Psikologi Broken Heart dan Perilaku Kekerasan Mahasiswa: Analisis Kasus Pembacokan di UIN Suska Riau

Table of Contents

kasus pembacokan di lingkungan kampus Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau (UIN Suska Riau)
Abstract

Fenomena kekerasan dalam relasi interpersonal di lingkungan akademik sering kali dipicu oleh krisis emosional yang mendalam, yang secara kolokial dikenal sebagai "patah hati" atau penolakan romantis. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis komprehensif terhadap mekanisme psikologis yang mengubah rasa sakit emosional menjadi agresi fisik yang ekstrem, dengan mengambil studi kasus pembacokan mahasiswi di UIN Sultan Syarif Kasim (Suska) Riau oleh rekan mahasiswanya. Melalui sintesis berbagai kerangka teoretis utama—termasuk Rejection Sensitivity Theory, Frustration-Aggression Hypothesis, Attachment Theory, Narcissistic Injury, Emotional Dysregulation, dan Social Pain Theory—analisis ini mengungkap bahwa tindakan kekerasan tersebut bukan sekadar ledakan impulsif, melainkan kulminasi dari distorsi kognitif, kegagalan regulasi emosi, dan kerentanan struktur kepribadian. Hasil analisis menunjukkan bahwa individu dengan gaya kelekatan tidak aman dan sensitivitas penolakan yang tinggi cenderung mempersepsikan penolakan sebagai ancaman eksistensial terhadap harga diri mereka (self-esteem collapse), yang kemudian memicu kemarahan narsistik (narcissistic rage). Secara neurobiologis, tumpang tindih antara sirkuit rasa sakit fisik dan sosial menjelaskan intensitas penderitaan subjektif yang mendorong mekanisme pertahanan "lawan atau lari" (fight-or-flight). Selain faktor individual, konstruksi maskulinitas posesif dalam budaya patriarki Indonesia dan lemahnya sistem deteksi dini di lingkungan kampus turut berkontribusi pada eskalasi tragedi ini. Analisis ini merumuskan rekomendasi kebijakan berbasis bukti bagi institusi pendidikan tinggi untuk mengintegrasikan literasi emosi dan sistem intervensi krisis guna memitigasi risiko kekerasan serupa di masa depan.

Pendahuluan

Dunia pendidikan tinggi di Indonesia baru-baru ini diguncang oleh peristiwa tragis yang terjadi di Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Syarif Kasim (Suska) Riau. Seorang mahasiswi berinisial F (23), yang sedang berada dalam fase krusial penyelesaian studinya, menjadi korban penganiayaan berat berupa pembacokan yang dilakukan oleh rekan satu kampusnya, Raihan Mufazzar (21). Insiden yang terjadi saat korban tengah bersiap mengikuti sidang skripsi ini tidak hanya meninggalkan luka fisik yang dalam tetapi juga menciptakan trauma kolektif bagi civitas akademika. Penyelidikan kepolisian mengungkapkan bahwa motif utama di balik aksi sadis ini adalah rasa sakit hati akibat penolakan cinta atau pemutusan hubungan asmara.

Tragedi ini menyoroti paradoks dalam lingkungan akademik: di satu sisi, mahasiswa diharapkan menunjukkan kematangan intelektual yang tinggi, namun di sisi lain, banyak yang masih berjuang dengan ketidakmatangan emosional dalam menghadapi dinamika relasi interpersonal. Fase dewasa awal (emerging adulthood) merupakan periode di mana individu mulai menjajaki hubungan intim yang lebih serius sebagai bagian dari tugas perkembangan identitasnya. Namun, ketika harapan romantis berbenturan dengan kenyataan penolakan, individu yang tidak memiliki koping emosional yang sehat dapat mengalami degradasi fungsi psikologis yang cepat.

Kekerasan yang dipicu oleh penolakan romantis bukanlah sebuah anomali yang berdiri sendiri dalam ruang hampa. Fenomena ini merupakan manifestasi dari interaksi kompleks antara disposisi kepribadian, skema kognitif yang maladaptif, dan tekanan sosiokultural. Dalam kasus UIN Suska, fakta bahwa pelaku telah menyiapkan senjata tajam berupa kampak dan parang dari rumah menunjukkan adanya elemen perencanaan yang didorong oleh kemarahan yang telah diinkubasi (incubated rage). Analisis mendalam diperlukan untuk membedah mengapa rasa sakit hati yang lazim dialami manusia dapat bertransformasi menjadi tindakan yang bertujuan untuk menghilangkan nyawa orang lain.

Analisis ini akan menguraikan secara mendetail kerangka teoretis yang relevan, mekanisme kognitif dan neurobiologis yang terlibat, faktor risiko individual, serta konteks sosial yang melingkupi kasus ini. Dengan membandingkan fenomena ini dengan kasus serupa secara global, analisis ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih tajam mengenai pola eskalasi kekerasan dan memberikan dasar bagi perumusan kebijakan preventif yang lebih efektif di lingkungan kampus.

Kerangka Teoretis: Dinamika Penolakan dan Agresi

Memahami eskalasi dari patah hati menuju agresi memerlukan integrasi dari berbagai perspektif psikologis yang menjelaskan bagaimana stimulus eksternal (penolakan) diproses secara internal hingga menghasilkan respons perilaku yang destruktif.

Rejection Sensitivity Theory (RST)

Rejection Sensitivity (RS) didefinisikan sebagai kecenderungan individu untuk secara cemas mengharapkan, siap mempersepsikan, dan bereaksi secara berlebihan terhadap tanda-tanda penolakan dalam situasi sosial. Teori yang dikembangkan oleh Downey dan Feldman ini menyatakan bahwa individu dengan RS tinggi memiliki sistem pemrosesan kognitif-afektif yang hiperaktif terhadap isyarat-isyarat yang mengancam hubungan mereka.

Dalam konteks relasi romantis mahasiswa, individu dengan sensitivitas penolakan yang tinggi cenderung menginterpretasikan perilaku pasangan yang ambigu—seperti keterlambatan membalas pesan atau keinginan untuk memiliki waktu sendiri—sebagai tanda penolakan yang disengaja. Hal ini memicu mekanisme pertahanan diri yang agresif untuk mencegah penolakan tersebut atau sebagai cara untuk "menghukum" pasangan atas rasa sakit yang dirasakan. Penelitian menunjukkan bahwa RS yang tinggi merupakan prediktor signifikan bagi kekerasan dalam hubungan intim (intimate partner violence) karena kemarahan dan permusuhan yang muncul pasca-konflik. Pada kasus UIN Suska, pelaku kemungkinan memiliki ambang toleransi yang sangat rendah terhadap penolakan, sehingga keputusan korban untuk tidak menerima cintanya dipersepsikan sebagai serangan total terhadap eksistensi sosialnya.

Frustration-Aggression Hypothesis

Hipotesis frustrasi-agresi, yang awalnya diajukan oleh Dollard et al. (1939), memberikan kerangka kerja klasik untuk memahami motivasi di balik agresi. Premis dasarnya adalah bahwa agresi selalu merupakan konsekuensi dari frustrasi, dan frustrasi selalu memicu dorongan untuk melakukan agresi. Frustrasi diartikan sebagai gangguan atau hambatan terhadap pencapaian tujuan yang sedang diusahakan (instigated goal-response).

Dalam revisi kontemporer oleh Leonard Berkowitz, ditekankan bahwa frustrasi tidak secara otomatis menghasilkan agresi, melainkan melalui mediasi afek negatif, terutama kemarahan.

kasus pembacokan di lingkungan kampus Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau (UIN Suska Riau)
Pada kasus di Riau, pencapaian tujuan pelaku untuk menjalin hubungan romantis terhambat secara permanen oleh penolakan korban. Hambatan ini menciptakan tingkat frustrasi yang tinggi, yang kemudian diekspresikan melalui agresi terarah kepada korban sebagai sumber frustrasi tersebut.

Attachment Theory (Teori Kelekatan)

Teori kelekatan yang dipelopori oleh John Bowlby dan Mary Ainsworth menjelaskan bagaimana kualitas hubungan awal dengan pengasuh membentuk "model kerja internal" (internal working models) yang memandu persepsi individu tentang dirinya sendiri dan orang lain dalam hubungan dewasa.

Individu dengan gaya kelekatan tidak aman (insecure attachment), khususnya tipe cemas-preokupasi (anxious-preoccupied), memiliki ketakutan yang mendalam akan pengabaian dan penolakan. Mereka cenderung menjadi sangat tergantung pada pasangan untuk validasi harga diri mereka. Ketika penolakan terjadi, individu ini mengalami kecemasan yang melumpuhkan yang sering kali berubah menjadi kemarahan hebat sebagai upaya terakhir untuk menarik kembali perhatian pasangan atau "menempel" secara paksa (anxious clinging). Sebaliknya, tipe menghindar-meremehkan (dismissive-avoidant) mungkin bereaksi terhadap penolakan dengan permusuhan yang dingin untuk mempertahankan ilusi kemandirian mereka. Studi menunjukkan hubungan yang kuat antara gaya kelekatan cemas dengan penggunaan taktik kontrol dan kekerasan fisik dalam hubungan asmara di kalangan mahasiswa.

Narcissistic Injury (Luka Narsistik)

Heinz Kohut, dalam kerangka psikologi diri (self psychology), memperkenalkan konsep luka narsistik yang terjadi ketika rasa diri yang megah (grandiose self) seorang individu mengalami kegagalan, kritik, atau penolakan. Bagi individu dengan trait narsistik, penolakan romantis bukan sekadar masalah preferensi pribadi, melainkan sebuah devaluasi total terhadap harga diri mereka yang rapuh.

Respons terhadap luka ini adalah narcissistic rage (kemarahan narsistik)—sebuah kemarahan yang meluap-luap, dendam, dan keinginan kompulsif untuk membalas dendam guna memulihkan rasa superioritas yang hilang. Berbeda dengan kemarahan biasa, kemarahan narsistik tidak mengenal batas dan bertujuan untuk menghancurkan pihak yang dianggap telah menyebabkan penghinaan tersebut. Dalam kasus pembacokan di UIN Suska, tindakan pelaku yang menargetkan nyawa korban menunjukkan elemen kemarahan narsistik yang ingin "menghapus" sumber rasa malu dan penghinaan yang ia rasakan akibat penolakan tersebut.

Emotional Dysregulation (Disregulasi Emosi)

Disregulasi emosi merujuk pada ketidakmampuan individu untuk mengatur intensitas dan durasi emosi negatif yang mereka rasakan, sehingga gagal memberikan respons yang adaptif terhadap stimulus lingkungan. Marsha Linehan menekankan bahwa individu dengan gangguan regulasi emosi sering kali mengalami hiper-arousal yang ekstrem saat menghadapi situasi interpersonal yang menantang.

Dalam konteks penolakan romantis, individu dengan disregulasi emosi tidak mampu melakukan penenangan diri (self-soothing) dan terjebak dalam siklus emosi negatif yang meningkat dengan cepat. Kegagalan ini sering kali bermanifestasi dalam perilaku impulsif yang destruktif sebagai upaya untuk menghentikan penderitaan emosional yang tak tertahankan. Hubungan antara gejala Borderline Personality Disorder (BPD) dan kekerasan interpersonal sangat dipengaruhi oleh mekanisme disregulasi ini, di mana persepsi penolakan memicu kemarahan yang tidak terkendali yang kemudian diekspresikan secara fisik.

Social Pain Theory

Social Pain Theory mengusulkan bahwa manusia telah mengembangkan sistem saraf yang memproses rasa sakit sosial (penolakan, pengucilan, kehilangan) menggunakan infrastruktur saraf yang sama dengan yang memproses rasa sakit fisik. Wilayah otak seperti dorsal anterior cingulate cortex (dACC) dan anterior insula, yang bertanggung jawab atas komponen afektif dari rasa sakit fisik, juga aktif secara signifikan saat individu mengalami penolakan sosial.

Tumpang tindih neurobiologis ini menjelaskan mengapa penderitaan akibat patah hati terasa begitu nyata secara fisik. Karena sistem otak mempersepsikan penolakan sebagai ancaman terhadap kelangsungan hidup (seperti halnya cedera fisik), individu dapat terdorong untuk menggunakan mekanisme pertahanan "fight" (agresi) untuk melindungi diri dari sumber rasa sakit tersebut. Rasa sakit sosial yang intens ini dapat menyebabkan "kebal emosi" sementara terhadap penderitaan orang lain, yang menjelaskan bagaimana seorang pelaku mampu melakukan tindakan sadis tanpa empati pada saat kejadian.

Mekanisme Psikologis: Dari Penolakan Menuju Eskalasi Agresi

Setelah memahami kerangka teoretisnya, penting untuk menganalisis proses internal yang terjadi dalam pikiran individu yang mengalami penolakan hingga mereka memutuskan untuk melakukan kekerasan fisik.

Proses Kognitif dan Distorsi Realitas

Saat individu mengalami penolakan romantis, proses kognitif mereka sering kali mengalami bias yang signifikan. Aaron Beck dan para ahli kognitif lainnya mengidentifikasi beberapa distorsi kognitif yang memicu eskalasi emosi negatif.
1. Catastrophizing (Katastrofisasi): Individu memandang penolakan sebagai akhir dari dunianya. Mereka meyakini bahwa mereka tidak akan pernah menemukan cinta lagi atau bahwa masa depan mereka telah hancur total karena penolakan ini.
2. Personalization (Personalisasi): Penolakan diinterpretasikan sepenuhnya sebagai bukti kegagalan dan ketidakberhargaan diri, tanpa mempertimbangkan faktor eksternal atau preferensi otonom orang lain.
3. Black-and-White Thinking (Pemikiran Hitam-Putih): Individu melihat hubungan hanya dalam dua ekstrem. Jika korban tidak mencintainya, maka korban adalah musuh jahat yang telah menghancurkan hidupnya. Tidak ada ruang untuk resolusi damai atau persahabatan.
4. Mind Reading (Membaca Pikiran): Pelaku yakin bahwa korban sedang menghina atau merendahkannya secara rahasia, meskipun tidak ada bukti nyata untuk hal tersebut.

Distorsi kognitif ini menciptakan realitas subjektif yang sangat menyakitkan dan memicu rasa marah yang mendalam. Pada kasus UIN Suska, pelaku yang membawa senjata dari rumah menunjukkan bahwa ia telah terjebak dalam ruminasi kognitif yang keliru, di mana ia melihat kekerasan sebagai satu-satunya cara untuk mengatasi "ketidakadilan" yang ia rasakan.

Keruntuhan Harga Diri (Self-Esteem Collapse)

Bagi banyak mahasiswa, relasi romantis merupakan pilar utama dari harga diri dan identitas sosial mereka. Penolakan romantis dapat memicu keruntuhan harga diri secara mendadak, terutama pada individu yang memiliki contingent self-esteem (harga diri yang bergantung pada validasi orang lain).

Ketika harga diri hancur, individu merasakan kehampaan dan rasa malu yang mendalam (deep shame). Dalam psikologi agresi, rasa malu yang tidak terproses sering kali dikompensasi melalui kemarahan yang meledak-ledak. Agresi menjadi alat untuk mendapatkan kembali rasa kontrol dan kekuasaan atas orang lain, sehingga individu merasa tidak lagi menjadi "korban" penolakan yang lemah, melainkan "pelaku" yang kuat dan dominan. Analisis menunjukkan bahwa agresi reaktif terhadap penolakan sering kali merupakan upaya primordial untuk mendemonstrasikan dominasi guna memulihkan signifikansi diri yang hilang.

Hubungan antara Obsesi Romantis dan Agresivitas

Terdapat batas tipis antara ketertarikan romantis yang sehat dan obsesi yang patologis. Dalam beberapa kasus kekerasan kampus, pelaku menunjukkan gejala yang mirip dengan erotomania atau delusi cinta, di mana mereka tetap yakin bahwa target mencintai mereka meskipun telah ada penolakan yang jelas.

Obsesi romantis sering kali disertai dengan perilaku penguntitan (stalking), pemantauan berlebihan terhadap aktivitas media sosial korban, dan upaya terus-menerus untuk menghubungi target meskipun telah dilarang. Ketika target secara tegas memutus kontak (seperti yang dilakukan korban di UIN Suska yang ingin mengakhiri hubungan), individu yang obsesif mengalami frustrasi ekstrem karena kehilangan objek kontrolnya. Obsesi ini mengubah cinta menjadi kebutuhan untuk memiliki (ownership), dan jika objek tersebut tidak bisa dimiliki, maka menurut logika pelaku, tidak ada orang lain yang boleh memilikinya.

Neuropsikologi Rasa Sakit Emosional dan Agresi

Kemajuan dalam ilmu saraf menunjukkan bahwa sistem pemrosesan informasi sosial (SIP) dipengaruhi secara mendalam oleh rasa sakit emosional. Penolakan romantis yang berat menyebabkan aktivasi berlebihan pada sistem alarm otak (dACC) dan penurunan aktivitas pada dorsolateral prefrontal cortex (DLPFC), wilayah yang bertanggung jawab atas kontrol kognitif dan penghambatan perilaku agresif.

Individu yang sedang mengalami penderitaan emosional yang hebat memiliki kapasitas yang lebih rendah untuk memproses informasi secara rasional dan lebih cenderung bereaksi terhadap isyarat-isyarat lingkungan dengan cara yang bermusuhan. Secara matematis, probabilitas tindakan agresif (A) dapat dinyatakan sebagai fungsi dari intensitas rasa sakit sosial (Ps) dan kegagalan kontrol penghambatan (If):

A = f(Ps x If)

Ketika sirkuit rasa sakit sosial diaktifkan tanpa adanya kontrol prefrontal yang memadai, dorongan biologis untuk melakukan pembalasan dendam menjadi sangat sulit untuk ditahan. Inilah yang menjelaskan mengapa pelaku di UIN Suska mampu melakukan pembacokan berkali-kali secara membabi buta—ia berada dalam kondisi "pembajakan emosional" di mana sirkuit kognitif logisnya telah lumpuh oleh rasa sakit dan kemarahan.

Faktor Risiko Individual dan Sosial dalam Kekerasan Relasi Mahasiswa

Tidak semua orang yang mengalami patah hati akan melakukan kekerasan. Terdapat variabel-variabel tertentu yang memperbesar kemungkinan terjadinya eskalasi fisik.

Faktor Risiko Individual

Berdasarkan literatur psikologi klinis dan kriminologi, profil individu yang berisiko tinggi melakukan kekerasan pasca-penolakan meliputi:
1. Insecure Attachment: Terutama gaya kelekatan cemas yang memicu ketakutan ekstrem akan pengabaian dan dorongan untuk mengontrol pasangan.
2. Trait Kepribadian Narsistik atau Borderline: Narsisme membuat individu rentan terhadap luka harga diri, sementara sifat borderline menyebabkan instabilitas emosional dan kemarahan impulsif.
3. Impulse Control Disorder: Ketidakmampuan genetik atau perkembangan untuk menahan dorongan fisik saat marah.
4. Riwayat Trauma atau Kekerasan: Pengalaman masa kecil yang melibatkan penolakan dari orang tua dapat membentuk skema relasional yang melihat penolakan sebagai ancaman mematikan.
5. Minimnya Dukungan Sosial: Individu yang terisolasi secara sosial cenderung memusatkan seluruh kebutuhan emosionalnya pada satu pasangan, sehingga kehilangan pasangan tersebut dipersepsikan sebagai kehilangan total atas segalanya.

Perspektif Sosiologis: Konstruksi Maskulinitas di Indonesia

Kekerasan terhadap mahasiswi oleh mahasiswa laki-laki juga harus dilihat melalui lensa sosiokultural Indonesia. Budaya patriarki yang masih kuat sering kali mengonstruksi maskulinitas sebagai bentuk dominasi, kekuatan, dan kepemilikan atas perempuan.

Konsep maskulinitas posesif mengajarkan bahwa harga diri laki-laki bergantung pada kemampuannya untuk mengendalikan perilaku dan kesetiaan perempuan. Ketika seorang perempuan melakukan otonomi dirinya dengan menolak cinta atau memutuskan hubungan, hal ini dipandang oleh laki-laki tersebut sebagai penghinaan terhadap kejantanannya (toxic masculinity). Di lingkungan kampus, tekanan dari teman sebaya untuk menunjukkan "ketangguhan" juga dapat memperburuk kecenderungan agresif ini.

Analisis Kontekstual: Tekanan Akademik dan Stres Peran

Lingkungan universitas sering kali menjadi kuali tekanan yang memperparah masalah kesehatan mental mahasiswa. Tekanan akademik, beban tugas, dan tuntutan untuk lulus tepat waktu menciptakan tingkat stres yang tinggi. Pada kasus UIN Suska, fakta bahwa insiden terjadi tepat sebelum sidang skripsi korban menambah dimensi stres pada situasi tersebut.

Stres peran sebagai mahasiswa akhir yang harus menghadapi masa depan yang tidak pasti dapat membuat individu merasa sangat rapuh. Jika pada saat yang sama mereka mengalami penolakan romantis, beban emosional tersebut dapat menjadi pemicu ledakan mental. Lemahnya sistem deteksi dini di kampus, yang sering kali lebih fokus pada prestasi akademik daripada kesejahteraan emosional, menyebabkan tanda-tanda bahaya pada mahasiswa tidak teridentifikasi hingga tragedi terjadi.

kasus pembacokan di lingkungan kampus Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau (UIN Suska Riau)

Perbandingan Kasus Global: Pola dan Peringatan Dini

Kasus pembacokan di UIN Suska Riau memiliki kesamaan pola yang mencolok dengan kasus kekerasan kampus di berbagai belahan dunia lainnya yang dipicu oleh penolakan romantis.

Pola Eskalasi dalam Kasus Kampus Internasional

Penelitian terhadap penembakan sekolah dan serangan massal di universitas-universitas di Amerika Serikat, Eropa, dan Asia menunjukkan pola umum yang disebut sebagai "jalur menuju kekerasan" (pathway to violence).
1. Tahap Inkubasi: Pelaku mengalami serangkaian kegagalan sosial atau penolakan romantis yang kronis, yang menyebabkan ruminasi dendam.
2. Pencarian Target: Pelaku mulai mengidentifikasi individu atau kelompok yang dianggap bertanggung jawab atas rasa sakitnya.
3. Persiapan: Pelaku melakukan perencanaan, termasuk pengumpulan senjata dan pemilihan waktu serta lokasi yang simbolis (seperti hari ujian atau wisuda).
4. Bocornya Rencana (Leakage): Sebelum kejadian, banyak pelaku yang memberikan sinyal tentang niatnya melalui pesan teks, unggahan media sosial, atau pembicaraan dengan teman, namun sering kali diabaikan oleh lingkungan.

Dalam banyak kasus internasional, seperti kasus Elliot Rodger di Isla Vista (2014) yang dipicu oleh rasa benci akibat penolakan wanita, pelaku menunjukkan kombinasi antara narsisme yang terluka, obsesi romantis, dan kebencian yang mendalam terhadap otonomi targetnya. Pola ini identik dengan perilaku pelaku di UIN Suska yang sengaja datang dari rumah dengan membawa kampak khusus untuk menyerang korban yang sedang menghadapi momen penting dalam hidupnya (sidang skripsi).

Identifikasi Warning Signs (Tanda Bahaya)

Studi global mengidentifikasi beberapa tanda peringatan yang seharusnya menjadi perhatian pihak otoritas kampus:

  • Perubahan Perilaku Drastis: Penurunan nilai akademik yang tajam, penarikan diri dari kegiatan sosial, atau pengabaian kebersihan diri.
  • Perilaku Penguntitan (Stalking): Upaya untuk terus memantau atau mengganggu orang lain yang telah menolak komunikasinya.
  • Ancaman Verbal atau Tertulis: Pernyataan tentang keinginan untuk melukai orang lain atau diri sendiri, meskipun disampaikan sebagai "bercanda".
  • Fascinations with Violence: Ketertarikan yang tidak wajar pada senjata tajam, senjata api, atau sejarah kekerasan.
  • Ketidakmampuan Mengelola Kegagalan: Reaksi kemarahan yang tidak proporsional terhadap masalah kecil.

Analisis Tingkat Lanjut: Patah Hati sebagai Pemicu atau Patologi?

Terdapat pertanyaan mendasar dalam psikologi forensik mengenai apakah tindakan kekerasan akibat patah hati harus dikategorikan sebagai respons situasional atau indikasi adanya patologi yang mendasarinya.

Broken Heart: Situational Trigger vs. Underlying Pathology

Analisis ini menunjukkan bahwa patah hati atau penolakan romantis berfungsi sebagai pemicu situasional yang kuat (acute situational trigger) yang berinteraksi dengan patologi kepribadian yang sudah ada sebelumnya (underlying pathology). Bagi individu yang sehat secara psikologis, penolakan memicu kesedihan dan rasa sakit yang dapat diproses melalui mekanisme koping yang adaptif. Namun, bagi individu dengan kerentanan seperti Rejection Sensitivity tinggi, narsisme, atau BPD, penolakan bertindak sebagai katalisator yang melepaskan dorongan agresif yang terpendam.

Dengan kata lain, kekerasan ekstrem bukanlah hasil dari patah hati biasa, melainkan hasil dari patah hati yang dialami oleh struktur kepribadian yang tidak stabil. Hal ini didukung oleh temuan bahwa mayoritas orang yang mengalami patah hati tidak melakukan kekerasan fisik. Keberadaan perencanaan (membawa senjata dari rumah) pada kasus UIN Suska menunjukkan bahwa ada elemen patologis dalam cara pelaku memproses emosinya dalam jangka panjang.

Kekerasan sebagai Bentuk Narcissistic Rage

Kekerasan akibat penolakan romantis sangat kuat dikorelasikan dengan konsep kemarahan narsistik. Dalam pandangan pelaku, korban bukan lagi manusia yang memiliki hak untuk memilih, melainkan objek yang telah "merusak" gambaran diri pelaku yang sempurna. Dengan membacok korban, pelaku mencoba untuk "menulis ulang" narasi penolakan tersebut—dari seseorang yang ditolak menjadi seseorang yang memiliki kekuasaan mutlak atas hidup dan mati orang lain.

Korelasi Insecure Attachment dan Kekerasan Ekstrem

Terdapat korelasi positif yang signifikan antara gaya kelekatan tidak aman dan tindakan kekerasan dalam relasi personal. Gaya kelekatan cemas-preokupasi menciptakan ketergantungan emosional yang begitu besar sehingga perpisahan dirasakan sebagai ancaman kematian bagi identitas diri pelaku. Hal ini menciptakan kondisi emosional yang ekstrem di mana pelaku merasa tindakannya dibenarkan demi "mempertahankan" hubungan atau menghukum pengabaian.

Implikasi Kebijakan dan Rekomendasi bagi Perguruan Tinggi

Berdasarkan analisis di atas, diperlukan langkah-langkah konkret dan berbasis bukti untuk mencegah terulangnya kekerasan serupa di lingkungan kampus.

Transformasi Sistem Konseling Kampus

Universitas harus beralih dari model konseling pasif ke model proaktif dan preventif.

  • Outreach Program: Pusat kesehatan mental kampus harus secara aktif melakukan penjangkauan, bukan hanya menunggu mahasiswa datang. Program ini harus mencakup konseling khusus untuk mahasiswa yang sedang mengalami krisis hubungan.
  • Layanan Anonim: Menyediakan saluran pengaduan atau konseling daring tanpa nama untuk mengurangi stigma, terutama bagi mahasiswa laki-laki.
  • Penyediaan Konselor Sebaya (Peer Counselors): Melatih mahasiswa untuk menjadi pendengar bagi teman-temannya dan mampu mengenali tanda-tanda bahaya emosional awal.

Implementasi Early Detection Emotional Risk

Membangun sistem deteksi dini yang terintegrasi antara bagian akademik dan kesejahteraan mahasiswa.

  • Universal Screening: Melakukan skrining kesehatan emosional secara berkala, minimal satu kali per semester, untuk mengidentifikasi mahasiswa dengan tingkat kecemasan, depresi, atau kemarahan yang tinggi.
  • Behavioral Intervention Team (BIT): Membentuk tim lintas departemen (terdiri dari psikolog, dosen, dan bagian keamanan) untuk menangani mahasiswa yang dilaporkan menunjukkan perilaku obsesif atau mengancam.
  • Pemantauan Warning Signs: Dosen pembimbing akademik harus dilatih untuk melihat perubahan perilaku pada mahasiswa bimbingannya yang mungkin berkaitan dengan masalah personal.

Pendidikan Literasi Emosi dan Relasi Sehat

Mengintegrasikan pendidikan karakter dan kecerdasan emosional ke dalam kurikulum wajib mahasiswa.

  • Workshop Relasi Sehat: Mengajarkan konsep otonomi diri, batasan pribadi (boundaries), dan cara menghadapi penolakan secara bermartabat.
  • Literasi Maskulinitas: Membuka ruang diskusi mengenai konstruksi maskulinitas yang sehat, yang tidak mengaitkan harga diri laki-laki dengan kontrol atas perempuan.
  • Pelatihan Regulasi Emosi: Memberikan teknik praktis bagi mahasiswa untuk mengelola kemarahan dan stres melalui metode seperti Mindfulness atau Cognitive Behavioral Skills.

Intervensi Preventif dan Keamanan Kampus

  • Peningkatan Keamanan Fisik: Pengetatan pengawasan di pintu masuk kampus untuk mendeteksi senjata tajam dan peningkatan patroli di area-area yang sepi atau rawan konflik.
  • Protokol Keamanan Korban: Jika ada laporan mengenai perilaku penguntitan atau ancaman dari sesama mahasiswa, universitas harus segera memberikan perlindungan fisik dan pendampingan hukum bagi korban sebelum kekerasan terjadi.

Kesimpulan

Kasus pembacokan di UIN Suska Riau merupakan pengingat keras bahwa lingkungan akademik tidak kebal terhadap eskalasi kekerasan yang berakar pada masalah psikologis personal. Penolakan romantis, ketika dialami oleh individu dengan sensitivitas penolakan yang tinggi, gaya kelekatan tidak aman, dan trait kepribadian narsistik, dapat memicu rasa sakit sosial yang setara dengan rasa sakit fisik yang hebat. Tanpa adanya kemampuan regulasi emosi yang memadai, penderitaan ini bertransformasi menjadi kemarahan narsistik yang destruktif.

Faktor-faktor sosiokultural seperti maskulinitas posesif dan stres peran di perguruan tinggi turut menyuburkan kondisi emosional yang berbahaya ini. Namun, pola global menunjukkan bahwa tindakan semacam ini sering kali didahului oleh tanda-tanda peringatan yang dapat diidentifikasi jika sistem deteksi dini berfungsi dengan baik. Institusi pendidikan tinggi memiliki tanggung jawab moral dan operasional untuk tidak hanya mencetak lulusan yang cerdas secara intelektual, tetapi juga individu yang memiliki ketahanan emosional dan menghargai otonomi orang lain. Pencegahan kekerasan di kampus memerlukan sinergi antara kebijakan keamanan, penguatan layanan kesehatan mental, dan pendidikan literasi emosi yang berkelanjutan.

Sitasi:

Alone but Feeling No Pain: Effects of Social Exclusion on Physical Pain Tolerance and Pain Threshold, Affective Forecasting, and. (n.d.). Retrieved March 4, 2026, from https://rsoresearch.files.wordpress.com/2012/01/alonebutfeeling.pdf

Analisis Faktor Penyebab Kekerasan dalam Hubungan Pacaran pada Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia. (n.d.). SOSIETAS - Jurnal UPI. Retrieved March 4, 2026, from https://ejournal.upi.edu/index.php/sosietas/article/view/30115

An appraisal of narcissistic rage through path modeling. (n.d.). PMC. Retrieved March 4, 2026, from https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC9709537/

Attachment styles and how they affect adult relationships. (n.d.). HelpGuide.org. Retrieved March 4, 2026, from https://www.helpguide.org/relationships/social-connection/attachment-and-adult-relationships

Best practices for mental health services in colleges and universities. (n.d.). Oklahoma State Regents for Higher Education. Retrieved March 4, 2026, from https://okhighered.org/wp-content/uploads/2024/05/CBP-mental-best-practices-higher-ed.pdf

Borderline personality disorder and related constructs as risk factors for intimate partner violence perpetration. (n.d.). PMC. Retrieved March 4, 2026, from https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC5512269/

Borderline personality disorder features and cognitive, emotional, and predicted behavioral reactions to teasing. (n.d.). ResearchGate. Retrieved March 4, 2026, from https://www.researchgate.net/publication/229412188

Borderline personality disorder symptoms and aggression: A within-person analysis. (n.d.). PMC. Retrieved March 4, 2026, from https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC5480678/

Breaking the cycle: Understanding and overcoming insecure attachment in relationships. (n.d.). AAMFT. Retrieved March 4, 2026, from https://ftm.aamft.org/breaking-the-cycle-understanding-and-overcoming-insecure-attachment-in-relationships/

Bullying, romantic rejection, and conflicts with teachers: The crucial role of social dynamics in the development of school shootings – A systematic review. (n.d.). ResearchGate. Retrieved March 4, 2026, from https://www.researchgate.net/publication/268518325

Catatan atas kasus pembacokan mahasiswi UIN Suska Riau ketika relasi personal berubah jadi tragedi. (n.d.). RanahRiau.com. Retrieved March 4, 2026, from https://www.ranahriau.com/berita-26993-catatan-atas-kasus-pembacokan-mahasiswi-uin-suska-riau-ketika-relasi-personal-berubah-jadi-tragedi.html

Cognitive biases in social anxiety disorder. (n.d.). TalktoAngel. Retrieved March 4, 2026, from https://www.talktoangel.com/blog/cognitive-biases-in-social-anxiety-disorder

Cognitive distortions and decision-making in women victims of intimate partner violence: A scoping review. (n.d.). Retrieved March 4, 2026, from https://journals.copmadrid.org/pi/art/pi2025a3

Cognitive distortions: 15 examples & worksheets (PDF). (n.d.). Positive Psychology. Retrieved March 4, 2026, from https://positivepsychology.com/cognitive-distortions/

Cognitive distortions: Unhelpful thinking habits. (n.d.). Psychology Tools. Retrieved March 4, 2026, from https://www.psychologytools.com/articles/unhelpful-thinking-styles-cognitive-distortions-in-cbt

Does physical pain augment anxious attachment? (n.d.). Ovid. Retrieved March 4, 2026, from https://www.ovid.com/journals/jspr/pdf/10.1177/0265407506062481

Early detection of mental health through universal screening at schools. (n.d.). Retrieved March 4, 2026, from https://digitalcommons.georgiasouthern.edu/gerjournal/vol19/iss1/4/

Emotional dysregulation in children and adolescents with psychiatric disorders: A narrative review. (n.d.). Frontiers in Psychiatry. Retrieved March 4, 2026, from https://www.frontiersin.org/journals/psychiatry/articles/10.3389/fpsyt.2021.628252/full

Evidence for the link between emotional and physical pain. (n.d.). Retrieved March 4, 2026, from http://www.psych.purdue.edu/~willia55/392F-%2706/GMacDonald%20revised.doc

Frustration, aggression, and the nonviolent Semai. (n.d.). Peaceful Societies. Retrieved March 4, 2026, from https://peacefulsocieties.uncg.edu/wp-content/uploads/2015/11/Robar77.pdf

Frustration-aggression hypothesis reconsidered: The role of significance quest. (n.d.). ResearchGate. Retrieved March 4, 2026, from https://www.researchgate.net/publication/371370123

How cognitive distortions affect relationships: Relational issues and support options. (n.d.). Retrieved March 4, 2026, from https://missionconnectionhealthcare.com/mental-health/cognitive-distortions/relationships/

Hubungan antara maskulinitas dengan kekerasan dalam pacaran pada dewasa awal laki-laki. (n.d.). Retrieved March 4, 2026, from http://digilib.uinsa.ac.id/47542/2/Aprilia%20Dwiyanti_J71216049.pdf

Incidental physical pain reduces brain activities associated with affective social feedback and increases aggression. (n.d.). PMC. Retrieved March 4, 2026, from https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC9949500/

Identifying at-risk students. (n.d.). National University. Retrieved March 4, 2026, from https://www.nu.edu/student-services/nu-wellness/behavioral-intervention-team/identifying-at-risk-students/

Konstruksi maskulinitas pada laki-laki korban pelecehan seksual. (n.d.). Jurnal Manajemen Pendidikan dan Ilmu Sosial. Retrieved March 4, 2026, from https://dinastirev.org/JMPIS/article/view/2272

Mahasiswa bacok mahasiswi di kampus gegara diputusin, begini kronologisnya. (n.d.). Tribunnews. Retrieved March 4, 2026, from https://aceh.tribunnews.com/news/1013701/

Mahasiswa bacok mahasiswi UIN Suska Riau gegara cinta ditolak. (n.d.). detikNews. Retrieved March 4, 2026, from https://news.detik.com/berita/d-8375360/

Mahasiswa UIN Suska Riau bacok teman usai cinta ditolak, mungkinkah erotomania? (n.d.). detikHealth. Retrieved March 4, 2026, from https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-8375877/

Narcissistic rage and the murder of Allison Baden-Clay. (n.d.). PMC. Retrieved March 4, 2026, from https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC6876420/

Neural mechanisms of the rejection–aggression link. (n.d.). PMC. Retrieved March 4, 2026, from https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC6007431/

Rejection sensitivity and romantic relationships: A systematic review and meta-analysis. (n.d.). ResearchGate. Retrieved March 4, 2026, from https://www.researchgate.net/publication/371975246

Relationship between rejection sensitivity, ghosting, and self-esteem in young adults with dating experiences. (n.d.). IJIP. Retrieved March 4, 2026, from https://ijip.in/wp-content/uploads/2025/09/18.01.268.20251303.pdf

The neural bases of social pain: Evidence for shared representations with physical pain. (n.d.). PMC. Retrieved March 4, 2026, from https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC3273616/

When does rejection trigger aggression? A test of the multimotive model. (n.d.). Frontiers in Psychology. Retrieved March 4, 2026, from https://www.frontiersin.org/journals/psychology/articles/10.3389/fpsyg.2021.660973/full

Why rejection hurts: What social neuroscience has revealed about the brain's response to social rejection. (n.d.). Retrieved March 4, 2026, from https://sanlab.psych.ucla.edu/wp-content/uploads/sites/31/2015/05/39-Decety-39.pdf

Aletheia Rabbani
Aletheia Rabbani “Barang siapa yang tidak mampu menahan lelahnya belajar, maka ia harus mampu menahan perihnya kebodohan” _ Imam As-Syafi’i

Post a Comment