Analisis Kritis Revolution in Poetic Language Julia Kristeva: Eksplorasi Lengkap Teori Bahasa & Subjek
I. Prolog: Konteks Intelektual dan Ambisi Revolusioner Julia Kristeva
Revolution in Poetic Language (La Révolution du Langage Poétique), yang diterbitkan dalam bahasa Prancis pada tahun 1974 dan abridged dalam bahasa Inggris pada tahun 1984, merupakan karya monumental oleh Julia Kristeva, seorang filsuf, psikoanalis, dan ahli linguistik post-strukturalis kelahiran Bulgaria yang aktif di Paris sejak pertengahan tahun 1960-an. Karya ini adalah upaya ambisius yang melintasi berbagai disiplin ilmu—linguistik, psikoanalisis, filsafat, dan kritik sastra—untuk merumuskan teori baru tentang signifikasi.
Tujuan utama Kristeva dalam karya ini adalah menantang batas-batas pemahaman konvensional terhadap bahasa. Strukturalisme, yang dominan pada masanya, cenderung membatasi signifikansi bahasa hanya pada maknanya sebagai sistem representasi. Kristeva menolak pandangan tersebut, bersikeras pada materialitas bahasa dan kondisi kemunculannya (emergent conditions). Dengan menghubungkan psikosomatik ke ranah sastra, dan sastra ke cakrawala politik yang lebih luas, Kristeva mempertanyakan premis-premis teori yang telah mapan. Dengan cara ini, penelitian ini menunjukkan bahwa analisis gangguan linguistik dalam seni bukan sekadar studi estetika, melainkan cara untuk mengungkap dan mencari celah dalam ideologi sosio-psikologis yang represif.
Buku ini secara spesifik berakar pada kritik terhadap semiotika Saussurean yang statis. Ketika Saussure melihat bahasa sebagai sistem tanda yang stabil dengan makna yang terfiksasi, Kristeva memperkenalkan konsep dinamis tentang produksi tanda, atau semiosis, yang bersifat tidak stabil dan dipicu oleh dorongan-dorongan tubuh. Meskipun demikian, Kristeva juga mengakui kontribusi awal dalam studi bahasa puitis. Secara historis, ia meminjam istilah "bahasa puitis" secara langsung dari teori Formalisme Rusia, yang dikembangkan oleh kelompok seperti Opoiaz dan para ahli seperti Roman Jakobson, yang aktif sekitar Revolusi Rusia 1917.7 Namun, Kristeva menggeser fokus formalis dari struktur linguistik belaka ke dasar psikoanalitik dan material tubuh, sebuah langkah yang menempatkannya sebagai figur kunci dalam post-strukturalisme Perancis.
II. Dualitas Fondasional: Semiotik (Le Sémiotique) dan Simbolik (Le Symbolique)
Inti dari Revolution in Poetic Language adalah perumusan distingsi fundamental antara dua modalitas signifikasi yang selalu berinteraksi: Semiotik (Le Sémiotique) dan Simbolik (Le Symbolique). Kedua modalitas ini tidak beroperasi secara terpisah, melainkan sebagai dua sisi dari praktik signifikasi yang membentuk subjek dan bahasanya.
II.1. Tatanan Simbolik: Representasi, Hukum, dan Struktur
Tatanan Simbolik adalah dimensi bahasa yang bersifat regulatori, terstruktur, dan merupakan sistem tanda yang fungsional. Dimensi ini berasosiasi dengan fungsi representasi, sintaksis, logika, dan komunikasi yang koheren.
Secara psikoanalitik, Simbolik dikaitkan dengan fase pasca-Oedipal, sebuah konsep yang diambil dari pemikiran Freudo-Lacanian. Masuknya subjek (anak) ke dalam tatanan ini mengharuskan penerimaan terhadap Hukum Bapa (Law of the Father) dan pembentukan Ego melalui tahap cermin (Mirror Stage) yang dikemukakan Lacan. Pada tahap ini, anak mengidentifikasi diri sebagai entitas terpisah dan mulai mengadopsi bahasa sebagai sarana untuk mengidentifikasi diri dan dunia. Tatanan ini bersifat otoritatif; ia menyusun realitas sosial dan identitas subjek. Kegagalan untuk menavigasi masuk ke dalam Simbolik dapat mengakibatkan kondisi psikosis, karena subjek tidak berhasil membentuk dirinya sendiri secara terpisah dari imago ibu.
II.2. Modalitas Semiotik: Dorongan, Tubuh, dan Pra-Verbal
Sebaliknya, Semiotik adalah ranah makna pra-linguistik yang dinamis dan esensial, yang mendasari dan berinteraksi dengan Simbolik. Modalitas ini bersifat tidak stabil dan merupakan campuran dari dorongan naluriah (instinctual drives atau impulses), emosi, dan insting, yang semuanya berhubungan dengan alam bawah sadar dan fase pra-Oedipal.
Semiotik adalah manifestasi dari tubuh yang belum terfragmentasi dan merupakan "diri individu yang nyata" yang terbentuk secara internal dari hasrat dan impuls fisik. Kristeva berpendapat bahwa Semiotik ini tidak dapat diartikulasikan secara eksternal dalam bahasa Simbolik yang logis; melainkan hanya dapat dirasakan atau dibaca melalui pergerakan tubuh dan materi bahasa. Dengan menekankan peran dorongan dan materi, Kristeva secara efektif menempatkan fokus pada materialitas bahasa (suara, ritme, prosodi), yang merupakan hal yang secara tradisional direpresi oleh penekanan Simbolik pada makna logis. Bahasa puitis, menurut Kristeva, berfungsi sebagai medan pertempuran di mana materialitas yang direpresi ini dapat muncul kembali.
Perbedaan antara kedua modalitas ini penting untuk memahami dinamika signifikasi, di mana Semiotik menyediakan energi dan gerak (mouvance), sementara Simbolik memberikan struktur dan kemampuan artikulasi. Kristeva menegaskan bahwa ini bukan dikotomi kaku yang terpisah, melainkan dua sisi yang bekerja secara dialektis dalam setiap praktik penandaan (signifying practice).
Tabel 1: Perbandingan Dua Modalitas Signifikasi (Semiotik vs. Simbolik)
III. Landasan Materialitas Bahasa: Eksplorasi Khôra Semiotik
Konsep Khôra (atau Chora) adalah pilar teoritis yang memungkinkan Kristeva untuk menganalisis materialitas bahasa dan menjelaskan asal-usul modalitas Semiotik.
III.1. Adaptasi Filosofis dari Plato
Kristeva meminjam istilah Khôra dari dialog Plato, Timaeus, di mana istilah tersebut merujuk pada reseptakel, sebuah matriks generatif, atau tempat abadi. Plato menggambarkan Khôra sebagai sesuatu yang tidak terlihat dan tidak berbentuk (amorphous and formless), namun dapat menerima bentuk dan determinasi. Plato bahkan menyebutnya "perawat menjadi" (the nurse of becoming).
Kristeva mempertahankan kualitas paradoks Khôra: ia tidak ditentukan, namun mampu menerima bentuk. Dalam adaptasi Kristeva, Khôra Semiotik adalah jaringan semiotik atau totalitas non-ekspresif tempat kata-kata dan makna individual pada akhirnya diproduksi. Ini adalah potensi makna yang harus ada sebelum proses penciptaan makna (signifikasi), meskipun ia sendiri tidak memiliki makna. Transformasi konsep dari reseptakel kosmologis Plato menjadi matriks dorongan psiko-linguistik dalam Kristeva menunjukkan upayanya untuk menanamkan dasar materialis bagi teorinya, melampaui logika murni Lacanian atau Hegelian.
III.2. Khôra Sebagai Matriks Maternal Dorongan
Dalam teori Kristeva, Khôra secara tegas dihubungkan dengan ranah dorongan naluriah (drives), yang bersifat pra-simbolik, tidak dapat direpresentasikan, namun memiliki daya dorong yang kuat (motivating). Ia diorganisasi berdasarkan proses Freudian seperti displacement (perpindahan) dan condensation (pemadatan), dan berkaitan dengan hubungan antara tubuh—yang belum terpadu tetapi 'terfragmentasi' menjadi bagian atau area—dan objek eksternal pra-subjek.
Penting untuk dicatat bahwa Khôra Kristeva adalah reseptakel maternal. Ini adalah titik divergensinya yang paling signifikan dari psikoanalisis strukturalis. Kristeva menegaskan bahwa elemen Semiotik subjek terbentuk sebelum fase kastrasi, yaitu pada saat anak masih sangat tergantung pada tubuh ibunya. Khôra mewakili susunan rangsangan yang terjadi dalam kontak awal yang intens ini. Oleh karena itu, Khôra menyediakan sebuah dasar materialis bagi subjek yang berpusat pada hubungan pra-Oedipal, menantang narasi yang berpusat pada Hukum Bapa (Phallogocentrism) sebagai satu-satunya penentu masuknya bahasa.
III.3. Paradoks Artikulasi: Pengkhianatan yang Perlu
Kristeva menjelaskan bahwa Khôra bukanlah tanda atau penanda; ia adalah pra-simbolik, belum diposisikan, dan elusif. Namun, agar Semiotik dapat terwujud dan memiliki eksistensi, ia harus diartikulasikan melalui Simbolik. Proses artikulasi ini mengubah Semiotik menjadi Simbolik, memberinya tatanan, batasan, atau hukum budaya yang secara inheren dilawannya.
Kristeva menyebut proses ini sebagai pengkhianatan yang perlu (necessary betrayal). Dengan menggunakan Simbolik, Semiotik kehilangan sifat mobile dan amorfnya. Namun, tanpa pengkhianatan ini, dorongan Semiotik akan tetap tidak terartikulasi dan tidak dapat diakses. Hal ini menunjukkan bahwa gangguan yang ditimbulkan oleh Semiotik dalam bahasa puitis bukanlah kekacauan total, melainkan manifestasi dari sistem artikulasi alternatif—ritme atau koreografi —yang berupaya menembus tatanan Simbolik, bukan untuk menghancurkannya, melainkan untuk menegosiasikan kembali batas-batasnya. Kristeva secara eksplisit menekankan bahwa Khôra tetap teregulasi, meskipun tidak secara sintaktis, untuk menghindari tuduhan anarki total (seperti yang diajukan oleh Derrida).
IV. Subjek dalam Proses (Le Sujet en Procès)
Konsekuensi langsung dari dualitas Semiotik-Simbolik adalah perumusan ulang tentang subjek. Kristeva menolak pandangan subjek yang statis dan terpadu, seperti yang dicanangkan oleh beberapa teori strukturalis.
IV.1. Dinamika Mouvance dan Identitas
Kristeva memperkenalkan konsep Subjek dalam Proses (Sujet en Procès) untuk menangkap dinamisme yang melekat dalam setiap proses signifikasi. Konsep ini menekankan bahwa manusia sebagai makhluk penutur selalu berada dalam proses pemaknaan; tidak ada identitas yang tetap selain proses itu sendiri. Subjek terus bergerak (mouvance), menantang unitasnya, dan secara konstan menegosiasikan interaksi antara dorongan Semiotik dan struktur Simbolik.
Pandangan subjek yang bergerak ini memiliki implikasi kritis yang mendalam. Jika pembentukan identitas dan makna yang stabil (seperti yang ditegaskan oleh Tatanan Simbolik) cenderung totalitarian, maka keberadaan Sujet en Procès menyediakan landasan filosofis bagi perlawanan terhadap pembakuan makna, ideologi, atau identitas atas nama kebenaran. Bahasa puitis, dengan mengganggu struktur Simbolik, secara inheren mengganggu ideologi tersebut, melepaskan subjek dari cetakan budaya yang kaku.
IV.2. Motivasi Jouissance
Kristeva memperluas pemahaman psikoanalitik tentang motivasi masuk ke dalam bahasa. Ia berpendapat bahwa selain didorong oleh rasa kekurangan atau ancaman (seperti yang ditekankan dalam narasi kastrasi), subjek juga didorong oleh kesenangan dan kelebihan (jouissance) yang berasal dari hubungan dengan tubuh ibu.
Jouissance ini, yang bersifat trans-simbolik, adalah energi vital yang ditemukan dalam praktik-praktik seperti puisi, musik, tari, dan teater. Ketika jouissance ini disalurkan ke dalam bahasa (seperti dalam puisi avant-garde), ia mengancam kesatuan ranah sosial dan subjek yang stabil. Kehadiran jouissance adalah bukti bahwa Semiotik adalah sumber energi yang memotivasi subjek untuk bertindak, bukan sekadar ruang yang harus ditinggalkan.
V. Mekanisme Revolusioner dalam Bahasa Puitis
Kristeva berpendapat bahwa revolusi yang sejati tidak terjadi dalam aksi politik yang murni Simbolik, melainkan dalam perubahan struktur signifikasi itu sendiri. Inilah yang mendefinisikan Revolution in Poetic Language.
V.1. Definisi Revolusi Linguistik
Revolusi linguistik, dalam pandangan Kristeva, adalah "pergerakan Simbolik di bawah tekanan Semiotik". Bahasa puitis, terutama yang bersifat avant-garde, berfungsi sebagai wadah untuk pergerakan ini. Ketika tekanan Semiotik (dorongan naluriah, ritme) membanjiri Simbolik (sintaksis, logika), struktur komunikasi yang kaku didisintegrasi.
Meskipun terjadi disintegrasi struktur, Kristeva secara hati-hati menyatakan bahwa prinsip Simbolik itu sendiri tidak dihancurkan. Sebaliknya, kekosongan yang tercipta oleh gangguan tersebut menyediakan ruang bagi pembentukan bentuk signifikasi baru (formation of other forms of signification). Revolusi ini adalah proses dialektis yang berulang antara keteraturan dan kekacauan, bukan kemenangan akhir Semiotik. Bahasa puitis, oleh karena itu, menciptakan ambiguitas yang disengaja—tempat di mana potensi semiotik menyusup ke dalam ruang peradaban dan representasi.
V.2. Manifestasi Semiotik dan Kritik Phallogocentrism
Bahasa puitis menghasilkan kembali kontradiksi antara Simbolik dan Semiotik, yang lebih sesuai dengan pengalaman realitas yang tidak tunggal. Hal ini dicapai melalui penekanan pada materialitas yang direpresi: suara, ritme, prosodi, dan intonasi, yang semuanya mendahului bahasa logis. Praktik ini dikenal sebagai Reaktivasi Terbalik (Reverse Reactivation), di mana puisi mereaktivasi dorongan semiotik dalam bahasa.
Dalam konteks kritik sosial, gerakan ini adalah perlawanan terhadap phallogocentrism—tatanan sosial, linguistik, dan agama yang diatur oleh Hukum Bapa dan logika maskulin. Kristeva, bersama dengan filsuf feminis lainnya, melihat Tatanan Simbolik sebagai fallogosentris. Dengan mengangkat Semiotik, yang terikat pada matriks maternal dan pra-Oedipal, bahasa puitis menantang struktur patriarki ini. Ia menyediakan mekanisme untuk mencari dan membentuk simbol-simbol baru yang bersifat feminin, merekonstruksi citra yang secara tradisional dikesampingkan oleh tatanan agama dan sosial yang didominasi oleh figur Bapa.
VI. Analisis Teks Kunci: Studi Kasus Avant-Garde
Kristeva menggunakan Semanalisis untuk membuktikan tesisnya dengan menganalisis karya-karya sastra avant-garde yang secara radikal mengubah cara kerja bahasa. Ia berfokus terutama pada Lautréamont dan Mallarmé.
VI.1. Lautréamont dan Penghancuran Sintaksis
Kristeva menganalisis karya Lautréamont, khususnya Les Chants de Maldoror, sebagai contoh praktik tekstual yang mendorong produksi makna hingga batasnya. Lautréamont menciptakan bahasa sebagai medan perang, di mana dorongan naluriah yang kuat (seringkali kekerasan dan hasrat) memecahkan kerangka representasi Simbolik yang kaku.
Dalam analisis ini, Kristeva melihat penulis puisi sebagai subjek yang berada dalam "pengadilan" (on trial), atau lebih tepatnya, bukan sebagai "subjek" yang stabil melainkan sebagai kumpulan impuls saraf yang memusuhi "bangunan" identitas budaya. Les Chants de Maldoror dicirikan oleh ledakan Semiotik yang mengganggu aturan transformasi dan kategori gramatikal secara mendalam. Gangguan ini menyebabkan interpretasi semantik dan/atau kategorikal menjadi sulit, yang menunjukkan keberhasilan Semiotik menyusup ke dalam Simbolik dan menciptakan subjek yang terpecah (sujet en procès).
VI.2. Mallarmé dan Ritme Visual
Stéphane Mallarmé, khususnya dalam karyanya Un Coup de Dés Jamais N'Abolira Le Hasard (Lemparan Dadu Tidak Akan Pernah Menghapus Kebetulan), memberikan studi kasus tentang bagaimana Semiotik dapat bermanifestasi melalui tata letak dan spasialitas. Mallarmé mendorong batas-batas bahasa dengan menggunakan tipografi yang revolusioner dan spasi putih sebagai elemen penanda.
Melalui penekanan pada ritme visual dan auditori, Mallarmé melepaskan kata-kata dari makna denotatif konvensionalnya. Bunyi, intonasi, dan pola musikal—elemen Khôra Semiotik—mengambil alih fungsi makna logis. Bahasa puitis Mallarmé sangat evokatif dan dapat dikaitkan dengan bahasa bayi musikal yang dijelaskan Kristeva dalam teori Khôra Semiotiknya.
VI.3. Teks Lainnya dan Ketidakberdayaan Sebelum Bahasa
Contoh lain dari manifestasi Semiotik dapat ditemukan dalam analisis Kristeva terhadap penulis seperti Samuel Beckett. Dalam karyanya, Beckett menggunakan kalimat yang terfragmentasi, keheningan, jeda, dan permainan kata. Unsur-unsur ini beroperasi pada ranah yang mewakili kurangnya rasa 'Aku' dan persatuan dengan ibu. Karakter yang mencoba mengartikulasikan apa yang datang sebelum akuisisi bahasa Simbolik—suara-suara dan bunyi-bunyi pra-verbal—adalah manifestasi langsung dari Semiotik Khôra yang berjuang untuk artikulasi dalam Tatanan Simbolik.
Melalui analisis teks-teks avant-garde ini, Kristeva menunjukkan bahwa puisi menciptakan ruang ambiguitas (gap atau cut) yang memungkinkan pembaca untuk berfluktuasi antara ranah real (Semiotic/tidak sadar) dan imaginary (Simbolik/sadar). Fluktuasi dan kontradiksi ini memungkinkan eksplorasi dan pembebasan diri dari representasi readerly yang kaku.
VII. Implikasi Kritis dan Warisan Teoritis RPL
Revolution in Poetic Language adalah kontribusi penting bagi teori kritis abad ke-20, dengan implikasi besar dalam studi gender dan teori bahasa.
VII.1. Transformasi Studi Gender dan Maternal
Salah satu dampak paling signifikan dari RPL adalah pada teori gender. Dengan memperkenalkan Khôra Semiotik sebagai matriks maternal yang pra-Oedipal, Kristeva memberikan dasar untuk merevisi teori yang hanya berpusat pada fase kastrasi dan Hukum Bapa. Teori ini menekankan bahwa Semiotik yang terikat pada matriks maternal adalah sumber yang mendasari dan memberi energi pada bahasa, mengubah ide-ide tentang fungsi dan signifikansi perempuan, khususnya dalam hubungan ibu-anak.
Kristeva berpendapat bahwa pintu masuk ke bahasa tidak hanya dimotivasi oleh kekurangan Lacanian (seperti ketiadaan penis atau ancaman kastrasi), tetapi juga oleh dorongan kesenangan dan kelebihan (jouissance) yang ditemukan dalam kontak awal dengan tubuh ibu. Penekanan pada Semiotik ini memungkinkan para ahli untuk menantang Tatanan Simbolik patriarkal dan mencari cara untuk merepresentasikan pengalaman feminin yang sebelumnya disensor oleh fallogosentrisme.
VII.2. Nuansa Posisi Feminisme Kristeva
Meskipun teorinya telah mengubah studi feminis, Kristeva sendiri sering menolak label "feminis" dalam pengertian ideologis yang kaku. Pandangannya didasarkan pada keyakinan bahwa penanda "perempuan" sangat cair dan terbuka pada konteks budaya dan historis yang beragam.
Fokusnya adalah pada sujet en procès yang dinamis—subjek yang terus-menerus merombak identitasnya—terlepas dari jenis kelamin biologis. Kristeva percaya bahwa perjuangan sejati adalah perjuangan bersama antara laki-laki dan perempuan dalam memahami identitas seksual mereka yang tidak statis dan melawan semua bentuk representasi yang kaku. Dengan demikian, Kristeva mengalihkan fokus dari politik identitas berbasis gender menjadi kritik struktural terhadap totalitarianisme linguistik.
VII.3. Sifat Revolusi yang Berkelanjutan
Warisan teoritis Kristeva mengajarkan bahwa revolusi dalam bahasa adalah proses yang tidak pernah berakhir. Meskipun bahasa puitis berhasil mendisintegrasi Simbolik melalui tekanan Semiotik, prinsip Simbolik sebagai tatanan tidak pernah dihancurkan secara total. Sebaliknya, praktik puitis menciptakan ruang untuk pembentukan bentuk signifikasi baru.
Hal ini menyiratkan bahwa setiap pelepasan dorongan semiotik akan selalu dinormalkan dan diatur kembali oleh tatanan yang lebih besar seiring berjalannya waktu—sebuah "pengkhianatan yang perlu." Oleh karena itu, tugas kritik sastra dan praktik puitis avant-garde adalah untuk terus-menerus mencari dan membuka kembali ruang bagi jouissance semiotik, menjadikan revolusi sebagai gerakan dialektis dan berkelanjutan antara keteraturan Simbolik dan dorongan Semiotik.
VIII. Kesimpulan
Revolution in Poetic Language oleh Julia Kristeva adalah fondasi bagi Semanalisis—sebuah metodologi yang menggabungkan semiotika dengan psikoanalisis untuk mempelajari proses signifikasi. Kontribusi terbesarnya adalah pembedaan mendalam antara modalitas Simbolik (hukum, representasi, sintaksis) dan Semiotik (dorongan, Khôra, ritme).
Kristeva berhasil memindahkan fokus linguistik dari makna struktural ke materialitas tubuh yang direpresi. Dengan menggunakan Khôra Semiotik—sebuah matriks maternal pra-linguistik—ia menyediakan energi psikoanalitik (jouissance) yang memotivasi subjek untuk menantang dan mendisintegrasi Tatanan Simbolik yang fallogosentris. Bahasa puitis, melalui gangguan sintaksis dan penekanan pada prosodi (ritme dan bunyi), menjadi praktik subversif utama. Teks avant-garde seperti karya Lautréamont dan Mallarmé membuktikan bahwa gangguan linguistik adalah manifestasi dari subjek yang berada dalam proses (sujet en procès), yang menolak identitas tunggal dan stabil.
Pada akhirnya, RPL menawarkan kerangka kerja yang kuat untuk memahami bahwa perlawanan ideologis dan perubahan sosial harus dimulai dari perubahan dalam praktik signifikasi itu sendiri, yang memungkinkan jouissance semiotik untuk menembus dan menciptakan bentuk makna baru dalam bahasa.
Referensi:
Academy Publication. (n.d.). Beloved and Julia Kristeva’s The semiotic and the symbolic. Diakses 15 November 2025, dari https://www.academypublication.com/issues/past/tpls/vol02/07/22.pdf
Angela Carter. (n.d.). Symbolic and semiotic. Diakses 15 November 2025, dari
https://thebloodychamberandotherstories.weebly.com/symbolic-and-semiotic.html
Britannica. (n.d.). Revolution in poetic language | work by Kristeva. Diakses 15 November 2025, dari
https://www.britannica.com/topic/Revolution-in-Poetic-Language
Cavanagh, C. (1993). Pseudo-revolution in poetic language: Julia Kristeva and the Russian avant-garde. Monoskop. Diakses 15 November 2025, dari
https://monoskop.org/images/0/0c/Cavanagh_Clare_1993_Pseudo-Revolution_in_Poetic_Language_Julia_Kristeva_and_the_Russian_Avant-Garde.pdf
English Class Ideas. (n.d.). Summary of Kristeva, “The semiotic and the symbolic”. Diakses 15 November 2025, dari
https://www.englishclassideas.com/blog/summary-of-julia-kristeva-the-semiotic-and-the-symbolic
Handayani, C. S. (n.d.). Julia Kristeva tentang seksualitas: Kembalinya eksistensi perempuan sebagai subjek. Scribd. Diakses 15 November 2025, dari
https://id.scribd.com/doc/213289526/Christina-Siwi-Handayani-Julia-Kristeva-Tentang-Seksualitas-Kembalinya-Eksistensi-Perempuan-Sebagai-Subjek
Iris Unito. (n.d.). KHORA: A semiotic perspective on the imagination of the future. Diakses 15 November 2025, dari
https://iris.unito.it/retrieve/handle/2318/2003770/1355928/LEXIA_2-3-181-194.pdf
Jorie Graham. (1990). Kristeva and poetry as shattered signification. Diakses 15 November 2025, dari
https://www.joriegraham.com/bedient_kristeva_1990
Kristeva, J. (2024). Revolution in poetic language (M. Waller, Trans.). Columbia University Press. (Original work published 1974)
Kumparan. (2025). Julia Kristeva, filsuf feminis yang menolak feminisme. Diakses 15 November 2025, dari
https://kumparan.com/kumparannews/julia-kristeva-filsuf-feminis-yang-menolak-feminisme-1qqbtkGvUuN
Le coup de dés – Mallarmé, S. (n.d.). Stéphane Mallarmé, Le coup de dés. Diakses 15 November 2025, dari
https://5metrosdepoemas.com/noticias/21-usa-europa/542-stephane-mallarme-le-coup-de-des
Le sacrifice de la sirène. (n.d.). “Un coup de dés” et la poétique de Stéphane Mallarmé (review). Diakses 15 November 2025, dari
https://www.researchgate.net/publication/236813479_Le_Sacrifice_de_la_sirene_Un_coup_de_des_et_la_poetique_de_Stephane_Mallarme_review
Monoskop. (n.d.). Pseudo-revolution in poetic language: Julia Kristeva and the Russian avant-garde. Diakses 15 November 2025, dari
https://monoskop.org/images/0/0c/Cavanagh_Clare_1993_Pseudo-Revolution_in_Poetic_Language_Julia_Kristeva_and_the_Russian_Avant-Garde.pdf
Oxford Reference. (n.d.). Khōra. Diakses 15 November 2025, dari
https://www.oxfordreference.com/display/10.1093/oi/authority.20110803100035969
Publications CUNI. (n.d.). On Kristeva’s revolution and revolt: Dissolved politics and agential imagination. Diakses 15 November 2025, dari
https://publications.cuni.cz/bitstream/handle/20.500.14178/1700/On_Kristevas_Revolutionand_Revolt_vojtiskova.pdf
ResearchGate. (n.d.). Kajian semanalisis hingga intertekstualitas Julia Kristeva: Analisis atas teks Al-Quran tentang eksistensi hujan. Diakses 15 November 2025, dari
https://www.researchgate.net/publication/353219343_Kajian_Semanalisis_Hingga_Intertekstualitas_Julia_Kristeva_Analisis_atas_Teks_Al-Quran_tentang_Eksistensi_Hujan/fulltext/6394d50f11e9f00cda358289/Kajian-Semanalisis-Hingga-Intertekstualitas-Julia-Kristeva-Analisis-atas-Teks-Al-Quran-tentang-Eksistensi-Hujan.pdf
Routledge Encyclopedia of Philosophy. (n.d.). Revolution in poetic language – Kristeva, Julia (1941–). Diakses 15 November 2025, dari
https://www.rep.routledge.com/articles/biographical/kristeva-julia-1941/v-1/sections/revolution-in-poetic-language
SciSpace. (n.d.). Body of writing. Diakses 15 November 2025, dari
https://scispace.com/pdf/body-of-writing-1qouvqwi9q.pdf
Scribd. (2017). Semiotika dan aplikasinya baru 2017. Diakses 15 November 2025, dari
https://id.scribd.com/presentation/396099990/Semiotika-Dan-Aplikasinya-Baru-2017
SignoSemio. (n.d.). Julia Kristeva: Le sujet en procès. Diakses 15 November 2025, dari
https://www.signosemio.com/pages/kristeva/sujet-en-proces.php
Tatanan simbolik. (n.d.). Wikipedia. Diakses 15 November 2025, dari
https://id.wikipedia.org/wiki/Tatanan_simbolik
UI Library. (n.d.). Subyek dalam proses: Pandangan Julia Kristeva mengenai subyek. Diakses 15 November 2025, dari
https://lib.ui.ac.id/detail?id=20410905&lokasi=lokal
University of California Santa Cruz. (n.d.). The (dis)unity of … Diakses 15 November 2025, dari
https://escholarship.org/content/qt10r6976g/qt10r6976g_noSplash_3b58a8bb6f2655df79c5b4563ef3d81d.pdf
UWM. (n.d.). Desire in language: Unpacking Julia Kristeva's semiotic chora. Diakses 15 November 2025, dari
https://do-server1.sfs.uwm.edu/file/6P210O4886/edu/4P905O2/desire-in-language-by__julia-kristeva.pdf
West Chester University. (n.d.). A study of Kristeva and Irigaray’s critiques of phallogocentrism: An interdisciplinary research of feminism and psychoanalysis. Diakses 15 November 2025, dari
https://digitalcommons.wcupa.edu/cgi/viewcontent.cgi?article=1014&context=phil_facpub
Wikipedia. (n.d.). Julia Kristeva. Diakses 15 November 2025, dari
https://en.wikipedia.org/wiki/Julia_Kristeva
Google Books. (n.d.). Revolution in poetic language – Julia Kristeva. Diakses 15 November 2025, dari
https://books.google.com/books/about/Revolution_in_Poetic_Language.html?id=MinoEAAAQBAJ
DergiPark. (n.d.). Beckett’s Not I as a dramatic rendition of Kristeva’s semiotic chora. Diakses 15 November 2025, dari
https://dergipark.org.tr/en/download/article-file/3379552


Post a Comment