Dekonstruksi Paradigma Pembangunan dan Globalisasi dalam Pemikiran Mansour Fakih

Table of Contents

Karya Mansour Fakih yang berjudul "Runtuhnya Teori Pembangunan dan Globalisasi" merupakan salah satu literatur paling fundamental dalam diskursus ilmu sosial kritis di Indonesia. Diterbitkan pertama kali pada tahun 2001 oleh INSIST Press dan Pustaka Pelajar, buku ini lahir dari perenungan mendalam seorang aktivis sekaligus akademisi yang menyaksikan secara langsung bagaimana teori-teori pembangunan yang diagungkan selama puluhan tahun justru bermuara pada krisis ekonomi hebat pada akhir 1990-an. Inti dari karya ini adalah sebuah upaya dekonstruksi terhadap "pembangunan" yang selama ini dianggap sebagai dogma suci bagi kemajuan, namun oleh Fakih dipreteli sebagai sebuah ideologi penindas yang melanggengkan ketidakadilan sistemik. Melalui analisis yang tajam, Fakih tidak hanya mengkritik kegagalan teknis pembangunan, tetapi juga membongkar basis epistemologis dan ideologis yang melandasi modernisasi serta penerusnya, yakni globalisasi neoliberal.

Genealogi Pembangunan: Dari Kolonialisme ke Developmentalisme

Memahami keruntuhan teori pembangunan memerlukan pemahaman tentang asal-usul istilah tersebut. Fakih menjelaskan bahwa teori pembangunan atau "developmentalisme" tidak muncul dalam ruang hampa, melainkan merupakan siasat baru yang dikembangkan pasca-Perang Dunia II untuk menggantikan formasi sosial kolonialisme yang mulai runtuh. Ketika negara-negara jajahan mulai merdeka, kekuasaan kolonial tradisional tidak lagi efektif. Sebagai gantinya, diciptakanlah sebuah paradigma yang menjanjikan kemajuan melalui bantuan ekonomi, transfer teknologi, dan modernisasi institusi. Namun, dalam pandangan Fakih, pembangunan sebenarnya hanyalah kelanjutan dari ambisi kapitalisme global untuk tetap mengintegrasikan negara-negara Dunia Ketiga ke dalam orbit kepentingan ekonomi negara-negara maju.

Pembangunan diposisikan sebagai "harapan luar biasa" bagi jutaan orang untuk keluar dari kemiskinan dan keterbelakangan. Namun, terminologi "terbelakang" itu sendiri merupakan sebuah konstruksi wacana yang memaksa masyarakat Dunia Ketiga untuk mendefinisikan dirinya berdasarkan standar kemajuan Barat. Fakih menekankan bahwa pembangunan bukanlah istilah netral; ia adalah manifestasi dari ideologi kapitalisme negara (state-led development) yang bertujuan melakukan akumulasi kapital secara terpusat. Dalam konteks ini, kedaulatan rakyat sering kali dikorbankan demi mengejar angka pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) yang menjadi indikator utama keberhasilan pembangunan konvensional.

buku Runtuhnya Teori Pembangunan dan Globalisasi karya Mansour Fakih insist

Kritik Epistemologis: Paradigma dan Ilmu Sosial Kritis

Salah satu kekuatan utama karya Mansour Fakih adalah kemampuannya membedah basis ilmu pengetahuan yang menopang teori pembangunan. Ia menggunakan konsep "paradigma" yang dipopulerkan oleh Thomas Kuhn dan dikembangkan oleh Patton untuk menjelaskan bahwa setiap teori sosial berangkat dari sebuah pandangan dunia (world view) tertentu. Pembangunan, menurut Fakih, didasarkan pada paradigma positivisme yang mengedepankan objektivitas semu, netralitas nilai, dan pendekatan teknokratis. Pendekatan ini cenderung mengabaikan aspek keadilan dan relasi kuasa yang ada di balik sebuah data statistik.

Sebagai lawan dari paradigma tersebut, Fakih menawarkan ilmu sosial kritis yang bertujuan bukan hanya untuk memahami dunia, tetapi untuk mengubahnya. Teori kritis, yang berakar pada pemikiran Mazhab Frankfurt, menekankan pada upaya dekonstruksi terhadap struktur sosial yang menindas. Bagi Fakih, ilmu pengetahuan harus memiliki dimensi praktis dan implikasi bagi transformasi sosial. Tanpa kesadaran kritis, pembangunan hanya akan menjadi alat bagi elit penguasa untuk menidurkan kesadaran rakyat melalui janji-janji kemakmuran yang tak kunjung tiba.

Implementasi Developmentalisme di Indonesia: Hegemoni dan Kontrol

Mansour Fakih memberikan perhatian khusus pada bagaimana teori pembangunan diimplementasikan di Indonesia, terutama selama era Orde Baru. Ia mendeskripsikan secara rinci mekanisme kontrol sosial dan politik yang digunakan untuk memastikan bahwa ideologi pembangunan tidak mendapat tantangan dari masyarakat. Pembangunan di Indonesia tidak hanya menjadi program ekonomi, tetapi juga sebuah proyek hegemonik yang merambah ke seluruh aspek kehidupan.

Kebijakan Massa Mengambang (Floating Mass)

Salah satu instrumen kontrol politik yang paling krusial adalah kebijakan "massa mengambang". Pemerintah melarang aktivitas politik dan keberadaan organisasi massa di tingkat pedesaan dengan alasan agar rakyat bisa fokus pada pembangunan. Namun, Fakih membongkar bahwa tujuan sebenarnya adalah untuk mencegah rakyat membangun kesadaran politik kritis dan memutus hubungan antara gerakan intelektual dengan basis rakyat di tingkat bawah. Hal ini menciptakan depolitisasi massal yang membuat rakyat menjadi objek pasif dari kebijakan pemerintah.

Militerisasi Struktur Pedesaan

Kontrol terhadap rakyat diperkuat melalui struktur birokrasi yang militeristik. Penggantian sistem pemilihan lurah yang demokratis dengan penempatan militer sebagai kepala desa, serta penguatan peran Bintara Pembina Desa (Babinsa), memastikan bahwa setiap benih resistensi terhadap proyek pembangunan dapat ditekan sejak dini. Struktur kekuasaan ini bersifat patrimonial dan terpusat, di mana loyalitas kepada elit penguasa menjadi lebih penting daripada akuntabilitas kepada rakyat.

Infiltrasi Ideologi melalui Pendidikan dan Agama

Gagasan pembangunan disebarluaskan secara masif melalui jalur formal dan non-formal. Sistem pendidikan nasional dikooptasi untuk menghasilkan tenaga kerja yang patuh dan memiliki pola pikir teknokratis. Bahkan, institusi agama pun tidak luput dari infiltrasi, di mana khotbah-khotbah di rumah ibadah sering kali digunakan untuk memberikan pembenaran religius terhadap kebijakan pembangunan pemerintah. Fakih menyebut hal ini sebagai bentuk kekerasan simbolik yang melumpuhkan daya kritis masyarakat.

Runtuhnya Model Negara Industri Baru (NIC)

Analisis Fakih mencapai titik krusial ketika ia membahas kegagalan negara-negara yang dianggap sebagai "macan ekonomi" Asia, seperti Korea Selatan, Taiwan, Thailand, Malaysia, dan Indonesia. Negara-negara ini selama bertahun-tahun dijadikan model kesuksesan pembangunan kapitalis yang dikenal sebagai New Industrialized Countries (NIC). Namun, krisis 1998 membuktikan bahwa pertumbuhan yang didorong oleh utang luar negeri dan eksploitasi tenaga kerja murah adalah pertumbuhan yang semu dan rapuh.

Kegagalan NIC menurut Fakih bukanlah sekadar masalah teknis manajemen ekonomi atau maraknya praktik Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN), meskipun hal tersebut memang terjadi. Akar masalahnya terletak pada ketergantungan yang sangat dalam terhadap kapital global dan kerentanan terhadap spekulasi keuangan internasional. Ketika sistem kapitalisme global mengalami kontraksi, negara-negara yang selama ini menjadi murid setia teori pembangunan adalah yang paling pertama mengalami keruntuhan.

Globalisasi sebagai Neo-Liberalisasi yang Sistematis

Pasca runtuhnya teori pembangunan nasional, dunia memasuki era globalisasi. Namun, Mansour Fakih dengan tajam menunjukkan bahwa globalisasi bukanlah sebuah fase baru yang membawa harapan bagi kemanusiaan, melainkan sebuah bentuk reformasi dari sistem kapitalisme yang struktur dan ideologinya tetap berlandaskan pada prinsip penindasan yang sama. Globalisasi dalam pandangan Fakih adalah proses pengintegrasian ekonomi nasional ke dalam sistem ekonomi dunia berdasarkan keyakinan pada liberalisasi ekonomi total, atau neoliberalisme.

Anatomi Neoliberalisme: Homo Economicus

Fakih membedah ontologi neoliberalisme yang memandang manusia semata-mata sebagai "homo economicus" atau makhluk ekonomi. Dalam pandangan ini, semua dimensi kehidupan manusia—baik itu pendidikan, kesehatan, maupun budaya—harus tunduk pada logika pasar dan hukum untung-rugi. Jantung dari neoliberalisme adalah "fundamentalisme pasar," sebuah keyakinan bahwa pasar bebas adalah satu-satunya mekanisme yang paling efisien untuk mengatur masyarakat tanpa perlu intervensi negara.

buku Runtuhnya Teori Pembangunan dan Globalisasi karya Mansour Fakih insist

Peran Lembaga Multilateral: Polisi Globalisasi

Dalam menjalankan agenda neoliberal ini, lembaga-lembaga multilateral memainkan peran sebagai "polisi" yang memastikan negara-negara berkembang mengikuti aturan main global. International Monetary Fund (IMF), World Bank (Bank Dunia), dan World Trade Organization (WTO) adalah aktor-aktor utama yang memaksakan kebijakan liberalisasi melalui mekanisme utang dan perjanjian perdagangan bebas. Negara-negara adikuasa kini hanya berfungsi sebagai manajer yang bertugas menyediakan infrastruktur dan menjaga keamanan kawasan agar tercipta iklim kondusif bagi perusahaan transnasional.

Analisis Gender dalam Struktur Ketidakadilan

Kontribusi Mansour Fakih yang sangat orisinal dalam buku ini adalah integrasi analisis gender ke dalam kritik terhadap pembangunan. Ia berpendapat bahwa tanpa mempertanyakan posisi perempuan, analisis sosial apa pun akan tetap cacat dan tidak mampu menjangkau akar ketidakadilan. Pembangunan dan globalisasi sering kali memperburuk posisi perempuan melalui struktur patriarki yang berkelindan dengan kapitalisme.

Fakih merinci beberapa bentuk ketidakadilan gender yang muncul dalam proses pembangunan:
1. Marginalisasi: Perempuan sering kali tersingkir dari sektor ekonomi produktif akibat mekanisasi atau kebijakan industrialisasi yang tidak ramah gender.
2. Subordinasi: Pandangan bahwa perempuan adalah makhluk irrasional atau emosional membuat mereka ditempatkan pada posisi yang tidak penting dalam pengambilan keputusan publik.
3. Stereotip: Pelabelan perempuan sebagai pendamping atau pencari nafkah tambahan melegitimasi pemberian upah yang lebih rendah dibandingkan laki-laki.
4. Kekerasan (Violence): Globalisasi ekonomi sering kali memicu peningkatan kekerasan terhadap perempuan, baik di ruang domestik maupun di tempat kerja, akibat tekanan ekonomi yang ekstrem.

Faktualitas Pemiskinan: Kasus Petani dan Buruh

Buku ini bukan sekadar narasi teoretis, melainkan didukung oleh refleksi atas pengalaman dan pengamatan lapangan Mansour Fakih sebagai seorang aktivis. Ia menunjukkan bagaimana kebijakan makro ekonomi berdampak langsung pada kehidupan individu di tingkat mikro melalui proses "pemiskinan" (impoverishment) yang sistematis.

Kasus Petani Kentang di Pangalengan

Fakih mengangkat contoh petani kentang seperti Cepi Supriatna dari Sukamanah, Pangalengan. Akibat kebijakan perdagangan bebas yang membanjiri pasar lokal dengan kentang impor yang harganya jauh lebih murah, petani lokal mengalami kerugian besar. Dari satu hektar lahan, petani hanya mendapatkan keuntungan sangat kecil yang tidak mampu menutupi kebutuhan hidup, sehingga banyak petani yang terpaksa beralih profesi menjadi pedagang kecil atau buruh kasar. Hal ini membuktikan bahwa liberalisasi perdagangan sering kali menjadi lonceng kematian bagi kedaulatan pangan lokal.

Kasus Petani Apel di Batu

Fenomena serupa dialami oleh petani apel di Batu, Malang. Masuknya buah impor secara besar-besaran tidak hanya menurunkan harga jual produk lokal, tetapi juga menghancurkan struktur ekonomi pedesaan yang telah mapan. Dampak perdagangan bebas ini diidentifikasi oleh Fakih sebagai faktor utama penyebab kemiskinan di tingkat akar rumput pada era globalisasi.

Transformasi Petani Menjadi Buruh

Fakih juga menyoroti bagaimana pembangunan industri menyebabkan para petani dan perajin kehilangan akses terhadap alat produksi utama mereka, yakni tanah. Ketika tanah mereka dikooptasi untuk pembangunan kawasan industri atau infrastruktur, mereka terpaksa menjual tenaga kerja mereka kepada pemilik modal sebagai buruh. Proses ini menciptakan kelas pekerja baru yang sangat rentan terhadap eksploitasi karena mereka tidak lagi memiliki kemandirian ekonomi.

Teologi Transformatif: Melawan Ketidakadilan melalui Agama

Sebagai seorang intelektual yang mendalami pemikiran Islam, Mansour Fakih menawarkan gagasan "Teologi Transformatif" sebagai respon terhadap kegagalan pembangunan. Ia melihat bahwa agama sering kali hanya dipahami secara ritual-individual atau justru digunakan oleh penguasa untuk melanggengkan status quo. Teologi transformatif bertujuan untuk mentransformasikan tafsir keagamaan yang bersifat teosentris dan elitis menjadi tafsir yang liberatif dan berpihak pada kaum tertindas.

Prinsip utama dari paradigma ini adalah keadilan sosial. Agama harus mampu memberikan solusi terhadap problem kemanusiaan yang nyata seperti kemiskinan, eksploitasi, dan ketimpangan. Dalam pandangan Fakih, kesadaran akan ketidakadilan sistemik adalah bagian integral dari iman. Oleh karena itu, teologi ini mendorong umat untuk terlibat aktif dalam proses transformasi sosial demi mewujudkan tatanan yang lebih egaliter.

Intelektual Organik dan Gerakan Transformasi Sosial

Menghadapi dominasi hegemoni pembangunan dan globalisasi, Mansour Fakih menegaskan pentingnya peran "intelektual organik". Terinspirasi oleh pemikiran Antonio Gramsci, Fakih mendefinisikan intelektual bukan sekadar orang yang memiliki gelar akademik, tetapi mereka yang mengakar dalam dinamika sosial masyarakat dan menggunakan pengetahuannya untuk membela kepentingan kelompok yang dilemahkan. Intelektual transformatif harus berani keluar dari menara gading akademik dan terlibat langsung dalam perjuangan rakyat di tingkat akar rumput.

Pendidikan Populer: Membangun Kesadaran Kritis

Salah satu alat utama untuk transformasi sosial adalah pendidikan populer. Fakih, bersama rekan-rekannya di INSIST, mengembangkan metode pendidikan yang bertujuan membangun kesadaran kritis (critical consciousness) di kalangan rakyat. Melalui metode dialogis, rakyat diajak untuk memahami bahwa kemiskinan mereka bukanlah sebuah kutukan atau takdir, melainkan hasil dari sebuah struktur sosial dan kebijakan yang tidak adil. Penyadaran ini adalah langkah pertama dan paling mendasar menuju perubahan sistemik.

Riset Partisipatoris (Participatory Action Research)

Fakih juga memperkenalkan pendekatan riset partisipatoris, di mana masyarakat bukan lagi sekadar menjadi objek penelitian, melainkan subjek aktif yang ikut merumuskan masalah dan mencari solusi bagi diri mereka sendiri. Riset ini bersandar pada asumsi bahwa manusia memiliki kemampuan alami untuk menciptakan pengetahuan. Dengan terlibat dalam riset, masyarakat dapat memiliki kontrol atas proses pembangunan di wilayah mereka dan tidak lagi bergantung pada pengetahuan teknokratis yang sering kali asing bagi realitas mereka.

Kesimpulan: Warisan Pemikiran dan Relevansi Masa Depan

Buku "Runtuhnya Teori Pembangunan dan Globalisasi" bukan sekadar artefak sejarah dari masa transisi Orde Baru, melainkan sebuah kompas intelektual yang tetap sangat relevan dalam menghadapi tantangan kontemporer. Peringatan Mansour Fakih mengenai bahaya neoliberalisme terbukti benar ketika kita melihat ketimpangan ekonomi yang semakin ekstrem, krisis iklim akibat pembangunan yang eksploitatif, dan maraknya oligarki yang mengooptasi demokrasi demi akumulasi modal.

Analisis Fakih mengingatkan kita bahwa setiap kebijakan pembangunan memiliki wajah politik dan dimensi etis. Globalisasi yang dipacu oleh kepentingan korporasi transnasional telah melemahkan kedaulatan negara dan meminggirkan hak-hak dasar rakyat. Oleh karena itu, ajakan Fakih untuk kembali pada paradigma transformasi sosial yang berlandaskan pada keadilan, kesetaraan gender, dan kedaulatan rakyat adalah sebuah urgensi yang tidak bisa ditunda.

Karya ini telah mengilhami generasi aktivis dan akademisi di Indonesia untuk terus mempertanyakan "status quo" dan memperjuangkan sistem alternatif yang lebih manusiawi. Mansour Fakih telah meninggalkan sebuah warisan pemikiran yang radikal dalam arti yang paling murni: ia mengajak kita untuk turun sampai ke akar masalah dan berani meruntuhkan bangunan teori yang menindas demi membangun masa depan yang benar-benar berpihak pada kemanusiaan. Transformasi sosial, bagi Fakih, adalah sebuah proses yang berkelanjutan, sebuah perjuangan untuk memanusiakan kembali manusia yang telah didehumanisasi oleh mesin pembangunan dan globalisasi.

Sitasi:

Mansour Fakih. (2002). Runtuhnya teori pembangunan dan globalisasi. Insist Press & Pustaka Pelajar.

Ang Zen. (n.d.). Globalisasi versus anti-globalisasi. https://ang-zen.com/globalisasi-versus-anti-globalisasi/

Catalogue record. (n.d.). Runtuhnya teori pembangunan dan globalisasi / Dr. Mansour Fakih. National Library of Australia. https://nla.gov.au/nla.cat-vn2221895

CV Tirta Buana Media. (n.d.). Runtuhnya teori pembangunan dan globalisasi. https://tirtabuanamedia.co.id/shop/buku-sosial-politik/runtuhnya-teori-pembangunan-dan-globalisasi/

Digilib UIN Suka. (n.d.). Teologi transformatif (Studi pemikiran Mansour Fakih) skripsi. https://digilib.uin-suka.ac.id/12816/1/BAB%20I%2C%20VI%2C%20DAFTAR%20PUSTAKA.pdf

Digilib UIN Suka. (n.d.). Peran intelektual dalam transformasi .... https://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/73098/1/18105010025_BAB-I_IV-atau-V_DAFTAR-PUSTAKA.pdf

Digital Library UINKHAS Jember. (n.d.). Bab I pendahuluan .... https://digilib.uinkhas.ac.id/20864/1/AGUS%20FIRMANTO_084%20091%20015.pdf

Diponegoro University Institutional Repository. (n.d.). Bernegara itu tidak mudah. https://eprints.undip.ac.id/7828/1/Prof_Arief.pdf

DGB UI. (2025). Kebijakan global dan penanggulangan kemiskinan melalui kolaborasi pentahelix. https://dgb.ui.ac.id/wp-content/uploads/123/2025/01/Buku-Pidato_GB-Fentiny-Nugroho.pdf

E-journal Metro Univ. (n.d.). Refleksi terhadap pembangunan dan ancaman .... https://e-journal.metrouniv.ac.id/ath_thariq/article/download/1085/1075/3699

Lingkar Studi Filsafat Discourse. (n.d.). Kritik arah pembangunan kita. https://lsfdiscourse.org/kritik-arah-pembangunan-kita/

Media Neliti. (n.d.). Pendidikan kritis Mansour Fakih: Sudut pandang pendidikan Islam. https://media.neliti.com/media/publications/560660-pendidikan-kritis-mansour-fakih-sudut-pa-c03bca00.pdf

ResearchGate. (n.d.). Memahami neoliberalisme. https://www.researchgate.net/publication/332118996_Memahami_Neoliberalisme

ResearchGate. (n.d.). Neoliberalisme. https://www.researchgate.net/publication/331935880_Neoliberalisme

ResearchGate. (n.d.). Pendidikan kritis Mansour Fakih: Sudut pandang pendidikan Islam. https://www.researchgate.net/publication/367584235_Pendidikan_Kritis_Mansour_Fakih_Sudut_Pandang_Pendidikan_Islam

ResearchGate. (n.d.). Teori pembangunan internasional. https://www.researchgate.net/profile/Muhammad-Yamin-6/publication/326799792_TEORI_PEMBANGUNAN_INTERNASIONAL/links/5b63ca84aca272e3b6ac2517/TEORI-PEMBANGUNAN-INTERNASIONAL.pdf

Repositori UIN Ar-Raniry. (n.d.). Wacana teologi transformatif: Dari teosentris ke antroposentris. https://repository.ar-raniry.ac.id/23917/2/Buku%20Wacana%20Teologi%20Transformatif.pdf

Scribd. (n.d.). Review buku runtuhnya teori pembangunan. https://id.scribd.com/document/859720099/REVIEW-BUKU-RUNTUHNYA-TEORI-PEMBANGUNAN

Scribd. (n.d.). Kel 7 – Pandangan Mansour Fakih. https://id.scribd.com/document/786024965/kel-7-PANDANGAN-MANSOUR-FAKIH-1

UIN Walisongo. (n.d.). Etos kerukunan keagamaan orang Islam Jawa (Disertasi). https://eprints.walisongo.ac.id/25196/1/Disertasi_1900029002_Daryono.pdf

IPDN. (n.d.). Pembangunan dalam perspektif pemberdayaan masyarakat. http://eprints2.ipdn.ac.id/1468/1/Pembangunan%20Dalam%20Perspektif%20Pemberdayaan%20Masyarakat.pdf

Jurnal Sosiologi Indonesia. (n.d.). Globalisasi, postmodernisme dan tantangan kekinian sosiologi Indonesia. https://jurnalfisip.uinsa.ac.id/index.php/JSI/article/download/21/19

Aletheia Rabbani
Aletheia Rabbani “Barang siapa yang tidak mampu menahan lelahnya belajar, maka ia harus mampu menahan perihnya kebodohan” _ Imam As-Syafi’i

Post a Comment