Teori Jaringan-Aktor (ANT) Bruno Latour: Genealogi dan Analisis Komprehensif Reassembling the Social

Table of Contents

buku Reassembling the Social An Introduction to Actor-Network-Theory karya Bruno Latour
Analisis terhadap buku Reassembling the Social: An Introduction to Actor-Network-Theory karya Bruno Latour mengungkapkan sebuah tantangan fundamental terhadap cara ilmu sosial memahami dan mendefinisikan "masyarakat". Latour memulai argumennya dengan menyatakan bahwa kata "sosial" telah menjadi misnomer yang sarat dengan asumsi yang tidak dipertanyakan lagi, di mana para sosiolog sering menggunakan istilah tersebut untuk merujuk pada sebuah substansi atau domain realitas yang stabil. Inti dari karya ini adalah upaya untuk menggeser sosiologi dari "sosiologi sosial" (sociology of the social) menuju "sosiologi asosiasi" (sociology of associations), sebuah pendekatan yang kemudian dikenal luas sebagai Teori Jaringan-Aktor atau Actor-Network-Theory (ANT). Dalam pandangan Latour, sosial bukanlah sebuah bahan yang bisa digunakan untuk menjelaskan fenomena lain, melainkan sebuah gerakan perakitan yang harus dilacak melalui koneksi antara aktor-aktor yang heterogen, baik manusia maupun non-manusia.

Redefinisi Ontologis: Sosiologi Sosial vs Sosiologi Asosiasi

Perdebatan sentral dalam buku ini berakar pada perbedaan tajam antara dua cara memahami tugas sosiologi. Sosiologi sosial tradisional, yang diwakili oleh tradisi Emile Durkheim, berangkat dari premis bahwa terdapat tatanan sosial tetap yang memiliki sifat-sifat spesifik—seperti "fakta sosial"—yang dapat digunakan untuk menjelaskan perilaku individu atau fenomena institusional. Dalam paradigma ini, "sosial" dianggap sebagai variabel independen atau bahan baku yang menjelaskan mengapa hukum bekerja, mengapa ekonomi berfluktuasi, atau mengapa seni memiliki nilai tertentu. Latour berargumen bahwa pendekatan ini telah mencapai batas kegunaannya karena ia cenderung mengabaikan bahan-bahan presisi yang membentuk domain sosial tersebut dan justru menjadikannya sebagai "kotak hitam" yang tidak lagi diperiksa.

Sebaliknya, sosiologi asosiasi yang diusulkan Latour—dengan mengambil inspirasi dari pemikiran Gabriel Tarde yang sempat terlupakan—mengklaim bahwa tidak ada substansi sosial yang berdiri sendiri. Sosial tidak merujuk pada sebuah domain realitas, melainkan pada prinsip koneksi itu sendiri. Analisis Latour menunjukkan bahwa tugas sosiolog bukanlah untuk menempatkan aktor di dalam "konteks sosial" yang sudah ada sebelumnya, melainkan untuk mengikuti aktor saat mereka merakit dunia mereka sendiri. Strategi ini menuntut peneliti untuk menolak segala bentuk determinisme sosial dan beralih ke deskripsi empiris yang ketat mengenai bagaimana jaringan hubungan dibentuk, dipelihara, dan terkadang dibubarkan.

buku Reassembling the Social: An Introduction to Actor-Network-Theory karya Bruno Latour
Implikasi dari pergeseran ini sangat luas. Jika sosiologi sosial sering kali berakhir pada "kritik sosiologis" yang mengklaim bahwa individu hanyalah bidak dari kekuatan sosial yang tidak terlihat, sosiologi asosiasi justru ingin mengembalikan inisiatif kepada para aktor itu sendiri. Latour menegaskan bahwa para anggota masyarakat sebenarnya tahu apa yang mereka lakukan, meskipun mereka mungkin tidak mengartikulasikannya dalam bahasa pengamat sosial. Oleh karena itu, peneliti harus menjadi "pengikut" yang setia terhadap jejak-jejak yang ditinggalkan oleh para aktor, daripada menjadi hakim yang menjatuhkan teori-teori makro dari atas.

Bagian I: Menyebarkan Kontroversi Mengenai Dunia Sosial

Buku ini disusun dalam dua bagian utama yang mencerminkan proses dekonstruksi dan rekonstruksi. Bagian pertama didedikasikan untuk "menyebarkan kontroversi" melalui lima sumber ketidakpastian. Latour berargumen bahwa sosiologi hanya bisa menjadi ilmu yang benar jika ia berani menghadapi ketidakpastian ini tanpa terburu-buru menutupnya dengan kategori-kategori mapan.

Ketidakpastian Pertama: Tidak Ada Kelompok, Hanya Pembentukan Kelompok

Latour menantang asumsi bahwa masyarakat terdiri dari kelompok-kelompok yang sudah jadi, seperti "kelas pekerja", "wanita", atau "bangsa". Baginya, kelompok bukanlah entitas statis melainkan proses pembentukan yang berlangsung terus-menerus dan penuh kerapuhan. Setiap kelompok harus terus-menerus mendefinisikan batas-batasnya, merekrut anggota, dan mempertahankan eksistensinya melalui berbagai alat, baik itu teks, statistik, maupun ritual.

Peneliti ANT tidak boleh memulai penelitian dengan asumsi tentang tingkat analisis (misalnya, mikro atau makro) atau tipe kelompok yang terlibat. Sebaliknya, mereka harus mengikuti "pekerjaan pembuatan kelompok" (group-making work) yang dilakukan oleh para aktor itu sendiri. Kontroversi mengenai siapa yang termasuk dalam kelompok dan siapa yang tidak, merupakan data yang paling berharga bagi sosiologi asosiasi. Latour menekankan bahwa jika sebuah kelompok tidak melakukan tindakan atau upaya pemeliharaan, maka kelompok tersebut akan lenyap; eksistensinya bersifat performatif, bukan ostensif.

Ketidakpastian Kedua: Tindakan yang Diambil Alih oleh Agensi Lain

Ketidakpastian kedua berkaitan dengan sifat tindakan manusia. Dalam pandangan tradisional, tindakan sering dianggap sebagai ekspresi dari kehendak bebas atau hasil dari struktur sosial yang menentukan. Latour menawarkan perspektif yang lebih kompleks: tindakan selalu "diambil alih" atau dipengaruhi oleh agensi-agensi lain di dalam jaringan. Tidak ada satu aktor pun yang merupakan subjek otonom sepenuhnya; kemampuan seseorang untuk bertindak selalu bergantung pada keterlibatan entitas lain yang mendukung, menghalangi, atau memodifikasi tindakan tersebut.

Latour menyarankan agar sosiolog memperlakukan tindakan sebagai sebuah "kejutan" atau peristiwa yang tidak dapat diprediksi secara linear. Fokus penelitian harus dialihkan dari mencari "penyebab" tersembunyi di balik perilaku menjadi upaya melacak bagaimana tanggung jawab atas suatu hasil didistribusikan di antara berbagai aktor. Sebagai contoh, dalam sebuah percakapan, emosi, pendapat, dan sikap sering kali bercabang ke arah yang tidak terduga karena pengaruh dari lingkungan fisik, alat komunikasi, atau kehadiran pihak ketiga.

Ketidakpastian Ketiga: Agensi Objek Non-Manusia

Ini adalah poin yang paling kontroversial dan revolusioner dalam ANT. Latour menolak antroposentrisme yang membatasi agensi hanya pada manusia. Ia mendefinisikan aktor (atau aktan) sebagai entitas apa pun yang "membuat perbedaan" dalam jalannya peristiwa. Jika suatu benda material, teknologi, atau hewan meninggalkan jejak yang mengubah keadaan, maka benda tersebut harus dianggap memiliki agensi dalam jaringan tersebut.

Latour berargumen bahwa objek sering kali memberikan stabilitas pada interaksi sosial yang jika hanya mengandalkan interaksi manusia saja akan sangat rapuh. Contoh faktual yang sering dikutip adalah penggunaan "polisi tidur" (speed bumps) untuk mengatur perilaku pengemudi. Alih-alih hanya mengandalkan tanda peringatan (perantara) atau kehadiran polisi manusia (aktor manusia), polisi tidur (aktans non-manusia) secara fisik memaksa pengemudi untuk melambat. Dalam hal ini, tanggung jawab hukum dan moral telah "ditranslasi" ke dalam materialitas aspal. Objek bukan sekadar layar pasif tempat manusia memproyeksikan makna, melainkan peserta aktif yang ikut membentuk realitas kolektif.

buku Reassembling the Social: An Introduction to Actor-Network-Theory karya Bruno Latour

Ketidakpastian Keempat: Masalah Fakta vs Masalah Kepedulian

Dalam bab ini, Latour mengarahkan kritiknya pada objektivitas "fakta" yang dianggap sebagai sesuatu yang sudah ada secara alami. Ia membedakan antara matters of fact (masalah fakta) yang tampak bisu, dingin, dan tidak terbantahkan, dengan matters of concern (masalah kepedulian) yang memperlihatkan kerumitan perakitan di balik sebuah realitas. Latour berargumen bahwa konstruktivisme sering disalahpahami sebagai upaya untuk meruntuhkan kebenaran, padahal konstruktivisme yang sebenarnya adalah pengakuan terhadap kerja keras yang dibutuhkan untuk membangun sesuatu yang nyata.

Sebuah fakta ilmiah, misalnya, bukanlah sesuatu yang ditemukan secara pasif di alam, melainkan hasil dari asosiasi yang kompleks antara ilmuwan, instrumen laboratorium, pendanaan riset, dan objek penelitian itu sendiri. Latour menyebut proses ini sebagai "realisme konstruktivis". Jika rakitan ini gagal di satu titik—misalnya mikroskop rusak atau data tidak konsisten—maka fakta tersebut akan runtuh. Oleh karena itu, sosiologi tidak boleh hanya menerima fakta sebagai titik awal, melainkan harus melacak silsilah pembentukannya sebagai masalah kepedulian yang melibatkan banyak pihak.

Ketidakpastian Kelima: Menulis Laporan yang Berisiko

Ketidakpastian terakhir menyangkut metodologi penulisan laporan penelitian. Latour berargumen bahwa laporan ANT yang baik adalah laporan yang memungkinkan pembaca untuk mengikuti setiap langkah translasi tanpa celah penjelasan yang diisi oleh "kekuatan gaib" sosial. Teks penelitian itu sendiri harus menjadi sebuah jaringan. Ia menekankan bahwa deskripsi bukanlah sekadar tahap awal menuju penjelasan; sebaliknya, deskripsi yang sangat mendalam dan terperinci adalah penjelasan itu sendiri.

Penulis harus menghindari penggunaan meta-bahasa atau istilah-istilah sosiologis yang berat untuk menutupi ketidaktahuan tentang mekanisme hubungan antar aktor. Jika seorang peneliti mengatakan bahwa sesuatu terjadi karena "kekuatan pasar" atau "tekanan sosial", ia sebenarnya sedang berhenti melakukan riset. Tugas peneliti adalah menunjukkan secara presisi bagaimana harga ditentukan di bursa saham atau bagaimana opini publik dibentuk melalui tweet, bot, dan media massa, hingga "kekuatan pasar" tersebut menjadi transparan sebagai hasil dari kerja jaringan.

Interlude: Dialog Antara Mahasiswa dan Profesor

Di tengah buku, Latour menyisipkan sebuah dialog antara seorang mahasiswa yang bingung dan seorang profesor ANT (yang mewakili Latour sendiri). Dialog ini berfungsi sebagai alat pedagogis untuk menjelaskan mengapa ANT begitu sulit dipahami dan diterapkan. Mahasiswa tersebut mengeluh bahwa ANT tidak memberikan "kerangka kerja" atau "teori" yang jelas untuk menganalisis kekuasaan atau struktur. Profesor menjawab bahwa ANT sebenarnya bukanlah sebuah teori tentang apa pun, melainkan sebuah metode untuk melacak asosiasi.

Poin kunci dari interlude ini adalah penegasan bahwa ANT ingin menjadi "sains yang rata". Profesor tersebut menjelaskan bahwa peneliti sering kali terburu-buru melompat dari tingkat mikro (interaksi individu) ke tingkat makro (struktur masyarakat). Latour menuntut agar peneliti tetap berada "di tengah-tengah" dan menolak godaan untuk menggunakan kategori makro sebagai jalan pintas penjelasan. Kekuasaan, menurut profesor tersebut, bukanlah sesuatu yang bisa disimpan atau dimiliki, melainkan efek dari kemampuan untuk menyatukan banyak aktor dalam sebuah skema politik atau sosial.

Mekanisme Operasional: Mediator, Perantara, dan Kotak Hitam

Untuk melakukan pelacakan jaringan secara efektif, Latour memperkenalkan perangkat konseptual yang membedakan cara aktor berinteraksi. Perbedaan antara "mediator" (mediators) dan "perantara" (intermediaries) sangat krusial dalam menentukan dinamika jaringan.
1. Perantara (Intermediary): Entitas yang menyalurkan makna atau kekuatan tanpa melakukan transformasi. Perantara bersifat transparan dan dapat diprediksi; input yang masuk akan sama dengan output yang keluar. Latour mengibaratkannya sebagai "kotak hitam" yang fungsinya sudah stabil sehingga kita tidak perlu lagi mempertanyakan mekanisme internalnya.
2. Mediator (Mediator): Entitas yang mentransformasi, menerjemahkan, mendistorsi, dan memodifikasi makna atau elemen yang mereka bawa. Mediator bersifat tidak terduga dan produktif; satu mediator tunggal dapat memicu proliferasi hubungan baru ke berbagai arah. Latour menekankan bahwa tugas peneliti adalah mengubah "perantara" kembali menjadi "mediator" untuk melihat bagaimana realitas sebenarnya dirakit.

Proses di mana sebuah jaringan yang kompleks dan penuh mediator menjadi stabil dan tampak seperti perantara tunggal disebut sebagai black boxing (pengotak-hitaman). Contohnya adalah penggunaan smartphone. Bagi kebanyakan pengguna, ponsel adalah perantara (kotak hitam) yang berfungsi untuk berkomunikasi. Namun, di balik kotak hitam itu terdapat jaringan luas pabrik, kode perangkat lunak, satelit, dan infrastruktur mineral yang melibatkan ribuan aktor. ANT mendorong peneliti untuk membuka kotak hitam ini ketika terjadi kegagalan atau kontroversi, karena pada saat itulah mediator-mediator yang tersembunyi menjadi terlihat kembali.

Bagian II: Cara Menjadikan Asosiasi Dapat Dilacak Kembali

Pada bagian kedua, Latour berpindah dari dekonstruksi menuju metodologi rekonstruksi. Ia mengajukan sebuah visi "sosiologi rata" (flat sociology) yang menghapus dualitas antara lokal dan global, individu dan struktur. Ia merumuskan tiga langkah atau "gerakan" untuk merakit kembali sosial.

Gerakan Pertama: Melokalisasi yang Global

Kritik Latour terhadap konsep "global" atau "makro" adalah bahwa entitas-entitas besar tersebut sering dianggap ada di mana-mana tetapi tidak berada di mana pun secara spesifik. Gerakan pertama menuntut peneliti untuk mencari lokasi fisik di mana "global" itu dirakit. Latour berargumen bahwa kapitalisme, negara, atau pasar global selalu memiliki "ruang kendali" lokal.

Misalnya, kekuatan sebuah korporasi multinasional sebenarnya dirumuskan di dalam sebuah ruang rapat spesifik di mana para eksekutif berinteraksi dengan grafik, spreadsheet, dan dokumen hukum. Jika kita ingin memahami "kekuatan global" korporasi tersebut, kita tidak boleh mencarinya dalam ruang abstrak, melainkan harus melokalisasinya dalam praktik-praktik konkret di kantor pusatnya. Dengan melokalisasi yang global, kita menghapus misteri tentang struktur raksasa dan melihatnya sebagai jaringan situs-situs lokal yang sangat terhubung.

Gerakan Kedua: Mendistribusikan yang Lokal

Sebaliknya, Latour juga mengkritik pandangan bahwa interaksi lokal (tatap muka) adalah sesuatu yang murni dan terisolasi. Gerakan kedua menunjukkan bahwa setiap pertemuan lokal selalu didukung oleh agensi yang berasal dari waktu dan tempat yang jauh. Saat dua orang berbicara di sebuah kafe, interaksi mereka dimungkinkan oleh desain kursi, bahasa yang sudah ada selama berabad-abad, dan mungkin aturan etiket yang dipelajari di sekolah.

Agensi lokal sebenarnya terdistribusi di sepanjang rantai aktans yang luas. Tidak ada interaksi yang benar-benar "lokal" jika kita memperhitungkan semua objek, teks, dan standar yang menyusun interaksi tersebut. Dengan mendistribusikan yang lokal, peneliti dapat melihat bagaimana sebuah interaksi kecil sebenarnya merupakan perakitan dari elemen-elemen yang sangat banyak dan heterogen.

Gerakan Ketiga: Menghubungkan Situs-Situs

Langkah terakhir adalah melacak saluran atau pipa yang menghubungkan berbagai situs lokal tersebut. Hubungan antara satu lokasi ke lokasi lain tidak terjadi secara otomatis; ia membutuhkan "perantara yang bersirkulasi" seperti uang, dokumen, atau data digital. Sosial tidak berada di dalam situs-situs itu sendiri, melainkan di dalam gerakan penghubungan di antara mereka.

Kekuasaan dalam model ini dipahami sebagai efek dari keberhasilan menghubungkan situs-situs tersebut sehingga mereka bertindak sebagai satu kesatuan. Seorang pemimpin politik memiliki kekuasaan bukan karena ia memiliki substansi "power", melainkan karena ia berhasil merakit jaringan orang, hukum, media, dan teknologi yang mau mengikuti perintahnya. Jika rantai penghubung ini putus di satu titik, maka kekuasaan tersebut akan lenyap seketika.

Ruang Visualisasi: Panorama vs Oligopticon

Latour memberikan perhatian khusus pada bagaimana pengamat sosial memvisualisasikan tatanan yang mereka pelajari. Ia membedakan antara "panorama" yang menyesatkan dan "oligopticon" yang fungsional.

buku Reassembling the Social: An Introduction to Actor-Network-Theory karya Bruno Latour
Latour berargumen bahwa tidak ada satu titik pun di mana kita bisa melihat "seluruh kota" atau "seluruh masyarakat". Apa yang sering disebut sebagai "pandangan total" sebenarnya hanyalah panorama—sebuah gambar buatan yang memberikan kesan koherensi yang berlebihan. Sebaliknya, dunia sebenarnya dijalankan melalui oligopticon. Sebuah kota seperti Paris bisa berfungsi bukan karena ada satu orang yang melihat segalanya, melainkan karena ada ribuan oligopticon (seperti sistem GPS, peta pipa air, atau statistik polisi) yang masing-masing melihat sebagian kecil dunia dengan sangat baik dan saling terhubung. ANT mendorong peneliti untuk mencari oligopticon ini daripada mencoba menciptakan panorama teoretis baru.

Ilustrasi Faktual dan Aplikasi Empiris ANT

Untuk membuktikan kegunaan teorinya, Latour dan para koleganya telah melakukan berbagai studi kasus yang menunjukkan bagaimana perakitan sosial bekerja dalam praktik nyata.

Laboratorium Pasteur dan Konstruksi Fakta Ilmiah

Dalam studinya tentang Louis Pasteur, Latour menunjukkan bahwa kemenangan Pasteur atas penyakit antraks bukanlah sekadar kemenangan pikiran manusia atas alam. Pasteur harus membawa mikroba ke dalam laboratorium, sebuah lingkungan terkontrol di mana mikroba bisa "dipaksa" untuk menampakkan diri. Di laboratorium, Pasteur menciptakan "pusat kalkulasi" di mana ia bisa memanipulasi mikroba, menerjemahkannya ke dalam bentuk grafik dan data, serta memproduksi versi mikroba yang lemah sebagai vaksin.

Keberhasilan Pasteur kemudian bergantung pada kemampuannya untuk mengubah lingkungan peternakan di luar laboratorium agar menyerupai kondisi laboratoriumnya. Ia harus meyakinkan petani untuk mengikuti protokol kebersihan tertentu dan menggunakan vaksinnya secara massal. Fakta bahwa mikroba adalah penyebab penyakit bukanlah kebenaran abstrak, melainkan hasil dari jaringan yang melibatkan laboratorium, jarum suntik, statistik peternakan, dan mikroba itu sendiri.

Upaya Pengembangan Mobil Listrik (Studi EDF)

Michel Callon, rekan Latour, mendeskripsikan upaya insinyur di Electricité de France (EDF) untuk memperkenalkan mobil listrik di Prancis pada tahun 1970-an. Para insinyur ini bertindak sebagai "insinyur-sosiolog" karena mereka tidak hanya merancang mesin, tetapi juga merancang visi tentang masyarakat masa depan. Mereka harus membayangkan bagaimana konsumen akan menggunakan mobil tersebut, bagaimana kota akan menyediakan titik pengisian daya, dan bagaimana pemerintah akan memberikan subsidi.

Proyek ini gagal bukan karena masalah teknis semata, melainkan karena jaringan aktor yang mereka susun tidak stabil. Konsumen tidak berperilaku seperti yang dibayangkan, teknologi baterai tidak berkembang secepat yang diharapkan, dan perusahaan mobil konvensional melawan balik dengan "anti-program" mereka sendiri. Studi ini mengilustrasikan bahwa inovasi teknis dan tatanan sosial adalah satu hal yang sama: mereka adalah produk dari perakitan jaringan yang bisa saja gagal.

Kebijakan Publik: Kontrol Tembakau dan Rantai Pasok AI

Dalam konteks yang lebih modern, ANT telah diterapkan untuk menganalisis isu-isu kompleks seperti epidemi tembakau dan integrasi AI dalam bisnis. Penelitian tentang regulasi bebas asap rokok menunjukkan bahwa kebijakan baru bukanlah hasil dari keputusan politik yang murni, melainkan produk dari jaringan yang memobilisasi bukti ilmiah, teknologi pemantauan kualitas udara, dan narasi moral tentang kesehatan publik.

Sementara itu, dalam manajemen rantai pasok, AI tidak lagi dianggap sebagai alat bantu pasif. AI dilihat sebagai aktor dengan "kemampuan sosial" yang bisa mengubah cara organisasi berkolaborasi dan merespons krisis. Dengan memperlakukan algoritma sebagai aktans, perusahaan dapat lebih memahami konsekuensi yang tidak terduga dari keputusan otomatis dan membangun sistem yang lebih tangguh.

Implikasi Politik: Dari Masyarakat Menuju Kolektif

Pada bagian kesimpulan, Latour merefleksikan implikasi politik dari teorinya. Ia berargumen bahwa obsesi sosiologi terhadap "masyarakat" sebagai entitas yang homogen sering kali memicu politik yang eksklusif atau teknokrasi yang dingin. Ia mengusulkan penggantian konsep "masyarakat" dengan "kolektif". Perbedaan utamanya adalah kolektif mengakui keterlibatan aktif entitas non-manusia dalam tatanan politik kita.

Latour menyebut visi ini sebagai "parlemen benda-benda" (parliament of things). Dalam dunia yang menghadapi krisis ekologi dan disrupsi teknologi, kita tidak bisa lagi membuat keputusan politik hanya dengan mendengarkan suara manusia. Kita harus menemukan cara untuk memberikan "suara" atau representasi kepada alam, teknologi, dan infrastruktur yang ikut menentukan kelangsungan hidup kita. Politik, dalam pandangan ANT, adalah seni merakit kembali kolektif ini secara terus-menerus agar tetap inklusif dan berkelanjutan.

Catatan Penutup Mengenai Metodologi Deskriptif

Reassembling the Social akhirnya menegaskan kembali komitmennya terhadap empirisme yang radikal. Latour menolak tuduhan bahwa ANT adalah bentuk relativisme. Sebaliknya, ia mengklaim bahwa ANT adalah bentuk realisme yang lebih kuat karena ia tidak pernah mengasumsikan apa pun sebelum melakukan observasi lapangan. Ia mengingatkan para sosiolog untuk mengikuti aturan sederhana: "Jangan berpikir, tapi lihatlah!".

Dengan menolak untuk memberikan penjelasan instan melalui variabel-variabel sosial yang abstrak, ANT memaksa peneliti untuk bekerja lebih keras dalam mendeskripsikan kerumitan dunia. Keberhasilan sebuah studi sosial tidak diukur dari seberapa elegan teorinya, melainkan dari seberapa baik ia mampu melacak jaringan asosiasi hingga tidak ada lagi misteri yang tersisa dalam cara tatanan sosial itu dirakit. Buku ini tetap menjadi panduan esensial bagi siapa saja yang ingin memahami bagaimana sains, teknologi, dan masyarakat sebenarnya tidak pernah terpisah, melainkan selalu berada dalam proses saling membentuk di dalam jaringan aktor yang tak terhingga.

Sumber:

Actor–network theory. (n.d.). Wikipedia. Retrieved December 22, 2025, from https://en.wikipedia.org/wiki/Actor%E2%80%93network_theory

Actor–Network Theory. (n.d.). Oxford Research Encyclopedia of Education. Retrieved December 22, 2025, from https://oxfordre.com/education/abstract/10.1093/acrefore/9780190264093.001.0001/acrefore-9780190264093-e-526

An actor-network theory analysis of policy innovation for smoke-free places: Understanding change in complex systems. (n.d.). PubMed Central. Retrieved December 22, 2025, from https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC2882392/

Breakfast Ed.D. Omlette | Where culture, media, & education never…. (n.d.). Retrieved December 22, 2025, from https://cheeseeggs.wordpress.com/

Bruno Latour. Reassembling the social: An introduction to actor-network-theory. (n.d.). ResearchGate. Retrieved December 22, 2025, from https://www.researchgate.net/publication/354533132

Bruno Latour – Reassembling the social: An introduction to actor-network-theory. (n.d.). UOC Papers. Retrieved December 22, 2025, from https://www.uoc.edu/uocpapers/dt/eng/latour.html

Bruno Latour’s Reassembling the social. (2009). In the Space of Reasons. Retrieved December 22, 2025, from https://inthespaceofreasons.blogspot.com/2009/09/bruno-latours-reassembling-social.html

Ferreira, P. P. (n.d.). Reassembling the social. Retrieved December 22, 2025, from https://pedropeixotoferreira.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/01/latour_2005_reassembling-the-social-an-introduction-to-actor-network-theory_book.pdf

Goodchild, B. (2021). Intermediaries and mediators: An actor-network understanding of online property platforms. Housing Studies. https://doi.org/10.1080/02673037.2021.2015297

Intermediaries and mediators: An actor-network understanding of online property platforms. (n.d.). Sheffield Hallam University Research Archive. Retrieved December 22, 2025, from http://shura.shu.ac.uk/29462/

Latour, B. (2005). Reassembling the social: An introduction to actor-network-theory. Oxford University Press.

Latour, B. (n.d.). Reassembling the social (PDF). University of Weimar. Retrieved December 22, 2025, from https://www.uni-weimar.de/kunst-und-gestaltung/wiki/images/Latour-introduction-to-ant-theory.pdf

Latour, B. (n.d.). Reassembling the social (Selections). DOUBLE OPERATIVE. Retrieved December 22, 2025, from https://doubleoperative.com/wp-content/uploads/2009/12/latour-reassembling-the-social-selections.pdf

Latour, B. (n.d.). Reassembling the social. Oxford University Press. Retrieved December 22, 2025, from https://global.oup.com/academic/product/reassembling-the-social-9780199256051

Latour, B. (n.d.). The power of associations. Retrieved December 22, 2025, from http://www.bruno-latour.fr/sites/default/files/19-POWERS-ASSOCIATIONS-GBpdf.pdf

Latour, B., & Hermant, É. (n.d.). Paris: Invisible city. Retrieved December 22, 2025, from http://www.bruno-latour.fr/sites/default/files/downloads/viii_paris-city-gb.pdf

Latour: Re-assembling the social, Chapter One. (2009). Theory and Play. Retrieved December 22, 2025, from https://theoryplay.wordpress.com/2009/07/09/latour-re-assembling-the-social-chapter-one/

Latour reassembling the social. (n.d.). ResearchGate. Retrieved December 22, 2025, from https://www.researchgate.net/publication/224892364

Latour reassembling the social. (n.d.). Scribd. Retrieved December 22, 2025, from https://www.scribd.com/document/668981262/Latour-Reassembling

Lindemann, G. (2010). On Latour’s social theory and theory of society, and his contribution to saving the world. Retrieved December 22, 2025, from https://www.ssoar.info/ssoar/bitstream/document/19792/1

Oligopticon. (n.d.). AP School of Arts. Retrieved December 22, 2025, from https://ap-arts.be/en/node/5309

Oligopticon. (n.d.). Mnemotechnologies. Retrieved December 22, 2025, from https://mnemotechnologies.wordpress.com/tag/oligopticon/

Paris: Invisible city – New architectures of spatial justice. (2012). Retrieved December 22, 2025, from https://architecturesofspatialjustice.wordpress.com/2012/10/19/paris-invisible-city/

Ransom, T. (n.d.). Bruno Latour: Reassembling the political [Review]. Marx & Philosophy Review of Books. Retrieved December 22, 2025, from https://marxandphilosophy.org.uk/reviews/8156

Reassembling the social: An introduction to actor-network-theory. (n.d.). Goodreads. Retrieved December 22, 2025, from https://www.goodreads.com/book/show/134567.Reassembling_the_Social

Reassembling the social: An introduction to actor-network-theory. (n.d.). Goodreads. Retrieved December 22, 2025, from https://www.goodreads.com/book/show/1184322

Reading Bruno Latour’s Reassembling the social. (2022). viXra. Retrieved December 22, 2025, from https://vixra.org/pdf/2203.0177v1.pdf

Simply Psychology. (n.d.). Latour’s actor-network theory. Retrieved December 22, 2025, from https://www.simplypsychology.org/actor-network-theory.html

Untangling society with actor-network theory. (n.d.). YouTube. Retrieved December 22, 2025, from https://www.youtube.com/watch?v=Tw2YOgz1eXo

What has become of critique? Reassembling sociology after Latour. (n.d.). Retrieved December 22, 2025, from https://publications.aston.ac.uk/id/eprint/31542/

Aletheia Rabbani
Aletheia Rabbani “Barang siapa yang tidak mampu menahan lelahnya belajar, maka ia harus mampu menahan perihnya kebodohan” _ Imam As-Syafi’i

Post a Comment