Silent Rebellion: Analisis Komprehensif Perlawanan Sunyi dalam Dinamika Sosiopolitik dan Budaya Kontemporer

Table of Contents

Silent Rebellion
Studi mengenai kekuasaan dan kedaulatan sering kali terfokus pada manifestasi kekuasaan yang bersifat makro, formal, dan institusional. Namun, narasi besar mengenai dominasi sering kali mengabaikan mikrodinamika resistensi yang berlangsung di bawah radar pengawasan formal. Fenomena silent rebellion, yang secara sosiologis diidentifikasi sebagai perlawanan keseharian (everyday resistance) atau infrapolitik, merupakan bentuk agensi subaltern yang krusial dalam memahami bagaimana kelompok-kelompok yang tersubordinasi menegosiasikan keberadaan mereka di tengah struktur kekuasaan yang menekan. Perlawanan ini tidak mengejar pengakuan de jure melalui revolusi terbuka, melainkan beroperasi melalui serangkaian tindakan anonim, tersebar, dan berkelanjutan yang bertujuan untuk memperoleh keuntungan de facto dan mempertahankan martabat manusia.

Landasan Teoretis dan Genealogi Perlawanan Keseharian

Konsep perlawanan diam-diam memperoleh pijakan akademis yang kokoh melalui karya James C. Scott, khususnya dalam bukunya Weapons of the Weak: Everyday Forms of Peasant Resistance. Scott mengamati bahwa revolusi petani berskala besar adalah peristiwa langka yang sering kali berakhir dengan represi berdarah. Sebaliknya, bentuk perlawanan yang jauh lebih umum dan efektif dalam jangka panjang adalah apa yang ia sebut sebagai "senjata si lemah" (weapons of the weak). Ini mencakup tindakan-tindakan seperti perlambatan kerja (foot-dragging), disimulasi, pura-pura bodoh, sabotase kecil, dan penyebaran gosip. Strategi ini memiliki keunggulan karena tidak memerlukan koordinasi formal atau perencanaan terpusat, bersifat individual, dan menghindari konfrontasi simbolis langsung dengan norma-norma elit.

Baca Juga: Analisis Teoretis dan Etnografis Perlawanan Petani dalam Weapons of the Weak Karya James C. Scott 

Scott mendefinisikan bentuk perlawanan ini sebagai infrapolitik, sebuah wilayah aktivitas politik yang tidak terartikulasikan secara publik namun tetap memiliki dampak redistributif terhadap kekuasaan dan properti. Infrapolitik berada di wilayah abu-abu antara kepatuhan total dan pemberontakan terbuka. Kelompok yang tertindas sering kali menampilkan kepatuhan di hadapan penguasa—apa yang disebut sebagai transkrip publik—namun di balik layar, mereka mengembangkan wacana kritis dan tindakan subversif yang disebut transkrip tersembunyi.

Silent Rebellion
Analisis terhadap desa Sedaka di Malaysia memberikan ilustrasi mendalam mengenai dinamika ini. Ketika mekanisasi pertanian—seperti penggunaan mesin pemanen kombinasi—mulai meminggirkan buruh tani, mereka tidak melakukan pemberontakan bersenjata. Sebaliknya, mereka menggunakan gosip sebagai senjata ideologis untuk menyerang karakter tuan tanah yang kikir dan melanggar ekonomi moral desa. Gosip dalam konteks ini berfungsi sebagai polisi moral yang menegakkan batas-batas perilaku komunitas yang pantas, sekaligus menjadi alat perjuangan kelas yang sangat efektif karena sulit untuk dilacak atau dihukum secara hukum.

Transkrip Publik dan Tersembunyi: Dialektika Kepatuhan dan Subversi

Dalam setiap relasi kekuasaan yang asimetris, terdapat kesenjangan antara apa yang ditampilkan di hadapan otoritas dan apa yang dibicarakan di belakangnya. Transkrip publik adalah topeng yang dikenakan oleh kelompok tersubordinasi untuk menjamin keamanan fisik dan ekonomi mereka. Namun, kepatuhan ini sering kali hanyalah "ortopraksi"—sebuah kepatuhan pada format sosial dan budaya tanpa benar-benar menyetujui ideologi yang mendasarinya.

Transkrip tersembunyi, di sisi lain, adalah ruang sosial di mana kelompok-kelompok seperti budak, petani, atau buruh pabrik dapat menyuarakan kritik, ejekan, dan kemarahan mereka terhadap penguasa tanpa rasa takut akan pembalasan. Ruang ini bisa berupa "hush-arbors" pada agama budak di Amerika, kedai minuman bagi kelas pekerja, atau bahasa kode di media sosial modern. Penting untuk dipahami bahwa transkrip tersembunyi bukan sekadar pemikiran internal, melainkan praktik diskursif yang melibatkan komunitas senasib.

Munculnya transkrip tersembunyi ke ranah publik sering kali menandai titik balik sosiopolitik yang eksplosif. Ketika individu atau kelompok berani menyuarakan transkrip tersembunyi mereka secara langsung di hadapan penguasa, hal itu menciptakan "listrik politik" yang dapat meruntuhkan legitimasi rezim dalam sekejap. Namun, selama periode stabil, perlawanan diam-diam melalui transkrip tersembunyi berfungsi sebagai mekanisme pertahanan psikologis yang mencegah terjadinya "kesadaran palsu" atau internalisasi total terhadap ideologi dominan.

Silent Rebellion dalam Lintasan Sejarah Indonesia: Dari Kolonialisme hingga Orde Baru

Indonesia memiliki sejarah panjang mengenai perlawanan diam-diam yang sangat canggih, sering kali berakar pada filosofi lokal tentang harmoni dan keadilan. Salah satu contoh prototipikal adalah gerakan Saminisme yang muncul di Blora dan Bojonegoro pada akhir abad ke-19.

Saminisme: Pasifisme sebagai Senjata Politik

Surontiko Samin, seorang petani dari Klopoduwur, memulai sebuah ajaran yang menolak otoritas kolonial Belanda melalui ketidakpatuhan pasif yang sistematis. Gerakan ini muncul sebagai respons langsung terhadap kebijakan Belanda yang menyatakan hutan jati sebagai milik negara dan memberlakukan beban pajak yang berat pada rakyat jelata. Alih-alih melakukan revolusi fisik, para pengikut Samin menggunakan taktik yang membingungkan birokrasi kolonial:
1. Penolakan Pajak dan Kerja Wajib: Mereka menolak membayar pajak dengan argumen teologis dan filosofis bahwa tanah dan air adalah milik Tuhan, bukan negara.
2. Apropriasi Sumber Daya Alam: Mereka terus mengambil kayu jati dari hutan untuk kebutuhan sendiri, namun dengan memberi tahu kepala desa terlebih dahulu—sebuah pengakuan atas norma komunitas sambil menolak otoritas legal negara.
3. Penarikan Diri dari Struktur Komunal: Sejak tahun 1905, pengikut Samin mulai menarik diri dari partisipasi dalam lumbung padi desa dan pemeliharaan ternak komunal, menciptakan isolasi sosial yang merupakan bentuk protes terhadap administrasi desa yang dikendalikan Belanda.

Meskipun Samin diasingkan ke Sumatra pada tahun 1907, gerakannya tidak pernah benar-benar mati. Bahkan setelah kemerdekaan Indonesia, pemerintah Republik merasa sama bingungnya dengan Belanda menghadapi "keras kepala" kaum Saminis yang tetap berpegang pada nilai-nilai asli mereka. Ini menunjukkan bahwa perlawanan diam-diam dapat memiliki umur panjang yang melampaui perubahan rezim politik, karena ia bertumpu pada identitas budaya yang dalam daripada sekadar tuntutan ekonomi jangka pendek.

Hegemoni Orde Baru dan Strategi Penghindaran

Selama era Orde Baru di bawah Presiden Suharto, kekuasaan dijalankan melalui kombinasi represi militer dan hegemoni ideologis Pancasila. Rezim ini menerapkan kebijakan seperti Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK/BKK) pada tahun 1978 untuk membungkam aktivitas politik mahasiswa. Namun, tekanan ini justru melahirkan berbagai bentuk perlawanan diam-diam. Mahasiswa dan kelompok intelektual mulai menggunakan bahasa yang samar, sindiran dalam karya seni, dan diskusi-diskusi bawah tanah untuk menjaga napas kritis mereka tetap hidup.

Elite Orde Baru menggunakan sistem lisensi yang ketat untuk media dan organisasi sipil sebagai alat kontrol. Dalam konteks ini, wartawan mengembangkan "bahasa prokem" atau menggunakan istilah seperti "pihak tertentu" untuk merujuk pada elite yang korup tanpa harus menyebut nama secara langsung guna menghindari penangkapan. Perlawanan diam-diam ini menjadi fondasi bagi akumulasi ketidakpuasan yang akhirnya meledak dalam gerakan Reformasi 1998. Namun, tragedi dari gerakan Reformasi adalah keberhasilannya menumbangkan diktator namun gagal membongkar struktur kekuasaan yang memungkinkan kembalinya elite lama melalui regulasi baru seperti UU ITE yang mengkriminalisasi kritik online.

Perlawanan di Balik Tirai Besi: Kasus Uni Soviet dan Eropa Timur

Negara-negara sosialis di Blok Timur menyediakan laboratorium sosiologis yang kaya untuk mempelajari perlawanan diam-diam dalam sistem totaliter. Ketika negara mencoba mengontrol setiap aspek kehidupan melalui perencanaan pusat dan pengawasan polisi rahasia, masyarakat mengembangkan taktik kelangsungan hidup yang sangat kreatif.

Dalam sektor pertanian, kebijakan kolektivisasi paksa di Uni Soviet pada 1920-an dan 1930-an memicu perlawanan masif namun tersamar. Petani melakukan "dekulakisasi mandiri" (self-dekulakization) dengan menyembunyikan kekayaan mereka, memalsukan identitas sosio-ekonomi, atau melarikan diri ke daerah terpencil untuk menghindari kerja paksa. Tindakan perlambatan kerja dan sabotase terhadap peralatan kolektif menjadi normalitas yang melemahkan efisiensi ekonomi negara sosialis secara perlahan namun pasti.

Silent Rebellion
Salah satu momen paling menarik adalah resistensi terhadap kudeta tahun 1991 di Uni Soviet. Meskipun tank-tank dikirim ke jalanan Moskow, banyak warga yang melawan bukan dengan senjata, melainkan dengan pemogokan massal atau sekadar tidak datang bekerja. Fenomena "Singing Revolution" di Estonia juga merupakan bentuk perlawanan diam-diam yang berubah menjadi gerakan massa, di mana identitas nasional dipertahankan melalui festival lagu tradisional sebagai bentuk penolakan terhadap pengaruh Uni Soviet.

Silent Rebellion di Dunia Kerja Kontemporer: Quiet Quitting dan Malicious Compliance

Dalam era neoliberalisme saat ini, tekanan untuk selalu produktif dan berprestasi telah melahirkan bentuk perlawanan baru di tempat kerja yang dikenal sebagai quiet quitting dan kepatuhan malisiosa (malicious compliance). Fenomena ini merupakan respons terhadap budaya "hustle" yang mengaburkan batas antara kehidupan pribadi dan profesional serta eksploitasi tenaga kerja tanpa kompensasi yang adil.

Quiet Quitting: Menarik Diri dalam Kehadiran

Quiet quitting bukanlah tindakan berhenti bekerja, melainkan keputusan sadar untuk membatasi upaya hanya pada apa yang secara eksplisit tercantum dalam deskripsi pekerjaan. Istilah ini menjadi viral pada tahun 2022 sebagai representasi dari kelelahan kronis (burnout) dan erosi kepercayaan terhadap budaya kerja tradisional.

  • Mekanisme Psikologis: Karyawan tetap hadir secara fisik namun "mematikan energi" mereka, menolak lembur tak berbayar, atau mengabaikan email di luar jam kerja.
  • Akar Masalah: Ketidakpuasan sering kali dipicu oleh kurangnya pengakuan, beban kerja yang tidak masuk akal, dan manajemen yang buruk. Bagi banyak perempuan, ini adalah bentuk pelestarian diri menghadapi "pekerjaan rumah tangga kantor" yang tidak dihargai.

Malicious Compliance: Kepatuhan yang Destruktif

Kepatuhan malisiosa, atau "bekerja secara kacau" (chaotic working), adalah taktik yang lebih aktif di mana individu mengikuti instruksi secara harfiah untuk mencapai hasil yang negatif atau merusak bagi organisasi. Ini adalah bentuk sabotase yang terbungkus dalam jubah kepatuhan. Sebagai contoh, jika seorang atasan memberlakukan aturan birokrasi yang kaku namun tidak efisien, karyawan yang melakukan kepatuhan malisiosa akan menjalankan aturan tersebut dengan sangat presisi, meskipun mereka tahu hal itu akan menyebabkan kemacetan operasional atau kegagalan proyek.

Silent Rebellion
Di Indonesia, tren ini mulai terlihat di berbagai sektor, termasuk pemerintahan dan pertahanan. Para ahli menekankan bahwa quiet quitting adalah sinyal bahwa ada yang salah dalam sistem kerja dan budaya organisasi, yang memerlukan strategi manajemen baru yang mengedepankan empati dan otonomi daripada sekadar pengawasan ketat.

Metamorfosis Digital: Algoritma, Meme, dan Kode Linguistik sebagai Perlawanan

Transformasi teknologi informasi telah mengubah lanskap perlawanan diam-diam secara drastis. Internet menyediakan platform bagi transkrip tersembunyi untuk terorganisir secara atomis namun masif, melahirkan fenomena resistensi algoritmik dan subversi melalui konten visual.

Resistensi Algoritmik dan Platform Power

Kekuatan algoritma media sosial seperti TikTok, Instagram, dan YouTube sering kali bertindak sebagai filter yang memarjinalkan suara-suara tertentu berdasarkan kelas ekonomi atau daya tarik fisik. Namun, pengguna tidak pasif dalam menghadapi kontrol ini. Mereka mengembangkan taktik "gaming the algorithm" untuk memanipulasi visibilitas dan jangkauan pesan mereka.
1. Apropriasi dan Rekonfigurasi: Pengguna mempelajari pola algoritma untuk menyebarkan konten aktivisme sosial, sering kali dengan menyisipkan pesan politik ke dalam tren tari atau musik populer guna mengecoh filter sensor atau moderasi konten.
2. Menebar Jaring (Cloud Protesting): Gerakan sosial memasukkan praktik mereka ke dalam lingkungan yang didefinisikan secara algoritmik untuk menantang kekuasaan platform dari dalam, memastikan bahwa aspirasi mereka tetap mencapai audiens meskipun ada upaya penekanan.

Meme sebagai Senjata Ideologis Baru

Meme internet berfungsi sebagai instrumen subversi yang sangat efektif karena sifatnya yang multimodal—menggabungkan teks dan gambar dengan humor yang sering kali mengandung makna berlapis. Di Indonesia, meme sering digunakan untuk mengkritik elite politik yang dianggap korup atau tidak responsif. Fleksibilitas media online memungkinkan masyarakat untuk melakukan sindiran tajam, seperti dalam kasus meme Setya Novanto, yang mencerminkan ketidakpercayaan publik terhadap integritas elite politik.

Strategi Linguistik di Tiongkok: Menghadapi Tembok Api Besar

Salah satu manifestasi paling canggih dari perlawanan diam-diam digital dapat ditemukan di Tiongkok, di mana sensor internet sangat ketat. Pengguna internet menciptakan serangkaian kode linguistik untuk membicarakan topik terlarang:

  • Kuda Lumpur Rumput (Grass-Mud Horse): Istilah ini adalah homofon dari kata makian yang kasar, namun digunakan sebagai simbol pembangkangan terhadap penyensoran pemerintah.
  • Kepiting Sungai (River Crab): Kata hexie (harmonis) sering digunakan pemerintah untuk melegitimasi sensor, namun pengguna menggantinya dengan homofonnya, hexie yang berarti kepiting sungai, untuk mengejek kebijakan tersebut.
  • Oral Literature (Kou Kou Wenxue): Ketika algoritma menghapus karakter sensitif dan menggantinya dengan kotak kosong (口), netizen justru sengaja menulis kalimat penuh kotak kosong untuk menunjukkan absurditas sensor tersebut, menciptakan bentuk sastra baru yang menonjolkan keberadaan pembungkaman.

Taktik ini membuktikan bahwa bahasa selalu memiliki celah bagi subversi. Dengan menggunakan humor dan kreativitas, masyarakat dapat mendiskusikan isu-isu penting tanpa harus terdeteksi oleh sistem surveilans otomatis.

Dimensi Psikososial Silent Rebellion: Mengapa Masyarakat Memilih Jalan Diam?

Keputusan individu untuk melakukan perlawanan diam-diam daripada pemberontakan terbuka melibatkan proses kognitif dan emosional yang kompleks.

Rasa Takut, Risiko, dan Bias Status Quo

Kekuasaan sering kali dipertahankan melalui rasa takut akan konsekuensi dari pembangkangan terbuka. Sosiologi perlawanan mencatat adanya "paradoks represi": meskipun represi terkadang memicu kemarahan massa, ia juga sering kali berhasil membungkam gerakan sosial dengan menciptakan ketakutan yang melumpuhkan. Dalam kondisi risiko tinggi, individu cenderung melebih-lebihkan bahaya dari keterlibatan politik aktif (heuristik afek).

Selain itu, terdapat kecenderungan psikologis yang kuat untuk mempertahankan status quo. Manusia membutuhkan alasan yang jauh lebih kuat untuk melakukan perubahan dibandingkan untuk tetap pada apa yang sudah mapan, meskipun kondisi saat ini merugikan mereka. Bias status quo ini diperparah oleh "bias kelalaian" (omission bias), di mana orang lebih merasa bersalah atas hasil buruk akibat tindakan mereka daripada hasil buruk akibat ketidaktindakan mereka.

Perlawanan sebagai Mekanisme Koping dan Agensi

Bagi banyak orang di kelompok marginal, perlawanan diam-diam adalah satu-satunya cara untuk mempertahankan agensi mereka tanpa harus mengorbankan nyawa atau mata pencaharian. Ini adalah bentuk "perlawanan produktif" di mana individu menggunakan alat yang tersedia dalam kehidupan sehari-hari untuk mencapai kemenangan kecil yang memberikan rasa keberdayaan. Perlawanan semacam ini membantu menjaga kesehatan mental di tengah lingkungan yang opresif atau tidak adil.

Silent Rebellion

Dampak Silent Rebellion Terhadap Stabilitas Sosial dan Kebijakan Publik

Perlawanan diam-diam memiliki dampak ganda terhadap stabilitas sistem sosial. Di satu sisi, ia dapat berfungsi sebagai katup penyelamat (safety valve); di sisi lain, ia dapat menjadi katalisator bagi keruntuhan sistemik yang tak terduga.

Katup Penyelamat dan Stabilitas Semu

Dalam sistem hukum dan administrasi, perlawanan diam-diam seperti anomali keputusan juri atau pembangkangan birokrasi kecil dapat membantu sistem tetap relevan dengan realitas masyarakat tanpa harus mengubah hukum secara formal. Dengan memberikan ruang bagi ekspresi ketidakpuasan dalam skala mikro, sistem tersebut mencegah terjadinya keterasingan total warga negara terhadap hukum.

Namun, ketergantungan pada katup penyelamat ini dapat menciptakan "paradoks stabilitas". Pemerintah yang hanya fokus membungkam kritik melalui represi atau kompensasi dangkal tanpa menyelesaikan akar masalah akan menghadapi akumulasi "kemarahan diam-diam" (silent anger). Akumulasi kemarahan ini adalah bom waktu sosiologis yang dapat meledak menjadi ketidakstabilan masif ketika terjadi insiden pemicu yang menyatukan berbagai transkrip tersembunyi menjadi satu aksi kolektif.

Transformasi Struktural Jangka Panjang

Meskipun setiap tindakan perlawanan diam-diam tampak sepele, dampak kumulatifnya dapat mengubah arah sejarah. Scott menyamakan ribuan tindakan resistensi kecil dengan polip koral yang membangun terumbu karang yang mampu menenggelamkan kapal besar. Perlawanan diam-diam secara bertahap mengikis dasar legitimasi dan efisiensi ekonomi rezim yang tidak adil.

Di dunia modern, gerakan seperti Extinction Rebellion atau gelombang protes Reformasi menunjukkan bagaimana perlawanan yang awalnya tersebar dan diam dapat bertransformasi menjadi pemberontakan sipil yang memaksa terjadinya perubahan kebijakan fundamental. Kuncinya terletak pada kemampuan organisasi untuk mengonsolidasikan berbagai transkrip tersembunyi menjadi tuntutan politik yang koheren.

Sintesis dan Rekomendasi Strategis

Fenomena silent rebellion adalah pengingat bahwa kekuasaan tidak pernah benar-benar mutlak. Di setiap sudut dominasi, selalu ada ruang bagi agensi dan subversi. Pemahaman mendalam mengenai infrapolitik sangat penting bagi para pengambil kebijakan, pemimpin organisasi, dan sosiolog untuk memahami dinamika masyarakat yang sebenarnya di balik permukaan kepatuhan formal.
1. Pengenalan Transkrip Tersembunyi: Pemimpin harus mampu mendengar suara-suara yang tidak terucap dalam forum formal. Kebijakan yang hanya didasarkan pada data kepatuhan permukaan akan gagal mendeteksi ketidakpuasan yang mendalam.
2. Mekanisme Partisipasi Autentik: Untuk mencegah akumulasi kemarahan diam-diam yang destruktif, diperlukan saluran partisipasi yang memberikan agensi nyata kepada masyarakat atau karyawan, bukan sekadar katup penyelamat yang bersifat seremonial.
3. Reformasi Ekonomi Moral: Perlawanan sering kali dipicu oleh pelanggaran terhadap rasa keadilan dan norma moral komunitas. Menyelaraskan kebijakan ekonomi dengan ekonomi moral masyarakat adalah kunci untuk mengurangi gesekan sosial.
4. Literasi Algoritmik dan Digital: Dalam era digital, negara dan organisasi harus menyadari bahwa sensor ketat hanya akan melahirkan bentuk-bentuk subversi yang lebih kreatif dan sulit dikontrol. Pendekatan yang lebih terbuka terhadap kritik digital jauh lebih efektif untuk menjaga stabilitas jangka panjang.

Pada akhirnya, silent rebellion adalah bukti dari ketangguhan roh manusia menghadapi tekanan. Sejarah membuktikan bahwa perubahan besar sering kali tidak dimulai dengan teriakan keras di alun-alun kota, melainkan dengan bisikan-bisikan di dapur, sindiran di media sosial, dan perlambatan kerja yang dilakukan dengan penuh kesadaran di balik meja kantor. Memahami fenomena ini berarti memahami denyut nadi perubahan sosial yang sesungguhnya.

Referensi:

Alabama Law Scholarly Commons. (n.d.). Nullification as law. Diakses 19 Desember 2025, dari https://scholarship.law.ua.edu/cgi/viewcontent.cgi?article=1069&context=fac_articles

Belonging & Othering Institute. (n.d.). From spontaneous rage to sustained struggle: A people’s movement roadmap for post-protest Indonesia. Diakses 19 Desember 2025, dari https://belonging.berkeley.edu/global-south-lab/spontaneous-rage-sustained-struggle-peoples-movement-roadmap-post-protest

Brian Martin. (n.d.). Nonviolent resistance to Soviet repression. Diakses 19 Desember 2025, dari https://www.bmartin.cc/pubs/03nvs/nvs-3-Soviet-coup.pdf

Brill. (n.d.). The Samin movement. Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde. Diakses 19 Desember 2025, dari https://brill.com/view/journals/bki/125/2/article-p207_2.pdf

Cambridge University Press. (n.d.). Protest, reform and repression in Khrushchev’s Soviet Union (Part I). Diakses 19 Desember 2025, dari https://www.cambridge.org/core/books/protest-reform-and-repression-in-khrushchevs-soviet-union/part/36902BF5493865DC9989ED8E10B8AC43

CBS Open Journals. (n.d.). Everyday forms of resistance. Copenhagen Journal of Asian Studies. Diakses 19 Desember 2025, dari https://rauli.cbs.dk/index.php/cjas/article/download/1765/1785

CultureMonkey. (2024). What is quiet quitting: Examples & top strategies to tackle it in 2024. Diakses 19 Desember 2025, dari https://www.culturemonkey.io/employee-engagement/quiet-quitting-examples/

Diggit Magazine. (n.d.). Hidden transcripts. Diakses 19 Desember 2025, dari https://www.diggitmagazine.com/index.php/wiki/hidden-transcripts

Doctor Spin. (n.d.). Social media algorithms and how they rule our lives. Diakses 19 Desember 2025, dari https://doctorspin.net/social-media-algorithms/

East Asia Forum. (2025, 20 Oktober). Protest wave challenges Indonesia’s authoritarian drift. Diakses 19 Desember 2025, dari https://eastasiaforum.org/2025/10/20/protest-wave-challenges-indonesias-authoritarian-drift/

Emerald Insight. (n.d.). Interest articulation, social stability and public governance. Diakses 19 Desember 2025, dari https://www.emerald.com/cpe/article/3/1/205/47214/Interest-articulation-social-stability-and-public

Frontiers in Social Psychology. (2024). Social change requires more justification than maintaining the status quo. Diakses 19 Desember 2025, dari https://www.frontiersin.org/journals/social-psychology/articles/10.3389/frsps.2024.1360377/full

Global Nonviolent Action Database. (n.d.). Soviet Bloc independence campaigns (1989–1991). Diakses 19 Desember 2025, dari https://nvdatabase.swarthmore.edu/category/wave-campaigns/soviet-bloc-independence-campaigns-1989-1991

Goodreads. (n.d.). Weapons of the weak: Everyday forms of peasant resistance. Diakses 19 Desember 2025, dari https://www.goodreads.com/book/show/237949.Weapons_of_the_Weak

Kala, G. (n.d.). Internet memes as instruments of subversion in the context of Islam and Muslims (Tesis doktoral). University of Westminster. Diakses 19 Desember 2025, dari https://westminsterresearch.westminster.ac.uk/download/7678143/Revised%20Thesis_Final_GKala.pdf

Libcom.org. (n.d.). Domination and the arts of resistance: Hidden transcripts – James C. Scott. Diakses 19 Desember 2025, dari https://libcom.org/article/domination-and-arts-resistance-hidden-transcripts-james-c-scott

Lirias. (n.d.). Humorous ambiguity and dissimulation as discursive vehicles for political and social critique in Chinese society. Diakses 19 Desember 2025, dari https://lirias.kuleuven.be/retrieve/dae48984-7856-4967-a7c0-f607057f647e

Lorino. (n.d.). Quiet quitting: The new workplace rebellion? Diakses 19 Desember 2025, dari https://www.lorino.app/blog/quiet-quitting-movement-what-employers-need-to-know

Monoskop. (1990). Domination and the arts of resistance: Hidden transcripts [PDF]. Diakses 19 Desember 2025, dari https://monoskop.org/images/0/0f/Scott_James_C_Domination_and_the_Arts_of_Resistance_Hidden_Transcripts_1990.pdf

New Tactics. (n.d.). Developing a linguistic code to circumvent and challenge internet censorship. Diakses 19 Desember 2025, dari https://www.newtactics.org/tactics/developing-linguistic-code-circumvent-and-challenge-internet-censorship/

Powercube.net. (n.d.). Scott: Resistance. Diakses 19 Desember 2025, dari https://www.powercube.net/other-forms-of-power/scott-resistance/

PubMed Central. (n.d.). From “the effect of repression” toward “the response to repression”. Diakses 19 Desember 2025, dari https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC6146312/

PubMed Central. (n.d.). How do social structures become taken for granted? Social reproduction in calm and crisis. Diakses 19 Desember 2025, dari https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC8259550/

PWN Global. (n.d.). Quiet quitting: Disengagement embraces a silent rebellion. Diakses 19 Desember 2025, dari https://www.pwnglobal.net/articles/quiet-quitting-disengagement-embraces-a-silent-rebellion

Rahmi Surya Dewi. (n.d.). Meme sebagai sebuah pesan dan bentuk hiperrealitas di media sosial. Diakses 19 Desember 2025, dari http://download.garuda.kemdikbud.go.id/article.php?article=1300327&val=17507

ResearchGate. (n.d.). Algorithms of resistance: The everyday fight against platform power. Diakses 19 Desember 2025, dari https://www.researchgate.net/publication/378015391

ResearchGate. (n.d.). Conceptualizing “everyday resistance”: A transdisciplinary approach. Diakses 19 Desember 2025, dari https://www.researchgate.net/publication/336612613

ResearchGate. (n.d.). Review of “Domination and the arts of resistance” by James C. Scott. Diakses 19 Desember 2025, dari https://www.researchgate.net/publication/395934237

Resilience.org. (2019). The rebellion hypothesis: Crisis, inaction, and the question of civil disobedience. Diakses 19 Desember 2025, dari https://www.resilience.org/stories/2019-09-18/the-rebellion-hypothesis-crisis-inaction-and-the-question-of-civil-disobedience/

Resistance Journal. (2013). “Everyday resistance”: Exploration of a concept and its theories. Diakses 19 Desember 2025, dari https://resistance-journal.org/wp-content/uploads/2016/04/Vinthagen-Johansson-2013-Everyday-resistance-Concept-Theory.pdf

Scott, J. C. (n.d.). Weapons of the weak. The Ted K Archive. Diakses 19 Desember 2025, dari https://www.thetedkarchive.com/library/james-c-scott-weapons-of-the-weak

Scott, J. C. (n.d.). Weapons of the weak. Territorial Masquerades. Diakses 19 Desember 2025, dari https://territorialmasquerades.net/weapons-of-the-weak/

Suara Muhammadiyah. (n.d.). Quiet quitting: Cermin krisis budaya kerja, bukan sekadar tren Gen Z. Diakses 19 Desember 2025, dari https://suaramuhammadiyah.id/read/quiet-quitting-cermin-krisis-budaya-kerja-bukan-sekadar-trend-gen-z

Swarthmore College. (n.d.). The paradox of repression and nonviolent movements. Diakses 19 Desember 2025, dari https://works.swarthmore.edu/context/fac-soc-anth/article/1178/viewcontent/fac_soc_anth_179.pdf

TopResume. (n.d.). Quiet quitting and malicious compliance: The silent rebellion. Diakses 19 Desember 2025, dari https://topresume.com/career-advice/quiet-quitting-and-malicious-compliance-the-silent-rebellion

Wikipedia. (n.d.). Everyday resistance. Diakses 19 Desember 2025, dari https://en.wikipedia.org/wiki/Everyday_resistance

Wikipedia. (n.d.). New Order (Indonesia). Diakses 19 Desember 2025, dari https://en.wikipedia.org/wiki/New_Order_(Indonesia)

Wikipedia. (n.d.). Saminism movement. Diakses 19 Desember 2025, dari https://en.wikipedia.org/wiki/Saminism_Movement

World of Chinese. (2022). Getting mouthy: How Chinese netizens made memes from censorship. Diakses 19 Desember 2025, dari https://www.theworldofchinese.com/2022/07/getting-mouthy-how-chinese-netizens-made-memes-from-censorship/

YourStory. (2023). Quiet quitting: What’s causing the silent rebellion? Diakses 19 Desember 2025, dari https://yourstory.com/2023/11/silent-rebellion-quiet-quitting

Aletheia Rabbani
Aletheia Rabbani “Barang siapa yang tidak mampu menahan lelahnya belajar, maka ia harus mampu menahan perihnya kebodohan” _ Imam As-Syafi’i

Post a Comment