Dinamika Molekuler Masyarakat: Analisis Komprehensif Hukum-Hukum Imitasi Gabriel Tarde
Paradigma Repetisi: Sosiologi sebagai Ilmu Pengetahuan Alam
Tarde memulai tesisnya dengan menempatkan fenomena sosial dalam kerangka hukum alam yang lebih luas. Ia berargumen bahwa ilmu pengetahuan hanya mungkin ada jika subjek yang dipelajarinya menunjukkan keteraturan atau repetisi. Tanpa repetisi, tidak akan ada hukum, dan tanpa hukum, tidak akan ada sains. Tarde mengidentifikasi tiga bentuk repetisi universal yang mendasari realitas, yang memosisikan sosiologi sebagai anggota dari keluarga ilmu pengetahuan fisik dan biologis.
Fenomena Somnambulisme Sosial
Salah satu wawasan paling mendalam dalam karya Tarde adalah konsepnya mengenai "somnambulisme sosial." Ia berpendapat bahwa imitasi sering kali terjadi secara tidak sadar. Individu dalam masyarakat bertindak layaknya orang yang sedang berjalan dalam tidur (somnambulist), yang secara pasif menerima dan mereplikasi keyakinan serta keinginan yang ada di sekitar mereka tanpa menyadari asal-usul pengaruh tersebut. Dalam pandangan ini, individu menganggap pikiran mereka sebagai milik sendiri, padahal sebagian besar merupakan refleksi dari lingkungan sosial yang mereka hirup. Imitasi, baik yang disengaja maupun yang tidak, merupakan perekat yang menyatukan masyarakat menjadi satu kesatuan fungsional.
Triad Dinamika Sosial: Invensi, Imitasi, dan Oposisi
Sistem sosiologis Tarde bergerak dalam siklus yang terdiri dari tiga proses fundamental: invensi, imitasi, dan oposisi. Ketiga elemen ini bekerja secara bersamaan untuk menentukan arah evolusi peradaban manusia.
Invensi sebagai Sumber Perubahan
Segala kemajuan sosial bermula dari satu titik: invensi atau penemuan. Tarde mendefinisikan invensi bukan sebagai penciptaan sesuatu dari ketiadaan, melainkan sebagai "interferensi yang membuahkan hasil" dari dua atau lebih aliran imitasi yang sudah ada sebelumnya di dalam pikiran seorang individu. Seorang penemu adalah titik temu di mana ide-ide lama bertabrakan dan membentuk kombinasi baru yang orisinal. Tarde memperkirakan bahwa kapasitas inovatif ini sangat langka, mungkin hanya dimiliki oleh satu dari seratus orang.
Kapasitas untuk melakukan invensi ini dibatasi oleh kemampuan biologis individu dan konteks sosial yang tersedia. Tarde mencatat bahwa semakin padat populasi dan semakin intens interaksi antarindividu, semakin besar peluang terjadinya rekombinasi ide yang menghasilkan penemuan besar. Sebagai contoh, ia menyebut teori seleksi alam Darwin sebagai sebuah invensi sosial. Ide tentang kompetisi antar makhluk hidup sudah ada sejak zaman Aristoteles, namun kejeniusan Darwin terletak pada penggabungan ide kompetisi tersebut dengan variabel variabilitas dan hereditas.
Imitasi sebagai Mekanisme Propagasi
Setelah sebuah invensi lahir, ia harus menyebar untuk menjadi fakta sosial. Di sinilah imitasi berperan sebagai kekuatan reproduksi. Tarde membedakan antara "imitasi generatif," yang mengarah pada penemuan baru melalui kombinasi repetisi, dan "imitasi imitatif," yang merupakan penyebaran pasif dari ide tersebut di ruang dan waktu. Imitasi bergerak dari titik asalnya secara geometris, layaknya riak di permukaan air kolam yang tenang setelah dijatuhi batu. Keberhasilan sebuah imitasi untuk terus menyebar bergantung pada kesesuaiannya dengan lingkungan sosial yang sudah ada.
Oposisi dan Duel Logis
Namun, penyebaran imitasi tidak pernah berjalan tanpa hambatan. Setiap gelombang imitasi akan bertemu dengan gelombang lain yang berlawanan, menciptakan fenomena "oposisi" atau kontra-imitasi. Oposisi muncul ketika dua ide atau penemuan yang saling eksklusif bersaing untuk mendapatkan pengadopsi yang sama. Tarde menyebut proses ini sebagai "duel logis." Dalam batin individu maupun dalam kolektivitas sosial, terjadi perjuangan untuk menentukan mana yang akan diterima: yang baru atau yang lama, yang asing atau yang pribumi.
Oposisi ini tidak selalu berakhir dengan kehancuran salah satu pihak. Sering kali, konflik antara dua gelombang imitasi ini justru menjadi pemicu bagi penemuan baru yang lebih tinggi tingkatannya, di mana dua ide yang bertentangan disintesis menjadi solusi baru. Dengan demikian, oposisi bukanlah hambatan bagi kemajuan, melainkan bagian integral dari proses dialektis yang menggerakkan sejarah.
Hukum-Hukum Logis Imitasi: Struktur dan Kesesuaian
Tarde menguraikan hukum-hukum tertentu yang mengatur mengapa beberapa ide diadopsi secara luas sementara yang lain gagal total. Hukum-hukum ini dibagi menjadi dua kategori: logis dan ekstra-logis.
Kesesuaian Intrinsik dan Ekosistem Ide
Hukum logis pertama berkaitan dengan kesesuaian intrinsik sebuah penemuan dengan akumulasi pengetahuan dan kebutuhan masyarakat saat itu. Sebuah ide yang memiliki "kecocokan logis" dengan sistem keyakinan (belief) dan keinginan (desire) yang sudah mapan akan lebih mudah ditiru. Sebaliknya, ide yang terlalu radikal atau bertentangan secara struktural dengan "tata bahasa" sosial yang ada akan menghadapi resistensi besar.
Dalam konteks linguistik, Tarde memberikan contoh bahwa kosakata baru (kamus) jauh lebih mudah ditambahkan melalui imitasi dibandingkan dengan perubahan pada aturan tata bahasa (gramatika). Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat lebih terbuka terhadap akumulasi elemen baru yang tidak merusak kerangka dasar yang sudah ada, dibandingkan dengan substitusi yang menuntut perombakan total pada struktur fundamental mereka.
Mekanisme Substitusi dan Akumulasi
Tarde mengamati dua pola utama dalam adopsi sosial: substitusi dan akumulasi. Substitusi terjadi ketika sebuah penemuan baru menggantikan yang lama karena dianggap lebih efisien atau benar secara logis. Contoh klasik yang ia berikan dalam kriminologi adalah pergeseran statistik antara pembunuhan menggunakan pisau dan pembunuhan menggunakan senjata api. Ketika senjata api menjadi lebih mudah diakses dan ditiru sebagai alat kejahatan, metode lama (pisau) secara bertahap ditinggalkan.
Akumulasi, di sisi lain, terjadi ketika penemuan baru ditambahkan ke dalam perbendaharaan sosial tanpa membuang yang lama. Ini menciptakan kekayaan budaya dan spesialisasi. Tarde menekankan bahwa sejarah kemajuan manusia sering kali bergerak dari periode akumulasi teknik dan pengetahuan menuju periode substitusi, di mana pilihan logis dibuat untuk menyederhanakan sistem yang telah menjadi terlalu kompleks.
Hukum-Hukum Ekstra-Logis: Pengaruh Stratifikasi dan Kedekatan
Di samping pertimbangan logis, Tarde mengidentifikasi faktor-faktor sosial dan psikologis yang ia sebut sebagai pengaruh "ekstra-logis." Faktor-faktor ini mengatur arah penyebaran pengaruh di antara berbagai kelas sosial dan individu.
Hukum dari Dalam ke Luar: Primasi Batin atas Perilaku
Hukum ekstra-logis pertama menyatakan bahwa imitasi bergerak dari aspek internal ke aspek eksternal. Artinya, ide-ide, perasaan, dan tujuan ditiru lebih dulu sebelum ekspresi lahiriah, ritual, atau sarana tindakan diadopsi.
- Penerapan dalam Agama: Tarde mengamati bahwa dogma atau doktrin spiritual biasanya ditransmisikan dan diterima oleh penganut baru sebelum mereka mulai mempraktikkan ritus-ritus upacara yang rumit. Rasa takut atau cinta kepada dewa (internal) mendahului cara bersujud atau berdoa (eksternal).
- Penerapan dalam Ekonomi: Keinginan untuk mencapai kemakmuran atau status (tujuan/ends) ditiru oleh kelas bawah dari kelas atas jauh sebelum mereka memahami atau mampu meniru metode teknis produksi atau manajemen keuangan (sarana/means) yang diperlukan untuk mencapai tujuan tersebut.
- Emosi Sosial: Tarde menegaskan bahwa kekaguman (admiration) selalu mendahului kecemburuan (envy). Seseorang harus terlebih dahulu mengagumi dan menginternalisasi nilai dari apa yang dimiliki orang lain melalui imitasi batin sebelum ia merasakan dorongan eksternal untuk berkompetisi mendapatkannya.
Hukum Imitasi Atasan oleh Bawahan: Dinamika Prestise
Arah utama aliran imitasi bersifat vertikal, bergerak dari puncak hierarki sosial menuju ke bawah. Individu yang memiliki prestise, kekuatan, atau dianggap superior secara intelektual dan sosial bertindak sebagai model bagi mereka yang merasa berada di bawahnya. Tarde menyebut ini sebagai difusi terstratifikasi.
Pola ini terlihat jelas dalam sejarah mode pakaian, tata krama, dan gaya hidup. Apa yang awalnya merupakan hak istimewa atau kebiasaan kaum aristokrasi atau selebriti perlahan-lahan "merembes ke bawah" (trickle down) hingga menjadi konsumsi massa. Tarde juga mencatat bahwa di era demokrasi, pusat gravitasi imitasi bergeser dari individu bangsawan menuju "pendapat umum" atau suara publik, yang kini dianggap sebagai otoritas tertinggi yang harus ditiru.
Hukum Kontak Dekat: Urbanitas dan Pembentukan Mode
Hukum ekstra-logis lainnya berkaitan dengan jarak fisik dan sosial. Individu cenderung meniru orang-orang yang berada dalam kontak dekat dengan mereka secara rutin. Tarde membedakan antara masyarakat pedesaan yang stabil dan masyarakat perkotaan yang dinamis berdasarkan kepadatan kontak ini.
Di kota-kota besar dengan kepadatan penduduk tinggi, interaksi terjadi setiap saat, memicu gelombang imitasi yang sangat cepat dan berumur pendek. Fenomena ini melahirkan apa yang disebut Tarde sebagai "Fashion" atau mode. Sebaliknya, di lingkungan tradisional di mana kontak lebih terbatas pada lingkaran keluarga dan tetangga yang sama selama bergenerasi, imitasi cenderung bersifat menetap dan permanen, menciptakan "Custom" atau adat kebiasaan.
Penjelasan Faktual dalam Berbagai Domain Sosial
Tarde tidak hanya berhenti pada abstraksi teoretis; ia menerapkan hukum-hukumnya pada sejarah nyata perkembangan institusi manusia untuk membuktikan universalitas temuannya.
Evolusi Bahasa sebagai Rangkaian Invensi Anonim
Tarde memandang bahasa sebagai monumen hidup dari imitasi. Setiap kata, istilah teknis, atau metafora yang kita gunakan hari ini awalnya adalah sebuah "invensi linguistik" yang dibuat oleh seorang individu di masa lalu. Kata tersebut kemudian ditiru karena kegunaannya atau karena prestise orang yang mengucapkannya pertama kali.
Bahasa berkembang melalui akumulasi suksesif dari penemuan-penemuan kecil ini. Tarde mencatat bahwa pembentukan bahasa purba jauh lebih mudah karena penemu awal tidak perlu melawan tradisi yang sudah ada. Namun, seiring waktu, bahasa membentuk strukturnya sendiri, sehingga invensi baru harus tunduk pada hukum kesesuaian logis agar dapat diterima ke dalam kamus kolektif.
Transformasi Hukum: Dari Titah ke Kontrak
Dalam sejarah legislasi, Tarde mengamati pergeseran dari imitasi sepihak menuju imitasi timbal balik. Pada tahap awal, hukum biasanya berbentuk "titah" (decree) dari penguasa yang harus ditiru perilakunya oleh rakyat. Ini adalah imitasi dari superior ke inferior secara mutlak. Namun, seiring dengan kemajuan peradaban dan interaksi antarindividu yang lebih setara, hukum mulai bertransformasi menjadi "kontrak."
Kontrak mewakili situasi di mana dua pihak saling meniru keinginan dan keyakinan satu sama lain untuk mencapai kesepakatan bersama. Fenomena ini juga terlihat dalam asimilasi kelas, di mana hak-hak hukum yang awalnya hanya dimiliki oleh kelas atas perlahan-lahan dituntut dan diadopsi oleh kelas pekerja melalui imitasi hak asasi manusia.
Agama dan Spiritualisasi Melalui Mode
Tarde melihat agama sebagai rangkaian invensi metafisika yang menjawab pertanyaan-pertanyaan dasar manusia tentang alam semesta. Agama purba sering kali sangat lokal dan terikat pada pemujaan nenek moyang (imitasi adat). Namun, agama-agama besar dunia menyebar melalui mekanisme mode, di mana sebuah kepercayaan asing diadopsi karena daya tarik spiritual atau prestise budaya pembawanya.
Contoh menarik yang diberikan Tarde adalah transisi agama zoömorfik (pemujaan hewan) menuju agama yang lebih abstrak. Ia menganggap pemujaan hewan sebagai bentuk "domestikasi superior" yang kemudian ditinggalkan seiring dengan munculnya penemuan-penemuan filosofis baru tentang hakikat ketuhanan yang lebih universal. Proses ini menunjukkan bagaimana "Partai Mode" dalam agama mampu meruntuhkan tradisi pagan yang sudah berurat akar selama ribuan tahun.
Seni dan Gaya Hidup
Dalam dunia seni, Tarde mengamati bahwa "tragedi" mulai kehilangan daya tariknya di panggung-panggung Paris pada akhir abad ke-19, digantikan oleh "komedi" yang lebih mencerminkan realitas sosial yang kompleks dan muram. Ia juga mencatat peran "salon" pada abad ke-18 sebagai inkubator di mana selera seni dan intelektual antar jenis kelamin saling mendekat melalui imitasi timbal balik. Ini membuktikan bahwa institusi sosial tidak tumbuh dari kekuatan gaib, melainkan dari sirkulasi ide dalam kelompok kecil individu yang saling meniru.
Kasus Historis Oposisi dan Refraksi Budaya
Tarde sangat tertarik pada fenomena kegagalan imitasi, yang ia sebut sebagai "refraksi" (pembiasan) atau oposisi budaya. Tidak semua ide yang superior secara logis akan diterima oleh masyarakat.
Resistensi Yunani terhadap Pengaruh Romawi
Meskipun Roma berhasil menaklukkan Yunani secara militer dan politis, kebudayaan Yunani menunjukkan perlawanan yang sangat kuat terhadap imitasi Romawi. Tarde menjelaskan bahwa "kebanggaan sengit" dan perasaan superioritas intelektual bangsa Yunani bertindak sebagai "layar kedap cahaya" yang membiaskan radiasi budaya Roma. Akibatnya, bahasa Latin dan adat istiadat Romawi tidak pernah benar-benar menembus populasi Yunani, meskipun mereka berada dalam satu kekaisaran. Ini adalah contoh nyata di mana oposisi psikologis (kepercayaan akan superioritas diri) mengalahkan kekuatan fisik dan politik dalam proses imitasi.
Modernisasi Jepang: Ledakan Imitasi Mode
Jepang memberikan studi kasus yang kontras. Selama berabad-abad, Jepang berada di bawah dominasi "Partai Adat," menutup diri sepenuhnya dari pengaruh asing untuk menjaga tradisi leluhur. Namun, perjumpaan dengan teknologi Barat pada abad ke-19 memicu pergeseran psikologis yang masif. Elit Jepang mulai mengakui keunggulan teknologi asing (invensi). Begitu pengakuan akan superioritas ini terjadi, Jepang beralih dari Partai Adat ke Partai Mode secara radikal. Invensi-invensi Barat mulai ditiru secara geometris, dimulai dari kelas atas dan menyebar dengan kecepatan luar biasa ke seluruh lapisan masyarakat.
Invensi yang Menciptakan Kebutuhan: Kasus Teh dan Tembakau
Tarde menantang pandangan konvensional bahwa penemuan dibuat untuk memenuhi kebutuhan manusia yang sudah ada. Sebaliknya, ia berargumen bahwa penemuan sering kali menciptakan kebutuhan itu sendiri melalui imitasi.
- Contoh Teh dan Kopi: Keinginan manusia untuk mengonsumsi teh, kopi, atau tembakau bukanlah kebutuhan biologis bawaan. Keinginan ini baru muncul setelah komoditas tersebut ditemukan (invensi) dan penggunaannya mulai ditiru oleh orang lain (imitasi).
- Telegraf Elektrik: Ide telegraf memecahkan masalah komunikasi cepat, namun dorongan sosial yang kuat untuk menggunakannya baru berkembang setelah infrastruktur telegraf tersebut ada dan menjadi model yang dapat ditiru oleh layanan pos dan komunikasi lainnya.
Kriminologi sebagai Sosiologi Terapan
Karier Tarde sebagai hakim memberikan perspektif unik yang mendasari sosiologinya. Ia menyerang teori kriminologi Cesare Lombroso yang menyatakan bahwa penjahat adalah manusia atavistik dengan ciri-ciri biologis tertentu. Tarde menegaskan bahwa kejahatan adalah fenomena sosial, bukan biologis.
Kejahatan sebagai Profesi yang Dipelajari
Bagi Tarde, menjadi penjahat adalah proses magang atau pendidikan yang sama dengan menjadi dokter atau pengacara. Seorang pembunuh atau pencuri biasanya memulai karier mereka sebagai anak-anak yang terabaikan yang kemudian meniru perilaku "guru-guru" mereka di jalanan atau di dalam penjara. Penjara, dalam pandangan Tarde, justru bertindak sebagai "seminari kejahatan" di mana teknik-teknik kriminal baru ditemukan dan ditiru secara intensif oleh narapidana lainnya.
Gelombang Mode dalam Kejahatan
Tarde mengamati bahwa jenis kejahatan tertentu menyebar dalam "gelombang" layaknya tren pakaian. Ia mencatat bagaimana praktik keracunan, pembunuhan tertentu, atau metode pencopetan akan meningkat secara drastis di satu wilayah setelah satu insiden besar mendapatkan perhatian publik, yang kemudian ditiru oleh orang lain. Hal ini membuktikan bahwa perilaku kriminal tunduk pada hukum imitasi yang sama dengan perilaku normal.
Ekonomi Psikologis dan Kekuatan Opini
Dalam Psychologie Économique, Tarde menerapkan teorinya pada dunia nilai dan pertukaran. Ia menolak upaya para ekonom klasik untuk mendefinisikan nilai secara objektif berdasarkan tenaga kerja atau biaya produksi.
Nilai sebagai Konsensus Keinginan
Menurut Tarde, nilai ekonomi adalah fakta sosial yang muncul dari pertemuan keinginan kolektif. "Utilitas" adalah nilai sosial dari keinginan, sementara "Kebenaran" adalah nilai sosial dari keyakinan. Keduanya merupakan produk dari "Opini."
- Harga dan Percakapan: Tarde percaya bahwa percakapan antarindividu adalah mesin utama ekonomi. Melalui percakapan, ide tentang produk baru menyebar, menciptakan kepercayaan pada kualitasnya dan keinginan untuk memilikinya. Harga di bursa saham atau pasar bukanlah angka dingin, melainkan refleksi dari gelombang keyakinan dan keinginan para pelaku pasar yang saling meniru.
- Ekonomi Pengetahuan: Tarde adalah visioner yang mengantisipasi "ekonomi pengetahuan" modern, di mana nilai ekonomi lebih banyak dihasilkan melalui pertukaran tanda, simbol, dan ide (yang sangat mudah ditiru) dibandingkan dengan barang fisik.
Perdebatan Epik: Tarde versus Durkheim
Sejarah sosiologi sering kali mencatat Gabriel Tarde sebagai pihak yang "kalah" dalam debat dengan Émile Durkheim mengenai hakikat masyarakat. Perdebatan ini memiliki implikasi mendalam bagi arah sains sosial selama abad ke-20.
Realisme Sosial vs. Nominalisme Psikologis
Durkheim bersikeras bahwa sosiologi harus mempelajari "fakta sosial" yang berada di luar individu dan bersifat memaksa. Baginya, sosiologi hanya boleh berurusan dengan angka-angka makro seperti tingkat bunuh diri atau kepadatan penduduk. Tarde, sebaliknya, berpendapat bahwa masyarakat hanyalah label bagi kumpulan individu yang saling memengaruhi secara psikologis. Jika kita menghilangkan individu, tidak ada yang tersisa dari masyarakat.
Tarde mengkritik Durkheim karena dianggap menghidupkan kembali "realisme Abad Pertengahan," di mana konsep abstrak (Masyarakat) diperlakukan seolah-olah memiliki eksistensi fisik di luar individu yang membentuknya. Meskipun pendekatan makro Durkheim lebih dominan dalam sosiologi arus utama selama puluhan tahun, pendekatan mikro Tarde kini kembali mendapatkan perhatian karena relevansinya dalam menjelaskan dinamika jaringan yang kompleks.
Kebangkitan Tarde dalam Pemikiran Kontemporer
Meskipun sempat terpinggirkan, karya Tarde mengalami renaisans yang luar biasa melalui interpretasi para pemikir postmodern dan sosiolog jaringan modern.
Gilles Deleuze dan Perbedaan-Repetisi
Filsuf Gilles Deleuze memberikan penghormatan besar kepada Tarde dalam karyanya Difference and Repetition. Deleuze melihat Tarde sebagai pemikir yang melampaui oposisi kaku antara individu dan masyarakat. Bagi Deleuze, tesis Tarde bahwa "repetisi melayani perbedaan" (di mana setiap imitasi selalu membawa variasi kecil yang memicu invensi baru) adalah kunci untuk memahami kreativitas dalam sistem sosial.
Actor-Network Theory (ANT) dan Bruno Latour
Bruno Latour, salah satu pendiri Actor-Network Theory, secara eksplisit menyebut Tarde sebagai pendahulu utama teorinya. Latour mengagumi penolakan Tarde terhadap konsep "masyarakat" sebagai variabel penjelasan yang statis. Seperti Tarde, ANT melihat dunia sebagai jaringan asosiasi di mana agensi tidak hanya dimiliki oleh manusia besar, tetapi juga oleh benda, ide, dan interaksi molekuler kecil yang saling memengaruhi dan meniru satu sama lain.
Memetika dan Virilitas Digital
Di era media sosial, hukum-hukum imitasi Tarde menemukan laboratorium raksasa. Konsep "meme" sebagai unit imitasi budaya sangat sejajar dengan pandangan Tarde tentang penemuan yang menyebar melalui populasi.
- Epidemi Emosional: Penelitian tentang bagaimana emosi dan perilaku menyebar secara viral di platform digital mengonfirmasi teori Tarde tentang penyebaran imitasi yang bersifat somnambulistik dan emosional.
- Influencer dan Pemimpin Opini: Strategi pemasaran digital yang mengandalkan "influencer" untuk memicu tren konsumsi adalah aplikasi modern dari hukum imitasi atasan oleh bawahan dan hukum kontak dekat (dalam ruang digital).
Kesimpulan: Warisan Tarde bagi Masa Depan Sosiologi
Gabriel Tarde melalui The Laws of Imitation telah memberikan kontribusi abadi yang melampaui masanya. Ia mengajarkan bahwa masyarakat bukanlah mesin yang kaku, melainkan kain yang ditenun secara terus-menerus dari benang-benang keyakinan dan keinginan individu yang saling bersilangan. Dengan memfokuskan perhatian pada molekul-molekul interaksi psikologis, Tarde memberikan alat untuk memahami dinamika perubahan sosial yang paling halus sekalipun.
Hukum-hukum imitasi yang ia rumuskan—mulai dari hukum kesesuaian logis hingga dinamika stratifikasi sosial—tetap menjadi kerangka kerja yang kuat untuk menganalisis segala sesuatu mulai dari evolusi bahasa hingga tren pemasaran global saat ini. Di tengah dunia yang semakin terfragmentasi namun terhubung secara digital, pengakuan Tarde bahwa setiap individu adalah pusat radiasi pengaruh memberikan harapan bagi agensi manusia: bahwa satu invensi kecil di pikiran satu orang, jika cukup kuat dan sesuai dengan zamannya, dapat mengubah seluruh wajah peradaban manusia melalui kekuatan imitasi. Masyarakat, dalam pandangan akhir Tarde, adalah sebuah mimpi kolektif yang terus-menerus diperbarui oleh penemuan-penemuan baru dan disatukan oleh keinginan kita untuk meniru apa yang kita anggap benar dan indah.
Referensi:
Abrutyn, S., & Mueller, A. S. (2014). Reconsidering Durkheim’s assessment of Tarde: Formalizing a Tardian theory of imitation, contagion, and suicide suggestion. Sociological Forum. https://annasmueller.com/wp-content/uploads/2018/05/2014_abrutyn-mueller_reconsidering-durkheims-assessment-of-tarde_socforum.pdf
Andrew Clark. (n.d.). The laws of imitation. Diakses Desember 22, 2025, dari https://andrewclark.co.uk/all-media/the-laws-of-imitation
Britannica. (n.d.). Gabriel Tarde. Diakses Desember 22, 2025, dari https://www.britannica.com/biography/Gabriel-Tarde
Cambridge University Press. (n.d.). Gabriel Tarde and René Girard. Dalam From anthropology to social theory. Diakses Desember 22, 2025, dari https://www.cambridge.org/core/books/from-anthropology-to-social-theory/gabriel-tarde-and-rene-girard/1496FA5C687F9C67B99CB7CB08E13164
CUNY Manifold. (n.d.). The laws of imitation. Diakses Desember 22, 2025, dari https://cuny.manifoldapp.org/projects/the-laws-of-imitation
Durkheim, É., Tarde, G., & van Gennep, A. (n.d.). Emile Durkheim between Gabriel Tarde and Arnold van Gennep: Founding moments of sociology and anthropology. Diakses Desember 22, 2025, dari http://csps.uniroma2.it/wp-content/uploads/2014/09/Durkheim-Tarde-and-van-Gennep-founding-moments-of-sociology-and-anthropology.pdf
Encyclopedia.com. (n.d.). Gabriel de Tarde. Diakses Desember 22, 2025, dari https://www.encyclopedia.com/people/social-sciences-and-law/crime-and-law-enforcement-biographies/gabriel-de-tarde
ENAP. (n.d.). The laws of imitation. Diakses Desember 22, 2025, dari https://www.enap.justice.fr/sites/default/files/histoire_parcours1_tarde_biblio_the_laws_of_imitation.pdf
Goodreads. (n.d.). The laws of imitation. Diakses Desember 22, 2025, dari https://www.goodreads.com/book/show/14479546
Latour, B. (n.d.). Tarde–Durkheim (English translation). Diakses Desember 22, 2025, dari http://www.bruno-latour.fr/sites/default/files/downloads/TARDE-DURKHEIM-GB.pdf
Marsden, P. (2000). Forefathers of memetics: Gabriel Tarde and the laws of imitation. Journal of Memetics, 4. http://cfpm.org/jom-emit/2000/vol4/marsden_p.html
Monoskop. (n.d.). The laws of imitation [PDF]. Diakses Desember 22, 2025, dari https://monoskop.org/images/3/35/Tarde_Gabriel_The_Laws_of_Imitation.pdf
Mueller, A. S. (n.d.). Reconsidering Durkheim’s assessment of Tarde: Toward a theory of imitation and the spread of suicide. Diakses Desember 22, 2025, dari https://open.library.ubc.ca/media/stream/pdf/52383/1.0371599/5
Northwestern University. (n.d.). Pioneers in criminology I—Gabriel Tarde (1843–1904). Diakses Desember 22, 2025, dari https://scholarlycommons.law.northwestern.edu/cgi/viewcontent.cgi?article=4218&context=jclc
ResearchGate. (n.d.). A new social physic: The sociology of Gabriel Tarde and its legacy. Diakses Desember 22, 2025, dari https://www.researchgate.net/publication/258131418_A_new_social_physic_The_sociology_of_Gabriel_Tarde_and_its_legacy
ResearchGate. (n.d.). Forefathers of memetics: Gabriel Tarde and the laws of imitation. Diakses Desember 22, 2025, dari https://www.researchgate.net/publication/242289980_Forefathers_of_Memetics_Gabriel_Tarde_and_the_Laws_of_Imitation
Routledge. (n.d.). Tarde, Gabriel (1843–1904). Dalam Routledge encyclopedia of modernism. Diakses Desember 22, 2025, dari https://www.rem.routledge.com/articles/tarde-gabriel-1843-1904
SAB Economics. (n.d.). The economic psychology of Gabriel Tarde. Diakses Desember 22, 2025, dari https://sabeconomics.org/wordpress/wp-content/uploads/JBEP-2-1-1.pdf
Sociological Science. (2025). Wide social influence and the emergence of the unexpected: An empirical test using Spotify data. Diakses Desember 22, 2025, dari https://sociologicalscience.com/download/vol_12/october/SocSci_v12_715to742.pdf
Tarde, G. (2022). The laws of imitation (Ed. reprint). Legare Street Press.
Texas Tech University. (n.d.). The laws of imitation [PDF]. Diakses Desember 22, 2025, dari https://ttu-ir.tdl.org/bitstreams/59ae1f8b-5cf5-409a-ac11-e906b9092c8e/download
University of Pennsylvania. (n.d.). Rediscovering Gabriel Tarde. Diakses Desember 22, 2025, dari https://repository.upenn.edu/bitstreams/730ae3b9-5e34-43db-9459-060d12a37445/download
Wikipedia. (n.d.). Gabriel Tarde. Diakses Desember 22, 2025, dari https://en.wikipedia.org/wiki/Gabriel_Tarde




Post a Comment