Analisis Semiotika Bahasa Gaul TikTok: Revolusi Linguistik Digital dalam Perspektif Chora Julia Kristeva
Prakata: Gerakan Revolusioner dalam Bahasa Digital
Fenomena "Bahasa Gaul & Slang Viral" di platform TikTok Indonesia, yang mencakup istilah-istilah seperti anjas, croot, gaskeun, ngabers, sepuh, dan bocil kematian, merupakan manifestasi linguistik yang menuntut analisis lebih dalam daripada sekadar variasi sosiolinguistik informal. Bahasa-bahasa ini beroperasi sebagai revolusi linguistik minor yang secara kolektif berupaya merobek dan menembus kerangka keteraturan Bahasa Indonesia Baku. Analisis ini berargumen bahwa bahasa gaul TikTok beroperasi di titik ruptur kritis antara ekspresi pulsional (Semiotic) dan konvensi bahasa formal (Symbolic), sebuah dinamika yang paling tepat dianalisis menggunakan kerangka semiotika kritis Julia Kristeva, khususnya konsep Semiotic Chora dan Symbolic Order yang dikembangkan dalam karya seminalnya, Revolution in Poetic Language (1974).
Kristeva, seorang psikoanalis, kritikus sastra, dan filsuf feminis, menawarkan kerangka yang ideal karena ia menolak membatasi bahasa pada fungsi representasi logisnya. Sebaliknya, ia menekankan perlunya melihat materialitas bahasa dan kondisi kemunculannya, terutama dorongan bawah sadar dan ritme yang mendasarinya. Melalui pemahaman ini, Bahasa Gaul TikTok dapat diidentifikasi sebagai jejak dari dorongan Semiotik yang menolak untuk sepenuhnya dijinakkan oleh Hukum Simbolik yang diwakili oleh standardisasi leksikal dan sintaksis formal Indonesia.
Bagian I: Fondasi Semiotika Kritis Julia Kristeva: Dualitas Semiotik dan Simbolik
Analisis Kristevan mendasarkan diri pada pemisahan dan interaksi dua modalitas bahasa yang berbeda: Semiotik dan Simbolik. Dualitas ini memungkinkan pemahaman tentang bagaimana bahasa bukan hanya alat komunikasi yang stabil, tetapi juga medan pertempuran antara keteraturan dan kekacauan, antara kesadaran dan dorongan bawah sadar.
1.1. Revolution in Poetic Language: Menggugat Bahasa sebagai Representasi
Dalam Revolution in Poetic Language, Kristeva secara fundamental menantang pandangan linguistik strukturalis yang melihat bahasa hanya sebagai sistem representasi atau tanda yang kaku. Sebaliknya, ia mendorong perhatian pada materialitas bahasa dan kondisi kemunculannya (emergent conditions). Kristeva berpendapat bahwa bahasa dibentuk oleh pengalaman manusia dan memiliki potensi revolusioner, terutama dalam wacana puitis, yang mengintegrasikan psikoanalisis dan semiotika untuk menawarkan pemahaman yang bernuansa tentang subyektivitas. Karya ini adalah teks fundamental yang berpengaruh besar pada teori sastra, teori feminis, dan psikoanalisis.
1.2. The Semiotic Chora: Matriks Pra-Simbolik dan Dorongan Pulsional
Kristeva mendefinisikan modalitas Semiotik sebagai wilayah yang terartikulasi oleh dorongan instingual atau impuls Freudian, alam bawah sadar, dan fase pra-Oedipal. Modalitas ini diwujudkan dalam apa yang ia sebut Chora, sebuah istilah yang diwarisinya dari Plato dalam dialog Timaeus.
Chora dipahami sebagai wadah maternal (maternal receptacle), matriks generatif, tempat abadi yang digambarkan Plato sebagai sesuatu yang amorfus dan tak berbentuk (formless), tidak terlihat, dan tidak terpartisipasi dalam bentuk, namun tetap dapat dipahami dan mampu menerima bentuk. Kristeva mempertahankan kualitas paradoks ini: Chora bukanlah tanda, penanda, model, maupun salinan. Ia bersifat pra-simbolik dan belum diposisikan. Chora adalah ranah ritme, nada, dan materialitas suara yang menolak keteraturan atau hukum budaya yang ketat.
Meskipun Chora resisten terhadap definisi, ia hanya dapat diucapkan atau dinamai melalui Tatanan Simbolik. Proses penamaan ini mengubah Semiotik menjadi Simbolik, memberinya keteraturan yang sebenarnya ia lawan. Kristeva menyebut upaya artikulasi ini sebagai pengkhianatan yang diperlukan (necessary betrayal). Semiotik sangat bergantung pada Simbolik untuk artikulasinya—bahkan untuk keberadaannya—meskipun tindakan Simbolik itu sendiri merupakan kerugian, atau pengkhianatan, terhadap kekuatan dinamis Chora.
Dalam konteks slang, setiap kata gaul yang berhasil dikodifikasi dan dipahami secara luas (misalnya, menjadi tren viral) mengalami pengkhianatan ini; ia dijinakkan menjadi tanda yang stabil, yang pada gilirannya memicu pencarian tanpa henti untuk dorongan Semiotik baru (slang baru) yang belum dijinakkan dan masih memuat energi Chora.
1.3. The Symbolic Order: Hukum, Budaya, dan Representasi Signifikan
Kebalikan dari Chora adalah Tatanan Simbolik (Symbolic Order). Ini terkait dengan hubungan pasca-Oedipal (Hukum Ayah ala Lacan), fungsi representasi, dan bahasa sebagai sistem tanda yang terstruktur dan kaku. Tatanan Simbolik adalah hukum budaya yang memaksakan keteraturan, kendala, dan koherensi.
Dalam konteks linguistik Indonesia, Tatanan Simbolik ini diwakili secara kuat oleh Bahasa Indonesia Baku (Formal), yang dikodifikasi oleh Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dan diajarkan melalui sistem pendidikan. Tatanan ini menuntut kepatuhan sintaksis dan koherensi semantik. Slang yang digunakan secara terbiasa oleh remaja, bahkan dalam situasi yang menuntut formalitas, menunjukkan penolakan terhadap pemisahan ragam baku dan non-baku ini.
Perbedaan mendasar kedua modalitas ini disajikan dalam tabel berikut:
Tabel 1: Kontras Semiotik Chora dan Tatanan Simbolik Kristeva
Bagian II: TikTok sebagai Situs Manifestasi Chora Digital (Chora-Wadāh)
Untuk memahami ledakan bahasa gaul, perlu dianalisis mediumnya. TikTok bukan sekadar tempat di mana slang diunggah, melainkan sebuah wadah digital atau Chora-Wadāh yang secara aktif menciptakan kondisi kognitif yang memfasilitasi dominasi dorongan Semiotik atas keteraturan Simbolik.
2.1. Arsitektur Fragmentaris: Kecepatan Konten dan Penangguhan Simbolik
Arsitektur konten pendek TikTok (seringkali di bawah 30 detik) dan volume unggahan harian yang sangat besar (diperkirakan 34 juta video setiap hari) secara inheren menantang proses kognitif linier. Penelitian menunjukkan bahwa konsumsi konten singkat yang berlebihan menghasilkan beberapa efek negatif pada kognisi: perhatian terfragmentasi, pemrosesan dangkal ide-ide kompleks yang disederhanakan, dan yang paling kritis, proactive interference yang masif.
Sifat perpetual interference pada For You Page (FYP) TikTok—di mana satu video baru segera mengganggu memori video sebelumnya—menciptakan kondisi di mana otak tidak memiliki waktu henti (downtime) yang diperlukan untuk mengkonversi pengalaman menjadi memori yang stabil dan terdiskretisasi. Akibatnya, semua video mudah menyatu (blends), menyebabkan pengalaman yang, dalam retrospeksi, terasa tipis (thin) dan singkat.
Kondisi kognitif yang ditimbulkan oleh TikTok—fragmentaris, amorfus, dan non-linier—secara struktural berkorelasi dengan deskripsi Kristeva tentang Chora. Platform ini berfungsi sebagai Chora-Wadāh yang menangguhkan Hukum Simbolik kognitif seperti kohesi naratif, alur waktu, dan memori yang stabil. Ketika kondisi Simbolik ini dihancurkan, bahasa yang muncul akan lebih mudah beroperasi berdasarkan impuls, ritme, dan reaksi emosional instan, alih-alih representasi yang dipertimbangkan secara logis.
2.2. Materialitas Bahasa dan Penekanan pada Ritme Semiotik
Dalam lingkungan Chora-Wadāh TikTok yang serba cepat, bahasa harus segera menghasilkan dampak emosional atau ritmis. Tatanan Simbolik, dengan tuntutan tata bahasa dan leksikalnya, membebani komunikasi. Sebaliknya, slang menawarkan jalan pintas yang cepat dan otentik.
Slang mencerminkan bagaimana generasi muda berkomunikasi, menawarkan pandangan nyata mengenai penggunaan bahasa modern yang melampaui pembelajaran textbook tradisional. Fungsi komunikasi menjadi fun, engaging, dan relevant. Slang seperti gaskeun (dorongan untuk bertindak) atau seruan seperti croot menjadi efektif bukan karena makna leksikalnya yang kaku, tetapi karena kekuatan auditif dan ritmenya—yakni, Ritme Semiotik. Penggunaan bahasa gaul yang didorong oleh Gen Z bertujuan untuk menciptakan gaya komunikasi yang lebih santai dan akrab (akrab).
Peran platform dalam memfasilitasi Semiotik dapat disimpulkan dalam tabel berikut:
Tabel 2: TikTok: Medium Simbolik vs. Efek Chora-Wadāh
Bagian III: Bahasa Gaul sebagai Jejak Semiotik (Semiotic Trace) dan Sabotase Tatanan Simbolik
Manifestasi paling jelas dari Semiotic Chora dalam bahasa gaul TikTok adalah pelanggaran eksplisit terhadap kaidah bahasa formal Indonesia. Pelanggaran ini berbentuk penolakan makna konvensional (inversi semantik) dan manipulasi fonetik (pembalikan kata/akronim).
3.1. Inversi Semantik sebagai Resistensi terhadap Hukum Simbolik
Bahasa gaul TikTok secara sengaja menyimpang dari makna leksikal yang diakui oleh otoritas linguistik formal, seringkali menghasilkan kesalahan semantik. Perubahan makna yang radikal ini bukan sekadar ketidaktahuan, melainkan tindakan kolektif menolak Hukum Simbolik (KBBI) yang membatasi definisi bahasa. Ini adalah proses De-Signifikasi Otoritatif, di mana makna diklaim ulang dan dikendalikan oleh komunitas pengguna (communitas) daripada oleh institusi.
Contoh inversi semantik menunjukkan upaya Chora untuk merusak kontrak arbitrariness Simbolik:
1. Wacana: Dalam KBBI berarti percakapan atau komunikasi verbal. Dalam slang, ia berarti janji palsu atau rencana yang dibicarakan tetapi tidak pernah ditepati. Pergeseran ini menunjukkan skeptisisme kolektif terhadap otoritas kata dalam wacana formal.
2. Acuh: Menurut KBBI, acuh berarti peduli, memperhatikan, atau patuh. Dalam slang, ia diartikan sebagai acuh tak acuh (cuek) atau tidak peduli.
3. Seronok: Makna asli KBBI adalah menyenangkan atau baik dilihat. Dalam slang, ia diasosiasikan dengan hal-hal negatif, seperti tidak pantas, tidak sopan, atau berbau seksual.
Pelanggaran total terhadap kontrak leksikal ini menunjukkan bahwa Tatanan Simbolik tidak lagi memiliki monopoli atas definisi realitas. Slang berfungsi sebagai kritik terhadap Tatanan yang terlalu kaku atau yang dianggap gagal merepresentasikan pengalaman hidup Gen Z.
3.2. Pembalikan Kata dan Akronim: Memadatkan Makna Menjadi Pulsa
Dua teknik linguistik yang dominan dalam bahasa gaul adalah pembalikan fonem (anastasmus) dan kondensasi makna (akronim).
Pembalikan Fonem (Anastasmus)
Slang seperti Woles (dari selow/slow, santai), Sabi (dari bisa/can), Kuy (dari ayo/come on), dan Tubir (dari ribut/noisy) menunjukkan prioritas materialitas bunyi dan ritme di atas urutan sintaksis Simbolik yang kaku. Tindakan membalikkan fonem adalah bukti nyata dari Semiotik yang membebaskan bahasa dari tugas representasi yang serius, menjadikannya permainan yang fleksibel dan mudah dilafalkan.
Akronim dan Pembentukan Symbolic Law Mini
Akronim seperti TBL (Takut Banget Loh), Cegil (Cewe Gila), dan Ytta (Yang Tau-Tau Aja) memadatkan kalimat panjang menjadi bentuk pulsa yang singkat dan mudah viral. Meskipun pada dasarnya adalah pengkodean (suatu fungsi Simbolik), akronim ini seringkali berfungsi sebagai kode eksklusif.
Khususnya, Ytta secara eksplisit merujuk pada diskusi atau konteks yang hanya diketahui oleh sekelompok kecil orang. Hal ini merupakan upaya untuk mendirikan Symbolic Law Mini—sebuah hukum internal yang hanya berlaku untuk subkultur (komunitas Gen Z). Symbolic Law Mini ini diciptakan untuk mencegah pihak luar, khususnya Tatanan Simbolik yang dominan, untuk memahami atau mengakses makna tersebut. Ini adalah pertahanan diri Semiotik yang terpaksa menggunakan bentuk Simbolik untuk menjaga batas eksklusifitasnya.
Inilah rangkuman tiga jenis ruptur utama terhadap Tatanan Simbolik:
Tabel 3: Inversi Semantik dan Bentuk Slang: Ruptur Tatanan Simbolik
Bagian IV: Studi Kasus Slang Khusus: Menguraikan Dorongan Instingual (Pulsional Drives)
Kristeva menghubungkan Semiotik Chora dengan dorongan instingual Freudian (Eros, dorongan hidup; dan Thanatos, dorongan kematian). Slang viral dapat diklasifikasikan berdasarkan jenis dorongan yang dilepaskannya.
4.1. Manifestasi Energi dan Hasrat (Eros)
Slang yang berfungsi sebagai seruan atau katalisator aksi mewakili pelepasan dorongan hidup (Eros) yang menuntut reaksi cepat dan energi.
- Anjas dan Gaskeun: Gaskeun adalah ajakan untuk bertindak cepat, sementara Anjas adalah seruan kaget atau kagum. Kedua kata ini tidak berfungsi untuk merepresentasikan deskripsi objek, melainkan untuk melepaskan atau memicu energi dalam sebuah konteks. Dalam lingkungan digital yang serba cepat, kata-kata ini berfungsi sebagai katalisator aksi yang sesuai dengan arus informasi yang mengalir deras, memfasilitasi komunikasi yang instan.
- Croot: Istilah ini, yang merupakan onomatope yang sangat spesifik dan seringkali memiliki konotasi tubuh, cairan, atau pelepasan cepat, adalah manifestasi Chora yang paling murni. Croot adalah koneksi langsung antara bahasa dan tubuh, melepaskan dorongan somatik yang biasanya ditekan oleh sensor Simbolik. Kata ini beroperasi sebagai bunyi murni Semiotik yang menolak tugasnya sebagai tanda leksikal, melainkan berfungsi sebagai ekspresi pulsional yang segera dikenali.
4.2. Jargon Hirarki, Keanggotaan, dan Jokes
Jargon yang membentuk identitas kelompok, meskipun berasal dari plesetan (Semiotic), berfungsi membangun struktur Simbolik internal.
Ngabers dan Sepuh: Ngabers (berasal dari Ngab, kebalikan dari Bang) adalah istilah keanggotaan komunitas, sementara Sepuh adalah gelar yang diberikan kepada senior atau ahli (seringkali ironis). Slang ini menciptakan diferensiasi dan batas identitas kelompok. Fungsi utama dari Jargon ini adalah membangun hierarki dan keanggotaan—fungsi yang secara definitif bersifat Simbolik, namun diaplikasikan pada materi yang tidak baku.
Hal ini menunjukkan pembentukan Tatanan Simbolik yang Instabil. Jargon ini membentuk hukum kelompok yang rapuh dan temporer, hanya dipahami dalam konteks TikTok tertentu. Sifatnya yang cair dan mudah berubah menunjukkan bahwa Tatanan Simbolik yang baku dan institusional gagal untuk mengikat dan mengakomodasi kebutuhan identitas kelompok-kelompok baru ini.
4.3. Bahasa Gelap (Dark Jokes) dan Bocil Kematian: Pelepasan Thanatos
Istilah-istilah yang mengeksploitasi tabu atau humor berbasis risiko, seperti dark jokes atau bocil kematian, berhubungan erat dengan dorongan kematian (Thanatos). Kristeva, mengacu pada psikoanalisis, menganggap dorongan agresif atau destruktif ini sebagai bagian dari ranah Semiotik.
Dark jokes di TikTok menjadi saluran bagi pelepasan dorongan agresif atau destruktif yang biasanya disensor oleh Hukum Simbolik (norma moral dan sosial) yang menuntut keharmonisan. Anonimitas dan sifat Chora-Wadāh TikTok memungkinkan dorongan ini diartikulasikan tanpa konsekuensi Simbolik (hukuman sosial) yang sama ketatnya dengan wacana formal. Slang yang mengeksploitasi tabu ini merupakan materi Chora yang secara paksa masuk ke ruang publik, menunjukkan fungsi tersembunyi slang sebagai katarsis kolektif terhadap represi Tatanan Simbolik.
Bagian V: Implikasi Kritis dan Kesimpulan
5.1. Komodifikasi Chora dan Kooptasi Simbolik
Meskipun bahasa gaul muncul sebagai resistensi Semiotik, kecepatan sirkulasi di TikTok mempercepat proses asimilasi ke dalam Tatanan Simbolik. Slang yang paling viral, seperti delulu (singkatan dari delusional), diidentifikasi sebagai tren utama oleh platform itu sendiri. Fenomena delulu, yang didefinisikan sebagai pandangan yang terlalu optimis terhadap skenario yang tidak mungkin, adalah contoh bagaimana bahasa Semiotik yang semula subversif cepat diserap dan dinormalisasi.
Proses ini merupakan realisasi dari "pengkhianatan yang diperlukan" (Kristeva) dalam skala massal. Slang yang revolusioner diubah menjadi komoditas Simbolik segera setelah ia mencapai sirkulasi yang luas dan diakui sebagai "tren" oleh otoritas media atau pemasaran. Kooptasi Simbolik yang cepat ini menetralkan ancaman semiotik terhadap Tatanan Simbolik yang dominan (budaya dan kapitalisme) dan secara paradoks memaksa komunitas Gen Z untuk terus berinovasi dan menciptakan slang baru agar dapat mempertahankan batas eksklusifitas dan otentisitas mereka.
5.2. Dampak Negatif dan Kritik Terhadap Tatanan Simbolik Indonesia
Ledakan slang di TikTok mengungkapkan kritik mendalam terhadap Tatanan Simbolik Bahasa Indonesia baku. Penggunaan bahasa gaul yang didominasi oleh akronim, pembalikan kata, dan deviasi semantik, meskipun positif dalam menciptakan ide kreatif dan komunikasi yang akrab, berisiko mengikis pemahaman yang benar dan baik terhadap standar Bahasa Indonesia. Erosi ini menimbulkan bahaya terhadap basis Simbolik yang diperlukan untuk komunikasi formal, institusional, dan pemikiran kritis yang terstruktur.
Slang menjadi jalan keluar untuk komunikasi yang terasa lebih woles (santai) dan bebas dari beban representasi formal. Fenomena ini menunjukkan bahwa Tatanan Simbolik formal di Indonesia mungkin terlalu kaku dan gagal menampung ekspresi pulsional serta kebutuhan identitas subkultur yang dinamis.
5.3. Kesimpulan dan Arah Penelitian Masa Depan
Secara keseluruhan, fenomena Bahasa Gaul TikTok adalah wacana neo-semiotik yang beroperasi melalui medium digital yang amorfus (Chora-Wadāh). Ia memanfaatkan kondisi kognitif terfragmentasi platform untuk melepaskan dorongan pulsional melalui manipulasi materialitas bahasa (pembalikan, onomatope, inversi semantik) yang secara fundamental menolak keterbatasan representasi Tatanan Simbolik yang kaku.
Dinamika ini bersifat siklus: resistensi semiotik yang subversif selalu diikuti oleh kooptasi simbolik yang cepat oleh media dan pasar. Kecepatan kooptasi ini mengharuskan Semiotik untuk terus-menerus berevolusi dan mencari bentuk ekspresi baru untuk mempertahankan relevansinya dan batas eksklusifitasnya.
Penelitian di masa depan harus memperluas analisis Kristevan tidak hanya pada komponen verbal, tetapi juga pada komponen Chora non-verbal yang dominan di TikTok. Hal ini termasuk analisis materialitas suara, ritme visual, dan elemen musik dalam video pendek, serta bagaimana tantangan viral (TikTok challenges) memicu dan menstabilkan bahasa gaul baru melalui intertekstualitas digital. Pemahaman ini akan semakin memperjelas bagaimana Chora, meskipun awalnya merupakan ranah pra-simbolik, dapat memanfaatkan teknologi modern untuk melakukan revolusi linguistik yang singkat dan berulang di ruang publik.
Referensi:
Analisis Kritis Revolution in Poetic Language Julia Kristeva: Eksplorasi Lengkap Teori Bahasa & Subjek. (2025, November 11). Sosiologi79. https://www.sosiologi79.com/2025/11/analisis-kritis-revolution-in-poetic.html
asycd. (2025, November 15). The impact of short-form content on memory: Unveiling the effects of reels and TikTok. Medium. https://asycd.medium.com/the-impact-of-short-form-content-on-memory-unveiling-the-effects-of-reels-and-tiktok-f359202b1945
Humas Journal. (2025, November 15). Analisis semantik ragam bahasa gaul oleh Gen Z di aplikasi TikTok. https://humasjournal.my.id/index.php/HJ/article/download/231/146/570
Jurnal Unigal. (2025, November 15). Penggunaan ragam bahasa gaul pada ... https://jurnal.unigal.ac.id/diksatrasia/article/download/11368/7114
Kristeva, J. (2024). Revolution in poetic language (M. Waller, Trans.). Columbia University Press. (Original work published 1974)
Maliki Encyclopedia. (2025, November 15). Julia Kristeva: Antara bahasa, sastra, dan semiotika intertekstual. https://ency.uin-malang.ac.id/articles/julia-kristeva-antara-bahasa-sastra-dan-semiotika-intertekstual/
Neuroscience Of. (2025, November 15). The psychology behind TikTok's memory interference. https://www.neuroscienceof.com/human-nature-blog/psychology-tiktok-memory-interference-social-media
OHLA Blog. (2025, November 15). Top 25 TikTok slang terms in 2025. https://www.ohla.com/blog/tiktok-slang-in-2025/
Routledge Encyclopedia of Philosophy. (2025, November 15). Revolution in poetic language – Kristeva, Julia (1941–). https://www.rep.routledge.com/articles/biographical/kristeva-julia-1941/v-1/sections/revolution-in-poetic-language
Shopify Indonesia. (2025, November 15). Top TikTok trends in 2025: 18 ideas to go viral. https://www.shopify.com/id/blog/tiktok-trends
YouTube. (2025, November 15). Summary and analysis of Revolution in Poetic Language by Julia Kristeva [Video]. https://www.youtube.com/watch?v=GbZG8buUIbg




Post a Comment