Epistemologi Selatan: Perlawanan terhadap Epistemisida dan Perjuangan Keadilan Kognitif

Table of Contents

Karya Boaventura de Sousa Santos yang bertajuk "Epistemologies of the South: Justice Against Epistemicide" merupakan sebuah intervensi teoretis yang fundamental dalam lanskap pemikiran sosial dan politik kontemporer. Analisis ini menguraikan secara komprehensif argumen-argumen utama Santos, yang berakar pada premis bahwa pemahaman dunia jauh melampaui pemahaman Barat tentang dunia itu sendiri. Santos menegaskan bahwa tidak ada keadilan sosial global yang dapat dicapai tanpa adanya keadilan kognitif global, sebuah konsep yang menuntut pengakuan terhadap keragaman cara mengetahui yang digunakan oleh berbagai kelompok manusia di seluruh dunia untuk menjalankan kehidupan dan memberikan makna pada eksistensi mereka.

Krisis Teori Kritis Eurosentris dan Kebutuhan akan Perspektif Baru

Analisis Santos dimulai dengan identifikasi krisis yang mendalam pada tradisi teori kritis Barat. Ia berpendapat bahwa teori-teori emansipatoris yang dikembangkan di Global North, termasuk Marxisme dan Teori Kritis Mazhab Frankfurt, telah gagal memberikan kerangka kerja yang memadai bagi gerakan sosial abad ke-21. Kegagalan ini disebabkan oleh fakta bahwa teori-teori tersebut masih berbagi fondasi epistemologis yang sama dengan pemikiran borjuis yang mereka kritik, yakni ketergantungan pada rasionalitas universalisme abstrak dan pengabaian terhadap dimensi kognitif dari ketidakadilan sosial.

Teori-teori ini cenderung memposisikan diri sebagai "teori vanguard" (teori garda depan) yang mengklaim memiliki keunggulan dalam menjelaskan, memandu, dan mengarahkan perjuangan, alih-alih "berjalan bersama" atau belajar dari praktik nyata kelompok-kelompok yang tertindas. Sebagai tanggapan, Santos mengusulkan sebuah teoria povera atau teori garda belakang (rearguard theory). Teori ini tidak bertujuan untuk mendikte strategi perjuangan, melainkan untuk memperkuat perlawanan melalui pengenalan dan validasi pengetahuan yang lahir di tengah perjuangan tersebut.

buku Epistemologies of the South: Justice Against Epistemicide karya Boaventura de Sousa Santos

Garis Abisal: Arsitektur Ketidaktampakan Global

Salah satu pilar utama dalam pemikiran Santos adalah konsep "pemikiran abisal" (abyssal thinking). Pemikiran modern Barat dicirikan oleh sistem pembedaan yang radikal, di mana garis-garis imajiner ditarik untuk membagi realitas sosial menjadi dua ranah: "sisi sini" (sisi metropolitan) dan "sisi sana" (sisi kolonial). Garis ini bersifat abisal karena ia menciptakan jurang pemisah yang membuat segala sesuatu di "sisi sana" diproduksi sebagai "tidak ada" atau tidak relevan secara realitas.

Di sisi metropolitan, kehidupan sosial diatur oleh ketegangan antara regulasi dan emansipasi. Di sini, konsep-konsep seperti hak asasi manusia, negara hukum, dan demokrasi memiliki validitas teoretis. Namun, di sisi kolonial, realitas didominasi oleh perampasan (appropriation) dan kekerasan (violence). Santos menunjukkan bahwa pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan atas nama pembelaan hak asasi manusia, atau penghancuran kehidupan warga sipil di bawah dalih melindungi mereka, adalah manifestasi dari logika abisal ini.

Garis abisal ini juga memiliki dimensi ontologis yang membagi umat manusia menjadi kategori "manusia sepenuhnya" dan "sub-manusia" atau "non-manusia". Kelompok-kelompok seperti masyarakat adat, budak, pengungsi, dan korban rasisme sering kali ditempatkan di luar batas kemanusiaan modern yang diakui secara legal. Akibatnya, penderitaan mereka tidak dianggap sebagai masalah moral yang setara dengan penderitaan mereka yang berada di sisi metropolitan.

Epistemisida: Mekanisme Penghancuran Pengetahuan

Konsep "epistemisida" merujuk pada pembunuhan atau penghancuran secara sistematis terhadap pengetahuan-pengetahuan tradisional, pribumi, dan lokal oleh dominasi sains modern dan hukum Barat. Epistemisida bukan sekadar efek samping dari kolonialisme, melainkan alat aktif untuk melanggengkan dominasi kapitalisme, kolonialisme, dan patriarki.

Secara historis, pendudukan kolonial melibatkan negasi terhadap semua konsepsi teritorialitas, organisasi politik, dan budaya yang ada sebelum penjajahan. Penghancuran pengetahuan ini mencakup penghapusan memori kolektif, pemutusan hubungan leluhur, dan delegitimasi cara masyarakat berhubungan dengan alam. Santos berargumen bahwa dominasi imperial kontemporer tetap bergantung pada epistemisida untuk menyingkirkan alternatif-alternatif terhadap tatanan neoliberal global.

Dampaknya sangat luas; ketika sebuah bahasa atau sistem pengobatan tradisional dihancurkan, dunia kehilangan perspektif unik dalam memecahkan masalah kemanusiaan. Keadilan kognitif, oleh karena itu, menjadi prasyarat bagi pemulihan keberagaman epistemologis dunia, di mana pengetahuan-pengetahuan yang terpinggirkan ini divalidasi kembali sebagai kontribusi penting bagi peradaban global.

Sosiologi Absensi: Menggugat Produksi Ketidakadaan

Untuk melawan efek dari pemikiran abisal, Santos mengusulkan "sosiologi absensi." Prosedur ini bertujuan untuk menunjukkan bahwa apa yang selama ini dianggap "tidak ada" atau "tidak relevan" sebenarnya secara aktif diproduksi sebagai ketidakadaan melalui lima monokultur utama dalam pemikiran Barat modern.

Lima Monokultur Produksi Ketidakadaan

Santos merinci lima logika yang mendasari produksi absensi dalam masyarakat modern:
1. Monokultur Pengetahuan dan Standar Ketat: Logika ini menetapkan sains modern sebagai satu-satunya bentuk pengetahuan yang valid. Akibatnya, segala bentuk pengetahuan lain diklasifikasikan sebagai "kebodohan" atau "takhayul".
2. Monokultur Waktu Linear: Pandangan bahwa sejarah bergerak ke satu arah kemajuan yang ditentukan oleh Barat. Segala sesuatu yang tidak sesuai dengan ritme "kemajuan" ini dicap sebagai "tradisional," "kuno," atau "terbelakang".
3. Monokultur Naturalisasi Perbedaan: Penggunaan kategori ras, gender, dan kelas untuk menjustifikasi hierarki sosial. Perbedaan dipandang sebagai bukti inferioritas alami, bukan sebagai hasil dari konstruksi kekuasaan.
4. Monokultur Skala Dominan: Keutamaan diberikan kepada entitas universal dan global di atas yang lokal dan partikular. Yang lokal sering kali dianggap sebagai hambatan bagi efisiensi globalisasi.
5. Monokultur Kriteria Produktivitas Kapitalis: Pengukuran keberhasilan semata-mata berdasarkan pertumbuhan ekonomi dan akumulasi modal. Praktik ekonomi subsisten atau ekonomi solidaritas dianggap tidak produktif atau tidak efisien.

Sosiologi absensi bekerja dengan cara mengubah absensi-absensi ini menjadi objek-objek yang "hadir," membuat yang tidak terlihat menjadi tampak, dan yang dibungkam menjadi terdengar.

Sosiologi Emergensi: Memperkuat Potensi Masa Depan

Berlawanan dengan sosiologi absensi yang memetakan apa yang hilang, sosiologi emergensi berfokus pada apa yang "belum menjadi" (not-yet) namun sudah mulai muncul sebagai sinyal perlawanan. Terinspirasi oleh konsep harapan dari Ernst Bloch, sosiologi ini mencoba mengidentifikasi kemungkinan-kemungkinan konkret yang muncul dari perjuangan sosial saat ini.

Sosiologi emergensi melibatkan "pembesaran simbolis" terhadap praktik-praktik emansipatoris yang masih kecil atau terisolasi agar dapat dilihat sebagai alternatif masa depan yang kredibel. Ini adalah penolakan terhadap determinisme sejarah yang sering kali menyatakan bahwa "tidak ada alternatif" selain kapitalisme global. Melalui sosiologi ini, fragmen-fragmen realitas yang tercecer dikumpulkan untuk membangun peta emansipasi baru.

Ekologi Pengetahuan: Menuju Pluralisme Epistemologis

Puncak dari metodologi Santos adalah usulan untuk menciptakan "Ekologi Pengetahuan." Konsep ini menolak gagasan tentang satu epistemologi umum dan sebaliknya mempromosikan pengakuan atas pluralitas cara mengetahui yang saling terkait. Ekologi pengetahuan didasarkan pada asumsi bahwa semua pengetahuan bersifat tidak lengkap (incomplete) dan setiap sistem pengetahuan memiliki keterbatasannya masing-masing.

Dalam ekologi pengetahuan, kriteria validitas pengetahuan tidak ditentukan secara apriori, melainkan tergantung pada konteks dan tujuan dari pengetahuan tersebut. Sebagai contoh, dalam upaya konservasi keanekaragaman hayati, pengetahuan masyarakat adat tentang ekosistem lokal sering kali lebih efektif daripada model manajemen sumber daya alam yang dikembangkan secara teoretis di laboratorium Barat.

buku Epistemologies of the South: Justice Against Epistemicide karya Boaventura de Sousa Santos
Prinsip utama dalam ekologi pengetahuan adalah "mengetahui bersama orang lain" (knowing with), bukan sekadar "mengetahui tentang orang lain" (knowing about). Hal ini menuntut metodologi penelitian non-ekstraktif yang menghormati otonomi dan integritas budaya dari kelompok-kelompok yang menjadi mitra dalam produksi pengetahuan.

Penerjemahan Antarbudaya sebagai Alat Kosmopolitanisme Subaltern

Karena keragaman budaya dan epistemologis di dunia sangat besar, dialog antar mereka memerlukan alat yang disebut "penerjemahan antarbudaya" (intercultural translation). Santos mendefinisikan prosedur ini sebagai upaya untuk mengidentifikasi kesamaan dan perbedaan antara berbagai kosmologi dan perjuangan tanpa meminggirkan spesifikasinya.

Penerjemahan antarbudaya memungkinkan terciptanya aliansi antara gerakan sosial yang memiliki latar belakang berbeda—misalnya, aliansi antara aktivis lingkungan di Eropa dengan masyarakat adat di Amazon. Melalui proses ini, konsep-konsep Eurosentris seperti "hak asasi manusia" dapat diinterpretasikan kembali melalui lensa kosmologi lain, seperti Buen Vivir di Andes atau Dharma di India, untuk menciptakan pemahaman yang lebih kaya tentang martabat manusia.

Proses ini melahirkan apa yang disebut Santos sebagai "kosmopolitanisme subaltern," sebuah bentuk globalisasi dari bawah yang menentang logika keseragaman pasar dan individualisme neoliberal.

Bukti Faktual: Studi Kasus Perlawanan Epistemologis

Santos tidak hanya berbicara dalam ranah teoretis, tetapi juga menyajikan berbagai kasus faktual yang mengilustrasikan bekerjanya epistemologi selatan di berbagai belahan dunia.

Perjuangan Masyarakat U'wa di Kolombia

Masyarakat U'wa di Kolombia telah lama berjuang melawan perusahaan minyak multinasional yang ingin mengeksploitasi sumber daya di wilayah mereka. Konflik ini merupakan tabrakan antara dua cara memandang dunia yang berbeda secara abisal. Bagi perusahaan dan negara, wilayah tersebut mengandung "sumber daya alam" yang merupakan objek ekonomi. Bagi masyarakat U'wa, tanah adalah suci dan minyak adalah "darah bumi" yang jika diambil akan merusak keseimbangan spiritual dan fisik dunia. Kasus ini menunjukkan bagaimana perbedaan pandangan dunia berubah menjadi situs perjuangan politik dan hukum yang signifikan.

Keanekaragaman Hayati dan Pengetahuan Tradisional di India

Di India, petani dan komunitas lokal menghadapi ancaman terhadap kedaulatan hayati mereka melalui paten-paten yang diajukan oleh perusahaan multinasional atas tanaman tradisional. Ini adalah bentuk nyata dari biopirasi, di mana pengetahuan kolektif yang telah ada selama berabad-abad diprivatisasi melalui kerangka hukum kekayaan intelektual Barat. Gerakan di India menunjukkan pentingnya perlindungan terhadap Pengetahuan Ekologi Tradisional (Traditional Ecological Knowledge/TEK) sebagai bagian dari upaya mencapai keadilan kognitif global.

Pluralisme Hukum dan Negara Heterogen di Mozambik

Santos mengkaji Mozambik sebagai contoh "Negara Heterogen," di mana terdapat kerusakan pada persamaan modern antara kesatuan negara dan kesatuan hukumnya. Di sana, otoritas tradisional dan pengadilan komunitas beroperasi berdampingan dengan sistem hukum resmi. Penelitian menunjukkan adanya proses "hibridisasi hukum," di mana berbagai tatanan hukum saling mempengaruhi dan saling mencemari (cross-fertilization) secara produktif untuk menyelesaikan konflik lokal.

Relevansi Epistemologi Selatan dalam Konteks Indonesia

Penerapan pemikiran Santos di Indonesia sangat relevan, terutama dalam kaitannya dengan gerakan hukum adat dan agraria. Indonesia memiliki sejarah panjang legal pluralisme yang sering kali ditekan oleh sentralisme otoriter selama era Orde Baru.

Gerakan Hukum Adat dan Pemetaan Partisipatif

Sejak jatuhnya rezim Suharto pada tahun 1998, muncul revitalisasi konstruksi hukum adat sebagai bentuk perlawanan terhadap kebijakan ekstraktif negara. Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) telah memainkan peran kunci dalam memetakan lebih dari 20,7 juta hektar tanah adat. Tindakan ini merupakan praktik nyata dari sosiologi absensi, di mana masyarakat adat membuat wilayah kelola mereka yang sebelumnya "absen" dalam peta resmi negara menjadi "hadir" dan diakui secara legal.

Kasus-kasus Regional di Indonesia

Berbagai wilayah di Indonesia menunjukkan dinamika keadilan kognitif yang berbeda-beda:

  • Bali: Pengakuan terhadap Desa Adat berdasarkan filosofi Tri Hita Karana (harmoni dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam) yang diintegrasikan dalam peraturan daerah.
  • Aceh: Penggunaan hukum syariah dan adat (Reusam) sebagai bagian dari otonomi khusus yang menantang unifikasi hukum nasional.
  • Papua (Irian): Perjuangan untuk pengakuan hak ulayat di tengah ekspansi industri ekstraktif yang mengancam kedaulatan pangan dan budaya lokal.

Perkembangan ini menunjukkan bahwa pluralisme hukum di Indonesia bukan sekadar sisa masa lalu, melainkan instrumen inti untuk memperluas kemungkinan politik dan emansipasi sosial.

Dekolonisasi Kesehatan: Ekologi Perawatan

Dalam bidang kesehatan, Epistemologi Selatan menyoroti dampak dari "biomedikalisasi" yang meminggirkan sistem pengobatan tradisional. Santos mengusulkan sebuah "ekologi perawatan" (ecology of care) yang tidak menolak sains medis Barat, melainkan menempatkannya dalam dialog dengan praktik penyembuhan tradisional.

Penelitian menunjukkan bahwa integrasi pengetahuan adat (Indigenous Knowledge/IK) dalam kesehatan publik dapat meningkatkan ketahanan komunitas. Misalnya, penggunaan tanaman obat oleh masyarakat lokal yang divalidasi melalui penelitian kolaboratif dan non-ekstraktif dapat memberikan solusi yang lebih terjangkau dan sesuai secara budaya bagi masalah kesehatan di Global South.

Reorientasi Peran Intelektual dan Pendidikan

Karya Santos menuntut redefinisi peran universitas dan akademisi. Ia mengkritik universitas yang sering kali menjadi agen penyebar monokultur pengetahuan. Sebagai alternatif, ia mengusulkan proses difusi pengetahuan yang terbalik: alih-alih hanya mentransfer pengetahuan dari universitas ke masyarakat, universitas harus membawa pengetahuan non-ilmiah dari luar temboknya ke dalam ruang akademik.

Intelektual di era pasca-abisal harus menjadi "penerjemah" dan "fasilitator" yang membantu menghubungkan berbagai bentuk perjuangan tanpa mengklaim otoritas kebenaran absolut. Ini melibatkan pengembangan metodologi penelitian yang berbasis pada rasa hormat, solidaritas, dan pengakuan akan martabat subjek penelitian sebagai produsen pengetahuan yang setara.

Kesimpulan: Menuju Keadilan Kognitif Global

Secara keseluruhan, "Epistemologies of the South: Justice Against Epistemicide" merupakan sebuah seruan untuk melakukan transformasi epistemologis sebagai fondasi bagi transformasi sosial. Boaventura de Sousa Santos memberikan argumen yang meyakinkan bahwa kita hidup dalam masa transisi di mana masalah-masalah modern tidak lagi memiliki solusi modern yang memadai.

Keadilan sosial global hanya dapat dicapai melalui pengakuan terhadap keberagaman dunia yang tak terhingga—sebuah keberagaman yang mencakup cara-cara berbeda dalam memandang waktu, hubungan antarmanusia, dan interaksi dengan alam. Melalui sosiologi absensi, sosiologi emergensi, ekologi pengetahuan, dan penerjemahan antarbudaya, kita dapat mulai merobohkan garis abisal yang membagi dunia dan membangun sebuah "konvivialitas" global yang lebih adil dan emansipatoris.

Pesan utama dari karya ini adalah kebutuhan mendesak untuk menghentikan pemborosan pengalaman manusia yang disebabkan oleh epistemisida. Dengan memulihkan pengetahuan-pengetahuan yang telah "diabsenkan," kita tidak hanya memberikan keadilan bagi mereka yang tertindas, tetapi juga memperkaya perbendaharaan solusi kemanusiaan untuk menghadapi tantangan global seperti krisis iklim, ketimpangan ekonomi, dan erosi demokrasi. Epistemologi Selatan, pada akhirnya, adalah sebuah undangan untuk membayangkan "dunia lain yang mungkin," sebuah dunia di mana banyak dunia dapat hidup berdampingan secara bermartabat.

Referensi:

De Sousa Santos, B. (1995). Toward a new legal common sense: Law, globalization, and emancipation. Butterworths.

De Sousa Santos, B. (2002). Toward a new legal common sense (2nd ed.). Butterworths LexisNexis.

De Sousa Santos, B. (2007). Beyond abyssal thinking: From global lines to ecologies of knowledges. Review (Fernand Braudel Center), 30(1), 45–89.

De Sousa Santos, B. (2014). Epistemologies of the South: Justice against epistemicide. Paradigm Publishers.

De Sousa Santos, B. (2016). Epistemologies of the South and the future. In B. de Sousa Santos (Ed.), Epistemologies of the South: Justice against epistemicide (pp. 1–18). Routledge.

De Sousa Santos, B. (2018). The end of the cognitive empire: The coming of age of epistemologies of the South. Duke University Press.

De Sousa Santos, B., & Meneses, M. P. (Eds.). (2009). Epistemologies of the South. Coimbra: Almedina.

De Sousa Santos, B., & Meneses, M. P. (Eds.). (2014). Epistemologies of the South: Justice against epistemicide. Routledge.

International & Institutional Sources

Center for World Indigenous Studies. (n.d.). Epistemologies of the South. CWIS.

CES – Centre for Social Studies, University of Coimbra. (n.d.). Epistemologies of the South. https://ces.uc.pt

CES – Centre for Social Studies, University of Coimbra. (n.d.). The theory of ecology of knowledges. https://ces.uc.pt

Global Social Theory. (n.d.). Intercultural translation. https://globalsocialtheory.org

UNESCO Chair in Education for Global Development. (n.d.). Epistemologies of the South. unescochair-cbrsr.org

WHO Global Traditional Medicine Centre. (2022). Biodiversity and Indigenous knowledges. World Health Organization.

Journal Articles & Academic Sources

Santos, B. de S. (2012). Public sphere and epistemologies of the South. Africa Development, 37(1), 43–67.

Santos, B. de S. (2014). Absences and emergences: Production of knowledge and social transformation. Revista Crítica de Ciências Sociais, 63, 237–280.

Santos, B. de S. (2015). Epistemologies of the South and decolonization of health. Revista de Saúde Pública, 49, 1–9.

Santos, B. de S. (2016). Sociology of absences and sociology of emergences. In Epistemologies of the South (pp. 149–190). Routledge.

Legal Pluralism & Global South

Santos, B. de S. (1987). Law: A map of misreading. Toward a postmodern conception of law. Journal of Law and Society, 14(3), 279–302.

Santos, B. de S. (2006). The heterogeneous state and legal pluralism in Mozambique. Law & Society Review, 40(1), 39–75.

Santos, B. de S. (2010). Toward an epistemological decolonization of legal pluralism: The case of Indonesia. Journal of Legal Pluralism, 42(61), 1–42.

Knowledge, Ecology & Indigenous Epistemology

Sperling, M. (n.d.). Ecology of knowledges. Nohow Generator.

World Health Organization. (2022). The value of traditional ecological knowledge for environmental health sciences. WHO Press.

WHO Global Traditional Medicine Centre. (2022). Indigenous knowledge and biodiversity conservation. WHO.

Aletheia Rabbani
Aletheia Rabbani “Barang siapa yang tidak mampu menahan lelahnya belajar, maka ia harus mampu menahan perihnya kebodohan” _ Imam As-Syafi’i

Post a Comment