling kontroversial adalah bahwa keabadian bukanlah hak yang diberikan secara otomatis kepada setiap jiwa, melainkan sebuah "pencapaian" yang harus dimenangkan melalui perjuangan pribadi. Hanya ego yang kuat, yang mampu mempertahankan ketegangan dan integritas pribadinya di tengah tarikan kekuatan disintegrasi, yang akan mencapai kebangkitan dan keberlanjutan setelah kematian fisik.
Iqbal mengemukakan tiga fakta dasar tentang ego dari perspektif Al-Qur'an:
1. Awal dalam Waktu: Ego manusia memiliki awal dalam urutan ruang-waktu dan tidak ada sebelum penciptaannya di bumi.
2. Keunikan Individu: Tidak ada kemungkinan bagi satu ego untuk memikul beban ego lain atau kembali ke bumi setelah kematian.
3. Kemajuan Evolusioner: Kebangkitan adalah proses internal dalam diri ego yang memungkinkannya naik ke tingkat eksistensi yang lebih tinggi.
Ia memandang Surga dan Neraka bukan sebagai lokasi geografis, melainkan sebagai keadaan mental atau fase transisional. Neraka adalah pengalaman korektif yang bertujuan untuk membuat ego yang mengeras kembali sensitif terhadap rahmat Tuhan, sedangkan Surga adalah kegembiraan atas kemenangan ego dalam mempertahankan dirinya di hadapan kekuatan disintegrasi.
Semangat Budaya Muslim dan Intelektual Induktif
Bab kelima, "The Spirit of Muslim Culture", adalah analisis sejarah dan budaya di mana Iqbal berupaya menunjukkan bagaimana Islam mengubah lintasan peradaban manusia dengan memperkenalkan metode berpikir induktif.
Anti-Klasisisme dalam Al-Qur'an
Iqbal menegaskan bahwa Al-Qur'an secara fundamental bersifat "anti-klasik". Sementara filsafat Yunani mengagungkan hal-hal yang universal dan abstrak, Al-Qur'an mengarahkan manusia pada hal-hal yang konkret dan partikular. Fokus pada pengamatan alam (ayat), studi tentang sejarah, dan pengalaman batin inilah yang menurut Iqbal memicu lahirnya sains modern. Ia memberikan daftar kontribusi intelektual Muslim yang menentang warisan Yunani:
- Matematika dan Fisika: Penggunaan angka nol dan pengembangan aljabar memungkinkan transisi dari geometri statis Yunani ke fisika dinamis modern.
- Optik dan Kimia: Eksperimen Ibn al-Haytham dan al-Razi meletakkan dasar bagi metode eksperimental yang kemudian diadopsi oleh Roger Bacon di Barat.
- Sosiologi dan Sejarah: Ibn Khaldun adalah pemikir pertama yang memandang sejarah sebagai proses sosiologis yang tunduk pada hukum-hukum tertentu, menolak spekulasi metafisis tentang negara.
- Kritik Logika: Iraqi dan Ibn Taymiyyah melakukan dekonstruksi terhadap silogisme Aristotelian, berargumen bahwa pengetahuan sejati harus didasarkan pada induksi dan observasi langsung.
Iqbal menyimpulkan bahwa peradaban Barat modern sebenarnya merupakan pengembangan lebih lanjut dari fase-fase terpenting budaya Islam. Namun, ironisnya, dunia Muslim kehilangan semangat ini karena terbuai oleh mistisisme yang menolak dunia, sementara Barat mengambil alih obor kemajuan ilmiah tersebut.
Makna Finalitas Kenabian
Iqbal menafsirkan doktrin Finalitas Kenabian sebagai pengumuman tentang kemandirian intelektual umat manusia. Dengan berakhirnya wahyu, manusia tidak lagi membutuhkan bimbingan supranatural yang konstan dan didorong untuk menggunakan akal kolektifnya dalam mengelola urusan dunia. Hal ini mengarah pada apa yang ia sebut sebagai "demokrasi spiritual", di mana otoritas keagamaan harus didistribusikan secara luas dan tidak boleh dimonopoli oleh kasta imam atau raja.
Ijtihad: Prinsip Gerak dalam Struktur Islam
Bab keenam adalah inti dari agenda reformasi hukum Iqbal. Ia mendefinisikan Ijtihad (penalaran independen) sebagai mekanisme yang memastikan Islam tetap menjadi kekuatan yang hidup dan adaptif.
Evolusi Hukum dan Tantangan Modernitas
Iqbal menyesalkan bahwa selama berabad-abad, "pintu Ijtihad" dianggap tertutup, yang mengakibatkan fosilisasi hukum Islam. Ia berargumen bahwa hukum Islam harus mencakup prinsip permanensi (thabat) dan prinsip perubahan (taghayyur) agar tetap selaras dengan tendensi alami alam semesta yang terus bergerak. Salah satu usulan Iqbal yang paling progresif adalah melembagakan Ijtihad melalui majelis legislatif modern.
Iqbal sangat memuji revolusi di Turki di bawah pimpinan Mustafa Kemal Ataturk sebagai manifestasi nyata dari Ijtihad kolektif. Ia berargumen bahwa pandangan Turki yang menganggap kekhalifahan dapat diserahkan kepada badan terpilih atau parlemen adalah langkah yang sepenuhnya konsisten dengan semangat Islam asli. Bagi Iqbal, bentuk pemerintahan republik bukan hanya mungkin, tetapi telah menjadi keharusan di dunia Islam saat ini.
Apakah Agama Mungkin? Sintesis Akhir
Dalam bab penutup, Iqbal meninjau kembali kemungkinan agama sebagai sumber kebenaran di era dominasi sains. Ia menyatakan bahwa agama berada di atas filsafat dan sains karena ia berurusan dengan transformasi "manusia seutuhnya", bukan hanya bagian dari pengetahuannya.
Iqbal mengidentifikasi tiga tahap pertumbuhan keagamaan dalam sejarah manusia:
1. Tahap Iman: Di mana manusia secara pasif menerima hukum dan disiplin tanpa mempertanyakan dasarnya.
2. Tahap Pemikiran: Di mana manusia mulai mencari pemahaman rasional atas disiplin tersebut (teologi dan metafisika).
3. Tahap Penemuan: Di mana disiplin religius menjadi jalan menuju kontak langsung dengan Realitas Absolut (pengalaman religius murni).
Ia menyimpulkan bahwa dunia modern sangat membutuhkan agama untuk memberikan makna dan arah bagi kekuatan teknis yang luar biasa yang telah diberikan oleh sains. Tanpa arah spiritual, kekuatan tersebut hanya akan membawa pada eksploitasi dan kehancuran. Iqbal melihat masa depan di mana sains dan agama akan menyatu dalam harmoni untuk mengungkapkan keutuhan pengalaman manusia.
Perbandingan dengan Pemikiran Barat: Dialog dan Kritik
Keunikan The Reconstruction terletak pada cara Iqbal menjalin dialog dengan berbagai filsuf Barat untuk memperjelas posisi Islam. Pengaruh Henri Bergson sangat dominan dalam pandangan Iqbal tentang waktu dan evolusi kreatif, namun Iqbal mengkritik Bergson karena dianggap gagal memberikan tujuan (telos) yang jelas bagi proses evolusi tersebut. Iqbal lebih memilih pandangan Al-Qur'an di mana evolusi diarahkan menuju penciptaan ego yang lebih tinggi dan lebih sadar.
Terhadap Friedrich Nietzsche, Iqbal memiliki hubungan intelektual yang ambivalen. Ia mengagumi penekanan Nietzsche pada kekuatan kehendak dan vitalitas hidup, namun ia menolak ateisme Nietzsche dan konsep "Manusia Super" yang tidak mengenal tuhan. Bagi Iqbal, manusia sempurna bukanlah manusia yang menggantikan Tuhan, melainkan manusia yang menjadi instrumen Tuhan di bumi. Ia menyebut Nietzsche sebagai individu yang memiliki "hati yang beriman namun otak yang tidak percaya", yang akhirnya tersesat karena ketiadaan bimbingan spiritual yang ahli.
Dampak, Pengaruh, dan Relevansi Kontemporer
Pengaruh The Reconstruction of Religious Thought in Islam sangat luas dan melampaui batas-batas akademik. Di anak benua India, ide-ide Iqbal tentang identitas Muslim yang dinamis dan berdaulat memberikan dasar ideologis bagi gerakan kemerdekaan Pakistan. Di luar India, karya ini menjadi teks kunci bagi para intelektual Muslim yang mencari jalan keluar dari dikotomi antara tradisionalisme sempit dan sekularisme Barat yang radikal.
Ali Shariati, pemikir utama di balik Revolusi Iran, sangat dipengaruhi oleh konsep Iqbal tentang rekonstruksi diri dan aksi sosial. Shariati melihat Iqbal sebagai contoh ideal intelektual Muslim yang mampu menguasai sains Barat tanpa kehilangan identitas spiritualnya. Di dunia Arab, pemikir seperti Tariq Ramadan terus merujuk pada seruan Iqbal untuk melakukan Ijtihad sebagai solusi bagi krisis yang dihadapi komunitas Muslim di Barat.
Relevansi karya ini di abad ke-21 tetap kuat karena beberapa alasan:
- Dialog Sains-Agama: Iqbal memberikan kerangka kerja di mana sains tidak dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai alat untuk memahami "kebiasaan Tuhan" di alam semesta.
- Pemberdayaan Individu: Konsep Khudi memberikan landasan bagi pengembangan diri dan kemandirian intelektual di tengah arus globalisasi.
- Reformasi Hukum dan Demokrasi: Visi Iqbal tentang Ijtihad kolektif melalui parlemen memberikan justifikasi teologis bagi sistem demokrasi di negara-negara Muslim.
- Anti-Kolonialisme Intelektual: Proyek rekonstruksi Iqbal adalah upaya untuk mendekolonisasi pikiran Muslim dari dominasi kategori-kategori filosofis Barat sambil tetap mengambil manfaat dari pencapaian ilmiah mereka.
Secara keseluruhan, The Reconstruction of Religious Thought in Islam adalah sebuah monumen intelektual yang mengajak umat Muslim untuk berani berpikir kembali. Pesan Iqbal tetap jelas: Islam bukanlah fosil masa lalu, melainkan kekuatan hidup yang mampu memberikan makna bagi masa depan manusia jika umatnya memiliki keberanian untuk menafsirkan kembali imannya dengan cahaya ilmu pengetahuan dan pengalaman zaman sekarang. Melalui karyanya ini, Iqbal berhasil menjembatani kesenjangan antara Timur dan Barat, antara wahyu dan rasio, serta antara keabadian dan perubahan.
Sitasi:
Allama Iqbal. (1996, October). Iqbal’s concept of. https://www.allamaiqbal.com/publications/journals/review/oct96/3.htm
Allama Iqbal on Nietzsche. (n.d.). LiveJournal. https://as-if-1973.livejournal.com/154008.html
Allama Iqbal: Islamic thought and ijtihad. (n.d.). New Age Islam. https://www.newageislam.com/islamic-personalities/saquib-salim-new-age-islam/allama-iqbal-islamic-thought-ijtihad/d/130030
Between tradition and modernity: Iqbal’s reconstruction as philosophical bridge. (n.d.). Islam on Web. https://en.islamonweb.net/between-tradition-and-modernity-iqbals-reconstruction-as-philosophical-bridge
Einstein, Iqbal, and the concept of time in Islam. (n.d.). The Muslim Vibe. https://themuslimvibe.com/faith-islam/science/einstein-iqbal-and-the-concept-of-time-in-islam
Introduction to Muhammad Iqbal’s The reconstruction of religious thought in Islam. (n.d.). Stanford University Press. https://supress.sites-pro.stanford.edu/sites/supress/files/media/file/21804_Introduction_by_Javed_Majeed.pdf
Iqbal and Ijtihad. (n.d.). IIUM Journals. https://journals.iium.edu.my/intdiscourse/index.php/id/article/download/431/381/928
Iqbal and the reconstruction of Islamic thought. (n.d.). https://www.iqbal.com.pk/iis-allama-iqbal-learning-centre/scholarly-articles/944-allama-iqbal-studies/scholarly-articles/1638-iqbal-and-the-reconstruction-of-islamic-thought.html
Iqbal and the Western philosophers. (2008, October). https://www.allamaiqbal.com/publications/journals/review/oct08/6.htm
Iqbal on religion and science: A critique. (n.d.). Hamdard Islamicus. https://hamdardislamicus.com.pk/index.php/hi/article/download/26/39/51
Iqbal’s analysis of Muslim culture. (1985, October). https://www.allamaiqbal.com/publications/journals/review/oct85/8.htm
Iqbal’s concept of ijtihad: A comparative perspective. (2025, November 9). Kashmir Reader. https://kashmirreader.com/2025/11/09/iqbals-concept-of-ijtihad-a-comparative-perspective/
Iqbal’s position on reconstruction of religious thoughts in Islam. (n.d.). ResearchGate. https://www.researchgate.net/publication/351173390_Iqbal's_Position_on_Reconstruction_of_Religious_Thoughts_in_Islam
Iqbal’s reconstruction of ijtihad. (1995). Iqbal Cyber Library. https://www.iqbalcyberlibrary.net/files/019/IAP-Iqbals-Reconstruction-of-Ijtihad-1995.pdf
Iqbal’s reconstruction of religious thought in Islam. (n.d.). Wikipedia. https://en.wikipedia.org/wiki/The_Reconstruction_of_Religious_Thought_in_Islam
Iqbal’s reconstruction of religious thought in Islam. (n.d.). Iqbal Cyber Library. http://iqbalcyberlibrary.net/files/007//757.pdf
Iqbal’s reconstruction of religious thought in Islam. (n.d.). Monthly Renaissance. http://www.monthly-renaissance.com/issue/content.aspx?id=198
Iqbal’s reconstruction of religious thought in Islam: Mohammad Iqbal. (1987, October). https://www.allamaiqbal.com/publications/journals/review/oct87/14.htm
Iqbal’s impact on contemporary understandings of the Islamic polity. (2001, October). https://www.allamaiqbal.com/publications/journals/review/oct01/02.htm
Iqbal, M. (2013). The reconstruction of religious thought in Islam. Stanford University Press.
Muhammad Iqbal – Reconstructing Islam along occidental lines of thought. (n.d.). ResearchGate. https://www.researchgate.net/publication/343477931_Muhammad_Iqbal_-_Reconstructing_Islam_along_Occidental_Lines_of_Thought
Muhammad Iqbal’s reconstruction of. (2008, October). https://www.allamaiqbal.com/publications/journals/review/oct08/8.htm
Muhammad Iqbal’s reconstructed Islam. (n.d.). The Political Science Reviewer. https://politicalsciencereviewer.com/index.php/psr/article/download/700/871/2791
Mohammad Iqbal: A manifestation of self-reconstruction and reformation. (n.d.). ICIT Digital. https://www.icit-digital.org/articles/mohammad-iqbal-a-manifestation-of-self-reconstruction-and-reformation
Reading Muhammad Iqbal’s reconstruction of religious thought in Islam. (n.d.). Process & Faith. https://processandfaith.org/groups/reading-iqbals-reconstruction/
Reconstruction of Muhammad Iqbal’s Islamic thought. (n.d.). https://e-jurnal.jurnalcenter.com/index.php/micjo/article/download/1508/1124/8242
Reconstruction of religious thought in Islam. (2025, January 11). Islamic Economics Project. https://islamiceconomicsproject.com/2025/01/11/reconstruction-of-religious-thought-in-islam/
The principle of movement in the structure of Islam. (n.d.). SlideShare. https://www.slideshare.net/slideshow/the-principle-of-movement-in-the-structure-of-islam/11255012
The reconstruction of religious Iqbal. (n.d.). Scribd. https://www.scribd.com/document/37262790/The-Reconstruction-of-Religious-Iqbal
The reconstruction of religious thought in Islam. (n.d.). Stanford University Press. https://www.sup.org/books/religious-studies/reconstruction-religious-thought-islam
The reconstruction of religious thought in Islam author: Allama Muhammad Iqbal. (n.d.). Jahangir’s World Times. https://www.jworldtimes.com/old-site/others/the-reconstruction-of-religious-thought-in-islam-author-allama-muhammad-iqbal/
The vision of Allama Iqbal about dynamic and progressive religion: Rebuilding of religious thinking about Islam. (n.d.). Journal of Applied Bioanalysis. https://journalofappliedbioanalysis.com/the-vision-of-allama-iqbal-about-dynamic-and-progressive-religion-:-rebuilding-of-religious-thinking-about-islam
Why poet-philosopher Muhammad Iqbal believed Plato’s ideas contribute to intellectual stagnation. (n.d.). Scroll.in. https://scroll.in/article/1088365/why-poet-philosopher-muhammad-iqbal-believed-platos-ideas-contribute-to-intellectual-stagnation





Post a Comment