Politik Kesalehan Saba Mahmood: Menggugat Feminisme Barat dalam Kebangkitan Islam

Table of Contents

Politics of Piety: The Islamic Revival and the Feminist Subject karya Saba Mahmood
Karya monumental Saba Mahmood yang berjudul Politics of Piety: The Islamic Revival and the Feminist Subject (2005) merupakan sebuah intervensi intelektual yang secara radikal mengubah lanskap teori antropologi, studi agama, dan diskursus feminisme global. Buku ini muncul dalam konteks pasca-Tragedi 11 September, sebuah periode di mana wacana Barat sering kali terjebak dalam dikotomi biner antara "kebebasan liberal" dan "penindasan agama". Mahmood, seorang antropolog kelahiran Pakistan yang terlatih dalam tradisi kiri-progresif, melakukan perjalanan intelektual dan fisik ke Kairo, Mesir, antara tahun 1995 hingga 1997 untuk meneliti gerakan masjid perempuan yang sedang berkembang pesat sebagai bagian dari kebangkitan Islam (al-Sahwa al-Islamiyya). Analisisnya tidak hanya memberikan deskripsi etnografis yang kaya tentang kehidupan para perempuan saleh, tetapi juga membongkar asumsi-asumsi sekuler-liberal yang mendasari pemahaman modern tentang agensi, kehendak, dan subjek manusia.

Konteks Historis dan Topografi Gerakan Kebangkitan Islam

Gerakan masjid perempuan di Kairo bukanlah sebuah fenomena yang terisolasi, melainkan hasil dari pergeseran sosiopolitik yang kompleks di Timur Tengah sejak tahun 1970-an. Mahmood mengamati bahwa gerakan ini muncul sebagai respons terhadap kegagalan proyek nasionalisme sekuler dan meningkatnya pengaruh "Baratisasi" yang dianggap mengikis fondasi etis masyarakat Mesir. Sejarah wilayah ini pada periode tersebut ditandai oleh kediktatoran militer yang didukung oleh Amerika Serikat, perang proksi, serta kebijakan ekonomi yang mengarah pada privatisasi luas yang meninggalkan kesenjangan sosial. Dalam kekosongan moral dan sosial tersebut, Islamisasi media, pendidikan, dan yudisial yang diotoritasi negara—beserta ekspor paham Wahhabisme melalui komunitas migran Teluk dan pendanaan Saudi—memberikan lahan subur bagi tumbuhnya gerakan kesalehan akar rumput.

Pemetaan Sosio-Ekonomi Peserta Gerakan Masjid

Salah satu temuan kunci Mahmood adalah bahwa gerakan kesalehan ini tidak terbatas pada satu kelas sosial tertentu. Partisipasi perempuan dalam lingkaran pengajaran agama di masjid-masjid melintasi batas-batas ekonomi dan pendidikan, menciptakan sebuah bentuk sosiabilitas baru yang menantang karakter maskulin tradisional di ruang publik tersebut.

Pemetaan Sosio-Ekonomi Peserta Gerakan Masjid
Gerakan ini berfokus pada apa yang disebut sebagai da’wa (seruan atau ajakan), yang secara historis merupakan domain laki-laki. Namun, melalui peningkatan literasi dan teknologi komunikasi, perempuan mulai mengambil peran sebagai da'iyat (pendakwah perempuan) yang memberikan pengajaran tentang cara mengolah disposisi batin agar sesuai dengan standar kesalehan ortodoks.

Rekonseptualisasi Agensi: Melampaui Paradigma Resistensi

Pilar utama argumen Mahmood adalah kritik terhadap cara feminisme liberal mendefinisikan "agensi". Dalam pemikiran Barat, agensi hampir selalu disamakan dengan kemampuan subjek untuk melawan (resist) norma-norma yang menindas atau untuk mengejar otonomi individu. Mahmood berpendapat bahwa model ini sangat membatasi kemampuan peneliti untuk memahami kehidupan perempuan yang tujuan hidupnya dibentuk oleh tradisi non-liberal.

Agensi sebagai Kapasitas untuk Bertindak

Mahmood mengusulkan agar agensi dipahami bukan sebagai sinonim dari perlawanan terhadap dominasi, melainkan sebagai "kapasitas untuk bertindak" yang dimungkinkan oleh seperangkat diskursus dan norma tertentu. Baginya, tindakan para perempuan Mesir yang memilih untuk tunduk pada otoritas Tuhan dan mengikuti norma patriarki secara sukarela bukanlah bentuk kepasifan atau "kesadaran palsu". Sebaliknya, ketundukan tersebut adalah sebuah bentuk aktivitas yang bertujuan untuk mencapai sebuah model keberadaan yang diinginkan.

Untuk mengilustrasikan hal ini, Mahmood menggunakan analogi seorang pemain piano virtuoso. Agar seseorang dapat memiliki agensi musik yang luar biasa, ia harus terlebih dahulu menundukkan diri sepenuhnya pada disiplin yang ketat, aturan bermain yang kaku, dan otoritas guru. Tanpa "ketundukan" pada norma-norma disiplin piano tersebut, kapasitas kreatifnya tidak akan pernah muncul. Demikian pula, para perempuan dalam gerakan kesalehan melihat norma-norma Islam bukan sebagai hambatan luar yang membatasi keinginan mereka, melainkan sebagai "perancah" (scaffolding) yang memungkinkan realisasi diri yang saleh.

Konsep Kedocilan (Docility) dan Pembentukan Subjek

Mahmood merevitalisasi istilah docility (kedocilan), yang sering kali dianggap negatif dalam politik progresif karena berkonotasi dengan kepatuhan buta. Mengambil akar kata Latin docere (mengajar), ia mendefinisikan kedocilan sebagai "kapasitas untuk diajar" (teachability). Dalam konteks gerakan masjid, seorang perempuan yang "docile" adalah agen yang secara sadar mengolah dirinya agar dapat ditransformasikan oleh ajaran agama. Agensi dalam pengertian ini adalah kemampuan untuk menderita, menanggung beban, dan membentuk diri agar sesuai dengan model etis tertentu, bukan hanya kemampuan untuk menumbangkan model tersebut.

Pedagogi Persuasi: Metodologi Pembentukan Diri yang Saleh

Dalam bab "Pedagogies of Persuasion", Mahmood mendalami mekanisme pendidikan di dalam kelas-kelas masjid. Pengajaran ini bukan sekadar transfer informasi, melainkan sebuah teknik etis untuk membentuk subjektivitas moral para peserta. Para da'iyat menggunakan dialog interaktif untuk membantu perempuan menegosiasikan ketegangan antara tuntutan kehidupan modern dan kewajiban agama.

Peran Da’wa dalam Transformasi Publik

Istilah da’wa mengandung gagasan agensi yang sangat tegas melalui tindakan aktif mengajak orang lain menuju jalan Tuhan. Mahmood mengamati bahwa para perempuan ini tidak hanya mempraktikkan kesalehan secara internal, tetapi juga berusaha mempengaruhi jaringan sosial di sekitar mereka, termasuk anggota keluarga dan rekan kerja. Hal ini menciptakan sebuah "politik keberadaan" yang merembes ke ruang publik, mulai dari cara berpakaian di jalan raya hingga etika bertransaksi di tempat kerja.

Negosiasi Etika di Ruang Sekuler

Banyak peserta gerakan masjid adalah perempuan bekerja yang menghadapi tantangan praktis setiap hari. Mahmood mencatat narasi tentang bagaimana mereka bergulat dengan praktik-praktik yang dianggap memiliki "kesalehan yang meragukan" (dubious piety), seperti harus berbagi kendaraan dengan lawan jenis atau berinteraksi dengan kolega pria dalam jarak dekat. Melalui diskusi di masjid, mereka tidak mencari pembebasan dari situasi tersebut, melainkan strategi untuk mempertahankan orientasi moral mereka kepada Tuhan di tengah lingkungan yang sekuler.

Negosiasi Etika di Ruang Sekuler

Etika Positif dan Performativitas Tubuh: Aristoteles dan Foucault

Salah satu kontribusi teoretis Mahmood yang paling orisinal adalah dialognya dengan konsep etika Aristotelian dan pemikiran Michel Foucault tentang "teknologi diri". Ia menentang pandangan yang memisahkan antara tindakan lahiriah (performa) dan keyakinan batin (interioritas).

Habitus dan Disposisi Etis

Mengacu pada konsep habitus yang diadaptasi dari Aristoteles (melalui pembacaan Foucault), Mahmood menjelaskan bahwa kebajikan moral tidak diperoleh melalui pencerahan intelektual semata, melainkan melalui pembiasaan praktik-praktik tubuh yang berulang. Dalam pandangan ini, tubuh bukanlah sekadar wadah bagi jiwa, melainkan sarana yang melaluinya jiwa dibentuk.
1. Praktik Salat: Bagi perempuan saleh, salat bukan sekadar ekspresi dari rasa takut kepada Tuhan. Sebaliknya, tindakan melakukan salat secara disiplin—meskipun pada awalnya terasa berat—dilakukan untuk menciptakan rasa takut dan cinta kepada Tuhan di dalam hati.
2. Ritual Menangis (Bakā’): Mahmood mendeskripsikan bagaimana para perempuan berusaha untuk menangis saat berdoa. Dalam logika liberal, ini mungkin dianggap sebagai kemunafikan atau sandiwara. Namun, dalam etika kesalehan, tindakan menangis secara sengaja dipandang sebagai teknik yang sah untuk memicu disposisi batin yang tulus.

Kritik terhadap Performativitas Judith Butler

Mahmood melakukan analisis kritis terhadap teori performativitas Judith Butler. Jika Butler melihat agensi muncul dari "penundukan" (subjection) yang memungkinkan subjek untuk menyelewengkan norma melalui repetisi yang tidak sempurna (subversi), Mahmood berargumen bahwa model ini tidak memadai untuk memahami gerakan masjid. Bagi perempuan Mesir ini, repetisi norma (seperti mengenakan hijab atau shalat) tidak dilakukan untuk menumbangkan norma tersebut, melainkan untuk menghuninya (inhabiting) secara total hingga norma tersebut menjadi struktur interioritas subjek. Agensi mereka ditemukan dalam keberhasilan untuk menjadi "stabil" dalam norma, bukan dalam mendestabilisasinya.

Studi Kasus Faktual: Narasi Abir dan Jamal

Konflik antara nilai-nilai liberal dan tradisional sering kali termanifestasi dalam ruang domestik. Mahmood menyajikan kisah tentang Abir, seorang peserta gerakan masjid, dan suaminya, Jamal. Abir memutuskan untuk mengenakan cadar penuh (niqab) sebagai bentuk komitmennya terhadap kesalehan yang lebih tinggi. Keputusan ini ditentang keras oleh Jamal, yang lebih suka jika istrinya berpakaian modis dan stylish sesuai dengan standar sosial modern di Kairo.

Paradoks Otoritas dan Kebebasan

Kisah ini menghadirkan sebuah paradox yang meruntuhkan biner sederhana tentang agensi:

  • Di satu sisi, secara tradisional, seorang istri diharapkan taat kepada suaminya. Namun, Abir menentang keinginan suaminya demi ketaatan yang lebih tinggi kepada Tuhan.
  • Tindakan Abir menentang suaminya dapat dilihat sebagai bentuk agensi yang mandiri. Namun, agensi ini digunakan bukan untuk memperjuangkan kebebasan berpakaian ala Barat, melainkan untuk memperjuangkan haknya untuk menundukkan diri pada aturan agama yang ketat.

Hal ini menunjukkan bahwa agensi perempuan di gerakan masjid tidak dapat diukur dengan parameter "kesetaraan gender" liberal. Abir tidak menuntut haknya sebagai individu yang bebas, melainkan menuntut haknya untuk menjadi hamba Tuhan yang sempurna, sebuah klaim yang memiliki dasar otoritas scriptural yang bahkan diakui oleh Jamal sendiri, sehingga menciptakan kebuntuan dalam argumen suaminya.

Konsep Al-Haya: Rasa Malu sebagai Kebajikan yang Dikultivasi

Kebajikan al-haya (rasa malu atau kesantunan) adalah salah satu contoh paling mendalam tentang bagaimana tubuh dan etika bersatu dalam karya Mahmood. Dalam budaya liberal, rasa malu sering dipandang sebagai hambatan bagi ekspresi diri perempuan. Namun, bagi para perempuan di masjid Kairo, al-haya adalah kualitas yang coveted (sangat diinginkan) dan harus dilatih secara aktif.

Konstruksi Rasa Malu Melalui Praktik

Mahmood menjelaskan bahwa rasa malu bagi mereka bukan sekadar emosi yang spontan, melainkan sebuah disiplin. Mereka belajar untuk menundukkan pandangan, merendahkan suara, dan menjaga gerak-gerik tubuh agar selaras dengan perasaan malu di hadapan Tuhan. Seorang peserta masjid mungkin akan memaksa dirinya untuk berperilaku malu—meskipun pada awalnya ia tidak merasakannya—dengan keyakinan bahwa tindakan badaniyah tersebut pada akhirnya akan membentuk karakter jiwanya menjadi benar-benar pemalu dan rendah hati. Di sini, agensi moral adalah kemampuan untuk menransformasi emosi diri agar sesuai dengan norma agama.

Interaksi dengan Negara Sekuler dan Politik Pengaturan

Meskipun gerakan masjid sering kali bersifat quietist (tidak terlibat langsung dalam politik kepartaian), keberadaan mereka merupakan tantangan signifikan bagi negara sekuler Mesir. Mahmood menguraikan bagaimana pemerintah Mesir merasa curiga terhadap intensitas kesalehan ini.

Regulasi Negara terhadap Masjid (1996)

Pada tahun 1996, parlemen Mesir mengesahkan undang-undang yang bertujuan untuk menasionalisasi sebagian besar masjid lingkungan. Kementerian Agama mulai mewajibkan semua orang yang ingin berkhotbah—baik laki-laki maupun perempuan—untuk mengikuti program pelatihan dua tahun yang dijalankan negara, terlepas dari latar belakang pendidikan agama mereka sebelumnya. Selain itu, pelajaran di masjid perempuan sering kali direkam dan dipantau oleh agen pemerintah, dan para guru dapat diberhentikan jika memberikan kritik terhadap kebijakan negara.

Tindakan represif ini menunjukkan bahwa negara sekuler tidak hanya memisahkan agama dari politik, tetapi secara aktif mencoba mengatur bentuk agama seperti apa yang diperbolehkan. Negara memandang "sosiabilitas Islam" yang dibentuk oleh gerakan masjid sebagai ancaman bagi stabilitas masyarakat sekuler-liberal yang ingin mereka amankan.

Kritik Akademis dan Tantangan terhadap Feminisme Teleologis

Karya Mahmood tidak luput dari kritik tajam, terutama dari kalangan feminis dan intelektual kiri di Timur Tengah maupun di Barat. Kritik-kritik ini memberikan dimensi tambahan dalam memahami dampak buku tersebut.

Perdebatan tentang Masa Depan Feminis

Beberapa kritikus, seperti Sindre Bangstad, berargumen bahwa analisis Mahmood tidak memberikan jalan keluar bagi politik feminis yang berkelanjutan untuk melawan penindasan struktural. Jika agensi hanya dipahami sebagai "menghuni norma", maka bagaimana perempuan dapat mengubah struktur patriarki yang benar-benar merugikan mereka? Kritikus lain menuduh Mahmood terjebak dalam "teodisi Panglossian"—sebuah pandangan yang seolah-olah meredam penderitaan perempuan dengan melabelinya sebagai "agensi".

Pembelaan terhadap Visi Anti-Teleologis

Sebagai balasan, para pendukung Mahmood berpendapat bahwa kritik tersebut terjebak dalam "feminisme teleologis"—sebuah kerangka yang menetapkan masa depan ideal tertentu bagi perempuan dan menolak segala bentuk kehidupan yang tidak menuju ke arah sana. Mahmood menantang asumsi bahwa kebebasan liberal adalah satu-satunya standar bagi "human flourishing" (pemenuhan hidup manusia). Ia mengajak para peneliti untuk memiliki kerendahhatian epistemik dan mengakui bahwa ada "dunia kehidupan" (lifeworlds) yang berbeda yang memerlukan analisis dengan istilah-istilah mereka sendiri, bukan hanya sebagai penyimpangan dari norma Barat.

Signifikansi Metodologis dan Filosofis

Politics of Piety bukan sekadar studi kasus tentang Mesir; buku ini adalah refleksi mendalam tentang disiplin antropologi itu sendiri. Mahmood menggugat kecenderungan para peneliti untuk "meromantisasi resistensi" dan memaksa subjek penelitian mereka untuk masuk ke dalam kategori-kategori politik yang sudah ditentukan sebelumnya.
1. Melampaui Biner Agama vs Sekuler: Mahmood menunjukkan bahwa kategori "agama" dan "sekuler" saling tumpang tindih secara mendalam. Praktik kesalehan di masjid menggunakan teknologi modern dan merespons kondisi sekuler, sementara negara sekuler menggunakan metode teologis untuk mengatur agama.
2. Etika sebagai Politik: Dengan menunjukkan bagaimana pembentukan diri individu memiliki konsekuensi pada tatanan publik, Mahmood mendefinisikan ulang apa yang dianggap sebagai "politik". Politik bukan hanya tentang kekuasaan negara, tetapi tentang cara-cara di mana subjek manusia dibentuk melalui relasi kekuasaan dan praktik etis.
3. Kritik terhadap Universalitas: Mahmood menantang gagasan bahwa ada keinginan universal untuk bebas dari subordinasi. Ia menunjukkan bahwa dalam banyak tradisi, subordinasi kepada kehendak ilahi atau otoritas moral justru merupakan kondisi yang memungkinkan bagi agensi dan pencapaian potensi manusia.

Kesimpulan dan Implikasi Luas

Secara keseluruhan, Politics of Piety merupakan sebuah karya yang memaksa kita untuk memikirkan kembali arti kebebasan, agensi, dan subjektivitas di dunia pascakolonial. Melalui etnografi yang teliti terhadap gerakan masjid perempuan di Kairo, Saba Mahmood berhasil menunjukkan bahwa kesalehan bukanlah sekadar kepatuhan pasif, melainkan sebuah proyek aktif dan kreatif dalam pembentukan diri. Meskipun tetap kontroversial, buku ini memberikan pelajaran berharga tentang pluralisme yang sesungguhnya: sebuah komitmen untuk memahami bentuk-bentuk kehidupan yang berbeda tanpa harus mereduksinya ke dalam standar kita sendiri.

Karya ini terus relevan dalam diskusi tentang hak asasi manusia, sekularisme, dan peran agama di ruang publik kontemporer. Ia mengingatkan kita bahwa upaya untuk "menyelamatkan" atau "membebaskan" orang lain sering kali berakar pada ketidakmampuan kita untuk mengenali agensi dalam bentuk-bentuk yang tidak kita kenali sebagai milik kita sendiri. Dengan demikian, Mahmood tidak hanya memberikan suara kepada perempuan di masjid Kairo, tetapi juga memberikan cermin bagi masyarakat Barat untuk melihat parokialisme dan bias dalam nilai-nilai universal yang mereka agungkan.

Sitasi:

Academia.edu. (2005). Book review of “Politics of piety: The Islamic revival and the feminist subject”. Diakses Maret 29, 2026, dari https://www.academia.edu/3359010/Book_Review_of_Politics_of_Piety_The_Islamic_Revival_and_the_Feminist_Subject_The_Herald_October_2005

Al-Raida Journal. (2005). Book review: Mahmood, S. (2005). Politics of piety. Diakses Maret 29, 2026, dari https://alraidajournal.lau.edu.lb/images/Book%20Review%20Mahmood%20S.%20%282005%29.pdf

Al-Raida Journal. (2005). Politics of piety: The Islamic revival and the feminist subject [PDF]. Diakses Maret 29, 2026, dari https://alraidajournal.lau.edu.lb/images/Politics%20of%20Piety%20The%20Islamic%20Revival%20and%20the%20Feminist%20Subject.pdf

Anthropology Berkeley. (n.d.). Politics of piety: The Islamic revival and the feminist subject. Diakses Maret 29, 2026, dari https://anthropology.berkeley.edu/politics-piety-islamic-revival-and-feminist-subject

Centre for Studies of Plural Societies. (n.d.). Book review: Saba Mahmood, Politics of piety. Diakses Maret 29, 2026, dari https://cspsindia.org/book-review-saba-mahmood-politics-of-piety-the-islamic-revival-and-the-feminist-subject

Cram. (n.d.). Politics of piety summary. Diakses Maret 29, 2026, dari https://www.cram.com/essay/Politics-Of-Piety-Summary/FJWGAMMXGR

Critical Muslim Studies. (n.d.). Remembering Saba Mahmood: Twenty years of Politics of piety. Diakses Maret 29, 2026, dari https://criticalmuslimstudies.co.uk/remembering-saba-mahmood-twenty-years-of-politics-of-piety/

Foucault Studies. (n.d.). Review: Saba Mahmood, Politics of piety. Diakses Maret 29, 2026, dari https://rauli.cbs.dk/index.php/foucault-studies/article/download/4130/4523/15895

Hypatia. (n.d.). Feminism and the Islamic revival: Freedom as a practice of belonging. Diakses Maret 29, 2026, dari https://www.cambridge.org/core/journals/hypatia/article/feminism-and-the-islamic-revival-freedom-as-a-practice-of-belonging/748DA1CA1500309D36F16E7516486486

Hypatia. (n.d.). From opposition to creativity: Saba Mahmood’s decolonial critique. Diakses Maret 29, 2026, dari https://www.cambridge.org/core/journals/hypatia/article/from-opposition-to-creativity-saba-mahmoods-decolonial-critique-of-teleological-feminist-futures/2066F4E6BA1A85C8CAA7926447009692

International Journal of Middle East Studies. (2005). Review of Politics of piety. Diakses Maret 29, 2026, dari https://www.cambridge.org/core/journals/international-journal-of-middle-east-studies/article/saba-mahmood-politics-of-piety-the-islamic-revival-and-the-feminist-subject-princeton-nj-princeton-university-press-2005-pp-249-5500-cloth-1795-paper/09016168EE8385EACF4A55F1B3525E92

Jadaliyya. (n.d.). Politics of piety: The Islamic revival and the feminist subject. Diakses Maret 29, 2026, dari https://www.jadaliyya.com/Details/23539

Journal.fi. (n.d.). Feminist theory, agency, and the liberatory subject. Diakses Maret 29, 2026, dari https://journal.fi/temenos/article/view/4633/12468

Mahmood, S. (2005). Politics of piety: The Islamic revival and the feminist subject. Princeton University Press.

Medium. (n.d.). Politics of piety, by Saba Mahmood. Diakses Maret 29, 2026, dari https://medium.com/undaaj/politics-of-piety-by-saba-mahmood-56b59256448a

Notevenpast.org. (n.d.). Politics of piety: The Islamic revival and the feminist subject. Diakses Maret 29, 2026, dari https://notevenpast.org/politics-piety-islamic-revival-and-feminist-subject-2004/

Radical Philosophy. (2019). The radical intellectual legacy of Saba Mahmood. Diakses Maret 29, 2026, dari https://www.radicalphilosophy.com/wp-content/uploads/2019/09/rp205_kapur_mahmood.pdf

ResearchGate. (n.d.). Feminist theory, agency, and the liberatory subject. Diakses Maret 29, 2026, dari https://www.researchgate.net/publication/286976058_Feminist_Theory_Agency_and_the_Liberatory_Subject_Some_Reflections_on_the_Islamic_Revival_in_Egypt

ResearchGate. (n.d.). Piety, practice and habitus. Diakses Maret 29, 2026, dari https://www.researchgate.net/publication/338011942_Piety_Practice_and_Habitus_Saba_Mahmood's_Dialogue_with_Aristotle_and_His_Legacy

Rethinking Revolution. (n.d.). Politics of piety: The Islamic revival and the feminist subject [PDF]. Diakses Maret 29, 2026, dari https://rethinkingrevolution.wordpress.com/wp-content/uploads/2014/01/mahmood-saba_politics-of-piety-the-islamic-revival-and-the-feminist-subject_ch-agency.pdf

ScholarBlogs. (2018). Precis: Mahmood, Politics of piety. Diakses Maret 29, 2026, dari https://scholarblogs.emory.edu/religiousexperience2018/2018/11/27/precis-mahmood-politics-of-piety-and-mittemaier-dreams-from-elsewhere-chelsea-mak/

ScholarBlogs. (2024). Saba Mahmood: The politics of piety. Diakses Maret 29, 2026, dari https://scholarblogs.emory.edu/moralworlds/2024/10/16/saba-mahmood-the-politics-of-piety/

Society for Cultural Anthropology. (n.d.). Feminist theory, embodiment, and the docile agent. Diakses Maret 29, 2026, dari https://www.culanth.org/fieldsights/feminist-theory-embodiment-and-the-docile-agent-some-reflections-on-the-egyptian-islamic-revival

The University of Texas at Austin. (2004). Politics of piety: The Islamic revival and the feminist subject [PDF]. Diakses Maret 29, 2026, dari https://repositories.lib.utexas.edu/bitstreams/4205cf0d-0e35-482d-a621-10112f3c51bb/download

VU University Repository. (n.d.). Politics of piety [PDF]. Diakses Maret 29, 2026, dari https://www.repository.ubvu.vu.nl/e-syllabi/Politics_of_piety.pdf

Aletheia Rabbani
Aletheia Rabbani “Barang siapa yang tidak mampu menahan lelahnya belajar, maka ia harus mampu menahan perihnya kebodohan” _ Imam As-Syafi’i

Post a Comment