Presesi Simulacra: Analisis Komprehensif Buku Simulacra and Simulation Karya Jean Baudrillard

Table of Contents

Buku Simulacra and Simulation Karya Jean Baudrillard
1. Pendahuluan: Memasuki Gurun Kebenaran

Karya filsuf dan teoretikus budaya asal Prancis, Jean Baudrillard, berjudul Simulacra and Simulation (1981), merupakan sebuah traktat filosofis yang secara fundamental menantang cara pandang masyarakat terhadap realitas, simbol, dan tatanan sosial. Buku ini menempatkan Baudrillard sebagai salah satu "imam besar postmodernisme" dan mengkristalkan pemikiran-pemikirannya yang berkembang sebelumnya mengenai konsumerisme dan media. Tesis sentral yang diusung oleh Baudrillard dalam buku ini adalah klaimnya yang provokatif: bahwa masyarakat kontemporer telah menggantikan semua realitas dan makna dengan tanda dan simbol. Akibatnya, pengalaman manusia kini sepenuhnya merupakan sebuah simulasi realitas.

Tulisan ini disusun untuk memberikan analisis yang mendalam dan komprehensif, melampaui sekadar ringkasan permukaan. Tesis utama yang akan diuraikan adalah bahwa Baudrillard tidak melihat citra dan tanda sebagai mediasi yang salah atau sekadar distorsi realitas. Sebaliknya, ia berpendapat bahwa simulacra—salinan tanpa orisinal—tidak didasarkan pada realitas, dan bahkan tidak menyembunyikan realitas. Mereka hanya menyembunyikan fakta bahwa tidak ada realitas yang relevan dengan pemahaman manusia tentang kehidupan mereka saat ini. Dengan demikian, buku ini bukan sekadar deskripsi, melainkan sebuah pernyataan radikal tentang kondisi masyarakat pascamodern yang secara efektif telah "membunuh" realitas itu sendiri.

Tulisan ini menggunakan pendekatan naratif-analitis untuk membedah dan menempatkan pemikiran Baudrillard dalam konteks yang jelas. Hal ini sangat penting mengingat gaya penulisan Baudrillard yang dikenal "padat" dan sering kali "abstruse" atau sulit dipahami, yang membuatnya menjadi bacaan yang menantang bahkan bagi pembaca yang berpendidikan tinggi. Oleh karena itu, laporan ini dirancang untuk menyajikan argumen-argumennya dengan struktur yang lebih jelas, menjembatani kesenjangan antara kerumitan teoretis dan pemahaman praktis.

2. Definisi Kunci: Membedah Triumvirat Konseptual

Untuk memahami esensi Simulacra and Simulation, penting untuk terlebih dahulu menguraikan tiga konsep intinya yang saling terkait: simulacra, simulasi, dan hiperrealitas. Triumvirat konseptual ini membentuk kerangka analitis yang digunakan Baudrillard untuk mengkritik tatanan sosial kontemporer.

2.1 Simulacra, Simulasi, dan Hiperrealitas

Simulacra didefinisikan sebagai salinan yang menggambarkan hal-hal yang tidak pernah memiliki orisinal, atau yang orisinalnya sudah tidak ada lagi. Mereka adalah signifikasi dan simbolisme budaya serta media yang membangun realitas yang dipersepsikan, pemahaman yang diperoleh di mana kehidupan manusia dan eksistensi bersama dibuat menjadi "legible" atau dapat dibaca. Dalam konteks ini, simulacra bukan sekadar salinan; mereka adalah entitas yang berdiri sendiri, terlepas dari referensi aslinya.

Simulasi diartikan sebagai proses atau tindakan meniru operasi sistem atau proses nyata dari waktu ke waktu. Namun, bagi Baudrillard, simulasi jauh lebih kompleks daripada sekadar "pura-pura." Ia membedakan secara tegas antara simulasi dan dissimulasi. Dissimulasi adalah tindakan berpura-pura tidak memiliki apa yang sebenarnya dimiliki. Misalnya, seseorang yang pura-pura tidak sakit padahal ia sakit. Tindakan ini menjaga prinsip realitas tetap utuh; perbedaannya jelas, hanya disamarkan. Sebaliknya, simulasi adalah tindakan berpura-pura memiliki apa yang tidak dimiliki. Contoh klasiknya adalah seseorang yang mensimulasikan penyakit dengan menghasilkan gejala-gejala yang "nyata" pada dirinya. Tindakan ini secara fundamental mengancam perbedaan antara "benar" dan "palsu," antara "nyata" dan "imajiner," karena gejalanya "asli" dan tidak dapat dibantah secara objektif oleh kedokteran atau psikologi.

Hiperrealitas adalah kondisi final di mana simulasi telah menggantikan realitas. Ini adalah "realitas tanpa asal atau realitas" yang dihasilkan oleh model. Dalam hiperrealitas, tidak mungkin lagi membedakan antara realitas dan simulasi. Baudrillard menegaskan bahwa hiperrealitas bukan berarti tidak nyata (unreal), tetapi lebih merupakan sebuah simulacrum yang tidak lagi bertukar dengan apa yang nyata, melainkan bertukar di dalam dirinya sendiri dalam sebuah sirkuit tanpa referensi atau lingkaran.

2.2 Deterensi sebagai Fungsi Inti Simulasi: Sebuah Pola Tersembunyi

Analisis yang lebih dalam terhadap contoh-contoh yang digunakan Baudrillard—seperti simulasi penyakit di militer atau kedokteran—mengungkapkan fungsi simulasi yang jauh lebih mendalam daripada sekadar ilusi. Simulasi adalah sebuah strategi aktif, sebuah "operasi untuk mencegah setiap proses nyata dengan dobel operasionalnya". Ini berfungsi sebagai sebuah mesin deskriptif yang sempurna, yang menyediakan semua tanda realitas dan secara efektif "men-short-circuit" atau memotong semua pasang surut yang mungkin terjadi dalam proses nyata.

Misalnya, seorang yang sempurna dalam mensimulasikan penyakit tidak dapat diperlakukan secara objektif, baik sebagai sakit atau tidak sakit, karena ia merusak prinsip kebenaran itu sendiri. Dengan demikian, simulasi bukan hanya sebuah penyamaran, tetapi sebuah tindakan subversi yang paling merusak. Contoh lain, seperti "perampokan palsu," menunjukkan bahwa ketika simulasi diuji, ia segera berbaur dengan elemen-elemen nyata (misalnya, polisi yang benar-benar menembak), sehingga peristiwa itu sendiri kehilangan maknanya dan menjadi ritual media yang diantisipasi.

Kesimpulan yang lebih luas dari analisis ini adalah bahwa simulasi berfungsi sebagai sebuah sistem kendali. Dengan mengganti realitas yang rumit, tidak terduga, dan penuh gejolak dengan model yang sempurna, stabil, dan terprogram, sistem simulasi menetralisir dan menertibkan potensi subversi, disrupsi, atau bahkan "kematian" yang tidak terduga dari sistem. Ini menjadi fondasi untuk memahami bagaimana Baudrillard melihat simulasi sebagai mekanisme untuk menjaga stabilitas sosial dan politik dalam masyarakat pascamodern.

3. Presesi Simulacra: Empat Fase Citra Menuju Hiperrealitas

Konsep sentral dalam buku ini adalah precession of simulacra atau "presesi simulacra," sebuah istilah yang merujuk pada cara simulacra mendahului dan menggantikan realitas. Baudrillard mengilustrasikan konsep ini dengan membalikkan alegori klasik dari fabel Jorge Luis Borges tentang peta dan wilayah.

3.1 Peta yang Mendahului Wilayah: Alegori Hiperrealitas

Dalam fabel Borges, kekaisaran membuat peta yang begitu detail hingga ukurannya sama persis dengan wilayah itu sendiri. Seiring dengan kemunduran kekaisaran, peta tersebut menjadi rusak dan compang-camping. Baudrillard membalikkan fabel ini dalam konteks pascamodern: kini petalah yang mendahului wilayah, yang menghasilkan wilayah, dan realitasnya (wilayah) perlahan-lahan membusuk di bawah dominasi peta. Dalam alegori Baudrillard, bukan lagi peta yang mewakili wilayah, melainkan wilayah yang merupakan "fragmen yang membusuk" dari peta. Ini adalah gambaran dari kondisi di mana model atau simulasi (peta) menciptakan dan menggantikan realitas (wilayah).

Baudrillard menyajikan presesi simulacra ini bukan sebagai tahapan historis yang kaku, tetapi sebagai fase-fase citra yang terus berulang dan saling bertumpuk. Pergeseran dari fase kedua ke fase ketiga menandai titik balik yang menentukan, dari "tanda yang menyembunyikan sesuatu" menjadi "tanda yang menyembunyikan bahwa tidak ada apa-apa". Laporan ini akan mengaitkan hal ini dengan perdebatan Ikonoklas pada abad pertengahan. Para Ikonoklas tidak hanya takut bahwa gambar dapat mendistorsi Tuhan, tetapi bahwa gambar dapat menyiratkan "bahwa pada akhirnya tidak pernah ada Tuhan; bahwa hanya simulacra yang ada". Ini adalah "keputusasaan metafisik" yang melahirkan Zaman Simulacra, di mana seluruh sistem kehilangan referensi dan makna menjadi musnah.

3.2 Empat Fase Citra

Baudrillard menguraikan transisi dari realitas ke simulasi melalui empat fase citraan yang berturut-turut. Setiap fase menandai hubungan yang semakin renggang antara tanda dan realitas.
1. Fase 1: Tatanan Sakramental
Pada fase ini, citra adalah "refleksi setia dari realitas mendasar". Ini merupakan era pra-modern di mana representasi merupakan penanda buatan yang jelas untuk item nyata. Otentisitas tanda diterima karena secara akurat menyerupai referensi aslinya.
2. Fase 2: Tatanan Kejahatan (Maleficence)
Citra "menutupi dan memutarbalikkan realitas". Tanda mulai menyimpang dari salinan aslinya, dan proliferasi salinan yang dapat direproduksi secara massal (seperti yang terjadi pada Revolusi Industri) mengancam otoritas aslinya karena salinan tersebut dianggap "sama nyatanya" dengan prototipe.
3. Fase 3: Tatanan Sihir (Sorcery)
Citra "menutupi ketiadaan realitas yang mendasar". Pada fase ini, tanda adalah salinan di mana referensi aslinya sudah tidak ada lagi, namun ia masih berpura-pura menjadi salinan yang setia dari sebuah orisinal. Ini adalah titik di mana otentisitas digantikan oleh salinan, dan salinan itu sendiri menjadi lebih penting daripada entitas aslinya.
4. Fase 4: Simulacrum Murni (Simulation)
Pada fase terakhir, citra "tidak memiliki hubungan sama sekali dengan realitas apa pun". Tanda-tanda hanya merefleksikan tanda-tanda lain, beroperasi dalam "sirkuit tanpa referensi atau keliling". Citra menjadi simulacrum murni yang merupakan realitasnya sendiri.

Tabel di bawah ini menyajikan perbandingan komparatif dari empat fase citra, memperjelas transisi konseptual yang kompleks ini.

Buku Simulacra and Simulation Karya Jean Baudrillard

4. Aplikasi Teori Baudrillard: Studi Kasus Kontemporer

Teori Baudrillard, meskipun abstruse, menemukan aplikasinya dalam berbagai fenomena budaya dan sosial.

4.1 Disneyland sebagai Model Utama dari Hiperrealitas

Baudrillard mengidentifikasi Disneyland sebagai "model sempurna dari semua tatanan simulasi yang terjerat". Ia berpendapat bahwa Disneyland sengaja dihadirkan sebagai sebuah dunia "khayalan" atau "fantasi" agar kita percaya bahwa seluruh Los Angeles dan Amerika di sekitarnya adalah nyata. Namun, kenyataannya, Baudrillard mengklaim bahwa seluruh Amerika sudah berada dalam tatanan hiperreal dan simulasi. Dengan menciptakan sebuah "kandang" yang jelas-jelas tidak nyata, Disneyland berfungsi untuk menyembunyikan fakta bahwa "luar" dari taman itu—yang kita anggap sebagai realitas—juga merupakan sebuah simulasi.

4.2 Simulasi Politik dan Media: Perang Teluk

Salah satu analisis Baudrillard yang paling kontroversial adalah klaimnya bahwa "Perang Teluk tidak terjadi". Ia berpendapat bahwa yang dialami oleh masyarakat bukanlah sebuah peristiwa nyata, melainkan sebuah "simulasi perang" atau sebuah "tontonan" yang diciptakan oleh media. Melalui media, perang menjadi representasi hiperreal yang tidak memiliki hubungan dengan realitas konflik yang sebenarnya. Dengan cara ini, media dan periklanan memberikan "façade sebagai pengganti yang nyata" dan sensasionalisme jurnalisme serta hiperbolisasi iklan menjadi praktik yang menguntungkan.

4.3 Implikasi di Era Digital

Konsep-konsep Baudrillard menjadi sangat relevan dalam menganalisis fenomena era digital, terutama media sosial dan konten yang dihasilkan oleh kecerdasan buatan (AI).

  • Media Sosial dan Identitas Simulacrum: Di media sosial, individu sering kali menciptakan "identitas digital" yang dapat berbeda dari identitas asli. Melalui kurasi gambar yang ideal, filter, dan narasi yang dibuat-buat, pengguna memproyeksikan "simulacrum dari diri sendiri". Citra diri ini menjadi lebih penting, lebih dihargai, dan pada akhirnya, terasa lebih nyata daripada diri asli. Hal ini menciptakan sebuah siklus di mana interaksi didasarkan pada salinan-salinan yang terputus dari orisinalnya, menyebabkan realitas yang asli menjadi hilang dalam lautan simulacra.
  • Konten AI dan Hiperrealitas: Kemunculan konten yang dihasilkan AI, seperti deepfake dan gambar realistis yang dihasilkan komputer, menambahkan lapisan baru pada teori ini. AI dapat "mensimulasikan interaksi seperti manusia" dan menciptakan gambaran yang mengaburkan batas antara kebenaran dan kepalsuan.
  • Implikasi yang Lebih Luas: Teori Baudrillard juga membantu menjelaskan efek "bubble" dan "echo chamber" di media sosial. Algoritma menciptakan realitas yang dikustomisasi yang memperkuat keyakinan yang sudah ada, mengisolasi individu dalam gelembung hiperreal mereka. Dalam kondisi ini, validasi eksternal (suka, pengikut) menjadi "mata uang" yang berharga, yang memicu sebuah eksistensi hiperreal di mana pencarian validasi mengalahkan pengalaman yang otentik.

4.4 Seni dan Budaya Pop: Film The Matrix

Film The Matrix (1999) adalah contoh yang paling terkenal dari aplikasi teori Baudrillard dalam budaya pop. Film ini secara eksplisit mengacu pada buku Simulacra and Simulation, bahkan menampilkannya sebagai tempat Neo menyembunyikan hard disk berisi program terlarang. Dialog Morpheus yang mengundang Neo untuk memasuki "gurun kebenaran" adalah parafrase langsung dari Baudrillard.

Namun, Baudrillard sendiri kecewa dengan film tersebut. Ketidaksetujuan ini dapat ditafsirkan sebagai bukti lebih lanjut dari teorinya. The Matrix menyederhanakan simulasi menjadi sebuah masalah teknologi yang dapat dipecahkan dengan "pil merah" untuk kembali ke "realitas" yang nyata. Bagi Baudrillard, hal ini adalah sebuah kesalahpahaman mendasar. Simulasi adalah sebuah kondisi ontologis yang tidak memiliki "luar". Dengan menyederhanakan teorinya menjadi premis fiksi ilmiah yang dapat dikonsumsi oleh massa, The Matrix justru menjadi sebuah simulacrum dari pemikiran Baudrillard itu sendiri. Film ini adalah "semacam film tentang matriks yang matriks itu sendiri akan mampu memproduksinya", sebuah salinan yang menghilangkan kerumitan dan nihilisme dari aslinya, menjadikannya sebuah produk yang dapat dijual di pasar hiperreal.

5. Dialog Filosofis: Perbedaan dan Titik Temu

Meskipun Baudrillard dianggap sebagai tokoh sentral postmodernisme, pemikirannya memiliki perbedaan penting dengan teoretikus lain, bahkan yang berada dalam lingkaran yang sama.

5.1 Baudrillard vs. Guy Debord

Baudrillard sering dibandingkan dengan Guy Debord, penulis The Society of the Spectacle (1967). Debord berpendapat bahwa tontonan adalah sistem yang masih menutupi realitas. Ia melihat tontonan sebagai "gambar yang menyembunyikan sesuatu". Namun, Baudrillard melangkah lebih jauh. Ia menyatakan bahwa simulasi adalah tatanan di mana tanda tidak lagi menyembunyikan realitas, melainkan menyembunyikan ketiadaannya. Tontonan masih terkait dengan "teologi kebenaran dan kerahasiaan," sedangkan simulasi menandai zaman di mana tidak ada lagi kebenaran untuk disembunyikan.

5.2 Baudrillard vs. Michel Foucault

Dalam buku Forget Foucault, Baudrillard melancarkan kritik tajam terhadap Michel Foucault. Baudrillard berargumen bahwa analisis Foucault tentang kekuasaan dan seksualitas terlalu "esensialis" dan "produktif". Dengan menginterpretasi, menganalisis, dan menyoroti kekuasaan (dan seks), Foucault justru menyumbang pada tatanan hiperreal di mana kekuasaan (dan seks) menjadi sebuah simulacrum yang mudah dicerna. Bagi Baudrillard, jika kekuasaan dapat dianalisis dengan begitu jelas dan transparan, itu berarti bentuk kekuasaan yang sesungguhnya yang sedang dibicarakan Foucault "tidak lagi operasional" atau "sudah lama mati". Kritik ini didasarkan pada keyakinan Baudrillard bahwa kekuasaan, seperti halnya seksualitas, telah larut menjadi sebuah objek hiperreal yang hanya ada melalui representasinya.

6. Kritik dan Evaluasi Terhadap Argumen Baudrillard

Meskipun memiliki pengaruh yang luas, teori Baudrillard tidak luput dari kritik. Sebagian besar kritik berpusat pada gaya penulisan dan fondasi filosofisnya.

  • Gaya dan Metodologi Penulisan: Gaya penulisan Baudrillard sering digambarkan sebagai abstruse dan "stream of consciousness," yang menyulitkan pembaca untuk mengikuti alur argumennya. Selain itu, ia dikritik karena membuat "pernyataan mutlak" tentang sains yang sering kali tidak akurat atau sudah usang, seperti ketika ia berbicara tentang informasi dan komputer.
  • Nostalgia Terhadap Realitas yang "Otentik": Kritikus berpendapat bahwa argumen Baudrillard berlandaskan pada asumsi adanya realitas murni yang "pristine" dan belum dimediasi oleh interpretasi atau narasi. Argumen tandingan yang signifikan adalah bahwa pengalaman manusia secara inheren selalu dibentuk oleh narasi, simbol, dan budaya, dan bahwa simulasi bukanlah anomali modern, melainkan "kondisi manusia". Menurut pandangan ini, simulacra bukanlah ancaman terhadap realitas, melainkan "perluasan alaminya" dan sebuah cara bagi manusia untuk terus-menerus menciptakan kembali makna.
  • Kecenderungan Absolutisme: Penggunaan metafora "implosi" oleh Baudrillard, yang menyiratkan perubahan yang tiba-tiba dan tak terhindarkan, dianggap mengabaikan bahwa simulacra "tersebar secara tidak merata" dalam budaya. Sebagai contoh, seorang petani di Iowa yang interaksinya sehari-hari berpusat pada pekerjaan fisik dan alam mungkin tidak akan setuju bahwa ia hidup di dunia di mana realitas tidak dapat dibedakan dari simulasi. Ini menunjukkan bahwa Baudrillard mungkin melebih-lebihkan tingkat saturasi simulacra dalam kehidupan sehari-hari.

7. Kesimpulan: Relevansi Abadi dalam Era Hiperkonektivitas

Simulacra and Simulation oleh Jean Baudrillard adalah sebuah karya yang memaksa kita untuk secara fundamental mempertanyakan hubungan kita dengan realitas. Buku ini menguraikan transisi dari zaman di mana tanda mencerminkan realitas ke zaman di mana tanda menyembunyikan ketiadaan realitas, yang berpuncak pada kondisi hiperrealitas di mana model dan simulasi telah menggantikan realitas itu sendiri. Teori ini bukan hanya sebuah analisis, melainkan sebuah pernyataan tentang kondisi manusia yang terperangkap dalam sirkuit tanda tanpa referensi.

Meskipun kritiknya terhadap gaya penulisan dan asumsi-asumsinya valid, pemikiran Baudrillard tetap sangat relevan. Konsep-konsepnya menyediakan kerangka kerja yang kuat untuk menganalisis fenomena modern seperti berita palsu (fake news), algoritma media sosial, identitas digital, dan narasi politik yang dikendalikan. Lebih dari sebelumnya, kita hidup di era di mana "tanda-tanda realitas" telah menggantikan realitas itu sendiri.

Sebagai penutup, Simulacra and Simulation mendorong kita untuk secara kritis memeriksa lingkungan media dan digital yang kita huni. Laporan ini menegaskan bahwa, terlepas dari kelemahannya, karya Baudrillard memaksa kita untuk mencari keseimbangan yang penting antara kehidupan nyata dan kehidupan digital, mendorong kita untuk menjadi lebih sadar akan lapisan representasi yang terus-menerus membentuk pemahaman kita tentang dunia.

Karya yang dikutip

Andrew, M. (2020). What are Baudrillard’s concept of simulacrum and hyperreality? Medium. Diakses 17 September 2025, dari https://medium.com/@drewjmalo/what-are-baudrillards-concept-of-simulacrum-and-hyperreality-d32b3d27a9b6

Armando Science. (n.d.). Baudrillard’s theory and the hyperreal world of social media. Armando Science. Diakses 17 September 2025, dari https://armandoscience.com/baudrillards-theory-and-the-hyperreal-world-of-social-media/

Baudrillard, J. (1981). Simulacra and simulations. Diakses 17 September 2025, dari http://cast.b-ap.net/arc619f17/wp-content/uploads/sites/39/2017/08/Baudrillard-SimulacraSimulation.pdf

Baudrillard, J. (2024). Simulacra and simulation (3rd ed.). Crisis Editions. (Original work published 1981)

Christiansen, N. (2021). Jean Baudrillard’s “Forget Foucault”. Medium. Diakses 17 September 2025, dari https://medium.com/@noahjchristiansen/jean-baudrillards-call-to-forget-foucault-aefbbfbadceb

Gapenas Publisher. (n.d.). Simulacrum media di era postmodern (Analisa semiotika Jean Baudrillard dalam narasi iklan kecantikan Dove). Gapenas Publisher. Diakses 17 September 2025, dari https://bureaucracy.gapenas-publisher.org/index.php/home/article/download/29/39

Gourley, B. (2020, Juni 29). Book review: Simulacra & simulation by Jean Baudrillard. Bernie Gourley Blog. Diakses 17 September 2025, dari https://berniegourley.com/2020/06/29/book-review-simulacra-simulation-by-jean-baudrillard/

Graphic Design Nerd. (2020). What is the difference between simulacra and simulation? [Video]. YouTube. Diakses 17 September 2025, dari https://www.youtube.com/watch?v=xD1yfPqpX64

Intelektual Muda. (n.d.). Teori simulacra Jean Baudrillard: Era digital. Intelektual Muda. Diakses 17 September 2025, dari https://intelektualmuda.com/teori-simulacra-jean-baudrillard-era-digital/

Journal UNUGIRI. (n.d.). Simulasi dan simulakra Jean Baudrillard dalam dinamika budaya konsumsi berlebihan masyarakat postmodern. An-Nas: Jurnal Humaniora. Diakses 17 September 2025, dari https://journal.unugiri.ac.id/index.php/an-nas/article/download/4478/1790/18261

Matrix Fans. (n.d.). Of simulation and simulacra: Baudrillard in The Matrix. MatrixFans.net. Diakses 17 September 2025, dari https://www.matrixfans.net/symbolism-philosophy-and-allegory/of-simulation-and-simulacra-baudrillard-in-the-matrix/

Media Studies. (n.d.). A guide to Jean Baudrillard’s Simulacra and simulation. Media Studies. Diakses 17 September 2025, dari https://media-studies.com/baudrillard/

Merrin, W. (2003). “Did you ever eat tasty wheat?”: Baudrillard and The Matrix. Scope: An Online Journal of Film and Television Studies. University of Nottingham. Diakses 17 September 2025, dari https://www.nottingham.ac.uk/scope/documents/2003/may-2003/merrin.pdf

Neolectura Journal. (n.d.). Jean Baudrillard and his main thoughts. Propaganda: Journal of Communication Studies. Diakses 17 September 2025, dari https://journal.neolectura.com/index.php/propaganda/article/download/258/206

OSF. (n.d.). Forgive Foucault, forget Baudrillard: On the other side of .... Open Science Framework. Diakses 17 September 2025, dari https://osf.io/hzps5/download/?format=pdf

Reddit. (n.d.). In The Matrix (1999) Neo stores his computer files in a book called Simulacra & simulation... r/MovieDetails. Diakses 17 September 2025, dari https://www.reddit.com/r/MovieDetails/comments/8shviv/in_the_matrix_1999_neo_stores_his_computer_files/

Reddit. (n.d.). Jean Baudrillard on the implications of simulacra and simulation on political struggle. r/philosophy. Diakses 17 September 2025, dari https://www.reddit.com/r/philosophy/comments/wquub/jean_baudrillard_on_the_implications_of_simulacra/

Reddit. (n.d.). Simulacra and simulation: A 1981 philosophical treatise by Jean Baudrillard. r/philosophy. Diakses 17 September 2025, dari https://www.reddit.com/r/philosophy/comments/3f1llc/simulacra_and_simulation_a_1981_philosophical/

Reddit. (n.d.). Jean Baudrillard’s Simulacra and simulation. r/Existentialism. Diakses 17 September 2025, dari https://www.reddit.com/r/Existentialism/comments/1hm0msg/jean_baudrillards_simulacra_and_simulation/

Sao Journal IAIN Parepare. (n.d.). Hiperrealitas simulakra pengguna Instagram pada mahasiswa. Sao Journal IAIN Parepare. Diakses 17 September 2025, dari https://ejurnal.iainpare.ac.id/index.php/jourmics/article/download/3529/1278

Science Fiction Studies. (1991). In response to Jean Baudrillard (Hayles, Porush, Landon, Sobchack, Ballard). Science Fiction Studies, 18(55). DePauw University. Diakses 17 September 2025, dari https://www.depauw.edu/sfs/backissues/55/forum55.htm

Smulligan, B. W. (2021). Social media and Baudrillard’s simulation and simulacra. Medium. Diakses 17 September 2025, dari https://medium.com/@brettwilliamsmulligan/social-media-and-baudrillards-simulation-and-simulacra-a1adae355dc1

Stanford Encyclopedia of Philosophy. (n.d.). Jean Baudrillard. Stanford Encyclopedia of Philosophy. Diakses 17 September 2025, dari https://plato.stanford.edu/entries/baudrillard/

Stanford University. (n.d.). Baudrillard: Simulacra and simulations. Stanford University. Diakses 17 September 2025, dari http://web.stanford.edu/class/history34q/readings/Baudrillard/Baudrillard_Simulacra.html

The Last Pigment. (n.d.). Simulacra and simulation by Jean Baudrillard explained for artists. The Last Pigment. Diakses 17 September 2025, dari https://www.thelastpigment.com/blog2/simulacra-and-simulation-by-jean-baudrillard-explained-for-artists

The StoryGraph. (n.d.). Review by aranthe02 - Simulacra and simulation. The StoryGraph. Diakses 17 September 2025, dari https://app.thestorygraph.com/reviews/638d6782-4d4a-441c-b8b1-60db0f70fa06

University of Houston. (n.d.). Jean Baudrillard quotes. University of Houston. Diakses 17 September 2025, dari https://uh.edu/~cfreelan/courses/1361/BaudrillardQuotes.html

University of Toronto. (n.d.). Simulacra and simulations. University of Toronto. Diakses 17 September 2025, dari http://individual.utoronto.ca/bmclean/hermeneutics/baudrillard_suppl/Baudrillard_Simulacra.html

Wikipedia. (n.d.). Simulacra and simulation. Wikipedia. Diakses 17 September 2025, dari https://en.wikipedia.org/wiki/Simulacra_and_Simulation

Aletheia Rabbani
Aletheia Rabbani “Barang siapa yang tidak mampu menahan lelahnya belajar, maka ia harus mampu menahan perihnya kebodohan” _ Imam As-Syafi’i

Post a Comment