Historiografi Universal dalam Tārīkh al-Ya‘qūbī: Analisis Metodologi, Perspektif Teologis, dan Kontribusinya terhadap Peradaban Islam

Table of Contents

Tārīkh al-Ya‘qūbī
Tārīkh al-Ya‘qūbī, yang secara formal dikenal sebagai Tārīkh Ibn Wāḍiḥ, menempati posisi yang sangat unik dan fundamental dalam tradisi penulisan sejarah Islam klasik. Disusun oleh Aḥmad bin Abī Ya‘qūb bin Ja‘far bin Wahb bin Waḍīḥ al-Ya‘qūbī pada abad ke-3 Hijriah (abad ke-9 Masehi), karya ini bukan sekadar kronik peristiwa, melainkan sebuah upaya intelektual yang berani untuk menyatukan sejarah umat manusia ke dalam satu narasi besar yang kohesif. Sebagai salah satu karya sejarah universal tertua yang ditulis dalam bahasa Arab, teks ini mencerminkan semangat zaman keemasan Islam (Islamic Golden Age), di mana ilmu pengetahuan, geografi, dan teologi berinteraksi secara dinamis di bawah naungan kekhalifahan Abbasiyah.

Konteks Biografis dan Intelektual Penulis

Aḥmad al-Ya‘qūbī lahir di Baghdad, jantung intelektual dunia Islam pada masa itu, dari keluarga yang memiliki tradisi panjang dalam administrasi pemerintahan. Kakek buyutnya, Waḍīḥ, adalah seorang mawali (mantan budak yang dibebaskan) dari Khalifah Al-Mansur dan pernah menjabat sebagai gubernur Mesir pada masa Al-Mahdi. Latar belakang keluarga ini sangat krusial; Waḍīḥ dikenal memiliki simpati mendalam terhadap kaum Alawiyyin (keturunan Ali bin Abi Thalib), bahkan ia mempertaruhkan nyawanya untuk membantu Idris bin Abdullah melarikan diri dari kejaran Abbasiyah setelah kegagalan pemberontakan Fakhkh, yang kemudian berujung pada berdirinya Dinasti Idrisiyyah di Maroko. Warisan ideologis ini, yang menggabungkan kesetiaan administratif dengan kecenderungan pro-Alid, menjadi benang merah yang menjahit seluruh narasi dalam Tārīkh al-Ya‘qūbī.

Sepanjang hidupnya, Al-Ya‘qūbī dikenal sebagai seorang pengembara intelektual (traveler) dan birokrat (katib). Hingga tahun 873 M, ia menetap di Armenia dan Khorasan, bekerja di bawah perlindungan gubernur dari Dinasti Tahiriyah. Setelah jatuhnya Tahiriyah, pengembaraannya membawanya melintasi India, Mesir, hingga ke wilayah Maghrib di Afrika Utara. Pengalaman lintas budaya ini memberinya perspektif yang luas, yang memungkinkan ia untuk menulis tentang bangsa-bangsa non-Muslim dengan tingkat detail dan rasa hormat yang jarang ditemukan pada sejarawan Muslim tradisional sezamannya.

Metodologi Historiografi: Rasionalisme dan Narasi Terpadu

Al-Ya‘qūbī memelopori pendekatan metodologis yang membedakannya secara tajam dari tradisi isnad (rantai transmisi) yang mendominasi karya sejarawan besar lainnya seperti Muhammad bin Jarir al-Tabari. Jika Al-Tabari cenderung menyajikan berbagai versi narasi yang berbeda untuk satu peristiwa yang sama tanpa melakukan seleksi yang ketat, Al-Ya‘qūbī mengadopsi apa yang disebut sebagai "metode campuran" (mixed method).

Sintesis Narasi dan Pengabaian Isnad

Dalam penyusunannya, Al-Ya‘qūbī menyaring berbagai sumber sejarah, membandingkannya, dan kemudian menyusun kembali informasi tersebut menjadi satu narasi yang mengalir dan kohesif sesuai dengan pilihannya sendiri. Ia secara sadar mengabaikan pencantuman rantai perawi (isnad) yang panjang untuk setiap laporan, sebuah langkah yang membuat tulisannya lebih bersifat sastra dan mudah diakses oleh audiens birokrat dan intelektual, namun tetap menjaga akurasi faktual melalui analisis kritis. Pendekatan ini menunjukkan transisi historiografi Islam dari sekadar pengumpulan tradisi lisan menjadi disiplin ilmu yang lebih terstruktur dan analitis.

Kriteria Logis dan Penolakan Terhadap Unsur Mistik

Karakteristik menonjol lainnya dalam Tārīkh al-Ya‘qūbī adalah penerapan logika dalam menyeleksi materi sejarah. Al-Ya‘qūbī dikenal sangat ketat dalam menolak narasi-narasi yang bersifat magis, mistis, atau dongeng yang tidak masuk akal, yang pada masa itu sering kali menyelinap ke dalam tulisan-tulisan sejarah kuno. Ia lebih memprioritaskan data yang bersifat sosiologis, administratif, dan budaya, yang mencerminkan latar belakangnya sebagai seorang administrator negara (katib) yang terbiasa dengan fakta-fakta pragmatis.

Kriteria Logis dan Penolakan Terhadap Unsur Mistik

Analisis Volume I: Sejarah Bangsa-Bangsa dan Peradaban Kuno

Volume pertama Tārīkh al-Ya‘qūbī merupakan bukti nyata dari visi universal penulisnya. Ia tidak membatasi diri pada sejarah Arab pra-Islam, melainkan mencakup sejarah para nabi, serta sejarah bangsa Israel, Yunani, Romawi, Persia, India, China, hingga bangsa-bangsa di Afrika (Sudan). Bagian ini menunjukkan bahwa Al-Ya‘qūbī memandang peradaban Islam sebagai kelanjutan dan ahli waris dari pencapaian intelektual umat manusia secara keseluruhan.

Sejarah Kenabian dan Pengaruh Sumber Kristen-Yahudi

Al-Ya‘qūbī memulai narasi dunianya dari kisah Adam hingga Yesus (Isa AS). Yang menarik dari sisi metodologis adalah penggunaan sumber-sumber non-Islam untuk menyusun bagian ini. Untuk sejarah bangsa Israel, ia tidak hanya mengandalkan narasi Al-Qur'an atau Isra'iliyyat tradisional, tetapi juga merujuk pada teks-teks seperti The Cave of Treasures (M'arrat Gazzé), sebuah karya Kristen Siria yang memberikan detail mengenai periode patriark dan kehidupan setelah air bah. Ia merinci bagaimana dunia dibagi di antara putra-putra Nuh (Sam, Ham, dan Yafet), serta mencatat asal-usul alat musik dan kesenian yang ia atribusikan kepada keturunan Qabil (Cain) yang terpengaruh oleh godaan setan.

Warisan Intelektual Yunani dan Romawi

Al-Ya‘qūbī menaruh rasa hormat yang mendalam pada bangsa Yunani, terutama dalam bidang filsafat dan sains. Ia memberikan ringkasan berharga tentang pemikiran filsuf-filsuf besar seperti Socrates, Plato, dan Aristotle. Bagian ini sangat penting karena menunjukkan proses asimilasi filsafat Yunani ke dalam dunia intelektual Arab pada abad ke-9. Ia juga mencatat sejarah para raja Romawi, sistem pemerintahan mereka, dan pencapaian mereka dalam bidang hukum serta pembangunan kota, yang ia pandang sebagai fondasi bagi peradaban Mediterania.

Kompleksitas Kekaisaran Persia (Sasanid)

Sebagai penulis yang lama tinggal di wilayah timur kekhalifahan, Al-Ya‘qūbī menyajikan salah satu catatan sejarah paling otoritatif mengenai Dinasti Sasanid. Ia menggunakan sumber-sumber resmi Pahlavi seperti Khudhay Namag (Buku Para Raja) untuk merinci struktur pemerintahan Persia yang sangat birokratis. Al-Ya‘qūbī menjelaskan bagaimana kekuasaan Raja (Shahanshah) ditopang oleh dewan penasihat yang terdiri dari para bangsawan, pendeta Zoroaster, dan pejabat militer. Ia memberikan contoh faktual mengenai reformasi administratif Khosrow I Anushirvan, termasuk sistem perpajakan yang lebih adil dan efisien yang kemudian diadopsi oleh administrasi Abbasiyah.

Deskripsi Eksotis India dan China

Karya Al-Ya‘qūbī adalah salah satu yang pertama di dunia Islam yang memberikan laporan rinci tentang Timur Jauh.
1. India: Al-Ya‘qūbī mencatat India sebagai sumber utama ilmu pengetahuan, terutama astronomi dan matematika. Ia adalah orang pertama dalam literatur Arab yang menyebutkan kitab Sindhind (Siddhanta) dan menceritakan transmisi kisah-kisah fabel seperti Kalila wa Dimna serta petualangan Sindibad (Sinbad). Ia mengagumi bagaimana orang India menggunakan pengetahuan bintang untuk mengatur navigasi dan pertanian.
2. China: Deskripsi mengenai China difokuskan pada sistem hukum dan keadilan sosial yang ketat. Al-Ya‘qūbī mencatat bahwa raja-raja China hidup dalam isolasi di istana mereka namun mengawasi negara melalui jaringan kasim yang bertindak sebagai pengawas pajak dan militer. Ia mencatat sistem jaminan sosial yang unik: jika seorang warga negara jatuh sakit atau menjadi lansia sehingga tidak bisa bekerja, ia akan dipelihara oleh dana dari kantong pribadi raja. Selain itu, ia merinci jalur pelayaran menuju China yang harus melewati "tujuh samudra", masing-masing dengan karakteristik ikan, angin, dan warna air yang berbeda-beda.

Tārīkh al-Ya‘qūbī

Analisis Volume II: Sejarah Islam dan Dinamika Kepemimpinan

Volume kedua Tārīkh al-Ya‘qūbī didedikasikan sepenuhnya untuk sejarah Islam, mulai dari kelahiran Nabi Muhammad SAW hingga akhir abad ke-3 Hijriah. Di bagian inilah identitas religius dan keberpihakan politik Al-Ya‘qūbī menjadi paling terlihat. Meskipun ia adalah seorang pejabat Abbasiyah, narasi sejarahnya sangat dipengaruhi oleh simpati terhadap keluarga Nabi (Ahlul Bait), sebuah karakteristik yang membuat karyanya menjadi rujukan penting bagi sejarah Syiah awal.

Biografi Kenabian dan Legitimasi Ali bin Abi Thalib

Al-Ya‘qūbī memulai sejarah Islam dengan biografi Nabi Muhammad SAW yang detail, mencakup peperangan (maghazi), duta-duta yang dikirim, dan para sekretarisnya. Namun, yang membedakan narasinya adalah penekanan pada peristiwa Ghadir Khumm, di mana ia secara eksplisit melaporkan penunjukan Ali bin Abi Thalib sebagai pengganti (wasi) Nabi. Ia memberikan porsi besar pada keutamaan-keutamaan Ali dan kedudukan Fatimah Az-Zahra, yang ia pandang sebagai inti dari kelanjutan spiritual umat Islam.

Kritik Terhadap Saqifa dan Suksesi Awal

Dalam membahas transisi kekuasaan setelah wafatnya Nabi, Al-Ya‘qūbī menyajikan narasi yang kritis terhadap pertemuan di Saqifa Banu Sa'idah. Ia menggambarkan peristiwa tersebut bukan sebagai mufakat yang harmonis, melainkan sebagai langkah yang meminggirkan hak keluarga Nabi. Ia mencatat penolakan sejumlah sahabat besar untuk segera berbaiat kepada Abu Bakar, serta rasa duka dan keterasingan yang dialami oleh Ali selama masa kekhalifahan awal. Perspektif ini kontras dengan narasi Al-Tabari atau Al-Baladhuri yang berupaya meredam konflik tersebut demi persatuan komunitas (proto-Sunnisme).

Sejarah Para Imam Syiah hingga Abad ke-3

Keunikan paling mencolok dari Tārīkh al-Ya‘qūbī adalah pencantuman biografi para Imam dari garis keturunan Ali hingga Imam ke-10, Ali al-Hadi. Al-Ya‘qūbī mencatat tanggal kelahiran, kewafatan, dan sifat-sifat mulia mereka seolah-olah mereka adalah pilar sejarah yang sejajar dengan para khalifah politik. Penekanan pada biografi para Imam ini sering kali dianggap oleh para peneliti modern sebagai bukti tak terbantahkan bahwa Al-Ya‘qūbī menganut iman Syiah Rafidiyah.

Dinasti Umayyah dan Abbasiyah: Antara Tragedi dan Birokrasi

Dalam memandang Dinasti Umayyah, Al-Ya‘qūbī bersikap sangat kritis, terutama dalam narasinya mengenai pembunuhan Husain bin Ali di Karbala. Ia menggambarkan Karbala sebagai tragedi kemanusiaan yang menandai berakhirnya era iman dan dimulainya era despotisme dinasti. Ia mencatat detail-detail menyayat hati mengenai perlakuan terhadap keluarga Nabi oleh tentara Yazid bin Muawiyah.

Mengenai Dinasti Abbasiyah, posisi Al-Ya‘qūbī lebih kompleks karena ia sendiri bekerja di lingkungan administrasi mereka. Ia bersikap moderat dan berhati-hati ketika melaporkan tindakan-tindakan khalifah yang merugikan kepentingan Alawiyyin. Namun, ia tetap mencatat dengan detail administratif kemajuan yang dicapai di bawah Abbasiyah, termasuk pembangunan kota Baghdad oleh Al-Mansur dan kemakmuran ekonomi yang menyertainya. Sejarah Abbasiyah dalam bukunya berakhir pada masa Khalifah Al-Mu'tamid (tahun 259 H/873 M).

Tārīkh al-Ya‘qūbī

Integrasi Ilmu Geografi dan Sosiologi: Al-Buldān dan Mushākalah

Keunggulan Tārīkh al-Ya‘qūbī tidak terlepas dari keahlian penulisnya dalam bidang ilmu lain yang ia integrasikan ke dalam sejarah. Al-Ya‘qūbī bukan hanya sejarawan, tetapi juga salah satu geografer terbesar pada masanya.

Geografi sebagai Fondasi Sejarah (Kitāb al-Buldān)

Dalam karyanya yang lain, Kitāb al-Buldān (Buku Negeri-negeri), Al-Ya‘qūbī merinci topografi, sistem perpajakan, dan demografi wilayah-wilayah yang ia kunjungi. Data geografis ini ia gunakan dalam Tārīkh-nya untuk menjelaskan mengapa sebuah kota menjadi pusat peradaban atau mengapa sebuah pemberontakan bisa berhasil di wilayah tertentu. Ia merinci statistik pajak dari Irak hingga Maghrib, memberikan gambaran ekonomi yang nyata di balik peristiwa politik.

Teori Sosiologi Kepemimpinan (Mushākalat al-Nās)

Salah satu kontribusi paling orisinal dari Al-Ya‘qūbī adalah esai pendeknya yang berjudul Mushākalat al-Nās li Zamānihim (Kemiripan Orang-orang dengan Zaman Mereka). Di sini, ia mengajukan teori sosiologis bahwa perilaku dan moralitas rakyat jelata dalam setiap periode sejarah adalah cerminan dari karakter penguasa mereka.

  • Jika khalifah menyukai ilmu pengetahuan, rakyat akan berlomba-lomba belajar.
  • Jika khalifah menyukai kemewahan, rakyat akan terjerumus ke dalam konsumerisme.
  • Jika khalifah bersikap hemat, rakyat akan mengikuti pola hidup sederhana.

Teori ini memberikan kerangka analitis bagi narasinya di Volume II Tārīkh al-Ya‘qūbī, di mana ia menjelaskan perubahan sosial di bawah kepemimpinan khalifah yang berbeda-beda melalui lensa "kemiripan" (resemblance) ini.

Pengaruh dan Kedudukan dalam Historiografi Dunia

Tārīkh al-Ya‘qūbī diakui secara luas sebagai salah satu pencapaian intelektual tertinggi dalam historiografi Islam klasik. Karyanya telah menjadi referensi utama bagi sejarawan generasi berikutnya.

Jembatan Menuju Al-Mas'udi dan Ibn Khaldun

Sejarawan besar Al-Mas'udi (wafat 956 M), yang sering disebut sebagai "Herodotus dari orang Arab", sangat dipengaruhi oleh pendekatan Al-Ya‘qūbī yang menggabungkan sejarah, geografi, dan antropologi. Semangat inklusivitas terhadap bangsa-bangsa non-Muslim yang dirintis oleh Al-Ya‘qūbī diteruskan oleh Al-Mas'udi dalam karyanya Murūj al-Dhahab. Bahkan, di masa yang lebih modern, Ibn Khaldun menggunakan data dari Al-Ya‘qūbī untuk menyusun teori-teori sosiologisnya dalam Muqaddimah.

Relevansi Data Astronomi dan Sains

Detail unik lain yang sering diabaikan adalah penggunaan data astronomi oleh Al-Ya‘qūbī. Ia menyertakan horoskop atau posisi planet untuk menandai momen-momen krusial dalam sejarah, seperti penobatan khalifah atau kelahiran tokoh besar. Ini menunjukkan bahwa pada abad ke-3 Hijriah, sejarah dipandang sebagai bagian dari tatanan kosmik yang bisa dianalisis melalui sains, sebuah pandangan yang sangat maju untuk masanya.

Kesimpulan: Tārīkh al-Ya‘qūbī sebagai Manifestasi Peradaban

Secara keseluruhan, Tārīkh al-Ya‘qūbī adalah sebuah monumen intelektual yang merepresentasikan puncak pencapaian pemikiran sejarah di masa Abbasiyah. Melalui integrasi antara fakta sejarah, data geografis, analisis sosiologis, dan perspektif teologis yang mendalam, Al-Ya‘qūbī berhasil menyusun sebuah karya yang melampaui batas-batas zamannya.

Isi karyanya yang mencakup sejarah dunia kuno dengan rasa hormat yang tinggi terhadap pencapaian sains dan filsafat bangsa lain, menjadikannya pionir dalam konsep sejarah universal. Di saat yang sama, keberpihakannya yang terkendali namun jelas terhadap keluarga Nabi memberikan dimensi moral dan spiritual yang membuat narasi sejarahnya terasa lebih hidup dan bermakna bagi pembaca. Tārīkh al-Ya‘qūbī bukan sekadar catatan tentang apa yang telah terjadi, tetapi sebuah refleksi tentang bagaimana peradaban manusia tumbuh, berinteraksi, dan bertransformasi di bawah naungan nilai-nilai keadilan dan ilmu pengetahuan. Karya ini tetap menjadi sumber primer yang tak tergantikan bagi siapa pun yang ingin memahami akar kompleksitas sejarah Islam dan kontribusinya bagi dunia.

Sitasi:

Al-Yaʿqūbī, A. b. A. (2002). Kitāb al-buldān. Dār al-Kutub al-ʿIlmiyyah.

Al-Yaʿqūbī. (n.d.). Al-Yaʿqūbī. DEADSEAQUAKE.info. Diakses Februari 4, 2026, dari https://deadseaquake.info/EarthquakeCatalogOfTheDeadSea/AuthorBios/alYaqubi.html

Al-Yaʿqūbī. (n.d.). Al-Yaʿqūbī. Encyclopaedia Britannica. Diakses Februari 4, 2026, dari https://www.britannica.com/biography/al-Yaqubi

Al-Yaʿqūbī. (n.d.). Al-Yaʿqūbī. WikiShia. Diakses Februari 4, 2026, dari https://en.wikishia.net/view/Al-Ya%27qubi

Al-Yaʿqūbī. (n.d.). Al-Yaʿqūbī. Wikipedia. Diakses Februari 4, 2026, dari https://en.wikipedia.org/wiki/Al-Ya%27qubi

A comparison of four medieval Muslim historians’ narratives of Saqīfa. (2019). White Rose eTheses Online. Diakses Februari 4, 2026, dari https://etheses.whiterose.ac.uk/id/eprint/25911/

An authentic summary of Karbala and the martyrdom of Hussain رضي الله عنه. (n.d.). Ink of Faith. Diakses Februari 4, 2026, dari https://www.inkoffaith.com/post/authentic-summary-karbala

Bartleby.com. (n.d.). The Abbasid Revolution. Diakses Februari 4, 2026, dari https://www.bartleby.com/essay/The-Abbasid-Revolution-PKWAZJSXH3U4Y

Battle of Karbala. (n.d.). Wikipedia. Diakses Februari 4, 2026, dari https://en.wikipedia.org/wiki/Battle_of_Karbala

Encyclopedia.com. (n.d.). Sassanid Empire. Diakses Februari 4, 2026, dari https://www.encyclopedia.com/history/encyclopedias-almanacs-transcripts-and-maps/sassanid-empire

Full text of The works of Ibn Wāḍiḥ al-Yaʿqūbī. (n.d.). Internet Archive. Diakses Februari 4, 2026, dari https://archive.org/stream/the-works-of-ibn-wadih-al-yaqubi/

Ghaus Siddiqi, G. (n.d.). How reliable is Tarikh al-Tabari, the history of Tabari? New Age Islam. Diakses Februari 4, 2026, dari https://www.newageislam.com/islamic-personalities/ghulam-ghaus-siddiqi-new-age-islam/how-reliable-tarikh-al-tabari-history-tabari/d/130157

IGNCA. (n.d.). Islamic historiography. Diakses Februari 4, 2026, dari https://ignca.gov.in/Asi_data/63686.pdf

IranDiscovery. (n.d.). The Sasanian state: Administrative structure and governance. Diakses Februari 4, 2026, dari https://irandiscovery.com/blog/the-sasanian-state-administrative-structure-and-governance/

Karbala. (n.d.). History of Islam. Diakses Februari 4, 2026, dari https://historyofislam.com/contents/the-age-of-faith/karbala/

Karbala’s movement. (n.d.). Al-Islam.org. Diakses Februari 4, 2026, dari https://al-islam.org/history-caliphs-rasul-jafariyan/karbalas-movement

Latif, F. (2019). A comparison of four medieval Muslim historians’ narratives of Saqīfa (Disertasi doktoral). University of Leeds.

Masʿūdī, al-. (n.d.). Al-Masʿūdī’s contribution in the development of classic Islamic historiography. ResearchGate. Diakses Februari 4, 2026, dari https://www.researchgate.net/publication/368722055

Pieterderideaux. (n.d.). Ibn Wāḍiḥ al-Yaʿqūbī (897). Diakses Februari 4, 2026, dari https://pieterderideaux.jimdofree.com/1-contents-till-900/ibn-wadih-al-ya-qubi-897/

Tarikh al-Yaʿqūbī. (n.d.). WikiShia. Diakses Februari 4, 2026, dari https://en.wikishia.net/view/Tarikh_al-Ya%27qubi_(book)

Tarikh al-Yaʿqūbī. (n.d.). Wikipedia. Diakses Februari 4, 2026, dari https://en.wikipedia.org/wiki/Tarikh_al-Yaqubi

Tarikh al-Yaʿqūbī (تاريخ اليعقوبي): History of al-Yaʿqūbī (2 vols.). (n.d.). AbeBooks. Diakses Februari 4, 2026, dari https://www.abebooks.com/

The Abbasid Revolution. (n.d.). The history of al-Ṭabarī (Vol. 27). Kalamullah. Diakses Februari 4, 2026, dari https://www.kalamullah.com/Books/The%20History%20Of%20Tabari/Tabari_Volume_27.pdf

The Book Gallery. (n.d.). Yakubi; Yakoubi; Abi Yaʿqub; Ahmad Yaʿqubi. Diakses Februari 4, 2026, dari https://www.bookgallery.co.il/content/english/bookpageschema.asp?bookpageid=145812

The book of Judges in medieval Muslim historiography. (n.d.). Journal of Ancient Near Eastern History. Diakses Februari 4, 2026, dari https://janes.scholasticahq.com/article/2275

The hidden truth about Karbala. (n.d.). Al-Islam.org. Diakses Februari 4, 2026, dari https://al-islam.org/printpdf/book/export/html/40027

Understanding the present by knowing the past: A critical analysis of early caliphate in Islam. (n.d.). Al-Islam.org. Diakses Februari 4, 2026, dari https://al-islam.org/printpdf/book/export/html/28959

Aletheia Rabbani
Aletheia Rabbani “Barang siapa yang tidak mampu menahan lelahnya belajar, maka ia harus mampu menahan perihnya kebodohan” _ Imam As-Syafi’i

Post a Comment