Analisis Al-Radd ‘alā al-Dahriyyīn: Pemikiran Jamāluddīn al-Afghānī tentang Kritik Materialisme dan Imperialisme

Table of Contents

Al-Radd ‘alā al-Dahriyyīn karya Jamāluddīn al-Afghānī
Karya monumental Jamāluddīn al-Afghānī yang berjudul Al-Radd ‘alā al-Dahriyyīn (Bantahan terhadap Kaum Materialis) menempati posisi yang sangat krusial dalam sejarah pemikiran Islam modern. Teks ini bukan sekadar risalah teologis tradisional yang berupaya mempertahankan eksistensi Tuhan melalui argumen metafisika klasik, melainkan sebuah instrumen politik dan sosiologis yang dirancang untuk membangkitkan kesadaran kolektif dunia Islam di bawah bayang-bayang kolonialisme Barat pada abad ke-19. Ditulis dalam bahasa Persia dengan judul asli Haqīqat-i-Mazhab-i-Naichiri va bayān-i-hāl-i-Naichiriyān (Hakekat Mazhab Naturalis dan Penjelasan tentang Keadaan Kaum Naturalis) pada tahun 1881, risalah ini muncul dari kedalaman krisis identitas dan kedaulatan yang dialami oleh umat Islam di India dan Timur Tengah. Melalui karya ini, al-Afghānī berusaha membuktikan bahwa agama adalah fondasi tak tergantikan bagi peradaban, sementara materialisme adalah agen korosif yang menghancurkan kohesi sosial dan kemandirian bangsa.

Genealogi Intelektual dan Provokasi Geopolitik Penulisan

Untuk memahami kedalaman Al-Radd ‘alā al-Dahriyyīn, seseorang harus meninjau lanskap sejarah yang melingkupi kehidupan Jamāluddīn al-Afghānī. Lahir pada tahun 1838, kemungkinan besar di Asadabad, Iran, al-Afghānī menghabiskan hidupnya sebagai pengembara intelektual dan aktivis politik yang berdedikasi pada gerakan pan-Islamisme dan pembebasan dari pengaruh imperialisme Barat. Pengalamannya di India selama periode Pemberontakan Sepoy (1857-1859) menjadi titik balik fundamental dalam pandangan dunianya, di mana ia menyaksikan secara langsung bagaimana kekuatan kolonial Inggris tidak hanya menguasai wilayah fisik, tetapi juga mulai merongrong fondasi spiritual dan budaya masyarakat setempat.

Risalah ini secara spesifik ditulis sebagai tanggapan terhadap gerakan yang dipimpin oleh Sir Sayyid Ahmad Khan di India. Ahmad Khan, melalui institusi Aligarh, mempromosikan pendekatan "Neichiri" (Naturalisme) yang berupaya menyelaraskan ajaran Islam dengan sains Barat secara radikal. Al-Afghānī memandang upaya ini bukan sebagai reformasi intelektual yang jujur, melainkan sebagai bentuk penghambaan politik kepada Inggris. Baginya, menafsirkan agama semata-mata melalui lensa hukum alam (naturalisme) akan melucuti dimensi transenden Islam, yang pada akhirnya melemahkan semangat perlawanan umat terhadap penjajah. Dengan demikian, Al-Radd ‘alā al-Dahriyyīn adalah sebuah karya apologetik yang sekaligus berfungsi sebagai manifesto politik anti-imperialis.

Al-Radd ‘alā al-Dahriyyīn karya Jamāluddīn al-Afghānī

Dekonstruksi Filosofis atas Materialisme dan Naturalisme

Dalam isi karyanya, al-Afghānī melakukan tinjauan historis yang ekstensif terhadap perkembangan pemikiran materialis, mulai dari filsuf Yunani kuno hingga pemikir modern abad ke-19. Ia menggunakan istilah Dahriyyīn—sebuah terminologi yang berakar pada teks suci Al-Qur'an untuk merujuk pada mereka yang percaya bahwa waktu (dahr) adalah agen penggerak tunggal di alam semesta—untuk mengelompokkan berbagai aliran ateisme dan naturalisme dalam satu kategori musuh peradaban.

Kritik terhadap Sejarah Filsafat Materialisme

Al-Afghānī berargumen bahwa kaum materialis, dalam berbagai penyamarannya sepanjang sejarah, selalu menjadi penyebab utama kemerosotan bangsa-bangsa besar. Ia menelusuri pemikiran Democritus dan Epicurus di Yunani, yang ia tuduh telah merusak struktur moral masyarakat Helenistik dengan memfokuskan tujuan hidup hanya pada kesenangan material dan pelarian dari rasa takut akan ketuhanan. Bagi al-Afghānī, kemunculan ide-ide ini selalu bertepatan dengan hilangnya semangat patriotisme dan integritas sosial. Kaum materialis seringkali hadir dengan kedok sebagai "pembawa pencerahan" atau "penolong kaum miskin", namun pada hakikatnya mereka menghancurkan pilar-pilar yang menyangga bangunan kebahagiaan manusia, yaitu agama.

Pertarungan Melawan Teori Evolusi Darwin

Bagian yang paling kontroversial dan sering dikutip dalam Al-Radd ‘alā al-Dahriyyīn adalah serangan tajam al-Afghānī terhadap teori evolusi Charles Darwin. Al-Afghānī memandang Darwinisme bukan sekadar teori biologi, melainkan manifestasi terbaru dari materialisme yang berupaya meniadakan peran intelegensi ilahi dalam penciptaan. Ia mendeskripsikan klaim evolusi sebagai sesuatu yang tidak ilmiah dan absurd, dengan menyatakan bahwa para materialis menganggap benih (germ) dari semua spesies identik pada esensinya dan hanya berbeda karena faktor eksternal.

Dalam retorika yang penuh sarkasme, al-Afghānī menulis bahwa jika logika Darwin benar, maka tidak mustahil bagi seekor kutu untuk menjadi gajah dalam kurun waktu jutaan tahun, atau sebaliknya, gajah menyusut kembali menjadi kutu. Kritik ini menunjukkan bahwa pada saat itu, al-Afghānī mungkin belum sepenuhnya memahami mekanisme seleksi alam yang diusulkan Darwin secara teknis, namun ia sangat memahami implikasi filosofisnya yang dapat menggiring masyarakat menuju ateisme. Namun demikian, dalam catatan kemudian di karyanya yang lain, Al-Khāṭirāt, al-Afghānī menunjukkan fleksibilitas intelektual dengan mengakui bahwa jika evolusi dipahami sebagai proses yang dibimbing secara teistik, maka ia tidak serta-merta bertentangan dengan prinsip Islam.

Arkan al-Sittah: Fondasi Sosiologis dan Teologis Kebangkitan Islam

Inti paling berharga dari Al-Radd ‘alā al-Dahriyyīn terletak pada formulasinya mengenai "Enam Pilar" (Arkan al-Sittah) yang ia anggap sebagai fondasi bagi kekuatan dan kemajuan suatu bangsa. Al-Afghānī membagi pilar ini menjadi dua kelompok besar: tiga keyakinan dasar (tsalisah aqaid) yang membimbing rasionalitas, dan tiga sifat utama (salasa khisol) yang memurnikan jiwa dan karakter sosial.

Tiga Keyakinan Dasar (Aqaid)

Keyakinan-keyakinan ini dirancang untuk membangun kerangka berpikir yang kuat dan progresif di kalangan umat Islam:
1. Keyakinan bahwa manusia adalah makhluk yang paling mulia: Al-Afghānī menekankan bahwa kesadaran akan martabat diri sebagai ciptaan Tuhan yang paling tinggi adalah motor penggerak bagi perkembangan budaya. Jika seseorang percaya bahwa ia hanyalah hewan yang berevolusi secara kebetulan, maka dorongan untuk mencapai keunggulan intelektual dan moral akan lenyap. Keyakinan ini memberikan landasan bagi manusia untuk terus mendaki tangga peradaban.
2. Keyakinan pada kemuliaan dan keunggulan komunitas sendiri: Ini bukan sekadar sentimen chauvinistik, melainkan dorongan untuk kompetisi positif. Setiap individu harus yakin bahwa bangsanya memiliki misi suci dan berada di jalur kebenaran. Rasa bangga komunal ini penting untuk mencegah inferioritas di hadapan dominasi budaya asing. Bangsa yang merasa dirinya rendah akan dengan mudah menjadi budak bagi bangsa lain.
3. Keyakinan pada eksistensi dunia akhirat dan pembalasan ilahi: Al-Afghānī berargumen secara sosiologis bahwa tanpa keyakinan pada hari pembalasan, moralitas individu tidak akan memiliki jangkar yang kuat. Ketakutan akan hukuman Tuhan dan harapan akan pahala-Nya adalah satu-satunya mekanisme yang mampu mengendalikan sifat dasar manusia yang cenderung serakah, egois, dan destruktif. Keyakinan ini menciptakan disiplin internal yang tidak bisa digantikan oleh hukum formal manapun.

Tiga Sifat Utama (Khisal)

Kualitas karakter ini berfungsi untuk menjaga integritas tatanan sosial dari kehancuran internal:
1. Haya’ (Rasa Malu): Al-Afghānī mendefinisikan haya’ sebagai perisai terhadap tindakan amoral. Rasa malu di hadapan Tuhan dan sesama manusia mencegah individu melakukan perbuatan korup yang dapat merusak kepercayaan publik dan stabilitas sosial.
2. Amanah (Integritas dan Kepercayaan): Dalam pandangan al-Afghānī, kemajuan ekonomi dan politik sebuah bangsa bergantung sepenuhnya pada tingkat kepercayaan antar anggotanya. Materialisme, dengan penekanannya pada keuntungan pribadi, merusak sifat amanah dan pada gilirannya menghancurkan fondasi kemakmuran bersama.
3. Sidq (Kejujuran): Kejujuran adalah dasar dari semua ilmu pengetahuan dan hubungan diplomatik yang sehat. Al-Afghānī menegaskan bahwa masyarakat yang didominasi oleh kebohongan akan mengalami disolusi politik dan intelektual.

Al-Radd ‘alā al-Dahriyyīn karya Jamāluddīn al-Afghānī

Agama sebagai Motor Kemajuan dan Penangkal Anarki

Argumen sentral dalam Al-Radd ‘alā al-Dahriyyīn adalah bahwa agama, jika dipahami secara benar, adalah pendorong utama kemajuan saintifik dan kemandirian politik. Al-Afghānī menolak dikotomi antara iman dan rasio yang dipromosikan oleh kaum materialis. Ia menegaskan bahwa Islam adalah agama yang paling mendorong penggunaan akal budi dan penyelidikan ilmiah. Namun, ia memberikan catatan kritis: kemunduran dunia Islam saat ini bukan disebabkan oleh agama itu sendiri, melainkan karena umat Islam telah meninggalkan semangat filosofis dan terjebak dalam takhayul serta imitasi buta (taqlid).

Al-Afghānī menggunakan contoh historis untuk memperkuat argumennya. Ia menunjukkan bagaimana peradaban Islam di masa lalu mampu menerangi dunia justru karena mereka memegang teguh nilai-nilai Al-Qur'an sambil menyerap dan mengembangkan filsafat Yunani. Sebaliknya, ia melihat bahwa masyarakat modern yang mengadopsi materialisme akan berakhir dalam kekacauan sosial. Baginya, kaum materialis adalah "pembawa dissensi" yang akhirnya membawa kehancuran politik bagi komunitasnya.

Dalam debatnya yang terkenal dengan Ernest Renan, al-Afghānī mempertahankan posisi bahwa Islam tidaklah memusuhi sains. Ia berargumen bahwa ketegangan antara agama dan filsafat adalah fenomena sejarah yang dialami oleh semua peradaban, termasuk Kristen di Eropa. Oleh karena itu, solusi bagi umat Islam bukanlah dengan meninggalkan agama demi sains Barat, melainkan melakukan pembersihan internal terhadap pemikiran yang membeku dan kembali kepada esensi Islam yang rasional dan dinamis.

Strategi Anti-Imperialisme: Melawan Dominasi Melalui Akidah

Dimensi politik dari Al-Radd ‘alā al-Dahriyyīn sangat kental dalam kritik al-Afghānī terhadap peniruan gaya hidup Barat. Ia memperingatkan bahwa mereka yang meniru non-Muslim secara membabi buta sebenarnya sedang mempersiapkan mentalitas bangsa mereka untuk dijajah secara fisik. Para imitator ini kehilangan daya kritis dan kemampuan untuk melihat keunggulan nilai-nilai luhur dari warisan mereka sendiri.

Al-Afghānī mengidentifikasi dua faktor utama penyebab kelemahan umat Islam: faktor internal berupa pemerintahan yang otokratis-absolut serta kurangnya penguasaan teknologi militer dan administrasi, dan faktor eksternal berupa dominasi imperialisme modern. Melalui risalah ini, ia ingin menanamkan "politik yang bersandarkan pada moral". Ia menyerukan kepada umat Islam untuk tidak hanya menjadi ahli dalam sains dan industri, tetapi juga tetap teguh dalam prinsip-prinsip ketauhidan sebagai benteng pertahanan terakhir melawan eksploitasi asing.

Visi Pan-Islamisme al-Afghānī dalam karya ini terwujud dalam ajakannya agar seluruh negara Muslim menyatukan visi untuk menghadapi "naga" imperialisme Inggris yang ia gambarkan telah menelan jutaan nyawa di India dan mengincar wilayah lain seperti Mesir dan Sudan. Persatuan ini, menurutnya, mustahil tercapai jika fondasi keyakinan umat telah dirusak oleh paham materialisme yang menanamkan individualisme dan egoisme kelompok.

Warisan dan Dampak Terhadap Nahdah Islam

Penerjemahan Al-Radd ‘alā al-Dahriyyīn ke dalam bahasa Arab oleh Muhammad Abduh memberikan dampak ledakan intelektual di pusat-pusat pemikiran Islam seperti Kairo dan Beirut. Muhammad Abduh sendiri, meskipun kemudian mengambil jalur reformasi pendidikan yang lebih moderat, sangat dipengaruhi oleh penekanan al-Afghānī pada rasionalitas dan penolakan terhadap taqlid. Karya Abduh yang paling terkenal, Risālat al-Tawḥīd, dapat dipandang sebagai pengembangan lebih lanjut dari tesis-tesis al-Afghānī mengenai harmoni antara wahyu dan akal budi.

Di luar dunia Arab, pengaruh al-Afghānī merambah hingga ke Asia Tenggara. Di Indonesia, tokoh-tokoh pembaharu seperti Hamka sangat terinspirasi oleh semangat al-Afghānī dalam membangun harga diri bangsa melalui pemurnian akidah dan perlawanan terhadap kolonialisme. Gagasan tentang Arkan al-Sittah memberikan inspirasi bagi para pemikir modernis Indonesia untuk merumuskan konsep nasionalisme yang religius, di mana kemajuan bangsa dipandang sebagai manifestasi dari pengamalan nilai-nilai spiritual yang luhur.

Al-Radd ‘alā al-Dahriyyīn karya Jamāluddīn al-Afghānī

Kesimpulan: Relevansi Kontemporer Al-Radd ‘alā al-Dahriyyīn

Setelah lebih dari satu abad sejak penulisannya, Al-Radd ‘alā al-Dahriyyīn tetap menjadi karya yang sangat relevan sebagai studi kasus tentang bagaimana sebuah tradisi keagamaan berinteraksi dengan tantangan modernitas ekstrem. Al-Afghānī berhasil membuktikan bahwa pertahanan terhadap serangan ideologis asing tidak bisa dilakukan hanya dengan menutup diri, tetapi dengan melakukan reorientasi intelektual yang mendalam.

Karya ini menawarkan visi "Islam Modernis" yang tidak mengorbankan integritas spiritual demi kemajuan material. Pesan al-Afghānī bahwa "perubahan nasib suatu kaum harus dimulai dari perubahan apa yang ada di dalam diri mereka sendiri" (sebagaimana tersirat dalam penekanannya pada Arkan al-Sittah) tetap menjadi seruan yang kuat bagi bangsa-bangsa Muslim kontemporer yang masih berjuang mencari keseimbangan antara tradisi dan modernitas. Dalam menghadapi tantangan globalisasi, sekularisme agresif, dan krisis moral sistemik, prinsip-prinsip integritas (sidq), kepercayaan (amanah), dan kesadaran akan martabat kemanusiaan yang diuraikan oleh al-Afghānī memberikan peta jalan intelektual untuk membangun peradaban yang berdaulat secara politik dan luhur secara spiritual.

Sitasi:

Al-Afghānī, J. al-D. (1983). Al-Radd ‘alā al-dahriyyīn. Makābat al-Salām al-‘Ālamīyah.

Akmal, H. (n.d.). Pemikiran Jamaluddin al-Afghani (Jamal ad-Din al-Afghani) (1838–1897 M). E-Jurnal UIN Raden Fatah. https://jurnal.radenfatah.ac.id/index.php/medinate/article/download/1536/pdf

Asrul. (n.d.). Al-Afghani dan akar pembaharuan sosial-teologi (Studi kitab al-Radd ‘ala al-Dahriyyin). Semantic Scholar. https://www.semanticscholar.org/paper/Al-Afghani-dan-Akar-Pembaharuan-Sosial-Teologi-%E2%80%98ala-Asrul/44f0704a17d84d3198b66fc05840200bbdeaacd1

Asrul. (n.d.). Al-Afghani dan akar pembaharuan sosial-teologi (Studi kitab al-Radd ‘ala al-Dahriyyin). ResearchGate. https://www.researchgate.net/publication/337053868_Al-Afghani_dan_Akar_Pembaharuan_Sosial-Teologi_Studi_Kitab_al-Radd_'ala_al-Dahriyyin

Austrian Academy of Sciences, Institute for Social Anthropology. (n.d.). Darwin and dunya: Muslim responses to Darwinian evolution. Madrasa Discourses. https://madrasadiscourses.nd.edu/wp-content/uploads/2020/07/14-39-darwin-and-dunya.pdf

AAR Centre. (n.d.). A short analysis of Sayyed Jamal al-Din Afghani’s political thought. https://www.aarcentre.com/ojs3/index.php/jaash/article/download/271/556

Ghaly, M. (n.d.). Muslim responses to the evolution theory. https://islam-science.net/wp-content/uploads/2014/09/Ghaly-Islam-evolution-libre.pdf

Islamic Philosophy Online. (n.d.). Al-Afghani, Jamal al-Din (1838–1897). http://www.muslimphilosophy.com/ip/rep/H048

Islamic Philosophy Online. (n.d.). ‘Abduh, Muhammad (1849–1905). http://www.muslimphilosophy.com/ip/rep/H049

JHI Blog. (2024, May 20). Islam near the turn of the century: Jamal al-Din and religious paradox. https://www.jhiblog.org/2024/05/20/islam-near-the-turn-of-the-century-jamal-al-din-and-religious-paradox/

Library of Congress. (n.d.). Al-Radd ʻalā al-dahrīyīn. https://www.loc.gov/item/70214124/

Millah: Journal of Religious Studies. (n.d.). The relevance of Muhammad Abduh’s thought in Indonesian tafsir: Analysis of Tafsir Al-Azhar. https://journal.uii.ac.id/Millah/article/view/19267

Qurtuba University. (2011). Jamal Ad-Din Afghani: A pioneer of Islamic modernism. https://qurtuba.edu.pk/thedialogue/The%20Dialogue/6_4/Dialogue_October_December2011_340-354.pdf

ResearchGate. (n.d.). Critique of materialism in ‘ilm al-kalām al-jadīd: An analysis of Jamaluddin al-Afghani’s thought. https://www.researchgate.net/publication/399659935_Critique_of_Materialism_in_'Ilm_al-Kalam_al-Jadid_An_Analysis_of_Jamaluddin_al-Afghani's_Thought

ResearchGate. (n.d.). Pemikiran Jamaluddin al-Afghani (1838–1897 M). https://www.researchgate.net/publication/334990441_PEMIKIRAN_JAMALUDDIN_AL-AFGHANI_JAMAL_AD-DIN_AL-AFGHANI_1838_-_1897_M

ResearchGate. (n.d.). The influence of Abduh’s principle on Rashid Rida. https://www.researchgate.net/publication/344739476_The_Influence_of_Abduh's_Principle_On_Rashid_Rida

ResearchGate. (n.d.). Muhammad Abduh and his epistemology of reform: Its essential impact on Rashid Rida. https://www.researchgate.net/publication/352487103_Muhammad_Abduh_and_His_Epistemology_of_Reform_Its_Essential_Impact_on_Rashid_Rida_Muhammad_Abduh_and_His_Epistemology_of_Reform_Its_Essential_Impact_on_Rashid_Rida

Ringer, M., & Shissler, A. H. (2015). The Al-Afghani-Renan debate, reconsidered. https://irannamag.com/wp-content/uploads/2015/11/30.3.19.-Ringer-and-Shissler.pdf

Shah-i-Hamadan Institute of Islamic Studies, University of Kashmir. (n.d.). Sayyid Jamal al-Din al-Afghani’s “Refutation of the Materialists”. https://islamicstudies.uok.edu.in/Files/36892408-1fed-4431-9848-0761b9e02587/Journal/c8fb7597-9a04-44d6-b1ea-97ff5040cac2.pdf

University of Texas at Austin. (n.d.). Risālat al-Tawḥīd: Muhammad ‘Abduh’s modernity. https://repositories.lib.utexas.edu/bitstreams/4b40a13d-c83f-49a5-8a5f-21ab4b7e9dc0/download

United States Naval Academy. (n.d.). Muhammad Abduh and the reform of Muslim education. https://www.usna.edu/AAT/_files/documents/advanced-topics/political/U1/U1_M_Abduh_BackgroundReading_ReformMuslimEducation.pdf

Wikiversity. (n.d.). Islamic political thought/Afghani lecture. https://en.wikiversity.org/wiki/Islamic_political_thought/Afghani_lecture

Aletheia Rabbani
Aletheia Rabbani “Barang siapa yang tidak mampu menahan lelahnya belajar, maka ia harus mampu menahan perihnya kebodohan” _ Imam As-Syafi’i

Post a Comment