Analisis Tesis Kedaulatan Global dan Biopolitik dalam Empire Michael Hardt & Antonio Negri: Kajian Komprehensif
I. PENDAHULUAN: PERGESERAN PARADIGMA DARI IMPERIALISME MENUJU EMPIRE
1.1 Latar Belakang Intelektual, Konteks, dan Ambisi Utopis
Buku Empire oleh Michael Hardt dan Antonio Negri, yang diterbitkan pada tahun 2000, merupakan sebuah karya filosofi politik penting yang bertujuan untuk menganalisis secara mendalam transformasi tatanan global pasca-Perang Dingin. Buku ini muncul pada saat terjadi pergeseran signifikan menuju globalisasi dan bersamaan dengan kebangkitan gerakan-gerakan radikal di seluruh dunia. Tujuannya adalah untuk mensintesis berbagai perkembangan teoretis kontemporer, seperti postmodernisme, postkolonialisme, dan otonomisme, dengan teori kritis klasik seperti Marxisme.
Empire bukan hanya sebuah analisis, melainkan sebuah proyek teoretis yang ambisius, sering kali diposisikan sebagai "Manifesto Komunis Baru". Buku ini melampaui kritik terhadap eksploitasi yang ada dan secara eksplisit berorientasi pada pencarian paradigma politik alternatif yang utopis, yang bertujuan membentuk masyarakat global yang benar-benar demokratis. Gagasan-gagasan yang disajikan dalam Empire merupakan pengembangan dari kritik Hardt dan Negri sebelumnya terhadap bentuk negara yang diuraikan dalam Labor of Dionysus: A Critique of the State-Form (1994).
1.2 Tesis Sentral: Gugurnya Imperialisme dan Bangkitnya Kedaulatan Global Non-Teritorial
Tesis utama yang diajukan Hardt dan Negri adalah bahwa imperialisme modern, yang dicirikan oleh dominasi negara-bangsa Eropa dan perluasan teritorial, telah berakhir dan digantikan oleh Empire. Empire didefinisikan sebagai tatanan politik global yang baru, universal, dan non-teritorial. Tatanan ini tidak menerima batasan atau limit dan meliputi seluruh ruang peradaban global.
Pergeseran ini menandai transformasi radikal dalam konsep-konsep inti politik modern, termasuk kedaulatan, bangsa (nation), dan rakyat (people). Kedaulatan Empire bersifat terdesentralisasi dan terbagi, beroperasi sebagai sebuah jaringan (networked sovereignty), yang secara historis mengambil inspirasi dari elemen-elemen konstitusionalisme Amerika Serikat, khususnya dalam tradisi identitas hibrida dan gagasan perbatasan yang ekspansif dan terbuka. Oleh karena itu, Empire merupakan konstruksi pascamodern yang muncul di antara kekuatan-kekuatan penguasa.
1.3 Basis Filosofis: Spinoza, Immanence, dan Otonomisme
Kekuatan konseptual Empire sangat berakar pada filsafat kritis, khususnya pemikiran Baruch Spinoza. Antonio Negri, yang dikenal karena karyanya The Savage Anomaly (1981) mengenai Spinozisme, membawa pengaruh besar ini ke dalam Empire. Selain Spinoza, karya Hardt dan Negri juga dipengaruhi oleh teori kedaulatan Carl Schmitt dan pemikiran Niccolò Machiavelli.
Konsep Immanence adalah kunci filosofis yang memandu analisis mereka tentang resistensi. Immanence merujuk pada gagasan bahwa potensi kreatif dan kausalitas terletak secara inheren dalam subjek, tidak diatur atau diorganisir dari luar. Dalam konteks politik, Hardt dan Negri berpendapat bahwa kecenderungan immanence—yang mereka sebut sebagai kekuatan konstituen—menang atas refleksi regulatif (hukum atau dekret yang dipaksakan).
Penekanan pada immanence ini sangat penting karena memungkinkan Hardt dan Negri untuk memposisikan kekuatan resistensi (Multitude) secara otonom dan internal terhadap sistem Empire. Jika kekuatan kooperatif dari kerja, terutama kerja immaterial, bersifat immanent pada aktivitas itu sendiri, ini berarti modal tidak lagi secara eksklusif memiliki kekuatan untuk mengaktifkan atau menyatukan tenaga kerja, menantang gagasan Marxis klasik tentang tenaga kerja sebagai 'kapital variabel'. Dengan demikian, immanence memberikan landasan ontologis bagi otonomi subjek revolusioner yang mereka identifikasikan.
II. ANATOMI KEDAULATAN GLOBAL: KONSTITUSI EMPIRE
2.1 Empire sebagai Tatanan Yuridis Universal: Kedaulatan Jaringan
Hardt dan Negri memulai analisis konstitusi Empire dengan meninjau transformasi yuridis, dengan asumsi bahwa perubahan dalam kerangka hukum secara efektif menunjukkan pergeseran dalam konstitusi material kekuasaan dan tatanan dunia. Empire adalah kekuasaan berdaulat yang mengatur dunia saat ini, berfungsi sebagai bentuk politik yang dilembagakan dari globalisasi kapitalis.
Kedaulatan Empire dicirikan oleh desentralisasi dan pembagian kekuasaan. Kedaulatan ini bersifat jaringan (networked), berbeda dengan kedaulatan monarki Eropa yang sentralistik. Analisis Hardt dan Negri mengklaim bahwa konstitusionalisme Amerika, dengan pemisahan kekuasaan eksekutif, legislatif, dan yudikatif, menyediakan model historis bagi kedaulatan yang terbagi dan cenderung terbuka ini. Organisasi-organisasi supranasional, seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), memainkan peran sentral dalam tatanan ini. PBB berfungsi sebagai 'engsel' dalam silsilah struktur hukum, beralih dari hukum internasional menuju struktur yuridis global, dan menjadi pusat produksi normatif yang berdaulat dalam skala global.
2.2 Distingsi Krusial: Kritik terhadap Pemisahan Empire dari Imperialisme Klasik
Distingsi yang dibuat Hardt dan Negri antara Empire dan imperialisme adalah titik sentral polemik yang signifikan. Mereka berargumen bahwa imperialisme, yang didefinisikan secara sempit sebagai perpanjangan kekuasaan formal negara di luar batasnya, serta kolonialisme, telah gugur. Empire dilihat sebagai tatanan global yang sama sekali baru, berbeda dari dominasi Eropa atau hegemoni tunggal AS.
Kritik terhadap pandangan ini, terutama dari tradisi materialis historis, sangat tajam. Para kritikus menuduh Hardt dan Negri mereduksi imperialisme menjadi kolonialisme, mengabaikan analisis ekonomi politik yang berpusat pada akumulasi kapital global dan mekanisme struktural yang menghasilkan polarisasi kekayaan dan kekuasaan. Penolakan terhadap analisis ekonomi politik yang mendalam ini, demi legalisme dan ilmu politik empiris, dianggap menyebabkan deskripsi Empire menjadi dangkal dalam memahami sejarah kapitalis.
Implikasi dari kritik ini menunjukkan bahwa Hardt dan Negri mungkin berhasil mendeskripsikan perubahan dalam bentuk kedaulatan (jaringan yang fleksibel), tetapi gagal menangkap isi ekonomi yang berkelanjutan. Data empiris menunjukkan bahwa 95% dari total investasi kapitalis masih terkonsentrasi di negara-negara industri, sementara produksi global masih sangat terpolarisasi. Polaritas yang berkelanjutan ini menunjukkan bahwa imperialisme tidak mati; sebaliknya, kontradiksi mendasar dalam kapitalisme justru diperparah oleh globalisasi, dan Empire mungkin hanyalah fase baru dari struktur imperialis yang telah berevolusi.
2.3 Konstitusi Tripartit Empire: Cabang-Cabang Kekuasaan Global
Kedaulatan Empire diorganisir di sepanjang tiga sumbu konstitusional, mencerminkan pemisahan kekuasaan, yang melibatkan berbagai aktor global:
Table 1. Tiga Cabang Konstitusional Empire
III. TRANSFORMASI REZIM PRODUKSI: KERJA IMMATERIAL DAN BIOPOLITIK
3.1 Postmodernisasi Ekonomi: Dari Industrialisasi ke Informatisasi
Hardt dan Negri mengidentifikasi pergeseran mendalam dalam mode produksi kapitalis, yang mereka sebut sebagai postmodernisasi ekonomi atau informatisasi. Mereka menggambarkan suksesi tiga paradigma ekonomi: dari dominasi pertanian (paradigma pertama), ke industri (paradigma kedua), dan saat ini, dominasi jasa dan manipulasi informasi (paradigma ketiga).
Proses ini bukan sekadar penurunan kuantitas sektor industri, tetapi merupakan transformasi kualitatif di mana produksi nilai dan hirarki ekonomi didominasi oleh jasa dan informasi. Proses informatization ini menjadi dasar material bagi Empire, memungkinkan kontrol dan eksploitasi nilai di seluruh jaringan global.
3.2 Kerja Immaterial (Immaterial Labor) sebagai Jantung Produksi Nilai Baru
Dalam paradigma informatisasi, kerja immaterial menjadi sumber nilai yang paling strategis. Kerja immaterial mencakup produksi kognitif (ide, simbol), produksi komunikasional (interaksi linguistik, jaringan), dan produksi afektif (emosi, pelayanan, perhatian).
Sifat kunci dari kerja immaterial adalah kooperasi immanen. Hardt dan Negri berpendapat bahwa aspek kooperatif yang menciptakan produktivitas dan surplus sosial melalui jaringan komunikasional dan afektif ini, tidak diorganisir secara eksternal oleh modal, tetapi melekat (immanent) pada aktivitas kerja itu sendiri. Kerja immaterial memanfaatkan "otak dan tubuh" subjek untuk menciptakan nilai, dan kooperasi yang spontan ini menyediakan potensi untuk apa yang mereka sebut sebagai "komunisme spontan dan elementer".
3.3 Dilema Kapitalis dan Potensi Komunisme Elementer
Sifat otonom dan kooperatif dari tenaga kerja immaterial menciptakan ketegangan laten dan dilema yang tidak dapat dihindari oleh kapitalis. Kapitalis harus menghadapi kenyataan bahwa:
1. Mereka wajib mempekerjakan pekerja immaterial karena sektor ini adalah proses produksi paling efektif dan strategis dalam tatanan ekonomi saat ini.
2. Mereka harus berjuang keras untuk mencegah pekerja immaterial mengklaim kembali kekuatan dan daya otonom mereka sepenuhnya.
Ini berarti bahwa eksploitasi di bawah Empire melampaui mekanisme upah dan jam kerja. Eksploitasi menjadi perjuangan ontologis atas kepemilikan potensi kreatif kehidupan itu sendiri. Kekuatan kooperatif tenaga kerja immaterial adalah otonom dan mempertanyakan pandangan klasik bahwa modal adalah satu-satunya entitas yang membuat tenaga kerja menjadi koheren dan produktif.
3.4 Biopolitik: Kontrol Atas Hidup dan Produksi Sosial
Untuk mengontrol dan memanen nilai dari kerja immaterial, Empire menjalankan Biokekuasaan (Biopower). Ini adalah kekuasaan yang beroperasi di seluruh spektrum kehidupan sosial, mengelola populasi, identitas, perbedaan, jaringan komunikasi, dan migrasi. Berbeda dengan kekuasaan disipliner Foucaultian yang berfokus pada individu dan institusi tertutup (pabrik, penjara), Biopolitik Empire adalah manajemen total atas kehidupan (bios) itu sendiri.
Tujuan utama Biopolitik adalah untuk mengelola dan memfasilitasi produksi nilai yang berbasis pada kehidupan, terutama melalui kerja immaterial yang intrinsik. Hardt dan Negri mengundang Multitude untuk memanfaatkan Biopolitik produktif dari komunitas mereka—yaitu, potensi kreatif dan kooperatif yang telah diinternalisasi oleh sistem kontrol—sebagai sumber daya untuk resistensi dan transformasi.
IV. SUBJEK RESISTENSI: FENOMENA MULTITUDE
4.1 Definisi Multitude (Multitudo): Subjek Plural dan Non-Homogen
Multitude adalah subjek politik alternatif yang diangkat oleh Hardt dan Negri untuk menghadapi totalitas Empire. Multitude adalah sekelompok individu yang plural, heterogen, dan menolak reduksi menjadi kesatuan homogen yang disebut 'rakyat' (the people) atau 'massa'. Meskipun plural, mereka berbagi nasib yang homogen dan memiliki tujuan bersama untuk memperjuangkan hak dan kedaulatan mereka, sering kali diwujudkan melalui aksi langsung.
Multitude muncul sebagai identitas kaum miskin (the poor), yang tetap ada meskipun Empire berusaha menghapus semua identitas demi universalitas. Multitude berfungsi sebagai mesin kekuatan konstituen, otonom, dan menolak homogenisasi.
4.2 Kekuatan Konstituen (Potentia) dan Ambivalensi Perjuangan
Kekuatan Multitude terletak pada potentia, yaitu kapasitas immanen untuk menciptakan tatanan baru. Karena Empire dilihat sebagai sistem yang total, yang mencakup seluruh ruang sosial, resistensi terhadapnya tidak dapat berupa oposisi dari luar. Sebaliknya, resistensi harus mengambil bentuk negasi—"keinginan untuk melawan" (the will to be against).
Negasi ini adalah tindakan politik dari potentia yang berusaha mengalihkan dan membebaskan potensi produktif yang telah diserap dan dieksploitasi oleh Biopolitik Empire. Perjuangan ini menuntut perlawanan yang terus-menerus dan penegasan otonomi immanen dalam jaringan kekuasaan global.
4.3 Analisis Ambiguitas: Multitude sebagai "Elang Berkepala Dua"
Hardt dan Negri melihat adanya ambiguitas dalam posisi Multitude terhadap kekuasaan berdaulat. Mereka menggambarkan Multitude sebagai "elang berkepala dua". Frasa ini menunjukkan bahwa Multitude tidak hanya berdiri di luar sistem dalam oposisi murni; mereka juga terlibat dan berpartisipasi dalam keterlibatan kebijakan kekuasaan berdaulat.
Keadaan ini terjadi karena Empire memerlukan kerja immaterial yang kooperatif dari Multitude untuk berfungsi. Oleh karena itu, negara harus menjaga dan menstabilkan Multitude melalui aparatus birokrasi dan kontrol. Konflik politik kemudian menjadi upaya immanen untuk mengalihkan kekuatan produktif yang sudah diintegrasikan oleh Empire, menuntut Multitude untuk menavigasi batas antara klaim otonom mereka dan risiko ko-opsi oleh sistem kontrol yang fleksibel.
4.4 Geografi Resistensi: Perdebatan Batasan dan Deterritorialisasi
Tesis Hardt dan Negri mengenai Empire bergantung pada konsep deterritorialisasi yang tidak dapat diubah dan pandangan bahwa batas (borders) bersifat represif. Mereka merujuk secara positif pada ide "perbatasan kebebasan" AS sebagai ruang di mana kecenderungan immanence menang atas regulasi sentralisasi.
Pandangan ini menuai kritik signifikan dari mereka yang berfokus pada pentingnya ruang dan geografi politik-kultural. Kritikus berpendapat bahwa batas (border) justru merupakan konsep penting bagi gerakan kontemporer untuk mempertahankan komunitas yang mandiri dan beragam melawan pertukaran global Empire. Perdebatan krusialnya terletak pada bagaimana komunitas akan mendefinisikan "tempat" (place) mereka dan mencegah ruang tersebut direduksi menjadi "sekadar di mana saja" yang dapat diseragamkan oleh Empire. Perjuangan untuk menentukan batas politik-kultural ini secara teoretis penting dan menantang klaim Hardt dan Negri tentang irreversibilitas deterritorialisasi total.
V. APLIKASI TEORITIS DAN KRITIK POLEMIK
5.1 Studi Kasus Faktual: Analisis Konflik Tata Kelola Biopolitik di Pulau Rempang
5.1.1 Biopolitik Negara dan Komodifikasi Politik
Konflik Rempang terkait rencana Rempang Eco City (17.000 ha) dapat dianalisis sebagai manifestasi nyata dari Biopolitik yang dijalankan oleh rezim Empire melalui aparatus negara. Proyek ini bertujuan untuk meningkatkan daya saing Indonesia, terutama terhadap Singapura, yang merupakan tindakan biopolitik untuk mengelola wilayah dan populasi demi tujuan integrasi pasar global.
Proyek ini mewujudkan totalisasi penguasaan pasar global, di mana seluruh aspek politik dikomodifikasi, dengan menyisipkan produksi kapitalisme. Negara, melalui instrumen hukum seperti Hak Pengelolaan (HPL) dari BP Batam dan pemberian Hak Guna Bangunan (HGB) kepada PT Makmur Elok Graha (PT MEG), menggunakan kerangka legalitas Empire untuk menganeksasi tanah adat dan memfasilitasi modal transnasional. Ini adalah contoh bagaimana cabang Aristokratik (modal korporasi) dan Monarki (eksekutif negara) bekerja sama untuk menjustifikasi penggusuran demi kepentingan tatanan ekonomi global.
5.1.2 Perjuangan Multitude Lokal Melawan Kontrol Korporasi
Masyarakat lokal Rempang, yang mempertahankan klaim mereka atas tanah sebagai warisan leluhur, bertindak sebagai Multitude. Perlawanan mereka terhadap penggusuran dan penolakan terhadap legalitas HGU mencerminkan perjuangan untuk kedaulatan dan hak otonom atas kehidupan mereka. Perjuangan ini menyoroti konflik tajam antara hukum adat yang didasarkan pada sistem warisan dan kebijakan sertifikasi agraria Empire yang legalistik dan mendorong eviksi.
Perjuangan di Rempang secara empiris menantang gagasan bahwa teritorialitas tidak lagi relevan. Di sini, Multitude secara efektif berjuang untuk mendefinisikan tempat dan batas politik-kultural mereka sendiri, menentang totalisasi pasar global yang ingin menjadikan wilayah tersebut sekadar titik produksi kapitalis. Solusi konflik menuntut pengakuan terhadap komunitas hukum adat dan hak atas tanah, menegaskan kembali pentingnya teritorialitas sebagai basis resistensi.
5.2 Tinjauan Kritis Mendalam: Isu Imperialisme dan Polaritas Global yang Berlanjut
Meskipun Hardt dan Negri berhasil memetakan perubahan dalam arsitektur kedaulatan dan rezim kontrol, kritik utama terhadap Empire tetap pada isu keberlanjutan imperialisme. Hardt dan Negri berargumen bahwa kapitalisme telah memasuki tahap "pasca-imperialis".
Namun, kritik akademis berpendapat bahwa Hardt dan Negri gagal meyakinkan bahwa relasi produksi telah bertransisi dari fase imperialis yang menghasilkan polarisasi. Bukti seperti konsentrasi 95% investasi kapitalis di negara-negara industri menunjukkan bahwa polaritas global tetap ada. Kritik ini menyimpulkan bahwa imperialisme tidak mati; ia hanya mengadopsi bentuk kedaulatan jaringan yang lebih adaptif, yang Hardt dan Negri deskripsikan sebagai Empire. Kekurangan dalam analisis Hardt dan Negri terletak pada penekanan yang berlebihan pada bentuk yuridis dan filosofis (legalisme) dibandingkan isi ekonomi politik (akumulasi kapital), yang menutupi kontinuitas polaritas global.
5.3 Warisan dan Perkembangan Lanjutan
Empire adalah awal dari sebuah trilogi besar. Konsep Multitude dan Biopolitik dikembangkan lebih lanjut dalam karya mereka berikutnya, Multitude: War and Democracy in the Age of Empire (2004) dan Commonwealth (2009). Hardt dan Negri telah merefleksikan warisan buku ini, menegaskan kembali bahwa tujuan utamanya adalah untuk mencari basis filosofis bagi demokrasi global sejati yang melampaui rejim kontrol dan eksploitasi saat ini.
VI. KESIMPULAN: WARISAN DAN IMPLIKASI EMPIRE
Empire oleh Michael Hardt dan Antonio Negri memberikan kontribusi yang sangat berharga dalam teori politik kritis dengan berhasil memetakan pergeseran kualitatif kekuasaan dari imperialisme teritorial ke Empire, sebuah tatanan kedaulatan jaringan yang didominasi oleh kontrol biopolitik dan kerja immaterial. Hardt dan Negri mengidentifikasi dengan jelas bagaimana kekuasaan kini beroperasi dengan mengelola kehidupan sosial secara totalitas, dan bagaimana nilai dihasilkan melalui potensi kreatif dan kooperatif yang inheren (immanent) pada subjek.
Namun, signifikansi Empire terletak pada dialektik yang dibangun antara totalitas Empire dan potensi Multitude. Dengan menempatkan Multitude sebagai subjek plural yang otonom—memiliki potentia—Hardt dan Negri membuka jalan bagi pemahaman baru tentang resistensi yang harus terjadi secara internal (immanen) terhadap sistem, seperti yang terlihat dalam kasus-kasus kontestasi Biopolitik dan klaim teritorial.
Meskipun kritik terhadap imperialisme pasca-Negri tetap kuat, terutama yang menekankan polaritas ekonomi global yang berkelanjutan, kontribusi utama buku ini adalah menawarkan kerangka kerja yang kuat untuk menganalisis konflik modern—seperti Rempang—sebagai perjuangan biopolitik. Perjuangan Multitude di era Empire adalah upaya untuk mengubah potensi yang dieksploitasi oleh kapital global menjadi fondasi bagi masyarakat global yang benar-benar demokratis, yang merupakan warisan utopis abadi dari karya seminal ini.
Referensi:
A Critique of Hardt and Negri's Concept of Empire. (2025, November 22). Simon Fraser University. https://www.sfu.ca/personal/iangus/empire.pdf
A Critical Look at “Empire.” (2025, November 22). Solidarity. https://www.marxists.org/history/etol/newspape/atc/1195.html
A New World Order? A Review of Hardt and Negri's Empire. (2025, November 22). Supreme Court. https://supreme.findlaw.com/legal-commentary/a-new-world-order.html
Empire – Harvard University Press. (2025, November 22). https://www.hup.harvard.edu/books/9780674006713
Empire – Michael Hardt, Antonio Negri – About Google Books. (2025, November 22). https://books.google.tn/books?id=_Hrwu8KSmBIC
Empire – Michael Hardt, Antonio Negri – Google Books. (2025, November 22). https://books.google.com/books/about/Empire.html?id=_Hrwu8KSmBIC
Empire (Hardt and Negri book). (2025, November 22). Wikipedia. https://en.wikipedia.org/wiki/Empire_(Hardt_and_Negri_book)
Empire and Multitude. (2025, November 22). Monthly Review. https://monthlyreview.org/articles/empire-and-multitude/
Empire by Michael Hardt and Antonio Negri, s. 3.4. (2025, November 22). Marxists Internet Archive. https://www.marxists.org/reference/subject/philosophy/works/it/negri.htm
Empire, Immaterial Labor, the New Combinations, and the Global Worker. (2025, November 22). ResearchGate. https://www.researchgate.net/publication/240518752_Empire_Immaterial_Labor_the_New_Combinations_and_the_Global_Worker
Hardt, M., & Negri, A. (2000). Empire (eBook ed.). Harvard University Press. https://doi.org/10.4159/9780674038325
Hardt, M., & Negri, A. (2001). Empire (Paperback ed.). Harvard University Press.
Hardt and Negri's Empire: A new Communist Manifesto or a reformist welcome to neoliberal globalisation? (2025, November 22). Inclusive Democracy. https://inclusivedemocracy.org/dn/vol8/takis_negri.htm
HEGEMONI KERJA IMATERIAL SEBAGAI PELUANG RESISTENSI TERHADAP KAPITALISME DALAM PERSPEKTIF AUTONOMIA. (2025, November 22). https://journal.driyarkara.ac.id/index.php/diskursus/article/download/105/68/
Monoskop – EMPIRE. (2025, November 22). https://monoskop.org/images/9/95/Hardt_Michael_Negri_Antonio_Empire.pdf
Multitude: War and Democracy in the Age of Empire. (2025, November 22). Wikipedia. https://en.wikipedia.org/wiki/Multitude:_War_and_Democracy_in_the_Age_of_Empire
Rempang Conflict: Land Disputes Triggered by Development Project. (2025, November 22). Universitas Gadjah Mada. https://ugm.ac.id/en/news/rempang-conflict-land-disputes-triggered-by-development-project/
Rezim Empire dan Masyarakat Multitude dalam Kasus Pulau Rempang. (2025, November 22). Kaltimtoday.co. https://kaltimtoday.co/rezim-empire-dan-masyarakat-multitude-dalam-kasus-pulau-rempang
Review: Empire by Michael Hardt and Antonio Negri. (2025, November 22). Socialist World Media. https://www.socialistworld.net/2002/10/24/review-empire-by-michael-hardt-and-antonio-negri/
The Illusions of Empire. (2025, November 22). Monthly Review. https://monthlyreview.org/articles/the-illusions-of-empire/
JETP's Shadow in the Green Energy Supply Chain Conflict on Rempang Island. (2025, November 22). Transparency International Indonesia. https://ti.or.id/wp-content/uploads/2024/11/TII-Report-Konflik-Rempang-JETP-ENG-low.pdf


Post a Comment