Rekonstruksi Filosofis dan Terapeutik Risālah fī al-Ḥīlah li-Daf‘ al-Aḥzān Karya Al-Kindī: Analisis Etika Kedokteran Jiwa Islam

Table of Contents

Karya Abu Yusuf Ya'qub ibn Ishaq al-Kindi yang berjudul Risālah fī al-Ḥīlah li-Daf‘ al-Aḥzān (Risalah tentang Perangkat untuk Menghalau Kesedihan) merupakan salah satu monumen intelektual paling signifikan dalam sejarah filsafat Islam awal. Sebagai filosof Muslim pertama yang secara sistematis mengintegrasikan warisan Hellenistik ke dalam kerangka berpikir monoteistik, Al-Kindi tidak hanya menyajikan sebuah teks moralitas, melainkan sebuah manual psikoterapi kognitif yang mendahului zamannya. Karya ini muncul dari atmosfer intelektual Baghdad pada abad ke-9, di mana dialektika antara wahyu dan rasio sedang mencapai puncaknya melalui gerakan penerjemahan besar-besaran di Bayt al-Ḥikmah. Analisis mendalam terhadap teks ini menyingkapkan bagaimana Al-Kindi memandang kesedihan bukan sebagai takdir yang tak terelakkan, melainkan sebagai kesalahan persepsi intelektual yang dapat diperbaiki melalui disiplin rasional dan transformasi spiritual.

Konteks Historis dan Sosio-Intelektual Al-Kindī

Untuk memahami kedalaman isi Risālah fī al-Ḥīlah li-Daf‘ al-Aḥzān, analisis harus dimulai dari latar belakang pengarangnya. Al-Kindi lahir di Kufah sekitar tahun 801 Masehi dari keluarga aristokrat suku Kinda yang terhormat. Ayahnya adalah gubernur Kufah di bawah pemerintahan Khalifah al-Mahdi dan Harun al-Rashid. Pendidikan awal Al-Kindi di Kufah mencakup kurikulum tradisional seperti menghafal Al-Qur'an, tata bahasa Arab, sastra, dan aritmatika, yang kemudian dilanjutkan dengan studi mendalam tentang Fiqh dan ilmu Kalam. Latar belakang ini memberikan landasan religius yang kuat sebelum ia terjun ke dalam samudera filsafat Yunani di Baghdad.

Penyusunan risalah ini dipicu oleh permintaan seorang sahabat yang sedang mengalami penderitaan batin yang tidak disebutkan secara spesifik. Gaya penulisan yang berbentuk surat (epistolary) ini memungkinkan Al-Kindi untuk menyampaikan argumen filosofis yang berat dalam nada yang lebih intim dan praktis, serupa dengan tradisi consolatio dalam filsafat antik yang dipraktikkan oleh tokoh-tokoh seperti Seneca atau Boethius. Hal ini mencerminkan pandangan Al-Kindi bahwa filsafat memiliki fungsi terapeutik; ia bukan sekadar spekulasi teoretis, melainkan "obat" bagi jiwa yang sedang sakit.

Stabilitas intelektual Al-Kindi di istana Abbasiyah mengalami pasang surut yang signifikan. Di bawah Khalifah al-Ma'mun dan al-Mu'tashim, ia menikmati posisi tinggi sebagai tutor pangeran Ahmad. Namun, pada masa al-Mutawakkil, ia menjadi korban intrik istana dan pergeseran orientasi teologis, yang menyebabkan perpustakaan pribadinya yang terkenal, al-Kindiyya, disita sementara dan dirinya mengalami penganiayaan fisik. Pengalaman pribadi Al-Kindi terhadap kehilangan dan ketidakadilan ini memberikan bobot eksistensial pada risalahnya; ia tidak sedang berbicara tentang teori kesedihan yang abstrak, melainkan tentang strategi bertahan hidup yang ia praktikkan sendiri di tengah fluktuasi nasib politik.

Landasan Ontologis: Dualisme Dunia dan Hakikat Jiwa

Struktur argumen Al-Kindi dalam menghalau kesedihan berakar pada pemahamannya tentang psikologi dan metafisika. Ia membedakan secara tajam antara dunia indrawi (‘ālam al-ḥiss) dan dunia intelektual (‘ālam al-‘aql). Bagi Al-Kindi, jiwa (nafs) adalah substansi yang sederhana, mulia, dan tidak hancur, yang berasal dari substansi Tuhan dan bersifat berbeda dari tubuh material. Tubuh hanyalah instrumen bagi jiwa untuk beraktivitas di dunia fisik.

Kesedihan, dalam analisis Al-Kindi, terjadi karena jiwa "lupa" akan asal-usulnya yang mulia dan menjadi terlalu terikat pada instrumennya (tubuh) serta objek-objek di dunia indrawi. Penderitaan psikologis muncul ketika manusia menaruh harapan akan keabadian pada benda-benda yang secara kodrati bersifat fana. Al-Kindi menggunakan logika Aristotelian untuk menunjukkan bahwa setiap benda di dunia indrawi tunduk pada hukum perubahan, generasi, dan korupsi. Oleh karena itu, mencari kebahagiaan yang stabil di dunia fisik adalah sebuah kemustahilan logis.

Perbandingan Karakteristik Barang Indrawi vs Intelektual

Risālah fī al-Ḥīlah li-Daf‘ al-Aḥzān Karya Al-Kindī
Melalui pembedaan ini, Al-Kindi membangun premis bahwa kesedihan adalah hasil dari "kekacauan kognitif." Manusia menderita karena mereka menginginkan apa yang tidak mungkin ada dalam alam material. Jika seseorang memindahkan fokus cintanya dari objek-objek yang dapat rusak ke objek-objek intelektual seperti pengetahuan, kebajikan, dan hubungan dengan Sang Pencipta, maka ia secara otomatis menjadi "kebal" terhadap kesedihan.

Definisi dan Mekanisme Terjadinya Kesedihan (al-Ḥuzn)

Al-Kindi mendefinisikan kesedihan sebagai "rasa sakit psikologis yang disebabkan oleh hilangnya hal-hal yang dicintai atau kegagalan dalam memperoleh hal-hal yang dicari". Definisi ini sangat krusial karena menggeser lokus kesedihan dari peristiwa eksternal ke dalam persepsi internal. Peristiwa kehilangan itu sendiri bersifat netral secara alamiah; yang membuatnya menyakitkan adalah label "cinta" atau "keinginan" yang disematkan oleh subjek pada objek tersebut.

Secara mekanis, kesedihan adalah reaksi terhadap ketidaksesuaian antara kenyataan dan keinginan. Al-Kindi berargumen bahwa penyebab kesedihan bisa berasal dari tindakan kita sendiri atau tindakan orang lain. Jika kesedihan disebabkan oleh tindakan kita sendiri, maka solusinya adalah berhenti melakukan tindakan tersebut melalui penggunaan rasio. Jika disebabkan oleh orang lain, maka kita harus menyadari bahwa tindakan orang lain berada di luar kendali kita, dan merasa sedih atas hal itu adalah tanda kurangnya kebijaksanaan.

Lebih jauh lagi, Al-Kindi mengeksplorasi dimensi waktu dalam kesedihan. Ia mencatat bahwa banyak orang merasa sedih atas kemungkinan musibah yang akan terjadi di masa depan. Menurutnya, ini adalah tindakan irasional yang berlipat ganda: seseorang menderita sekarang karena sesuatu yang belum tentu terjadi, dan jika hal itu benar-benar terjadi, penderitaan tersebut tetap tidak akan mencegah kejadian tersebut. Dengan demikian, kesedihan sering kali merupakan beban yang kita ciptakan sendiri melalui imajinasi yang tidak terkendali oleh akal.

Strategi Terapeutik: Obat-Obatan yang Mudah (Easy Remedies)

Dalam bagian kedua risalah, Al-Kindi menawarkan perangkat praktis yang dapat diterapkan oleh siapa saja untuk meredakan kesedihan yang sedang dirasakan. "Obat-obatan" ini bersifat kognitif dan perilaku, bertujuan untuk mengubah pola pikir pasien melalui observasi dan refleksi sederhana.

Observasi terhadap Universalitas Penderitaan

Salah satu strategi paling efektif menurut Al-Kindi adalah menyadari bahwa penderitaan adalah bagian universal dari kondisi manusia. Tidak ada seorang pun di muka bumi ini yang terbebas dari kehilangan. Al-Kindi mengilustrasikan hal ini dengan kisah Alexander Agung yang legendaris. Saat Alexander mendekati ajalnya, ia menulis surat kepada ibunya, Olympias, untuk menghiburnya. Alexander meminta ibunya mengadakan jamuan makan bagi semua orang dari seluruh penjuru dunia dengan satu syarat mutlak: tidak ada orang yang pernah mengalami kesedihan yang boleh hadir.

Ketika hari jamuan tiba, tidak ada satu orang pun yang muncul kecuali para pelayan istana. Sang ibu kemudian menyadari pesan mendalam putranya: "Aku bukan orang pertama yang menderita bencana, dan bencana bukanlah peristiwa yang hanya menimpa satu orang". Kesadaran akan kebersamaan dalam penderitaan ini berfungsi sebagai katarsis yang meredakan rasa keterasingan dan keputusasaan individu. Al-Kindi berpendapat bahwa dengan melihat bagaimana orang lain mampu menanggung beban yang serupa, kita mendapatkan kekuatan moral untuk melakukan hal yang sama.

Perbandingan dengan Mereka yang Kekurangan

Strategi praktis lainnya adalah melakukan re-evaluasi terhadap apa yang masih kita miliki. Al-Kindi menyarankan agar orang yang kehilangan anak, misalnya, merenungkan nasib mereka yang tidak pernah bisa memiliki anak sama sekali. Orang yang kehilangan harta benda harus melihat mereka yang lahir dan hidup dalam kemiskinan permanen. Dengan membandingkan diri dengan mereka yang kondisinya lebih buruk, rasa sakit akibat kehilangan akan berkurang dan digantikan oleh rasa syukur atas apa yang tersisa. Ini adalah bentuk awal dari teknik downward social comparison dalam psikologi modern.

Kekuatan Habituasi (Riyāḍah)

Al-Kindi menekankan pentingnya melatih jiwa agar terbiasa dengan kepuasan (contentment). Ia berpendapat bahwa kondisi jiwa dapat dibentuk melalui pembiasaan, sebagaimana tubuh dapat dilatih melalui latihan fisik. Jika seseorang membiasakan diri untuk merasa cukup dengan apa yang ada dan tidak membiarkan keinginannya melampaui kebutuhan dasar, maka kehilangan hal-hal sekunder tidak akan mengguncang stabilitas batinnya. Al-Kindi menyarankan untuk memulai latihan ini dari hal-hal kecil; dengan berhasil melepaskan keterikatan kecil, jiwa akan membangun otot spiritual yang diperlukan untuk menghadapi kehilangan besar.

Strategi Terapeutik: Obat-Obatan yang Sulit (Difficult Remedies)

Bagian ketiga dari risalah ini ditujukan bagi mereka yang memiliki kecakapan intelektual lebih tinggi. Di sini, Al-Kindi menggunakan argumen logika formal dan metafisika untuk mencabut akar kesedihan secara permanen.

Argumen Reductio ad Absurdum

Al-Kindi menggunakan teknik logika favoritnya, reductio ad absurdum, untuk membuktikan irasionalitas kesedihan. Argumennya berjalan sebagai berikut:
1. Kesedihan muncul karena hilangnya hal-hal di dunia indrawi.
2. Dunia indrawi secara alami bersifat berubah dan fana.
3. Menginginkan hal-hal indrawi agar tidak hilang adalah menginginkan sesuatu yang bertentangan dengan sifat alaminya.
4. Menginginkan sesuatu yang bertentangan dengan sifat alami adalah menginginkan sesuatu yang tidak ada (mustahil).
5. Oleh karena itu, orang yang bersedih sebenarnya sedang meratapi ketidakmampuannya untuk mewujudkan kemustahilan.

Kesimpulan dari argumen ini adalah bahwa penderitaan kita bukan disebabkan oleh peristiwa eksternal, melainkan oleh kebodohan kita sendiri dalam mengharapkan keabadian dari benda-benda fana. Al-Kindi menegaskan bahwa orang yang bijak adalah orang yang menyesuaikan keinginannya dengan realitas, bukan mengharapkan realitas tunduk pada keinginannya.

Konsep Barang Titipan (Shared Goods)

Al-Kindi mengembangkan argumen bahwa segala sesuatu yang kita miliki di dunia ini—termasuk nyawa, harta, dan keluarga—hanyalah titipan dari Sang Pencipta. Tuhan adalah pemilik hakiki dari segala sesuatu. Jika Tuhan mengambil kembali apa yang Dia pinjamkan, maka sebagai peminjam, kita tidak berhak untuk marah atau sedih. Sebaliknya, kita seharusnya bersyukur atas periode waktu di mana kita diizinkan untuk menikmati titipan tersebut. Ketidaksediaan untuk melepaskan titipan saat pemiliknya memintanya kembali dianggap oleh Al-Kindi sebagai bentuk ketidakadilan dan kekikiran moral.

Keabadian Dunia Intelektual

Sebagai puncak dari terapi filosofisnya, Al-Kindi mengajak pasien untuk bermigrasi secara mental dari dunia indrawi ke dunia intelektual. Ia berargumen bahwa kebahagiaan sejati hanya dapat ditemukan dalam hal-hal yang tidak dapat hilang: pengetahuan tentang kebenaran universal, keindahan moral, dan pengenalan akan Tuhan. Barang-barang intelektual ini memiliki keunggulan karena tidak berkurang saat dibagikan, tidak dapat dicuri oleh pencuri, dan tidak terpengaruh oleh kematian fisik. Dengan menjadikan dunia intelektual sebagai "tanah air" spiritualnya, seseorang mencapai kondisi ataraxia atau ketenangan yang tidak tergoyahkan oleh fluktuasi dunia material.

Analogi Kapal: Metafora Perjalanan Hidup

Salah satu bagian paling puitis dan instruktif dalam risalah ini adalah analogi penumpang kapal, yang diadaptasi dari pemikiran Stoik Epictetus tetapi diperkaya dengan detail yang sangat "Kindian". Al-Kindi menggambarkan manusia sebagai penumpang di atas kapal yang sedang melakukan perjalanan menuju tujuan yang jauh. Di tengah perjalanan, kapal tersebut berlabuh di sebuah pulau untuk mengambil persediaan air.

Al-Kindi membagi penumpang ke dalam beberapa kategori berdasarkan perilaku mereka saat berada di pulau tersebut:

Risālah fī al-Ḥīlah li-Daf‘ al-Aḥzān Karya Al-Kindī
Detail yang paling tajam dalam analogi ini adalah nasib kelompok terakhir. Mereka membawa barang-barang dari pulau (batu, bunga, perhiasan fana) ke atas kapal. Namun, seiring berjalannya waktu, barang-barang tersebut mulai membusuk, mengeluarkan bau tak sedap, dan menjadi sarang penyakit. Penumpang ini tidak hanya duduk di tempat yang paling buruk, tetapi juga menderita karena beban barang-barang yang awalnya mereka anggap berharga. Melalui analogi ini, Al-Kindi ingin menyampaikan bahwa keterikatan pada kepemilikan duniawi bukan hanya sia-sia, tetapi secara aktif merusak kualitas hidup manusia dan menghalangi pencapaian kebahagiaan sejati.

Integrasi Filosofis: Antara Hellenisme dan Monoteisme Islam

Risālah fī al-Ḥīlah li-Daf‘ al-Aḥzān sering kali disorot karena sifat eklektiknya, menggabungkan unsur-unsur Stoikisme, Platonisme, dan Aristotelianisme. Namun, Al-Kindi melakukan proses "Islamisasi" yang mendalam terhadap konsep-konsep tersebut.
1. Transformasi Konsep Nasib: Jika bagi kaum Stoik, nasib adalah kekuatan alam semesta yang impersonal, bagi Al-Kindi, nasib digantikan oleh kehendak Tuhan yang bijaksana (Qadar). Menerima "nasib" dalam konteks Al-Kindi berarti berserah diri (tawakkul) pada kebijaksanaan Tuhan yang melampaui pemahaman manusia terbatas.
2. Harmoni Filsafat dan Agama: Al-Kindi berpendapat bahwa kebenaran yang dicapai melalui rasio filosofis tidak bertentangan dengan kebenaran wahyu. Baginya, filsafat adalah pelayan bagi agama, membantu manusia memahami makna mendalam dari perintah-perintah Tuhan tentang kesabaran, syukur, dan pelepasan duniawi.
3. Tujuan Teleologis: Kebahagiaan sejati (sa'ādah) dalam pandangan Al-Kindi bukan sekadar ketenangan pikiran di dunia, melainkan persiapan jiwa untuk kembali kepada Penciptanya dalam kondisi yang murni. Dunia ini dipandang sebagai "jembatan" atau "pulau transit" yang nilainya hanya ditentukan oleh sejauh mana ia membantu jiwa mencapai kesempurnaan intelektual dan moral.

Tokoh Heroik dalam Risalah: Socrates dan Nero

Al-Kindi menggunakan tokoh sejarah dan legenda untuk memperkuat argumennya melalui contoh faktual yang kontras.

Socrates: Sang Pahlawan Moral

Socrates muncul dalam risalah ini sebagai figur ideal yang memiliki otonomi interior yang sempurna. Al-Kindi menceritakan bahwa Socrates tidak pernah terlihat bersedih. Ketika seseorang bertanya kepadanya, "Mengapa Anda tidak pernah bersedih?", ia menjawab, "Karena saya tidak pernah memiliki sesuatu yang kehilangannya akan membuat saya sedih". Dalam versi Al-Kindi, Socrates digambarkan dengan ciri-ciri yang sangat mirip dengan Diogenes kaum Cynic—seorang asketis yang menolak kepemilikan materi demi kebebasan jiwa. Socrates menjadi bukti hidup bahwa kebahagiaan adalah pilihan internal, bukan hasil dari akumulasi eksternal.

Raja Nero: Tragedi Keterikatan

Sebagai kontras yang tajam, Al-Kindi menceritakan kisah Kaisar Nero untuk menggambarkan penderitaan akibat keterikatan materi. Nero dikisahkan sangat mencintai sebuah paviliun kristal yang megah. Ia begitu terobsesi dengannya sehingga memerintahkan paviliun itu dibawa bersamanya dalam sebuah perjalanan ke sebuah pulau. Namun, dalam perjalanan, kapal yang membawa paviliun tersebut tenggelam. Nero jatuh ke dalam kesedihan yang sangat dalam dan keputusasaan yang melumpuhkan. Al-Kindi menarik kesimpulan moral: "Jika Anda ingin memiliki sedikit kemalangan, Anda harus memiliki sedikit kepemilikan di luar diri Anda".

Pengaruh dan Warisan Intelektual

Karya ini memiliki pengaruh yang luas tidak hanya di dunia Islam, tetapi juga di kalangan pemikir Kristen Arab pada abad ke-9 dan ke-10. Setidaknya tiga penulis Kristen Arab diketahui telah mengadaptasi risalah ini untuk menyelaraskan ajaran Al-Kindi dengan teologi Alkitab, melihatnya sebagai jembatan rasional untuk memahami konsep kesabaran dalam iman. Hal ini menunjukkan bahwa metode Al-Kindi melampaui batas-batas sektarian dan menyentuh inti dari penderitaan manusia yang universal.

Dalam sejarah filsafat Islam, jejak pemikiran Al-Kindi tentang terapi jiwa dapat ditemukan dalam karya-karya tokoh besar seperti Abu Bakr al-Razi (al-Ṭibb al-Rūḥānī), Miskawayh (Tahdhīb al-Akhlāq), hingga Al-Ghazali. Meskipun kemudian Al-Farabi dan Ibnu Sina mengembangkan sistem psikologi yang lebih kompleks secara teknis, risalah Al-Kindi tetap menjadi referensi utama bagi pendekatan praktis terhadap etika kesehatan mental.

Relevansi Modern: Al-Kindī dan Psikologi Kognitif

Dilihat dari perspektif modern, Risālah fī al-Ḥīlah li-Daf‘ al-Aḥzān memiliki kemiripan yang luar biasa dengan teknik-teknik psikoterapi kontemporer, khususnya Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) dan Cognitive Behavioral Therapy (CBT).
1. Identifikasi Keyakinan Irasional: Al-Kindi mengidentifikasi bahwa penderitaan berasal dari keyakinan yang salah bahwa dunia material harus bersifat abadi. Ini setara dengan konsep "musturbatory thinking" dalam REBT.
2. Cognitive Reframing: Teknik Al-Kindi untuk membandingkan musibah dengan penderitaan universal atau melihatnya sebagai "titipan yang dikembalikan" adalah bentuk klasik dari restrukturisasi kognitif.
3. Habituasi dan Eksposure: Anjuran Al-Kindi untuk melatih jiwa melalui pelepasan hal-hal kecil mirip dengan teknik desensitisasi sistematis untuk membangun ketahanan psikologis.
4. Mindfulness dan Detasemen: Penekanan pada dunia intelektual sebagai tempat perlindungan batin memiliki kesamaan dengan praktik mindfulness yang mengajarkan individu untuk tidak terhanyut oleh emosi yang dipicu oleh peristiwa eksternal.

Al-Kindi berargumen bahwa kesehatan mental yang baik memungkinkan manusia untuk menyadari potensi penuh mereka, bekerja secara produktif, dan berkontribusi pada komunitas mereka. Dengan demikian, pemikiran Al-Kindi bukan sekadar artefak sejarah, melainkan instrumen yang masih sangat relevan untuk menghadapi tantangan eksistensial manusia modern di tengah ketidakpastian dunia global.

Kesimpulan: Kebahagiaan sebagai Prestasi Intelektual

Secara keseluruhan, Risālah fī al-Ḥīlah li-Daf‘ al-Aḥzān menegaskan bahwa kebahagiaan bukanlah sesuatu yang terjadi pada kita, melainkan sesuatu yang kita capai melalui pemurnian pikiran. Al-Kindi mengajarkan bahwa kesedihan adalah pilihan yang berasal dari ketidaktahuan, sementara ketenangan adalah prestasi yang berasal dari pengetahuan. Dengan memandang dunia sebagai tempat persinggahan sementara dan jiwa sebagai entitas abadi yang harus dipelihara, Al-Kindi memberikan kerangka kerja bagi manusia untuk hidup dengan martabat dan kedamaian, tidak peduli seberapa keras badai nasib menerpa kapal kehidupan mereka.

Risalah ini berdiri sebagai pengingat abadi bahwa filsafat, pada tingkatnya yang paling murni, adalah bentuk pengobatan—sebuah seni untuk menyembuhkan jiwa yang memungkinkannya untuk melihat melampaui bayang-bayang dunia indrawi menuju cahaya kebenaran abadi yang memberikan kebahagiaan tak tergoyahkan. Melalui perpaduan unik antara logika ketat dan empati yang dalam, Al-Kindi telah mewariskan sebuah "perangkat" intelektual yang tetap efektif bagi siapapun yang berani menatap penderitaan mereka melalui lensa rasio dan iman.

Sitasi:

Adamson, P., & Pormann, P. E. (n.d.). The philosophical works of al-Kindī. University of Warwick. Retrieved February 4, 2026, from https://warwick.ac.uk/fac/arts/classics/intranets/students/modules/receptions/essays/adamson_pormann_the_philosophical_works_of_al-kind299_introduction.pdf

Al-Kindī, Y. b. I. (2006). Min rasāʾil al-Kindī al-falsafiyyah. Dār Muḥammad ‘Alī li-l-Nashr.

Al-Kindi. (n.d.). Al-Kindi – Science, civilization and society. Retrieved February 4, 2026, from http://www.physocean.icm.csic.es/science+society/lectures/illustrations/lecture16/alkindi.html

Al-Kindi. (n.d.). Al-Kindi (Dispelling sorrow). Scribd. Retrieved February 4, 2026, from https://www.scribd.com/document/558099886/Al-Kindi-Dispelling-Sorrow

Al-Kindi. (n.d.). Al-Kindi: Bapak falsafah Islam. Scribd. Retrieved February 4, 2026, from https://www.scribd.com/document/727609946/AL-KINDI2

Al-Kindi. (n.d.). Al-Kindi.pdf. University of Diyala. Retrieved February 4, 2026, from https://coehuman.uodiyala.edu.iq/uploads/Coehuman%20library%20pdf/HIS%20library%20%D9%83%D8%AA%D8%A8%20%D8%AA%D8%A7%D8%B1%D9%8A%D8%AE/%D9%83%D8%AA%D8%A8%20%D8%B3%D9%85%D8%A7%D9%87%D8%B1/Al-Kindi.pdf

Al-Kindi. (n.d.). On dispelling sorrows. Scribd. Retrieved February 4, 2026, from https://www.scribd.com/document/666030738/Al-Kindi-On-Dispelling-Sorrows

Al-Kindī, Abū Yūsuf Ya‘qūb ibn Isḥāq. (n.d.). Islamic philosophy online. Retrieved February 4, 2026, from https://www.muslimphilosophy.com/ip/kin.htm

Arabic Περὶ Ἀλυπίας: Did al-Kindī and Rāzī read Galen? A tale of resilience. (n.d.). ResearchGate. Retrieved February 4, 2026, from https://www.researchgate.net/publication/330155916_Arabic_Peri_Alypias_Did_al-Kindi_and_Razi_Read_Galen_A_Tale_of_Resilience

Dispelling sorrow in ancient and medieval philosophy (PHIL 656). (2017). McGill University. Retrieved February 4, 2026, from https://www.mcgill.ca/philosophy/files/philosophy/phil_656_fall_2017.pdf

Griffith, S. H. (2002). The beginnings of Christian theology in Arabic: Muslim–Christian encounters in the early Islamic period. Routledge.

Harmonisasi filsafat dengan agama dalam Risālah al-Ḥīlah li-daf‘ al-aḥzān karya Al-Kindī. (n.d.). ResearchGate. Retrieved February 4, 2026, from https://www.researchgate.net/publication/363594209_Harmonisasi_Filsafat_Dengan_Agama_dalam_Risalah_al-Hilah_Li_Daf_'al-Ahzan_Karya_Al-Kindi

How to cope with loss: The advice of Al-Kindī. (n.d.). IAI TV. Retrieved February 4, 2026, from https://iai.tv/articles/how-to-cope-with-sorrow-and-loss-the-advice-of-al-kindi-auid-1005

Lessons from Al-Kindi’s approach to sorrow. (n.d.). Issuu. Retrieved February 4, 2026, from https://issuu.com/tmvmag/docs/web_petricore_tmv/s/12149503

Mental health: A study of Al-Kindi’s philosophical thoughts of the soul. (n.d.). Jurnal Islam Nusantara. Retrieved February 4, 2026, from https://jurnalnu.com/index.php/as/article/download/372/169

Morality and happiness in Islam: A philosophical analysis of Al-Kindi’s concept of sa‘ādah. (n.d.). IMTAZ: Jurnal Studi Keislaman. Retrieved February 4, 2026, from https://ejournal.uinfasbengkulu.ac.id/index.php/imtaz/article/download/8374/5178

Philosophical consolation in Christianity and Islam: Boethius and Al-Kindi. (n.d.). Scribd. Retrieved February 4, 2026, from https://www.scribd.com/document/13919875/Philosophical-Consolation-in-Christianity-and-Islam-Boethious-and-Al-kindi

Philosophical thought of Al-Kindi and Al-Farabi. (n.d.). ResearchGate. Retrieved February 4, 2026, from https://www.researchgate.net/publication/341602879_PHILOSOPHICAL_THOUGHT_OF_AL-KINDI_AND_AL-FARABI

Revisiting Al-Kindi’s Treatise on the art of dispelling sorrows in the framework of philosophy as a way of life. (n.d.). ResearchGate. Retrieved February 4, 2026, from https://www.researchgate.net/publication/389174206_Revisiting_Al-Kindi's_Treatise_on_The_Art_of_Dispelling_Sorrows_in_the_Framework_of_Philosophy_as_a_Way_of_Life

Techniques for treating depression from Al-Kindi’s perspective. (n.d.). ResearchGate. Retrieved February 4, 2026, from https://www.researchgate.net/publication/397993454_Techniques_for_Treating_Depression_from_al-Kindi's_Perspective

Teaching classics. (n.d.). Novosibirsk State University. Retrieved February 4, 2026, from http://classics.nsu.ru/books/assets/files/schole-suppl-6-teaching-classics.pdf

The epistle of Ya‘qūb ibn Isḥāq al-Kindī on the device for dispelling sorrows. (n.d.). Traditional Hikma. Retrieved February 4, 2026, from https://traditionalhikma.com/the-epistle-of-ya%C2%A8qu%C2%AF-b-ibn-ish%C2%BD-a%C2%AFq-al-kind%E2%80%A1-%C2%AF-on-the-device-for-dispelling-sorrows/

The methods of coping with stress/sorrow: The case of Al-Kindi. (n.d.). Sabite. Retrieved February 4, 2026, from https://www.sabite.org/the-methods-of-coping-with-stresssorrow-the-case-of-al-kindi

The Muslim philosopher Al-Kindi and his Christian readers: Three Arab Christian texts on “The dissipation of sorrows”. (n.d.). Bulletin of the John Rylands Library. Retrieved February 4, 2026, from https://www.manchesterhive.com/view/journals/bjrl/78/3/article-p111.pdf

Wikipedia contributors. (n.d.). Al-Kindi. Wikipedia. Retrieved February 4, 2026, from https://en.wikipedia.org/wiki/Al-Kindi

Aletheia Rabbani
Aletheia Rabbani “Barang siapa yang tidak mampu menahan lelahnya belajar, maka ia harus mampu menahan perihnya kebodohan” _ Imam As-Syafi’i

Post a Comment