Analisis Kritis Buku Fortunes of Feminism Karya Nancy Fraser: Feminisme, Kapitalisme Negara, dan Krisis Neoliberal

Table of Contents

Buku Fortunes of Feminism Karya Nancy Fraser

I. Pendahuluan: Memposisikan Nancy Fraser dan Tesis Sentral

A. Latar Belakang Intelektual dan Ruang Lingkup Karya

Nancy Fraser adalah seorang teoretikus kritis terkemuka yang berafiliasi dengan tradisi Mazhab Frankfurt generasi ketiga. Karyanya secara signifikan berkontribusi pada teori sosial dengan berupaya mengintegrasikan analisis feminis ke dalam kerangka Teori Kritis yang lebih luas.

Fortunes of Feminism: From State-Managed Capitalism to Neoliberal Crisis (2013) merupakan kumpulan esai yang merentang waktu 25 tahun, dari 1985 hingga 2010, berfungsi sebagai pembacaan ulang sejarah feminisme Gelombang Kedua yang dikaitkan dengan evolusi kapitalisme. Tujuan utama buku ini adalah untuk menilai secara kritis aspek mana dari teori dan praktik feminis yang harus dipertahankan dalam menghadapi tantangan kontemporer, seperti globalisasi, transnasionalisme, dan krisis kapitalisme. Dengan meninjau kembali perjuangan pembebasan perempuan, Fraser menyajikan kronologi yang kompleks mengenai bagaimana feminisme telah merespons dan dibentuk oleh faktor-faktor sosio-ekonomi yang mendasarinya.

B. Tesis Utama: Hubungan Berbahaya (The Dangerous Liaison)

Tesis sentral dan paling provokatif dari Fraser adalah bahwa feminisme Gelombang Kedua, yang awalnya memiliki landasan radikal anti-kapitalis, telah secara tidak terduga menjalin "hubungan berbahaya" (dangerous liaison) dengan proyek neoliberal global. Menurut Fraser, trajektori ini—pergeseran dari kritik radikal yang menargetkan sistem ke penyelarasan yang tidak disengaja dengan tatanan yang lebih opresif—adalah elemen penting yang harus diakui dan dibedah. Pemahaman ini sangat diperlukan agar gerakan feminis dapat merebut kembali janji emansipatoris awalnya.

C. Struktur Naratif: Drama Tiga Babak Feminisme

Untuk memetakan evolusi ini, Fraser menyajikan sejarah feminisme sebagai "drama dalam tiga babak":
1. Babak Pertama: Munculnya feminisme radikal di era Kapitalisme yang Dikelola Negara. Fokusnya adalah eksposisi androsentrisme masyarakat kapitalis dan negara kesejahteraan.
2. Babak Kedua: Masa di mana feminisme didominasi oleh pergeseran kultural (cultural turn) dan politik identitas, yang bertepatan dengan kebangkitan dan dominasi neoliberalisme. Energi utopis feminisme mengalami penurunan di periode ini.
3. Babak Ketiga: Fase yang masih berlangsung, ditandai oleh krisis neoliberal (khususnya pasca-2008). Babak ini menawarkan peluang bagi feminisme untuk menghidupkan kembali radikalisme Babak Pertama dan kembali ke kritik sistemis terhadap politik ekonomi.

II. Kerangka Analitis Keadilan Sosial Nancy Fraser

Untuk menganalisis kegagalan dan peluang feminisme, Fraser menggunakan kerangka yang membedakan ketidakadilan sosial menjadi dua dimensi analitis utama: Redistribusi dan Pengakuan.

A. Keadilan Bivalen: Redistribusi dan Pengakuan

Fraser mengusulkan dua paradigma keadilan yang, meskipun sering kali saling terkait dalam realitas sosial, harus dipahami secara analitis:
1. Redistribusi (Keadilan Sosioekonomi): Injustisi yang berakar pada struktur politik-ekonomi masyarakat. Contoh ketidakadilan termasuk eksploitasi (appropriasi hasil kerja), marginalisasi ekonomi (terperangkap dalam pekerjaan yang buruk), dan deprivasi (kekurangan material). Remedi yang dibutuhkan adalah restrukturisasi politik-ekonomi, seperti reorganisasi pembagian kerja atau pembatasan kekuasaan investasi modal melalui keputusan demokratis.
2. Pengakuan (Keadilan Kultural/Simbolis): Injustisi yang berakar pada pola representasi, komunikasi, dan interpretasi sosial. Contoh ketidakadilan mencakup dominasi kultural, non-pengakuan (dibuat tidak terlihat oleh praktik budaya otoritatif), dan disrespect (dihina melalui stereotip). Remedinya melibatkan perubahan kultural atau simbolis, mulai dari revaluasi identitas yang diremehkan hingga transformasi pola interpretasi universal.

Perbedaan ini bersifat heuristik; dalam kehidupan nyata, norma budaya dilembagakan dalam ekonomi, dan kerugian ekonomi menghambat partisipasi dalam pembuatan budaya, menciptakan lingkaran subordinasi yang tak terhindarkan.

B. Dilema Redistribusi-Pengakuan dan Pergeseran Politik

Banyak kelompok yang tersubordinasi, terutama berdasarkan gender dan ras, adalah bivalen—mereka menderita ketidakadilan di kedua sumbu (ekonomi dan kultural). Dilema ini timbul karena remedial yang dibutuhkan sering kali bertentangan:

  • Politik Pengakuan cenderung mempromosikan dan memvalidasi perbedaan kelompok (misalnya, menghargai budaya spesifik).
  • Politik Redistribusi sering berusaha menghapus diferensiasi (misalnya, mengintegrasikan kelas pekerja perempuan secara setara, yang bertujuan mengikis diferensiasi berbasis gender).

Implikasi Pergeseran Kultural (The Cultural Turn)

Fraser mencatat pergeseran dramatis pada akhir abad ke-20 di mana imajinasi politik berpusat pada "redistribusi" dan "kelas" digantikan oleh imajinasi "pasca-sosialis" yang berpusat pada "pengakuan," "identitas," dan "perbedaan". Pergeseran tujuan politik dari keadilan sosioekonomi ke pengakuan kultural ini memiliki konsekuensi yang mendalam.

Kecenderungan untuk berfokus pada politik pengakuan individu, yang ditekankan oleh Fraser, bertepatan dengan kepentingan neoliberalisme dalam mengalihkan perjuangan politik-ekonomi ke saluran kulturalis. Rezim kapitalis secara struktural lebih menyukai tuntutan untuk pengakuan identitas individu daripada menghadapi tuntutan restrukturisasi mendasar terhadap kekayaan dan kekuasaan (redistribusi). Dengan demikian, pergeseran feminisme Gelombang Kedua ke politik identitas secara efektif mendepolitisasi perjuangan kelas, menciptakan keselarasan yang tidak disengaja dengan proyek ekonomi regresif neoliberal.

Tabel 1: Kerangka Keadilan Fraser: Dimensi dan Remedi

Tabel Kerangka Keadilan Fraser Dimensi dan Remedi

III. Babak Pertama: Kritik Radikal terhadap Androsentrisme Negara Kesejahteraan

Babak pertama menguraikan momen radikal ketika feminisme Gelombang Kedua muncul untuk menantang tatanan yang dikenal sebagai Kapitalisme yang Dikelola Negara (State-Managed Capitalism) atau Negara Kesejahteraan.

A. Karakteristik Tatanan Kapitalis Lama

Tatanan pasca-perang (sekitar 1945–1970an) dicirikan oleh empat pilar utama subordinasi gender:
1. Ekonomisme: Membingkai semua masalah sosial hanya melalui lensa distribusi barang yang dapat dibagi, mengabaikan ketidakadilan non-ekonomi.
2. Etatisme: Sebuah etos manajerial birokratis yang mengandalkan ahli dan memperlakukan warga negara sebagai "klien," bukan warga negara yang berpartisipasi aktif.
3. Westphalianisme: Kapitalisme terikat secara teritorial, membatasi kewajiban keadilan pada batas-batas nasional, mengabaikan ketidakadilan transnasional.
4. Androsentrisme: Warga negara ideal adalah "pekerja laki-laki mayoritas etnis, pencari nafkah, dan kepala keluarga". Ideal upah keluarga (family wage) ini dilembagakan dalam kebijakan negara (kesejahteraan dan ketenagakerjaan), secara efektif melembagakan ketidakadilan gender dan menaturalisasinya di luar kontestasi politik.

B. Pembongkaran Androsentrisme dan Kerja Reproduksi Sosial

Kritik radikal feminisme Babak Pertama menargetkan androsentrisme ini. Kritikus menunjukkan bahwa kapitalisme yang dikelola negara secara struktural memisahkan produksi ekonomi (kerja berupah di publik) dari kerja reproduksi sosial (kerja perawatan tak berbayar—merawat, membesarkan anak, mempertahankan ikatan sosial dan komunitas). Beban kerja reproduksi ini sebagian besar ditugaskan kepada perempuan, memungkinkan kapitalisme mengeksploitasi pekerja upahan sambil mengandalkan "perekat sosial" yang dipasok secara gratis.

Tujuan Babak Pertama adalah sistemik: menantang bukan hanya diskriminasi individual tetapi struktur dasar yang meminggirkan kerja perawatan, menjadikan perempuan subordinat baik secara kultural (melalui disrespect terhadap peran domestik) maupun secara ekonomi (ketergantungan pada upah laki-laki).

Kritik Etatisme dan Kooptasi Potensial

Kritik feminis terhadap etatisme birokratis dan paternalistik negara kesejahteraan menuntut bentuk demokrasi partisipatif yang lebih tinggi. Namun, tuntutan anti-birokrasi ini mengandung kerentanan yang dimanfaatkan oleh proyek neoliberal. Ketika neoliberalisme muncul, ia juga mengkritik negara, tetapi motivasinya adalah untuk menggantikan manajemen birokrasi negara dengan manajemen pasar (market managerialism). Dengan demikian, seruan feminis untuk desentralisasi dan pemberdayaan politik dapat disalurkan oleh kekuatan pasar bebas untuk mendukung privatisasi dan penarikan negara dari penyediaan sosial, yang secara fundamental bertentangan dengan cita-cita perlindungan sosial feminis.

IV. Babak Kedua: Krisis, Giliran Kultural, dan Kooptasi Neoliberal

Babak kedua adalah periode (sejak 1980-an hingga krisis finansial) di mana kritik feminis, yang semula radikal, terpecah dan secara selektif dimasukkan ke dalam layanan proyek neoliberal, menciptakan "hubungan berbahaya."

A. Kooptasi Kritik Family Wage (Resignifikasi Ideologis)

Fraser berpendapat bahwa kritik feminis terhadap ideal upah keluarga secara ironis menjadi "bahan utama" bagi semangat kapitalisme baru, yaitu kapitalisme fleksibel.
1. Menyediakan Tenaga Kerja Fleksibel: Kapitalisme neoliberal membutuhkan tenaga kerja yang masif, fleksibel, tidak aman, dan seringkali bergaji rendah di sektor jasa. Ketika feminisme menantang konstruksi pencari nafkah laki-laki, tuntutannya untuk partisipasi penuh perempuan dalam angkatan kerja secara tidak sengaja menyediakan pasukan pekerja yang dibutuhkan oleh pasar yang teregulasi.
2. Romansa Emansipasi: Neoliberalisme meromantisasi masuknya perempuan ke pasar kerja sebagai pembebasan dan martabat. Fraser mengamati bahwa "romansa feminis" ini menarik perempuan di kedua ujung spektrum sosial:

  • Di satu sisi, kader perempuan profesional yang berjuang memecahkan glass ceiling merasa diberi makna etis dalam perjuangan mereka.
  • Di sisi lain, pekerja paruh waktu, pekerja jasa bergaji rendah, pekerja migran, dan penerima mikrokredit juga mencari martabat dan pembebasan dari otoritas tradisional.

Di kedua ujung spektrum ini, mimpi emansipasi perempuan secara tidak disengaja digunakan untuk menggerakkan mesin akumulasi kapitalis. Feminisme liberal yang mendorong perempuan untuk "memimpin" (lean in) dan mengagungkan kerja berbayar sebagai pembebasan gagal mengakui bahwa mayoritas pekerjaan yang tersedia adalah opresif, tidak aman, dan menuntut pengorbanan kontrol atas waktu dan energi, yang tidak lebih setara daripada dominasi keluarga tradisional.

B. Kooptasi Anti-Etatisme dan Reformasi Kesejahteraan

Feminisme Gelombang Kedua mengkritik paternalisme sistem bantuan sosial negara kesejahteraan karena seksis dan menstigma. Namun, dalam iklim neoliberal, kritik anti-etatisme ini direkayasa ulang untuk mendukung pengurangan tindakan negara secara keseluruhan (reducing state action tout court).

Contoh Faktual—Reformasi Kesejahteraan AS 1996:

Di Amerika Serikat, para feminis menyaksikan bagaimana Bill Clinton mengubah kritik bernuansa mereka menjadi rencana untuk "mengakhiri kesejahteraan seperti yang kita kenal". Undang-undang reformasi kesejahteraan tahun 1996 menghapuskan hak federal atas tunjangan pendapatan, memaksa para penerima bantuan (banyak di antaranya adalah ibu tunggal) ke dalam program work-first yang menekankan "kemandirian ekonomi". Akibatnya, alih-alih mendapatkan pekerjaan dengan upah layak dan akses ke penitipan anak yang didanai publik, para ibu tunggal dipaksa masuk ke pekerjaan bergaji rendah yang tidak aman. Fraser menyoroti ironi tragis bahwa kritik feminis, yang ditujukan untuk menghilangkan stigma dan seksisme, secara tidak sengaja membuka jalan bagi undang-undang yang berdampak sangat negatif pada perempuan miskin.

Neoliberalisme Progresif dan Hegemoni Budaya

Kooptasi di Babak Kedua melahirkan fenomena yang lebih baru yang oleh Fraser disebut sebagai Progressive Neoliberalism. Ini adalah bentuk hegemoni yang menyatukan politik pengakuan yang secara kultural progresif (misalnya, toleransi identitas, anti-diskriminasi, dukungan terhadap keanekaragaman) dengan program ekonomi yang regresif (deregulasi, finansialisasi, penghematan).

Neoliberalisme progresif menggunakan politik pengakuan sebagai "tirai asap" untuk mengalihkan perhatian publik dari isu-isu ketidaksetaraan struktural, kemiskinan, dan globalisasi. Buktinya terlihat ketika klaim kesetaraan gender didukung oleh institusi seperti Bank Dunia, yang berfokus pada penghapusan hambatan hukum yang membatasi partisipasi perempuan di pasar (misalnya, hak mengelola properti), tanpa menuntut redistribusi kekayaan sistemik. Ini adalah kooptasi yang berhasil, di mana politik identitas, yang berfokus pada pengakuan, selaras dengan kepentingan neoliberalisme untuk menghindari restrukturisasi ekonomi.

V. Babak Ketiga: Peluang Emansipatoris Pasca-Krisis Neoliberal

Babak ketiga dimulai di tengah krisis sistemik kapitalisme neoliberal, yang menurut Fraser, menawarkan peluang untuk pemulihan janji radikal feminisme.

A. Krisis dan Peluang Revitalisasi Radikal

Krisis finansial global dan guncangan politik berikutnya telah meretakkan keyakinan terhadap neoliberalisme. Kekuatan neoliberal telah berkurang, membuka ruang untuk reaktivasi semangat audacius feminisme Gelombang Kedua.

Fraser mendesak feminis untuk "berpikir besar" dan melampaui idealisasi kerja upahan sebagai jalan pembebasan. Tujuannya adalah untuk mewujudkan visi yang lebih penuh tentang keadilan gender yang mencakup emansipasi dan perlindungan sosial.

B. Strategi Integratif: Memutus Ikatan Berbahaya

Untuk mengarahkan feminisme kembali ke jalur radikal, Fraser mengusulkan tiga langkah strategis yang bertujuan memutus ikatan dengan neoliberalisme:
1. Mengintegrasikan Redistribusi dan Pengakuan: Mengakhiri perpecahan yang diciptakan oleh cultural turn dan mengintegrasikan perjuangan untuk transformasi status kultural (pengakuan) dengan perjuangan untuk keadilan ekonomi (redistribusi).
2. Merebut Kembali Demokrasi Partisipatif: Memutus ikatan palsu antara kritik terhadap birokrasi dan fundamentalisme pasar bebas. Caranya adalah dengan mengklaim kembali demokrasi partisipatif sebagai sarana untuk memperkuat kekuasaan publik yang diperlukan untuk membatasi modal demi keadilan sosial.
3. Mengembalikan Kritik Androsentrisme ke Kapitalisme: Kembali ke kritik sistemis terhadap politik ekonomi yang androsentris, menuntut analisis patriarki yang berkelanjutan dan mendalam tentang demokrasi dan keadilan.

C. Dimensi Baru: Menganalisis Krisis Reproduksi Sosial (Crisis of Care)

Salah satu perkembangan terpenting dalam kerangka Babak Ketiga Fraser adalah penekanannya pada krisis reproduksi sosial (crisis of care).

Reproduksi sosial mencakup aktivitas yang menciptakan dan memelihara ikatan sosial, termasuk merawat anak, lansia, dan mempertahankan komunitas. Aktivitas ini adalah "perekat sosial" yang sangat penting bagi masyarakat; tanpanya, tidak ada sistem ekonomi, politik, atau budaya yang dapat berfungsi.

Fraser menunjukkan kontradiksi sistemik kapitalisme: sistem ini bergantung pada kerja reproduksi sosial yang umumnya tidak dibayar dan tidak dihargai, namun, dorongan kapitalisme untuk akumulasi tanpa batas (endless accumulation) secara struktural merusak kapasitas masyarakat untuk melakukan reproduksi sosial yang memadai. Kapitalisme mengeksploitasi sumber daya perempuan tanpa memperhitungkan biaya sosial dan ekologisnya.

Reproduksi Sosial sebagai Titik Temu Radikal

Fokus pada krisis perawatan memberikan landasan yang kuat untuk feminisme radikal baru (Feminism for the 99%). Krisis ini adalah titik tembus yang strategis karena menuntut tuntutan yang bersifat bivalen secara simultan: menuntut restrukturisasi ekonomi (Redistribusi—dukungan publik yang masif untuk perawatan dan reorganisasi pembagian kerja) sekaligus menuntut revaluasi kultural (Pengakuan—menghargai kerja perawatan yang secara historis diremehkan). Dengan menargetkan kontradiksi inti kapitalis ini, gerakan feminis dapat menggeser fokus dari sekadar mengejar kesetaraan di pasar yang opresif menjadi menuntut reorganisasi masyarakat yang menempatkan kebutuhan manusia di atas keuntungan.

Tabel 2: Perbandingan Rezim Kapitalis dan Feminisme (1945–2010)

Tabel Perbandingan Rezim Kapitalis dan Feminisme

VI. Kesimpulan: Warisan dan Implikasi untuk Keadilan Global

Buku Fortunes of Feminism karya Nancy Fraser adalah studi penting yang melacak trajektori feminisme Gelombang Kedua melalui lensa politik ekonomi kritis. Analisis ini berhasil mengungkapkan bagaimana gerakan pembebasan yang sah dapat mengalami nasib ironis, secara tidak sengaja menjadi pendukung ideologis bagi rezim kapitalis yang lebih keras.

Warisan utama dari karya ini adalah penekanan terus-menerus pada perlunya feminisme untuk bersikap sistemik. Fraser berhasil memperjelas bahwa krisis yang dihadapi perempuan tidak dapat diselesaikan hanya melalui reformasi budaya (pengakuan) atau partisipasi pasar individualistik. Politik pengakuan, meskipun penting, ketika dipisahkan dari analisis kelas dan tuntutan redistributif, berfungsi untuk mendepolitisasi perjuangan struktural dan memungkinkan proyek neoliberal progresif untuk terus maju.

Laporan ini menegaskan bahwa masa depan emansipatoris feminisme terletak pada Babak Ketiga: menghidupkan kembali semangat radikal yang mampu mengintegrasikan perjuangan untuk revaluasi status kultural dengan tuntutan untuk restrukturisasi ekonomi mendasar. Hal ini memerlukan reintroduksi tujuan sosialis dan redistributif ke dalam Kiri yang lebih luas. Keadilan gender sejati hanya dapat terwujud melalui perjuangan yang berani, menantang kontradiksi inti kapitalisme—terutama krisis reproduksi sosial—sehingga kebutuhan manusia dan perawatan diletakkan di atas dorongan akumulasi modal. Inilah kunci untuk mencapai emansipasi sekaligus perlindungan sosial.

Sumber:

Fraser, N. (2013). Fortunes of feminism: From state-managed capitalism to neoliberal crisis. Verso.

Fraser, N. (2013, October 14). How feminism became capitalism’s handmaiden – and how to reclaim it. The Guardian. https://www.theguardian.com/commentisfree/2013/oct/14/feminism-capitalist-handmaiden-neoliberal

Fraser, N. (n.d.). Capitalism’s crisis of care. Dissent Magazine. Retrieved December 14, 2025, from https://dissentmagazine.org/article/nancy-fraser-interview-capitalism-crisis-of-care/

Fraser, N. (n.d.). Feminism, capitalism and the cunning of history. Retrieved December 14, 2025, from http://www.geo.hunter.cuny.edu/news/fraser_feminism_history.pdf

Fraser, N. (n.d.). From redistribution to recognition?. Ethical Politics. Retrieved December 14, 2025, from https://ethicalpolitics.org/blackwood/fraser.htm

Fraser, N. (n.d.). Fortunes of feminism: From state-managed capitalism to neoliberal crisis. Verso Books. Retrieved December 14, 2025, from https://www.versobooks.com/products/2305-fortunes-of-feminism

Fraser, N. (n.d.). Fortunes of feminism: From state-managed capitalism to neoliberal crisis. MIT Press Direct. Retrieved December 14, 2025, from https://direct.mit.edu/ecps/article/1/2/201/125903/Fortunes-of-feminism-from-state-managed-capitalism

Fraser, N. (n.d.). Kicking back, not leaning in. Dissent Magazine. Retrieved December 14, 2025, from https://dissentmagazine.org/article/kicking-back-not-leaning-in/

Fraser, N. (n.d.). Nancy Fraser: Neoliberalism, identity politics, feminism and class struggle. Melbourne School of Continental Philosophy. Retrieved December 14, 2025, from https://mscp.org.au/past-courses/nancy-fraser-neoliberalism-identity-politics-feminism-and-class-struggle

Fraser, N. (n.d.). The end of progressive neoliberalism. Dissent Magazine. Retrieved December 14, 2025, from https://dissentmagazine.org/online_articles/progressive-neoliberalism-reactionary-populism-nancy-fraser/

Fraser, N. (n.d.). There was no such thing as “progressive neoliberalism”. Dissent Magazine. Retrieved December 14, 2025, from https://dissentmagazine.org/online_articles/nancy-fraser-progressive-neoliberalism-social-movements-response/

Prügl, E. (n.d.). Neoliberalism with a feminist face: Crafting a new hegemony at the World Bank. Graduate Institute Geneva. Retrieved December 14, 2025, from https://repository.graduateinstitute.ch/record/294177/files/Neoliberalism-with-a-feminist-face-AAM.pdf

Seattle University School of Law. (n.d.). His feminist facade: The neoliberal co-option of the feminist movement. Digital Commons. Retrieved December 14, 2025, from https://digitalcommons.law.seattleu.edu/cgi/viewcontent.cgi?article=1813&context=sjsj

Society for U.S. Intellectual History. (2009). “The cunning of history”; Or, the unintended negative consequences of good ideas. Retrieved December 14, 2025, from https://s-usih.org/2009/03/cunning-of-history-or-unintended/

Verso Books. (n.d.). The old is dying and the new cannot be born: From progressive neoliberalism to Trump and beyond. Retrieved December 14, 2025, from https://www.versobooks.com/products/849-the-old-is-dying-and-the-new-cannot-be-born

Aletheia Rabbani
Aletheia Rabbani “Barang siapa yang tidak mampu menahan lelahnya belajar, maka ia harus mampu menahan perihnya kebodohan” _ Imam As-Syafi’i

Post a Comment