Patologi Birokrasi dalam Korupsi Chromebook Kemendikbudristek: Tinjauan Teori Weber dan Merton

Table of Contents

Patologi Birokrasi dalam Korupsi Chromebook Kemendikbudristek
I. Pendahuluan

I.1. Latar Belakang Kasus Chromebook dan Ambisi Digitalisasi

Dugaan kasus korupsi pengadaan perangkat Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), khususnya laptop Chromebook, di lingkungan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) periode 2019 hingga 2022 merupakan studi kasus penting dalam menelaah patologi birokrasi dan administrasi publik modern di Indonesia. Program digitalisasi pendidikan yang digalakkan di masa pandemi COVID-19 bertujuan mulia untuk mempercepat pemerataan akses belajar. Rencana pengadaan perangkat TIK ini direncanakan menelan anggaran mencapai Rp 17,42 triliun hingga tahun 2024, di mana pada tahun 2021 saja, pemerintah menganggarkan sekitar Rp 3,7 triliun. Mayoritas anggaran ini, yaitu sekitar Rp 2,4 triliun (65%), berasal dari Dana Alokasi Khusus (DAK) fisik pendidikan, sementara sisanya (Rp 1,3 triliun) berasal dari anggaran Kemendikbudristek sendiri.

Besarnya skala anggaran dan kecepatan implementasi program ini, yang melibatkan pengadaan 1,2 juta unit Chromebook, telah menimbulkan kerugian negara yang diperkirakan mencapai Rp 1,98 triliun, menjadikannya cerminan nyata dari patologi birokrasi modern. Dugaan penyimpangan ini melibatkan mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Nadiem Anwar Makarim, yang telah ditetapkan sebagai tersangka oleh Kejaksaan Agung (Kejagung). Kasus ini juga memiliki irisan kuat dengan dugaan korupsi pengadaan layanan Google Cloud, di mana calon tersangka dalam kasus Google Cloud, termasuk NM dan mantan Staf Khusus Jurist Tan, identik dengan pihak yang diperiksa dalam skandal Chromebook. Kompleksitas dan besarnya kerugian ini menuntut analisis yang lebih dari sekadar dimensi hukum, melainkan juga dimensi sosiologis-struktural.

I.2. Kerangka Teoritis dan Struktur Argumentasi

Untuk menganalisis secara mendalam mekanisme korupsi struktural dalam kasus ini, laporan ini menggunakan dua pilar teori sosiologi organisasi:
1. Teori Birokrasi Max Weber (Ideal Type): Digunakan sebagai kerangka normatif untuk menetapkan standar rasionalitas, legalitas, hirarki, dan impersonalitas yang seharusnya dijalankan dalam birokrasi pengadaan publik.
2. Teori Disfungsi Birokrasi Robert K. Merton: Digunakan sebagai kerangka eksplanatif untuk mengidentifikasi bagaimana tekanan struktural dan fokus pada aturan (cara) menyebabkan penyimpangan berupa ritualisme dan substitusi tujuan (goal displacement), yang pada akhirnya berujung pada korupsi.

Argumentasi kunci yang dibangun dalam laporan ini adalah bahwa dugaan korupsi pengadaan Chromebook merupakan disfungsi laten yang timbul dari tegangan struktural. Pelanggaran terhadap prinsip-prinsip ideal Weberian, khususnya Impersonalitas dan Rasionalitas Hukum di tingkat elit kebijakan, menciptakan needs engineering (rekayasa kebutuhan) yang koruptif. Selanjutnya, tekanan pada implementasi (khususnya serapan DAK) mendorong Ritualisme dan Substitusi Tujuan Mertonian di tingkat pelaksana, sehingga mereka menjalankan prosedur tanpa mempedulikan hasil substantif.

II. Tipologi Ideal Max Weber: Benchmarking Birokrasi Pengadaan Publik

Birokrasi ideal menurut Max Weber dicirikan oleh otoritas rasional-legal, yang beroperasi berdasarkan aturan tertulis, impersonalitas, hirarki yang jelas, dan kompetensi teknis. Dalam konteks pengadaan barang dan jasa pemerintah, prinsip-prinsip ini harus menjadi dasar untuk menjamin efisiensi, akuntabilitas, dan pencegahan korupsi.

II.1. Rasionalitas Hukum dan Spesialisasi dalam Pengadaan

Prinsip Rasionalitas Hukum (berbasis aturan) menuntut bahwa setiap keputusan, terutama terkait pengeluaran anggaran besar, didasarkan pada peraturan formal yang berlaku (seperti Peraturan Presiden Nomor 16 Tahun 2018 jo. Perpres Nomor 12 Tahun 2021 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah). Selain itu, birokrasi ideal menuntut adanya spesialisasi atau pembagian kerja.

Dalam konteks Kemendikbudristek, penentuan spesifikasi teknis dan platform TIK seharusnya menjadi ranah unit kerja yang memiliki kompetensi teknis murni, yaitu Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin). Keputusan haruslah rasional, didasarkan pada analisis kebutuhan riil sekolah dan pertimbangan efisiensi, bukan atas dasar preferensi produk tertentu. Rasionalitas ini adalah fondasi untuk menghindari pemborosan anggaran.

II.2. Prinsip Impersonalitas dan Anti-Nepotisme

Impersonalitas adalah ciri fundamental birokrasi Weberian, di mana hubungan antar-pejabat dan interaksi dengan pihak luar (vendor) harus profesional, objektif, dan tanpa bias personal. Aturan harus diterapkan secara seragam kepada semua pihak (applied uniformly across all situations) untuk mencegah favoritism, nepotism, dan intervensi politik.

Prinsip ini sangat krusial dalam pengadaan publik. Proses tender dan penentuan spesifikasi teknis wajib bersifat terbuka, adil, dan netral. Kegagalan dalam menegakkan impersonalitas adalah gerbang utama bagi korupsi dan konflik kepentingan. Apabila otoritas politik atau karismatik (seperti Menteri atau Staf Khusus) mengintervensi ranah teknis untuk menentukan spesifikasi produk tertentu sebelum proses pengadaan dimulai, ini secara fundamental merusak otoritas rasional-legal.

II.3. Hirarki Otoritas dan Dokumentasi Tertulis

Birokrasi ideal ditandai oleh hirarki otoritas yang terstruktur, di mana alur komando dan pertanggungjawaban jelas. Menteri bertanggung jawab atas kebijakan makro (tujuan budaya), sementara unit di bawahnya bertanggung jawab atas pelaksanaan teknis (cara atau means). Kontrol imperatif birokrasi juga diwujudkan melalui dokumentasi tertulis, termasuk dokumen perencanaan dan pertanggungjawaban.

Meskipun sistem formal di Indonesia sudah sangat rinci (UU Tipikor, Perpres Pengadaan), kasus Chromebook menunjukkan bahwa keberadaan formalisasi yang kaku (bentuk Weberian) tidak menjamin integritas. Formalisasi hanya efektif jika para pejabat memegang teguh profesionalisasi dan akuntabilitas, bukan sebaliknya, menggunakan formalisasi sebagai alat untuk melegitimasi penyimpangan yang direkayasa di tingkat atas.

III. Pelanggaran Rasionalitas Weberian: Kesenjangan antara Ideal dan Realitas

Kasus dugaan korupsi pengadaan Chromebook memberikan bukti nyata tentang keruntuhan prinsip-prinsip ideal Weberian yang terjadi secara sistemik, terutama pada fase perencanaan kebijakan dan penetapan spesifikasi.

III.1. Pelanggaran Rasionalitas Hukum: Maladministrasi Kebijakan (Needs Engineering)

Inti dari pelanggaran rasionalitas dalam kasus ini terletak pada dugaan rekayasa kebutuhan (needs engineering). Investigasi Kejagung mengungkapkan bahwa Nadiem Makarim ditetapkan sebagai tersangka terkait perencanaan penggunaan produk Google dalam pengadaan TIK, padahal pengadaan secara formal belum dimulai.

Fenomena ini menunjukkan adanya pergeseran dari Rasionalitas Substantif (yaitu memilih teknologi terbaik yang paling efektif untuk tujuan pendidikan) ke Rasionalitas Instrumental yang Tersesat (memanfaatkan dan memanipulasi prosedur pengadaan untuk tujuan yang sudah ditentukan sebelumnya, yaitu produk Google tertentu). Spesifikasi teknis pengadaan yang seharusnya bersifat objektif dan universal, diubah atau "direkayasa untuk menyesuaikan dengan produk tertentu". Pelanggaran ini, yang terjadi di level kebijakan, menggerus legitimasi seluruh proses pengadaan dan menjadi pemicu utama kerugian negara sebesar Rp 1,98 triliun.

III.2. Pelanggaran Impersonalitas: Intervensi Politik di Ranah Teknis

Keterlibatan mantan menteri dan staf khusus, seperti Jurist Tan, dalam penentuan platform teknologi sejak dini merupakan bukti konkret kegagalan prinsip Impersonalitas Weberian. Ketika keputusan teknis, yang seharusnya murni berdasarkan merit dan kompetensi, ditarik ke dalam ranah otoritas karismatik atau politik, transparansi dan keadilan proses pengadaan akan runtuh.

Meskipun kuasa hukum NM berdalih bahwa keputusan penggunaan layanan Google Cloud dan proses pengadaan adalah ranah operasional teknis Kemendikbudristek yang berada di bawah kewenangan Pusdatin, fakta penetapan NM sebagai calon tersangka/tersangka terkait perencanaan penggunaan produk spesifik menunjukkan adanya intervensi di tingkat pengambilan kebijakan tertinggi. Intervensi ini menciptakan politisasi spesifikasi, di mana hubungan personal atau preferensi elit menggantikan aturan formal.

III.3. Degradasi Hirarki dan Kompetensi Teknis

Kasus ini memperlihatkan kekaburan garis batas Hirarki Otoritas Weberian. Apabila menteri/elit politik mencampuri detail teknis (spesifikasi), dan unit teknis (Pusdatin) dipaksa mengesahkan keputusan yang direkayasa, maka terjadi degradasi kompetensi profesional. Birokrat teknis kehilangan otonomi untuk bertindak berdasarkan keahlian mereka, dan sebaliknya, berfungsi hanya sebagai stempel administratif untuk memuluskan kebijakan yang sudah diputuskan secara politik.

Table 1 di bawah merangkum pelanggaran Weberian pada berbagai tahapan pengadaan:
Ringkasan Garis Waktu dan Status Hukum Kasus Pengadaan Chromebook

Ringkasan Garis Waktu dan Status Hukum Kasus Pengadaan Chromebook

IV. Analisis Mertonian: Patologi Struktural sebagai Sumber Korupsi

Max Weber menjelaskan struktur ideal, sementara Robert K. Merton menjelaskan bagaimana struktur ideal tersebut dapat menghasilkan disfungsi, terutama melalui ritualisme dan substitusi tujuan (goal displacement). Disfungsi ini timbul ketika birokrasi mengalami ketegangan struktural (strain) antara tujuan budaya (visi pendidikan digital yang sukses) dan cara kelembagaan yang tersedia (prosedur pengadaan dan tekanan serapan anggaran).

IV.1. Ritualisme Birokratis: Menghayati Cara, Menolak Tujuan

Ritualisme dalam konteks birokrasi, yang merupakan modifikasi dari Teori Ketegangan Merton, terjadi ketika birokrat menolak atau mengabaikan tujuan substantif organisasi (cultural goals) tetapi terus berpegang teguh pada cara atau prosedur kelembagaan (institutionalized means).

Dalam kasus Chromebook, birokrasi Kemendikbudristek menunjukkan keberhasilan dalam aspek means: data BPK menunjukkan 97% Chromebook telah terdistribusikan. Kepatuhan ini adalah bentuk kepatuhan prosedural atau ritualisme. Birokrat pelaksana telah memenuhi prosedur administrasi pengadaan dan distribusi. Namun, ends atau tujuan substantif—yaitu peningkatan kualitas dan pemerataan pendidikan—gagal dicapai, karena banyak perangkat didistribusikan ke 12.548 lokasi desa yang belum terjangkau akses internet.

Kepatuhan yang berlebihan pada prosedur formal ini, bahkan ketika hasilnya jelas tidak fungsional (seperti mengirim laptop ke sekolah tanpa listrik/internet), adalah patologi birokratis. Pelaksana menjalankan prosedur administrasi (Ritualisme) untuk menghindari sanksi administratif (misalnya, gagal serap DAK), meskipun mengetahui bahwa tindakan tersebut akan menghasilkan disfungsi laten (pemborosan anggaran dan kegagalan program).

IV.2. Substitusi Tujuan (Goal Displacement): Anggaran sebagai Tujuan Utama

Tekanan struktural yang paling akut dalam kasus ini adalah tuntutan penyerapan anggaran yang tinggi dan cepat, terutama yang berasal dari Dana Alokasi Khusus (DAK). DAK memiliki batas waktu serapan yang ketat. Ketegangan ini memicu mekanisme Substitusi Tujuan (Goal Displacement).

Secara ideal, tujuan utama (goal) Kemendikbudristek adalah memastikan infrastruktur digital yang merata dan efektif. Namun, di bawah tekanan DAK, tujuan ini digantikan oleh tujuan instrumental yang lebih mudah diukur secara internal: memastikan DAK terserap 100% dan terdistribusi tepat waktu. Anggaran, yang seharusnya menjadi alat (means) untuk mencapai visi pendidikan, justru menjadi tujuan itu sendiri (goal). Pergantian tujuan ini memaksa birokrasi untuk mengabaikan analisis kebutuhan yang cermat dan uji coba implementasi, yang menurut ICW, harusnya menjadi proses penting sebelum pengadaan besar-besaran.

IV.3. Disfungsi Laten dan Konsekuensi Tak Terduga

Disfungsi Mertonian merujuk pada konsekuensi yang tidak diinginkan dan negatif (unintended and negative) dari suatu struktur sosial. Dalam kasus ini, tujuan yang dinyatakan secara manifest adalah transformasi digital pendidikan yang efisien (Fungsi Manifest). Namun, kegagalan struktural (politisasi spesifikasi dan tekanan DAK) menghasilkan Disfungsi Laten:
1. Korupsi dan Kerugian Negara: Kerugian finansial yang masif (Rp 1,98 T).
2. Inefisiensi dan Pemborosan: Distribusi perangkat TIK ke lokasi yang tidak siap secara infrastruktur.
3. Hilangnya Kepercayaan Publik: Kegagalan program digitalisasi dalam mencapai tujuan awalnya.

Konsekuensi tak terduga yang paling ironis adalah bahwa program yang dirancang untuk mengatasi ketimpangan akses pendidikan justru menghasilkan inefisiensi dan memperlebar kesenjangan antara ketersediaan perangkat dan kesiapan infrastruktur. Korupsi ini bukan sekadar tindakan individu yang menyimpang, melainkan respons yang dapat diprediksi (expectable response) dari birokrasi yang berada di bawah ketegangan struktural yang akut.

Table 2: Kerangka Analisis Kausal: Hubungan Weberian Ideal, Mertonian Dysfunction, dan Patologi Kasus

Table Kerangka Analisis Kausal: Hubungan Weberian Ideal, Mertonian Dysfunction, dan Patologi Kasus

V. Sintesis dan Argumentasi Logis: Dialektika Ideal dan Patologi

V.1. Keterhubungan Kausal: Dari Politisasi hingga Ritualisme

Kasus dugaan korupsi Chromebook membuktikan bahwa patologi birokrasi skala besar adalah proses kausal berjenjang. Pelanggaran bermula dari puncak hirarki melalui degradasi prinsip Weberian:
1. Degradasi Impersonalitas: Keputusan strategis terkait platform digital (penggunaan ekosistem Google, yang melibatkan Chromebook dan Google Cloud) ditentukan di tingkat elit. Hal ini merupakan intervensi politik yang menghilangkan objektivitas pengadaan (pelanggaran Impersonalitas). Politisasi ini menghasilkan Korupsi Platform-Sentris di mana pengadaan perangkat keras dan layanan (bundling) diarahkan ke vendor tertentu.
2. Penciptaan Strain Struktural: Intervensi ini dipadukan dengan tekanan struktural untuk menyerap anggaran DAK yang besar dalam waktu singkat.
3. Munculnya Disfungsi Mertonian: Birokrat pelaksana, dihadapkan pada spesifikasi yang sudah dimanipulasi (rekayasa kebutuhan) dan tekanan serapan dana, merespons dengan Substitusi Tujuan—mengganti tujuan kualitas substantif dengan tujuan administratif kuantitatif (penyerapan 100% dan distribusi 97%).

Oleh karena itu, korupsi Chromebook adalah hasil dialektika antara idealitas Weberian yang kaku dan tekanan politik/finansial yang ekstrem. Birokrasi yang idealnya rasional, justru menghasilkan penyimpangan ketika otoritas rasional-legalnya dicemari oleh otoritas karismatik/personal dari elit politik.

V.2. Krisis Otoritas dan Akuntabilitas

Dugaan keterlibatan mantan menteri dan staf khusus dalam perencanaan menimbulkan krisis akuntabilitas karena terjadi pencampuran yang merusak antara otorisasi kebijakan dan intervensi teknis operasional. Penetapan NM sebagai tersangka terkait perencanaan penggunaan produk Google menunjukkan kegagalan fundamental dalam menegakkan sistem meritokrasi dan profesionalisasi (Prinsip Kompetensi Teknis Weberian) di mana pejabat teknis dipaksa untuk mengesahkan kebijakan yang sudah dipolitisasi.

Upaya kuasa hukum NM untuk mengalihkan tanggung jawab ke ranah operasional Pusdatin  adalah indikasi bagaimana hirarki digunakan sebagai mekanisme untuk mengaburkan tanggung jawab politik. Namun, dalam model rasional-legal, menteri tetap memegang tanggung jawab tertinggi atas keberlangsungan sistem dan penegakan prinsip rasionalitas dalam kementerian.

VI. Kesimpulan dan Rekomendasi Pencegahan Korupsi

VI.1. Diagnosis dan Kesimpulan Utama

Analisis terhadap dugaan korupsi pengadaan Chromebook di Kemendikbudristek menunjukkan bahwa kasus ini merupakan manifestasi dari Patologi Birokrasi Kategori Disfungsi Ganda.

Kesimpulan Diagnosis:
1. Keruntuhan Rasionalitas dan Impersonalitas Weberian di Tingkat Puncak: Korupsi bermula dari needs engineering dan politisasi spesifikasi (penentuan produk/platform Google) yang melanggar prinsip Rasionalitas Hukum dan Impersonalitas. Intervensi elit politik ini merusak proses tender yang adil dan terbuka.
2. Penguatan Disfungsi Mertonian di Tingkat Implementasi: Tekanan untuk menyerap anggaran DAK (Strain Struktural) memaksa birokrat pelaksana melakukan Substitusi Tujuan, mengutamakan penyerapan dana di atas efektivitas pendidikan, yang dieksekusi melalui Ritualisme Birokratis (distribusi perangkat tanpa memastikan kesiapan infrastruktur).

Secara sosiologis, korupsi dalam kasus ini adalah produk akhir dari kegagalan sistem kontrol birokrasi dalam menahan strain yang timbul dari ambisi politik yang didorong oleh dana besar, yang pada akhirnya menghasilkan kerugian negara sebesar Rp 1,98 triliun.

VI.2. Rekomendasi Administratif dan Kebijakan

Berdasarkan temuan patologi struktural, diperlukan reformasi yang menyeimbangkan antara Rasionalitas Weberian (aturan dan merit) dan pencegahan Disfungsi Mertonian (kelebihan kepatuhan/pengabaian tujuan):
1. Penerapan Firewall Impersonalitas Ketat pada Zona Politik-Teknis: Diperlukan regulasi yang secara eksplisit membatasi kewenangan Staf Khusus dan Pejabat Politik untuk mengintervensi penentuan spesifikasi teknis dan platform digital dalam pengadaan TIK. Keputusan teknis harus dikembalikan secara penuh kepada unit teknis yang kompeten (Pusdatin), yang diwajibkan bekerja berdasarkan prinsip meritokrasi dan objektivitas data.
2. Reformasi Mekanisme Anggaran (DAK) untuk Mengurangi Structural Strain: Untuk mencegah Substitusi Tujuan, mekanisme DAK harus direformasi. Fleksibilitas waktu penyerapan dan kriteria keberhasilan DAK harus diubah dari hanya mengukur kuantitas penyerapan menjadi mengukur dampak substantif (kualitas implementasi dan kesiapan infrastruktur pendukung). Hal ini akan mengurangi insentif bagi birokrat untuk melakukan Ritualisme yang merugikan.
3. Penguatan Rasionalitas Substantif melalui Audit Independen: Menerapkan sistem check and balance independen yang mewajibkan audit kebutuhan riil dan uji coba implementasi di sekolah dengan karakteristik beragam sebelum melakukan pengadaan massal. Hal ini memastikan Rasionalitas Hukum didasarkan pada kebutuhan lapangan yang objektif, bukan rekayasa internal.
4. Penegasan Akuntabilitas Hirarki: Kejadian seperti ini menegaskan pentingnya akuntabilitas manajerial. Pejabat setingkat Menteri harus bertanggung jawab penuh (secara politis dan hukum) atas kegagalan menegakkan prinsip-prinsip Rasionalitas dan Impersonalitas di seluruh rantai komando, terutama ketika intervensi datang dari lingkungan personal mereka. Pembangunan birokrasi yang sehat hanya dapat dicapai dengan menyeimbangkan rasionalitas Weberian (aturan dan merit) dan nilai moral pelayanan publik (etika dan integritas).

Sumber:

Analisis Skandal Chromebook Kemendikbudristek: Perspektif integritas, transparansi, dan konflik kepentingan dalam pengadaan barang publik. (2025, November 23). Kompasiana. https://www.kompasiana.com/muhammadreza7588/68543ea134777c21dd318352/analisis-skandal-chromebook-kemendikbudristek-perspektif-integritas-transparansi-dan-konflik-kepentingan-dalam-pengadaan-barang-publik?page=2&page_images=1

Birokrasi dan struktur kekuasaan dalam organisasi pendidikan modern: dengan pendekatan Max Weber. (2025, November 23). Journal Concept. https://journal-stiayappimakassar.ac.id/index.php/Concept/article/download/790/844/2396

Bureaucracy – Six principles of Max Weber. (2025, November 23). Think Insights. https://thinkinsights.net/strategy/bureaucracy-six-principles-max-weber

Characteristics of an ideal bureaucracy. (2025, November 23). Khan Academy. https://www.khanacademy.org/test-prep/mcat/individuals-and-society/social-interactions/v/characteristics-of-an-ideal-bureaucracy

Jurnal Justitia Sri Lailani. (2025, November 23). Scribd. https://id.scribd.com/document/875409191/Jurnal-Justitia-Sri-Lailani

Kasus korupsi Google Cloud masuki babak baru, KPK ungkap irisan kuat dengan skandal Chromebook. (2025, November 23). Klik Anggaran. https://www.klikanggaran.com/peristiwa/11516277457/kasus-korupsi-google-cloud-masuki-babak-baru-kpk-ungkap-irisan-kuat-dengan-skandal-chromebook?page=2

Kejagung gali kronologi pengadaan laptop Chromebook dari staf khusus Nadiem. (2025, November 23). Tempo. https://www.tempo.co/hukum/kejagung-gali-kronologi-pengadaan-laptop-chromebook-dari-staf-khusus-nadiem-1685893

KPK ungkap Nadiem Makarim calon tersangka kasus Google Cloud. (2025, November 23). Antara News Mataram. https://mataram.antaranews.com/berita/506969/kpk-ungkap-nadiem-makarim-calon-tersangka-kasus-google-cloud

Kronologi kasus Chromebook: Penetapan 4 tersangka dan nasib Nadiem. (2025, November 23). Tempo. https://www.tempo.co/hukum/kronologi-kasus-chromebook-penetapan-4-tersangka-dan-nasib-nadiem-2015538

Kuasa hukum sebut Nadiem Makarim tak terlibat pengadaan Google Cloud. (2025, November 23). Schoolmedia. https://schoolmedia.id/artikel/1001/kuasa-hukum-sebut-nadiem-makarim-tak-terlibat-pengadaan-google-cloud

Merton, R. K. (1968). Social theory and social structure (Enlarged ed.). The Free Press.

Merton’s dysfunctions of bureaucracies. (2025, November 23). EBSCO Research Starters. https://www.ebsco.com/research-starters/social-sciences-and-humanities/mertons-dysfunctions-bureaucracies

Menyoal pengadaan perangkat TIK untuk digitalisasi pendidikan. (2025, November 23). ICW. https://antikorupsi.org/id/menyoal-pengadaan-perangkat-tik-untuk-digitalisasi-pendidikan

Modul pengembangan keprofesian berkelanjutan. (2025, November 23). Repositori Kemendikdasmen. https://repositori.kemendikdasmen.go.id/5949/1/KK%20F.pdf

Nadiem Makarim bantah terlibat korupsi Chromebook. (2025, November 23). Times Indonesia. https://timesindonesia.co.id/peristiwa-nasional/553197/nadiem-makarim-bantah-terlibat-korupsi-chromebook

Patologi birokrasi kelompok 9. (2025, November 23). Scribd. https://id.scribd.com/document/944040781/Patologi-Birokrasi-Kelompok-9

Pekerjaan rumah Kemendikbud Ristek sebelum adakan perangkat TIK Rp 3,7 triliun. (2025, November 23). ICW. https://antikorupsi.org/id/article/pekerjaan-rumah-kemendikbud-ristek-sebelum-adakan-perangkat-tik-rp-37-triliun

Perkiraan kerugian Rp1,98 triliun, program digitalisasi pendidikan Kemendikbudristek ajukan pengadaan 1,2 juta Chromebook. (2025, November 23). Story Kejaksaan. https://story.kejaksaan.go.id/hot-issue/perkiraan-kerugian-rp198-triliun-program-digitalisasi-pendidikan-kemendikbudristek-ajukan-pengadaan-12-juta-chromebook-mvk.html

Prinsip-prinsip dasar rasionalisasi birokrasi Max Weber. (2025, November 23). Journal Unhas. https://journal.unhas.ac.id/index.php/jakpp/article/download/17/17

Sistem sosial budaya. (2025, November 23). Petra Repository. https://repository.petra.ac.id/21015/1/Publikasi1_85005_10604.pdf

Theory of ritualism by Robert Merton. (2025, November 23). ThoughtCo. https://www.thoughtco.com/ritualism-3026527

Analisis teori sosial dan struktur sosial Robert K. Merton. (2025, November 23). Sosiologi79. https://www.sosiologi79.com/2025/08/analisis-teori-sosial-dan-struktur.html

Weber, M. (1978). Economy and society: An outline of interpretive sociology (G. Roth & C. Wittich, Eds.). University of California Press. (Original work published 1922)

Aletheia Rabbani
Aletheia Rabbani “Barang siapa yang tidak mampu menahan lelahnya belajar, maka ia harus mampu menahan perihnya kebodohan” _ Imam As-Syafi’i

Post a Comment