Analisis Genealogies of Religion Karya Talal Asad: Disiplin dan Kekuasaan dalam Kristen dan Islam

Table of Contents

Genealogies of Religion: Discipline and Reasons of Power in Christianity and Islam karya Talal Asad
Karya Talal Asad yang diterbitkan pada tahun 1993, Genealogies of Religion: Discipline and Reasons of Power in Christianity and Islam, merupakan sebuah intervensi teoretis yang sangat berpengaruh dalam disiplin antropologi, studi agama, dan teori post-kolonial. Melalui pendekatan genealogis yang dipengaruhi secara mendalam oleh pemikiran Friedrich Nietzsche dan Michel Foucault, Asad melakukan dekonstruksi radikal terhadap kategori "agama" sebagai sebuah konsep universal yang dianggap melampaui sejarah dan budaya. Premis utama dari analisis Asad adalah bahwa "agama" bukan merupakan entitas transhistoris yang tetap, melainkan sebuah konstruksi historis dari modernitas Eropa Barat yang muncul dari proses diskursif dan hubungan kekuasaan yang spesifik.

Analisis ini bertujuan untuk menguraikan secara mendalam isi dari karya tersebut, mengeksplorasi bagaimana Asad menantang asumsi-asumsi liberal mengenai sekularisme, ritual, dan keyakinan, serta bagaimana ia mereposisi Islam sebagai sebuah "tradisi diskursif" yang tidak dapat dipahami melalui lensa esensialisme Barat. Dengan memeriksa pergeseran dari Kekristenan abad pertengahan yang bersifat disipliner menuju agama modern yang bersifat privat dan simbolis, Asad menunjukkan bagaimana nalar kekuasaan bekerja untuk mengotorisasi bentuk-bentuk tertentu dari pembuatan sejarah dan subjek manusia.

Konstruksi Agama sebagai Kategori Antropologis dan Kritik terhadap Geertzianisme

Inti dari argumen Asad dalam bab pertama bukunya adalah penolakan terhadap kemungkinan adanya definisi universal tentang agama. Ia berargumen bahwa setiap definisi agama sebenarnya merupakan produk dari proses sejarah yang spesifik, dan upaya untuk menjadikannya universal adalah tindakan kekuasaan yang mengotorisasi bentuk-bentuk kehidupan tertentu sambil menekan yang lain. Sasaran utama kritik Asad adalah definisi agama yang sangat berpengaruh dari Clifford Geertz, yang mendefinisikan agama sebagai "sistem simbol yang bertindak untuk membangun suasana hati dan motivasi yang kuat, merumuskan konsep tatanan umum eksistensi, dan membungkus konsep-konsep tersebut dengan aura faktualitas".

Asad membongkar definisi Geertz melalui beberapa poin kritis yang fundamental. Pertama, ia menunjukkan bahwa penekanan Geertz pada "simbol" dan "makna" secara inheren memisahkan agama dari praktik material dan hubungan sosial yang menghasilkannya. Bagi Geertz, simbol dianggap memiliki kekuatan otonom untuk membangkitkan suasana hati; namun, bagi Asad, sebuah simbol tidak memiliki makna atau otoritas kecuali jika ia diproduksi dan dipertahankan melalui proses diskursif dan institusional yang didukung oleh kekuasaan. Tanpa adanya otoritas yang menentukan apa yang dianggap sebagai simbol religius dan bagaimana ia harus diinterpretasikan, simbol tersebut tidak akan memiliki efektivitas sosial.

Kedua, Asad menyoroti bahwa definisi Geertz sangat dipengaruhi oleh asumsi-asumsi Protestan modern yang menempatkan "keyakinan" (belief) sebagai lokus utama agama. Dalam pandangan Geertzian, agama adalah sesuatu yang terjadi di dalam pikiran individu—sebuah keadaan mental atau disposisi internal. Asad berargumen bahwa pemisahan antara keyakinan internal (agama) dan tindakan eksternal (politik/sains) adalah hasil dari sejarah spesifik Eropa pasca-Reformasi dan Pencerahan, di mana agama diprivatisasi agar tidak mengganggu stabilitas negara sekuler. Model ini tidak dapat diterapkan secara universal, bahkan untuk Kekristenan abad pertengahan sekalipun, di mana agama dan politik tidak dipisahkan sebagai ranah yang berbeda.

Genealogies of Religion: Discipline and Reasons of Power in Christianity and Islam karya Talal Asad
Ketiga, Asad menunjukkan bahwa definisi universal tentang agama sebenarnya berfungsi untuk memfasilitasi dominasi liberalisme modern. Dengan mendefinisikan agama sebagai sesuatu yang esensial, privat, dan benigna (tidak berbahaya), negara liberal dapat mengklaim diri mereka sebagai pelindung alasan dan kebebasan, sementara melabeli agama yang "terpolitisasi" sebagai ancaman irasional. Dengan demikian, upaya antropologis untuk mendefinisikan agama bukan sekadar tugas intelektual yang netral, melainkan bagian dari proyek modernitas yang bertujuan untuk mengatur dan membatasi ekspresi kehidupan manusia di luar kerangka sekuler.

Metamorfosis Konsep Ritual: Dari Instruksi Disipliner ke Representasi Simbolis

Setelah membongkar kategori agama, Asad beralih ke konsep "ritual" dalam bab kedua. Ia menelusuri bagaimana istilah ritual mengalami pergeseran makna yang drastis dari masa abad pertengahan hingga era modern. Dalam sejarah Kekristenan awal dan abad pertengahan, kata ritualis atau liber ritualis merujuk pada buku petunjuk atau skrip praktis yang berisi instruksi tentang bagaimana cara melakukan tindakan tertentu dalam liturgi atau kehidupan monastik. Ritual pada masa itu dipahami sebagai teknik disipliner—sebuah cara untuk melatih tubuh agar dapat mengembangkan disposisi moral dan spiritual yang diinginkan.

Asad memberikan contoh melalui pemikiran Hugh dari St. Victor, seorang teolog abad ke-12, yang memandang tindakan fisik dalam ibadah sebagai bentuk disciplina atau pengajaran. Bagi Hugh, cara seseorang berdiri, berlutut, atau berbicara dalam konteks religius bukan sekadar simbol dari rasa hormat yang sudah ada di dalam hati, melainkan sarana yang digunakan untuk menciptakan rasa hormat tersebut di dalam diri praktisinya. Di sini, tubuh bukanlah penghalang bagi jiwa, melainkan instrumen utama di mana kebajikan diukir melalui pengulangan dan ketaatan.

Namun, antropologi modern telah mengubah ritual menjadi sebuah "representasi" atau "akting simbolis." Di bawah pengaruh pemikiran seperti Durkheim dan kemudian Geertz, ritual dianggap sebagai cara masyarakat mengkomunikasikan nilai-nilai abstrak atau mengekspresikan emosi kolektif melalui simbol-simbol teatrikal. Asad berargumen bahwa pergeseran ini mencerminkan "intelektualisasi" agama oleh modernitas. Dengan menjadikan ritual sebagai sesuatu yang harus "dibaca" maknanya, para ilmuwan sosial sebenarnya telah melepaskan ritual dari efektivitas praktisnya dalam membentuk subjek.

Perubahan ini memiliki implikasi politik yang mendalam. Dalam masyarakat modern, tindakan yang dianggap ritualistik sering kali dipandang sebagai sisa-sisa "irasionalitas" masa lalu yang tidak lagi memiliki fungsi instrumental dalam dunia yang didominasi oleh teknologi dan sains. Asad menunjukkan bahwa devaluasi terhadap ritual ini adalah cara bagi nalar sekuler untuk mengklaim superioritas atas tradisi-tradisi yang masih menekankan pentingnya disiplin tubuh dan ketaatan praktis.

Arkaisme: Rasa Sakit, Kebenaran, dan Disiplin dalam Kekristenan Abad Pertengahan

Dalam bagian kedua yang berjudul "Archaisms," Asad mengeksplorasi praktik-praktik abad pertengahan yang sering kali dianggap asing atau mengerikan bagi sensibilitas modern: peran produktif dari rasa sakit fisik dan keutamaan kerendahan hati dalam monastisisme. Melalui esai "Pain and Truth in Medieval Christian Ritual," Asad menantang pandangan modern yang melihat rasa sakit hanya sebagai penderitaan murni yang harus dihilangkan melalui teknologi medis atau hak asasi manusia.

Dalam ekonomi kebenaran abad pertengahan, rasa sakit memiliki fungsi epistemik dan transformatif. Asad menganalisis penggunaan penyiksaan yudisial dan inkuisisi sebagai mekanisme untuk memproduksi "kebenaran". Rasa sakit digunakan bukan sekadar sebagai hukuman, melainkan sebagai alat untuk menghancurkan kehendak subjektif yang dianggap berdosa atau sesat, sehingga kebenaran dapat mengalir keluar dari mulut si pelaku dalam bentuk pengakuan. Di sini, kebenaran bukan sesuatu yang ditemukan melalui observasi objektif, melainkan sesuatu yang "dihasilkan" melalui pembersihan tubuh.

Asad membandingkan hal ini dengan bagaimana masyarakat sekuler modern memahami rasa sakit dan kekejaman. Meskipun masyarakat modern mengklaim telah meninggalkan praktik penyiksaan religius, Asad menunjukkan bahwa kriteria modern tentang apa yang dianggap "manusiawi" atau "kejam" juga merupakan hasil dari sejarah kekuasaan yang spesifik. Negara sekuler modern juga menggunakan disiplin dan kekuasaan untuk membentuk tubuh, namun dengan tujuan yang berbeda, seperti produktivitas ekonomi atau kesetiaan nasional.

Selanjutnya, dalam bab "On Discipline and Humility in Medieval Christian Monasticism," Asad menyelidiki Regula Benedicti (Aturan Santo Benediktus) untuk menunjukkan bagaimana ketaatan total dan kerendahan hati dibangun melalui teknik-teknik disipliner yang ketat. Dalam biara abad pertengahan, setiap aspek kehidupan—mulai dari waktu tidur, cara makan, hingga jenis pekerjaan fisik—diatur untuk mematikan kehendak pribadi dan menggantinya dengan kehendak Tuhan.

Asad menekankan bahwa kerendahan hati dalam konteks ini bukanlah sebuah perasaan internal yang muncul secara spontan, melainkan sebuah keterampilan (skill) yang harus dipelajari melalui pelatihan tubuh yang terus-menerus. Dengan demikian, biara berfungsi sebagai laboratorium disipliner di mana subjek religius dibentuk secara sengaja. Analisis ini memberikan wawasan tentang bagaimana kekuasaan religius tidak hanya bekerja melalui pelarangan, tetapi melalui konstruksi positif dari kemampuan moral subjek.

Genealogies of Religion: Discipline and Reasons of Power in Christianity and Islam karya Talal Asad

Islam sebagai Tradisi Diskursif: Melampaui Esensialisme dan Relativisme

Salah satu kontribusi paling monumental dari Talal Asad dalam buku ini, serta dalam esainya yang terkenal "The Idea of an Anthropology of Islam" (1986) yang menjadi dasar pemikirannya, adalah pengenalan konsep Islam sebagai sebuah "tradisi diskursif". Sebelum Asad, studi tentang Islam sering terjebak dalam dikotomi antara esensialisme Orientalis (yang melihat Islam sebagai monolit statis yang ditentukan oleh teks abad ke-7) dan relativisme antropologis (yang melihat Islam sebagai sekumpulan praktik lokal yang tidak koheren, atau "banyak Islam").

Asad menolak kedua pendekatan tersebut. Ia mendefinisikan tradisi diskursif sebagai sebuah diskursus yang berupaya menginstruksikan para praktisinya tentang bentuk dan tujuan yang benar dari sebuah praktik, yang secara konseptual terhubung dengan masa lalu melalui teks-teks dasar (Al-Qur'an dan Hadis) dan teladan masa lalu (Sunnah). Tradisi ini bukan sekadar pengulangan buta terhadap masa lalu, melainkan sebuah percakapan dan perdebatan yang terus berlangsung di masa kini tentang bagaimana cara hidup yang benar sebagai seorang Muslim.

Sebagai sebuah tradisi diskursif, Islam mencakup beberapa elemen kunci:
1. Teks dan Komentar: Tradisi ini selalu berorientasi pada teks-teks otoritatif, namun teks-teks tersebut selalu membutuhkan interpretasi melalui komentar, penjelasan, dan argumen para ulama dan intelektual.
2. Aktor dan Agensi: Tradisi ini tidak hanya dijalankan oleh elit agama, tetapi melibatkan semua aktor, termasuk perempuan dan masyarakat awam, yang menggunakan nalar mereka untuk memecahkan masalah praktis berdasarkan kerangka tradisi tersebut.
3. Proses Penalaran: Islam melibatkan proses argumentasi, diskusi, dan ijtihad. Perbedaan pendapat (ikhtilaf) bukan dilihat sebagai tanda kegagalan, melainkan sebagai bagian integral dari dinamika tradisi.
4. Relasi Kekuasaan: Otoritas dalam Islam tidak hanya bersifat teologis, tetapi juga sosiologis. Kekuasaan menentukan wacana mana yang dianggap ortodoks pada waktu dan tempat tertentu melalui institusi pendidikan, hukum, dan struktur sosial.
5. Dimensi Temporal: Tradisi diskursif menghubungkan masa lalu dengan masa depan melalui tindakan di masa kini. Masa lalu berfungsi sebagai sumber otoritas, sementara masa depan adalah tujuan dari kehidupan moral yang dijalani.

Asad mengkritik para sosiolog seperti Ernest Gellner yang mencoba menjelaskan keberagaman Islam melalui model mekanistik. Bagi Asad, ortodoksi dalam Islam bukanlah sebuah teks yang statis, melainkan sebuah hubungan kekuasaan yang berhasil menegakkan bentuk praktik tertentu sebagai yang "benar" dalam konteks sejarah yang diberikan. Dengan demikian, peneliti harus fokus pada bagaimana aktor-aktor Muslim sendiri mendefinisikan, memperdebatkan, dan mempertahankan apa yang mereka anggap sebagai Islam.

Terjemahan Budaya dan Asimetri Kekuasaan dalam Antropologi

Dalam bagian ketiga, Asad mengalihkan perhatiannya pada metodologi antropologi itu sendiri, khususnya konsep "terjemahan budaya" yang sangat populer dalam antropologi sosial Inggris. Ia berargumen bahwa terjemahan bukan sekadar proses linguistik yang netral di mana makna dari bahasa X dipindahkan ke bahasa Y. Sebaliknya, terjemahan terjadi dalam kondisi ketidaksetaraan global yang ekstrem.

Bahasa-bahasa Barat (seperti Inggris atau Prancis) memiliki kekuatan politik, ekonomi, dan militer di baliknya. Ketika seorang antropolog Barat mencoba "menerjemahkan" konsep-konsep dari masyarakat non-Barat ke dalam bahasa akademik mereka, mereka sering kali secara tidak sadar memaksakan kategori-kategori Barat ke dalam realitas yang berbeda. Sebagai contoh, konsep-konsep religius Timur Tengah sering kali diterjemahkan ke dalam kategori "keyakinan" atau "simbol" yang, seperti yang telah ditunjukkan Asad sebelumnya, adalah produk dari sejarah Barat.

Asad memberikan peringatan keras bahwa representasi antropologis yang cacat ini tidak hanya bersifat akademis, tetapi juga memiliki efek material. Representasi ini dapat menggantikan realitas asli masyarakat yang diteliti dan memberikan legitimasi bagi intervensi kolonial atau neo-kolonial atas nama "modernisasi" atau "pencerahan". Ia menyarankan agar para etnograf lebih berhati-hati dan membiarkan bahasa mereka sendiri ditantang dan diubah oleh bahasa yang mereka teliti, daripada hanya mencoba "menjinakkan" budaya asing ke dalam kerangka berpikir yang sudah ada.

Argumen Publik di Timur Tengah: Nasiha vs. Kritik Kantian

Asad juga mengeksplorasi batas-batas kritik agama dan politik di Timur Tengah melalui bab "The Limits of Religious Criticism in the Middle East." Ia menentang asumsi umum di Barat bahwa masyarakat Muslim tidak memiliki tradisi kritik hanya karena mereka tidak mengikuti model "ruang publik" liberal yang didasarkan pada nalar universal.

Melalui studi kasus di Arab Saudi selama Perang Teluk Pertama (1990-1991), Asad menunjukkan adanya bentuk kritik yang sangat terlembaga dan bertenaga dalam tradisi Islam, yang disebut nasiha. Nasiha berarti memberikan nasihat yang tulus dan jujur kepada sesama Muslim, termasuk kepada para penguasa, dengan tujuan perbaikan moral dan sosial. Berbeda dengan konsep kritik Kantian yang melihat kritik sebagai hak individu yang dilakukan di ruang publik yang anonim, nasiha dipandang sebagai kewajiban religius yang terikat pada etika kebajikan dan hubungan tanggung jawab antara pemberi nasihat dan penerimanya.

Genealogies of Religion: Discipline and Reasons of Power in Christianity and Islam karya Talal Asad
Asad menunjukkan bahwa para ulama di Arab Saudi menggunakan mekanisme nasiha untuk mengkritik kebijakan pemerintah secara tajam melalui pidato, surat terbuka, dan kaset-kaset rekaman. Meskipun bentuk kritik ini mungkin tampak terbatas bagi mata Barat karena tidak menyerang dasar-dasar agama itu sendiri, bagi masyarakat setempat, ini adalah cara yang paling efektif dan sah untuk menuntut akuntabilitas penguasa dalam kerangka tradisi mereka.

Polemik: Kasus Rushdie, Multikulturalisme, dan Batas-Batas Liberalisme

Dua bab terakhir dari buku ini didedikasikan untuk menganalisis kontroversi seputar novel The Satanic Verses karya Salman Rushdie dan implikasinya bagi politik multikultural di Inggris. Asad menggunakan peristiwa ini sebagai lensa untuk mengungkap kemunafikan dan batas-batas dari toleransi liberal.

Ketika masyarakat Muslim di Inggris dan dunia memprotes novel Rushdie karena dianggap menghina Nabi Muhammad, reaksi dari intelektual dan negara liberal Barat umumnya adalah mengecam protes tersebut sebagai serangan terhadap kebebasan berbicara dan tanda dari "kegelapan agama" yang tidak toleran. Asad berpendapat bahwa reaksi liberal ini mengabaikan dimensi kekuasaan dan identitas yang terlibat.

Pertama, Asad menyoroti asimetri perlindungan negara. Salman Rushdie, sebagai seorang penulis yang dianggap sebagai simbol nilai-nilai liberal, menerima perlindungan polisi 24 jam yang dibiayai oleh negara setelah adanya fatwa dari Ayatollah Khomeini. Di sisi lain, komunitas imigran Muslim di Inggris pada periode yang sama sering kali menjadi target kekerasan rasial dan diskriminasi oleh kelompok sayap kanan, namun mereka jarang menerima tingkat perlindungan yang sama dari kepolisian. Hal ini menunjukkan bahwa negara liberal tidak netral; ia melindungi individu yang memajukan nalar sekulernya sambil membiarkan minoritas yang dianggap "asing" tetap rentan.

Kedua, Asad membedah konsep "penistaan" (blasphemy) dalam hukum Inggris. Ia menunjukkan bahwa hingga saat itu, hukum penistaan di Inggris hanya berlaku untuk melindungi Gereja Anglikan, sementara agama-agama lain seperti Islam tidak mendapatkan perlindungan hukum yang sama terhadap penghinaan. Bagi Asad, ini membuktikan bahwa sekularisme Inggris tidak benar-benar memisahkan agama dan negara, melainkan telah mengadopsi satu bentuk identitas religius nasional sambil menekan yang lain.

Ketiga, Asad memberikan analisis mendalam tentang sifat dari novel Rushdie itu sendiri. Ia tidak melihat novel tersebut sebagai karya seni murni yang berdiri bebas, melainkan sebagai bagian dari diskursus "hybridity" pasca-kolonial yang sering kali meremehkan keteguhan tradisi religius demi merayakan ketidakpastian identitas. Bagi banyak Muslim, serangan Rushdie bukan sekadar masalah estetika, melainkan upaya untuk menghancurkan ruang moral yang memungkinkan mereka hidup sebagai subjek Muslim di Barat.

Asad menyimpulkan bahwa skandal Rushdie mengungkapkan bahwa liberalisme memiliki "tabu" dan "kesucian" versinya sendiri. Kebebasan berbicara di Barat tidak benar-benar mutlak; ia dibatasi oleh norma-norma yang dianggap suci oleh nalar sekuler, seperti hak milik pribadi atau keamanan nasional. Dengan demikian, konflik antara Barat dan Islam dalam kasus ini bukan antara "kebebasan" dan "tirani," melainkan antara dua sistem kekuasaan yang berbeda dengan definisi yang berbeda pula tentang apa yang layak dihormati dan apa yang boleh dikritik.

Kesimpulan: Warisan Intelektual dan Implikasi Masa Depan

Karya Genealogies of Religion bukan hanya sebuah kritik terhadap bagaimana agama dipelajari, tetapi juga sebuah tantangan fundamental terhadap cara kita memahami modernitas. Dengan menunjukkan bahwa kategori-kategori dasar seperti "agama," "sekuler," "ritual," dan "keyakinan" adalah produk sejarah yang sarat dengan kekuasaan, Talal Asad telah membuka ruang bagi studi yang lebih nuansa dan kritis terhadap tradisi-tradisi manusia.

Poin-poin utama yang dapat ditarik dari analisis menyeluruh ini meliputi:

  • Agama sebagai Konstruksi Modern: "Agama" bukanlah kategori universal, melainkan hasil dari sejarah spesifik Barat yang bertujuan untuk memisahkan keyakinan dari kekuasaan publik.
  • Pentingnya Disiplin Tubuh: Ritual dan praktik religius harus dipahami kembali bukan sebagai simbol yang membutuhkan interpretasi, melainkan sebagai teknik disipliner yang membentuk agensi dan moralitas manusia.
  • Islam sebagai Tradisi yang Hidup: Islam paling tepat dipahami sebagai sebuah tradisi diskursif yang melibatkan perdebatan berkelanjutan mengenai teks-teks otoritatif dalam konteks sejarah yang berubah.
  • Kritik terhadap Sekularisme Liberal: Sekularisme bukan sekadar ruang netral bagi pluralitas, melainkan sebuah proyek politik yang secara aktif mendisiplinkan agama agar sesuai dengan kebutuhan negara modern.
  • Asimetri Global: Ilmu pengetahuan sosial, termasuk antropologi, beroperasi dalam struktur kekuasaan global yang dapat mendistorsi pemahaman kita tentang "yang liyan" melalui proses terjemahan budaya yang tidak adil.

Implikasi dari karya Asad terus bergema dalam perdebatan kontemporer mengenai hak asasi manusia, feminisme Islam, dan hubungan antara agama dan politik di ruang publik. Dengan mengajak kita untuk meragukan kategori-kategori yang kita anggap sudah terbukti dengan sendirinya, Asad menuntut agar kita lebih rendah hati dalam memahami kompleksitas kehidupan manusia di luar kerangka sempit modernitas Barat. Analisis genealogisnya tetap menjadi alat yang paling tajam bagi siapa saja yang ingin membongkar nalar kekuasaan yang tersembunyi di balik klaim-klaim universal tentang kebenaran dan kebebasan.

Sitasi:

Asad, T. (1993). Genealogies of religion: Discipline and reasons of power in Christianity and Islam. Johns Hopkins University Press.

American Religion. (n.d.). Ritual in the study of American religions. Diakses Maret 28, 2026, dari https://www.american-religion.org/retelling/ritualinreligion

Archive.org. (n.d.). Asad, Talal. Genealogy of religion. Diakses Maret 28, 2026, dari https://archive.org/details/AsadTalalGenealogyOfReligion

Archive.org. (n.d.). Full text of "Asad, Talal. Genealogy of religion". Diakses Maret 28, 2026, dari https://archive.org/stream/AsadTalalGenealogyOfReligion/Asad_Talas_Genealogy_of_Religion_djvu.txt

Bishop, J. (2020). Talal Asad: Religion as a “discursive tradition”. Diakses Maret 28, 2026, dari https://jamesbishopblog.com/2020/05/17/talal-asad-religion-as-a-discursive-tradition/

Boğaziçi University. (2015). Formations of the body: Talal Asad and the secular. Diakses Maret 28, 2026, dari https://digitalarchive.library.bogazici.edu.tr

Brill. (n.d.). Postscript: Post-script I. Diakses Maret 28, 2026, dari https://brill.com

Cambridge University Press. (n.d.). Durkheim and ritual. Diakses Maret 28, 2026, dari https://resolve.cambridge.org

Diem, A. (n.d.). The regula donati on female monastic life and monastic spirituality. Diakses Maret 28, 2026, dari https://www.brepolsonline.net

Finger, A. (n.d.). Wake-up calls. Diakses Maret 28, 2026, dari https://www.db-thueringen.de

Hopkins Press. (n.d.). Genealogies of religion. Diakses Maret 28, 2026, dari https://www.press.jhu.edu/books/title/1644/genealogies-religion

Internet Archive. (n.d.). Genealogies of religion. Diakses Maret 28, 2026, dari https://archive.org

Islamonweb. (n.d.). Islam: A discursive tradition or a master signifier? Diakses Maret 28, 2026, dari https://en.islamonweb.net

Jan.ucc.nau.edu. (n.d.). Genealogies of religion (chapter PDF). Diakses Maret 28, 2026, dari https://jan.ucc.nau.edu

Peksöz, Ö. F. (2015). Formations of the body: Talal Asad and the secular. Boğaziçi University.

Project MUSE. (n.d.). Genealogies of religion. Diakses Maret 28, 2026, dari https://muse.jhu.edu/book/16014/1000

ProQuest. (n.d.). Genealogies of religion: Discipline and reasons of power in Christianity and Islam. Diakses Maret 28, 2026, dari https://search.proquest.com

Reddit. (n.d.). ELI5: Talal Asad and Islam as a discursive tradition. Diakses Maret 28, 2026, dari https://www.reddit.com

Reddit. (n.d.). Trying to understand how religion is practiced in a contemporary society. Diakses Maret 28, 2026, dari https://www.reddit.com

ResearchGate. (n.d.). Book review: Genealogies of religion. Diakses Maret 28, 2026, dari https://www.researchgate.net

ResearchGate. (n.d.). What is Talal Asad’s position in relation to Clifford Geertz’s interpretation of religion? Diakses Maret 28, 2026, dari https://www.researchgate.net

ResearchGate. (n.d.). Ancient Israelite sacrifice as symbolic action. Diakses Maret 28, 2026, dari https://www.researchgate.net

ResearchGate. (n.d.). The Rushdie affair and the politics of multicultural Britain. Diakses Maret 28, 2026, dari https://www.researchgate.net

SciSpace. (n.d.). Islam publications and citations. Diakses Maret 28, 2026, dari https://scispace.com

Scribd. (n.d.). Asad’s critique of Geertz on religion. Diakses Maret 28, 2026, dari https://www.scribd.com

Scribd. (n.d.). Asad: Genealogies 20 years on. Diakses Maret 28, 2026, dari https://www.scribd.com

Scribd. (n.d.). Chapter 2 Asad Talas. Diakses Maret 28, 2026, dari https://www.scribd.com

Scribd. (n.d.). Monasteries and the care of souls in late antique Christianity. Diakses Maret 28, 2026, dari https://www.scribd.com

Scribd. (n.d.). Talal Asad – Genealogies of religion. Diakses Maret 28, 2026, dari https://www.scribd.com

Townsend Center for the Humanities. (n.d.). Reflections on blasphemy and secular criticism. Diakses Maret 28, 2026, dari https://townsendcenter.berkeley.edu

UCLA International Institute. (n.d.). On Geertz and the definition of religion. Diakses Maret 28, 2026, dari https://www.international.ucla.edu

University of Toronto Press. (n.d.). Risking speech in Islam. Diakses Maret 28, 2026, dari https://utppublishing.com

UCI Library. (2006). Talal Asad. Diakses Maret 28, 2026, dari https://www.lib.uci.edu

YIC. (n.d.). Genealogies of religion PDF. Diakses Maret 28, 2026, dari https://www.yic.edu.et

Aletheia Rabbani
Aletheia Rabbani “Barang siapa yang tidak mampu menahan lelahnya belajar, maka ia harus mampu menahan perihnya kebodohan” _ Imam As-Syafi’i

Post a Comment