Analisis Demonstrasi dan Kerusuhan Indonesia 25–31 Agustus 2025 dalam Perspektif Teori Konflik Lewis A. Coser

Table of Contents

Tulisan ini merupakan analisis mendalam terhadap peristiwa demonstrasi dan kerusuhan yang terjadi di Indonesia tanggal 25–31 Agustus 2025 dengan teori konflik sosial dari Lewis A. Coser, berikut dampak sosial politik ekonomi.

Referensi teori: Penjelasan Mendalam Isi Buku The Functions of Social Conflict (1956) Karya Lewis A. Coser: Teori Konflik Sosial, Fungsi, dan Relevansinya

Dampak Sosial dan Politik

Sejak 25–31 Agustus 2025 gelombang unjuk rasa meluas di berbagai kota Indonesia. Aksi tersebut awalnya dipicu oleh isu kenaikan tunjangan perumahan anggota DPR (Rp 50 juta/bulan) pada konteks kenaikan pajak dan biaya hidup yang tak tertangani pemerintah[1][2]. Video viral anggota DPR berjoget saat sidang MPR (15 Agustus) makin memancing kemarahan publik[3].  

Aksi demonstrasi di Jakarta (25 Agustus) berakhir ricuh; massa mencerca keputusan tunjangan besar itu dan menuntut pembatalannya[1]. Kekecewaan warga menyebar ke daerah lain, seperti Bandung (16+ kota di Jabar), Surabaya, Makassar, dan kota-kota besar lainnya[4][5]. Misalnya di Bandung, massa membakar Mess MPR (rumah dinas MPR) di seberang DPRD Jabar pada 29 Agustus[6], serta di Makassar massa membakar kantor DPRD hingga menyebabkan tiga korban jiwa[7].

Dalam konflik ini muncul korban jiwa dan kerusakan fasilitas publik. Demonstrasi yang semula damai diwarnai bentrokan dengan aparat; tercatat puluhan luka-luka dan ratusan penangkapan[7][8]. Gelombang aksi juga memicu solidaritas di kalangan pengemudi ojek daring dan mahasiswa, yang sama-sama mengusung tuntutan keadilan ekonomi dan penegakan hukum. 

Pemerintah menindaklanjuti melalui dialog: Presiden Prabowo menggelar pertemuan dengan 16 ormas Islam terkemuka (NU, Muhammadiyah, MUI, dll.) untuk meredam konflik[9]. Secara politik, Partai NasDem menonaktifkan dua kader DPR yang kontroversial (Nafa Urbach, Ahmad Sahroni) sebagai upaya meredakan ketegangan[10]. Sementara itu, aparat keamanan memperketat pengamanan gedung-gedung negara (DPR, DPRD, kepolisian) yang sempat menjadi sasaran kekerasan[11][7].

Dampak sosial riuh: konflik ini mempertegas polarisasi antar kelompok (misalnya masyarakat luas vs pejabat) sekaligus menyatukan solidaritas dalam kelompok tersudut (mahasiswa, pengemudi ojol). Aktor-aktor baru muncul di ruang publik – sesuai teori Coser, protes menumbuhkan “munculnya wajah-wajah baru” yang belum pernah berorasi[12]. Aksi bersama mendorong komunikasi internal kelompok: massa berkumpul, bertukar pikiran, dan menyusun strategi melalui unjuk rasa dan media sosial[13]. Di satu sisi konflik ini bisa mengokohkan solidaritas kelompok; di sisi lain menimbulkan kekacauan sosial yang menguji ketahanan institusi.

Dampak Ekonomi

Kerusuhan politik tersebut segera berdampak ke ekonomi. Pengusaha dan analis memperingatkan gangguan aktivitas usaha dan investasi akibat ketidakpastian politik[14][15]. Ketua Kadin Sarman Simanjorang mengungkap kekhawatiran bahwa jika masyarakat ketakutan keluar rumah, sektor transportasi, perdagangan, perhotelan, kuliner, dan logistik akan terganggu[14]

Gelombang protes juga diawasi investor asing: terjadi lonjakan volatilitas pasar. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat anjlok hampir 2% dalam sehari pada puncak demo[16]. Nilai tukar rupiah melemah akibat kekhawatiran pelaku pasar terhadap stabilitas politik[17]. Aset safe-haven seperti emas melonjak karena investor beralih ke instrumen aman[18]

Bahkan beberapa pemerintah negara lain mengeluarkan imbauan perjalanan untuk warganya di Indonesia, menandakan terganggunya citra keamanan nasional. Sektor keuangan, perdagangan ekspor-impor, dan pariwisata mengalami tekanan langsung. Secara keseluruhan, para ekonom memperkirakan pelambatan pertumbuhan jangka pendek karena ketidak-kondusifan ini[14][15].

Teori Konflik Sosial Lewis A. Coser

Melihat peristiwa ini dengan kacamata teori konflik Lewis A. Coser (dalam The Functions of Social Conflict, 1956) membantu memahami dinamika konflik dan dampaknya. Coser membedakan konflik realistis dan non-realistis[19]. Konflik realistis terjadi saat kedua pihak berkonflik memiliki tuntutan konkrit; misalnya protes warga terhadap kebijakan tunjangan DPR yang spesifik. 

Sebaliknya, konflik non-realistis muncul untuk meredakan ketegangan psikis (contohnya frustasi umum warga yang memicu aksi anarkis tanpa tuntutan jelas)[19]. Dalam kerusuhan Agustus 2025, pertentangan atas tunjangan DPR adalah konflik realistis yang jelas tujuannya. Namun, aksi kekerasan tambahan (pembakaran gedung, penjarahan) dapat dianggap konflik non-realistis yang lebih mengalirkan emosi massa daripada menagih tuntutan baru.
 
Coser menyoroti bahwa konflik memiliki fungsi fungsional. Pertama, konflik memperkuat solidaritas internal kelompok yang berkonflik[20]. Misalnya, insiden demo Agustus ini menyatukan pelajar, pemuda, dan pekerja dalam solidaritas menentang kebijakan yang dianggap tak adil. Konflik antar-kelompok juga menghasilkan aliansi-aliansi baru[21]; misalnya para pengemudi ojek daring, mahasiswa, dan buruh dapat terhubung melalui forum-forum publik (solidaritas baru mirip “Israel–Amerika” dalam contoh Coser). 

Kedua, konflik mendorong partisipasi aktif warga yang sebelumnya pasif[12] (muncul “wajah baru” demonstran) dan menjadi sarana komunikasi kelompok[13] (massa berkumpul, menyusun tuntutan dan strategi bersama).

Coser juga menekankan keberadaan “katup pengaman” (safety-valve) sebagai saluran pelembagaan konflik[22]. Dalam konteks ini, penyampaian aspirasi melalui demo semacam safety valve publik yang diizinkan sebagai bentuk saluran konflik. Selain itu pemerintah berusaha membuka kanal resmi (misalnya dialog dengan ormas Islam[9] atau komitmen legislatif untuk meninjau ulang kebijakan) agar tekanan sosial tak meledak di luar mekanisme kelembagaan.

Konflik besar ini turut mempengaruhi struktur sosial dan institusi. Menurut Coser, konflik tidak selalu merusak total; bisa ada sisi positif seperti mempertegas keterikatan sosial[23]. Contoh: protes membuat partai politik mengevaluasi diri (NasDem menonaktifkan anggota, DPR siaga keamanan), yang sebenarnya menegakkan sistem dengan menolak perilaku menyalahi norma. 

Namun konflik juga menimbulkan disfungsi: perpecahan sosial, ketidakstabilan, dan kerusakan properti publik[24]. Gedung-gedung DPR/DPRD yang dibakar dan fasilitas umum yang rusak mencerminkan kerusakan institusional. Pemerintah bereaksi dengan pembersihan kota massal, penguatan pengamanan, dan program perbaikan infrastruktur (misalnya penggratisan TransJakarta/MRT pasca-demo[25]) untuk memulihkan rutinitas sosial.

Secara keseluruhan, kerusuhan Agustus 2025 dapat dibaca sebagai manifestasi konflik realistis (tuntutan kebijakan) yang tercampur konflik non-realistis (keluarnya agresi menyalurkan frustasi). Teori Coser mengingatkan bahwa konflik seperti ini dapat memperkuat solidaritas kelompok (kekuatan paties memobilisasi basisnya)[20] dan menimbulkan saluran komunikasi baru, sekaligus menantang struktur sosial dan legitimasi institusi.

Sumber: 
Laporan dan analisis berita dari media lokal dan nasional[4][1][6][7][11][14][16][19][20] yang relevan serta literatur teori konflik Coser.

[1] [3] [5] Lini Masa Demo Agustus 2025: Dari Joget DPR Hingga Rumah Sahroni Dijarah
https://www.detik.com/jabar/berita/d-8088075/lini-masa-demo-agustus-2025-dari-joget-dpr-hingga-rumah-sahroni-dijarah

[2] [9] [10] [25] Unjuk rasa dan kerusuhan Indonesia Agustus 2025 - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
https://id.wikipedia.org/wiki/Unjuk_rasa_dan_kerusuhan_Indonesia_Agustus_2025

[4] ASPERAPI Soroti Dampak Kerusuhan pada Industri Pameran, Keselamatan Bangsa Jadi Prioritas - Sumber : Gemapos - BeritaSatu Network
https://www.beritasatu.com/network/gemapos/665844/asperapi-soroti-dampak-kerusuhan-pada-industri-pameran-keselamatan-bangsa-jadi-prioritas

[6] [8] Kronologi Mess MPR RI Dibakar Massa Aksi di Bandung
https://www.detik.com/jabar/berita/d-8086355/kronologi-mess-mpr-ri-dibakar-massa-aksi-di-bandung

[7] 3 Orang Tewas Akibat Gedung DPRD Makassar Terbakar, Ini Identitasnya
https://www.detik.com/sumbagsel/berita/d-8086997/3-orang-tewas-akibat-gedung-dprd-makassar-terbakar-ini-identitasnya

[11] Ultimatum Polisi pada Perusuh yang Bakar Gedung Negara Grahadi Surabaya
https://www.detik.com/jatim/berita/d-8090000/ultimatum-polisi-pada-perusuh-yang-bakar-gedung-negara-grahadi-surabaya

[12] [13] [19] [20] [21] [22] [23] [24] Teori Konflik Lewis A. Coser Halaman 1 - Kompasiana.com
https://www.kompasiana.com/evipujilestari01/616823099dc029523c42e982/teori-konflik-lewis-a-coser

[14] [15] Pengusaha Wanti-Wanti Dampak dari Gelombang Demo ke Ekonomi
https://ekonomi.bisnis.com/read/20250901/12/1907353/pengusaha-wanti-wanti-dampak-dari-gelombang-demo-ke-ekonomi

[16] [17] [18] 3 Dampak Demo Massal 2025 terhadap Ekonomi Indonesia
https://tirto.id/dampak-demo-massal-2025-terhadap-ekonomi-indonesia-hgSD

Aletheia Rabbani
Aletheia Rabbani “Barang siapa yang tidak mampu menahan lelahnya belajar, maka ia harus mampu menahan perihnya kebodohan” _ Imam As-Syafi’i

Post a Comment