Arsitektur Intelektual Realisme Kritis: Analisis Mendalam Essential Readings dalam Filsafat Sosial
Struktur buku ini disusun secara sistematis untuk mencerminkan perkembangan logis dan kronologis pemikiran Bhaskarian, yang kemudian diperkaya oleh kontribusi para sosiolog, ekonom, dan pakar hukum terkemuka. Pembagian buku ke dalam empat bagian utama—Realisme Transendental, Naturalisme Kritis, Kritik Eksplanatoris, dan Dialektika—memberikan peta jalan bagi siapa pun yang ingin memahami bagaimana ontologi yang kokoh dapat mendasari praktik sains yang emansipatoris. Analisis ini akan membedah setiap lapisan pemikiran tersebut, menghubungkan argumen filosofis abstrak dengan contoh-contoh faktual dan aplikasi dalam penelitian sosial modern.
Landasan Ontologis: Realisme Transendental dan Filsafat Sains
Bagian pertama dari "Essential Readings" berfokus pada apa yang disebut sebagai realisme transendental, sebuah posisi yang lahir dari kritik terhadap dominasi konsepsi positivis tentang sains yang mendominasi selama dua pertiga pertama abad ke-20. Positivisme ini berakar pada empirisisme Humean, yang menganggap bahwa hukum alam tidak lebih dari sekadar reproduksi mimetis fakta-fakta dalam pikiran atau "konjungsi konstan" peristiwa-peristiwa yang teramati.
Kritik terhadap Fallacy Epistemik dan Lahirnya Ontologi Baru
Argumen fundamental Bhaskar dimulai dengan mengidentifikasi apa yang disebutnya sebagai "fallacy epistemik" (kekeliruan epistemik), yaitu kecenderungan dalam filsafat modern untuk mereduksi pertanyaan tentang keberadaan (ontologi) menjadi pertanyaan tentang pengetahuan kita tentang keberadaan tersebut (epistemologi). Realisme kritis menegaskan bahwa dunia tidak dapat direduksi menjadi pengalaman manusia atau data sensorik.
Untuk membuktikan hal ini, Bhaskar menggunakan argumen transendental: ia bertanya, "apa yang harus ada di dunia agar praktik sains (seperti eksperimen) menjadi mungkin?". Jawabannya adalah bahwa objek-objek sains harus bersifat "intransitif", artinya mereka ada dan beroperasi secara independen dari aktivitas manusia, teori, atau pengamatan kita. Sains bukanlah sekadar pengamatan pasif terhadap apa yang tampak, melainkan upaya aktif untuk mengungkap mekanisme tersembunyi yang menghasilkan fenomena tersebut.
Stratifikasi Realitas: Real, Actual, dan Empirical
Salah satu kontribusi paling revolusioner dalam bagian pertama buku ini adalah konsep stratifikasi atau pelapisan realitas. Realisme kritis menolak "ontologi datar" kaum empiris yang hanya mengakui apa yang teramati. Sebaliknya, realitas dipahami sebagai sesuatu yang memiliki kedalaman.
Retroduksi sebagai Logika Penemuan Ilmiah
Karena mekanisme dalam domain Real sering kali tidak terlihat secara langsung, realisme kritis mengusulkan logika "retroduksi" (atau abduksi) sebagai metode utama. Retroduksi adalah proses penalaran yang bergerak dari fenomena yang teramati (domain Actual dan Empirical) menuju postulasi tentang mekanisme apa yang harus ada agar fenomena tersebut terjadi.
Perbedaan antara metode penalaran dapat diringkas dalam perbandingan berikut:
Naturalisme Kritis: Transformasi Ilmu Sosial dan Agensi Manusia
Bagian kedua dari "Essential Readings" memindahkan fokus dari filsafat sains alam ke "The Possibility of Naturalism" atau kemungkinan sains sosial yang bersifat naturalistis namun kritis. Roy Bhaskar dan Margaret Archer menolak pandangan bahwa ilmu sosial harus mengikuti model positivis (hiper-naturalisme) atau sepenuhnya menolak metode ilmiah demi interpretasi murni (anti-naturalisme atau hermeneutika).
Masyarakat sebagai Objek Pengetahuan yang Unik
Bhaskar berpendapat bahwa masyarakat adalah objek pengetahuan yang nyata namun memiliki sifat yang berbeda dari objek fisik. Masyarakat tidak ada secara independen dari aktivitas manusia (activity-dependent), tidak ada secara independen dari konsepsi manusia (concept-dependent), dan tidak tersebar secara spasial-temporal seperti benda fisik. Namun, masyarakat tetap memiliki kekuatan kausal yang nyata karena ia mendahului setiap individu dan membentuk batasan bagi tindakan mereka.
Model yang diusulkan adalah Transformational Model of Social Activity (TMSA). Dalam model ini, masyarakat dipandang sebagai "kondisi yang selalu ada" (ever-present condition) sekaligus "hasil yang terus-menerus direproduksi" (continually reproduced outcome) dari aktivitas manusia. Manusia tidak menciptakan masyarakat dari ketiadaan; mereka lahir ke dalam struktur yang sudah ada (seperti bahasa, sistem ekonomi, atau hukum) dan melalui tindakan mereka, mereka mereproduksi atau mengubah struktur tersebut.
Margaret Archer dan Pendekatan Morfogenetik
Kontribusi Margaret Archer sangat krusial dalam memberikan kerangka sosiologis yang operasional bagi realisme kritis. Ia memperkenalkan "pendekatan morfogenetik" untuk menganalisis bagaimana struktur sosial dan agensi berinteraksi seiring waktu. Inti dari pemikiran Archer adalah "dualisme analitis", sebuah metodologi yang memisahkan secara analitis antara struktur dan agensi untuk mempelajari pengaruh timbal balik mereka.
Archer menolak "conflation" (percampuran) yang dilakukan oleh teori-teori seperti strukturasi Giddens, yang dianggapnya gagal mengenali bahwa struktur memiliki kekuatan kausal yang muncul (emergent powers) yang berbeda dari agensi individu. Proses morfogenetik terjadi dalam siklus waktu:
1. Pengondisian Struktural (T1): Struktur yang ada sebelumnya memberikan batasan (constraints) dan peluang (enablements) bagi agen.
2. Interaksi Sosial (T2-T3): Agen-agen berinteraksi, melakukan negosiasi, dan bertindak berdasarkan kepentingan mereka.
3. Elaborasi Struktural (T4): Hasil dari interaksi tersebut bisa berupa transformasi struktur (morfogenesis) atau stabilitas struktur (morfostasis).
Contoh faktual penerapan teori Archer dapat ditemukan dalam studi tentang penyebaran literatur hukum adat di Afrika Selatan. Struktur historis (kolonialisme dan apartheid) menciptakan "hukum adat resmi" yang tertulis namun sering kali berbeda dari "hukum adat yang hidup" di masyarakat. Institusi Pendidikan Tinggi (sebagai struktur) mengondisikan para akademisi untuk mengajarkan hukum resmi melalui kurikulum dan buku teks. Namun, melalui agensi transformatif (interaksi sosial), para akademisi dan mahasiswa mulai menggugat dominasi literatur resmi ini dan memperkenalkan cara-cara baru dalam memahami hukum yang hidup, yang pada akhirnya dapat mengubah struktur kurikulum hukum di masa depan (morfogenesis).
Realisme Kritis dalam Ekonomi: Kontribusi Tony Lawson
Tony Lawson membawa perspektif realisme kritis ke dalam disiplin ekonomi, yang dianggapnya sedang mengalami krisis karena ketergantungan pada formalisme matematika yang tidak realistis. Lawson berpendapat bahwa ekonomi arus utama (mainstream) terjebak dalam sistem tertutup yang mengasumsikan atomisme individu dan keteraturan peristiwa.
Realitas ekonomi, menurut Lawson, adalah sistem terbuka di mana berbagai mekanisme (seperti pasar, kebijakan pemerintah, dan norma sosial) saling berinteraksi secara kompleks. Kegagalan para ekonom dalam memprediksi krisis keuangan global tahun 2008, misalnya, dipandang Lawson sebagai bukti kegagalan ontologis: metode yang digunakan tidak sesuai dengan sifat objek yang dipelajari. Realisme kritis dalam ekonomi menawarkan "social positioning theory" untuk memahami bagaimana individu menempati posisi dalam struktur sosial dan bagaimana hak serta kewajiban yang melekat pada posisi tersebut mendorong perilaku ekonomi.
Kritik Eksplanatoris: Jembatan Menuju Emansipasi
Bagian ketiga dari "Essential Readings" mengeksplorasi dimensi etis dan politis dari realisme kritis melalui teori kritik eksplanatoris. Ini adalah salah satu aspek yang paling membedakan realisme kritis dari tradisi sains netral-nilai ala Weberian atau positivis.
Melampaui Dikotomi Fakta dan Nilai
Argumen sentral dalam bagian ini adalah bahwa sains sosial tidak bisa dan tidak seharusnya bersifat netral secara nilai. Roy Bhaskar dan Andrew Collier berpendapat bahwa jika kita dapat memberikan penjelasan ilmiah yang meyakinkan tentang penyebab penderitaan manusia atau kesadaran palsu, maka penjelasan tersebut secara otomatis mengandung kritik terhadap penyebab tersebut.
Logika kritik eksplanatoris dapat dijelaskan sebagai berikut: jika sains menunjukkan bahwa sebuah struktur sosial (X) secara niscaya menghasilkan keyakinan palsu (Y) atau frustrasi terhadap kebutuhan dasar manusia, maka kita secara rasional didorong untuk mengevaluasi struktur (X) secara negatif dan mendukung tindakan untuk menghapus atau mengubah struktur tersebut (emansipasi). Dengan demikian, sains sosial yang "baik" secara intrinsik memiliki impuls emansipatoris.
Contoh Faktual: Krisis Kesehatan Mental dan Iatrogenik
Dalam penelitian kontemporer tentang bunuh diri laki-laki di Inggris yang menggunakan paradigma realisme kritis, peneliti tidak hanya berhenti pada deskripsi data statistik. Melalui retroduksi dan kritik eksplanatoris, penelitian tersebut mengungkap mekanisme generatif seperti "iatrogenic harm" dalam perawatan institusional (di mana birokrasi NHS dan ketergantungan berlebih pada medikasi justru memperburuk kondisi pasien) serta tekanan norma gender yang menghambat pencarian bantuan. Penjelasan tentang mekanisme destruktif ini bukan sekadar fakta netral; ia berfungsi sebagai dasar rasional untuk menuntut perubahan radikal dalam sistem layanan kesehatan mental (emansipasi).
Margaret Archer tentang Sistem Kebudayaan
Archer juga memberikan kontribusi penting dalam bagian ini melalui analisisnya terhadap sistem kebudayaan. Ia membedakan antara "Sistem Kebudayaan" (kumpulan proposisi, ide, dan keyakinan yang ada secara objektif) dan "Sosiokultural" (interaksi antar manusia yang menggunakan ide-ide tersebut). Archer berpendapat bahwa ide-ide memiliki hubungan logis satu sama lain (konsistensi atau kontradiksi) yang dapat memberikan batasan bagi apa yang dapat dipikirkan oleh manusia dalam suatu periode sejarah. Memahami kontradiksi dalam sistem ide adalah langkah awal yang krusial untuk melakukan kritik ideologi dan mendorong perubahan sosial.
Dialektika dan Realisme Kritis Dialektis (DCR)
Bagian keempat dan terakhir dari volume ini memperkenalkan fase pemikiran Bhaskar yang lebih kompleks, yaitu realisme kritis dialektis (DCR), yang tertuang dalam karyanya "Dialectic: The Pulse of Freedom". DCR bertujuan untuk merebut kembali konsep dialektika dari idealisme Hegel dan memberikan landasan realis bagi proses perubahan dan negativitas.
Ontologi Absensi dan Perubahan
Inti dari dialektika Bhaskarian adalah konsep "absensi" atau ketiadaan. Berbeda dengan filsafat Barat tradisional yang cenderung "ontologis monovalen" (hanya mengakui apa yang ada atau positif), DCR menegaskan bahwa ketiadaan (non-being) adalah nyata dan memiliki kekuatan kausal. Sebagai contoh, absensi air di gurun adalah penyebab nyata dari kehausan dan kematian; absensi keadilan adalah pendorong nyata bagi revolusi.
Bhaskar merumuskan perkembangan realitas dan pengetahuan melalui sistem "M" dan "D" ( moments and dimensions) yang dikenal sebagai 1M-4D:
Aplikasi dalam Hukum Pidana: Alan Norrie
Alan Norrie menerapkan logika dialektis ini untuk melakukan kritik terhadap hukum pidana modern. Ia berargumen bahwa hukum pidana sering kali terjebak dalam "dialektika yang rusak" (broken dialectic), di mana individu dihukum berdasarkan "persamaan penal" (crime + blame = punishment) tanpa mempertimbangkan akar sosial dari tindakan tersebut.
Norrie menggunakan konsep "retributivisme dewasa" untuk menggugat formalisme hukum yang mengisolasi kesalahan individu dari tanggung jawab sosial. Melalui DCR, Norrie menunjukkan bahwa keadilan sejati tidak bisa dicapai hanya melalui hukuman (yang sering kali merupakan bentuk "absensi" lain), melainkan melalui proses rekonsiliasi dan "atonement" yang mengatasi pelanggaran terhadap korban, pelaku, dan masyarakat secara keseluruhan.
Aplikasi Kontemporer dan Metodologi Penelitian
Seiring dengan kematangan teoretis yang dipresentasikan dalam "Essential Readings", realisme kritis telah menjadi kerangka kerja yang populer dalam penelitian empiris di berbagai bidang. Volume ini menekankan bahwa realisme kritis bukanlah "panduan prosedur" yang kaku, melainkan "underlabourer" yang menjernihkan asumsi-asumsi filosofis sebelum penelitian dimulai.
Sistem Informasi dan Teknologi (IS)
Dalam bidang sistem informasi, realisme kritis digunakan untuk melampaui perdebatan antara positivisme (yang hanya melihat keberhasilan teknis) dan interpretivisme (yang hanya melihat persepsi pengguna). Peneliti IS menggunakan realisme kritis untuk mengungkap "causal shape" atau bentuk kausal dari adopsi teknologi.
Misalnya, sebuah studi tentang penggunaan layanan ekstensi berbasis TIK di Mali mengumpulkan data dari petugas lapangan dan petani. Dengan menggunakan analisis tematik dalam paradigma realisme kritis, penelitian ini tidak hanya mencatat kepuasan pengguna, tetapi juga mengidentifikasi mekanisme generatif seperti "kesenjangan keterampilan TIK" dan "interaksi antara agen manusia dan mesin sebagai struktur dengan kapasitas emergen" yang menentukan sukses atau gagalnya sebuah inovasi teknologi di negara berkembang.
Pendidikan dan Kebijakan Publik
Dalam bidang pendidikan, realisme kritis membantu peneliti memahami hubungan antara struktur kebijakan dan agensi guru. Esei oleh Robert Wilmott, misalnya, menganalisis bagaimana manajerialisme baru (sebagai struktur) memberikan kendala bagi filosofi pendidikan yang berpusat pada anak (sebagai agensi guru). Realisme kritis memungkinkan peneliti untuk melihat bahwa kegagalan sebuah kebijakan sering kali bukan karena kurangnya "pelatihan", melainkan karena adanya mekanisme struktural yang berlawanan yang tidak terdeteksi oleh evaluasi kebijakan tradisional yang bersifat empirisis.
Metodologi Gabungan (Mixed Methods)
Realisme kritis memberikan justifikasi filosofis yang kuat untuk penggunaan metode campuran (kuantitatif dan kualitatif). Karena realitas bersifat stratifikasi, data kuantitatif sangat berguna untuk mengidentifikasi pola pada tingkat domain Actual (seperti statistik prevalensi penyakit), sementara data kualitatif diperlukan untuk melakukan retroduksi terhadap mekanisme di tingkat domain Real (seperti struktur kekuasaan atau norma budaya yang menyebabkan penyakit tersebut).
Kesimpulan: Warisan dan Masa Depan Realisme Kritis
Volume "Critical Realism: Essential Readings" berhasil menyatukan berbagai untaian pemikiran yang kompleks menjadi sebuah kesatuan yang koheren. Karya ini menegaskan bahwa realisme kritis bukan sekadar mazhab filsafat, melainkan sebuah cara hidup intelektual yang menuntut ketajaman ontologis, kehati-hatian epistemologis, dan keberanian etis.
Poin-poin utama yang menjadi warisan dari karya ini meliputi:
1. Vindikasi Ontologi: Mengembalikan pertanyaan tentang "apa yang ada" ke pusat diskursus ilmiah, melawan dominasi fallacy epistemik.
2. Stratifikasi Realitas: Memberikan alat konseptual (Real, Actual, Empirical) untuk memahami kompleksitas dunia yang tidak terduga.
3. Integrasi Agensi dan Struktur: Melalui karya Margaret Archer, realisme kritis menawarkan solusi paling canggih untuk dualisme agensi-struktur dalam ilmu sosial.
4. Sains sebagai Proyek Emansipatoris: Menghubungkan pencarian kebenaran dengan perjuangan untuk kebebasan manusia melalui kritik eksplanatoris dan dialektika.
Di masa depan, tantangan bagi realisme kritis terletak pada kemampuannya untuk terus beradaptasi dengan fenomena baru seperti krisis ekologi global dan transformasi digital. Sebagaimana ditekankan dalam "Essential Readings", realisme kritis adalah proyek yang belum selesai—sebuah alat untuk terus "membersihkan lahan" bagi pengetahuan yang lebih jujur, lebih dalam, dan lebih membebaskan. Dengan landasan yang telah diletakkan oleh Bhaskar, Archer, dan kolega mereka, realisme kritis tetap menjadi salah satu harapan terbaik bagi sains manusia yang ingin memberikan dampak nyata bagi peradaban.
Referensi:
Archer, M. S. (1995). Realist social theory: The morphogenetic approach. Cambridge University Press.
Archer, M. S. (2010). Morphogenesis versus structuration: On combining structure and action. British Journal of Sociology, 61(S1), 225–252.
Archer, M. S. (2013). Social morphogenesis. Springer.
Archer, M. S., Bhaskar, R., Collier, A., Lawson, T., & Norrie, A. (Eds.). (1998). Critical realism: Essential readings. Routledge.
Bhaskar, R. (1975). A realist theory of science. Leeds Books.
Bhaskar, R. (1993). Dialectic: The pulse of freedom. Verso.
Bhaskar, R. (2008). A realist theory of science (2nd ed.). Routledge.
Bhaskar, R. (n.d.). Transcendental realism. Roy Bhaskar Centre. https://www.roybhaskarcentre.com/transcendental-realism
Critical realism. (n.d.). In Wikipedia. https://en.wikipedia.org/wiki/Critical_realism_(philosophy_of_the_social_sciences)
Davidsen, B. I. (2019). Critical realism in economics – A different view. Heterodox Economics Newsletter. https://www.hetecon.net/wp-content/uploads/2019/12/davidsen.pdf
James, T. S. (n.d.). Critical realism and social science. https://tobysjames.com/critical-realism-and-political-science/
Lawson, T. (1997). Economics and reality. Routledge.
Lawson, T. (2003). Reorienting economics. Routledge.
Lawson, T. (2019). Essays on the nature and state of modern economics. Oeconomia. https://journals.openedition.org/oeconomia/2336
Newman, J. (2017). Re-addressing the cultural system: Problems and solutions in Margaret Archer’s theory of culture. Political Studies Association. https://www.psa.ac.uk/sites/default/files/conference/papers/2017/JACK%20NEWMAN%20-%20Paper%20to%20the%20PSA%202017%20-%20Re-addressing%20the%20Cultural%20System.pdf
Norrie, A. (2017). Justice and the rule of law under critical realism. Routledge.
Retroduction in realist evaluation. (n.d.). RAMESES Projects. https://www.ramesesproject.org/media/RAMESES_II_Retroduction.pdf
Tony Lawson’s critique of modern economics and his contribution to heterodox economics. (n.d.). Munich Personal RePEc Archive. https://mpra.ub.uni-muenchen.de/123406/1/MPRA_paper_123406.pdf
What is critical realism? And why should you care? (n.d.). ResearchGate. https://www.researchgate.net/publication/275435925




Post a Comment