Arsitektur Teologis dan Etika Sosial dalam Major Themes of the Qur'an: Analisis Weltanschauung Qur’ani Fazlur Rahman

Table of Contents

Major Themes of the Qur'an
Karya monumental Fazlur Rahman yang bertajuk Major Themes of the Qur'an bukan sekadar sebuah pengantar studi Islam, melainkan sebuah upaya dekonstruksi dan rekonstruksi terhadap cara pandang dunia (weltanschauung) yang terkandung dalam kitab suci umat Islam. Sebagai seorang intelektual yang mendalami tradisi skolastik Islam di Timur dan metodologi kritis di Barat, Rahman menghadirkan sebuah sintesis yang koheren untuk menjawab kompleksitas pesan Al-Qur'an melalui pendekatan tematik yang sistematis. Laporan ini akan menguraikan secara mendalam struktur pemikiran Rahman, mulai dari fondasi hermeneutikanya hingga eksplanasi rinci atas delapan tema besar yang ia rumuskan, dengan mengintegrasikan konteks sejarah, mekanisme teologis, serta implikasi sosial-politik yang muncul dari pembacaan tersebut.

Fondasi Hermeneutika: Teori Gerakan Ganda (Double Movement)

Sebelum membedah isi setiap tema, pemahaman terhadap metodologi Rahman sangat krusial karena metodologi inilah yang menjadi mesin penggerak seluruh analisisnya dalam buku tersebut. Rahman sangat kritis terhadap model tafsir tradisional yang ia sebut bersifat "atomistik", yakni penafsiran ayat demi ayat secara terpisah sesuai urutan mushaf tanpa melihat keterkaitan organik antara satu pesan dengan pesan lainnya. Baginya, metode tradisional ini sering kali terjebak dalam makna literal-tekstual yang mengabaikan dinamika sejarah dan tujuan moral yang lebih luas.

Sebagai solusinya, Rahman menawarkan teori "Gerakan Ganda" (Double Movement). Gerakan pertama adalah proses berpindah dari situasi masa kini menuju era di mana Al-Qur'an diturunkan. Dalam tahap ini, seorang penafsir harus melakukan analisis sosio-historis yang mendalam terhadap konteks masyarakat Arab abad ke-7, memahami masalah makro yang dihadapi Nabi, dan melihat bagaimana pernyataan Al-Qur'an hadir sebagai respon terhadap kondisi tersebut. Dari pemahaman konteks ini, penafsir kemudian melakukan generalisasi untuk mengekstraksi "ideal moral" atau prinsip-prinsip universal di balik hukum-hukum spesifik tersebut.

Gerakan kedua adalah membawa kembali prinsip-prinsip umum tersebut dari masa Nabi ke masa sekarang. Prinsip moral tersebut kemudian dikontekstualisasikan dan diterapkan kembali pada realitas sosial kontemporer. Pendekatan ini memastikan bahwa Al-Qur'an tetap menjadi panduan yang hidup dan elastis (shalih li kulli zaman wa makan), bukan sekadar teks hukum yang kaku dan statis.

Karya Major Themes of the Qur'an oleh Fazlur Rahman

Tuhan: Konsep Eksistensi Fungsional dan Monoteisme Radikal

Dalam bab pertama, Rahman menegaskan bahwa Al-Qur'an bukan sebuah risalah teologis abstrak tentang hakikat Tuhan, melainkan sebuah dokumen yang bertujuan untuk memberi petunjuk kepada manusia (hudan lil-nas). Eksistensi Tuhan dalam Al-Qur'an bersifat sangat fungsional; Dia adalah Pencipta, Pemelihara, Pemberi Petunjuk, dan Hakim yang memberikan keadilan yang penuh kasih sayang. Rahman menolak pandangan beberapa sarjana Barat yang menggambarkan Tuhan dalam Al-Qur'an hanya sebagai simbol kekuatan absolut atau "brute power". Sebaliknya, ia menekankan bahwa kemahakuasaan Tuhan selalu berkelindan dengan rahmat-Nya yang tak terbatas dalam sebuah kesatuan organik.

Rahman mencatat bahwa istilah "Allah" muncul lebih dari 2.500 kali, mencerminkan betapa sentralnya konsep ketuhanan dalam struktur Al-Qur'an. Al-Qur'an tidak berusaha membuktikan eksistensi Tuhan melalui argumen teologis yang rumit, melainkan melalui "pengingat" (reminders) terhadap fakta-fakta alam semesta dan sejarah manusia. Keimanan pada yang gaib (iman bi al-ghayb), seperti yang disebutkan dalam surah Al-Baqarah ayat 3, dipahami sebagai kesadaran mendalam akan realitas transenden yang memberikan makna pada kehidupan material.

Salah satu kontribusi penting Rahman dalam bab ini adalah penjelasannya mengenai kontingensi alam semesta. Segala sesuatu selain Tuhan bersifat kontingen, artinya keberadaannya bergantung sepenuhnya pada Pencipta. Rahman menggunakan analogi seorang anak yang asyik dengan mainannya tanpa memikirkan dari mana mainan itu berasal; demikian pula manusia sering terbuai oleh alam semesta sehingga lupa pada Sang Khaliq. Al-Qur'an mengajak manusia untuk melihat "ketika" (whence) dan "tujuan" (whither) dari alam ini untuk menemukan Tuhan sebagai Master-Truth.

Karakteristik Ketuhanan menurut Rahman

Analisis Rahman mengenai Tuhan dapat dirangkum dalam beberapa poin kunci yang menghubungkan aspek metafisik dengan tanggung jawab manusia:

  • Keadilan yang Berbelas Kasih: Tuhan tidak hanya menghukum, tetapi keadilan-Nya selalu diimbangi dengan rahmat. Konsep ini menentang pandangan teologis yang memisahkan antara keadilan absolut dan kasih sayang.
  • Kehadiran yang Menembus: Tuhan digambarkan lebih dekat daripada urat leher (Surah Qaf:16), menunjukkan bahwa setiap tindakan manusia berada dalam pengawasan ilahi yang konstan.
  • Kedaulatan Fungsional: Peran Tuhan sebagai pemberi petunjuk bertujuan agar manusia mampu membangun tatanan dunia yang etis.

Manusia sebagai Individu: Integritas Psikosomatik dan Peran Vicegerent

Bab kedua buku ini mengeksplorasi pandangan Al-Qur'an tentang manusia yang sangat berbeda dari tradisi pemikiran Yunani yang memisahkan tubuh dan jiwa secara dikotomis. Rahman berargumen bahwa Al-Qur'an memandang manusia sebagai satu kesatuan psikosomatik yang utuh; jiwa bukanlah substansi yang terpisah, melainkan keadaan mental yang tak terpisahkan dari eksistensi fisik. Keyakinan ini memiliki implikasi besar terhadap konsep kebangkitan dan pengadilan terakhir, di mana manusia akan diadili sebagai satu kesatuan utuh.

Rahman menyoroti keistimewaan manusia yang diciptakan dengan tiupan ruh Tuhan sendiri, sebuah simbol martabat yang luar biasa. Melalui narasi penciptaan Adam, Rahman menjelaskan kompetisi pengetahuan antara Adam dan para malaikat. Malaikat yang hanya bisa memuji Tuhan kalah dalam menyebutkan "nama-nama benda", yang melambangkan kapasitas intelektual-konseptual manusia untuk memahami hukum alam dan menciptakan kebudayaan. Oleh karena itu, manusia diangkat sebagai khalifah atau wakil Tuhan di bumi dengan misi membangun tatanan moral-sosial.

Inti dari etika individu dalam pandangan Rahman adalah konsep Taqwa. Ia mengkritik keras terjemahan taqwa sebagai "takut" dalam arti negatif. Baginya, taqwa adalah "obor batin" atau indra kewaspadaan moral yang memungkinkan manusia untuk membedakan antara yang benar dan yang salah dalam situasi yang kompleks. Manusia secara alami berada dalam "ketegangan moral" karena ia memiliki sifat picik, gegabah, dan mudah lupa akan tanggung jawabnya. Keseimbangan dalam ketegangan inilah yang disebut taqwa. Penderitaan yang dialami manusia sering kali berfungsi sebagai pengingat dari Tuhan agar manusia kembali pada jalur tanggung jawab moralnya.

Karya Major Themes of the Qur'an oleh Fazlur Rahman

Manusia dalam Masyarakat: Keadilan Sosial dan Transformasi Ekonomi

Al-Qur'an tidak memandang manusia sebagai entitas yang terisolasi, melainkan sebagai bagian integral dari komunitas. Dalam bab ketiga, Rahman menjelaskan bahwa tujuan utama Al-Qur'an adalah membangun sebuah tatanan sosial yang fungsional, adil, dan egaliter di muka bumi. Ia secara rinci menggambarkan bagaimana Al-Qur'an hadir sebagai kritik radikal terhadap struktur masyarakat Mekkah yang sangat timpang secara ekonomi dan sosial.

Rahman menunjukkan bahwa oligarki perdagangan Mekkah pada masa itu melakukan eksploitasi yang kejam terhadap kelompok-kelompok marginal seperti yatim piatu, budak, dan perempuan. Al-Qur'an merespon kondisi ini dengan memperkenalkan konsep keadilan distributif melalui zakat dan larangan riba. Zakat bukan sekadar kedermawanan sukarela, melainkan kewajiban sistematis untuk meredistribusi kekayaan dari si kaya ke si miskin demi menjaga stabilitas dan martabat kemanusiaan. Rahman menegaskan bahwa Al-Qur'an mengutuk keras akumulasi kekayaan yang tidak produktif dan eksploitatif.

Salah satu poin unik dalam analisis Rahman adalah gagasan bahwa Tuhan adalah "pihak ketiga" dalam setiap interaksi sosial. Kesadaran akan kehadiran Tuhan (sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Mujadilah: 7) seharusnya mencegah manusia dari persekongkolan jahat dan penindasan. Al-Qur'an memandang bahwa ketidakadilan sosial bukan hanya kesalahan kebijakan, melainkan merupakan "kezaliman terhadap diri sendiri" (zulm al-nafs) yang pada akhirnya akan menghancurkan peradaban tersebut secara keseluruhan. Rahman menekankan bahwa persaudaraan manusia adalah warisan dasar karena semua manusia berasal dari asal-usul yang satu.

Faktualisasi Keadilan Sosial dalam Perspektif Al-Qur'an

Rahman mengidentifikasi beberapa langkah konkret yang diperintahkan Al-Qur'an untuk menciptakan masyarakat yang sehat:
1. Penghapusan Riba: Untuk menghentikan sistem pinjaman yang menghisap darah kaum miskin dan memastikan sirkulasi modal yang adil.
2. Perlindungan Kelompok Rentan: Memberikan hak hukum dan sosial yang jelas bagi yatim piatu dan budak agar mereka tidak menjadi korban keserakahan individu.
3. Kesetaraan Gender: Rahman berargumen bahwa Al-Qur'an memberikan landasan bagi kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan dalam ruang publik dan akses pengetahuan.
4. Tanggung Jawab Kolektif: Masyarakat secara keseluruhan bertanggung jawab untuk mencegah kemungkaran dan mendorong kebajikan (amar ma'ruf nahi munkar).

Alam Semesta: Kosmos sebagai Muslim dan Tanda-Tanda Ilahi

Dalam bab keempat, Rahman membahas tentang alam (Nature). Ia mencatat bahwa Al-Qur'an sangat minimalis dalam menjelaskan proses teknis penciptaan, namun sangat ekstensif dalam menjelaskan tujuan penciptaan tersebut. Alam semesta dipandang sebagai sebuah sistem yang teratur, koheren, dan tunduk sepenuhnya pada hukum-hukum Tuhan yang telah tertanam di dalamnya. Karena ketundukannya yang mutlak inilah, Al-Qur'an menyebut seluruh alam semesta sebagai "Muslim".

Rahman menekankan perbedaan fundamental antara hukum fisik (physical law) yang mengatur alam dan hukum moral (moral law) yang mengatur manusia. Alam semesta tidak memiliki pilihan selain patuh, sedangkan manusia diberikan kebebasan untuk memilih ketaatan atau pembangkangan. Tujuan utama alam semesta adalah sebagai panggung bagi manusia untuk merenungkan keagungan Tuhan melalui tanda-tanda (ayat). Segala sesuatu di laut dan di darat diciptakan untuk dimanfaatkan oleh manusia demi kemaslahatan hidup, namun pemanfaatan ini harus berada dalam kerangka pengabdian kepada Sang Pencipta.

Rahman menolak pandangan yang menganggap alam semesta sebagai entitas yang ada dengan sendirinya (autocratic). Ia menegaskan bahwa tanpa intervensi dan pemeliharaan terus-menerus dari Tuhan, alam semesta akan jatuh ke dalam ketiadaan. Setiap fenomena alam, mulai dari pergerakan kapal di laut hingga siklus hujan, adalah manifestasi dari rahmat Tuhan yang memungkinkan kehidupan berlangsung. Oleh karena itu, sains dan eksplorasi alam dipandang sebagai aktivitas religius untuk menyingkap rahasia kebesaran Ilahi.

Kenabian dan Wahyu: Sinergi antara Kehendak Ilahi dan Psike Rasul

Bab kelima mengenai Kenabian dan Wahyu merupakan salah satu bagian yang paling intelektual dalam karya Rahman. Ia menggambarkan Islam sebagai puncak dari proses evolusi agama-agama monoteistik, dengan Muhammad sebagai pembawa pesan terakhir yang menyempurnakan ajaran para nabi sebelumnya. Rahman menekankan bahwa semua nabi membawa esensi pesan yang sama: tauhid dan keadilan sosial.

Yang sangat menarik adalah analisis Rahman mengenai mekanisme psikologis wahyu. Ia menggambarkan wahyu bukan sebagai pendiktean eksternal yang pasif, melainkan sebuah proses di mana "Ruh" atau malaikat turun ke dalam hati Nabi pada saat-saat intensitas spiritual yang tinggi, seperti pada Malam Kemuliaan (Laylat al-Qadr). Rahman berargumen bahwa kepribadian Nabi Muhammad—pengalamannya, keputusannya, dan pergulatan batinnya—berperan aktif dalam pembentukan konten wahyu. Wahyu adalah murni firman Tuhan dari segi asal-usulnya, namun ia juga merupakan ekspresi dari psike Nabi yang telah disucikan oleh Ruh tersebut.

Rahman juga menyoroti mukjizat Al-Qur'an yang terletak pada keindahan bahasa dan koherensi pesannya. Ia menolak pandangan bahwa Nabi hanyalah saluran kosong; sebaliknya, Nabi adalah subjek yang terlibat penuh dalam merespon tantangan zamannya dengan panduan ilahi. Pandangan ini sering kali dianggap kontroversial karena Rahman mencoba menjembatani antara transendensi wahyu dengan historisitas manusia pembawanya.

Karya Major Themes of the Qur'an oleh Fazlur Rahman

Eskatologi: Makna Moral dari Hari Pembalasan

Dalam bab keenam, Rahman membahas eskatologi bukan sekadar sebagai ramalan tentang masa depan, melainkan sebagai fondasi bagi akuntabilitas moral manusia saat ini. Al-Qur'an menekankan bahwa setiap individu akan diminta pertanggungjawabannya secara personal atas setiap tindakan yang dilakukan di dunia. Kepercayaan pada Hari Kiamat memberikan urgensi pada tindakan moral; tanpa pengadilan terakhir, seluruh tatanan etis dunia akan menjadi tidak bermakna.

Rahman menjelaskan proses eskatologis melalui berbagai simbol Qur'ani. Pada Hari Kebangkitan, manusia akan berdiri sendiri di hadapan Tuhan, tanpa bantuan teman atau syafaat yang bersifat mekanis. Al-Qur'an menggambarkan penyerahan "catatan amal" (scroll); mereka yang benar akan menerimanya di tangan kanan sebagai tanda kemenangan, sementara yang jahat di tangan kiri sebagai tanda kehinaan. Rahman menekankan bahwa deskripsi tentang Surga (Jannah) dan Neraka (Nar) dalam Al-Qur'an seringkali berfungsi sebagai bahasa metaforis untuk menggambarkan kondisi spiritual tertinggi atau penderitaan terdalam akibat pengkhianatan terhadap fitrah manusia.

Pesan utama eskatologi Qur'ani, menurut Rahman, adalah penegakan keadilan absolut. Tuhan tidak akan membiarkan sekecil apa pun kebaikan hilang tanpa balasan, dan demikian pula dengan kejahatan. Hal ini memotivasi umat beriman untuk terus berjuang menegakkan kebenaran meskipun hasilnya tidak terlihat secara langsung di dunia. Rahman juga mencatat bahwa konsep syafaat (interkoneksi antara Nabi dan umatnya) harus dipahami dalam kerangka rahmat Tuhan, bukan sebagai jalan pintas untuk menghindari tanggung jawab pribadi.

Setan dan Kejahatan: Psikologi Putus Asa dan Lemahnya Tipu Daya

Bab ketujuh membahas Iblis atau Setan sebagai personifikasi prinsip kejahatan dalam Al-Qur'an. Rahman menegaskan posisi teologis yang sangat penting: Setan bukanlah rival atau tandingan bagi Tuhan. Tuhan berada jauh di atas jangkauan Setan; Setan hanya bisa berinteraksi dan mencoba mempengaruhi manusia. Oleh karena itu, konflik antara kebaikan dan kejahatan adalah fenomena yang sepenuhnya bersifat manusiawi.

Rahman menjelaskan asal-usul pembangkangan Iblis yang berakar pada kesombongan (takabbur). Iblis merasa lebih mulia karena diciptakan dari api, sementara manusia dari tanah. Penolakan ini kemudian berubah menjadi rasa putus asa (despair) yang mendalam setelah ia dikutuk oleh Tuhan. Strategi Setan, menurut Rahman, adalah memanfaatkan kelemahan manusia—seperti kepicikan dan kecintaan pada dunia—untuk membuat hal-hal yang buruk tampak indah dan hal-hal yang benar tampak membosankan atau berat.

Meskipun Setan digambarkan licin dan lihai, Al-Qur'an menegaskan bahwa tipu daya Setan sebenarnya sangat lemah (da'if). Setan tidak memiliki kekuatan memaksa; ia hanya bisa membisikkan godaan. Manusia yang memiliki integritas moral dan kewaspadaan batin (taqwa) memiliki perlindungan yang kokoh terhadap bisikan ini. Kejahatan terjadi ketika manusia secara sukarela menurunkan kewaspadaannya dan membiarkan sisi rendah dirinya mengambil alih kendali.

Karya Major Themes of the Qur'an oleh Fazlur Rahman

Kelahiran Komunitas Muslim: Identitas, Keberagaman, dan Jihād

Bab terakhir menguraikan proses pembentukan umat Islam sebagai komunitas yang sadar akan misinya dalam sejarah. Rahman meninjau bagaimana komunitas ini berinteraksi dengan komunitas agama lain, terutama Yahudi dan Nasrani. Ia menjelaskan bahwa Al-Qur'an mengakui keberagaman agama sebagai sebuah keniscayaan sejarah dan kehendak Tuhan agar manusia saling berkompetisi dalam kebajikan.

Salah satu poin penting dalam bab ini adalah evolusi konsep Jihād. Rahman memberikan pembacaan yang bernuansa terhadap ayat-ayat perang dalam Al-Qur'an. Ia berpendapat bahwa perang diizinkan bukan untuk memaksakan agama, melainkan untuk meruntuhkan tatanan politik yang menindas sehingga manusia memiliki kebebasan untuk memilih jalannya sendiri. Apa yang disebarkan melalui kekuatan politik pada masa awal Islam adalah "domain politik Islam" yang menjamin keadilan sosial, bukan konversi paksa ke agama Islam.

Rahman juga membahas transisi dari Mekkah ke Madinah sebagai pergeseran dari perjuangan moral individu ke pembangunan institusi sosial. Komunitas Muslim dipanggil untuk menjadi "umat pertengahan" (ummatan wasatan) yang menjadi saksi bagi keadilan di hadapan seluruh umat manusia. Keberadaan umat ini sangat krusial sebagai instrumen untuk mewujudkan kehendak Tuhan di muka bumi secara kolektif.

Sintesis Intelektual: Implikasi bagi Dunia Modern

Melalui delapan tema besar ini, Fazlur Rahman berhasil menyajikan sebuah potret Islam yang sangat dinamis, intelektual, dan berorientasi pada aksi sosial. Karya ini memberikan jawaban atas kegelisahan umat Islam modern yang sering kali terjebak antara tradisionalisme kaku dan sekularisme radikal. Rahman menunjukkan bahwa Al-Qur'an memiliki fleksibilitas internal yang luar biasa untuk menjawab tantangan zaman asalkan pendekatannya bersifat tematik dan berorientasi pada ideal moral.

Konsep Taqwa dan Keadilan Sosial menjadi dua pilar utama dalam pemikiran Rahman. Taqwa sebagai jangkar moral individu memastikan integritas pribadi, sementara keadilan sosial sebagai mandat kolektif memastikan terciptanya tatanan dunia yang bermartabat. Dengan memahami bahwa alam semesta adalah sebuah kesatuan sistem yang teratur, umat Islam didorong untuk menguasai sains dan teknologi sebagai bagian dari ibadah.

Secara keseluruhan, Major Themes of the Qur'an bukan hanya sebuah buku teks tentang Islam, melainkan sebuah seruan untuk melakukan "ijtihad" terus-menerus. Rahman mengingatkan bahwa Al-Qur'an adalah kitab yang berbicara kepada akal dan hati, menuntut manusia untuk tidak pernah berhenti belajar, merenung, dan beraksi demi menciptakan tatanan dunia yang lebih baik sesuai dengan kehendak Sang Pencipta. Pesan ini tetap relevan, bahkan semakin mendesak, di tengah krisis moral dan ketidakadilan global yang dihadapi umat manusia saat ini.

Sitasi:

A Confessional scholar: Fazlur Rahman and the origins of his Major Themes of the Qur'an. (2019). The Maydan. https://themaydan.com/2019/08/a-confessional-scholar-fazlur-rahman-and-the-origins-of-his-major-themes-of-the-quran/

Academia.edu. (n.d.). The book review: Rahman, Fuzlur, Major Themes of the Qur'ān. https://www.academia.edu/35546846/The_Book_Review_Rahman_Fuzlur_Major_Themes_of_the_Qur_a_n

Brill. (n.d.). Eschatology. https://brill.com/display/book/edcoll/9789004381599/BP000018.pdf

Double movement theory in Fazlur Rahman's thought: Social and religious applications. (n.d.). Jurnal STIQ Amuntai. https://jurnal.stiq-amuntai.ac.id/index.php/al-qalam/article/viewFile/4747/2394

edX. (n.d.). Fazlur Rahman – Major Themes of the Qur'an. https://courses.edx.org/asset-v1:NotreDameX+TH120.2x+3T2015+type@asset+block/ODL_TH1202x_M03_Rahman_Chp1.pdf

Exploring Fazlur Rahman's interpretive Major Themes of the Qur'an. (n.d.). Versita. https://versita.com/menuscript/index.php/Versita/article/download/1028/1084/1287

Fazlur Rahman – The great Muslim scholar. (n.d.). Witness-Pioneer. https://witness-pioneer.net/storage/htmls/Presentations/personality/Fazlur%20Rahman.ppt

Fazlur Rahman's double movement and its contribution to Islamic thought. (n.d.). Neliti. https://media.neliti.com/media/publications/411552-fazlur-rahmans-double-movement-and-its-c-48153265.pdf

Fazlur Rahman's double movement and thematic methods of interpretation of the Al-Qur'an. (n.d.). https://e-journal.uac.ac.id/index.php/iijse/article/download/5647/2122

Fazlur Rahman's hermeneutic analysis of Hamka's Tafsīr al-Azhar. (n.d.). Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi. https://ejournal.uinbukittinggi.ac.id/index.php/ITR/article/download/6491/1487

Fazlur Rahman's influence on contemporary Islamic thought. (n.d.). Minerva Access, The University of Melbourne. https://minerva-access.unimelb.edu.au/bitstreams/ffabed7b-7538-513d-b196-f1035c4462a0/download

Goodreads. (n.d.). Major Themes of the Qur'an by Fazlur Rahman. https://www.goodreads.com/book/show/81245.Major_Themes_of_the_Qur_an

Knowing Iblis: Study of thematic interpretation of devil's pride. (n.d.). https://journal.staitaruna.ac.id/index.php/ijith/article/download/14/82/421

Major Themes of the Qur'an: Second edition. (n.d.). The University of Chicago Press. https://press.uchicago.edu/ucp/books/book/chicago/M/bo6826294.html

Major Themes of the Qur'an: Second edition. (n.d.). Google Books. https://books.google.com/books/about/Major_Themes_of_the_Qur_an.html

Major Themes of the Qur'an. (n.d.). Scribd. https://www.scribd.com/document/848283122/Major-themes-of-the-Quran-Stanford-final

Major Themes of the Qur'an. (n.d.). Training Leaders International. https://trainingleadersinternational.org/jgc/82/major-themes-of-the-quran

Major Themes of the Qur'an. (n.d.). Training Leaders International Canada. https://trainingleaders.ca/jgc/82/major-themes-of-the-quran

Missi Al-Qur'an perspective Fazlur Rahman: Study of the verses of the Qur'an in the book Major Themes of the Qur'an approach maqāṣid al-Qur'an. (n.d.). ResearchGate. https://www.researchgate.net/publication/393924799_Missi_Al-Qur'an_Prespective_Fazlur_Rahman_Study_of_the_verses_of_the_Quran_in_the_book_Major_Themes_Of_The_Qur'an_Approach_Maqasid_al-Qur'an

Rahman, F. (2009). Major themes of the Qur’an (2nd ed.). University of Chicago Press.

Squarespace. (2022). 7th session QR 2022: Satan and evil. https://static1.squarespace.com/static/6027387fa69d7d4425a64dbf/t/623113511044e84d25408eaa/1647383377901/7th+Session+QR+2022_+Satan+and+Evil.pdf

The concept of eschatology in Islam: An analysis of Fazlur Rahman's perspective and Al-Munir's exegesis. (n.d.). Scholar Hub Universitas Indonesia. https://scholarhub.ui.ac.id/cgi/viewcontent.cgi?article=1075&context=meis

The concept of morality according to Fazlur Rahman. (n.d.). ResearchGate. https://www.researchgate.net/publication/370930087_The_Concept_of_Morality_According_to_Fazlur_Rahman

The double movement method from the perspective of Fazlur Rahman (A study of misogynistic hadiths and their implications). (n.d.). https://e-journal.metrouniv.ac.id/jsga/article/download/9960/4498/45123

Aletheia Rabbani
Aletheia Rabbani “Barang siapa yang tidak mampu menahan lelahnya belajar, maka ia harus mampu menahan perihnya kebodohan” _ Imam As-Syafi’i

Post a Comment