Transformasi Sosial dan Ekonomi Masyarakat Desa Cikotok Pasca Penutupan Tambang Antam: Suatu Kajian Sosiologis
Pendahuluan
Desa Cikotok (Kec. Cibeber, Kab. Lebak) dulunya dikenal sebagai lokasi tambang emas besar milik PT Aneka Tambang (Antam). Setelah bertahun-tahun operasi sejak zaman Belanda, Antam resmi menghentikan kegiatan penambangan Cikotok pada awal 2016.
Menurut Antam, cadangan emas yang tersisa sudah tidak ekonomis dan IUP-nya telah habis. Penutupan ini menandai berakhirnya era eksploitasi tambang. Artikel ini menganalisis dampak sosial-ekonomi pasca-penutupan tersebut dengan menggunakan teori perubahan sosial William F. Ogburn (kesenjangan budaya antara unsur material dan non-material).
Analisis meliputi data kuantitatif (ekonomi, lapangan kerja, migrasi, pendidikan) dan kualitatif (nilai sosial, pola hidup, struktur sosial) hingga situasi terkini (2025).
Kerangka Teori: Teori Ogburn dan Kesenjangan Budaya
William F. Ogburn melihat perubahan sosial terutama sebagai akibat perubahan kebudayaan materiil (mis. teknologi, ekonomi) yang sering berkembang lebih cepat ketimbang aspek non-materi (nilai, norma, institusi). Kesenjangan budaya (“cultural lag”) terjadi ketika inovasi material mendorong perubahan, sedangkan elemen sosial lain belum menyesuaikan, menimbulkan ketegangan sosial.
Ogburn menjelaskan bahwa pola perilaku dan institusi lama sering tertinggal di belakang perubahan material (malintegrasi). Misalnya, suatu masyarakat dapat memiliki infrastruktur atau peluang ekonomi baru tetapi nilai-nilai tradisionalnya belum berubah. Pendekatan ini relevan untuk Cikotok, di mana penutupan tambang (perubahan material ekonomi) menuntut adaptasi cepat penduduk terhadap kondisi baru, sementara budaya lokal dan pola hidupnya menyesuaikan lebih lambat.
Transformasi Ekonomi Pasca Penutupan (Data Kuantitatif)
Penurunan Sektor Tambang
Data BPS Lebak menunjukkan kontribusi sektor pertambangan terhadap PDRB menurun drastis setelah 2016. Pada 2019 sektor tambang-menggal (B) masih sekitar 6,1% dari PDRB, namun turun menjadi 4,5% pada 2023. Pertumbuhan ekonomi sektor ini bahkan negatif -21,8% (2022→2023).
Penurunan ini mencerminkan berkurangnya aktivitas tambang setelah penutupan Antam. Sebaliknya, sektor lain seperti industri pengolahan, perdagangan, dan konstruksi justru meningkat sehingga struktur ekonomi bergeser ke arah non-tambang.
Diversifikasi Mata Pencaharian
Untuk mengatasi kehilangan lapangan kerja tambang, penduduk Cikotok beralih ke sektor agraris dan usaha kecil. Program CSR Antam telah mendukung 109 UKM lokal dalam berbagai bidang (industri, perdagangan, peternakan, perikanan, jasa) melalui modal dan pelatihan. Misalnya, petani jahe merah dan gula aren (nira) diberikan bantuan teknis dan pemasaran.
Gula aren menjadi salah satu sumber pendapatan utama; warga memanen nira sebanyak 15–20 liter/hari dengan pendapatan ≈Rp 70.000 per orang per hari. Produk turunan seperti kopi aren, pisang goreng, dan keripik pisang juga dikembangkan untuk pasar lokal dan Jawa.
Selain itu, Antam membiayai infrastruktur pasca tambang (terminal, pasar desa, jalan, puskesmas, ruang olahraga) dan menanam 20.000 benih pohon akasia/albasiah untuk reklamasi lingkungan. Semua upaya ini memperlihatkan pergeseran material ekonomi desa dari tambang ke agribisnis dan industri skala kecil, yang tercermin dalam data BPS serta program pembangunan setempat.
Transformasi Sosial Pasca Penutupan (Kualitatif)
Perubahan Nilai dan Pola Hidup
Penutupan tambang mengubah pandangan sosial tentang pekerjaan dan lingkungan. Masyarakat adat Cisitu di Cikotok, misalnya, memegang kuat nilai keseimbangan alam – tradisi Seren Taun dan pepatah leuweung hejo, rakyat ngejo (“hutan lestari, rakyat sejahtera”) tercermin dalam kebiasaan menanam pengganti jika menebang pohon.
Nilai lingkungan ini sempat tertekan oleh maraknya penambangan ilegal (menyebabkan pencemaran dan kerusakan hutan), namun kini mendorong inisiatif pertambangan berkelanjutan. Komunitas membentuk koperasi “Green Gold Mining” yang mengelola emas secara ramah lingkungan (tanpa merkuri/sianida). Ini menandakan masyarakat mencoba mempertahankan nilai tradisi (pelestarian alam) sambil beradaptasi dengan perubahan ekonomi.
Pola hidup sehari-hari bergeser: sebagian warga berpindah dari galian tambang ke bertani, berjualan hasil bumi, atau bahkan pariwisata edukasi. Misalnya, bekas tambang kini menjadi objek wisata edukasi—pengunjung dapat melihat peralatan penambangan dan perumahan Belanda peninggalan sejarah. Ini mencerminkan pergeseran nilai: warisan industri tambang diapresiasi sebagai bagian sejarah dan sumber ilmu.
Perubahan Struktur Sosial
Struktur sosial Desa Cikotok berubah menuju lebih mandiri dan komunal. Pemberhentian tambang mengurangi dominasi perusahaan besar dalam kehidupan lokal, sehingga masyarakat lebih aktif mengorganisasi diri. Terbentuknya koperasi pertambangan rakyat dan pengembangan UKM menandai distribusi baru peran sosial.
Pusat-pusat kegiatan (seperti pasar dan fasilitas desa yang dibangun Antam) menjadi arena interaksi ekonomi baru. Demikian pula, program penempatan infrastruktur kesehatan dan pendidikan memperlembaga peran pemerintah lokal, bukan perusahaan tambang, dalam kehidupan sosial.
Sebaliknya, tidak sedikit pemuda yang merantau atau mencari kerja ke luar daerah karena minimnya lapangan industri—fenomena migrasi internal yang lazim di kawasan pasca tambang. Efek sosial tersebut sulit dikuantifikasi; namun penurunan kualitas hidup awal pasca-penutupan (pengangguran) diimbangi oleh nilai gotong-royong dan usaha kolektif yang kuat di desa.
Kesenjangan Budaya (Cultural Lag) di Cikotok
Menurut Ogburn, fenomena cultural lag terjadi ketika perubahan materiil cepat berlawanan dengan keterlambatan adaptasi kebudayaan non-materi. Di Cikotok tampak bahwa meski aspek material (cara ekonomi dan teknologi pasca tambang) berubah dramatis, aspek non-materi seperti sikap dan institusi sosialnya memerlukan waktu untuk menyesuaikan. Misalnya, masyarakat lama mengandalkan tambang sebagai sumber utama, sehingga penutupan menimbulkan ketegangan dan ketidakpastian sosial.
Baru perlahan nilai wirausaha, kesadaran lingkungan, dan bentuk organisasi baru muncul. Bentuk adaptasi tersebut, seperti koperasi emas ramah lingkungan atau usaha mikro, menunjukkan upaya mengisi gap antarperubahan material dan nilai baru. Sebagaimana Ogburn sampaikan, ketertinggalan budaya non-materi ini sering memicu dislokasi sosial.
Dalam konteks Cikotok, budaya agraris dan adat yang lambat berubah awalnya “tertinggal” di belakang realitas ekonomi pasca tambang, sehingga nilai keberlanjutan alam menjadi titik tekan konflik sosial (contoh: penolakan penambangan ilegal oleh tokoh adat).
Situasi Terkini (2025)
Hingga 2025, Desa Cikotok terus beradaptasi. Jumlah penduduk desa tercatat sekitar 4.468 jiwa (2024), hampir seimbang gender (rasio 99). Sektor ekonomi utama kini adalah pertanian tradisional (termasuk aren dan sayur), ditambah pengembangan pariwisata edukasi tambang.
Pemerintah daerah dan nasional aktif memberantas tambang emas ilegal di Cikotok untuk melindungi lingkungan. Penertiban ini sejalan dengan nilai tradisi lokal dan instruksi presiden; Pemprov Banten menegaskan tidak menoleransi pertambangan liar yang merusak konservasi TNGHS. Pembangunan infrastruktur publik (jalan, fasilitas kesehatan dan pendidikan) masih bergantung pada program CSR dan APBD, karena investasi besar sektor swasta hilang.
Secara pendidikan, ketersediaan sekolah dasar sudah ada, tetapi akses ke jenjang lebih tinggi terbatas sehingga banyak remaja merantau ke kota. Secara kuantitatif, data terbaru per Kecamatan menunjukkan pergeseran signifikan: pertanian dan perdagangan tumbuh, sedangkan lapangan kerja konstruksi dan jasa menggantikan tambang di PDRB. Meskipun indikator sosial-ekonomi mulai membaik, status sosial tradisional dan kesenjangan adaptasi budaya masih menjadi tantangan yang harus diatasi oleh masyarakat setempat.
Kesimpulan
Transformasi pasca-penutupan tambang Antam di Cikotok bersifat multidimensional. Kuantitatifnya, sektor ekonomi mengalami restrukturisasi (penurunan tajam kontribusi tambang, tumbuhnya agribisnis/UMKM). Kualitatifnya, terjadi pergeseran nilai dan struktur sosial: masyarakat beradaptasi dari identitas penambang menuju nilai agraris, lingkungan, dan kewirausahaan.
Pendekatan Ogburn membantu menjelaskan bahwa terdapat cultural lag—nilai-nilai lama masih mengikuti laju ekonomi yang baru, menimbulkan ketegangan sosial pada awalnya. Pada 2025, Cikotok memperlihatkan pemulihan dengan didukung mitigasi kebijakan dan partisipasi lokal: penggunaan bekas tambang untuk wisata edukasi dan pengembangan ekonomi hijau. Transformasi ini belum sempurna, namun terus berkembang seiring waktu dan kebijakan pemerintah.
Referensi:
Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN). (n.d.). Berkah emas di hutan adat. https://aman.or.id/news/read/102
Cadangan tidak ekonomis, Antam tutup tambang Cikotok. (n.d.). Dunia Energi. https://www.dunia-energi.com/cadangan-tidak-ekonomis-antam-tutup-tambang-cikotok/
ejournal.unesa.ac.id. (n.d.). https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/paradigma/article/download/69587/50652/169420
Jejak tambang Cikotok. (n.d.). Majalah Tambang Online. https://www.tambang.co.id/jejak-tambang-cikotok
Pemprov Banten tutup tambang emas ilegal di Cikotok dan Citorek, Dimyati tegaskan tak ada bekingan. (n.d.). Jurnal Patroli News. https://jurnalpatrolinews.co.id/nasional/pemprov-banten-tutup-tambang-emas-ilegal-di-cikotok-dan-citorek/
Sensasi wisata edukasi bekas tambang emas Antam. (2023, Februari 7). Farah.id. https://www.farah.id/read/2023/02/07/11155/sensasi-wisata-edukasi-bekas-tambang-emas-antam
William F. Ogburn. (n.d.). Teori teknologi dan ketinggalan budaya (Cultural Lag). Sosiologi79. https://www.sosiologi79.com/2017/04/william-f-ogburn-teori-teknologi-dan.html

Post a Comment