Analisis Sosiologis Kekerasan di Sekolah Dasar: Teori Strain Robert K. Merton pada Kasus Siswi FR (7) Palembang

Table of Contents

Analisis Sosiologis Kekerasan di Sekolah Dasar: Teori Strain Robert K. Merton pada Kasus Siswi FR (7) Palembang
I. Pendahuluan Struktural dan Konteks Masalah

A. Latar Belakang: Krisis Kekerasan sebagai Indikator Anomie Institusional

Kekerasan di lingkungan pendidikan, baik yang bersifat fisik, verbal, maupun psikologis, merupakan pelanggaran serius terhadap etika profesional dan standar pedagogis. Secara sosiologis, kekerasan ini tidak dapat direduksi hanya pada kegagalan moral individu. Sebaliknya, fenomena ini seringkali merupakan manifestasi yang lebih dalam dari disfungsi struktural dan ketidakstabilan sosial dalam institusi pendidikan. Lingkungan sekolah, yang seharusnya menjadi ruang aman, ketika menjadi tempat terjadinya agresi, mencerminkan adanya disfungsi laten atau disfungsi tersembunyi dalam struktur kelembagaan tersebut.

Analisis terhadap kasus-kasus kekerasan di sekolah memerlukan kerangka teoritis yang mampu membedah hubungan antara tuntutan budaya (tujuan yang diidealkan masyarakat) dan realitas struktural (sarana yang tersedia). Dalam konteks ini, Teori Strain Robert K. Merton sangat relevan. Teori Merton berfokus pada bagaimana struktur sosial mendorong individu untuk menyimpang ketika terjadi ketidaksesuaian yang signifikan (disjuncture) antara tujuan kultural yang didominasi oleh masyarakat dan sarana institusional yang sah untuk mencapai tujuan tersebut. Pendidikan di Indonesia—dengan tuntutan mutu tinggi, tetapi sering kali dihadapkan pada keterbatasan sumber daya dan dukungan profesional—menyediakan lahan subur bagi munculnya ketegangan struktural (strain) yang pada akhirnya dapat mendorong perilaku menyimpang.

B. Objek Kajian: Kronologi Kasus Siswi FR (7) Palembang dan Konflik Narasi

Kasus dugaan kekerasan yang menimpa siswi Sekolah Dasar (SD) di Palembang, berinisial FR (7), menarik perhatian publik karena menimbulkan kontradiksi narasi yang kuat antara keluarga korban dan pihak institusi. FR, siswi SDN 150 Palembang, dilaporkan pulang dari sekolah pada 27 Oktober 2025 dengan kondisi kedua mata merah dan lebam parah. Ibu korban, Sukrisnawati (40), menduga bahwa luka tersebut disebabkan oleh pukulan seorang guru yang mengenakan cincin. Akibat insiden ini, korban mengalami trauma dan dilaporkan enggan untuk kembali bersekolah. Kasus ini kemudian dilaporkan kepada pihak kepolisian, dan korban mendapatkan pendampingan dari Kabid Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kota Palembang.

Konflik Narasi dan Respons Kelembagaan

Inti masalah sosiologis dalam kasus ini diperkuat oleh konflik narasi yang muncul dari respons kelembagaan. Kepala SDN 150 Palembang, Eka Octa Nugraha, membantah keras tuduhan kekerasan tersebut setelah melakukan klarifikasi menyeluruh kepada guru, wali kelas, dan seluruh siswa. Pihak sekolah menegaskan tidak ditemukan bukti kekerasan, dan membantah bahwa ada guru pengajar yang menggunakan cincin. Lebih lanjut, hasil pemeriksaan awal dari dokter spesialis mata di rumah sakit menunjukkan kemungkinan mata merah tersebut disebabkan oleh terjatuh atau faktor medis lain seperti penyakit Pertusis/Batuk Rejan, bukan karena tindakan kekerasan.

Implikasi Konflik Narasi untuk Analisis Mertonian

Ketidakjelasan faktual mengenai penyebab luka pada FR menjadi titik tolak yang kuat untuk analisis kelembagaan. Persoalan sosiologis kemudian bergeser dari fokus "Siapa yang memukul?" menuju pertanyaan yang lebih struktural: "Mengapa respons kelembagaan cenderung pada penyangkalan (denial) dan perlindungan reputasi, bukan pada transparansi dan perlindungan korban?" Reaksi cepat sekolah untuk menyangkal tuduhan setelah klarifikasi internal dapat diinterpretasikan sebagai upaya institusi untuk menghindari disfungsi yang tampak (publik). 

Hal ini menunjukkan adanya potensi disfungsi laten—sebuah fungsi tersembunyi di mana institusi memprioritaskan fungsi pemeliharaan citra dan stabilitas kelembagaan di atas fungsi manifesnya, yaitu menyediakan lingkungan yang aman dan akuntabel bagi peserta didik. Reaksi defensif ini, meskipun bertujuan melindungi sekolah, justru dapat memperparah trauma, menciptakan ketakutan, dan mempolarisasi hubungan antara institusi dengan masyarakat.

II. Kerangka Konseptual Robert K. Merton: Anomie dan Penyimpangan Struktural

A. Inti Teori Strain: Kesenjangan Tujuan vs. Sarana

Robert K. Merton, melanjutkan karya Émile Durkheim tentang anomie, mengembangkan Teori Strain (Ketegangan) untuk menjelaskan bagaimana struktur sosial dapat mendorong perilaku menyimpang. Inti dari teori ini adalah konsep anomie Mertonian, yang didefinisikan sebagai kondisi di mana terjadi kesenjangan signifikan (disjuncture) antara tujuan-tujuan kultural yang dihargai dan diterima oleh masyarakat (misalnya, kesuksesan, mutu pendidikan, disiplin) dan cara-cara institusional yang sah dan terstruktur untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut.

Ketegangan struktural (strain) muncul ketika sistem gagal menyediakan sarana yang merata bagi semua anggotanya, sehingga membatasi kemampuan individu—termasuk pendidik—untuk mencapai tujuan yang diidealkan. Ketegangan ini menghasilkan tekanan psikologis dan sosiologis yang mendorong individu untuk mencari alternatif, termasuk cara-cara yang menyimpang atau melanggar norma, untuk mencapai tujuan tersebut.

Meskipun Merton awalnya lebih fokus pada strain makro yang terkait dengan tujuan material, konsep Relative Deprivation yang terkait juga memberikan konteks penting. Deprivasi Relatif menjelaskan bahwa perasaan kekurangan atau ketidakadilan (merasa berhak atas penghargaan atau sarana, tetapi tidak memilikinya) dapat memicu deviasi, terlepas dari status ekonomi atau profesional absolut. Dalam konteks guru, ini dapat merujuk pada perasaan kekurangan dukungan, pelatihan, penghargaan profesional, atau pengakuan atas beban kerja yang tinggi, yang kesemuanya berkontribusi pada strain profesional.

B. Lima Tipologi Adaptasi Terhadap Anomie (Tipologi Deviansi)

Merton mengklasifikasikan respons individu terhadap ketidaksesuaian antara tujuan kultural dan sarana institusional menjadi lima mode adaptasi. Analisis sosiologis kasus kekerasan di sekolah harus menempatkan perilaku pelaku (guru atau institusi) dalam salah satu kategori ini:
1. Konformitas (Conformity) (+/+): Menerima tujuan kultural (mutu/disiplin) dan menggunakan sarana institusional yang sah (mengajar sesuai kurikulum, disiplin positif). Ini adalah mode adaptasi yang diidealkan.
2. Inovasi (Innovation) (+/-): Menerima tujuan kultural, tetapi menolak atau menggunakan sarana institusional yang tidak sah. Tipologi ini sangat relevan untuk kekerasan guru. Guru mungkin ingin mencapai kelas yang tertib dan berprestasi (tujuan +), tetapi menggunakan kekerasan fisik atau verbal (sarana -) sebagai jalan pintas karena frustrasi atau kekurangan sarana sah.
3. Ritualisme (Ritualism) (-/+): Menolak tujuan kultural, tetapi tetap berpegangan teguh pada sarana yang sah. Institusi atau guru yang berfokus berlebihan pada prosedur, birokrasi, atau administrasi (sarana +), sambil melupakan tujuan substantif pendidikan (kesejahteraan anak, pengembangan karakter) (tujuan -) menunjukkan ritualisme.
4. Retreatism (Pengunduran Diri) (-/-): Menolak tujuan kultural dan sarana institusional. Ini sering tercermin dalam burnout guru, pengabaian tugas, atau siswa yang putus sekolah karena merasa sistem tidak lagi relevan.
5. Pemberontakan (Rebellion) (±/±): Menolak tujuan dan sarana yang ada, dan berusaha menggantinya dengan tujuan dan sarana baru (transformasi sistem).

C. Batasan Merton dan Perluasan (GST)

Meskipun Teori Strain klasik Merton sangat efektif dalam menjelaskan deviasi yang timbul dari kegagalan struktural untuk mencapai tujuan material (ekonomi, status), teori ini memiliki keterbatasan dalam menjelaskan perilaku menyimpang yang didorong oleh faktor-faktor interpersonal atau emosional. Kekerasan guru terhadap siswa, seperti yang diduga dalam kasus FR, seringkali melibatkan konflik interpersonal, kemarahan, balas dendam, atau kegagalan manajemen emosi.

Oleh karena itu, untuk menganalisis kekerasan interpersonal, diperlukan perluasan konseptual yang ditawarkan oleh General Strain Theory (GST), dikembangkan oleh Robert Agnew. GST menjelaskan bahwa strain juga dapat bersumber dari tekanan non-finansial, seperti kehilangan nilai-nilai positif (misalnya, kehormatan, rasa hormat dari siswa) atau konfrontasi dengan rangsangan negatif (misalnya, tekanan kerja berlebihan, konflik pribadi). Ketegangan ini memicu emosi negatif, seperti frustrasi atau kemarahan, yang kemudian dapat diekspresikan melalui agresi, intimidasi, atau kekerasan fisik. Penerapan GST memungkinkan pemahaman yang lebih kaya mengenai dimensi psikososial yang mendasari keputusan seorang guru untuk melakukan kekerasan dalam momen tertentu.

III. Analisis Ketegangan Struktural (Strain) dalam Ekosistem Sekolah Dasar Indonesia

A. Tujuan Kultural Pendidikan Dasar yang Dilembagakan

Tujuan kultural yang dilembagakan dalam pendidikan dasar Indonesia adalah mencapai mutu pembelajaran yang tinggi, mengembangkan karakter siswa (termasuk toleransi dan penghargaan terhadap keragaman), serta menciptakan lingkungan belajar yang aman dan suportif. Globalisasi dan tuntutan adaptasi teknologi semakin menambah tekanan agar hasil pendidikan mencerminkan kompetensi yang relevan di era dinamis ini. Tujuan-tujuan ideal ini menempatkan tekanan yang sangat besar pada institusi dan individu pendidik untuk mencapai kinerja yang optimal.

Namun, ketika tuntutan ini tidak diimbangi dengan sarana yang memadai, tekanan mutu tersebut berfungsi sebagai generator strain. Guru dan administrator merasakan keharusan untuk mencapai standar tinggi yang ditetapkan oleh kurikulum dan masyarakat, tetapi mereka sering kekurangan sumber daya untuk mencapainya.

B. Kegagalan Sarana Institusional yang Memicu Strain

Kegagalan sistem dalam menyediakan sarana institusional yang sah merupakan prasyarat munculnya anomie dalam konteks pendidikan. Dua aspek kegagalan struktural sangat menonjol:
1. Kesenjangan Sarana Fisik dan Struktural: Terdapat ketidakmerataan signifikan dalam ketersediaan sarana dan prasarana (sarpras) pendidikan, terutama di daerah terpencil. Ketersediaan sarpras yang memadai sangat penting untuk menunjang mutu dan efektivitas pembelajaran. Ketika guru dihadapkan pada kelas yang tidak kondusif, kurangnya alat bantu, atau infrastruktur yang tidak memadai, mereka mengalami strain profesional yang parah. Mereka dipaksa untuk mencapai tujuan mutu yang tinggi, tetapi dengan alat (sarana) yang secara struktural cacat. Kegagalan sarana fisik ini secara langsung membatasi kemampuan guru untuk melakukan Konformitas secara efektif.
2. Kualitas Sumber Daya Manusia dan Manajemen Emosi: Struktur institusional juga gagal menyediakan sarana profesional yang memadai. Penelitian menunjukkan bahwa kekerasan guru sering dipicu oleh lemahnya pengelolaan emosi guru, penggunaan metode disiplin yang tidak tepat, dan kurangnya pengawasan yang konsisten. Mengelola kelas Sekolah Dasar (SD) yang dinamis, di mana kejadian bisa terjadi cepat dan tidak terduga, memerlukan kemampuan manajemen kelas dan emosi yang tinggi. Ketika institusi gagal memberikan pelatihan soft skill atau dukungan psikologis yang memadai untuk mengelola tuntutan kerja yang kompleks ini, guru dipaksa mencapai tujuan kultural (disiplin kelas) tanpa memiliki institutional means yang sah. Ketidakberdayaan ini membuka jalan bagi deviasi, di mana kekerasan dianggap sebagai solusi cepat untuk mengatasi frustrasi.

C. Disfungsi Struktural: Kesenjangan Kritis (Anomie Institusional)

Kesenjangan antara tujuan kultural yang ideal dan realitas sarana institusional menciptakan kondisi anomie di tingkat sekolah. Ini adalah situasi yang secara inheren tidak stabil dan rentan terhadap deviasi.

Tabel 1: Matriks Kesenjangan Struktural (Strain) dalam Pendidikan Dasar Indonesia

Tabel Matriks Kesenjangan Struktural (Strain) dalam Pendidikan Dasar Indonesia

IV. Kekerasan dan Disfungsi sebagai Tipologi Adaptasi Terhadap Strain Pendidikan

Kasus dugaan kekerasan FR di Palembang, terlepas dari kebenaran faktualnya, menunjukkan bagaimana strain struktural diadaptasi oleh aktor dan institusi sekolah dalam bentuk deviasi atau disfungsi.

A. Tipologi Adaptasi Tenaga Pendidik (Inovasi dan Retreatism)

1. Inovasi (Deviasi) oleh Guru: Jika dugaan kekerasan oleh guru terbukti, tindakan tersebut paling akurat dianalisis sebagai bentuk Inovasi (+/-). Guru tersebut menerima tujuan kultural—yaitu mencapai ketertiban kelas atau disiplin instan. Namun, karena tidak memiliki sarana institusional yang sah (misalnya, keahlian manajemen kelas yang canggih, dukungan psikologis, atau kesabaran yang memadai), guru tersebut mengambil jalan pintas yang menyimpang (kekerasan fisik/verbal) untuk mencapai tujuannya dengan cepat. Kekerasan menjadi mekanisme kompensasi atas rasa frustrasi dan ketidakberdayaan profesional yang dialami di tengah tuntutan kinerja tinggi.
2. Retreatism (Pengunduran Diri): Ketegangan yang terus-menerus dan kegagalan untuk mencapai tujuan dapat menyebabkan Retreatism (-/-) pada guru. Burnout atau kelelahan mengakibatkan pengabaian (misalnya, kurangnya pengawasan ketat) atau sikap apatis terhadap masalah siswa. Meskipun pengabaian bukanlah kekerasan aktif, ia menciptakan kekosongan pengawasan yang memungkinkan kekerasan antar siswa atau kejadian tidak terduga lainnya terjadi, menunjukkan kegagalan institusi dalam memelihara kesejahteraan guru dan siswa.

B. Tipologi Adaptasi Institusional (Ritualisme dan Disfungsi Laten)

1. Ritualisme Institusional dalam Respons Kasus FR: Respons cepat SDN 150 Palembang untuk melakukan "klarifikasi menyeluruh" dan kemudian menolak semua tuduhan adalah contoh klasik Ritualisme (-/+). Institusi secara formal mematuhi prosedur (sarana +) dengan melakukan investigasi internal dan membuat pernyataan publik. Namun, dengan fokus tunggal pada pembersihan nama dan penyangkalan, institusi telah mengabaikan tujuan substantif (tujuan -), yaitu pencarian kebenaran yang adil, perlindungan psikologis korban, dan pencegahan trauma. Ritualisme ini bertujuan untuk menjaga Cultural Goal institusional (reputasi sekolah positif) melalui pengamanan proses.

Disfungsi Laten: Reaksi defensif ini menghasilkan disfungsi laten. Alih-alih meredakan konflik, Ritualisme kelembagaan menciptakan ketidakpercayaan, ketakutan, dan polarisasi sosial antara pihak sekolah dan masyarakat, yang pada akhirnya mengganggu stabilitas sosial yang menjadi tujuan pendidikan itu sendiri. Budaya sekolah yang negatif, yang resisten terhadap perubahan atau pengakuan kesalahan, memungkinkan kekerasan terus tersembunyi.

Tabel 2: Aplikasi Tipologi Adaptasi Merton pada Aktor Pendidikan

Tabel Aplikasi Tipologi Adaptasi Merton pada Aktor Pendidikan

V. Kasus FR Palembang: Manifestasi Spesifik dari Anomie Pendidikan

A. Analisis Lapisan Strain dalam Kasus FR

Kasus FR menyoroti lapisan strain pada tingkat yang paling mendasar dalam struktur pendidikan. Terlepas dari apakah luka FR disebabkan oleh guru atau insiden lain, trauma dan keengganan korban untuk kembali ke sekolah adalah fakta yang mengindikasikan adanya disfungsi dalam lingkungan yang seharusnya memberikan rasa aman. Perasaan bahwa "sistem gagal melindungi" yang dirasakan oleh korban dan keluarganya memperkuat kondisi anomie di tingkat mikro masyarakat.

Kekerasan pada jenjang Sekolah Dasar (usia 7 tahun) memiliki implikasi sosiologis yang jauh lebih serius. Tahap SD adalah masa krusial di mana anak mempelajari nilai dan norma, serta membangun pemahaman tentang struktur yang sah. Ketika aktor sosialisasi utama, yaitu guru, justru menunjukkan perilaku menyimpang atau ketika institusi merespons dengan penyangkalan, hal ini mengirimkan sinyal anomie yang merusak fondasi pemahaman anak tentang struktur otoritas yang adil dan berintegritas.

B. Keterbatasan Merton dalam Konteks Emosional dan Solusi GST

Jika kekerasan terhadap FR memang terjadi, analisis mendalam melalui lensa sosiologis perlu mempertimbangkan mekanisme pemicunya. Teori Strain klasik Merton mungkin kurang memadai untuk menjelaskan ledakan agresi yang tampaknya tidak rasional. Ledakan ini kemungkinan besar berasal dari frustrasi atau ketegangan emosional yang akut—misalnya, guru kehilangan kendali karena kepadatan kelas atau tekanan pribadi—seperti yang sering dilaporkan dalam kasus kekerasan guru lainnya.

Untuk kasus-kasus kekerasan interpersonal ini, General Strain Theory (GST) memberikan konteks yang lebih tepat. Strain yang dialami guru dapat berupa kegagalan mengelola tekanan sehari-hari atau perasaan terhina, yang memicu kemarahan. Strain jenis ini tidak selalu terkait dengan tujuan material, melainkan dengan kegagalan dalam memenuhi peran atau mengelola lingkungan kerja. Temuan bahwa kekerasan dipicu oleh lemahnya manajemen emosi guru dan kasus-kasus kekerasan serupa di Palembang dan sekitarnya menunjukkan bahwa insiden FR, jika terbukti, adalah manifestasi dari pola Inovasi deviant yang berakar pada kegagalan struktural untuk mendukung kesehatan mental dan profesionalisme guru.

VI. Kesimpulan Sosiologis dan Rekomendasi Kebijakan Struktural

A. Kesimpulan Kunci: Kekerasan sebagai Produk Struktural

Analisis sosiologis kasus siswi FR (7) Palembang dalam perspektif Teori Strain Robert K. Merton mengindikasikan bahwa kekerasan dan disfungsi kelembagaan yang mengikutinya adalah produk dari Anomie Institusional dalam sistem pendidikan dasar. Kekerasan yang diduga dilakukan oleh tenaga pendidik (jika terbukti) adalah adaptasi Inovasi deviant. Aktor memilih cara yang menyimpang untuk mencapai tujuan disiplin atau ketertiban kelas, didorong oleh tekanan struktural dan kurangnya sarana profesional yang sah, seperti pelatihan manajemen emosi yang memadai.

Lebih lanjut, respons kelembagaan yang cepat menyangkal dan bersifat defensif merupakan bentuk Ritualisme struktural (-/+). Institusi secara formal mematuhi prosedur klarifikasi, tetapi dengan mengutamakan perlindungan reputasi, institusi mengabaikan fungsi manifes (perlindungan anak dan pencarian keadilan). Disfungsi ini melanggengkan siklus anomie dengan menunjukkan bahwa otoritas tidak selalu akuntabel, yang pada gilirannya dapat meningkatkan ketakutan dan trauma dalam masyarakat.

B. Rekomendasi Kebijakan Berbasis Pengurangan Strain (Structural Solutions)

Intervensi kebijakan harus diarahkan pada upaya sistemik untuk menyelaraskan Tujuan Kultural yang tinggi dengan Sarana Institusional yang memadai, sehingga mengurangi strain struktural di kalangan pendidik dan administrator.

1. Memperkuat Sarana Institusional (Mean Enforcement)

Pemerintah harus mengambil langkah untuk menutup kesenjangan sarana institusional yang memicu strain. Peningkatan investasi dan pemerataan sarana dan prasarana pendidikan adalah krusial, terutama di daerah yang kesulitan akses, untuk memastikan bahwa guru memiliki alat yang efektif untuk mencapai tujuan pembelajaran tanpa frustrasi.

Selain itu, harus diwajibkan pelatihan profesionalisme yang kritis, berfokus pada soft skills, manajemen konflik, dan pengelolaan emosi, sebagai sarana yang sah untuk menggantikan metode disiplin yang berbasis kekerasan. Pelatihan ketegasan yang mendidik (tegas yang tidak melihat siswa sebagai musuh) sangat penting, terutama bagi pendidik perempuan dan laki-laki, untuk memastikan konsistensi dalam penanganan masalah siswa.

2. Penguatan Pengawasan dan Akuntabilitas Struktural (Reducing Ritualism)

Untuk mengatasi Ritualisme kelembagaan yang cenderung defensif, diperlukan penguatan pengawasan struktural.

  • Sistem Pelaporan Independen: Perlu dibentuk mekanisme penanganan kasus kekerasan yang independen dari struktur internal sekolah. Hal ini mencegah disfungsi laten, di mana institusi melakukan klarifikasi yang hanya bertujuan melindungi citra.
  • Peran Kepala Sekolah: Kepala sekolah harus diberdayakan dan diwajibkan untuk menciptakan budaya sekolah yang inklusif dan suportif. Kepala sekolah memegang peran penting dalam memastikan penerapan kode etik yang konsisten dan pengawasan ketat terhadap kualifikasi serta perilaku guru.

3. Mengatasi Strain Psikologis (GST Perspective)

Mengadopsi lensa GST, pencegahan kekerasan harus melibatkan penanganan strain emosional guru. Penyediaan dukungan psikologis atau konseling wajib bagi guru yang mengalami burnout atau kelebihan beban kerja harus diinstitusionalisasikan. Mengurangi tekanan emosional pada guru adalah langkah pencegahan langsung terhadap agresi interpersonal, yang merupakan ekspresi dari strain non-finansial.

Tabel 3: Kerangka Intervensi Struktural untuk Mengurangi Strain Pendidikan

Tabel Kerangka Intervensi Struktural untuk Mengurangi Strain Pendidikan
Referensi:

Analisis Bentuk dan Strategi Pencegahan Kekerasan Terhadap Anak dalam Perspektif Sosiologi. (2025, November 8). Jurnal Obsesi. https://obsesi.or.id/index.php/obsesi/article/download/7131/3392/32125

Analisis kasus kekerasan dalam pendidikan (studi kasus penganayaan guru terhadap siswa di jogoroto-jombang). (2025, November 8). SciSpace. https://scispace.com/papers/analisis-kasus-kekerasan-dalam-pendidikan-studi-kasus-1qktz1yp

Analisis Rendahnya Kualitas Pendidikan di Indonesia Saat Ini: Suatu Kajian Literatur. (2025, November 8). Jurnal STIE Trianandra. https://ejurnal.stie-trianandra.ac.id/index.php/JUBPI/article/download/3838/3028/13841

Analisis Teori Sosial dan Struktur Sosial Robert K. Merton: Kajian Komprehensif Pemikiran Sosiologi. (2025, August). Sosiologi79. https://www.sosiologi79.com/2025/08/analisis-teori-sosial-dan-struktur.html

Analisis tipologi adaptasi Robert K. Merton dalam implementasi pendekatan saintifik oleh guru di SMA. (2025, November 8). Neliti. https://media.neliti.com/media/publications/164534-ID-analisis-tipologi-adaptasi-robert-k-mert.pdf

Bentuk Kekerasan pada Anak dan Dampaknya. (2025, November 8). DP3AK Jawa Timur. https://dp3ak.jatimprov.go.id/berita/link/21

LIVE UPDATE | Dokter Ungkap Penyebab Mata Merah Siswi SD di Palembang, Orang Tua Duga Dipukul Guru. (2025, November 8). YouTube. https://www.youtube.com/watch?v=ofdWSSWUSZE

Merton’s Strain Theory of Deviance in Sociology. (2025, November 8). Simply Psychology. https://www.simplypsychology.org/mertons-strain-theory-deviance.html

Nasib Bocah SD di Palembang Diduga Dianiaya Guru, Mata Lebam .... (2025, November 8). Tribunnews. https://www.tribunnews.com/regional/7750210/nasib-bocah-sd-di-palembang-diduga-dianiaya-guru-mata-lebam-dirawat-di-rumah-sakit

PENYIMPANGAN PERILAKU SISWA DALAM PERSPEKTIF ANALISIS INTERAKSI SIMBOLIK (Kajian Sosiologi Pendidikan). (2025, November 8). Universitas Muhammadiyah Makassar Repository. https://digilibadmin.unismuh.ac.id/upload/6714-Full_Text.pdf

Peran Kepala Sekolah dalam Mencegah Bullying di Sekolah. (2025, November 8). Dea Learning Center. https://www.dealearningcenter.id/peran-kepala-sekolah-dalam-mencegah-bullying/

Peran Kepala Sekolah dalam Mengatasi Bullying di Sekolah. (2025, November 8). Ideguru: Jurnal Karya Ilmiah Guru. https://jurnal-dikpora.jogjaprov.go.id/index.php/jurnalideguru/article/view/751

Perbandingan rerata pengetahuan guru dan murid sekolah menengah atas dan kejuruan tentang kekerasan anak di sekolah sebelum dan sesudah intervensi. (2025, November 8). Neliti. https://media.neliti.com/media/publications/108330-ID-perbandingan-rerata-pengetahuan-guru-dan.pdf

Pengertian, Tujuan, Fungsi, Hingga Cara Membangun Budaya Sekolah Positif. (2025, November 8). Quipper Blog. https://www.quipper.com/id/blog/info-guru/budaya-sekolah/

Pentingnya mengenalkan keragaman budaya di sekolah dasar. (2025, November 8). ResearchGate. https://www.researchgate.net/publication/388534789_PENTINGNYA_MENGENALKAN_KERAGAMAN_BUDAYA_DI_SEKOLAH_DASAR

Pertemuan Ke-3 Robert King Merton. (2025, November 8). Scribd. https://id.scribd.com/document/665944116/Pertemuan-Ke-3-Robert-King-Merton

Polrestabes Palembang Selidiki Dugaan Penganiayaan Siswi SD oleh Guru. (2025, November 8). Metro TV News. https://www.metrotvnews.com/play/KvJCL71n-polrestabes-palembang-selidiki-dugaan-penganiayaan-siswi-sd-oleh-guru

Strain Theory (Explained in 3 Minutes). (2025, November 8). YouTube. https://www.youtube.com/watch?v=PmWecREyjUc

Strain theory (sociology). (2025, November 8). Wikipedia. https://en.wikipedia.org/wiki/Strain_theory_(sociology)

Strain Theory (sociology) | Research Starters. (2025, November 8). EBSCO. https://www.ebsco.com/research-starters/sociology/strain-theory-sociology

Siswa SMK di Palembang Diduga Dianiaya Guru Olahraga Gegara Dituduh Tidur. (2025, November 8). Detik News. https://news.detik.com/berita/d-8174019/siswa-smk-di-palembang-diduga-dianiaya-guru-olahraga-gegara-dituduh-tidur

Tantangan dan Solusi Mengatasi Masalah Sarana dan Prasarana dalam Dunia Pendidikan. (2025, November 8). Scribd. https://id.scribd.com/document/852293823/Tantangan-dan-Solusi-Mengatasi-Masalah-Sarana-dan-Prasarana-dalam-Dunia-Pendidikan-1

(PDF) Analisis Faktor-Faktor Kriminogenik Kasus Filisida di Indonesia dalam Perspektif Strain Theory. (2025, November 8). ResearchGate. https://www.researchgate.net/publication/395341034_Analisis_Faktor-Faktor_Kriminogenik_Kasus_Filisida_di_Indonesia_dalam_Perspektif_Strain_Theory

(PDF) Analisis Kasus Kekerasan oleh Guru di Lingkungan Pendidikan Sekolah: Perspektif Profesionalisme dan Etika. (2025, November 8). ResearchGate. https://www.researchgate.net/publication/394155380_ANALISIS_KASUS_KEKERASAN_OLEH_GURU_DI_LINGKUNGAN_PENDIDIKAN_SEKOLAH_PERSPEKTIF_PROFESIONALISME_DAN_ETIKA

Perbedaan penanganan perilaku siswa yang mengganggu dalam proses pembelajaran klasikal sekolah. (2025, November 8). e-Journal UIN Suska Riau. https://ejournal.uin-suska.ac.id/index.php/marwah/article/download/2645/1665

Aletheia Rabbani
Aletheia Rabbani “Barang siapa yang tidak mampu menahan lelahnya belajar, maka ia harus mampu menahan perihnya kebodohan” _ Imam As-Syafi’i

Post a Comment