Multiple Modernities Shmuel Eisenstadt: Modernitas, Pluralisme Peradaban, dan Analisis Teori

Table of Contents

buku Multiple Modernities karya Shmuel Eisenstadt
I. Pendahuluan dan Latar Belakang Intelektual (Contextualizing the Shift)

A. Konteks Kemunculan Teori Modernitas Ganda (MM)

Teori "Multiple Modernities" (MM) yang dikembangkan oleh sosiolog historis komparatif terkemuka, Shmuel N. Eisenstadt, muncul sebagai respons krusial terhadap ketidakmampuan kerangka teoritis klasik untuk menjelaskan kompleksitas masyarakat global kontemporer. MM bertujuan untuk mengkarakterisasi masyarakat modern di tengah dunia yang semakin rumit, di mana globalisasi tidak serta-merta menghasilkan homogenisasi, melainkan memunculkan jalur perkembangan yang beragam.

Landasan utama tesis ini dipublikasikan pertama kali dalam edisi khusus jurnal Daedalus pada tahun 2000 dan kemudian dikembangkan dalam volume suntingan tahun 2002 berjudul Multiple Modernities. MM berpendapat bahwa modernitas adalah fenomena global yang secara analog menyebar layaknya agama-agama dunia, tetapi proses ini termaterialisasi di berbagai tempat dengan cara yang berbeda-beda.

B. Dekonstruksi Narasi Modernisasi Klasik: Kritik terhadap Unilinearitas dan Eurosentrisme

MM secara fundamental menantang asumsi sosiologi klasik (Marxis, Weberian, dan Durkheimian) yang memandang modernitas sebagai proses evolusi linear, tunggal, dan tak terhindarkan menuju konvergensi global.

Pertama, MM menolak penekanan konvensional pada primasi sistem ekonomi sebagai substruktur masyarakat. Sebaliknya, MM menyoroti dimensi budaya modernitas sebagai penentu utama diferensiasi. Model modernisasi klasik berasumsi bahwa rasionalisasi yang meningkat akan menghasilkan kemunduran agama (sekularisasi), menganggap agama sebagai faktor yang reaksioner dan tidak relevan di ranah politik dan publik. Namun, revitalisasi agama pasca-Perang Dingin, seperti munculnya gerakan postsekuler pada akhir abad ke-20 (misalnya, Revolusi Islam Iran atau kebangkitan evangelikalisme Kristen di AS), secara tegas membantah ramalan sekularisasi ini.

Kedua, teori modernisasi klasik dikritik karena bias Eurosentris yang kuat. Generalisasi teori ini tidak didasarkan pada bukti empiris global, melainkan diturunkan dari pengalaman sejarah spesifik Eropa, seperti konsolidasi negara-negara sentralistik pasca Perdamaian Westphalia (1648), Revolusi Prancis (1789), dan bangkitnya saintifikasi setelah Darwin (1859). Krisis besar pasca-Perang Dunia II, khususnya kebangkitan komunisme, memperjelas bahwa modernitas dan Westernisasi bukanlah identik. Dalam banyak masyarakat terindustrialisasi, konvergensi budaya yang diprediksi gagal terwujud; sebaliknya, muncul berbagai variasi radikal dalam proses modernisasi.

C. Analisis Kritis terhadap Kegagalan Prediksi Sosiologi Klasik

Penerimaan tesis MM menandai pergeseran substansial dalam teori global. Sosiologi abad ke-20 didominasi oleh prediksi homogenisasi yang didorong oleh kekuatan industri dan pasar. Namun, ketika fenomena global, seperti munculnya model kapitalisme Asia Timur yang berbeda atau kebangkitan kembali kekuatan spiritual non-Barat, secara tegas membantah narasi konvergensi, dibutuhkan kerangka baru.

Eisenstadt merespons dengan mengalihkan fokus dari determinisme struktural (ekonomi) ke dimensi budaya. Perbedaan budaya yang mendalam, yang diwarisi dari warisan peradaban kuno, menjadi faktor penentu diferensiasi modernitas. MM menempatkan modernitas tidak sebagai hasil akhir yang homogen, melainkan sebagai proyek yang ambivalen, yang terus-menerus terbuka untuk reinterpretasi oleh agen sosial. Modernitas yang dipahami Eisenstadt adalah tentang pluralitas dan divergensi institusional.

D. Tabel Komparatif I: Perbandingan Teori Modernisasi Klasik dan Tesis Modernitas Ganda

Teori Modernitas Ganda menawarkan kontras yang jelas dengan pendahulunya:
Tabel 1: Perbandingan Teori Modernisasi Klasik dan Tesis Modernitas Ganda

Tabel Perbandingan Teori Modernisasi Klasik dan Tesis Modernitas Ganda

II. Landasan Filosofis dan Program Budaya Modernitas (The Cultural Program of Modernity)

A. Definisi Modernitas Eisenstadt: Visi Budaya dan Bentuk Peradaban

Bagi Eisenstadt, modernitas adalah lebih dari sekadar seperangkat institusi politik atau ekonomi (seperti pasar bebas atau negara-bangsa). Modernitas adalah bentuk budaya atau visi budaya yang, meskipun berasal dari Barat, telah menyebar secara global.

Inti dari visi ini adalah ide fundamental bahwa dunia "terbuka untuk transformasi oleh intervensi manusia". Ini mengimplikasikan adanya kemampuan manusia untuk secara sadar membentuk kembali realitas, menolak pandangan bahwa masa depan hanyalah pengulangan masa lalu, sebagaimana yang diyakini dalam masyarakat tradisional. Modernitas menciptakan refleksi baru dan independen mengenai fondasi ontologis masyarakat, memposisikannya sebagai konstruksi manusia yang sadar.

B. Program Budaya Modernitas: Otonomi Manusia dan Kebebasan

Program budaya modernitas dibangun di atas konsep inti otonomi manusia. Kerangka tindakan modernitas dicirikan oleh peningkatan kebebasan, yang diidentifikasi sebagai "unsur normatif yang membimbing dari program budaya modernitas".

Konsep ini menekankan peran agen sosial. Tesis MM dikonseptualisasikan sebagai pendekatan yang berfokus pada agensi (agency-focused), yang berusaha menjelaskan masalah keragaman budaya. Agen sosial secara terus-menerus merujuk pada diri mereka sendiri dalam kaitannya dengan visi kosmologis modern dan premis institusionalnya. Kegiatan referensial semacam ini dianggap sebagai bukti perkembangan dan dinamika modern.

C. Mekanisme Kristalisasi Kelembagaan (Institutional Crystallization)

Perwujudan diferensiasi modernitas terjadi melalui proses yang disebut kristalisasi kelembagaan. Proses ini melibatkan interaksi antara visi budaya modernitas yang universal (berasal dari Barat) dan konstelasi kelembagaan serta program budaya lokal yang sudah ada. Ketegangan yang timbul dari interaksi ini menghasilkan suatu proses di mana interpretasi visi budaya modernitas terus-menerus didirikan, didirikan kembali, dan dimediasi oleh otonomi agen sosial.

Dalam proses kristalisasi ini, tradisi memainkan peran ganda. Tradisi tidak hanya berfungsi sebagai simbol kesinambungan, tetapi juga menentukan batas-batas yang sah dari kreativitas dan inovasi di era modern. Tradisi menyediakan matriks interpretatif, yang menghasilkan respon kelembagaan lokal yang bervariasi dari masyarakat ke masyarakat. Konsep Weber tentang Wirtschaftsethik (etika ekonomi) menggambarkan "sistem self-propelling" di mana epistemologi membentuk realitas institusional, dan konsep ini bermanifestasi dalam berbagai modernitas melalui pemahaman globalisasi sebagai interaksi yang terbuka terhadap interpretasi.

D. Modernitas sebagai Pergulatan Ontologis dan Dinamika Internal

Pemahaman tentang modernitas sebagai program budaya yang mendalam mengungkapkan dinamika yang lebih radikal. Meskipun modernitas Barat berfungsi sebagai titik referensi yang "krusial (dan biasanya ambivalen)" bagi yang lain, respons terhadapnya tidak selalu berupa penerimaan.

Gerakan yang secara eksplisit anti-Barat, misalnya, dapat dianggap sebagai bagian tak terpisahkan dari visi peradaban modern. Hal ini terjadi karena, untuk melawan konsepsi modern, gerakan-gerakan ini terpaksa mengadopsi premis budaya modernitas itu sendiri—yaitu, ide tentang kapasitas rasional manusia. Jika mereka menolak premis inti otonomi dan rasionalitas, argumen mereka akan cacat. Oleh karena itu, modernitas adalah kerangka global di mana reinterpretasi dan bahkan penolakan terjadi, yang semuanya memperkuat keragaman dalam konteks visi bersama. Globalisasi, dalam pandangan ini, adalah interaksi budaya yang jauh melampaui batas-batas institusional, seperti negara-bangsa, sambil mempertahankan keragaman yang terus tumbuh.

III. Peran Peradaban Kuno: Modernitas sebagai "Zaman Aksial Kedua"

A. Konsep Zaman Aksial dan Relevansinya

Untuk memahami keragaman modernitas, Eisenstadt berfokus pada warisan historis mendalam, terutama konsep Zaman Aksial (Axial Age). Konsep ini, yang dicetuskan oleh Karl Jaspers, merujuk pada periode sekitar milenium pertama SM di mana muncul perubahan filosofis dan keagamaan besar di berbagai lokasi (seperti Yunani, India, Tiongkok). Periode ini ditandai oleh munculnya mode berpikir yang menguniversalkan dan refleksi kritis yang intens, yang menghasilkan kristalisasi budaya utama.

Eisenstadt melangkah lebih jauh dengan mengemukakan bahwa modernitas, khususnya abad ke-20 dan ke-21, dapat dianggap sebagai Zaman Aksial Kedua. Hal ini menunjukkan bahwa diferensiasi radikal yang diamati dalam modernitas tidak terjadi secara kebetulan, tetapi berakar pada premis-premis budaya yang dibangun selama Zaman Aksial pertama. Peradaban-peradaban Aksial (seperti Islam, India, Konfusianisme) membangun kerangka interpretatif (interpretive matrices) yang mendefinisikan hubungan antara manusia, kosmos, dan masyarakat. Kerangka-kerangka inilah yang menentukan cara agen sosial dalam peradaban tersebut menanggapi dan menginstitusionalkan program budaya modernitas.

B. Bukti Kontrarian: Modernitas Amerika sebagai Kasus Uji MM

Sebuah temuan penting yang memperkuat tesis MM adalah bahwa modernitas ganda tidak hanya terjadi di masyarakat non-Barat sebagai reaksi terhadap hegemoni Eropa. Pola-pola modernitas yang berbeda dan radikal, yang secara signifikan berbeda dari yang ada di Eropa, muncul pertama kali di Amerika (Amerika Utara, Kanada, Amerika Latin).

Wilayah-wilayah ini berkembang dalam kerangka kelembagaan dan budaya Barat. Namun, alih-alih mengulangi pola Eropa, mereka mengembangkan pola kelembagaan dan ideologis yang benar-benar baru. Kristalisasi modernitas di Amerika membuktikan bahwa bahkan dalam kerangka peradaban Barat yang luas, diferensiasi radikal terjadi. Ini menegaskan bahwa MM adalah tentang dinamika inheren program modernitas itu sendiri—yaitu kecenderungan bawaannya untuk menghasilkan diferensiasi ketika program tersebut mengkristal secara kelembagaan di tengah berbagai kondisi sejarah. Kristalisasi modernitas di Amerika bahkan mungkin merupakan kristalisasi peradaban baru sejak Zaman Aksial pertama.

IV. Tipologi Modernitas Ganda: Analisis Kasus Komparatif dan Contoh Empiris

Buku Multiple Modernities (2002) mengeksplorasi makna modernitas dalam berbagai konteks, termasuk Rusia Komunis, India, dunia Muslim, Amerika Latin, Tiongkok dan Asia Timur, serta Amerika Serikat. Kontribusi dari para ahli di bidang ini menguraikan bagaimana warisan budaya membentuk pola modernitas yang khas.

A. Modernitas Islam (The Muslim World)

Dunia Muslim menawarkan contoh pergulatan interpretatif yang intensif. Studi kasus seperti yang disajikan oleh Nilüfer Göle menunjukkan bahwa modernitas di dunia Muslim diinisiasi oleh reformis Muslim non-negara, elit penguasa, dan administrator kolonial. Proses ini penuh dengan kontradiksi dan divergensi.

Di Indonesia, misalnya, modernitas Jawa termanifestasi dalam atmosfer antar-agama yang bergejolak dan wacana kritis-rasional tentang agama dan tradisi. Pergulatan terjadi antara Muslim Jawa yang ingin mereformasi Islam versus aktivis Muslim Jawa yang mempraktikkan Islam mistik (kejawen). Pergulatan ini membentuk dinamika sosial dan politik, termasuk hubungan Muslim-Kristen di Indonesia. Sejak masa kolonial hingga era Reformasi, kedua kelompok telah merasakan ancaman bersama, yang memicu ketegangan yang menguji motto nasional Bhinneka Tunggal Ika (Kesatuan dalam Keragaman). Ancaman yang dirasakan ini, mulai dari evangelisasi hingga munculnya radikalisme, menunjukkan bagaimana dinamika politik secara signifikan memengaruhi kualitas hubungan antar-agama di tengah modernisasi.

B. Modernitas Asia Timur (Konfusianisme)

Kajian mengenai Asia Timur, khususnya kontribusi Tu Weiming, menyoroti implikasi kebangkitan "Konfusianisme" dalam modernitas. Model modernitas di wilayah ini secara langsung membantah asumsi Barat bahwa modernisasi akan membuat keragaman budaya tidak relevan.

Tradisi Konfusianisme—yang menekankan kolektivitas, tatanan hierarkis, dan pemerintahan yang bijak—terus berlanjut dan membantu membentuk proses modernisasi di Asia Timur. Kapitalisme yang dipimpin negara di Asia Timur, yang mencerminkan pengalaman pembangunan manusia dan yang berbeda dari konsensus Anglo-Amerika (Washington Consensus), merupakan kristalisasi kelembagaan unik yang memanfaatkan modal budaya Konfusian. Dengan kata lain, tradisi spiritual non-Barat berperan krusial dalam membentuk hasil modernisasi.

C. Modernitas India

India, dengan warisan pluralisme Aksial yang sangat tua, menyediakan kasus yang kompleks. Di wilayah ini, berbagai peradaban Aksial (Hindu, Islam, Jainisme, Zoroastrianisme) terus eksis dan berinteraksi secara beragam.

Sudipta Kaviraj membahas modernitas dan politik di India. Modernitas India tidak dapat dipahami hanya sebagai respons terhadap Barat, melainkan sebagai interaksi yang kompleks di mana teknologi dan ide modern berinteraksi dengan formasi tradisi yang sudah ada sebelumnya. Dalam konteks sosial, seperti pendidikan perempuan di kelas menengah perkotaan, modernitas menyebabkan perubahan struktural sambil mempertahankan aspek-aspek sistem nilai tradisional. Tradisi dan nilai modern tidak hanya bertentangan, tetapi sering kali "terpecah-pecah" (fractured) dan terjalin dalam jaring interaksi yang kompleks, yang menghasilkan reproduksi dan transformasi struktur sosial secara simultan.

D. Tabel Komparatif II: Ringkasan Kristalisasi Modernitas di Berbagai Peradaban

Tabel 2: Interpretasi dan Kristalisasi Modernitas di Berbagai Peradaban

Tabel Interpretasi dan Kristalisasi Modernitas di Berbagai Peradaban

V. Evaluasi Kritis dan Debat Akademik Terhadap Tesis MM

Meskipun kontribusinya besar, tesis Multiple Modernities tidak luput dari kritik akademis, terutama dari perspektif antropologi dan teori sosial.

A. Kritik Metanaratif dan Etnografi (Englund dan Leach)

Kritik signifikan dilontarkan oleh Harri Englund dan James Leach, yang menuduh MM sebagai narasi modernisasi dalam penyamaran antropologis (modernization narrative in anthropological disguise). Meskipun para pendukung MM mengklaim bahwa teori ini mengakomodasi pluralitas perkembangan manusia, para kritikus berpendapat bahwa MM hanya menawarkan "meta-narasi" baru yang cenderung menggantikan penyelidikan teoretis yang seharusnya didasarkan pada penelitian etnografi jangka panjang.

Menurut pandangan ini, MM berisiko memaksakan abstraksi sosiologis familiar dari masyarakat metropolitan (seperti individualisasi, disorientasi waktu-ruang, atau disenchantment) ke dalam konteks lokal non-Barat. Proses analitis ini dianggap merongrong keunikan metode etnografi—yaitu sifat refleksivitasnya yang memberikan otoritas kepada subjek penelitian dalam menentukan konteks kepercayaan dan praktik mereka.

Terdapat ketegangan mendasar antara kebutuhan Eisenstadt, sebagai sosiolog komparatif makro, untuk mempertahankan kerangka universal yang kuat (program budaya otonomi) guna memungkinkan perbandingan peradaban, dan kebutuhan antropologi untuk mempertahankan otoritas interpretatif agen sosial lokal. Dengan mempertahankan program inti modernitas sebagai titik referensi universal, MM berisiko mengkategorikan keragaman sebagai variasi dari tema Barat, meskipun secara eksplisit berusaha menolaknya.

B. Kritik Konseptual: Defisit Definisi Modernitas

Kritik lain berfokus pada kejelasan konseptual dari modernitas itu sendiri dalam kerangka MM. Beberapa pengamat akademis berpendapat bahwa literatur tentang modernitas ganda kurang memberikan definisi modernitas yang jelas atau proposal alternatif yang substansial.

Sebaliknya, MM dianggap sangat bergantung pada pengertian modernitas yang implisit. Ketika diteliti lebih dekat, pengertian implisit ini ternyata sangat mirip, meskipun "lebih tipis" (thinner), dengan yang mendasari sebagian besar karya teori modernisasi yang coba ditolaknya. Kurangnya definisi yang kokoh menimbulkan ambiguitas mengenai batas antara yang modern dan yang tradisional, padahal interaksi keduanya adalah pusat analisis MM. Kritikus berpendapat bahwa MM efektif dalam menjarakkan diri dari pandangan yang paling tidak disukai dari teori modernisasi, tetapi gagal menawarkan kerangka pembanding yang sepenuhnya independen.

VI. Kesimpulan: Kontribusi dan Relevansi Modernitas Ganda

A. Sumbangan Krusial MM terhadap Sosiologi Global

Tesis Multiple Modernities Shmuel N. Eisenstadt mewakili titik balik penting dalam teori sosial global. Kontribusi utamanya adalah menyediakan legitimasi teoritis yang kuat terhadap divergensi kelembagaan di era globalisasi. MM secara definitif menolak pandangan bahwa keragaman budaya dan institusional adalah anomali sementara yang akan terkikis oleh tekanan pasar dan teknologi global. Sebaliknya, MM menegaskan bahwa keragaman adalah hasil yang sah dan berkelanjutan dari proses kristalisasi yang unik.

Dengan menempatkan modernitas sebagai visi budaya dan bentuk peradaban, MM berhasil menghidupkan kembali fokus pada dimensi budaya, agama, dan warisan peradaban (terutama dari Zaman Aksial) sebagai faktor penentu utama hasil-hasil sosial, melawan determinisme ekonomi dan teologi sekularisasi.

B. Implikasi Teoritis MM dalam Memahami Globalisasi dan Konflik Kontemporer

MM mengkonseptualisasikan globalisasi sebagai proses yang sangat berbeda dari homogenisasi. Globalisasi adalah interaksi di mana titik-titik referensi umum modernitas diinterpretasikan secara terbuka. Dalam pandangan ini, modernisasi dipahami sebagai negosiasi berkelanjutan di antara para pemangku kepentingan masyarakat tentang cara terbaik untuk mewujudkan program budaya modernitas.

Implikasi relevan MM berlanjut hingga hari ini. Dalam menghadapi tantangan kontemporer seperti kebangkitan otoritarianisme yang dimoderenisasi (misalnya, penggunaan teknologi modern untuk kontrol politik) atau konflik identitas berbasis agama (yang sering diinterpretasikan sebagai perjuangan atas definisi modernitas yang sah), MM menawarkan kerangka untuk memahami bahwa konflik-konflik tersebut bukanlah gejala kemunduran menuju "tradisi" tetapi merupakan manifestasi yang berbeda dan ambivalen dari proyek modernitas itu sendiri. Dengan mengakui bahwa modernitas itu sendiri adalah sebuah program terbuka yang menghasilkan variasi radikal, MM memberikan alat analisis untuk menilai peran tradisi—bukan sebagai lawan, melainkan sebagai kriteria legitimasi—dalam pembentukan dunia kontemporer.

Sumber:
Eisenstadt, S. N. (2002). Multiple modernities. Transaction Publishers.

Aletheia Rabbani
Aletheia Rabbani “Barang siapa yang tidak mampu menahan lelahnya belajar, maka ia harus mampu menahan perihnya kebodohan” _ Imam As-Syafi’i

Post a Comment