Kritik Nalar Islam Muhammad Arkoun: Analisis Arkeologi Epistemologi dalam Pemikiran Islam Kontemporer

Table of Contents

Critique de la raison islamique karya Mohammed Arkoun
Fenomena stagnasi intelektual dalam peradaban Islam kontemporer telah menjadi perhatian utama bagi berbagai pemikir pembaruan, namun sedikit yang melakukan pembedahan sedalam Muhammad Arkoun melalui karyanya yang monumental, Critique de la raison islamique atau Kritik Nalar Islami. Proyek intelektual ini bukan sekadar upaya melakukan tafsir ulang terhadap teks-teks suci, melainkan sebuah upaya radikal untuk membongkar struktur fundamental dari nalar yang menghasilkan pemikiran tersebut. Arkoun memandang bahwa apa yang kita sebut sebagai "pemikiran Islam" saat ini sebenarnya adalah hasil dari proses sejarah yang panjang, di mana nalar telah dikungkung oleh kepentingan politik, ideologi, dan ortodoksi yang membeku.

Keunikan posisi Arkoun terletak pada latar belakang multidimensionalnya sebagai seorang intelektual yang tumbuh dalam tradisi Berber di Aljazair, belajar di bawah bimbingan para biarawan Kristen, mendalami bahasa dan sastra Arab di Oran, hingga akhirnya menjadi profesor di Universitas Sorbonne, Paris. Posisi ini memungkinkan Arkoun untuk menjembatani kesenjangan antara epistemologi Barat modern dengan tradisi intelektual Arab-Islam klasik. Dalam pandangannya, krisis masyarakat Muslim saat ini berakar pada ketidakharmonisan antara realitas sosial yang telah berubah total dengan model pembacaan teks keagamaan yang masih terjebak pada paradigma abad pertengahan. Oleh karena itu, Arkoun menawarkan sebuah proyek besar untuk membebaskan nalar Islam dari "sangkar dogmatis" yang kaku guna menghidupkan kembali semangat humanisme dan kreativitas intelektual.

Genealogi Pemikiran dan Konteks Historis Penulisan

Karya Critique of Islamic Reason lahir dari sebuah kegelisahan akademik atas kemacetan ijtihad yang telah berlangsung selama berabad-abad. Arkoun mengamati bahwa nalar Islam telah mengalami proses "penutupan" yang sistematis, terutama setelah abad ke-4 Hijriah, sebuah periode yang ia sebut sebagai masa kejayaan humanisme Arab (al-insiyah al-arabiyah). Pada masa itu, nalar masih sangat terbuka terhadap berbagai pengaruh luar, termasuk filsafat Yunani, namun dinamika ini kemudian dihancurkan oleh dominasi ortodoksi yang didukung oleh kekuasaan politik untuk menciptakan stabilitas sosial melalui penyeragaman pemikiran.

Arkoun sangat dipengaruhi oleh perkembangan ilmu-ilmu sosial di Perancis, terutama pendekatan dekonstruksi Jacques Derrida, arkeologi pengetahuan Michel Foucault, serta teori hermeneutika Paul Ricoeur. Ia juga mengadopsi metode dari sekolah sejarah Annales yang menekankan pada sejarah jangka panjang (longue durée) dan struktur mentalitas masyarakat. Dengan perangkat-perangkat ini, Arkoun tidak lagi melihat teks sebagai entitas yang sakral dan terpisah dari sejarah, melainkan sebagai fenomena sejarah yang harus dibedah menggunakan pisau analisis linguistik, sosiologi, dan antropologi.

Konteks penulisan buku ini juga dipengaruhi oleh situasi pasca-kolonial di dunia Arab. Arkoun melihat bahwa banyak gerakan pembaruan Islam justru terjebak dalam apologetika atau fundamentalisme yang ekstrem karena mereka tidak memiliki basis epistemologis yang kuat untuk berdialog dengan modernitas. Ia mengkritik tokoh-tokoh seperti Muhammad Abduh yang dianggapnya masih bertindak layaknya seorang apologet yang belum mampu menyentuh lapisan terdalam dari geologi pemikiran Islam. Kritik nalar Islam dengan demikian dimaksudkan sebagai upaya untuk menyediakan landasan teoretis bagi pembangunan kembali masyarakat Muslim yang lebih inklusif dan progresif.

Trilogi Epistemologis: Pemetaan Ruang Pemikiran Manusia

Salah satu kontribusi paling krusial dalam karya Arkoun adalah pemetaan ruang pemikiran ke dalam tiga kategori utama: yang terpikirkan (the thinkable), yang tidak terpikirkan (the unthought), dan yang tidak dapat dipikirkan (the unthinkable). Kategorisasi ini digunakan untuk menganalisis bagaimana ortodoksi agama bekerja dalam membatasi kreativitas nalar manusia.

Perbandingan Kategori Pemikiran dalam Perspektif Arkoun

Perbandingan Kategori Pemikiran dalam Perspektif Arkoun
Kategori the unthinkable dalam pemikiran Islam kontemporer telah diperluas sedemikian rupa sehingga banyak hal yang bersifat ilmiah-kritis sering kali ditolak begitu saja karena dianggap mengancam stabilitas iman atau dogma. Arkoun berargumen bahwa wilayah ini sengaja diciptakan oleh otoritas keagamaan untuk menjamin agar versi Islam yang dogmatis tetap terlindungi dari analisis kritis. Sebaliknya, the unthought menyimpan kekayaan tradisi yang sebenarnya bisa menjadi sumber pembaruan jika nalar diberikan kebebasan untuk menggalinya kembali. Proyek besar Arkoun bertujuan untuk menjadikan hal-hal yang semula unthinkable menjadi thinkable kembali dengan menggunakan bantuan sains modern.

Metodologi Islamologi Terapan: Sinergi Multidisiplin

Arkoun menawarkan sebuah metodologi yang ia sebut sebagai "Islamologi Terapan" (Applied Islamology). Metodologi ini bukan sekadar studi tentang agama, melainkan sebuah refleksi kritis yang mengakui keterbatasannya sendiri dan berupaya mengangkat aspek-aspek yang terlupakan dalam pemikiran Islam. Islamologi Terapan menuntut penggunaan berbagai disiplin ilmu secara simultan untuk membedah teks dan tradisi secara utuh.

Kerangka Metodologis Islamologi Terapan

Metode ini melibatkan beberapa pendekatan utama yang saling terintegrasi dalam analisis teks dan realitas sosial:

  • Analisis Linguistik-Semiotik: Arkoun menekankan pentingnya mengeksplorasi makna kata dan struktur sintaksis Al-Qur'an sebagai sistem tanda dan simbol. Ia berargumen bahwa Al-Qur'an menyediakan kemungkinan makna yang tidak terbatas, namun makna tersebut sering kali disempitkan oleh penafsiran tunggal yang bersifat logosentris. Melalui pendekatan semiotik, Arkoun berupaya mencapai makna terdalam yang terbebas dari kepentingan ideologis jangka pendek.
  • Pendekatan Sejarah-Antropologi: Pendekatan ini melihat wahyu sebagai bagian dari sejarah kehidupan manusia yang nyata. Arkoun menganalisis bagaimana teks suci berinteraksi dengan realitas budaya, struktur sosial, dan "angan-angan kolektif" masyarakat Arab pada abad ke-7. Ia menantang pandangan ahistoris yang menganggap teks turun dalam ruang hampa udara tanpa dipengaruhi oleh dinamika sosiokultural sekitarnya.
  • Arkeologi Pemikiran dan Kritik Sastra: Terinspirasi oleh Foucault, Arkoun menggali lapisan-lapisan epistemologis untuk menemukan titik di mana nalar mulai membeku menjadi dogma. Selain itu, ia memperlakukan Al-Qur'an sebagai karya sastra yang memukau, di mana keindahan bahasanya memiliki fungsi komunikatif yang lebih luas daripada sekadar penyampaian hukum formal.

Tujuan akhir dari penggunaan metodologi yang kompleks ini adalah emansipasi nalar politik dan rekonstruksi radikal terhadap pikiran serta masyarakat Muslim kontemporer. Arkoun percaya bahwa dengan menggunakan alat-alat analisis yang tepat, umat Muslim dapat membedakan mana pesan transenden yang abadi dan mana konstruksi manusiawi yang bersifat historis-aksidental.

Arkeologi Wahyu: Dari Wacana Kenabian ke Korpus Resmi Tertutup

Dalam Critique of Islamic Reason, Arkoun melakukan analisis yang sangat mendalam terhadap sejarah pembentukan Al-Qur'an sebagai sebuah teks. Ia membedakan antara "Fakta Al-Qur'an" (fait coranique) dan "Fakta Islam" (fait islamique). Fakta Al-Qur'an merujuk pada peristiwa linguistik lisan yang terjadi selama masa kenabian Muhammad, sementara Fakta Islam adalah seluruh sistem kepercayaan, hukum, dan institusi yang dibangun di atas teks tersebut setelah masa kenabian berakhir.

Fase Transformasi Wahyu dalam Analisis Arkoun

Arkoun membagi perjalanan wahyu ke dalam empat fase utama yang menunjukkan adanya pergeseran status dari yang lisan ke yang tertulis:
1. Firman Tuhan (Kalam Allah): Merupakan level tertinggi wahyu yang bersifat transenden, tidak terbatas, dan berada di luar jangkauan kognisi manusia seutuhnya.
2. Diskursus Kenabian (Prophetic Discourse): Wahyu dalam bentuk komunikasi lisan yang dinamis antara Tuhan (pembicara) dan Nabi (pendengar) dalam konteks lingkungan semiologis Arab abad ke-7. Tahap ini bersifat terbuka dan memiliki kemungkinan makna yang cair.
3. Korpus Resmi Tertutup (Closed Official Corpus/OCC): Ini adalah fase krusial di mana wahyu yang semula lisan dikodifikasi dan dibukukan menjadi Mushaf Utsmani. Arkoun menekankan bahwa pembentukan korpus ini sangat bergantung pada "agen sosial dan politik" (khilafah), yang bertujuan untuk menciptakan kesatuan ideologis di tengah masyarakat yang heterogen.
4. Korpus Penafsiran (Corpus of Interpretation): Seluruh khazanah tafsir, fikih, dan teologi yang diproduksi oleh para ulama untuk menjelaskan OCC tersebut.

Arkoun berargumen bahwa perubahan dari wacana lisan (parole) menjadi teks tertulis (langue) telah mengakibatkan "pembakuan penafsiran". Dalam pandangannya, teks yang semula bersifat hidup dan terbuka secara bertahap dipaksa menjadi sistem bahasa yang statis dan tertutup demi kepentingan stabilitas kekuasaan. Dekonstruksi Arkoun bertujuan untuk membuka kembali gerbang OCC ini agar umat Muslim dapat merasakan kembali "suasana wahyu" yang segar dan memanfaatkannya sebagai sumber inspirasi untuk menjawab masalah kontemporer, bukan sekadar menjadikannya alat legitimasi dogmatis.

Kritik Terhadap Otoritas Tradisional: Kasus al-Shafi'i dan al-Risalah

Kritik nalar Islam yang dilakukan Arkoun juga menyasar pada pilar-pilar utama sistem hukum Islam. Ia secara khusus menyoroti peran Imam al-Shafi'i sebagai tokoh yang paling bertanggung jawab dalam membekukan nalar ijtihad melalui karyanya, al-Risalah. Sebelum al-Shafi'i, para fuqaha awal memiliki cara berpikir yang lebih liberal dan fleksibel yang sangat bergantung pada opini pribadi (ra'yu) serta analogi insting yang terikat pada realitas sosial.

Namun, al-Shafi'i melakukan kristalisasi literatur usul al-fiqh dengan menetapkan hirarki sumber hukum yang sangat ketat: Al-Qur'an, Sunnah, Ijma', dan Qiyas. Dalam pandangan Arkoun, standarisasi ini memang memberikan kepastian hukum, namun di sisi lain telah mematikan fungsi kritis nalar karena segala sesuatunya harus dikembalikan pada otoritas teks yang didefinisikan secara sempit. Arkoun menyesalkan bahwa kemenangan ortodoksi Hanbali dan teologi fatalistik Ash'ariyah di kemudian hari semakin memperparah kekalahan nalar ini. Ia berargumen bahwa teologi Mu'tazila yang rasional, yang mengedepankan tanggung jawab manusia dan keadilan Tuhan, seharusnya menjadi landasan bagi nalar Islam yang lebih maju, namun sayangnya tradisi ini dihancurkan oleh proskripsi penguasa dan ulama tradisionalis.

Contoh Faktual I: Dekonstruksi "Ayat Pedang" (QS 9:5)

Untuk memberikan penjelasan yang lebih rinci mengenai bagaimana metodologinya bekerja, Arkoun memberikan contoh analisis terhadap QS 9:5, yang populer dikenal sebagai "Ayat Pedang". Ayat ini sering digunakan oleh kelompok ekstremis untuk menjustifikasi kekerasan, serta oleh kritikus Barat untuk memojokkan Islam sebagai agama yang tidak toleran. Arkoun menolak kedua pembacaan tersebut karena dianggap sama-sama ahistoris dan ideologis.

Melalui pembacaan sosio-kultural, Arkoun menjelaskan bahwa perintah kekerasan dalam ayat tersebut harus dipahami dalam konteks ethos masyarakat Arab abad ke-7. Pada masa itu, konsep "kejayaan" (glory) dan "kemenangan" melalui perang adalah nilai yang sangat dihargai dan telah tertanam kuat dalam memori kolektif masyarakat melalui legenda dan mitos pra-Islam.

Critique de la raison islamique karia Mohammed Arkoun
Arkoun menyimpulkan bahwa kekerasan tersebut tidak memiliki dasar teologis yang absolut dalam Al-Qur'an. Dengan membongkar lapisan mitos dan ideologi yang menempel pada ayat tersebut, ia ingin menunjukkan bahwa esensi pesan Islam sebenarnya adalah kedamaian dan keadilan, sementara unsur kekerasan yang ada dalam teks bersifat situasional dan terikat pada sejarah masa lalu.

Contoh Faktual II: Arkeologi Ritual Haji

Contoh faktual lain yang dibahas Arkoun dalam kerangka kritik nalar adalah ritual Haji. Ia menggunakan Haji untuk mengilustrasikan transisi dari "Fakta Al-Qur'an" ke "Fakta Islam" serta bagaimana sebuah ritual dapat mengalami "rutinisasi" yang menghilangkan makna aslinya. Arkoun menganalisis Haji bukan hanya sebagai kewajiban agama, tetapi sebagai sebuah sistem simbolik yang kompleks yang memiliki akar pada sejarah pra-Islam.

Arkoun menunjukkan bahwa ritual-ritual seperti mengelilingi Ka'bah atau melempar jumrah adalah praktik yang telah ada sebelum Islam, namun kemudian diberi makna baru oleh Nabi Muhammad melalui proses sinkretisme yang didasari oleh iman monoteistik yang kuat. Namun, dalam sejarah pengembangannya sebagai "Fakta Islam", ritual ini kemudian dibakukan secara administratif dan ideologis oleh kekuasaan.

Critique de la raison islamique karia Mohammed Arkoun
Melalui analisis haji ini, Arkoun ingin menunjukkan bahwa ritual-ritual dalam Islam sering kali diselimuti oleh "angan-angan kolektif" yang mengaburkan esensi transendennya. Kritik nalar Islam berupaya membongkar konstruksi ideologis tersebut agar umat Muslim dapat menemukan kembali makna spiritual yang benar-benar relevan bagi transformasi diri dan masyarakat.

Contoh Faktual III: Hermeneutika Eksistensial Kisah Nabi Yusuf

Analisis Arkoun terhadap Surat Yusuf (Sura ke-12) memberikan gambaran paling lengkap tentang bagaimana dekonstruksi linguistik dan antropologis diterapkan pada narasi Al-Qur'an. Alih-alih mengikuti alur cerita secara kronologis, Arkoun mencari tema-tema fundamental seperti kebebasan, aliansi antara Tuhan dan manusia, serta perubahan status ontologis manusia sebelum dan sesudah menerima wahyu.

Beberapa poin penting dalam dekonstruksi kisah ini meliputi :

  • Status Ghafil (Lalai): Arkoun memulai analisisnya dari kata ghafil pada ayat 3, yang ia terjemahkan sebagai kondisi kurang perhatian atau santai. Wahyu hadir untuk memutus kelalaian ini dan membawa manusia ke tingkat kesadaran baru tentang realitas ilahi.
  • Kebebasan Baru Yusuf: Arkoun mendekonstruksi karakter Yusuf sebagai pahlawan yang mampu memutus ikatan tradisi lama (seperti loyalitas buta pada keluarga atau kelompok tribal) demi penegasan diri di lingkungan yang asing (Mesir). Ini dipandang sebagai metafora bagi individu Muslim yang harus berani keluar dari kungkungan tradisi usang untuk menjadi "orang merdeka" (free person).
  • Aliansi Kreatif dengan Tuhan: Konsep tawakkul dalam kisah Yusuf dianalisis bukan sebagai kepasrahan yang malas, melainkan sebagai aktivitas yang tercerahkan di mana kehendak pribadi manusia berjalan selaras dengan kehendak Ilahi yang membebaskan.

Analisis ini menunjukkan bahwa Al-Qur'an bukan sekadar buku hukum, melainkan sebuah diskursus yang mengajak manusia untuk terus melakukan pencarian makna di tengah tantangan zaman yang berubah. Arkoun berupaya melepaskan kisah ini dari tafsir mitis-tradisional yang hanya mementingkan aspek moralitas permukaan, menuju pemahaman yang menyentuh dimensi eksistensial manusia.

Contoh Faktual IV: Dekonstruksi Konsep "Ahl al-Kitab" dan Pluralisme

Kritik nalar Arkoun juga memiliki implikasi besar dalam isu hubungan antaragama, terutama melalui dekonstruksi konsep "Ahl al-Kitab" (Ahli Kitab). Tradisi klasik cenderung membatasi status ini hanya pada Yahudi dan Kristen, yang sering kali digunakan untuk menciptakan batasan teologis yang eksklusif. Arkoun mengajak untuk melihat konsep ini secara lebih dinamis dan inklusif.

Arkoun berargumen bahwa sebutan "Ahli Kitab" dalam Al-Qur'an sebenarnya merupakan pengakuan terhadap tradisi monoteisme universal yang melampaui sekat-sekat institusi agama formal. Ia mengusulkan pergeseran dari paradigma "Ahli Kitab" yang kaku menuju konsep "Masyarakat Berkitab" (Societies of the Book) yang menghargai keragaman ekspresi iman manusia.

Critique de la raison islamique karia Mohammed Arkoun
Arkoun percaya bahwa banyak ketegangan antaragama saat ini disebabkan oleh ketidakmampuan nalar Islam untuk keluar dari logika pertahanan teologis abad pertengahan. Dengan melakukan dekonstruksi terhadap fondasi epistemologis yang eksklusif, umat Muslim dapat membangun kembali tradisi pluralisme yang pernah berjaya pada masa humanisme Arab klasik.

Tantangan dan Relevansi bagi Masa Depan Pemikiran Islam

Proyek Kritik Nalar Islami Muhammad Arkoun tentu tidak lepas dari berbagai tantangan berat. Pemikirannya sering kali dianggap terlalu radikal atau kontroversial oleh kalangan ulama tradisional karena dianggap menggoyahkan fondasi kesucian agama. Kritikus juga sering menuding bahwa metodologinya terlalu berbau Barat dan mengabaikan otentisitas tradisi Islam. Selain itu, bahasa teoretisnya yang rumit membuatnya sulit dipahami oleh masyarakat luas.

Namun, relevansi pemikiran Arkoun tetap sangat kuat di era globalisasi ini. Di Indonesia, misalnya, gagasannya telah memberikan inspirasi bagi pengembangan pendidikan Islam yang lebih kritis dan terintegrasi dengan ilmu pengetahuan modern. Reorientasi tujuan pendidikan yang ia usulkan bertujuan untuk melahirkan lulusan yang tidak hanya ahli dalam teks agama, tetapi juga peka terhadap dinamika sosiokultural.

Ringkasan Kontribusi Intelektual Arkoun

  • Penyediaan Kerangka Kerja Kritis: Memberikan alat analisis multidisiplin untuk membedah teks dan tradisi secara objektif dan ilmiah.
  • Revitalisasi Humanisme: Mengajak umat Muslim untuk menghidupkan kembali semangat kreativitas intelektual dan toleransi yang pernah ada dalam sejarah.
  • Emansipasi Nalar: Membebaskan pemikiran Islam dari cengkeraman ideologi kekuasaan dan dogmatisme yang membeku.
  • Jembatan Antar-Peradaban: Menawarkan basis teoretis bagi dialog yang lebih bermartabat antara dunia Islam dan Barat berdasarkan saling pengertian epistemologis.

Secara keseluruhan, karya Critique of Islamic Reason merupakan sebuah seruan untuk melakukan "rekonstruksi radikal" terhadap cara umat Muslim berpikir tentang agama dan dunianya. Arkoun tidak ingin umat Islam meninggalkan agamanya, melainkan ia ingin umat Islam memiliki nalar yang sehat, kritis, dan berdaya guna agar pesan-pesan suci wahyu dapat kembali menjadi kekuatan penggerak bagi kemajuan kemanusiaan di masa kini dan masa depan. Keberanian Arkoun untuk menjelajahi wilayah yang semula unthinkable adalah sebuah warisan intelektual yang sangat berharga bagi generasi pemikir Islam selanjutnya dalam menghadapi tantangan zaman yang terus berubah. Kesadaran akan historisitas dan komitmen pada kebenaran ilmiah adalah jalan yang ditawarkan Arkoun untuk mengakhiri masa kekalahan nalar dalam peradaban Islam.

Sitasi:

Adis Duderija. (2026). How Mohammed Arkoun revolutionised Qur'anic hermeneutics. New Age Islam. https://www.newageislam.com/islamic-personalities/adis-duderija-new-age-islam/how-mohammed-arkoun-revolutionised-quranic-hermeneutics/d/135185

Arkoun, M. (2002). The unthought in contemporary Islamic thought. Saqi Books.

Arkoun's thought of humanity: A new bridging toward Islamic and Western civilization. (2015). https://www.makhillpublications.co/files/published-files/mak-tss/2015/6-1560-1573.pdf

Arkoun and the defeat of reason in Islam. (2022). Almuslih. https://almuslih.org/blog/2022/10/13/arkoun-and-the-defeat-of-reason-in-islam-2-2/

Deconstructing the concept of Ahlul Kitab: A critical analysis of Muhammad Arkoun's thought in the context of interfaith. (n.d.). https://ejournal.iainkendari.ac.id/index.php/zawiyah/article/view/11741/3782

Dictionary of encounter. (n.d.). Brill. https://brill.com/edcollchap-oa/book/9783657797295/BP000028.pdf

Epistemologi Muhammad Arkoun dan relevansinya bagi pemikiran keislaman. (n.d.). https://www.jurnalannur.ac.id/index.php/An-Nur/article/download/42/43

Hermeneutika Al-Qur'an menurut Mohammed Arkoun. (n.d.). https://jurnal.uin-antasari.ac.id/index.php/ushuluddin/article/view/704/pdf_23

How to read the Quran in religious Islamic education: What perspectives from Arkoun’s thought? (2023). MDPI. https://www.mdpi.com/2077-1444/14/1/129

International Journal of Research. (n.d.). https://www.ojs.iaisumbar.ac.id/index.php/ijr/article/download/343/185

Konstruksi pemikiran Mohammed Arkoun tentang masyarakat modern. (n.d.). https://ejournal.edutechjaya.com/index.php/khidmat/article/download/1108/834/3438

Kritik rasionalisme Mohammed Arkoun terhadap budaya intelektual Islam. (n.d.). https://riset-iaid.net/index.php/tajdid/article/download/1161/845

Metodologi Mohammed Arkoun dalam diskursus pemikiran Islam. (n.d.). https://e-journal.uac.ac.id/index.php/almada/article/download/4484/1600

Mohammed Arkoun: A modern critic of Islamic reason. (n.d.). Qantara. https://qantara.de/en/article/mohammed-arkoun-modern-critic-islamic-reason

Mohammed Arkoun's renewal method for reading the Qur'an and Islamic sciences. (n.d.). https://ejournal.unisi.ac.id/index.php/syahadah/article/download/4688/1940/

Mohammed Arkoun's thought on contemporary Islamic studies. (n.d.). Semantic Scholar. https://pdfs.semanticscholar.org/a2ba/181819d84970bead42ca8e03c2f3e666a888.pdf

Navigating contemporary Islamic reason: An epistemological analysis of Mohammed Arkoun. (2024). https://jurnal.ar-raniry.ac.id/index.php/jpi/article/view/23080

Navigating contemporary Islamic reason: An epistemological analysis of Mohammed Arkoun. (2024). ResearchGate. https://www.researchgate.net/publication/382644954_Navigating_Contemporary_Islamic_Reason_An_Epistemological_Analysis_of_Mohammed_Arkoun

Nalar Islam kontemporer Mohammed Arkoun. (n.d.). https://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/17169/1/1320510025_bab-i_iv-atau-v_daftar-pustaka.pdf

Pandangan modern Islam dalam pemikiran Muhammad Arkoun. (n.d.). https://digilib.uin-suka.ac.id/3448/1/BAB%20I%2CV.pdf

Quranic affirmation of the Torah and Zabur as an interreligious tool. (2026). New Age Islam. https://www.newageislam.com/interfaith-dialogue/quranic-affirmation-torah-zabur-interreligious-jewish-muslim-dialogue/d/138610

Reading Muhammad Arkoun's thought on Islamic studies. (n.d.). Journal UII. https://journal.uii.ac.id/IJIIS/article/download/27200/14619/83118

Relevansi pemikiran Mohammed Arkoun dalam pendidikan Islam di Indonesia. (n.d.). SYAMIL: Journal of Islamic Education. https://journal.uinsi.ac.id/index.php/syamil/article/view/988

Rethinking Islam. (n.d.). Wikipedia. https://en.wikipedia.org/wiki/Rethinking_Islam

Samdani. (n.d.). Hermeneutika Al-Qur'an menurut Mohammed Arkoun. https://jurnal.uin-antasari.ac.id/index.php/ushuluddin/article/view/704/pdf_23

The critique of Arab thought: Mohammed Arkoun's deconstruction method. (n.d.). ResearchGate. https://www.researchgate.net/publication/47406993_THE_CRITIQUE_OF_ARAB_THOUGHT_MOHAMMED_ARKOUN'S_DECONSTRUCTION_METHOD

The unthought in contemporary Islamic thought. (n.d.). Google Books. https://books.google.com/books/about/The_Unthought_in_Contemporary_Islamic_Th.html

The unthought in contemporary Islamic thought. (n.d.). Scribd. https://www.scribd.com/document/137662571/Unthought-in-Contemporary-Islamic-Thought

Aletheia Rabbani
Aletheia Rabbani “Barang siapa yang tidak mampu menahan lelahnya belajar, maka ia harus mampu menahan perihnya kebodohan” _ Imam As-Syafi’i

Post a Comment