Paradigma Mobilitas Baru John Urry: Analisis Komprehensif Pemikiran Mobilities
Prolegomena: Menggugat Sedentarisme dalam Ilmu Sosial
Sebelum munculnya "turn" atau peralihan mobilitas, ilmu sosial cenderung memperlakukan masyarakat sebagai entitas yang stabil dan teritorial. Pandangan sedentarisme ini mengasumsikan bahwa stabilitas, makna, dan tempat adalah kondisi normal, sementara jarak, perubahan, dan ketiadaan tempat dianggap sebagai anomali atau sumber kerusakan moral. Urry mengkritik pendekatan "a-mobile" ini karena gagal menangkap esensi dari dunia yang terglobalisasi, di mana pergerakan sistematis orang untuk bekerja, rekreasi, politik, dan protes menjadi sangat krusial bagi berfungsinya institusi sosial.
Pergeseran perspektif ini dipicu oleh berbagai perubahan dunia nyata, mulai dari perang minyak di Timur Tengah hingga penyebaran pesan teks (SMS), dari kontroversi ekspansi bandara hingga penurunan budaya jalan kaki. Urry melihat bahwa isu-isu mobilitas berada di garis depan agenda akademik dan kebijakan karena mobilitas adalah pusat dari konstelasi kekuasaan dan geografi mikro kehidupan sehari-hari. Melalui paradigma mobilitas baru, fenomena sosial yang sebelumnya tidak jelas (opaque) menjadi lebih mudah dipahami melalui analisis sistem yang memungkinkan repetisi pergerakan yang dapat diprediksi dan relatif bebas risiko.
Bagian I: Dunia yang Bergerak (Mobile Worlds)
Pada bagian pertama bukunya, Urry membangun landasan teoretis untuk paradigma mobilitas baru. Ia menelusuri akar minatnya pada mobilitas melalui "spatial turn" dalam teori sosial yang dimulai pada tahun 1970-an, sangat dipengaruhi oleh karya Henri Lefebvre tentang produksi ruang dan perdebatan di Inggris yang dipicu oleh Doreen Massey mengenai pembagian kerja spasial.
Bab 1: Mobilisasi Kehidupan Sosial
Urry memulai dengan menunjukkan betapa masifnya peningkatan pergerakan fisik manusia. Jika pada tahun 1800-an rata-rata orang di Amerika Utara hanya berpindah sekitar 50 meter per hari, pada awal abad ke-21 angka tersebut melonjak menjadi 50 kilometer per hari. Namun, statistik ini menyembunyikan disparitas besar yang ada di tengah masyarakat. Mobilisasi kehidupan sosial bukan hanya tentang volume pergerakan, tetapi tentang bagaimana pergerakan tersebut mengonfigurasi ulang organisasi, negara, dan institusi global.
Mobilisasi ini melibatkan apa yang Urry sebut sebagai "kompleksitas sosial." Ia berargumen bahwa kehidupan sosial modern tidak didasarkan pada interaksi langsung yang terus-menerus dalam struktur sosial yang dekat, melainkan pada kombinasi yang mencolok antara kedekatan (proximity) dan jarak (distance). Perasaan kewajiban, keinginan, dan komitmen sosial kini sering kali dijalankan melalui pola hubungan jarak jauh yang diperantarai oleh teknologi.
Bab 2: Teori dan Metode 'Mobile'
Dalam bab ini, Urry menawarkan kritik terhadap metode penelitian tradisional yang "diam." Jika subjek penelitian kita terus bergerak, maka peneliti juga harus bergerak. Ia mengusulkan metode penelitian "mobile" seperti mengikuti objek (tracking objects), melakukan wawancara saat bergerak (go-along), atau menggunakan buku harian video untuk menangkap pengalaman pergerakan secara real-time.
Urry juga mengintegrasikan teori kompleksitas ke dalam analisis sosiologisnya. Ia melihat sistem mobilitas sebagai sistem non-linear yang autopoietik—sistem yang mereproduksi dirinya sendiri melalui komponen-komponennya. Contoh paling nyata dari ini adalah sistem automobilitas, di mana mobil, pengemudi, jalan raya, dan industri minyak saling terkait dalam sebuah perakitan (assemblage) yang menolak perubahan karena telah "terkunci" (locked-in) secara teknis dan sosial.
Bab 3: Paradigma Mobilitas Baru
Paradigma ini berdiri di atas keyakinan bahwa semua tempat terikat ke dalam jaringan koneksi yang membentang melampaui tempat tersebut. Urry mengidentifikasi lima jenis mobilitas yang saling bergantung dan mendefinisikan cara masyarakat modern berfungsi. Pemahaman atas kelima tipe ini sangat krusial karena kegagalan pada satu tipe dapat menyebabkan disrupsi masif pada tipe lainnya.
Bagian II: Pergerakan dan Komunikasi (Moving and Communicating)
Bagian kedua dari buku ini menganalisis secara mendalam berbagai mode transportasi dan komunikasi yang membentuk pengalaman modernitas. Urry memeriksa sejarah dan dampak sosiologis dari trotoar, kereta api, mobil, pesawat, dan media digital.
Bab 4: Trotoar dan Jalur: Penurunan Budaya Jalan Kaki
Urry menyoroti bagaimana desain perkotaan modern sering kali mengabaikan pejalan kaki. Pembangunan trotoar yang terfragmentasi mencerminkan prioritas yang diberikan kepada mobilitas bermotor. Penurunan budaya jalan kaki bukan hanya masalah kesehatan, tetapi juga hilangnya ruang publik di mana interaksi sosial yang tidak terencana dapat terjadi. Ia melihat jalan kaki sebagai bentuk mobilitas yang paling mendasar namun sering kali dipinggirkan dalam perencanaan kota yang berpusat pada kecepatan.
Bab 5: Kereta Api 'Publik' dan Ruang Sosial Transit
Kereta api adalah teknologi yang pertama kali menghancurkan batasan ruang dan waktu secara masif pada abad ke-19. Urry menganalisis bagaimana kereta api menciptakan bentuk-bentuk sosiabilitas baru. Di dalam kereta, orang-orang asing dipaksa berada dalam jarak dekat namun tetap mempertahankan privasi visual—sebuah fenomena yang digambarkan oleh Georg Simmel sebagai karakteristik kehidupan kota modern. Kereta api juga memungkinkan pemisahan antara tempat kerja dan tempat tinggal, yang memicu pertumbuhan pinggiran kota.
Bab 6: Menghuni Mobil dan Jalan: Analisis Sistem Automobilitas
Bab ini merupakan salah satu bagian yang paling sering dikutip dari karya Urry. Ia mendefinisikan "automobilitas" sebagai sistem yang melampaui sekadar penggunaan mobil. Ini adalah sebuah "hibrida" antara manusia dan mesin (car-driver) yang mendominasi masyarakat dunia. Urry merinci enam komponen yang menciptakan karakter dominasi automobilitas:
1. Objek Manufaktur Utama: Industri otomotif adalah jantung kapitalisme abad ke-20, memelopori Fordisme dan pasca-Fordisme melalui perusahaan ikonik seperti Ford, Toyota, dan Volkswagen.
2. Item Konsumsi Individual: Mobil adalah simbol status utama setelah rumah, yang diberikan nama, dipersonalisasi, dan dikaitkan dengan nilai-nilai seperti kebebasan, kejantanan, dan kesuksesan karier.
3. Kompleks Sosio-Teknis: Jaringan interkoneksi yang melibatkan kilang minyak, pembangunan jalan raya, motel, ritel pinggir jalan, dan perencanaan kota yang mengasumsikan kepemilikan mobil.
4. Bentuk Dominan Mobilitas Semi-Privat: Mobil mensubordinasi mode transportasi lain seperti berjalan kaki dan bersepeda, memaksa individu untuk menyesuaikan jadwal hidup mereka dengan tuntutan lalu lintas.
5. Budaya Dominan: Ideologi tentang "kehidupan yang baik" sering kali dipusatkan pada mobilitas pribadi, yang tercermin dalam karya sastra dan film tentang "kebebasan di jalan raya".
6. Penyebab Utama Penggunaan Sumber Daya: Sistem automobilitas adalah kontributor terbesar bagi konsumsi sumber daya global dan kerusakan lingkungan.
Urry berpendapat bahwa mobil adalah "Frankenstein" modern—sebuah alat yang diciptakan untuk memberi kebebasan namun akhirnya memaksa manusia untuk hidup dalam cara yang sangat tertekan oleh waktu dan ruang. Orang-orang terpaksa "menghuni" mobil mereka untuk waktu yang lama, mengubah kapsul besi tersebut menjadi ruang sosial semi-privat di mana mereka mendengarkan musik, menelepon, dan berinteraksi dengan keluarga.
Bab 7: Terbang Melintasi Dunia: Aeromobilitas dan Politik Udara
Perjalanan udara atau aeromobilitas merupakan bentuk mobilitas elit yang telah mengalami demokratisasi terbatas namun tetap menjadi sumber stratifikasi sosial yang signifikan. Urry melihat bandara sebagai "penambat" (moorings) yang sangat statis dan masif namun memungkinkan fluiditas global bagi kapital dan manusia. Di bandara, identitas seseorang sering kali direduksi menjadi data biometrik, dan ruang tersebut menjadi "zona transisi" di mana pengawasan ketat dilakukan.
Ia juga membahas kontradiksi lingkungan dari terbang. Di satu sisi, terbang memungkinkan koneksi global yang cepat; di sisi lain, emisi dari penerbangan merupakan tantangan besar bagi keberlanjutan bumi. Kontroversi ekspansi bandara, seperti yang terjadi di Heathrow, menjadi simbol dari konflik antara tuntutan mobilitas ekonomi dan perlindungan lingkungan.
Bab 8: Menghubungkan dan Berimajinasi: Mobilitas Virtual dan Imajinatif
Urry mengeksplorasi bagaimana teknologi informasi mengubah hubungan antara perjalanan fisik dan komunikasi. Melalui perangkat mobile, individu dapat "hadir" di tempat lain sambil tetap bergerak secara fisik. Penggunaan SMS dan media sosial memungkinkan pembentukan ikatan sosial yang luas, bahkan dengan anggota jaringan yang hanya terhubung secara lemah (weakly linked).
Penting untuk dicatat bahwa bagi Urry, mobilitas virtual tidak menggantikan mobilitas korporal, melainkan justru memicunya. Semakin banyak orang terhubung secara virtual, semakin besar keinginan mereka untuk bertemu secara fisik guna memperkuat hubungan tersebut. Perjalanan imajinatif melalui layar televisi atau komputer juga membentuk "gaze" (pandangan) turis, yang mendorong jutaan orang untuk mengunjungi lokasi fisik yang mereka lihat di media.
Bagian III: Masyarakat dan Sistem dalam Pergerakan (Societies and Systems on the Move)
Bagian terakhir dari buku ini menganalisis implikasi sosial dari mobilitas, termasuk masalah ketimpangan, pembentukan jaringan, dan skenario masa depan.
Bab 9: Gerbang Menuju Surga dan Neraka: Eksklusi dan Stratifikasi
Urry merinci bagaimana akses terhadap mobilitas menciptakan bentuk-bentuk baru eksklusi sosial. Ia memperkenalkan konsep modal jaringan (network capital) untuk menjelaskan kemampuan seseorang dalam mempertahankan hubungan sosial melintasi jarak. Seseorang yang kaya akan modal jaringan memiliki akses mudah terhadap transportasi dan teknologi komunikasi, sementara mereka yang miskin modal jaringan terjebak dalam imobilitas yang membatasi peluang hidup mereka.
Bab 10: Jaringan: Struktur Sosial dalam Aliran
Urry berpendapat bahwa sosiologi harus beralih dari fokus pada "kelompok" (groups) yang tertutup ke "jaringan" (networks) yang terbuka. Jaringan sosial kini sering kali diperantarai oleh teknologi dan memiliki sifat "aristokratis," di mana simpul-simpul atau pusat-pusat tertentu mengonsolidasikan lebih banyak kekuasaan. Mobilitas kapital, informasi, dan manusia mengalir melalui saluran-saluran jaringan ini, menciptakan ketimpangan antara "kinetic elites" (elit yang sangat mobile) dan pengungsi atau buruh migran yang mobilitasnya dikontrol ketat.
Bab 11: Pertemuan: Keharusan Ko-Presensi Fisik
Mengapa kita tetap melakukan perjalanan bisnis atau pulang kampung meskipun ada Zoom atau telepon? Urry menjelaskan adanya "kompulsi terhadap kedekatan. Interaksi tatap muka memungkinkan pertukaran isyarat indeksikal, bahasa tubuh, intonasi suara, dan "keheningan yang bermakna" yang tidak dapat direplikasi sepenuhnya oleh teknologi virtual. Pertemuan fisik sangat penting untuk membangun kepercayaan (trust) yang menjadi fondasi ekonomi dan hubungan sosial jarak jauh.
Bab 12: Tempat: Ruang Relasional dan Non-Tempat
Urry menentang pandangan bahwa tempat telah mati akibat globalisasi. Sebaliknya, tempat kini harus dipahami sebagai "proses" atau "performa". Sebuah tempat didefinisikan oleh aliran yang melewatinya. Ia mendiskusikan konsep "non-places" (seperti pusat perbelanjaan dan jalan tol) di mana sejarah dan identitas lokal tampak terhapus. Namun, ia juga menunjukkan bagaimana tempat-tempat tersebut dapat menjadi simpul penting dalam jaringan kehidupan seseorang, di mana identitas baru terbentuk melalui pergerakan.
Bab 13: Sistem dan Masa Depan Gelap: Krisis Karbon dan Katastrofe
Bab penutup buku ini sangat visioner sekaligus pesimistis. Urry menganalisis dampak mobilitas terhadap perubahan iklim dan ketahanan energi. Ia berargumen bahwa mobilitas modern adalah pusat dari penggunaan sumber daya Barat dan harus menjadi fokus utama intervensi iklim. Ia memaparkan skenario "masa depan gelap" yang mungkin terjadi jika sistem mobilitas saat ini runtuh akibat kelangkaan minyak (peak oil) atau bencana lingkungan.
Warisan Intelektual dan Relevansi Kontemporer
Karya John Urry, Mobilities, telah memberikan dampak yang luar biasa melintasi berbagai disiplin ilmu, mulai dari geografi manusia dan sosiologi hingga perencanaan perkotaan dan studi media. Paradigma mobilitas baru menantang gagasan tentang ruang sebagai wadah statis dan membawa produksi ruang yang dinamis ke dalam teori sosial.
Meskipun buku ini menerima kritik karena sering kali menyajikan "daftar" riset tanpa kerangka teoretis yang tunggal dan kuat di beberapa bagian, kemampuannya untuk mensintesis literatur yang luas sangat dihargai oleh para pakar seperti Ulrich Beck dan Nigel Thrift. Kritik juga datang dari kalangan feminis dan post-kolonial yang berpendapat bahwa politik mobilitas Urry terkadang kurang memperhatikan sejarah patriarki dan dominasi rasial yang membentuk siapa yang diizinkan bergerak dan siapa yang dipaksa diam.
Namun, relevansi pemikiran Urry terbukti sangat kuat dalam menghadapi tantangan global modern. Pandemi COVID-19, misalnya, menunjukkan dengan jelas betapa rentannya masyarakat kita yang sangat mobile terhadap disrupsi aliran. Teori Urry tentang mobilitas sebagai pusat dari konstelasi kekuasaan memberikan alat analisis yang tajam untuk memahami bagaimana kontrol atas pergerakan menjadi instrumen utama tata kelola negara di era krisis.
Secara keseluruhan, Mobilities adalah sebuah karya seminal yang memaksa kita untuk melihat dunia bukan sebagai sekumpulan tempat yang terpisah, melainkan sebagai sebuah jalinan aliran yang kompleks. Urry telah berhasil menempatkan "pergerakan" sebagai pusat dari agenda ilmu sosial abad ke-21, memberikan kunci untuk memahami kehidupan modern dalam segala kompleksitas, ketimpangan, dan tantangan lingkungannya. Pemikirannya mengajak kita untuk tidak takut memasuki dunia yang "murka" dan penuh ketidakpastian ini agar kita dapat ikut membentuk arah perjalanan masa depan umat manusia.
Referensi
Automobility. (n.d.). Oxford bibliographies in geography. Diakses 26 Desember 2025.
Editorial: Mobilities, immobilities and moorings. (2011). Mobilities. Diakses 26 Desember 2025.
From climate migration to anthropocene mobilities: Shifting the debate. (2019). Mobilities, 14(4), 1–17. https://doi.org/10.1080/17450101.2019.1620510
From spatial turn to mobilities turn. (n.d.). Mobilistiek. Diakses 26 Desember 2025.
Inhabiting the car. (n.d.). Lancaster University. Diakses 26 Desember 2025.
Introduction. (2023). Transfers, 13(1–2). Berghahn Journals. Diakses 26 Desember 2025.
John Urry, “Automobility, car culture and weightless travel.” (n.d.). Lancaster University. Diakses 26 Desember 2025.
Mobilities. (n.d.). Internet Archive. Diakses 26 Desember 2025.
Mobilities. (n.d.). Polity Press. Diakses 26 Desember 2025.
Mobilities. (n.d.). Wiley. Diakses 26 Desember 2025.
Mobilities. (n.d.). Wikipedia. Diakses 26 Desember 2025.
Mobilities paradigm. (n.d.). Forum Vies Mobiles. Diakses 26 Desember 2025.
Moving with John Urry. (n.d.). Theory, Culture & Society. Diakses 26 Desember 2025.
Sheller, M., & Urry, J. (2006). The new mobilities paradigm. Environment and Planning A, 38(2), 207–226.
The ‘system’ of automobility. (n.d.). ResearchGate. Diakses 26 Desember 2025.
The metropolis of network capital: Socio-spatial mobilities and urban inequities. (n.d.). SciELO. Diakses 26 Desember 2025.
The sociologist of mobility: John Urry (1946–2016). (2016). Social Science Space. Diakses 26 Desember 2025.
Travelling through mobilities. (n.d.). NomadIT. Diakses 26 Desember 2025.
Unequal mobilities, network capital and mobility justice. (n.d.). ResearchGate. Diakses 26 Desember 2025.
Urry, J. (2000). Mobility and proximity. Sociology. Diakses 26 Desember 2025.
Urry, J. (2004). Social networks, travel and talk. British Journal of Sociology, 54(2), 155–175.
Urry, J. (2007). Mobilities. Polity Press.
Urry, J. (2011). Climate change and society. Theory, Culture & Society, 28(2), 1–24.
View of John Urry, Mobilities. (n.d.). Canadian Journal of Sociology. Diakses 26 Desember 2025.





Post a Comment