Sintesis Rasionalisme dan Wahyu dalam Risālat al-Tawḥīd: Analisis Pemikiran Muḥammad ‘Abduh

Table of Contents

Risālat al-Tawḥīd karya Muḥammad ‘Abduh
Abad ke-19 merupakan periode krusial bagi peradaban Islam, ditandai dengan benturan keras antara tradisi yang stagnan dan modernitas Barat yang ekspansif. Di tengah krisis identitas dan intelektual ini, muncul sebuah karya teologis yang mengubah arah pemikiran Islam modern, yaitu Risālat al-Tawḥīd karya Muḥammad ‘Abduh. Karya ini bukan sekadar risalah teologi konvensional; ia adalah manifesto intelektual yang berupaya meruntuhkan tembok kejumutan (jumud) dan membangkitkan kembali semangat rasionalisme dalam Islam. Melalui Risālat al-Tawḥīd, ‘Abduh mencoba membuktikan bahwa iman tidak harus mengorbankan akal, dan bahwa wahyu Tuhan justru merupakan pendorong utama bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan peradaban.

Dinamika Sosio-Intelektual dan Latar Belakang Kelahiran Karya

Kelahiran Risālat al-Tawḥīd tidak dapat dipisahkan dari kondisi objektif umat Islam pada akhir abad ke-19. Dunia Islam saat itu berada di bawah tekanan kolonialisme Eropa, baik secara fisik maupun intelektual. Di Mesir, lembaga-lembaga pendidikan tradisional seperti Al-Azhar terjebak dalam metode pembelajaran yang hanya menekankan hafalan teks-teks klasik tanpa upaya kontekstualisasi. Fenomena taqlid, yaitu mengikuti pendapat ulama terdahulu secara buta tanpa memahami dalilnya, telah menjadi norma yang menghambat perkembangan pemikiran ijtihadi.

Muḥammad ‘Abduh, yang lahir pada tahun 1849 di desa Mahallat al-Nasr, tumbuh dalam lingkungan yang sangat menghargai pendidikan agama namun juga merasakan kekakuan sistem tersebut. Pengalaman belajarnya di Tanta yang membosankan sempat membuatnya ingin meninggalkan dunia pendidikan dan kembali menjadi petani. Namun, pertemuannya dengan Syaikh Darwisy Khadr dan kemudian dengan Jamaluddin al-Afghani mengubah orientasi hidupnya dari tasawuf yang menjauhi dunia menjadi aktivisme sosial-politik dan pembaruan intelektual.

Risālat al-Tawḥīd disusun berdasarkan materi perkuliahan yang diberikan ‘Abduh di sekolah Al-Madrasa al-Sulṭāniyya, Beirut, antara tahun 1885 hingga 1888, selama masa pengasingannya akibat keterlibatan dalam gerakan nasionalis Urabi. Beirut pada masa itu adalah pusat pertemuan berbagai arus pemikiran, termasuk misionaris Kristen dan intelektual Barat, yang memaksa ‘Abduh untuk merumuskan teologi Islam yang mampu berdialog dengan skeptisisme dan sains modern. Catatan-catatan kuliah ini kemudian disunting oleh saudaranya dan dipublikasikan pada tahun 1897, menjadi karya puncak yang merefleksikan kematangan pemikiran teologisnya.

Risālat al-Tawḥīd karya Muḥammad ‘Abduh

Sistematika dan Struktur Isi Risālat al-Tawḥīd

Secara struktural, Risālat al-Tawḥīd dirancang sebagai sebuah eksposisi lengkap tentang agama Islam, melampaui sekadar katekismus atau buku dogma sederhana. Kitab ini mencakup spektrum luas mulai dari filsafat ketuhanan, moralitas, hingga fungsi sosial agama dalam membangun peradaban. Sistematika penulisan ‘Abduh mengikuti alur logis yang berupaya membangun keyakinan melalui argumentasi rasional sebelum masuk ke ranah wahyu.

Bagian Prolegomena dan Sejarah Teologi

Kitab diawali dengan prolegomena yang sangat kritis terhadap sejarah pemikiran Islam. ‘Abduh membedah bagaimana pada masa awal (Salaf), Islam dipahami secara murni dan sederhana berdasarkan akal dan wahyu yang seimbang. Namun, seiring berjalannya waktu, masuknya filsafat Yunani yang tidak terfilter dengan baik dan munculnya fanatisme sektarian melahirkan perdebatan kalam yang rumit dan menjauhkan umat dari esensi agama. Ia mencatat munculnya berbagai golongan seperti Mu'tazilah, Asy'ariyah, hingga kaum Kebatinan yang dianggap berkontribusi pada fragmentasi intelektual umat.

Tujuan dari tinjauan sejarah ini adalah untuk mengajak pembaca kembali kepada metode pemahaman Salaf yang dianggapnya lebih otentik dan rasional. ‘Abduh memandang bahwa kejayaan Islam di masa lalu didorong oleh kebebasan berpikir, sementara kemunduran saat ini disebabkan oleh penutupan pintu ijtihad dan adopsi khurafat. Ia menegaskan bahwa tauhid bukan sekadar pengakuan akan keesaan Tuhan, tetapi sebuah prinsip penyatuan yang harus tercermin dalam kesatuan sosial dan kemajuan peradaban.

Struktur Tematik Berdasarkan Analisis Bab

Meskipun penyajiannya bersifat naratif, Risālat al-Tawḥīd dapat dibagi ke dalam klaster tema besar yang mencakup sekitar 101 poin bahasan dalam edisi terjemahannya. Pembagian ini menunjukkan kedalaman cakupan materi yang dibahas oleh ‘Abduh.

Risālat al-Tawḥīd karya Muḥammad ‘Abduh

Fondasi Epistemologis: Integrasi Akal dan Wahyu

Inti dari pemikiran teologis ‘Abduh dalam Risālat al-Tawḥīd adalah penempatan akal pada posisi yang sangat terhormat. Ia berkeyakinan bahwa tidak ada pertentangan hakiki antara akal sehat dan wahyu yang benar karena keduanya berasal dari sumber yang sama, yaitu Allah. Keyakinan ini didasarkan pada argumen bahwa Al-Qur'an secara eksplisit memerintahkan manusia untuk menggunakan rasionya dalam memahami alam semesta.

Akal sebagai Penentu Keabsahan Iman

Bagi ‘Abduh, iman yang didasarkan pada taqlid tidak memiliki nilai spiritual yang sempurna. Ia menyatakan bahwa akal adalah prasyarat untuk menerima kebenaran agama. Tanpa akal, manusia tidak dapat membedakan antara nabi yang benar dan pengklaim palsu, karena bukti kebenaran seorang nabi harus diuji secara rasional melalui mukjizat yang dapat dipahami. Ia bahkan melangkah lebih jauh dengan menegaskan bahwa "berpikirlah agar engkau beriman" (i'qil kay tu'min), membalikkan logika tradisional yang sering kali menuntut iman sebelum berpikir.

Akal dalam Risālat al-Tawḥīd didefinisikan sebagai daya spiritual dalam jiwa manusia yang mampu menangkap prinsip-prinsip universal dan memahami hubungan sebab-akibat. Melalui pengamatan terhadap data empiris (ayat kauniyah), akal dapat mencapai kesimpulan tentang keberadaan Sang Pencipta. Namun, ‘Abduh juga mengakui keterbatasan akal; ia tidak mampu mengetahui esensi Zat Tuhan secara mendalam atau detail mengenai alam gaib.

Wahyu sebagai Penolong (Al-Mu'in)

Dalam struktur epistemologinya, wahyu berfungsi sebagai "penolong" (al-mu'in) bagi akal. Wahyu memberikan informasi yang bersifat konfirmasi terhadap kesimpulan akal sekaligus menyediakan detail-detail praktis yang tidak dapat ditemukan melalui logika murni. Misalnya, akal dapat mengetahui bahwa manusia memiliki kewajiban moral untuk berbuat baik, tetapi wahyu-lah yang menetapkan cara-cara spesifik dalam beribadah dan memberikan rincian tentang pembalasan di akhirat.

Ketika terjadi kontradiksi antara bunyi tekstual wahyu (naql) dan kesimpulan akal yang pasti, ‘Abduh memberikan arahan yang jelas: teks wahyu tersebut harus ditafsirkan (ta'wil) agar sesuai dengan ketentuan akal. Pendekatan ini menunjukkan kecenderungannya pada rasionalisme yang mirip dengan Mu'tazilah, meskipun ia sendiri menolak untuk diklasifikasikan secara kaku ke dalam satu madzhab tertentu karena ia mengutamakan kemerdekaan berpikir.

Risālat al-Tawḥīd karya Muḥammad ‘Abduh

Pembuktian Eksistensi Tuhan: Wajib al-Wujud

Salah satu bagian paling teknis dalam Risālat al-Tawḥīd adalah argumen logis mengenai eksistensi Tuhan sebagai Wajib al-Wujud (Zat yang Wajib Ada). ‘Abduh menggunakan pendekatan kosmologis yang dimodifikasi untuk audiens modern.

Argumen Kontingensi dan Kausalitas

‘Abduh berargumen bahwa segala sesuatu di alam semesta ini bersifat kontingen (mumkin al-wujud), artinya secara logika bisa ada dan bisa tidak ada. Keberadaan alam yang kontingen ini memerlukan penyebab yang mendahuluinya. Rangkaian penyebab ini tidak mungkin berlanjut tanpa henti (tasalsul) atau berputar dalam lingkaran setan (dawr), sehingga secara logis harus ada satu penyebab pertama yang keberadaannya bersifat niscaya (Wajib) dan tidak bergantung pada penyebab lain.

Karakteristik Wajib al-Wujud

Setelah membuktikan keberadaan penyebab pertama, ‘Abduh menguraikan sifat-sifat yang harus dimiliki oleh Zat tersebut. Ia menegaskan bahwa Wajib al-Wujud haruslah satu (Esa), karena jika ada dua tuhan yang memiliki kekuasaan mutlak, maka keteraturan alam semesta akan hancur akibat pertentangan kehendak di antara keduanya. Argumen ini digunakan untuk memperkuat konsep tauhid murni yang menolak segala bentuk syirik.

Selain keesaan, ‘Abduh juga menekankan sifat-sifat kesempurnaan seperti Ilmu, Kudrat (Kekuasaan), dan Iradat (Kehendak). Ia berpendapat bahwa keteraturan hukum alam (Sunnatullah) yang kita saksikan merupakan bukti nyata dari kebijakan (hikmah) dan ilmu Tuhan yang tak terbatas. Namun, ia sangat berhati-hati dalam membahas Zat Tuhan; ia melarang manusia untuk berspekulasi tentang hakikat Zat-Nya karena hal itu melampaui kapasitas perangkat keras otak manusia. Baginya, mengenal Tuhan cukup melalui pengenalan terhadap sifat-sifat-Nya yang terwujud dalam alam ciptaan.

Konsep Kebebasan Manusia dan Hukum Alam (Sunnatullah)

Tema krusial lain dalam Risālat al-Tawḥīd adalah upaya ‘Abduh untuk mendamaikan kemahakuasaan Tuhan dengan kebebasan manusia. Hal ini dilakukan untuk memerangi paham fatalisme yang dianggapnya sebagai penyebab utama kelesuan umat Islam.

Kritik terhadap Jabariyah dan Pembelaan Ikhtiyar

‘Abduh secara tegas menolak pandangan kaum Jabariyah yang menganggap manusia tidak memiliki andil dalam perbuatannya. Menurutnya, akal manusia secara intuitif menyadari bahwa kita memiliki kemampuan untuk menimbang konsekuensi, mengambil keputusan, dan melaksanakan tindakan. Inilah yang disebutnya sebagai Ikhtiyar (pilihan bebas). Tanpa adanya kebebasan ini, maka keadilan Tuhan dalam memberikan balasan (surga dan neraka) akan menjadi cacat.

Namun, ia juga tidak sepenuhnya sejalan dengan kaum Mu'tazilah klasik yang terkadang dianggap terlalu ekstrem dalam memberikan otonomi pada manusia. ‘Abduh memposisikan manusia sebagai agen yang bekerja di bawah hukum-hukum yang telah ditetapkan Tuhan di alam semesta. Tuhan memberikan potensi dan alat (akal dan anggota tubuh), sedangkan manusia bertanggung jawab untuk mengaktualisasikannya.

Integrasi Sunnatullah dalam Teologi

‘Abduh memperkenalkan konsep Sunnatullah sebagai hukum alam yang tetap dan tidak berubah. Keberhasilan atau kegagalan sebuah bangsa bergantung pada sejauh mana mereka mematuhi atau melanggar hukum-hukum kausalitas ini. Pandangan ini memberikan landasan teologis bagi umat Islam untuk mempelajari sains dan teknologi. Baginya, mempelajari hukum alam adalah bagian dari ibadah karena itu berarti mempelajari cara kerja Tuhan di dunia.

Argumentasi logis ini digunakan untuk mengubah cara pandang umat terhadap takdir (qada' dan qadar). Takdir bukanlah pembenaran untuk kemalasan, melainkan keyakinan bahwa segala sesuatu di alam ini berjalan sesuai hukum yang rasional. Dengan memahami hukum-hukum ini, manusia dapat memprediksi dan mengelola kehidupannya dengan lebih baik demi mencapai kesejahteraan materi dan spiritual.

Nubuwwah: Kebutuhan Manusia akan Bimbingan Ilahi

Meskipun akal manusia sangat kuat, ‘Abduh berpendapat dalam Risālat al-Tawḥīd bahwa manusia tetap memerlukan nabi karena tiga alasan utama: keterbatasan jangkauan akal terhadap masa depan, kebutuhan akan standar moral yang seragam, dan kebutuhan akan sosok teladan yang mampu menyatukan hati manusia.

Evolusi Risalah dan Kerasulan Muhammad

‘Abduh menyajikan pandangan evolusioner tentang agama. Ia menganalogikan perkembangan umat manusia dengan pertumbuhan seorang individu dari masa kanak-kanak hingga dewasa.
1. Masa Kanak-kanak: Agama pada masa nabi-nabi terdahulu bersifat sederhana, didominasi oleh mukjizat fisik yang menakjubkan indra, serta hukum-hukum yang kaku dan bersifat perintah mutlak.
2. Masa Kedewasaan: Islam diturunkan ketika akal manusia telah mencapai kematangan. Oleh karena itu, Islam tidak lagi mengandalkan mukjizat fisik yang bersifat sementara, melainkan mukjizat intelektual berupa Al-Qur'an yang menantang pikiran manusia sepanjang zaman.

Nabi Muhammad SAW disebut sebagai "Penutup para Nabi" karena risalahnya telah memberikan prinsip-prinsip universal yang cukup bagi manusia dewasa untuk menemukan jalan kebahagiaan mereka melalui penggunaan akal yang dibimbing wahyu. ‘Abduh menekankan bahwa nabi tidak datang untuk mengajarkan sains atau industri, melainkan untuk memberikan fondasi moral dan spiritual yang memungkinkan sains dan industri tersebut berkembang demi kebaikan umat manusia.

Rasionalisasi Mukjizat

Dalam upayanya menjadikan Islam relevan dengan dunia modern, ‘Abduh melakukan pendekatan rasional terhadap konsep mukjizat. Ia cenderung membatasi wilayah kemukjizatan pada hal-hal yang memang secara eksplisit dinyatakan dalam nash Al-Qur'an dan tidak mudah terjebak dalam cerita-cerita karamah yang tidak berdasar. Ia bahkan mencoba memberikan penjelasan ilmiah untuk beberapa fenomena dalam Al-Qur'an, seperti menafsirkan jin sebagai mikroba pembawa penyakit, dengan tujuan menunjukkan bahwa Al-Qur'an selaras dengan penemuan sains terbaru. Pendekatan ini merupakan strategi apologetik untuk membela Islam dari serangan orientalis yang menuduh agama bersifat irasional.

Risālat al-Tawḥīd karya Muḥammad ‘Abduh

Eskatologi dan Tanggung Jawab Akhirat

Pembahasan tentang kehidupan akhirat dalam Risālat al-Tawḥīd diletakkan sebagai konsekuensi logis dari kebebasan manusia dan keadilan Tuhan. ‘Abduh berargumen bahwa karena manusia diberikan akal untuk memilih, maka sudah sewajarnya ada pertanggungjawaban atas pilihan tersebut.

Informasi Wahyu tentang Hal Gaib

‘Abduh mengakui bahwa akal tidak dapat membuktikan detail surga, neraka, atau proses pengadilan akhirat secara mandiri. Di sinilah fungsi wahyu memberikan "informasi" (akhbar). Namun, ia menekankan bahwa gambaran-gambaran fisik tentang akhirat dalam Al-Qur'an harus dipahami sebagai cara Tuhan berkomunikasi dengan manusia menggunakan bahasa yang dapat mereka mengerti, sementara hakikat sebenarnya mungkin jauh lebih agung dan bersifat rohani.

Keimanan pada hari akhir dalam pandangan ‘Abduh memiliki fungsi pragmatis: ia adalah motor penggerak moralitas sosial. Keyakinan akan adanya pembalasan mendorong individu untuk berlaku jujur, adil, dan bekerja keras demi kemaslahatan umum, karena mereka sadar bahwa setiap tindakan memiliki implikasi kekal. Dengan demikian, teologi eskatologi ‘Abduh tidak bersifat eskapis (melarikan diri dari dunia), melainkan justru memberikan bobot etis pada tindakan di dunia.

Pengaruh Risālat al-Tawḥīd terhadap Pemikiran Islam Modern

Risālat al-Tawḥīd telah menjadi salah satu buku teologi paling berpengaruh dalam sejarah Islam modern, diterjemahkan ke dalam banyak bahasa dan menjadi buku wajib di berbagai perguruan tinggi Islam. Pengaruhnya tersebar melalui jaringan murid-murid ‘Abduh dan majalah Al-Manar yang didirikan oleh Rasyid Ridha.

Pengaruh di Indonesia: Muhammadiyah dan Reformisme

Di Indonesia, gagasan ‘Abduh dalam Risālat al-Tawḥīd menjadi inspirasi utama bagi gerakan Muhammadiyah dan Persis. Konsep pemurnian aqidah dari bid'ah serta penekanan pada ijtihad dan pendidikan modern adalah implementasi langsung dari semangat ‘Abduh. Tokoh-tokoh seperti KH Ahmad Dahlan mengadopsi cara berpikir ‘Abduh untuk mendirikan sekolah-sekolah yang menggabungkan agama dan sains, sebuah langkah yang sangat radikal pada masanya.

Pengaruh Global: Turki dan India

Di Turki, pemikiran ‘Abduh memberikan fondasi intelektual bagi gerakan modernisme dan nasionalisme Turki Muda yang berupaya merombak sistem kekhalifahan yang dianggap sudah tidak relevan. Di India, ide-idenya tentang keselarasan antara Islam dan sains sejalan dengan perjuangan Sayyid Ahmad Khan dalam memajukan pendidikan Muslim melalui Aligarh Movement. Risālat al-Tawḥīd berhasil menciptakan jembatan antara dunia tradisional dan tuntutan peradaban Barat, memungkinkan umat Islam untuk merangkul kemajuan tanpa merasa mengkhianati agamanya.

Implikasi Kontemporer dalam Pendidikan dan Ekonomi

Hingga saat ini, pemikiran ‘Abduh tetap relevan dalam diskusi tentang modernisasi madrasah dan pesantren, pengembangan kurikulum yang dialogis, serta penguatan kompetensi guru agar lebih adaptif terhadap tantangan abad ke-21. Dalam bidang ekonomi, penekanannya pada keadilan sosial dan reinterpretasi prinsip syariah telah memberikan dasar bagi pengembangan ekonomi Islam yang inklusif dan merespons kebutuhan pasar modern.

Risālat al-Tawḥīd bukan sekadar peninggalan sejarah; ia adalah panggilan terus-menerus bagi umat Islam untuk terus menghidupkan akal dan ijtihad dalam memahami risalah Tuhan. Melalui karya ini, Muḥammad ‘Abduh membuktikan bahwa tauhid adalah prinsip yang membebaskan dan mencerahkan, yang mampu membawa manusia menuju puncak kemuliaan peradaban.

Sitasi:

Abduh, M. (2025). Science and civilisation between Islam and Christianity. Gingko.

Archive.org. (n.d.). Risalat al-tawhid: Muḥammad Abduh, 1849–1905. Diakses Februari 11, 2026, dari https://archive.org/details/risalataltawhid00muamuoft

As-Salam: Journal Islamic Social Sciences and Humanities. (n.d.). Muhammad Abduh's perspective on taqlid. Diakses Februari 11, 2026, dari https://ejournal.as-salam.org/index.php/assalam/article/download/122/100

Busyairi. (n.d.). Pembahasan Risalah Tauhid karya Muhammad Abduh. Al-Jami'ah. Diakses Februari 11, 2026, dari https://aljamiah.or.id/ajis/article/view/4206

Dar al-Ifta. (n.d.). Reason and revelation in Islamic thought. Diakses Februari 11, 2026, dari https://www.dar-alifta.org/en/article/details/366/reason-and-revelation-in-islamic-thought

Digilib UIN Suka. (n.d.). Pemikiran kalam Muhammad Abduh dalam buku Risalah Tauhid. Diakses Februari 11, 2026, dari https://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/60268/1/16510040_BAB-I_IV-atau-V_DAFTAR-PUSTAKA.pdf

Digilib UIN Suka. (n.d.). Mandailing, M. T. Relasi akal dan wahyu menurut Muhammad Abduh. Diakses Februari 11, 2026, dari https://digilib.uin-suka.ac.id/33254/1/Muhammad%20Taufik%20-%20Relasi%20akal%20dan%20wahyu.pdf

Islamic Research Foundation International. (n.d.). Muhammad Abduh. Diakses Februari 11, 2026, dari https://www.irfi.org/articles/articles_851_900/muhammad_abduh.htm

Jurnal UINSU. (n.d.). The Young Turk movement and its impact on the development of nationalism in Indonesia in the early 20th century. Diakses Februari 11, 2026, dari https://jurnal.uinsu.ac.id/index.php/juspi/article/download/27356/11738

Librairie Sana. (n.d.). Risalat al-Tawhid from Sheikh Muhammad ‘Abduh. Diakses Februari 11, 2026, dari https://www.librairie-sana.com/en/pillars-of-faith/11607-risalat-al-tawhid-from-sheikh-muhammad-abduh-9782385550837.html

Mandailing, M. T. (n.d.). Relasi akal dan wahyu menurut Muhammad Abduh [PDF]. Digilib UIN Suka.

ResearchGate. (n.d.-a). Muhammad Abduh's thought on Islamic education reform and its contemporary implications in Indonesia. Diakses Februari 11, 2026, dari https://www.researchgate.net/publication/399668000_Muhammad_Abduh's_Thought_on_Islamic_Education_Reform_and_Its_Contemporary_Implications_in_Indonesia

ResearchGate. (n.d.-b). Muhammad Abduh's thought and its practical implications on government work programs for 2024–2029. Diakses Februari 11, 2026, dari https://www.researchgate.net/publication/388383964_Muhammad_Abduh's_Thought_and_Its_Practical_Implications_on_Government_Work_Programs_For_2024-2029

ResearchGate. (n.d.-c). Teologi Muhammad ‘Abduh: Kajian kitab Risâlat al-Tawhîd. Diakses Februari 11, 2026, dari https://www.researchgate.net/publication/285746546_Teologi_Muhammad_'Abduh_Kajian_Kitab_Risalat_al-Tawhid

ResearchGate. (n.d.-d). The enlightened path: Muḥammad ‘Abduh's fusion of reason and revelation. Diakses Februari 11, 2026, dari https://www.researchgate.net/publication/388008066_The_Enlightened_Path_Muhammad_'Abduh's_Fusion_of_Reason_and_Revelation

Repository UIN Suska. (n.d.). Akal dan wahyu menurut Muhammad Abduh dan Hasan Hanafi [Skripsi]. Diakses Februari 11, 2026, dari https://repository.uin-suska.ac.id/62198/1/FILE%20LENGKAP%20KECUALI%20HASIL%20PENELITIAN%20(BAB%20IV).pdf

Rudyct.com. (n.d.). Muhammad Abduh (1849–1905) [PDF]. Diakses Februari 11, 2026, dari https://rudyct.com/ab/Muhammad.Abduh(1849%E2%80%931905).pdf

Scribd. (n.d.-a). Pemikiran Muhammad Abduh. Diakses Februari 11, 2026, dari https://id.scribd.com/document/371830770/Pemikiran-Muhammad-Abduh

Scribd. (n.d.-b). Risalah Tauhid terjemah oleh Syekh Muhammad ‘Abduh. Diakses Februari 11, 2026, dari https://id.scribd.com/document/495608743/Risalah-Tauhid-Terjemah-Oleh-Syekh-Muhammad-Abduh

Scribd. (n.d.-c). Tawhid – Wikipedia. Diakses Februari 11, 2026, dari https://www.scribd.com/document/557199568/Tawhid-Wikipedia

Tafsir Al Quran. (n.d.). Muhammad Abduh: Mufasir pelopor pembaharuan di dunia Islam modern. Diakses Februari 11, 2026, dari https://tafsiralquran.id/muhammad-abduh-mufasir-pelopor-pembaharuan-di-dunia-islam-modern/

Teosofi. (n.d.). Teologi Muhammad ‘Abduh: Kajian kitab Risâlat al-Tawhîd. Diakses Februari 11, 2026, dari https://jurnalfuf.uinsa.ac.id/index.php/teosofi/article/view/74

The University of Texas at Austin. (n.d.). Risālat al-Tawḥīd: Muhammad ‘Abduh's modernity. Diakses Februari 11, 2026, dari https://repositories.lib.utexas.edu/bitstreams/4b40a13d-c83f-49a5-8a5f-21ab4b7e9dc0/download

UINSA Repository. (n.d.). Bab II biografi, pendidikan, pengalaman dan pemikiran. Diakses Februari 11, 2026, dari http://digilib.uinsa.ac.id/368/6/Bab%202.pdf

Walisongo Journal. (n.d.). Pintu-pintu menuju Tuhan: Telaah pemikiran Hamka Muhammad Yusuf. Diakses Februari 11, 2026, dari https://journal.walisongo.ac.id/index.php/teologia/article/view/384/350

Aletheia Rabbani
Aletheia Rabbani “Barang siapa yang tidak mampu menahan lelahnya belajar, maka ia harus mampu menahan perihnya kebodohan” _ Imam As-Syafi’i

Post a Comment