Hyperattention dalam Pendidikan Menengah di Indonesia: Analisis Sosiologi Kritis tentang Arsitektur Kognitif dan Kapitalisme Atensi
Analisis sosiologi kritis terhadap fenomena ini memerlukan integrasi berbagai kerangka teoretis untuk mengungkap lapisan-lapisan penindasan dan alienasi yang tersembunyi di balik layar gawai. Dengan menggunakan teori Hayles sebagai fondasi neuro-kognitif, kajian ini akan diperluas dengan teori alienasi Karl Marx untuk melihat bagaimana perhatian menjadi komoditas; teori industri budaya Adorno dan Horkheimer untuk memahami standardisasi kesadaran; serta konsep kekuasaan dan disiplin Michel Foucault untuk membedah bagaimana teknologi digital berfungsi sebagai instrumen pengawasan di sekolah-sekolah Indonesia. Melalui data empiris dari Program for International Student Assessment (PISA) dan berbagai riset literasi nasional, tulisan ini akan memaparkan bagaimana hyperattention memperdalam ketimpangan kualitas pembelajaran dan menciptakan tantangan eksistensial bagi implementasi Kurikulum Merdeka.
Genealogi Kognitif: Pergeseran dari Deep ke Hyper Attention
Pendidikan tradisional di Indonesia, sebagaimana di banyak belahan dunia lain, dibangun di atas fondasi deep attention. Mode kognitif ini menuntut kemampuan untuk berkonsentrasi pada satu objek tunggal—seperti novel klasik, pembuktian matematis yang rumit, atau argumen filosofis yang panjang—untuk jangka waktu yang lama tanpa terdistraksi oleh rangsangan luar. Namun, riset Hayles menunjukkan adanya pergeseran generasional yang drastis. Generasi yang tumbuh besar dengan media yang saling terhubung dan terprogram kini lebih condong pada hyperattention.
Di Indonesia, fenomena ini terlihat pada penurunan minat membaca teks panjang dan kesulitan siswa SMA/SMK dalam melakukan pemikiran reflektif. Berdasarkan data PISA 2022, skor literasi membaca Indonesia mengalami penurunan yang mengkhawatirkan, mencapai salah satu titik terendah dalam sejarah partisipasi negara ini. Penurunan ini mencerminkan ketidakmampuan siswa untuk menangani teks yang membutuhkan durasi fokus panjang, sebuah prasyarat utama dalam deep attention.
Ketimpangan antara ekspektasi sistem pendidikan yang masih mengandalkan deep attention dan realitas kognitif siswa yang didominasi hyperattention menciptakan krisis pedagogis. Hayles menyebutkan bahwa siswa yang terbiasa dengan stimulasi konstan dari video pendek (seperti TikTok) akan merasa "tercekik" ketika dihadapkan pada tugas membaca novel atau menyelesaikan problem sains yang kompleks secara linier. Ketidaksinkronan ini sering kali disalahartikan oleh para pendidik sebagai kurangnya disiplin, padahal yang terjadi adalah perubahan struktural dalam arsitektur otak siswa akibat proses teknogenesis—evolusi bersama antara manusia dan alat digital mereka.
Kapitalisme Atensi dan Komodifikasi Kesadaran: Perspektif Marxian
Dalam kerangka sosiologi kritis, hyperattention tidak lahir dari ruang hampa teknologi, melainkan diproduksi secara sengaja oleh arsitektur kapitalisme atensi. Mengacu pada teori alienasi Karl Marx, kita dapat melihat bahwa dalam ekonomi digital, perhatian siswa telah menjadi bentuk tenaga kerja yang tidak dibayar. Perhatian mereka diekstraksi oleh platform media sosial untuk menghasilkan data yang kemudian dijual kepada pengiklan. Di sini, terjadi alienasi kognitif: siswa kehilangan kendali atas instrumen kesadarannya sendiri. Objek perhatian mereka tidak ditentukan oleh kebutuhan intelektual otonom, melainkan oleh algoritma yang dirancang untuk memicu pelepasan dopamin secara instan.
Ketergantungan pada konten visual singkat bukan sekadar masalah selera, melainkan hasil dari "scrolling" yang menghipnotis dan mematikan fungsi kritis otak. Riset di Indonesia menunjukkan bahwa durasi penggunaan TikTok berkorelasi negatif secara signifikan dengan konsentrasi belajar. Ketika siswa menghabiskan berjam-jam dalam siklus hyperattention yang dangkal, mereka sedang mengalami proses komodifikasi diri. Mereka teralienasi dari kemampuan untuk melakukan refleksi mendalam karena waktu dan energi kognitif mereka telah "dicuri" oleh mesin akumulasi modal global.
Ketimpangan ini juga mereproduksi ketidakadilan kelas sosial. Siswa dari keluarga dengan status sosial ekonomi rendah di Indonesia sering kali memiliki akses terbatas terhadap bimbingan literasi digital yang kritis, sehingga mereka lebih rentan terhadap eksploitasi algoritma dibandingkan siswa dari kelas atas yang memiliki akses ke lingkungan pendidikan dengan pengawasan kognitif yang lebih baik. Dengan demikian, hyperattention berfungsi sebagai mekanisme baru dalam reproduksi ketimpangan kualitas pembelajaran antarwilayah dan kelas sosial di Indonesia.
Industri Budaya dan Standardisasi Kognitif: Kritik Adorno–Horkheimer
Teori Industri Budaya yang dikembangkan oleh Theodor Adorno dan Max Horkheimer memberikan alat analisis yang tajam untuk memahami bagaimana media sosial membentuk pola pikir peserta didik di Indonesia. Menurut mereka, industri budaya memproduksi konten yang terstandardisasi untuk dikonsumsi secara massal, yang bertujuan untuk menumpulkan kemampuan berpikir kritis individu. Fenomena TikTok dan Instagram Reels di kalangan siswa SMA/SMK Indonesia adalah manifestasi modern dari industri budaya ini. Konten yang disajikan melalui algoritma bukan hanya menghibur, melainkan juga memaksakan keseragaman berpikir melalui tren dan tantangan (challenges) yang viral.
Siswa di Indonesia sering kali merasa ditekan oleh norma konformitas yang didorong oleh algoritma platform. Tekanan untuk terus terhubung dan mengikuti tren (FOMO) menciptakan "pseudo-individuality," di mana siswa merasa sedang mengekspresikan diri mereka, padahal mereka sebenarnya hanya mengulang pola-pola perilaku yang telah ditentukan oleh kepentingan komersial. Dalam konteks pendidikan, hal ini menyebabkan pengetahuan tidak lagi dipandang sebagai proses pencarian yang mendalam, melainkan sebagai komoditas instan yang harus dikemas secara menarik dan singkat agar sesuai dengan selera pasar kognitif yang telah terstandardisasi.
Standardisasi ini menghambat implementasi pembelajaran mendalam (deep learning) dalam Kurikulum Merdeka. Kurikulum ini menuntut siswa untuk melakukan eksplorasi kreatif dan refleksi kritis, namun "industri kognitif" digital justru melatih mereka untuk menjadi konsumen informasi yang pasif. Guru di Indonesia sering kali mengeluh bahwa siswa lebih tertarik pada estetika visual sebuah tugas daripada kedalaman substansinya, sebuah tanda nyata bahwa logika industri budaya telah merembes ke dalam ruang-ruang kelas kita.
Panoptikon Digital dan Disiplin Foucaultian di Sekolah
Michel Foucault mendefinisikan kekuasaan bukan hanya sebagai penindasan fisik, melainkan sebagai mekanisme disiplin yang bekerja melalui pengawasan. Di sekolah-sekolah Indonesia, integrasi teknologi digital telah melahirkan bentuk baru dari "panoptikon digital." Penggunaan aplikasi absensi daring, pemantauan waktu layar, hingga kamera pengawas dalam ruang kelas menciptakan lingkungan di mana siswa merasa terus-menerus diawasi. Alih-alih membebaskan, teknologi ini sering kali digunakan untuk memperkuat kontrol birokratis atas tubuh dan pikiran siswa.
Dalam konteks pembelajaran jarak jauh atau sistem pembelajaran berbasis gawai, pengawasan ini menjadi lebih bersifat intrusif. Data aktivitas digital siswa dikumpulkan dan dianalisis untuk mengukur kinerja mereka, yang kemudian digunakan sebagai dasar pendisiplinan. Namun, pengawasan tanpa henti ini justru memicu "kelelahan digital" (digital fatigue). Siswa di berbagai wilayah Indonesia, seperti di Banyumas dan Sulawesi Selatan, melaporkan gejala stres kronis, sakit kepala, hingga depresi ringan akibat beban tugas digital yang tidak ada habisnya dan tekanan pengawasan yang konstan.
Foucault mengingatkan bahwa mekanisme disiplin ini bertujuan untuk menciptakan "tubuh-tubuh patuh" (docile bodies). Dalam sistem pendidikan Indonesia yang terdigitalisasi, kepatuhan ini diwujudkan melalui sinkronisasi perilaku siswa dengan ritme algoritma dan tuntutan administratif. Tantangan bagi Kurikulum Merdeka adalah bagaimana mengubah teknologi dari alat pendisiplinan menjadi instrumen emansipasi yang memungkinkan siswa untuk mengembangkan otonomi kognitif mereka sendiri.
Ketimpangan Struktural dan Geografi Literasi Digital
Masalah hyperattention di Indonesia sangat dipengaruhi oleh ketimpangan akses dan kualitas literasi digital antarwilayah. Data dari Status Literasi Digital Indonesia 2022 menunjukkan adanya kesenjangan yang lebar antara wilayah urban dan rural, serta antara berbagai strata pendidikan. Wilayah DI Yogyakarta, misalnya, secara konsisten memiliki indeks tertinggi (3.64), sementara wilayah-wilayah di Indonesia Timur dan daerah 3T masih tertinggal jauh.
Ketimpangan ini menciptakan "divide" kognitif baru. Di wilayah perkotaan dengan akses internet stabil dan guru yang lebih terlatih, teknologi mungkin bisa diarahkan untuk mendukung pembelajaran yang lebih bermakna. Namun, di daerah terpencil atau sekolah dengan sumber daya rendah, teknologi sering kali hanya berfungsi sebagai alat hiburan dangkal yang memperkuat pola hyperattention tanpa ada penyeimbang dari praktik deep learning. Kesenjangan ini bukan sekadar masalah infrastruktur, melainkan masalah keadilan sosial-kognitif yang menentukan masa depan mobilitas sosial siswa.
Kurangnya literasi digital yang komprehensif membuat banyak siswa SMA/SMK di Indonesia terjebak dalam aspek konsumtif teknologi. Mereka mahir menggunakan gawai (digital skill), namun lemah dalam memahami implikasi etis dan keamanan dari aktivitas digital mereka. Tanpa literasi budaya dan kritis yang kuat, hyperattention hanya akan memperburuk alienasi dan kerentanan siswa terhadap manipulasi informasi di ruang digital.
Tantangan Implementasi Deep Learning dalam Kurikulum Merdeka
Kurikulum Merdeka yang digagas oleh Kemendikbudristek bertujuan untuk memberikan fleksibilitas dan kedalaman dalam pembelajaran. Namun, implementasinya terbentur pada realitas kognitif siswa yang telah terfragmentasi. Pembelajaran mendalam (deep learning) membutuhkan kemampuan untuk mensintesis informasi, berpikir reflektif, dan melakukan eksplorasi panjang—semuanya adalah ciri dari deep attention yang kini semakin langka.
Beberapa hambatan utama yang dihadapi di lapangan meliputi:
1. Fragmentasi Fokus: Siswa kesulitan untuk tetap terfokus pada proyek jangka panjang karena terbiasa dengan siklus umpan balik instan dari media sosial.
2. Kesenjangan Pedagogis: Banyak guru masih menggunakan metode konvensional (ceramah satu arah) yang dipindahkan ke format digital, yang justru membosankan bagi siswa dengan mode hyperattention.
3. Tekanan Administratif: Beban administrasi digital bagi guru (melalui platform seperti PMM) mengurangi waktu yang tersedia untuk mendampingi siswa dalam proses refleksi yang mendalam.
4. Kekurangan Infrastruktur Pendukung: Pembelajaran imersif yang bisa menjembatani hyper dan deep attention (seperti penggunaan VR/AR untuk simulasi sains) masih sangat jarang karena kendala biaya dan teknis.
Untuk menjawab tantangan ini, diperlukan pendekatan yang melampaui sekadar penyediaan gawai. Pendidikan harus mulai mengintegrasikan strategi kognitif yang mengakui keberadaan hyperattention namun tetap melatih otot-otot deep attention melalui praktik-praktik yang bermakna, menyenangkan, dan sadar (mindful, meaningful, joyful).
Implikasi Kebijakan dan Strategi Pedagogis Emansipatoris
Sebagai penutup, analisis sosiologi kritis ini menegaskan bahwa hyperattention adalah tantangan struktural yang memerlukan respons kebijakan yang sistemik. Kita tidak bisa lagi hanya menyalahkan siswa atau melarang penggunaan gawai secara total. Sebaliknya, sekolah harus menjadi ruang resistensi terhadap kapitalisme atensi.
Berikut adalah refleksi dan strategi alternatif yang diusulkan:
Pertama, reformasi kurikulum literasi digital harus melampaui kecakapan teknis menuju "literasi kritis." Siswa perlu diajarkan bagaimana algoritma bekerja dan bagaimana kepentingan modal membentuk apa yang mereka lihat di layar gawai. Ini adalah langkah awal untuk memulihkan otonomi kognitif mereka dan mengurangi alienasi. Sekolah harus memfasilitasi diskusi mengenai ekonomi politik di balik platform digital yang mereka gunakan sehari-hari.
Kedua, pendidik perlu mengadopsi strategi "transliterasi kognitif." Ini berarti merancang aktivitas pembelajaran yang memulai dengan mode hyperattention (seperti riset cepat di internet atau pembuatan video pendek kreatif) tetapi kemudian mengarahkannya secara bertahap ke mode deep attention (seperti sintesis informasi ke dalam esai reflektif atau diskusi kelompok yang mendalam). Tujuannya bukan untuk menghapus hyperattention, melainkan untuk mensintesiskan kedua mode kognitif tersebut demi pemahaman yang lebih utuh.
Ketiga, kebijakan pendidikan nasional harus memprioritaskan pengurangan kesenjangan digital secara holistik. Hal ini mencakup pemerataan infrastruktur, pelatihan guru di daerah terpencil, dan penyediaan konten pendidikan berkualitas yang tidak hanya bersifat menghibur tetapi juga menantang secara intelektual. Negara harus hadir untuk memastikan bahwa teknologi tidak menjadi alat baru bagi reproduksi ketimpangan kelas sosial.
Akhirnya, ruang sekolah harus dikembalikan sebagai ruang yang "memanusiakan." Ini berarti mengurangi beban pengawasan panoptik dan memberikan ruang bagi siswa untuk mengalami kegagalan, kebosanan yang produktif, dan refleksi tanpa tekanan pengawasan digital yang konstan. Pendidikan emansipatoris di era digital adalah pendidikan yang memberdayakan siswa untuk tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi menjadi subjek yang berdaulat, kritis, dan mampu menggunakan atensi mereka untuk membangun masa depan yang lebih adil dan bermakna.
Referensi:
Analisis kebutuhan media pembelajaran seni … (n.d.). Epistema: Jurnal Penelitian Pendidikan Seni. https://journal.uny.ac.id/index.php/epistema/article/download/89879/24372/258434
Analysis of critical theory on communication technology as a space of resistance. (n.d.). ResearchGate. https://www.researchgate.net/publication/399422957_Analysis_of_Critical_Theory_on_Communication_Technology_as_a_Space_of_Resistance
Endriyanih. (n.d.). Digital students: Mengungkap gejala “digital fatigue” di kalangan pelajar. Kumparan. https://kumparan.com/endriyanih/digital-students-mengungkap-gejala-digital-fatigue-di-kalangan-pelajar-25nOI9rBD71
Frelik, P. (n.d.). Reviews. Science Fiction Studies. https://www.depauw.edu/sfs/review_essays/frelik121.html
Hayles – Hyper and deep attention. (n.d.). Scribd. https://www.scribd.com/document/648204057/Hayles-Hyper-and-deep-attention
Hayles, N. K. (2007). Hyper and deep attention: The generational divide in cognitive modes. Profession, 187–199. https://www.researchgate.net/publication/250061169_Hyper_and_Deep_Attention_The_Generational_Divide_in_Cognitive_Modes
Hayles, N. K. (2008, January 17). My article on hyper and deep attention. Media Theory for the 21st Century. https://media08.wordpress.com/2008/01/17/my-article-on-hyper-and-deep-attention/
Hubungan media sosial TikTok terhadap konsentrasi belajar. (n.d.). Taujih: Jurnal Pendidikan Islam. https://jurnal.iaihpancor.ac.id/index.php/taujih/article/download/1212/827/5908
KOMODIFIKASI Islam dalam dakwah digital: Telaah kritis perspektif industri budaya. (n.d.). Jurnal Riset Manajemen Dakwah. https://ejournal.uin-suska.ac.id/index.php/jrmdk/article/download/36840/12811
Konformitas dan penyimpangan: Perspektif sosiologis tentang pengalaman FoMO di kalangan Generasi Z pada media sosial TikTok. (n.d.). Jurnal Socius. http://socius.ppj.unp.ac.id/index.php/socius/article/download/708/104
Konsep peran dan pentingnya organisasi relawan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) terhadap dimensi sosial dan ekonomi. (n.d.). Semantic Scholar. https://pdfs.semanticscholar.org/4959/3b665e1cce78e9ff8e2af3a66ad1e3ee7738.pdf
Kreativitas dan inovasi dalam redaksi digital: Komodifikasi berita menjadi video pendek di TikTok. (n.d.). Jurnal Sintesa. https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/sintesa/article/download/11152/6857
OECD. (2023). PISA 2022 results (Volume I & II): Country notes – Indonesia. https://www.oecd.org/en/publications/pisa-2022-results-volume-i-and-ii-country-notes_ed6fbcc5-en/indonesia_c2e1ae0e-en.html
Pengaruh intensitas waktu penggunaan TikTok terhadap hasil belajar mahasiswa UPI di Purwakarta. (n.d.). Jurnal Kajian Sosial. https://jurnal.unismuhpalu.ac.id/index.php/JKS/article/download/7678/5495
Pendidikan dan literasi digital di era Revolusi Industri 4.0. (n.d.). Cendikia. https://jurnal.kolibi.org/index.php/cendikia/article/download/1563/1571/6405
PESANTREN’S digital literacy: An effort to realize the advancement of pesantren education. (n.d.). ResearchGate. https://www.researchgate.net/publication/367820667_PESANTREN'S_DIGITAL_LITERACY_An_Effort_to_Realize_the_Advancement_of_Pesantren_Education
Status literasi digital Indonesia 2022. (2022). Katadata Insight Center. https://cdn1.katadata.co.id/media/microsites/litdik/ReportSurveiStatusLiterasiDigitalIndonesia2022.pdf
The development of PISA in Indonesia: Challenges and hopes on International Literacy Day. (n.d.). ISSED Indonesia. https://www.issed.id/the-development-of-pisa-in-indonesia-challenges-and-hopes-on-international-literacy-day
Hyper attention and the rise of the antinarrative: Reconsidering the future of narrativity. (n.d.). Narrative Works. https://journals.lib.unb.ca/index.php/NW/article/download/20173/23271/28478
TheGlobalEconomy.com. (n.d.). Indonesia PISA reading scores. https://www.theglobaleconomy.com/Indonesia/pisa_reading_scores/





Post a Comment